Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Bersantai Kala Weekend di Harris Hotel Malang

Ini kali kedua saya menginap di Harris Hotel Malang. Tahun lalu, saya juga menginap di sini tepat seusai sidang tesis dilakukan. Kebetulan, ada undangan dari instansi yang mengharuskan saya hadir di hari yang sama pascasidang. Ya, sekalian refreshing, kan?



Lalu, tahun ini, di saat saya butuh jalan-jalan ke luar kota, mendadak ada undangan dari instansi yang sama. Menginap di hotel yang sama. Dan, materi yang diberikan 11-12 dengan materi tahun lalu. Alhamdulillah, rezeki bayi yang lagi pengen sarapan di hotel, wkwk.



Harris Hotel Malang terletak tak jauh dari Terminal Arjosari. Tepatnya di Riverside alias di tepi sungai. Bukan di pusat kota Malang. Dari sisi jalan raya, bangunan Harris Hotel tak tampak. Sebab, setiap pengunjung harus melewati pepohonan teduh untuk masuk ke bangunan inti hotel. Ya, sekira 300 meter dari jalan raya gitu. Letaknya jadi seperti tersembunyi. Tapi nggak usah khawatir, ada shuttle car yang bisa digunakan jika pengunjung terpaksa harus berhenti di tepi jala…

Bertemu Jeremias Pah Maestro Sasando dari Rote

Rote terkenal dengan pohon lontar yang tumbuh berserak tanpa harus dibudidaya. Keberadaannya dimana-mana. Tak perlu jauh untuk mencari di mana lontar berada. Karena di mana kaki menapak, di situ lontar berdiri tegak.

Kedatangan saya ke Rote tentu punya misi khusus (((misi))). Salah satunya adalah menengok asal usul alat musik sasando berada. Sayangnya, Rote tinggallah nama. Tak ada musisi sasando di sana. Meski sasando masih diproduksi dalam jumlah sedikit. Lalu ke mana musisi sekaligus maestro sasando berada?



Tepatnya di Desa Belo, Kupang Tengah, ada seorang maestro sasando yang masih mempertahankan kebudayaan leluhur. Jeremias Pah, begitu namanya kerap disapa. Adalah seorang musisi sasando yang namanya banyak digaungkan karena kepiawaiannya dalam memetik alat musik sasando. Pria berusia 78 tahun itu adalah generasi kedua dari keluarganya yang biasa memainkan sasando untuk kerajaan. Ayahnya, Augost Pah, adalah pemain sasando yang mengajarkan permainan alat musik petik asli Rote it…

Sarapan Pecel Gudeg Lumintu Khas Jember

Menikmati sajian dua menu sekaligus dalam satu piring sejatinya mengingatkan saya pada Rujak Selingkuh di Pamekasan. Bayangkan, dua rasa dalam satu menu? Rasanya ambyar. Hehe, saya nggak bisa menemukan bentuk kenikmatan salah satu dari keduanya dimana. Karena bagi saya Rujak Soto terlalu ngeblend.

Maka, ketika saya menemukan kuliner unik dan khas Jember berupa Pecel Gudeg, saya sudah siap membayangkan rasanya yang ngeblend dan tak bisa dibedakan. Pecel yang cenderung gurih pedas dengan bumbu kacang bercampur gudeg yang identik dengan rasa manis.



Secara terpisah, pecel adalah makanan favorit saya sejak dari zaman kicik dulu. Pun gudeg. Lidah saya memang lidah Suroboyo asli yang lebih menerima makanan pedas. Tapi gudeg, makanan (sangat) manis yang ternyata bisa diterima dengan mudah oleh lidah saya. Sejak saya mengenal gudeg sekira saat duduk di kelas 1 SD.



Nah, berkunjung ke Jember beberapa waktu lalu memaksa saya untuk mencari kira-kira makanan apa yang bisa dicicipi dan nggak ada …

Setengah Mati ke Danau Laut Mati Rote Timur

Kucinta Rote~
Hari itu kami berencana untuk mengeksplorasi semampunya ke Rote Timur. Bagian lain dari Pulau Rote yang lebih jarang dikunjungi daripada Rote Barat. Sebenarnya cukup was-was juga melihat jarak tempuh Ba'a ke Rote Timur. Bayangpun 65 kilometer! Iya kalau jalanannya mulus semulus paha Barbie, kalau hancur?

Ya sudah, akhirnya kami putuskan untuk berangkat saja. Tujuannya ke Bukit Termanu, Danau Laut Mati, dan Pantai Oesosole. Itu saja. Mengingat jarak tempuhnya yang bikin ngos-ngosan, maka akhirnya dipersingkat saja peritem tujuan wisatanya. Sepi tanpa pengunjung Dari tiga tujuan wisata rancangan di Rote Timur, Danau Laut Mati adalah perjalanan yang setengah mati ditempuh. Seriusan. Jaraknya jauh, papan penunjuk jalan minim, jarang ada orang lewat (which is GPS, Gunakan Penduduk Sekitar, nggak berfungsi. Apalagi GPS beneran), dan jalanannya nggak benar-benar mulus. Saya pun berulang kali ngomel tiap motor kurang halus melewati jalanan bergelombang. Duluuu,…

Terpikat Sunset di Pantai Lasiana Kupang

Almost disappear
Senja sudah hampir tenggelam. Kembali pada peraduannya ketika saya masih berkecimpung dengan Gmaps. Sementara motor melaju perlahan namun pasti. Saya masih mencari letak Pantai Lasiana yang konon merupakan tempat asyik untuk mengantar sunset pergi.

Letaknya sebenarnya tak begitu jauh dari penginapan yang ada di Oesapa Selatan. Namun menjadi sangat jauh ketika motor mengukur jalanan dari Pelabuhan Tenau. 15 kilometer. Lumayanlah untuk jalanan yang belum begitu dipahami.

Detak jam menunjuk ke angka 17.20 ketika motor tiba di gerbang Pantai Lasiana. Senja nyaris pergi. Tapi masih bisa dinikmati. Saya pun buru-buru turun dan bergegas memburu senja.
Tenggelam
Lasiana saat weekdays tak cukup ramai meski lokasinya sangat dekat dengan bandara dan keramaian. Lasiana sepi. Hanya ada beberapa anak muda yang bermain bola atau sekadar berswafoto dengan background matahari tenggelam.

Bagi saya, menunggu senja di Pantai Lasiana bisa menjadi pilihan tepat bagi siapa sa…

Sedikit Cerita dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur