Skip to main content

Narsis di Jalan Gula Surabaya

Jalan Gula yang lavvas


"Tik, tahu tempat oldiest yang bagus buat foto-foto, nggak?"

Seorang teman berkirim pesan beberapa waktu lalu. Saya yang saat itu hanya mengagumi foto-foto bangunan usang langsung menjawab, 

“Ada! Jalan Gula. Daerah Utara, deket Kya-Kya.”

Padahal kala itu saya nggak ngerti bentuknya Jalan Gula seperti apa, hahaha. Yaaa, namanya juga modal baca majalah biar nggak keliatan bego :)))).

Lalu, ketika saya mulai tertarik dengan fotografi, seorang kawan Plurker mengajak motret ke Jalan Gula. Ihhh, siapa yang menolak? *mureee*

1, 2, 3, dor!

Awalnya, kami janjian untuk jalan ke Tugu Pahlawan buat motret apa aja. Lalu beralih ke Jalan Gula. Ternyata oh ternyata, Jalan Gula itu berdekatan dengan Jalan Coklat letak dari Rumah Abu keluarga Han dan dekat sekali dengan stasiun Semut. Yaaah, saya, sih, tahu daerah situ. Cuma nggak ngeh aja kalau ada sebuah jalan yang amat sederhana.

Gopel dimana-mana

Jalan Gula hanya berupa lorong panjang dengan bangunan rumah rusak, berdinding usang. Catnya mengelupas. Daun jendelanya tak beraturan. Kusen pintunya tak begitu layak, penuh vandalisme. Tangga yang menghubungkan dengan lantai atas sudah ditutup. Terlarang karena usia, kabarnya. 

Di bagian ujung lain Jalan Gula, ada komplek pertokoan milik orang Cina. Yaa, maklum saja daerah Utara lekat dengan pedagang asal Tiongkok. Nggak heran juga jika kawasan ini disebut dengan pecinan.

Pintu dan dan jendela usang

Di ujung jalan masuk, ada seorang kakek dengan gurat-gurat lesu di wajahnya. Mengharap kasih siapa saja yang lewat dan memotret di sana. Kakek tidak meminta-minta, tetapi menyewakan sepeda lapuk yang biasa digunakan untuk properti foto. Bayarnya seikhlasnya. Sementara di bagian lain, terdapat kakek lain yang juga menyediakan sepeda lavvas untuk disewakan.

Sepeda disewakan seikhlasnya

Saya tidak tahu pastinya sejak kapan, tetapi dari zaman saya SMP (which is sudah bertahun-tahun lalu :p) sering sekali mendengar Jalan Gula tempat pas untuk foto angkatan dan prewedding karena tempatnya vintage-vintage alias lavvas, gitu.

Pas saya ke sana, ada segerombolan remaja yang foto-foto hore dan tentu saja menyewa properti demi menunjang hasil foto tjiamik. Dan langsung minta dipotretin begitu saya keliatan nganggur. Bocaaah! :)))).

Dedek emesh :))

Oh ya, Jalan Gula akan ramai setiap weekend dan musim kenaikan kelas. Jadi, kalau mau sepi, yaa motretnya jangan pas hari-hari itu.

Kalau buat saya, Jalan Gula ini mayanlah buat foto-foto. Tapi, karena terlalu mainstream, jadi ya biasa aja. Tapi yang penting, saya sudah pernah ke Jalan Gula setelah bertahun-tahun lalu hanya tahu lewat majalah dan koran, HAHAHA! 

 
Mau foto? Bayar!

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…