Skip to main content

Jalan-jalan Sehari di Singapura Bisa Ngapain Aja?

Yes, ke Singapur!

Punya waktu sehari di Singapura sebenarnya bisa kalian manfaatkan untuk jalan-jalan hore. Berhubung saya efektif jalan di Singapura cuma enam jam jadinya terbatas jalan-jalan di sekitar Merlion Park aja. Tapi, itu udah bikin kaki gempor kok. Jalan sambil bawa backpack mondar-mandir dari Menara UOB sampai Gardens by the Bay. Yaaa, meskipun akhirnya backpack saya dibawain suami dan diganti backpack ala-ala plus tas kamera. Ternyata salah satu kelebihan punya suami begitu #plak.

Singapore river

Oke, dimulai dari Bandara Changi, kalau mau ke Merlion Park, kamu bisa naik sky train, yang menghubungkan antarterminal, dulu. Kenapa sky train? Ya, karena saya landing di T1 sedangkan sky train cuma ada di T2 dan T3. Nggak nyampe semenit naik sky train, kamu bisa langsung cari counter pembelian tiket MRT pass. Ingat, sebelum membeli MRT pass, pastikan kalau kamu memang butuh banyak transportasi umum untuk jalan-jalan. MRT pass ada dua tipe: EZ Link dan Singapore Tourist Pass (STP).

Sky train

Apa bedanya EZ Link dan STP? Sejatinya gunanya sama saja. Perusahaan penerbit dua kartu itu juga sama. Bedanya, EZ Link bisa dipakai untuk naik semua jenis angkutan umum (bus, MRT, LRT) sedangkan STP cuma dipakai untuk MRT-LRT.

Harga pembelian kartu EZ Link bisa dikatakan lebih mahal dibandingkan STP. Kalau nggak salah ingat SGD 18. Deposit pembelian EZ Link (sekira SGD 5) juga nggak bisa ditarik. EZ Link ini bisa ditopup dan digunakan berkali-kali sampai 5 tahun batas pemakaian. Beda dengan STP yang dijual SGD 20 tapi depositnya bisa diambil pas kita mau keluar dari Singapura dengan minimal pemakaian 10 SGD (kalau nggak salah ingat). STP juga hanya bisa digunakan buat turis yang tinggal selama 1-3 hari saja.

Singapore Tourist Pass

Nah, karena saya nggak butuh banyak transportasi umum, pilihan saya jatuh pada tiket MRT biasa. Itu berarti, setiap saya mau naik MRT harus beli tiket dulu. Harga pertiket untuk pertujuan beda-beda, cuma rangenya berkisar 1-3 SGD saja. Total naik tiga kali MRT dengan biaya 6,1 SGD.

Tujuan ke Merlion Park dari Changi bisa ditempuh dengan MRT jurusan Raffles Place (EW14) di jalur hijau. Dari Raffles Place, kamu bisa jalan kaki ke Menara UOB dan duduk-duduk leha-leha sebentar. Tempat ini jadi meeting point antara saya, suami, dan Ajeng. Ya, karena suami dan Ajeng landing lebih dulu, mereka menginap semalam di hotel yang berbeda. Sementara saya ngemper di bandara :))).

Leha-leha pagi di sini masyuk juga

Dari titik itu jam 8.45 perjalanan dimulai.

Jalan kaki dari Menara UOB ke Merlion Park bisa ditempuh dengan melewati Jembatan Cavenagh. Di sini manusia kulit putih dan orang Indonesia udah buanyaaak kelihatan. Secara saya berlibur pas bareng sama konser Coldplay.

Dari Jembatan Cavenagh (Edinburgh Bridge), jembatan tertua di Singapura yang dibangun tahun 1870, kamu bisa jalan teruuus sampai nemu kerumunan manusia mahabanyak. Padahal cuaca Singapura pagi itu panas gila. Saya yang bau asem karena belum mandi jelas makin asem:)). Di sinilah Merlion Park berada. Puas-puasin foto dengan background singa mangap. Kan, belum ke Singapura kalau belum foto di sini.


 Sky catcher

Saya nggak berlama-lama foto di sini. Panas dan penuh orang bikin males *ya kalau pingin sepi ke hutan, Mbak*. Dari Merlion Park, kamu bisa jajan es krim roti yang cetar itu seharga SGD 1,2. Kami nggak beli karena niatnya mau nyari air mineral gratisan tapi nggak nemu-nemu. Jadi, beli es krim pun tertunda. Kebayang kalau habis minum es krim kehausan sementara air mineral botolan mihil syalalala.


Marina Bay Sands

Lanjut jalan kaki ke Marina Bay Sands (MBS) melewati Helix Bridge. Jembatan yang mengingatkan saya pada ikatan biokimia ini benar-benar berbentuk helix. Lucu. Di sepanjang jalan ini sepi bangeeet. Jauh lebih manusiawi buat dinikmati. Angin semilir lebih terasa menyejukkan di tengah teriknya matahari. Jalan kaki pun terasa lebih lenjeh, manja, dan males-malesan. Kami yang awalnya semangat buat ngabisin rute yang juga bisa dipakai buat lari pun akhirnya leyeh-leyeh sembarangan dekat lapangan bola. Yaaa, waktu kami lumayan banyak habis di sini. Kaki mulai cenut-cenut:)).

Leha-leha

Dari MBS, kami mampir ngadem ke Artscience Museum. Masuk buat ngintip doang karena tiketnya lumayan nguras kantong. Habis itu mampir juga ke The Shoppes buat pipis dan ngadem. Bener-bener doing nothing gegara usaha nyari air mineral gratis yang konon katanya banyak tersebar di Singapura gagal total *kere abis*.

Numpang foto aja

Di belakang MBS, ada Gardens by the Bay (GBTB). Namanya garden ya berarti taman. Jadi isinya tanaman-tanaman dengan jenis yang amat beragam. Tiketnya? Nggak ngerti. Kami jelas cuma mampir foto di luar doang yang bangunannya mirip di film Avatar. Namanya juga ke Singapura numpang eksis, Sis, jadi ya kalau bebayar yaaa nggak perlu masuk #duh #plak.


Gardens by the Bay

Pegel? Jelaaas. Habis leyeh-leyeh di GBTB kami memutuskan untuk ke MRT station Bayfront jalur biru buat makan siang di Bugis Street. Ternyata, meskipun menginap di hostel dan dapat sarapan gratis, suami dan Ajeng belum sempat sarapan. Lucky me, yang udah ngemper hore di bandara bisa sarapan murah di Changi *tapi tetep paling lenjeh pas jalan kaki:))*


Bersih sungainya

Di Bugis Street jam sudah menunjukkan pukul 12.00 kalau nggak salah. Kami langsung cari tempat makan halal setelah belanja cokelat. Habis itu, nungguin Jumatan kelar baru lanjut nyari suvenir lain. Total kami leyeh-leyeh hore di sini selama tiga jam. Soalnya jam 15.00 teng, kami cabut pakai MRT jurusan Tanah Merah. Nah, dari Tanah Merah lanjut naik bus jurusan Pelabuhan Tanah Merah sekira satu jam buat ngejar pembelian tiket kapal Sindoferry paling akhir jam 17.00, padahal pemberangkatan baru pukul 18.30 #zzz.


Pecinan di Bugis

Pelabuhan Tanah Merah ini nggak sebersih Changi meski jauh lebih bersih daripada Pelabuhan Tanjungpinang atau pun Sekupang Batam. Yang penting, petugas imminya bening, tampan, murah senyum, dan baik, HAHAHA #woy!

Jadi, tertarik buat jalan-jalan nggak penting ke Singapura? Wkwkwk

Pelabuhan Tanah Merah
 

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…