Tuesday, February 7, 2012

#FF bulan kertas

Rama menuntunku pelan berjalan menuju sebuah tempat yang masih rahasia katanya. Aku tersenyum mendengar kalimatnya yang berarakan di telingaku. Pelan dan menggelitik.

"Sampai sejauh mana aku harus berjalan pelan seperti ini, Rama?" tanyaku tak sabar dengan kejutannya. Genggaman tangannya lembut dan erat. Menunutunku dengan sabar dan pasti. Sesaat kemudian, tak sampai lima menit langkahnya terhenti. Begitupun aku.

"Coba buka matanya." bisiknya pelan.

Aku membuka mataku dan seketika terperangah dengan apa yang ada di depanku. Sebuah taman dengan dekorasi cantik berhiaskan kerlap-kerlip lampu. Meja kayu di tengah taman dengan dua kursi dan di tengahnya ada wax place. Penuh lilin. Dan, beraromaterapi. Segar.

Aku menyelipkan senyum di balik wajahku yang terkejut. "Apa ini, Rama?" tanyaku setengah tak percaya.

Cowok itu melempar senyum. Lalu mendorong kursi, menyuruhku duduk. Disusul dengan dirinya.

Aku mengikutinya patuh. Wajahku masih penuh tanya. Memandangnya penasaran. Ingin segera mendapat jawaban.

"Ini apa?" ulangku menagih jawaban, tak sabar.

Rama masih tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah kotak merah. "Ini." sahutnya seraya menyodorkan kotak merah di depanku yang nyaris membuat jantungku melompat. Lalu membukanya dan berniat memasangkan sebuah jam tangan keperakan pada tangan kananku.

Tanpa disadari aku menarik tanganku dan menyimpannya dalam pangkuan, "Eng..."

Rama tersenyum dan mengangguk maklum, "I love you for the very first time I saw you." ujarnya kemudian, pelan nyaris tak terdengar. Kemudian tangannya meraih gelas berisi anggur merah, mengangkatnya, mengajakku bersulang tanpa menghiraukan kalimat gamangku.

Aku mengerjap-ngerjap meminta penjelasan. Tak menggubris ajakan bersulangnya. "Ada apa dengan ini semua, Rama? Beri aku penjelasan, tolong." pintaku tak mengerti.

Rama menghela napas. Gelas ia turunkan. Garis senyumnya perlahan pudar. Matanya serius menatapku kali ini. Lalu berdehem. "Maaf, aku terlambat, Bi. Aku terlambat menjemputmu. Aku pikir dengan meninggalkanmu sendiri, tanpa suatu kabar apapun dariku akan memberikanmu pengertian bahwa aku pergi untuk kita. Untuk cinta kita. Demi masa depan kita. Aku pikir kamu tahu itu, Bi." Rama tertunduk. Tangannya mencengkeram gelas erat-erat.

"Apa?" aku menutup mulutku yang terbuka lebar tak percaya. Tak pernah tahu alasan klise semacam itu. Bahkan kalimat perpisahan lima tahun lalu pun dia tak pernah mengucapkan. Kalimat perpisahan yang mungkin akan mengubah jalan ceritaku. Lalu, mengapa harus malam ini? Malam yang seharusnya memingitku untuk tidak pergi dengan siapapun.

"Rama..." aku merasakan pipiku memanas, ingin rasanya aku membaur dalam peluknya, menangis dalam dekapannya. Tapi enggan. Sebuah cincin berukiran namaku dan tunanganku menahanku. Menahanku untuk tidak bergerak mendekat padanya. Seseorang yang selalu ada di setiap menitku. Dulu.

#FF silly-pity

Aku menyemprotkan beberapa kali spray ke bajuku. Aku tersenyum menantikan sebuah pertemuan yang kunantikan. Setiap sore. Pukul lima sepulang mengaji. Rutin. Tak pernah tidak.

Aku mengenalnya awal Minggu lalu. Saat ia bertandang di tempatku berada kini. Kami tersenyum. Saling melempar senyum. Dan, bertatap mata. Seolah saling mengirimkan impuls-impuls untuk menjadi satu kesatuan diri.

Pertemuan sore ini dia tak banyak berubah. Masih tampan dengan penutup kepala khas. Tingkahnya jenaka berbalut senyum manis yang selalu disunggingkan padaku. Kami tersenyum. Lagi-lagi tersenyum beriringan. Duduk berdua dengan banyak pasang sorot mata memandang iri. Aku menikmatinya. Dia juga, tampaknya. Setidaknya itu yang kutangkap dari ujung matanya.

Kami tersenyum. Hanya saling melempar senyum. Membuat ribuan pasang mata menatap gemas dan iri.

Percakapan sore ini tak banyak berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Dia tertawa. Kami tertawa. Percakapan yang renyah didendangkan. Selalu. Setiap sore.

Kurasa aku tidak sedang jatuh cinta. Begitupun dia. Kami hanya saling melempar senyum. Lalu masuk pada dunia berikutnya dan selanjutnya. Hanya karena saling melempar senyum. Ribuan pasang mata menatapku gemas dan iri.

Aku tertawa. Kami tertawa. Kami sama-sama menertawakan mereka. Bodoh ya? Sebegitu mudahnya mereka tertipu dengan sandiwara kami. Selalu. Setiap sore kami selalu saling melempar senyum dan tertawa. Apalagi kalau tidak untuk menertawakan mereka? Menertawakan mereka yang rela mengikuti alur sandiwara kami. Sandiwara antara ustadz dan murid.

#FF lonely

Aku tersenyum menatap layar facebook di depanku. Terpapar sebaris nama yang tak asing bagiku. Cinta pertamaku yang kembali. Profile picture dengan vespa yang bertengger ganteng di belakangnya. Keren. Dan, tetep ganteng. Ups.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Aku masih menatapnya. Menatap fotonya yang tersenyum padaku. Bukan, lebih tepatnya pada semua orang yang menatapnya.

Tiga menit. Empat menit. Lima menit. Seakan tersadar dengan kondisi laluku, aku mengerjap-ngerjapkan mataku cepat. Secepat aku menekan tanda silang di ujung lamannya. Cinta monyet. Cinta laluku yang tak selayaknya datang. Seperti cinta pertamaku yang seolah tak ingin lepas dariku. Mengakar kuat pada ingatanku. Dan, akhirnya sebuah pilihan kuambil. Menekan tanda silang. Bukan hanya untuk hari ini. Tapi juga selamanya.

Pengalaman mencintai tanpa respon membuatku terduduk cepat dari mimpi yang tak lagi pernah indah. Seolah tersadar dengan kenyataan yang ada. Berlalu lalu beralih pada yang lain sesegera mungkin. Cara satu-satu yang bisa menengadahkan pandanganku untuk dapat menatap langit jauh lebih tinggi. Lagi, sendiri.

Thursday, February 2, 2012

#FF you'd better choose me

Kekasihmu tak mencintai dirimu sepenuhnya
dia selalu meninggalkan dirimu sendiri

Aku mengatupkan bibirku rapat. Seksama mendengarkan cerita Reza yang mengalir lesu dari mulutnya. Hembusan napasnya berat dan tak teratur. Miris.

"Jadi gimana kelanjutannya?" tanyaku hati-hati. Mataku menatapnya takut-takut. Takut pertanyaanku makin mengganggu pikirannya.

Reza menarik napas pelan, terdengar tak mampu menghirup napas.

Sesakit itu hatimu, Za?

Wajahnya yang muram ditunjukkan padaku. Kepalanya menggeleng pelan. "Menurutmu harus gimana?" tanyanya balik.

Aku mengerjap. Eh? Kok nanya aku sih?

Lalu berdehem. "Kamu sayang dia?" tanyaku memancing jawaban yang sudah bisa dipastikan makin membuat nyeri ulu hatiku.

Satu. Dua. Tiga. Reza mengangguk mantap. Tuh kan benar! "Banget malah, Ra. Bukannya kamu tau itu?" tanyanya makin dalam menusuk relung.

Mengapa kau mempertahankan cinta pedih menyakitkan
Kau masih saja membutuhkan dia, membutuhkan dia

Aku memutar-mutar bola mataku, kebiasaan jika sedang gugup luar biasa. Gugup dengan apa yang akan terlontar dari mulutku. "Aku gak tau itu, Za." jawabku berbohong. Tentu saja aku tau itu! Sangat tau bahkan. Tapi, apa bisa aku setega itu dengan perasaanku sendiri?

Reza tampak terkejut dengan jawabanku. Kepalanya diputar ke samping hingga dapat melihatku dengan jelas. Alisnya dinaikkan beberapa inch. "Bagaimana bisa? Bukankah kau tau semua ceritaku dan Tiwi?" tanyanya tak percaya.

Itu karena... Aku menelan ludahku dengan berat. Semacam ada ganjalan luar biasa menyakitkan untuk mengakuinya. "Aku lupa. Maaf." sahutku akhirnya setelah mencoba menguasai diri.
Aku tau itu tidak akan mengakhiri semua tanya yang ada dalam pikiranku. Semua tanya yang tak terjawab olehmu, Za.

Reza menatapku heran, lalu mengangguk maklum. "Oh, maaf. Mungkin terlalu seringnya aku bercerita tentang aku dan Tiwi membuatmu lupa segala detail ceritanya." ujarnya mengambil kesimpulannya sendiri.

Gak begitu, Za. Aku hapal betul semua cerita tentangmu dan Tiwi. Tapi terlalu sakit kalau aku mengatakannya.

"Maaf, Za." kataku setengah berbisik.

Reza mengangguk. "No problemo. Aku hanya masih gak terima aja diputusin hanya karena jarak. Bayangin deh, Ra, hanya karena jarak. JARAK!!" Reza berteriak mengucap kata jarak. Ada emosi terselip di dalam kalimatnya. Aku tau itu.

Aku menyentuh pundaknya, menenangkan. "Dinginkan kepalamu, Za." sahutku seraya melempar senyum. Senyum pahit berbalut ketenangan. Mungkin aku bisa menjadi pecundang sejati untuk masalah hati saat ini, "ada sebagian orang yang tak bisa bertahan dengan jarak, Za. Kamu harus tau itu. Dan, paham akan hal itu. Salah satunya adalah Tiwi. Dia kalah dengan komitmen yang sudah kalian bangun sejak awal. Dia kalah oleh jarak." aku menerangkan Reza akan teoriku. Teori. "dan kamu, berbanggalah pada dirimu sendiri. Kamu mampu menjaga komitmen itu. Sendiri. Bukankah itu artinya predikat setia layak disematkan atasmu?" tanyaku menenangkan hatinya. Dan, hatiku tentunya.

Reza menatapku lama. Lamat-lamat dan lama. Seolah meneropong apa yang ada di balik bola mata hitamku. Kebohongan. Kebohongan akan suatu ketenangan.

"Kenapa?"

"Thanks for being my best friend I ever had!" ucapnya seraya tersenyum tulus. Tulus tanpa beban.

Aku mengangguk. Lemah. Dan, tersenyum pahit.

Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu