Skip to main content

Bertemu Jeremias Pah Maestro Sasando dari Rote



Rote terkenal dengan pohon lontar yang tumbuh berserak tanpa harus dibudidaya. Keberadaannya dimana-mana. Tak perlu jauh untuk mencari di mana lontar berada. Karena di mana kaki menapak, di situ lontar berdiri tegak.

Kedatangan saya ke Rote tentu punya misi khusus (((misi))). Salah satunya adalah menengok asal usul alat musik sasando berada. Sayangnya, Rote tinggallah nama. Tak ada musisi sasando di sana. Meski sasando masih diproduksi dalam jumlah sedikit. Lalu ke mana musisi sekaligus maestro sasando berada?



Tepatnya di Desa Belo, Kupang Tengah, ada seorang maestro sasando yang masih mempertahankan kebudayaan leluhur. Jeremias Pah, begitu namanya kerap disapa. Adalah seorang musisi sasando yang namanya banyak digaungkan karena kepiawaiannya dalam memetik alat musik sasando. Pria berusia 78 tahun itu adalah generasi kedua dari keluarganya yang biasa memainkan sasando untuk kerajaan. Ayahnya, Augost Pah, adalah pemain sasando yang mengajarkan permainan alat musik petik asli Rote itu pada Jeremias. Tak ayal, usia lima tahun pun, Jeremias mulai belajar memainkan sasando.



Sejatinya alat musik sasando sudah dikenal mulai abad ke-17. Kala itu, banyak penduduk Rote yang bisa memainkan sasando. Gimana enggak? Wong sasando itu seperti makanan sehari-hari bagi mereka.

Maksudnya, sasando ditemukan secara tidak sengaja. Berawal dari warga yang iseng membuat alat penimba air dari daun lontar. Lalu pada gagang yang berbahan bambu disematkan pinggiran daun serupa senar. Begitu tersemat, mereka iseng memetiknya. Keluarlah bunyi-bunyian. Dari situ, sasando banyak dibuat hanya sekadar untuk mengisi sepi. Menemani hari-hari penduduk Rote kala bosan menghadang. Lalu, permainan sasando menjelma menjadi musik khusus kerajaan mengiringi nyanyian daerah dan puji-pujian. Menarik, kan?



Rumah Jeremias berukuran sekira 12x20 meter. Di bagian depan, sengaja dibuat sebagai galeri sasando beragam ukuran. Namun yang pasti, ukuran sasando yang bisa dimainkan dibanderol minimal mulai 3,5 juta rupiah.

Dan, siang itu, John Pah, anak Jeremias, yang menyambut kedatangan kami di rumahnya. Oh ya, rumahnya amat mencolok dan terletak di tepi jalan raya. Jadi, mudah bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke sana.

Sebagai tradisi, setiap tamu, berapapun jumlahnya, selalu disambut hangat dengan petikan sasando elektro. Ya, sasando yang tradisional kini telah menjelma selaksa alat musik modern. John berujar, itu akibat pengaruh dari Portugis yang mengajarkan penduduk Rote untuk bermain alat musik elektro. Jadi, kalau kalian datang ke sana, jangan heran kalau sasando sudah tampil modern dan tersambung dengan sound system.



Nyanyian lagu wajib Tanah Airku mengalun di telinga. Tak lupa John menggunakan topi ti'i langga yang dibuat juga dari daun lontar. Itu adalah ciri khas bagi pemain musik sasando. Katanya, biar saat memainkannya bisa lebih meresap di kalbu #tsah.

Meski telah dikenal sejak bertahun lalu, nyatanya pemain sasando tak sebanyak dulu. Bahkan cenderung habis. Makanya, Jeremias bertekad melatih anak-anaknya untuk memainkan sasando. Salah satu dari anaknya, Berto Pah, kakak John, adalah musisi sasando yang mengikuti ajang pencarian bakat IMB beberapa waktu lalu. Berto dan John juga kerap diundang ke berbagai perhelatan musik dunia untuk memainkan sasando. Keren ya?



Puas ngobrol dan mendengarkan sasando, kalian bisa melihat bengkel pembuatan sasando yang berada di sisi rumah Jeremi. Sayang, aktivitas bengkel sedang istirahat. Tak hanya bengkel sasando, di tempat yang sama, Dorce Pah, istri kedua Jeremias menghabiskan waktu dengan menenun kain. Khas Rote, tentunya. Harga yang dibanderol sekira 300 ribu ke atas.

Nggak bisa memainkan sasando tapi ingin punya cinderamata yang khas banget? Kalian bisa membeli miniatur sasando dalam bentuk gantungan kunci yang dibanderol 25 ribu rupiah perbiji. Meski judulnya miniatur, pembuatannya juga menggunakan daun lontar, loh.



Sebelum pulang, Jeremias yang tengah istirahat akhirnya meluangkan waktu untuk berbincang dengan kami. Beliau juga menyempatkan bermain sasando klasik yang telah diupgrade dengan 48-54 senar melingkari bambu. Bunyi yang dikeluarkan jelas berbeda dengan sasando elektro. Lebih syahdu. Mendengarnya sepintas lalu saja, rasanya menyenangkan. Memikirkan sebuah alat musik yang berasal dari tanaman dengan bunyi-bunyian yang merdu didengar. Oh ya, sasando yang dibuat Jeremias tak sama dengan sasando masa lalu ya. Kini, sasando buatannya dibuat lebih modern dengan daun yang bisa dibuka-tutup. Jadi, tidak bisa digunakan sebagai alat penampung air.

Jadi, kalau main-main ke Kupang, pastikan berkunjung ke bengkel pembuatan sasando ya! Sekadar mengetahui sejarahnya tentu bukan satu masalah, kan?

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…