Thursday, November 17, 2011

Trip Seru: Kampung Inggris Pare

fresh graduate identik dg jobless. Sama seperti saya. Setelah sidang di bulan Agustus 2011, dan nilai turun di bulan September, asli bener2 ngerasa jobless. Mau ngapain aku ini? Mau kerja dimana? Mau jadi apa? Fyi, jauh sebelum lulus saya rutin berkunjung di website buat nyari kerja, such as jobstreet, jobsDB, karir.com, bilaboong, dan teman2nya yg lain, disitu saya liat hampir 100% mensyaratkan harus bisa b. Inggris. Lah saya?? Bisa sih, tapi pasif. Ngomongpun juga gak begitu pede. Tetiba ide cemerlang muncul, sembari menyembunyikan status saya yg jobless, jadilah saya pergi liburan ke kampung Inggris, Pare-Kediri.

Bertolak 10 hari setelah hari raya idul fitri, saya pergi menuju kampung Inggris dg bus patas. Waktu tempuhnya ± 3 jam dr Surabaya. Karena kakak saya pernah berlibur di tempat yg sama slama 3 bulan, maka jadilah saya daftar ke Marvelous. Di marvelous saya ambil paket sebulan dg 6x pertemuan per harinya dg harga 500rb termasuk camp. Murah kan?

Sehari, dua hari saya udah jatuh cinta sama suasana pedesaan di sana, seruuu, adem, ayem, dan tentrem. Apalagi kalo kita mw jalan2 kita musti nyewa sepeda onthel dulu. Harganya gak mahal, tergantung jenis sepeda yg kita sewa. Harganya ±40rb-80rb perbulannya.

Di marvelous, saya dapet temen buanyak *teteup yak!* yg terpenting saya juga dapet confidence bwt speaking, asli deh jadi pede banget kalo speak up in english, begaya gituh! Hahaha. Temen2 yg rame, bocor, dan yaampun gak ngerti nyebutnya kek mane, pada gila semua pokoknya!! Asli ya, pikiran stres lgs ilang, tiap hari, tiap minggu isinya jalan2 teruuuuuss. Gak berasa banget joblessnya pokoknya! Seneng? Iyalah! Banget2 malah.. Makanya begitu periode 10 habis *disana ada periode 10 dan 25* aku lgs galau lagi, temen2 koplak pada ilang, walopun masih banyak yg stay sih..

Bulan kedua, saya ambil writing, speakin, dan pronunciation. Teteup ya, dg alasan mengaktifkan saraf2 sensori saya dalam b. Inggris sbelum kerja. Untuk writing saya ambil di Elfast yg emang jagonya grammar, tapi speaking saya juga ambil di tempat yg sama, ambil dynamic speaking, level 5nya speaking. Untuk pronun? Teteplah, di marvelous, gurunya kan udah pernah di amrik 5th, jadi gak perlu diragukanlah kemampuannya..

Ngomongin beaya, umumnya program sebulan mematok harga 150-200rb perbulan perprogram. Kalo program 2 mingguan sekitar 30-100rb tergantung lembaga dan programnya.
Untuk urusan perut, gak begitu mahal kalo kata temen2 luar jawa, termasuk kata temen2 dr Jakarta-Bandung. Kalo kata saya, biasa aja, ya karna di Surabaya harga makanan emang segitu, 2500-tak terbatas.

Jadi, bagi para jobless yg bingung mw ngapain setelah atau sebelum wisuda, sok deh tengok kampung Inggris Pare, dijamin liburan kalian bakalan seru gak wajar. Trust me. Selamat liburan yg bikin pintar! :D

Thursday, March 3, 2011

Bebe yang Baik Hati

Di suatu siang yang terik, Cici si kelinci, Momo si monyet, Bubu si burung, dan Ruru si rusa tengah bermain berkejar-kejaran. Saking asiknya mereka bermain, tak disangka mereka telah masuk ke tengah hutan. Ruru yang menyadari mulai panik dan ketakutan, “Teman-teman, kita ada di tengah hutan. Bagaimana ini? Kita terlalu jauh bermain.” Sahutnya terengah.

Momo berhenti melompat-lompat, memandang berkeliling, “Astaga, kita berada di tempat para beruang pemakan daging, Mereka sangat buas. Bagaimana ini? Aku lupa jalan pulang.” Momo mulai panik.

Cici memandang berkeliling mengikuti arah Momo memandang, “Kamu yakin, kamu lupa jalan pulang?” Tanya Cici pada Momo berharap Momo bercanda pada ucapannya.

Momo berbalik menatap Cici dan mengangguk, “Aku lupa jalannya, Ci. Seharusnya tadi aku memberi tanda pada batang pohon yang kita lewati tadi dengan pita merah, tapi aku lupa membawa pitanya. Maafkan aku.” Momo menunduk tak berani menatap teman-temannya.

Bubu terdiam, dia mendengar suatu pertanda kehadiran hewan lain, “Sssttt, coba kalian dengar, apakah kalian mendengar sesuatu yang bergerak di dekat sini?” Tanya Bubu pelan.

Ketiga temannya saling menatap cemas, “Itu beruang!!” Momo yang melihat sosok beruang yang muncul dari balik semak-semak di dekatnya berteriak kencang dan langsung berlari melompat cepat diikuti teman-temannya. “Aaa… toloooonngg!!” Teriak mereka serempak.
Saking cepatnya mereka melarikan diri, Ruru tak melihat ada batang pohon yang tumbang di depannya.
Bruk! Ruru terjatuh, Namun terlambat, ketika Ruru tengah berusaha berdiri dan kembali berlari, dia merasakan kakinya sakit. Rupanya kaki Ruru terkilir. Ketiga temannya hendak menolongnya, namun beruang itu semakin mendekati mereka,

“Ruruuu!!” Momo berteriak kencang memberikan isyarat pada Ruru untuk segera bangkit. Ruru menggeleng lemah, “Aku tak bisa berdiri, kakiku terkilir. Kalian pergilah, aku tak apa di sini sendiri.” Sahut Ruru lemah.

Cici menghampiri Ruru perlahan, “Kami tidak akan bisa pulang tanpa kamu, Ruru. kamu teman kami.” Ucapnya seraya mengulurkan kaki depannya menolong ruru untuk bangkit.

Graooorrr!! Beruang itupun semakin mendekat membuat mereka semakin panik.

“Aaa… tolooong, jangan makan kamiii!!” Teriak Momo histeris.

Beruang kecil itu mendekati mereka perlahan. Momo, Cici, Ruru, dan Bubu berpelukan erat ketakutan, “Tolong, ampuni kami. Kami tak sengaja memasuki wilayahmu.” Sahut Cici ketakutan.

“Kami hanya ingin menolong teman kami yang kakinya terkilir. Maafkan kami, sudah mengganggu tidur siangmu.” Lanjut bubu seraya mendekap teman-temannya erat.

Ruru menangis, “Makanlah aku, jangan makan teman-temanku. Ini semua salahku mengajak mereka bermain terlalu dalam.” Kata Ruru terisak.

Beruang kecil itu hanya memandang mereka terdiam, “Aku bisa mengurut kakimu agar kamu bisa berlari lagi.” Sahut beruang kecil itu seraya memegang kaki Ruru.

“Tidaaakkk!! jangan makan Ruru!” Cici terisak mendapati si beruang memegang kaki Ruru, ini pasti tipuannya, setelah ini pasti dia akan memakan Ruru, Cici membatin.

Si beruang kecil menunduk, “Aku ingin membantu kalian. Aku ingin berteman dengan kalian. Aku tidak punya teman. Setiap ada kawanan hewan lain yang tengah bermain, aku selalu ingin menyapa mereka, tapi mereka selalu berlari ketakutan. Padahal aku tidak ingin memangsanya. Aku hanya ingin berteman.” Sahutnya pelan. Cici saling menatap dengan teman-temannya. “Aku memang pemakan daging, tapi aku bukan pemangsa seperti beruang pada umumnya. Aku memakan bangkai hewan yang sudah mati, bukan mengejar hewan lain yang masih hidup untuk kumakan. Meskipun begitu, tetap saja aku tak punya teman.” Lanjut si beruang kecil sedih.

Momo mendekati beruang kecil, mengulurkan tangannya, “Jika memang kamu ingin berteman, mari berteman denganku, tapi kamu jangan memakan aku. Aku Momo.” Kata Momo seraya tersenyum.

Cici dan Bubu berpandangan. Ruru berhenti menangis. Si beruang kecil menerima uluran tangan Momo dan tersenyum, “Aku Bebe. Terima kasih sudah bersedia menjadi temanku.”

Momo tersenyum, “Oh iya, katamu kamu bisa mengurut kaki temanku yang terkilir? Coba tolong urut kaki Ruru yang terkilir, kamu bisa, kan?” Tanya Momo begitu mulia berteman dengan Bebe.

Cici mendekati Bebe takut-takut, “Tolong sembuhkan temanku ya.” Pintanya pelan.

Bebe mengangguk tersenyum dan berjalan mendekati Ruru yang terdiam melihatnya. Bebe mengurut kakinya, sementara Ruru hanya meringis menahan sakit. “Sudah. Coba kamu berdiri dan berjalanlah pelan-pelan.” Perintah Bebe begitu dia selesai mengurutnya.

Ruru berdiri perlahan dan mulai berjalan, “Eh, aku sudah bisa berjalan. Wah, terima kasih, Bebe.” Ujar Ruru tertawa senang. Cici dan Bubu mengangguk-angguk dan tersenyum melihat Ruru sudah bisa berjalan,

“Terima kasih sudah menolong teman kami. Aku Bubu.” Bubu terbang dan hinggap di pundak Bebe memperkenalkan diri.

“Aku Cici, salam kenal ya, Bebe.” Cici tersenyum mengulurkan kaki depannya pada Bebe. Bebe membalas dengan tersenyum. Cici menatap Bebe bertanya, “Oh iya, mengapa kamu mau menolong kami, Be?”

Bebe mengangguk-angguk, “Bukankah Tuhan menciptakan kita untuk saling tolong menolong? Aku hanya ingin berbuat kebaikan sebelum aku mati, agar Tuhan senang telah menciptakan aku.” Jawab Bebe.

Cici tersenyum mengangguk-angguk dengan mata berbinar mendengarnya, “Tentu saja, bu guru di sekolah kami juga mengatakan, kalau kita hidup harus saling tolong menolong. Bukan begitu, Teman-teman?” Tanya Cici pada teman-temannya. Teman-temannya mengangguk-angguk setuju.

“Jadi kalian mau menjadi temanku?” Tanya Bebe.

“Tentu saja, asal kamu jangan memakan kami.” Ujar Ruru yang disambut tawa oleh Bebe dan teman-temannya.

Cici Ingin Terbang

Di tengah hutan yang tenang dan damai tinggallah keluarga kelinci. Keluarga kelinci terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak kelinci putih kecil. Pada suatu siang anak kelinci putih kecil bermain bersama teman-temannya di dekat danau yang jernih, mereka menyebutnya Danau Pelangi. Danau Pelangi merupakan danau yang jernih dan jika selepas hujan akan memantulkan warna-warna pelangi, sehingga mereka menyebutnya danau pelangi.

Anak kelinci putih kecil bernama Cici sedang bermain dengan Momo si monyet kecil, Ruru si anak rusa dan Bubu si burung pipit kecil. Mereka tengah bermain petak umpet. Sampai suatu saat Momo mengeluh capek, “Sudah, ah, teman-teman, aku capek sekali. Haus,” sahutnya kecapekan sambil bersandar di pohon papirus.

Cici yang masih semangat dan belum capek cemberut seketika.

“Yaaah, Momo, aku kan masih ingin bermain, kok sudah capek, sih?” tanyanya cemberut. Momo diam seraya mengipas-ngipaskan dedaunan kering yang ada di dekatnya, berharap dedaunan yang tengah dikipaskannya bisa membantu menghilangkan keringatnya. Ruru dan Bubu duduk mendekati Cici dan Momo.

“Ya sudah, besok kita main lagi,” ucap Ruru menengahi seraya mengisi botol minumnya dengan air danau dan memberikan kepada teman-temannya setelah meneguknya. Bubu menyesap air langsung dari danau, lebih enak katanya.

Cici berdiri tiba-tiba.

“Aku ingin bisa terbang,” ucapnya.

Momo yang tengah minum tersedak.

“Terbang? Jangan bercanda, Ci. Kamu tidak punya sayap seperti Bubu, kamu tidak akan bisa terbang,” jawab Momo.

Bubu terbang mendekati Cici.

“Kamu ingin terbang? Kenapa? Bukankah di daratan seperti ini lebih enak?” tanya Bubu.

“Iya, Ci, bukankah lebih enak seperti sekarang ini? Kamu bisa melompat-lompat riang, kamu bisa berlomba melompat dengan katak, kangguru...”

Belum selesai Ruru bicara Cici menyela cepat, “Tapi aku ingin terbang. Aku ingin memegang awan,” sahutnya sambil menatap awan dengan mata berbinar. Momo, Bubu, dan Ruru menghela napas panjang bersamaan. Mereka tahu itu tidak mungkin untuk dilakukan Cici. Namun mereka juga tahu, jika Cici adalah pekerja keras dan berkemauan kuat, jadi bukan tidak mungkin apa yang mereka sarankan tidak didengarkan oleh Cici.

Esoknya, Cici pergi ke pasar ditemani ketiga sahabatnya membeli seratus balon. Cici mencoba dengan seratus balon untuk bisa terbang. Di dalam balon berisi gas karbon, yang jika balon dilepas akan terbang ke angkasa. Sesampai di bukit, Cici dibantu ketiga temannya mengikat seratus balon di seluruh badan Cici. Cici jadi tampak kecil sekali tertutupi oleh banyaknya balon. Orangtua Cici menatap Cici cemas, berulangkali mereka mengingatkan, namun tidak pernah didengar oleh Cici.

“Nak, kalau kamu jatuh nanti gimana, Nak?” tanya ibunya seraya mengusap air di pelupuk matanya. Ayah memeluk menenangkan ibu. Cici berbalik tersenyum melihat satu persatu temannya bergantian dan melompat mendekati orangtuanya, dia tidak bisa memeluk karena badannya penuh dengan ikatan balon. Sesaat kemudian, Cici melompat dari bukit, dan seratus balon mengangkat tinggi tubuhnya yang mungil.

“Horeee, aku terbang, aku terbang!!” Cici berteriak senang ketika dirinya berhasil terbang ke angkasa. Namun, sesaat kemudian satu persatu balon mulai meletus, Cici kehilangan keseimbangan. Dia takut jatuh seperti yang ditakutkan ibunya. Cici panik ketika balon yang meletus makin banyak.

“Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut jatuh,” ratapnya mulai menangis. Orangtua dan teman-temannya yang melihat balon-balon Cici meletus juga ikut cemas. Mereka takut Cici jatuh. Bubu terbang kesana kemari menandakan dia sedang panik. Momo melompat-lompat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ruru berlarian tak tentu arah. Ibunya menangis semakin kencang. Semua panik. Hanya ayah Cici yang tetap tenang berdoa di dalam hatinya memohon keselamatan Cici pada Tuhan.


Tar!! Balon terakhir meletus. Cici terjun bebas jatuh menuju daratan.

“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Cici berteriak kencang ketakutan.

“Ciciiiiiiii!!” Orangtua dan teman-temannya berteriak khawatir memanggil Cici.


Wuuuuuuzzzzz!

Seekor elang coklat menyambar tubuh Cici, membawanya meliuk-liuk ke angkasa. Cici terdiam berhenti menangis. Elang coklat terbang kesana kemari, meninggi menurun, membawa Cici berputar-putar ke angkasa. Cici yang semula terdiam sedikit mengembangkan senyumnya. Tanpa disadarinya Cici mulai merentangkan kaki depannya seolah-olah dia mempunyai sayap, sedangkan kaki belakangnya mencengkeram badan elang coklat erat. Cici tertawa riang ketika elang coklat kembali meliuk-liukkan badannya, bersalto di angkasa.

“Aku terbang. Aku terbang. Ayah, ibu, teman-teman aku terbaaaanngg!!” Cici berteriak kencang ke arah orangtua dan teman-temannya. Orang tua dan teman-temannya ikut senang melihat Cici senang, dihapusnya perasaan takut dan cemas akan kehilangan Cici tergantikan oleh perasaan lega.

Hap! Elang coklat menukik cepat dan mendarat tepat di depan orangtua Cici dan teman-temannya, menurunkan Cici seraya tersenyum.

“Bagaimana? Kamu sudah bisa terbang, ‘kan?” tanya elang coklat pada Cici.

Cici mengangguk cepat.

“Terima kasih, kak El, kalau tidak ada kak El mungkin Cici sudah mati,” jawab Cici seraya memeluk kak El.

“Aku kemarin siang tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Aku mendengar kalau Cici ingin terbang meraih awan dan aku tahu Cici tidak mempunyai sayap. Jadi aku mengawasi Cici dari kejauhan saat Cici mulai terbang dengan seratus balon.” Kak El menjelaskan.

Orangtua Cici mendekati kak El.

“Terima kasih, kak El, terima kasih sudah menolong Cici,” sahut Ibu Cici seraya tersenyum. Ayah Cici menyalami kak El dan mengucapkan terima kasih.

“Ayah, Ibu, Momo, Bubu, dan Ruru, terima kasih sudah membantu Cici untuk bisa terbang. Cici tahu kalau Cici tidak mempunyai sayap untuk terbang. Tapi sebenarnya Cici hanya ingin mencoba untuk terbang sebelum Cici jadi pilot kalau besar nanti. Maaf sudah merepotkan,” kata Cici tertunduk.

Ayah dan ibu Cici tersenyum melihat Cici yang tertunduk.

“Tidak apa-apa, Cici, yang penting kamu sudah mencobanya. Dan Cici sudah tahu, kan, dimana letak kekurangan Cici?” Ayah memegang pundak Cici dan tersenyum.

Cici mengangguk.

“Cici tidak punya sayap, Yah,” jawabnya tegas seraya mengangkat kepalanya memandang ayahnya.

“Cici, Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tidak akan membiarkan Cici dalam keadaan kekurangan. Buktinya Cici bisa melompat, kan? Tuhan menciptakan bermacam-macam jenis hewan sesuai dengan kemampuan dan kelebihannya, Cici, semua itu semata-mata supaya kita bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan kita. Kalaupun kita diciptakan dalam keadaan kekurangan, pasti Tuhan memberikan kita kelebihan yang lain karena Tuhan itu... ”

“Maha Adil, ya, kan, Yah?” Cici menyahut cepat diikuti tawa orangtuanya, teman-temannya, dan kak El.

Momo, Ruru, dan Bubu mendekati Cici dan memeluknya.

“Sudahlah Cici,tak apa-apa, ‘kan kita teman. Bukankah teman harus saling membantu?” sahut Momo disambut anggukan dan senyuman teman-temannya, mereka pun berpelukan.