Skip to main content

Apa Kabar Pasar Seni Sukawati Bali?



 Pasar Seni Sukawati 
Siapapun, yang pernah sekolah, barangkali pernah merasakan liburan perpisahan ke Pulau Dewata, Bali. Saya adalah salah satunya.

Hingga perpisahan bangku SMA, saya sudah ke Bali sekira tiga kali. Ketiganya saya mencicip bagaimana rasanya masuk ke Pasar Seni Sukawati. Pasar seni yang menjual buanyak banget barang kesenian Bali. Lukisan, ukiran, gantungan, wewangian, baju, kain, aksesoris, pensil kayu dengan bentuk unik, gantungan kunci bentuk papan selancar, sampai cemilan.

 

Belanja di mari

Saya selalu suka setiap mampir ke sana. Karena saya menikmati proses jual beli dan tawar menawar, yang bagi saya, kalau dapat harga rendah bangeeet adalah suatu kebanggan. Kasian? Sedikit dan kadang-kadang. Toh, mereka jual bertahun-tahun juga masih survive, berarti mereka tetap untung walaupun marginnya tipis. Lagian, bukankah menawar adalah termasuk seni? *pembeli tega dan nggak tau diri :))*

Sepi 

Nah, kemarin saya baru saja mampir ke Sukawati setelah balik dari Nusa Penida. Iseng-iseng, sih, sebenarnya, karena nggak ada niat sama sekali buat belanja. Tapi, kan, saya cewek, naluri cewek kebanyakan mesti belanja tiap masuk pasar. Apalagi pasar yang nggak tiap tahun bisa dikunjungi. Ya, kan?

Iya.


Warna-warni baju
Sepintas lalu saya mencermati Pasar Sukawati ini. Masih tetap sama dengan tahun 2007 lalu, saat saya baru lulus SMA. Bangunannya masih tradisional dengan pedagang banyak berjajar dan bergerombol di parkiran menawarkan dagangan. Ya ampun, nggak ada yang berbeda sama sekali.

Barangkali yang berbeda hanya satu; kok Sukawati sekarang sepi? Padahal hari itu weekend. Bahkan untuk memilih dagangan pun nggak ada ceritanya penuh sesak dan bau keringat. Sepi parah.

Saya bahkan beberapa kali melihat pedagang menawarkan dagangan dengan harga sangat miring. Misalnya lukisan yang dijual seharga 50ribu saja. Padahal lukisannya baguuus banget. Kasihan...


Lukisan murah meriah
Meski begitu, bertahun-tahun nggak pernah mampir, Sukawati ternyata masih tetap mau menerima pembeli rewel dan tukang nawar yang nggak kira-kira macam saya ini. Masih sangat menarik. Dan masih berpotensi bikin kantong saya jebol. HIH!

Jadi, prinsip dasar menawar, sebenarnya mudah banget. Dibagi aja separuhnya. Kalau enggak, yaa tinggalin. Yang jual, kan, nggak cuma satu orang, hehe.




Tenun Endek muraaah
Tapi, melihat Sukawati, kadang saya jadi skeptis, apakah pasar kece yang tiap saat dipenuhi wewangian dupa yang menguar ini juga akan diobrak-abrik lalu direnov menjadi lebih modern? Selayaknya pasar-pasar kuno yang pernah ada. Pasar Klewer Solo, Pasar Turi Surabaya, Pasar Wonokromo, dan pasar lain.

Waaah, semoga enggaklaaah. Karena bagaimanapun, Pasar Seni Sukawati di Bali ini begitu iconic, terkenal dengan barang-barang murah dan kualitas yang lumayan bagus. Meskipun juga ada pasar lain yang menjual produk serupa, seperti Pasar Guwang.

Di pikiran banyak orang, Bali identik dengan Sukawati. kalau ke Bali pingin belanja, yaaa ke Sukawati. Kalau mau dapet barang murah, yaaa main-main ke Pasar Sukawati. Ya, kaaan?

Penuuuh

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…