Skip to main content

Menengok Alas Purwo, Taman Nasional Tertua di Pulau Jawa

Selamat datang di TN Alas Purwo

“Kalau kamu ke Alas Purwo, siap-siap aja dibikin nyasar. Jalannya mbingungi. Katanya, makhluk halus yang bikin jalan kedatangan kita tertutup,”

Banyak yang bilang Taman Nasional Alas Purwo begitu memikat. Tapi nggak sedikit juga yang bilang, taman nasional paling ujung dan paling awal di tanah Jawa ini begitu mematikan. Alasannya, di sini, di zaman yang sudah modern ini, Alas Purwo masih menyimpan kerajaan yang hanya orang-orang tertentu tahu keberadaannya. Tentunya, ini bukan sembarang kerajaan. Tapi kerajaan makhluk halus.

Tengkorak banteng dan rusa

Mendengar ceritanya saja sudah bikin merinding. Saya nggak pernah suka sama tempat yang bernuansa mistis begini, haha. Itulah kenapa, saya nggak mau ikut pelatihan penelitian ke sini pas zaman kuliah dulu. Cukup di Taman Nasional Baluran saja *then call me biolog cupu:D*

Tapi pada akhirnya, saya ke sini juga. Dalam rangka jalan-jalan. Hahaha, saya nggak pernah setuju dengan istilah masuk taman nasional untuk jalan-jalan. Apa faedahnya coba? Nggak ada, selain foto-foto :))).

Tegakan pohon di TN Alas Purwo

TN Alas Purwo memiliki luas 43 ribu hektar, atau hampir dua kali lipatnya TN Baluran. Luasan yang berbeda menjadikan TN Alas Purwo memiliki keragaman tanaman dan satwa yang lebih banyak. Saat ke sana, saya sempat bertemu dengan kawanan merak, banteng, rusa, dan primata jenis Macaca. Panas yang menyengat membuat saya lebih nyaman untuk leha-leha di feeding ground yang banyak dihuni oleh kawanan banteng dan rusa. Pemandangannya juga lebih enak dinikmati karena kesan angker seketika menguap.

Feeding ground 

Merak malu-malu

Saat ini, TN Alas Purwo dibuka untuk umum dengan tiket masuk sekira 12.500 rupiah perorang, if I’m not in mistaken, ya. Pengunjung yang datang ke mari nggak hanya bertujuan untuk meneliti, tapi benar-benar untuk berlibur. Apa sebab? Karena kawasan ini juga dikelilingi pantai yang juga menarik untuk dikunjungi.

Katakan saja G-Land atau Pantai Plengkung, surganya surfing bagi para surfer. Di bulan tertentu, pantai G-land dijadikan untuk perlombaan surfing internasional. Nggak Cuma G-land, ada juga Pantai Triangulasi dan Pantai Pancur yang letaknya lebih dekat dengan TN Alas Purwo.

Pantai Triangulasi

Memasuki TN Alas Purwo, di pertigaan jalan, kalian akan bertemu dengan pura tertua di tanah Jawa. Namanya, Pura Giri Saloka. Berdasarkan cerita Pak Djarot dan Pak Eka, pemandu sekaligus sopir yang menemani kami berkeliling Banyuwangi, bertapa dan beribadah di sini, menghadirkan ketenangan tersendiri. Nggak heran, pura ini masih banyak didatangi oleh umat Hindu dari penjuru wilayah. Pura tertua ini dikeramatkan dan dianggap sakral di antara pura lain yang ada di tanah Jawa.

Pura Giri Saloka

Namanya juga hutan tertua di tanah Jawa, nggak heran kalau nuansa mistis masih sangat kental terasa. Ternyata, sampai saat ini, Alas Purwo juga masih digunakan bagi sebagian besar orang untuk bertapa, bersemedi, dan menenangkan diri mencari pesugihan atau pun ilmu hitam. Jika kalian mampir makan di warung yang ada di tengah hutan, coba berbincanglah dengan satu-dua orang yang ditemui. Tanyakan, sudah berapa lama menetap di dalam hutan dan ngapain aja.

Salah satu orang yang berbincang dengan saya adalah warga Surabaya yang rumahnya tak jauh dengan tempat saya tinggal. Perawakannya kurus, ceking, tinggi, dengan rambut gondrong, dan gigi tak lagi utuh. Dia tinggal di Alas Purwo selama 13 tahun. Ketika saya tanya kabar keluarga dan bagaimana dia menghidupi diri sendiri, jawabnya: semua urusan Tuhan.

Wenaaaak! Woles sekali jawabnya~~~

Giri Saloka bagian dalam

Percaya atau enggak, beberapa orang yang saya ajak ngobrol juga kebanyakan menjawab begitu, mencari ketenangan karena di rumah sumpek, sesak, dan banyak pikiran. Yaa, apapun kepercayaan mereka, mari dihormati. Hanya saja, yang bikin saya terpukau, 13 tahun tanpa hiburan gitu kok bisa-bisanya betah? Nggak ada mal, karaoke, dan bioskop! :))) *plak*

Aku syuka di sini, birunya aduhai~

Jadi gimana, kalian tertarik nggak dengan TN Alas Purwo? Lumayan menarik, kan, meskipun sekarang sedikit beralih fungsi. Yang penting, jangan buang sembarangan, jangan bicara ngawur, dan jaga sikap. Karena siapa tahu, yang punya wilayah merasa terganggu........ *kok jadi mistis :)))*

Ditunggu di Alas Purwo, Kak!

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…