Skip to main content

Menyusuri Jejak Kambing di Teluk Love Jember


Judulnya aneh? Tapi begitulah adanya.

Alkisah Teluk Love di Jember adalah satu tempat yang ditemukan secara tidak sengaja. Teluk Love yang berada tujuh kilometer dari Pantai Pasir Putih Malikan alias Papuma ini dulunya adalah kawasan pemukiman para nelayan--sampai sekarang pun masih. Tepatnya, di Bukit Suroyo atau Bukit Domba. Penamaan bukit tentu ada alasannya. Yaitu, adanya kebiasaan para nelayan yang membiarkan hewan peliharannya berupa kambing untuk mencari makan di bukit. Bukit yang tak begitu tinggi ini adalah tempat favorit para kambing untuk merumput. Pemiliknya amat jarang memantau bagaimana dan ngapain aja para kambing ini di bukit. Mereka percaya para kambing akan baik-baik saja sekalipun bunting dan melahirkan di sana.


Lalu datanglah Mas Budi dan ayahnya yang ketika itu tengah naik ke bukit melihat aktivitas para kambing. Tak sengaja, mereka menemukan sebuah pemandangan, yang jika dilihat dari atas bukit, menyerupai tanda cinta alias hati alias love. Memang tidak utuh, hanya benjolan simbol hati tak berujung. Tapi cukuplah untuk mengisyaratkan bahwa itu simbol cinta.


Mas Budi dan ayahnya kemudian mengajak satu orang rekannya bernama Mas Itu untuk menginisiasi Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) di sana. Sekira Maret 2015 terbentuklah pokdarwis Desa Payangan. Kelompok tersebut melakukan langkah swadaya pemberdayaan daerah setempat yang sebelumnya hanya jadi tempat makan jamaah kambing. Bukit Suroyo dengan jejak langkah jam'iyah kambing pun seketika disulap secara gotong royong menjadi jalan setapak untuk wisatawan. Memang belum total, tapi cukuplah untuk membuat treking santai di perbukitan lebih aman.


Secara teritori, Desa Payangan masuk dalam Kabupaten Jember. Tepatnya di Desa Payangan, Kecamatan Ambulu. Namun, pengelolaan tempat wisata yang diberi nama Teluk Love ini ternyata masuk dalam perizinan hak guna bangunan ke pusat. Makanya, hingga saat ini pengelolaannya tidak dikelola oleh Pemda seperti Papuma--yang dikelola Perhutani dan Pemda. Karena masuk dalam kepemilikan negara, itu berarti jika sewaktu-waktu pengelolaan Teluk Love diminta pusat, warga hanya tinggal melongo. Namun, saat ini, Mas Budi tengah berupaya agar pengelolaan Teluk Love yang diinisiasi olehnya ini bisa dikelola swadaya seperti sekarang. Sebab keberadaannya bisa menghidupi masyarakat sekitar yang dulunya hanya bermatapencaharian sebagai nelayan.


Dikelola swasta atau pribadi bukan berarti untuk masuk ke Teluk Love terbilang mahal. Malah cukup murah. Hanya lima ribu rupiah perorang, tanpa karcis, pengunjung bisa menikmati pemandangan Pantai Payangan, Pulau Klakah, dan Desa Payangan sekaligus dari puncak bukit. Ada banyak gazebo--yang dibangun swadayaditemani angin semilir yang membuat wisatawan bisa melepas lelah sejenak setelah treking 1 kilometer.


Menyusuri jejak para kambing yang kini digunakan untuk para wisatawan, bukan berarti kambing terusir begitu saja. Sebab, di sebelah selatan, mereka masih bisa merumput dan beranak pinak sesukanya. Di selatan, keberadaan mereka tidak akan terganggu manusia meski jalan setapak menuju ke sana cukup jelas untuk disusuri.


Keberadaan Teluk Love memang mengubah kebiasaan dan penghasilan penduduk setempat. Dulunya yang hanya nelayan, melaut bergantung angin, kini bisa membuka warung untuk wisatawan. Bisa membuka jasa penitipan kendaraan. Juga bisa ikut dalam keanggotaan pokdarwis. Mereka juga perlahan mulai sadar akan pentingnya memberikan pelayanan bagi wisatawan. Boleh dibandingkan dengan pengelolaan Papuma yang begitu-begitu saja sejak dari zaman alif. Padahal biaya masuk Papuma cukup mahal untuk ukuran wisata bahari. Ternyata, Mas Budi bercerita, ada target dalam pengelolaan itu. Dia, yang sempat mengelola Pantai Watu Ulo-Papuma, pernah ditarget untuk mendapatkan penghasilan 100 juta rupiah dalam 10 hari kerja. Seekstrem itu tidak banyak membuat perubahan bagi kawasan wisata yang tenar dengan tanjung di tengah lautnya.


Mas Budi kala itu pernah berjanji dan memastikan pada saya bahwa dalam waktu singkat Teluk Love, yang mulai banyak dikenal setelah diliput MTMA, akan terjadi banyak perubahan. Uang tiket lima ribu rupiah dibagi 70:30. Satu bagian untuk pengelolaan wisata, satu bagian lebih kecil untuk pengelola wisata. Cukup adil jika dilihat bagaimana perjuangannya.

NKRI sampai mati

Meski baru tenar dua tahun terakhir, nyatanya pesona Teluk Love amat memikat. Khususnya bagi pasangan muda-mudi yang menghabiskan akhir pekan di sini. Buanyak sekali piyik-piyik berkeliaran pacaran. Nggak cuma pacaran, mereka udah berani main lebih dari "sekadar" pegang tangan. Di depan umum. Di daerah agak pelosok. Wow, kan?


Whatever it is, semoga Teluk Love makin banyak dikenal seantero jagad raya. Dengan pengelolaan yang semakin maksimal.

Comments

Wow.. Kayak bukan di Indonesia..
Semoga bisa main ke sini suatu saat.. Aamiin

Salam dari menggapaiangkasa.com
Atiqoh Hasan said…
amin. segera saja, mas. mumpung belum begitu ramai:))
wah pasti kalau sunset kece banget ya mbak disini, renyah buat para pemburu sunset ngomong2 itu bentuknya memang mirip love ya ? unik banget
Atiqoh Hasan said…
Iya, mas hari. Tapi ujung dr bentuk lovenya gak ada. Sunsetan belum nyoba, sih. Keburu malem males turunnya :)))

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…