Skip to main content

#FF siluet pada hujan

Malam tadi hujan. Seperti malam-malam sebelumnya. Aku selalu termangu di balkon kamarku. Dan, balkon kantorku. Sama rasanya. Hening. Senyap. Namun ramai.
Aku selalu mencintai hujan. Bau tanah basah. Gemerisiknya. Dan, warna-warni dalam larian kecil anak-anak hujan. Terkadang, aku menaruh sedih terhadap mereka. Beradu nasib demi materi yang tak sebanding. Tapi, sering aku iri pada mereka. Betapapun hidupnya jauh lebih bebas dibandingkan aku. Sekalipun sudah bekerja. Kadang, hidup memang perlu mengalah dengan keadaan.

Hujan. Lima huruf yang selalu membuatku seketika termangu dan berpangku pada keadaan. Ada kamu di balik hujan. Ada kita di dalamnya. Ada banyak cerita tentangmu. Tentang kita. Dan, kini harus serta merta kuhapus seiring waktu berotasi meninggalkan kenangan lalu.
Aku mencumbui hujan. Seperti aku mencumbui dan melumat habis rasamu. Aku memeluk hujan. Seperti aku merengkuh dan berpagutan denganmu. Aku rindu rasa manis yang tertanam lembut di bibirmu. Seolah aku melumat bulat-bulat strawberry ranum dari kebun sebelah rumahku. Aku merindumu. Rindu segala kenangan tentang kita.

Seperti ombak yang bertepuk seadanya pada langit. Rasanya tak terengkuh. Hanya saja bedanya, kau membawaku terbang. Sementara. Memberiku angan tak terasah. Lalu menghempaskan begitu saja. Ini rasa terperihku. Aku tulus mencintaimu. Seperti burung gereja pada pagi dan sore hari saat hari cerah.

Kasihku, lihat aku di sini. Diam membeku ditempa hujan. Menunggu hadirmu sejak seratus delapan puluh menit yang lalu. Kita akan berbincang santai dengan kopi panas mengepul. Berbincang masa depan kita. Di sini, di bawah pohon rindang tempat kita saling berpagut. Bukankah kau sudah berjanji akan menemuiku seorang diri dan membawakanku roti dengan karamel di dalamnya? Lalu siapa dia? Lelaki paruh baya yang memeluk pinggangmu mesra? Tidak, jangan katakan kau bermain cinta dengannya. Kau tak pantas dengannya, Sayang. Lihat aku, di sini. Gemetar dengan gigi gemerutuk. Menahan pilu yang tak hanya menyesaki dada. Tapi juga kepala. Aku menunggumu, Sayang. Bukan dengannya. Tapi seorang diri. Datang dan merengkuhku. Lalu berkelindan. lagi dan lagi.

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…