Skip to main content

Bersantai Kala Weekend di Harris Hotel Malang



Ini kali kedua saya menginap di Harris Hotel Malang. Tahun lalu, saya juga menginap di sini tepat seusai sidang tesis dilakukan. Kebetulan, ada undangan dari instansi yang mengharuskan saya hadir di hari yang sama pascasidang. Ya, sekalian refreshing, kan?



Lalu, tahun ini, di saat saya butuh jalan-jalan ke luar kota, mendadak ada undangan dari instansi yang sama. Menginap di hotel yang sama. Dan, materi yang diberikan 11-12 dengan materi tahun lalu. Alhamdulillah, rezeki bayi yang lagi pengen sarapan di hotel, wkwk.



Harris Hotel Malang terletak tak jauh dari Terminal Arjosari. Tepatnya di Riverside alias di tepi sungai. Bukan di pusat kota Malang. Dari sisi jalan raya, bangunan Harris Hotel tak tampak. Sebab, setiap pengunjung harus melewati pepohonan teduh untuk masuk ke bangunan inti hotel. Ya, sekira 300 meter dari jalan raya gitu. Letaknya jadi seperti tersembunyi. Tapi nggak usah khawatir, ada shuttle car yang bisa digunakan jika pengunjung terpaksa harus berhenti di tepi jalan.



Sama seperti tahun lalu, kondisi Harris Hotel Malang masih menyenangkan. Menyegarkan mata dan nuansa santai langsung menyergap begitu sampai. This is what I want!



Fasilitas Harris Hotel Malang terbilang lengkap untuk sekelas hotel berbintang empat (ya iyalah!). Tapi interior yang didominasi dengan warna orange dan hijau membuat saya merasa senang sekali di sini. Dua warna favorit saya yang seketika membuat mood menjadi baik.



Saya mendapatkan kamar di lantai 3. Berbeda dengan tahun lalu, kamar saya saat ini tidak tampak pemandangan gunung. Gak masalah yang penting tidur hotel *norak*.







Nah, karena saya datang untuk sebuah acara yang mengharuskan duduk lebih lama di ruang meeting, otomatis nggak terlalu lama di kamar. Kebanyakan waktu saya habis di ruang meeting dan toilet. Kok? Yalah, sebagai bumil, wajar dong kalau saya bolak-balik ke toilet. Sayangnya, toilet segambreng yang disiapkan hotel di sebelah ruang meeting nggak disediakan cleaning service. Akibatnya, toiletnya kotor dan becek saat banyak peserta rapat menggunakan toilet. Bahkan ada yang selangnya macet. Iyuh.



Memang, sih, dari segi toilet, saya merasa kurang terfasilitasi. Tapi masih banyak fasilitas yang patut diacungi jempol. Apalagi kalau soal makanan. Waaaah, enak semua! Mulai makan malam, makan siang, terkhusus sarapan yang menunya segambreng. Saya suka, saya suka! Di sekitar resto, ada boneka raksasa Harris yang siap berkeliaran menghibur pengunjung cilik. Jadi mendadak wondering suatu saat mengajak anak ke sini #eaaa.









Restoran di Harris Hotel didesain dengan view kolam renang. Kebayanglah gimana segernya nyemplung di kolam, lalu lapar tinggal makan di seberang. Ada tiga kolam renang di Harris Hotel. Mulai ukuran 0,3 meter, 1 meter, sampai kolam renang khusus dewasa. Semuanya bersih dan tampak menyegarkan. Tak jauh dari restoran dan kolam renang, ada fitness centre yang free digunakan bagi pengunjung. Fasilitasnya lumayan lengkap.







Well, overall, Harris Hotel Malang bagi saya adalah hotel yang menyenangkan. Bisa banget dipakai buat leha-leha santai di akhir pekan bareng kerabat atau pun keluarga. Harganya juga cukup terjangkau. Coba cek Agoda, Hotel.com, atau situs-situs pemesanan hotel serupa. So, selamat mencoba menginap di Harris Hotel Malang!

Comments

filosofiwisata said…
wah keren juga ya fasilitasnya, terlihat mewah
Atiqoh Hasan said…
Bener bangeeet. Tempatnya asri di pinggiran kota Malang yang mulai sumpek:))
Artha said…
Hotel ini terbaik di Malang loh, setau saya sih. Tapi belum pernah coba nginep, masih kata temen2 yg udah pernah ke harris hotel ajah
Atiqoh Hasan said…
Pantesaaan. Asik banget hotelnya:)))

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…