Monday, November 28, 2016

Apa Kabar Pasar Seni Sukawati Bali?



 Pasar Seni Sukawati 
Siapapun, yang pernah sekolah, barangkali pernah merasakan liburan perpisahan ke Pulau Dewata, Bali. Saya adalah salah satunya.

Hingga perpisahan bangku SMA, saya sudah ke Bali sekira tiga kali. Ketiganya saya mencicip bagaimana rasanya masuk ke Pasar Seni Sukawati. Pasar seni yang menjual buanyak banget barang kesenian Bali. Lukisan, ukiran, gantungan, wewangian, baju, kain, aksesoris, pensil kayu dengan bentuk unik, gantungan kunci bentuk papan selancar, sampai cemilan.

 

Belanja di mari

Saya selalu suka setiap mampir ke sana. Karena saya menikmati proses jual beli dan tawar menawar, yang bagi saya, kalau dapat harga rendah bangeeet adalah suatu kebanggan. Kasian? Sedikit dan kadang-kadang. Toh, mereka jual bertahun-tahun juga masih survive, berarti mereka tetap untung walaupun marginnya tipis. Lagian, bukankah menawar adalah termasuk seni? *pembeli tega dan nggak tau diri :))*

Sepi 

Nah, kemarin saya baru saja mampir ke Sukawati setelah balik dari Nusa Penida. Iseng-iseng, sih, sebenarnya, karena nggak ada niat sama sekali buat belanja. Tapi, kan, saya cewek, naluri cewek kebanyakan mesti belanja tiap masuk pasar. Apalagi pasar yang nggak tiap tahun bisa dikunjungi. Ya, kan?

Iya.


Warna-warni baju
Sepintas lalu saya mencermati Pasar Sukawati ini. Masih tetap sama dengan tahun 2007 lalu, saat saya baru lulus SMA. Bangunannya masih tradisional dengan pedagang banyak berjajar dan bergerombol di parkiran menawarkan dagangan. Ya ampun, nggak ada yang berbeda sama sekali.

Barangkali yang berbeda hanya satu; kok Sukawati sekarang sepi? Padahal hari itu weekend. Bahkan untuk memilih dagangan pun nggak ada ceritanya penuh sesak dan bau keringat. Sepi parah.

Saya bahkan beberapa kali melihat pedagang menawarkan dagangan dengan harga sangat miring. Misalnya lukisan yang dijual seharga 50ribu saja. Padahal lukisannya baguuus banget. Kasihan...


Lukisan murah meriah
Meski begitu, bertahun-tahun nggak pernah mampir, Sukawati ternyata masih tetap mau menerima pembeli rewel dan tukang nawar yang nggak kira-kira macam saya ini. Masih sangat menarik. Dan masih berpotensi bikin kantong saya jebol. HIH!

Jadi, prinsip dasar menawar, sebenarnya mudah banget. Dibagi aja separuhnya. Kalau enggak, yaa tinggalin. Yang jual, kan, nggak cuma satu orang, hehe.




Tenun Endek muraaah
Tapi, melihat Sukawati, kadang saya jadi skeptis, apakah pasar kece yang tiap saat dipenuhi wewangian dupa yang menguar ini juga akan diobrak-abrik lalu direnov menjadi lebih modern? Selayaknya pasar-pasar kuno yang pernah ada. Pasar Klewer Solo, Pasar Turi Surabaya, Pasar Wonokromo, dan pasar lain.

Waaah, semoga enggaklaaah. Karena bagaimanapun, Pasar Seni Sukawati di Bali ini begitu iconic, terkenal dengan barang-barang murah dan kualitas yang lumayan bagus. Meskipun juga ada pasar lain yang menjual produk serupa, seperti Pasar Guwang.

Di pikiran banyak orang, Bali identik dengan Sukawati. kalau ke Bali pingin belanja, yaaa ke Sukawati. Kalau mau dapet barang murah, yaaa main-main ke Pasar Sukawati. Ya, kaaan?

Penuuuh
Post a Comment