Thursday, March 22, 2012

#opini tentang teman...

Teman-temanmu adalah cerminan dari dirimu.


Ingat pada kutipan populer di atas, saya seketika berkaca. Sudah benarkah saya bergaul selama ini? Sudah benarkah saya memilih teman duduk yang nantinya akan membawa saya pada hal-hal kebajikan?

Berkaca. Tampaknya saya belum meraih tingkatan itu. Tak hanya dalam memilih teman duduk, menjadi teman yang baik pun saya belum bisa.

Belajar pada peristiwa hari ini, sungguh membuat saya malu. Karena menyangkut dengan teman saya dan tentunya juga saya. Dia adalah cerminanku. Sekotor apa pun mulutnya, dia adalah bayanganku dimana aku juga seperti dia (secara gak langsung dan otomatis). Jika ucapannya menorehkan luka di hati banyak orang, berarti seperti itulah aku. Sekotor itulah mulutku. Semenyakitkan itulah kata-kata yang biasa terlontar dari mulutku.

Rabby...
Betapa susah memperbaiki kesalahan diri sendiri. Betapa sulit berlaku baik seperti yang Kau ajarkan. Bagaimana mungkin hamba bisa menegur dan mengingatkan orang lain?
Gusti...
Ini adalah jalan-Mu yang Kau berikan setelah keputusan masak-masak itu hamba buat. Beralih meninggalkan prosentase keburukan yang lebih banyak daripada kebaikannya. Salah satunya adalah teman duduk.
Hamba menghindarinya, merasa diri semakin jauh dan lacur dari jangkauan-Mu.
Allah...
Tuntun aku pada jalan-Mu. Dekatkan aku pada kebaikan. Betapa sulitnya kebaikan itu dicapai jika tanpa ridho-Mu.
Ridhoi hamba, Allah...
Perkenankan hamba duduk bersama teman duduk yang membawa hamba pada kebajikan...

Seperti pada sebuah kutipan, "tinggalkan teman duduk yang membawamu pada suatu hal bernama keburukan."

Saturday, March 3, 2012

#opini Menulis Itu...




... terapi jiwa.
Seringkali kita mendengar bahwa dengan menulis kita bisa menumpahkan segala unek-unek yang ada di kepala. Yep, itu benar sekali. Tapi, tahukah kalian bahwa ada sebagian dari unek-unek itu yang kadang susah sekali kita tumpahkan dalam bentuk tulisan? Sama seperti sebuah kisah yang gak semuanya bisa kita umbar ke banyak orang. Acap kalinya kita berpikir berulang kali untuk menyaring kalimat-kalimat yang tak selayaknya kita ucapkan. Sama persis dengan sebuah tulisan.

Berbicara tentang tulis menulis, bagi saya menulis adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Bayangkan saja, menulis jawaban ujian jika tidak dengan konsentrasi yang tinggi apa jadinya? *ya iyalah :p*
Yep, pernah saya mencoba menulis di tengah keramaian, hasilnya memang ada, tapi terpecah-belah meskipun sudah berusaha untuk memusatkan pikiran pada satu titik. Betul, masing-masing orang berbeda-beda bagaimana dirinya memusatkan pikiran pada satu titik, tapi buat saya, keramaian adalah perusak konsentrasi nomer dua di dunia setelah perintah bos *ketahuan di kantor sering curi-curi waktu nulis :))*

Masih berbicara mengenai tulis menulis, selain menulis adalah sebagai pekerjaan yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi, bagi saya, menulis adalah kebutuhan. Yep, saya menyebutnya kewajiban. Bukan sesumbar, tapi saya memang mewajibkan diri saya sendiri untuk menulis setiap hari. Selain menambah kosa kata setiap harinya, juga melatih bagaimana saya berbahasa dengan orang lain, dan melatih kepiawaian diri dalam merangkai kata *yang terakhir kok jadi semacam pujangga ya? :p*

Mewajibkan diri dalam menulis setiap hari, meskipun hanya satu kalimat, terbukti melatih saya untuk terus mengeksplorasi apa-apa saja yang ada dalam diri saya. Adalah otodidak yang pada akhirnya mengantarkan saya untuk menerbitkan sebuah buku antologi yang berjudul Lollypop Love dan mendapatkan banyak komentar, baik berupa pujian, saran, maupun cercaan.

Sebenarnya, apa sih tujuan saya menulis?

Jelas, saya ingin mengeksplorasi buah dari hayalan-hayalan saya setiap harinya. Saya tidak ingin membiarkannya menguap begitu saja. Saya ingin hayalan saya terbingkai indah pada satu wadah bernama buku.

Bagaimana dengan materi?

Jujur, pikiran awal saya adalah berorientasi pada materi. Tapi, setelah saya mengenal kata lebih jauh dan dalam, pikiran yang berorientasi pada materi itu seketika musnah. Yang saya tahu, mempunyai sebuah karya, terlebih itu buku, kepuasannya jauh menandingi apapun di dunia ini *so far sih :p* termasuk keinginan untuk mempunyai pacar atau menikah dalam waktu dekat :). Yep, beberapa orang mengatakan itu mustahil dan hanya menyenangkan diri sendiri, tapi, coba rasakan, kepuasan itu ada di dasar hati.

Lalu, pujian, saran, dan cercaan?

Beberapa jam yang lalu saya mendapatkan twit dari seseorang yang mengatakan bahwa buku saya tak lebih dari sekedar sampah dan layak untuk dibakar. Sedangkan partner saya adalah hasil dari saya yang salah pilihan. Dan, dia juga mengatakan bahwa saya adalah orang yang sok. Jelas, seketika meruntuhkan mood saya di pagi hari. Bayangkan, jam 5 pagi saya membaca kalimat tersebut. Mau marah iya, mau nangis iya, tapi buat apa?
Saya ingat ada pepatah:

Karena nila setitik rusak susu sebelanga
Saya mencoba meredamkan diri, menghibur diri. Wajar jika pada satu hal ada seseorang yang tidak menyukai hal tersebut. Tidak pernah ada di dunia ini semua orang atau semua sample yang menyatakan menyukai atau setuju pada satu hal, pasti terdapat beda. Sesuai selera.
Jujur, kalimatnya pedas, tapi saya bersyukur mendapat kalimat itu. Karena kalimat tersebut merupakan kalimat cambukan bagi saya agar bisa terus berkarya tanpa henti. Nanti, saya ingin buktikan kepadanya bahwa buku saya tidak selayaknya mendapat julukan sampah. Nanti, jika masa itu tiba. Terima kasih :)