Skip to main content

Crystal Bay: Pantai Asyik Buat Nunggu Sunset di Nusa Penida


Gambar diambil dari anomharya.com

Jauh sebelum Nusa Penida booming di Instagram, kali pertama mendengar namanya, hal pertama yang saya bayangkan adalah keelokan tempatnya. Juga bagaimana cara menempuhnya. Lalu, semakin tertarik ketika tiga teman saya bergantian berkunjung ke Nusa Penida dalam waktu yang berdekatan dan mengabarkan keindahan panorama yang ada. Beberapa situs juga menyebutkan kalau Nusa Penida adalah Bali tempo dulu alias masih ndeso banget.

Nusa Penida yang sepi

Owell, sepertinya saya memang harus menyempatkan datang dan melihat keelokan alamnya. Bukan sekadar melihat melalui potret foto. Toh Bali sangat mudah dijangkau dari Surabaya, tempat saya tinggal. Biaya jalan juga masih sangat terjangkau--kecuali kalau bujet jebol gegara belanja ya, itu beda lagi. Maka, saya bersama ketiga teman pun akhirnya pergi juga ke Bali, tepatnya ke Nusa Penida.

Bening...

Nusa Penida memang pulau tersendiri. Lepas dari pulau utama Bali. Otomatis jauh dari ingar bingar pub, resto, dan hotel-hotel mahaagung. Makanya, di sini juga buanyaaaak banget tempat wisata pantai. Salah satu pantai yang paling banyak difavoritkan dan dikunjungi wisatawan adalah Crystal Bay.


Santai emang di pantai

Akses ke Crystal Bay juga paling guampang banget dibandingkan pantai lain yang kami kunjungi. Nggak pakai usaha pasti bakal nyampe, istilahnya gitu. Jarak dari Pelabuhan Nusa Penida (pelabuhan untuk kapal ferry) ke Crystal Bay sekira 12 kilometer. Atau kalau berangkat melalui Pelabuhan Banjar Nyuh II di Ped (pelabuhan untuk fast boat) hanya 9-10 kilometer yang bisa ditempuh 20 menit saja.


Crystal Bay, bhay!

Berdasarkan hasil surfing dan bertanya sana-sini, Crystal Bay enak banget buat nunggu sunset. Suasananya teduh, ombaknya tenang, dan fasilitas di sekitar pantai benar-benar sudah lengkap. Ada banyak pohon kelapa meneduhkan, hammock bertebaran, kursi santai yang disewakan, dan bisa banget mendirikan tenda buat menginap. Bisa dibilang pantai di sini sudah paling siap menerima kunjungan wisatawan.


Menara pandang

Di tempat ini juga memiliki fasilitas pengelolaan snorkling dan diving karena air lautnya jernih banget. Harga yang ditawarkan juga nggak mahal. Untuk sewa snorkle persetnya dibanderol 40 ribu rupiah sedangkan untuk sewa kapal dengan tiga spot snorkling dipasang mulai harga 500 ribu rupiah, tergantung kelihaian kalian dalam menawar. Sementara untuk diving, beda lagi. Minimal perpax kabarnya mulai satu juta rupiah untuk beberapa spot.


Selow

Kami datang ke Crystal Bay Sabtu sore pukul empat berniat mengabadikan sunset lebih awal. Selain juga untuk leha-leha di pasir putih. Selain di Pantai Atuh, kami baru menemukan pantai yang berpasir hanya di Crystal Bay. Sebab selebihnya wisata pantai yang ada hanya bisa dinikmati dari ketinggian dengan perasaan ngeri-ngeri sedap.


Masih diminati

Dengan niat begitu menggebu, kami memasuki Crystal Bay dengan seribu tanya. Kok pantainya begini? Kok pantainya nggak kayak yang difoto temen? Kok banyak sampah dan beberapa bagian pantai gosong? Kok pantai nggak meneduhkan sama sekali? Kok pantainya sepi?


Ngeri

Seribu tanya itu terjawab setelah kami nongkrong di salah satu bangunan warung ala kadarnya. Bu Gusti, pemilik warung, menceritakan kalau kawasan Crystal Bay baru saja dibakar. Sengaja dibakar oleh pemerintah untuk dikomersilkan, dibangun dengan resto dan villa. Kejadian juga akhirnya, kan... uang dan kekuasaan berbicara. Pohon dan bangunan-bangunan teduh di Crystal Bay sudah tak ada lagi. Menyisakan rongsokan bangunan kotor tak sedap dipandang. Tidak ada lagi toilet umum, tidak ada lagi warung teduh, tidak ada lagi penjaja sewa snorkle dengan tempat layak, dan tak ada lagi yang menginap di tenda. Semuanya tampak kumuh. Kasihan, kan...


Gusuran

Tapi, di balik semua itu, sunset di Crystal Bay tetap memukau. Dua jam kami duduk di pasir pantai sambil memandang bocah-bocah bermain air. Yang beginian nggak bakal saya temukan di Surabaya dan yang selalu dirindukan setiap mau berlibur. Tenang menentramkan.


Tapi sunsetnya tetap syahdu

No matter, fakta menyedihkan di depan mata para pedagang, Crystal Bay nyatanya masih dikunjungi beberapa orang. Pengunjung masih tetap antusias menunggu sunset. Bisa dengan leyeh-leyeh di pasir. Bisa juga menaiki ratusan anak tangga di sebelah barat untuk mengabadikan sunset lengkap dengan lengkungan pantai. Kalau saya, sudah mager di pasir kriyep-kriyep kena angin. Bawaannya pingin bobo cantik saja.


Masih ramai, kan?

Crystal Bay, mungkin akan lebih cantik setahun-dua mendatang. Biaya parkir juga mungkin nggak cuma dua sampai lima ribu, karena semakin komersil. Tetapi cantiknya Crystal Bay, nggak ada salahnya juga diabadikan. Ya nggak?


Mau ke sini?

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…