Sunday, October 28, 2012

Nostalgia: Kue Putu

Ada yang tahu kue Putu? Jajanan tradisional yang memikat pecinta kuliner dengan warna yang aduhai indahnya, hijau! :p

Terbuat dari tepung beras dan ketan yang digiling bersama, adonan ini lantas dimasukkan ke dalam bilik bambu yang sudah dipotong-potong--dimampatkan. Jika sudah terisi separuh, gula merah yang digiling dimasukkan lalu ditutup kembali dengan adonan kue. Sekilas, tak ada yang istimewa. Tapi, begitu bilik-bilik bambu dikukus di atas kotak biskuit berisi air (yang telah dilubangi di beberapa tempat), baru terlihat istimewa dan khas.

Istimewanya sederhana saja. Ketika bilik bambu tersebut ditumpuk di atas kotak berisi air mendidih, bunyi khas pun keluar, uwuwuwuwu (kira-kira demikian :p). Bunyi inilah yang menjadi khas bagi penjaja kue tradisional yang biasa menjajakan jajanannya dengan gerobak dorong atau panggul.

Biasa disajikan dengan kelapa parut, perbuahnya Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 500. Rasa enak, empuk dengan lelehan gula merah, membuat kue Putu ini banyak diminati. Untuk kemasan, seperti kue tradisional lainnya, kue Putu juga dibungkus dengan menggunakan kertas. Berikut dokumentasi kue Putu yang mulai jarang ditemukan.




Friday, October 26, 2012

Nostalgia: Serabi Petulo

Di antara warga Jawa Timur (Surabaya) pasti banyak yang tahu jenis minuman ini. Namanya, Serabi Petulo. Minuman yang terdiri dari serabi, petulo (adonan tepung yang dibentuk mirip mi), ketan, dan disiram santan hangat ini memang menggugah selera. Bagaimana tidak? Minuman ini memang legendaris dengan cita rasa gurih dan manis ditawarkan. Biasa dijajakan dengan gerobak dorong, jajanan ini sudah mulai jarang ditemukan.

Dulu, zaman saya kecil, perjenis komponen ini dijual Rp 250. Kini, serabi, petulo, dan ketan manis ini dijual perpiecenya Rp 1.000 dan masih dijajakan dengan gerobak, meski ada beberapa yang lebih memilih membuka tempat (kalau yang ini saya dapat dari google, ada di daerah Sidoarjo).

Sebagai jajanan hangat yang mulai jarang ditemukan keberadaannya, Serabi Petulo cocok disantap saat malam atau cuaca dingin. Namun, karena di dekat rumah ada yang membuat langsung, siang panas pun mereka berjualan. Berikut penampakan Serabi Petulo yang mulai langka.




Thursday, October 25, 2012

Opini: Jungkir Balik Dunia Anak

Meski belum memiliki anak, saya boleh, ya, sedikit beropini mengenai dunia anak-anak zaman sekarang yang cukup membuat saya was-was. Mengapa demikian? Karena saya memiliki adik bungsu yang sehari-harinya banyak menghabiskan waktu dengan saya. Namanya Tita, usianya 7 tahun.

Kehadiran Tita ini memang memiliki kegembiraan tersendiri bagi keluarga kami yang kelimanya sudah berumur. Keceriaan, kecerewetan, celotehan, dan tingkah-tingkah ajaib Tita jujur saja membuat kami bangga. Dia bocah yang cerdas dan pintar--bagi kami. Kemampuan menyerap kejadian sekitar bisa dengan cepat dia pahami.

Sayangnya, berkembangnya kemampuan itu membuat kami--khususnya saya-- semakin khawatir. Bagaimana tidak? Seharinya Tita banyak mencontoh hal-hal aneh dari televisi. Semisal, menirukan lagu sekaligus gaya anak-anak yang menyanyikan lagu yang tidak sesuai umurnya. Lucu? Tidak. Dulu zaman saya kecil usia anak-anak diberi lagu yang sesuai dengan umurnya. Tema lagunya pun beragam. Entah tentang dunia anak, pendidikan, dan keluarga. Semuanya dikemas cocok sesuai umur anak-anak. Tidak seperti zaman sekarang.

Lain lagu, lain acara televisi. Dibesarkan di bawah bayang-bayang simbak membuat Tita kerap dipertontonkan acara televisi sejak usia dua tahun. Sering--bahkan setiap hari-- sepulang sekolah (Tita sekolah sejak usia dua tahun dan itu setiap hari; memanfaatkan fasilitas PAUD milik keluarga, maklum) dia dicekoki acara televisi apa saja asal diam dan tidak merecoki simbak yang tengah bekerja. Sebuah kesalahan besar seharusnya diketahui bahwa usia rawan balita sebaiknya jangan dipertontonkan acara televisi. Alasannya;

1. Mereka belum paham komunikasi satu arah. Sehingga menyebabkan anak akan mencerna sendiri bahasa yang didapat lalu mengaplikasikannya pada saat melakukan komunikasi dua arah dengan keluarga atau temannya. Contoh: ekspresi marah dan umpatannya.

2. Bahasa yang dibawa oleh gambar bergerak susah dipahami. Sehingga memaksa kemampuan otak anak untuk terus mengikuti apa yang terpapar di hadapannya hingga dia benar-benar paham sendiri.

3. Permainan gambar bergerak di televisi sama halnya melatih otot mata anak untuk terbiasa melihat tontonan dari layar--yang tentu saja mempercepat kerusakan mata anak.

4. Dampak. Sadarkah kita bahwa televisi memiliki dampak buruk yang sangat besar bagi anak-anak? Kecenderungan balita adalah melihat, merekam, dan mempraktekkan (meniru) apa saja yang telah dia lihat. Bayangkan jika saat itu kondisi anak bersama dengan simbak dan ada adegan iklan yang mempertontonkan hal yang tak layak? Gambar bergerak semacam kartun saja sebaiknya dihindari, apalagi gambar iklan yang didominasi orang dewasa?

Ini sekadar opini. Apa yang menjadi alasan tersebut semata-mata karena terjadi pada adik saya, Tita. Tita memang tumbuh luar biasa dibanding teman seusianya--setidaknya itu menurut pantauan kami-- tapi dia juga tumbuh di luar kendali.

Dia hobi menirukan apa yang dilihatnya di televisi. Mulai menyanyi lagu bukan untuk anak-anak, menirukan kalimat iklan, bahkan mengucapkan dialog orang dewasa. Miapah? Ciyus, ini mengancam keberadaan kami, para dewasa. Apa-apa yang seharusnya dijelaskan nanti, otomatis memaksa kami memutar otak agar pertanyaannya tetap terjawab tapi di koridor anak-anak. Seperti tentang kenapa wanita berdarah dan harus memakai pampers (menstruasi)? Selain itu, dampak psikis yang diberikan televisi menular ke dia. Haaah, enelan, stres! :/

Nggak perlu panjang lebar, singkatnya begini saja. Usia balita adalah usia tumbuh kembang anak yang optimum. Mereka selaluuuu meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. Memperbanyak kosa kata anak dengan metode bercerita bisa menjadi bahan pembelajaran utama di sisi mengajak anak untuk selalu berkomunikasi dua arah. Ini pengalaman kami juga. Jika Tita biasa dicekoki acara televisi nggak bermutu sejak usia dua tahun saat rumah dalam kondisi sepi, maka saat keluarga ada di rumah, kemampuan verbalnya diasah. Bercerita, dongeng, dan mengajaknya bicara panjang lebar membuat anak merasa dihargai. Terlebih jika dilibatkan dalam pembicaraan keluarga sesuai porsinya. Misal, menanyakan pilihan menu makanan. Dia mau tempe atau tahu. Meski terkesan memilih-milihkan makanan, hal tersebut membuat anak merasa memiliki pendapat yang juga didengar oleh keluarganya. Membatasi--atau bahkan melarang--anak untuk menonton tayangan televisi juga merupakan metode yang berpengaruh besar pada tumbuh kembangnya. Ajak anak diskusi, bermain, dan belajar sesuai umur. Jika mereka bosan, hentikan sementara. Anak menyerap cepat apa yang diajarkan, jangan didoktrin atau dipush terlalu dalam, bisa-bisa dia stres.

Jadi, nggak ingin anak atau adik Anda demikian? Yuk, dicoba membiasakan meminimalisir keberadaan televisi di tengah keluarga. Hasil positif akan membuat bangga keluarga tentunya. Cmiiw :D

Tuesday, October 23, 2012

Kuliner: Bubur Ayam Jakarta

Bubur ayam! Siapa yang belum pernah mencoba makanan ini? Kalau belum, saya ada referensi tempat makan bubur ayam enak yang harus Anda kunjungi jika tengah singgah di Surabaya.

Terletak di jalan Raya Manyar 83, depot Bubur Ayam Jakarta ini mulai ada sejak tahun 1998.

Sekilas, dari rupa, bubur ayam ini tak ada bedanya dengan bubur ayam yang lain. Tapi, dari rasa, jangan salah. Disajikan dengan taburan ayam suwir, cakue goreng Ambengan, daun seledri, bawang goreng, dan sawi asin, bubur ayam ini rasanya selangit karena adanya percampuran asin dan gurih dari toping dan bubur. Buburnya sendiri juga tidak terlalu lembek dan kental yang rupanya karena inilah banyak penggemarnya. Belum lagi ditambah kerupuk dan emping sebagai pelengkap yang tentu saja akan membuat suasana makan Anda semakin meriah, kriuk kriuk kriuk.

Bersisian dengan Soto Ayam Pak Djayus, depot Bubur Ayam Jakarta ini buka setiap hari mulai pukul 6-12 dan 17-22. Untuk harga, Anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Hanya Rp 10.000 untuk seporsi bubur dan Rp 7.000 untuk setengah porsi, Anda sudah bisa menikmati bubur ayam lezat ini. Tertarik? Berikut ini penampakan dari ponsel saya.


Trip: Masjid Syaikhona Kholil

Dari Lapangan Kerapan Sapi RBH. Moh. Noer, kami beranjak ke toko oleh-oleh Nusa Indah untuk membeli, yaah, oleh-oleh, apalagi? :p
Nah, berhubung bayang-bayang benda sudah tergelincir dari benda itu sendiri, maka dari Nusa Indah kami lantas salat zuhur ke salah satu masjid yang masuk dalam kategori 100 masjid indah di Indonesia. Nama masjidnya, Masjid Syaikhona Kholil.
Mendengar nama masjid tersebut, mungkin sebagian besar dari kita tahu siapa di balik nama tersebut. Yes, beliau adalah KH. Muhammad Kholil yang tersohor lebih dari seratus tahun lalu. Beliau adalah ulama yang penuh kharisma dan merupakan guru dari kiai-kiai besar di Pulau Jawa, salah satu muridnya adalah kakek dari mantan Presiden Gus Dur sekaligus pendiri ormas Nahdhatul Ulama, KH. Hasyim Asyari.
Selama hidupnya, kiai Kholil (begitu nama beliau akrab disebut) banyak mengamalkan ajaran-ajaran Islam dan merupakan salah satu wali Allah (penentuan wali tidaknya seseorang biasanya yang 'setara' yang lebih tahu ditandai dengan bermacam ciri, wallahu a'lam).
Meninggal pada tahun 1925, makam kiai Kholil terletak di Desa Martajesa, Kel. Demangan Kab. Bangkalan, Madura. Seiring tahun, masjid Syaikhona Kholil ini dibangun dan diperbaiki kembali pada tahun 2006 untuk menampung kapasitas jamaah dan peziarah yang lebih banyak, yakni sekitar 6.000 jamaah (berbagai sumber).
Dibangun dengan arsitektur megah, masjid ini tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan yang ingin berziarah ke makam kiai Kholil yang terletak di dekat masjid. Untuk melengkapi kebutuhan peziarah, tepat di depan masjid terdapat pertokoan yang dibangun dengan gaya Timur Tengah, lengkap dengan pohon palem yang semakin memperkuat khas daerah gurun pasir.
Berikut ini penampakan Masjid Syaikhona Kholil dari kamera ponsel Nuri dan ponsel saya.




Trip: Festival Kerapan Sapi 2012

Apa yang Anda ketahui tentang kerapan (karapan) sapi (Bull Race)? Balapan sapi? Perlombaan antar sapi? Betul.
Diselenggarakan pada (21/10) kerapan sapi tahun ini digelar di Lapangan Kerapan Sapi RBH. Moh. Noer, Bangkalan yang dibuka oleh Tari Kerapan Sapi dan sambutan Wakil Gubernur Jawa Timur, Gus Ipul, serta Bupati Madura.
Bersama dengan plurker Surabaya-Madura, saya menyaksikan Festival Kerapan Sapi yang memperebutkan Piala Presiden tahun 2012. Festival ini diselenggarakan rutin pertahun setiap bulan Oktober di Pamekasan bersamaan dengan pagelaran seni dan pentas sapi model (sapi sonok) sehari sebelum kerapan sapi digelar; biasa disebut semalam di Madura.
Hanya saja tahun ini tidak sama. Paket pagelaran seni, kontes sapi cantik, dan kerapan sapi diadakan di tempat yang berbeda, yakni pagelaran seni dan sapi sonok di Sampang dan kerapan sapi di Bangkalan. Selain tempat yang berbeda, Gubernur Jawa Timur (Pakde Karwo) juga memberikan peraturan baru bagi penyelenggaraan festival.
Jika tahun-tahun sebelumnya kerapan sapi diadakan dengan menggunakan papan berpaku, bercemeti, dan pecut yang dipukulkan pada pantat sapi (percaya bahwa hal ini membuat pantat sapi berdarah-darah :() agar sapi bisa berlari kencang, maka tahun ini tidak lagi. Peraturan yang diturunkan oleh Gubernur melarang adanya kekerasan pada hewan (dalam hal ini kerapan sapi). Akibatnya, festival kerapan sapi tahun ini digelar tanpa alat pemicu lari apapun, kecuali ekor yang ditarik sesuai pantauan saya (sama aja sih :/).
Sebelum bertanding, peserta (sapi) diarak ke arah tenda-tenda dengan musik-musik yang berbeda antar satu grup dengan grup yang lain. Setelahnya, sapi dan pengiring (penari) berdiri di dekat tenda--sapi dipajang, penari menari, disawer.
Bentuk dari kerapan sapi ini yakni dua sapi yang disatukan dengan bambu dan dilengkapi dengan joki yang biasanya adalah anak-anak seusia SD. Lalu sepasang sapi ini diuji kecepatan berlarinya dengan sepasang sapi yang lain. Menurut catatan, kecepatan lari sapi tak lebih dari 9 detik untuk jarak tempuh +/- 140 meter (kalau nggak salah dengar, ya). Catatan kecepatan lari sapi ini berani diadu dengan pelari tercepat Sea Games yang mencetak angka 9,45 detik. Sapi banding manusia! :))
Saat pertandingan berlangsung, jangan pikir bahwa sapi-sapi ini mudah diatur. Buktinya, beberapa kontestan bahkan mogok, nggak mau bertanding, yang membuat hanya satu kontestan saja yang mau lari :)). Bisa dibayangkan betapa susahnya mengatur hewan. Analoginya, kalau hewan yang tanpa akal susah diatur, kenapa kadang manusia demikian? :))
Berikut ini beberapa dokumentasi dari kamera poket milik Roni dan ponsel saya.




Monday, October 22, 2012

Kuliner: Kurma Salak

Berawal dari banyaknya buah salak yang membusuk karena over produced, seorang wanita berinisiatif untuk memanfaatkannya.

Ide itu sederhana saja. Hanya ingin memanfaatkan produksi buah salak yang berlebih dan biasa membusuk begitu saja (berkaitan dengan hukum ekonomi dan kesetimbangan alam), Sania --wanita itu-- mulai membuat dodol salak dengan memberdayakan petani salak di dekat rumahnya, Morkolak, Kramat, Bangkalan. Sayangnya, produksi dodol salak tak semulus dugaanya. Hasil penjualan yang dinilai masih terlalu rendah membuat Sania memutar otak untuk dapat menghasilkan bentuk lain yang bisa memanfaatkan salak.

Akhirnya, tercetuslah ide pembuatan Kurma Salak. Cara pembuatan Kurma Salak ini cenderung mudah, yakni dengan merebus salak yang telah dikupas sekaligus bijinya, ditambahkan gula, lalu dioven. Sehingga jangan heran jika saat mencicipinya ditemukan biji di dalamnya (kalau saya, awal mengkonsumsi heran betul :p). Tanpa disangka, produksi Kurma Salak banyak diminati meski belum meluas betul. Meski begitu, Kurma Salak sudah dinobatkan sebagai jajanan khas Bangkalan, Madura.

Biasanya, Kurma Salak dikemas dalam bentuk kotak dan dibanderol seharga Rp 12.500 (perharga pusat oleh-oleh Nusa Indah jalan KH. Moh. Kholil 105, Bangkalan). Kini, tak hanya Kurma Salak, Sania juga menciptakan Kismis Salak dan Sirup Salak. Berikut potret Kurma Salak dan Keripik Singkong khas Madura (bercita rasa asin dan gurih) hasil jepretan ponsel. Untuk bentuk rupa kemasan, saya lupa memotret dan baru ingat ketika kemasan sudah dibuang (malah curcol :p).

(berbagai sumber)


Sunday, October 21, 2012

Kuliner: Nasi Serpang

Ada yang tahu nama makanan pada judul tersebut berasal dari daerah mana?

Nasi yang disajikan dengan banyaaak ragam lauk ini ternyata dikenal enak oleh mayoritas masyarakatnya. Of course, you should try this! Namanya Nasi Serpang.

Berasal dari desa Serpang, Arosbaya, Bangkalan, Madura (daerah utara Bangkalan), Nasi Serpang banyak diburu oleh pecinta kuliner jika tengah berkunjung ke Pulau Garam ini. Merupakan makanan khas Madura, Nasi Serpang biasa dijajakan pagi hari di emperan depan gerai toko. Bermodalkan kursi mungil, terpal untuk atap, para penjaja Nasi Serpang ini menggelar dagangannya.

Sekilas, tak ada bedanya Nasi Serpang dengan Nasi Campur. Tapi, ketika Anda membuka, mencari, lalu menyantap hidangan ini, bisa dipastikan tahu letak perbedaannya. Berisi banyak lauk, mulanya saya berpikir bahwa Nasi Serpang adalah makanan dengan nasi sebagai lauknya. Bagaimana tidak? Komposisi lauk jauh lebih banyak dibandingkan dengan nasi.

Biasa dijajakan pagi sebagai menu sarapan, lauk Nasi Serpang meliputi seiris telur asin, sayur krecek (lodeh dengan kulit sapi dan tahu), kerang, mi bihun bumbu kecap, daging, keripik paru, pepes ikan tongkol, udang, rempeyek udang dan telur, kelapa sangrai, dan sambal. Biasanya, Nasi Serpang disajikan dengan pincuk dari kertas minyak dan daun pisang. Perporsinya dijual Rp 10.000 (versi teman saya, harga ini termahal). Untuk lokasi, Nasi Serpang banyak ditemukan di Bangkalan. Hanya, saat itu saya dan teman membeli di depan mini market Busana Indah, jalan Trunojoyo 18. Ingin tahu bagaimana penampakan Nasi Serpang? Berikut wajah dari Nasi Serpang yang saya ambil dengan kamera ponsel.


Nostalgia: Kue Rangin

Percaya bahwa jajanan yang banyak dikenal dengan ragam nama ini mulai jarang ditemukan?

Seharusnya Anda percaya. Karena kue yang di Surabaya disebut dengan Rangin, di Bandung Bendros, di Jakarta Pancong, dan di beberapa tempat disebut Gandos ini memang mulai jarang ditemukan. Kue yang terbuat dari tepung ketan, santan, kelapa parut, gula, dan garam ini cukup melegenda. Hanya saja, pengaruh modernisasi mampu membuat kue enak dan gurih ini perlahan mulai tersingkir. Para penggemarnya pun mau tak mau harus rela meluangkan waktu untuk mencarijika tengah merindu jajanan masa kecil yang biasa disajikan langsung dari loyang ini.

Untuk loyang, Rangin (demikian saya menyebutnya sesuai asal) biasa dicetak dalam mini loyang serupa cetakan Pukis. Hanya, jika Pukis disajikan persatuan, Rangin biasa disajikan bergandengan--bersisian (?) satu sama lain. Setelah matang, Anda akan dipersilakan memilih antara rasa gurih--tanpa gula atau manis yang biasa ditaburi gula di atasnya. Karena merupakan jajanan tradisional, kemasan kue Rangin ini pun juga masih konservatif, yakni dengan menggunakan kertas.

Umumnya, penjual Rangin ini biasa memikul dagangan, mayoritas (atau bahkan seluruh penjualnya?) adalah laki-laki paruh baya, dan berjalan berkeliling sambil meneriakkan nama kuenya. Meski tidak seluruhnya demikian, karena ada penjual yang juga menjajakakan dagangannya menggunakan gerobak. Perporsi, harga yang ditawarkan cukup beragam karena bergantung pada pesanan. Di sekitar rumah, saya menemukan perslice seharga Rp 250 dengan cetakan agak besar. Sedangkan pada penjual yang lain (menggunakan gerobak) Rp 200 dengan cetakan yang jauh lebih mini dan tipis.

Tertarik untuk membelinya? Saran saya, coba datang ke Taman Bungkul atau Tugu Pahlawan saat Minggu pagi, di sana banyak penjual Rangin yang bisa dengan mudah ditemukan. Untuk penampakan, berikut kue Rangin jepretan saya.


Monday, October 15, 2012

Abstraksi

Pagi ini aku bertemu dengannya, kekasih yang telah kupacari sejak satu tahun lalu. Sebagai kekasihku, dia teramat sangat perhatian. Setiap saat datang menjemputku, mengajakku makan, dan bersenang-senang. Meski usia pacaran kami baru berumur satu tahun, hubungan kami keren sekali. Bahkan, sekitarku yang melihat saat kami tengah berpacaran pun sering berbisik-bisik dengan pandangan... Ehm, iri.

Aku bersyukur sekali kau tahu? Memiliki pacar yang begitu perhatian hingga membuat banyak orang iri. Apalagi saat aku tengah tersenyum-senyum dengan pandangan penuh cinta pada pacarku. Mereka, orang-orang yang melihatku-kami, pasti langsung berbisik-bisik, melempar pandangan iri, dan... Sst apalagi? Tindakan iri juga mereka lakukan. Salah satunya adalah seperti saat ini.

Orang-orang itu memandangku, saling berbisik, lalu terakhir kudengar mereka bahkan menghinaku. Rasanya, saat aku mendengarnya, ingin kutampar wajah mereka satu persatu. Tapi kata pacarku sebaiknya jangan. Karena mereka hanya iri dengan romantisme kami.

Yang kuingat--paling kuingat, ada satu kalimat hinaan atau iri yang ditujukan padaku--kami. Kalimat itu dilontarkan oleh seorang bapak-bapak berpakaian hijau berkacamata. Dia datang bersama dua orang lainnya. Satu kukenali, satu lagi aku tak tahu. Saat itu, bapak-bapak itu berkata. "Tingkat gangguannya cukup kronis. Tapi, jika tidak sampai melukai dirinya sendiri dan mengasingkan diri, maka belum cukup mengkhawatirkan sehingga disebut schizophrenia. Jadi biarkan dia bermain-main dengan gulingnya."

Hahaha, guling? Bodoh. Ini pacarku, bukan guling. Dasar sinting, bahkan saking tak sukanya dia dengan pacarku, dia sampai menghina pacarku seperti guling. Dasar gila.

Sunday, October 14, 2012

My Nulisbuku Story

Awal denger nama satu penerbit indie adalah Nulisbuku. Itu pun tahu karena nggak sengaja. Apa sih indie? Apa itu Nulisbuku? Usut punya usut, aku yang tahu dunia menulis sejak usia Sekolah Dasar, tetapi belum pernah sekali pun menerbitkan karya lantas memutuskan untuk membuat buku. Kebetulan aku memasang target mempunyai buku di tahun 2011. Akhir November, keinginan itu kembali menggebu. Satu judul buku yang dari jauh-jauh hari terlintas adalah "Lollypop Love". Bayangan mempunyai buku semakin kuat. Saat itu juga, terlintas untuk membuat satu buku kumpulan cerpen, tapi waktunya hanya sebulan. Jika dihitung dari masa kerja Nulisbuku untuk live butuh waktu sepuluh hari, belum lobi-lobi masalah cover, belum ceritanya kelar semua. Errr... Yang jelas, kacrut abis.

Akhirnya, karena cukup sering memantau TL (waktu itu ya, sekarang sih nggak begitu :p) aku menemukan satu akun yang mempunyai resolusi menerbitkan buku di tahun 2011 yang belum tercapai. Namanya @pusbangsawan aka Anin. Dengan semangat empat-lima, aku pun lantas mention Anin, menawarkan gagasan impulsif. Untungnya, Anin mau dan bersedia. Deadline pengumpulan cerpen untuk disatukan pun dibuat, lobi-lobi cover beres. Daaaann, saat DL tiba, Anin bilang kalau dia cuma bisa bikin lima cerpen. Pusing, puyeng, secara bulan Desember bentar lagi kelar. Akhirnya, kuputuskan aja total cerpen hanya sebelas, demi bisa terbit tahun 2011, demi reolusi. Ya udah, kirim naskah. Di sini, setelah isi macam-macam di form nulisbuku ternyata masih ada aja kendalanya. Apa itu? Naskahnya nggak bisa diupload! *dueng* dicoba-coba berkali-kali tetap aja nggak bisa. Hampir putus asa, akhinya kukirim saja naskahku via surel setelah mention kalau naskah nggak.bisa upload. Dan, harap-harap cemas menjelang akhir tahun, tepat tanggal 31 Desember 2011 buku bukti terbit Lollypop Love sampai dengan selamat sentosa di rumah! Buku pertama tcyiiiinn, resolusi tercapai dong! Rasanya kayak jumpalitan hati ini :))

Terus, apakah perjalanan menerbitkan buku secara indie ini berhenti di sini saja? Tentu saja enggak. Justru dengan menerbitkan buku secara indie memberiku stimulus agar terus menulis. Percaya nggak, aku jadi ketagihan nulis sebanyak-banyaknya. Terbukti dua bulan kemudian aku menerbitkan buku via Nulisbuku lagi, Bitter Sweet Love, isinya kumpulan flash fiction. Dan sekarang, sudah ada naskah siap sejak bulan lalu, tapi tertunda gegara nunggu covernya :)). Buku ketiga ini, yang lagi nunggu covernya ini, nantinya juga mau diterbitin via Nulisbuku lagi (gyay). Judulnya masih rahasia yaa, yang jelas, Nulisbuku itu nyandu beneeer. Melatih tingkat pede dalam nulis, loh :D. Nggak percaya? Coba aja. Terlebih bagi penulis amatir semacam aku, pasti pengennya jadi pengen nulis terus :D. Ini dua bukuku yang terbit via Nulisbuku :D.

Review Lollypop Love:
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh.

Review Bitter Sweet Love:
Satu dan dua.



Salah Asuhan

Tara mendesah, wanita di depannya terlalu rapuh untuk ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Tapi, jika ia memaksa untuk terus bersamanya, dirinya-lah yang belum siap menanggung akibatnya.
"Tapi, kenapa? Memangnya aku salah apa?" wanita itu bertanya, raut wajahnya tidak lepas sedetik pun dari biji mata hitam Rama.
Kepala Tara digelengkan pelan. "Aku nggak bisa, Sa. Nggak bisa sama kamu terus."
Sementara wanita yang dipanggil Sasa itu menangis, Tara berbalik langkah, berjalan menjauh. Meninggalkan  wanita yang dipacari selama tiga tahun itu.

Cinta kita tidak sesederhana yang kamu bayangkan, Sa.

Rintik hujan mengiringi kepergian Tara. Meninggalkan luka dalam bagi Sasa. Surat di genggamannya berulang kali dibaca, memastikan dirinya tidak salah membaca jalinan kata yang tertera.

Aku yang salah. Memberimu harapan di saat aku tengah berjuang dengan diriku sendiri.

Sasa kembali membaca bergantian antara kertas yang ada di genggaman dengan rangkain tulisan lain di depannya.

Kamu berhak bahagia tidak denganku. Sengaja aku menghindar saat aku tahu ia akan menghancurkan hidupku, juga kamu jika kita teruskan.

Dirgantara, 23 November 2009.

Anak Setan

"Ini bayaranmu malam ini. Saya suka sama kinerjamu," sambil berbicara, seorang laki-laki yang kupanggil Om Reno menyerahkan gaji yang layak kudapatkan malam itu.
Aku tersenyum menerimanya. "Makasih, Om,"

"Anak setan, ngeluyur kemana aja kamu? jam segini baru pulang," perempuan dengan jarik berantakan membawa penebah, siap memukulku seperti yang biasa dilakukan setiap harinya.
"Ini uang untuk makan besok, Bu," aku menyerahkan hasil kerjaku lalu berlalu menuju kamar cepat, tak peduli dengan makian ibu.
Suara penebah digebras-gebras ke dinding reot rumah kami. "Nyolong di mana lagi kamu, heh, Anak setan?"

Bodoh. Siapa peduli dengan umpatan dan makian wanita yang kupanggil ibu itu? Yang penting dia bisa makan setiap hari itu saja sudah cukup. Aku merentangkan badan di atas kasur sambil bersiul-siul di sela-sela asap rokok yang kuhembuskan. Sesekali ikut menyanyi mengikuti siulan, "Ini hidup..., bekerja mencari bekerja bertaruh seluruh jiwa raga, bibir senyum kata halus merayu memanja, kepada setiap mereka yg datang."

Saturday, October 13, 2012

Mawar Kering

Selamat sore, Sayang. Apa kabarmu?

Kau tahu, sudah berapa kali aku melemarkan pertanyaan serupa dan kamu tetap bergeming? Tapi aku tak lelah, apalagi patah semangat saat orang terdekatku bahkan menyuruhlu untuk menjauhimu.

Kau tahu, Sayang, mereka hanya tidak bisa menerima bakti dan cintaku padamu. Cinta sejati. Cinta sampai mati. Kau tahu itu, kan, Sayang? Dan sore ini aku pun masih sama, datang dengan sekuntum mawar kesukaanmu, berbalut senyum, datang menemuimu.

Kau sudah makan siang? Bagaimana rasanya, enak?

Lalu, pagi tadi, apa saja yang kamu lakukan? Bersama siapa? Senang?

Ah, Sayang, kau masih sama. Lihatlah, di sini aku menemuimu dengan cumbu rayu tapi kau tetap saja, bergeming, tak menggubrisku sama sekali. Meski ada rasa tercabik tak beraturan, pesanku, semoga kau bahagia selalu. Oh, iya, sekuntum mawar yang kubawa kini kuletakkan di sebelah mawar-mawar lalu. Tepat di atas pusaramu. Semoga kau senang juga tenang, Sayang.

#2


Farah tengah duduk di meja belajarnya dengan laptop yang menampilkan laman blognya, tempat dia memajang apa saja yang menjadi fokus usahanya. Di blog tersebut, banyak ditunjukkan hasil kreasi kue kering dan cup cake yang pernah dibuat, kreasi kain flannel yang baru beberapa gelintir hasilnya, juga kreasi pernak-pernik yang tidak sepenuhnya merupakan hasil buatannya. Biasanya, dia mengambil beberapa barang dari Pasar Grosir Surabaya, lalu dijual kembali dengan harga yang relative murah tapi tetap menguntungkan. Tapi, jika tengah longgar, tak jarang dia ikut merancang jalinan pernak-pernik untuk dibuat hiasan jilbab.
Tak hanya sibuk merancang template baru untuk blognya, sesekali dia juga membuka laman sosial media, sekadar posting, komen, lalu tertawa-tawa. Bisa ditebak, bahwa sebagai wirausaha meski masih menghasilkan untung minim, Farah sangat menikmati hidupnya. Bukan berarti karena dia masih mendapatkan jatah bulanan atau santunan dari orang tuanya, tapi sepanjang hari yang membuatnya senang dan bahagia adalah adanya dukungan dari orang-orang terdekat –meski kadang ibunya ikut menciutkan nyali– atas apa yang dia kerjakan sampai saat ini. Terlebih untuk Book a Book.
Oh, iya, selain sibuk dengan usaha kecil-kecilannya, Farah juga membuka bimbingan belajar bagi anak TK dan SD di perpustakaannya saat malam tiba. Biasanya, dia mengajar seminggu tiga kali, yakni setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Bukan tanpa alasan mengapa dia melakukan hal itu. Sederhana saja, dia hanya ingin meluangkan waktu dengan melakukan hal yang berguna semasa hidupnya. Persis dengan apa yang dilakukan Eko, inspirator yang membuat hatinya tergerak untuk membuka perpustakaan tak bebayar.
KedekatanFarah pada anak-anak ini memang sangat menguntungkan. Terlebih bagi Sabrina yang menjadi selalu merasa mempunyai banyak teman di manapun dia berada. Loyalitas Farah terhadap dunia anak-anak terbentuk sejak menunggu kehadiran Sabrina, lalu diaplikasikan saat dia sekolah, dan kembali didalami saat mempunyai perpustakaan sendiri. dia mencintai anak-anak, buku, juga apa saja yang berbentuk keindahan. Termasuk… laki-laki.
Farah menghentikan gerakan menggeser telunjuk di atas track pad saat mendengar ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari ibunya yang mengatakan bahwa belau membutuhkan kiriman pulsa yang biasa dibeli pada anaknya sendiri. Hitung-hitung pelaris, begitu kata ibunya selalu.
Tak sampai sepuluh detik Farah membaca sms dari ibunya, dia membalasnya dengan memasukkan deretan angka bercampur huruf di menu sms, melayani pesanan ibunya. Lalu menyusul sms pribadi yang akan membuat ibunya tersenyum gemas ingin mencubit pipi sulungnya.
Pulsa sudah dikirim, kanjeng putri.
Sambil tertawa kecil Farah meletakkan ponselnya kembali di sisi laptop. Dia selalu senang jika bisa menggoda ibunya hingga membuat ibunya bergegas memberikan pelototan tajam bonus cubitan gemas di pipinya.
Baru saja Farah meletakkan ponselnya dan beralih serius pada layar laptop, ponselnya kembali bordering, kali ini sebuah telepon masuk dari nomor tak dikenal. Tanpa pikir panjang, Farah pun langsung mengangkatnya, berharap dari pelanggan online shop yang akan memesan produknya.
Suara di seberang terdengar renyah saat Farah menekan tombol hijau, lalu menyapa dengan sapaan formal tapi santai seperti halo selamat malam. Saking renyahnya, Farah bahkan langsung mengulum senyum saat mendengarnya.
“Kita belum sempat bertukar nomor telepon, Farah,” suara itu milik Randy, laki-laki yang mengajak Farah makan siang sesaat setelah berkunjung ke perpustakaan yang dikelola.
Di sisi lini kabel yang tidak Randy tahu bagaimana raut wajah si penerima telepon, Farah menyunggingkan senyum dengan sebelah tangan menggaruk-garuk tengkuknya, tersenyum grogi bercampur malu-malu.
“Tapi, aku menyimpan kartu namamu,” Randy berdeham, suaranya agak aneh karena menyambi dengan melempar senyum.
Farah mengangguk kecil yang pasti gerakannya tidak bisa dilihat oleh lawan bicaranya. “Baguslah kalau begitu. Sekali datang dapat banyak informasi. Mulai dari nama lengkap, alamat rumah, juga nomor telepon,” ujarnya simpul. “Hanya saja ada satu yang belum kamu ketahui,” sambil menahan tawa, dia menggantungkan kalimatnya.
“Apa?”
Sebelah tangan Farah menutup mulut, menahan tawa sebisa mungkin sebelum menjawab. Lalu, ketika tawanya mulai mereda, dia buru-buru memberikan jawaban. “Alamat menuju hatiku.”
Sekali jawab, lelaki itu ikut tertawa mengimbangi tawa Farah yang lepas kendali.
“Semoga Sabrina nggak kayak kamu,” Randy menyelipkan kalimat yang seketika membuat Farah mengerem tawa berganti menjadi sahutan wooo panjang, tidak terima dengan pernyataan Randy.
***

Monday, October 8, 2012

Layanan publik: Bis Damri Terminal Purabaya-Bandara Internasional Juanda

Berkunjung ke kota Surabaya tapi bingung dengan angkutan yang akan mengantarkan Anda ke terminal utama setelah sampai Bandara Internasional Juanda atau sebaliknya? Tak perlu khawatir.
Pada tahun 2006, bersamaan dengan pembukaan bandara baru, pemerintah daerah setempat memberikan pelayanan publik yang dapat memudahkan siapa saja yang ingin ke atau dari Bandara Internasional Juanda, yakni berupa bis Damri yang akan mengantar Anda dari Terminal Purabaya (Bungurasih) ke Bandara Internasional Juanda berlaku sebaliknya.
Mengenai fasilitas yang didapat setelah membayar Rp 15.000 sekali jalan, Anda akan mendapatkan bis full AC dengan tempat duduk maksimal 24 penumpang. Untuk keberadaannya, bis yang mulai beroperasi sejak pukul 04.00-19.00 ini terletak di sebelah Barat dari tempat kedatangan bis luar kota di Terminal Purabaya. Di sisi-sisi bis ini juga dilengkapi dengan shelter untuk menunggu keberangkatan bis yang berangkat setiap 20 menit sekali ini. Bis Damri ini akan mengantar Anda hingga di depan terminal keberangkatan domestik atau Internasional.
Berikut penampakan bis Damri (taken from Hastowo's)

Sunday, October 7, 2012

Kuliner: Depot Ampel

Dari city tour, kami lantas pergi wisata kuliner ke salah satu warung makanan yang kerap dishoot di televisi atau koran lokal, Depot Ampel. Depot ini terletak di deretan jalan yang penuh dengan warung-warung makanan yang biasa digunakan sebagai jujukan wisata kuliner, Walikota Mustajab.
Sesuai namanya, menu makanan ini banyak menyuguhkan menu Timur Tengah alias kambing, sapi, dan bersantan. Sebagai menu makan siang, kami memilih Nasi Kebuli Kambing, Roti Maryam, Gulai Kacang Hijau Sapi, Es Sirup, dan Jus Kurma. Harga yang ditawarkan cukup bervariatif. Mulai dari Rp 5.000-Rp 35.000 untuk makanan dan Rp 3.000-Rp 18.000 untuk minuman.
Untuk rasa, sesuai dengan harganya; enak. Apalagi nasi kebulinya yang nyesep sekali ditambah jus kurmanya yang kental. Enak dan recomended.


 


City tour: Masjid Sunan Ampel




Setelah dari Monkasel, Masjid Cheng Hoo, dan Kenteng Boen Bio, kami bergegas menuju klenteng lain yang masih satu kawasan dengan Boen Bio. Tepatnya di jalan Dupak yakni Klenteng Hok Tek Hian. Tak cukup sulit menemukan klenteng ini, hanya sedikit berputar dari arah Kapasan, maka kawasan bangunan kolonial Belanda akan dengan mudah ditemukan.
Klenteng Hok Tek Hian terdapat di sisi kiri jalan (dari arah Kapasan). Kenteng ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Boen Bio dan tentunya lebih ramai. Dari jalanan bau dupa sudah tercium. Artinya, ada kegiatan ibadah yang tengah berlangsung. Tentu saja hal ini membuat kami sungkan untuk sekadar melihat-lihat, apalagi mendokumenasikan. Maka, dengan spontan jaya, saya pun mengarahkan motor melaju ke arah Masjid tertua di Surabaya, Masjid Sunan Ampel.
Awalnya, saya sedikit ragu untuk masuk mengingat keyakinan Tere tidak sama dengan saya. Tapi, ternyata Tere tidak keberatan untuk mampir karena kebetulan Masjid Sunan Ampel masuk dalam track herritage di peta. Jadi, mampirlah kami berdua.
Terletak di jalan Ampel, Masjid Sunan Ampel ini berada. Bagi pengunjung yang belum pernah berkunjung, pasti mengira bahwa kawasan ini mirip dengan bangunan wilayah khas Timur Tengah. Masjid ini dibangun oleh Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) pada tahun 1421 Hijriah. Saat berkunjung, pengunjung akan disuguhi jejeran pedagang yang menjual beragam aksesoris--yang kata Tere murah meriah.
Di kawasan masjid ini juga terdapat makam Sunan Ampel yang merupakan salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa. Makam Sunan Ampel sendiri terletak di sebelah barat masjid.
Di sana, kami hanya sedikit mengupas dengan sedikit penjelasan yang saya berikan mengenai siapa itu Sunan Ampel dan Mbah Soleh yang memiliki sembilan makam pada Tere. Dokumentasi pun seadanya. Seperti berikut ini dokumentasi yang sempat terekam kamera kacrut ponsel saya.
Ps. Kesimpulan yang saya dapat setelah berkali-kali ke Masjid dan Makam Sunan Ampel, ternyata pengunjung di sana rata-rata mengenakan jilbab. Kesimpulan ini baru saya dapatkan setelah melihat sekitar bahwa tak ada satu pun yang berkunjung tanpa jilbab *katrok eh :p*




City tour: Klenteng Boen Bio

Monkasel, Masjid Cheng Hoo, hari itu kami langsung menuju ke Klenteng Boen Bio. Terletak di jalan Kapasan, Klenteng ini bisa dikatakan keberadaannya hampir tenggelam dengan padatnya jalanan Surabaya. Terlebih dengan letaknya yang berdekatan dengan pasar padat Kapasan. Untuk mencapai klenteng ini diperlukan sekitar 10 menit dari Masjid Cheng Hoo (termasuk macet).
Klenteng Boen Bio merupakan klenteng pertama yang saya kunjungi. Awalnya, kami khawatir tidak diperbolehkan masuk, mengingat ini adalah tempat ibadah. Dan lagi sampai usia hampir seperempat abad, saya belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ibadah agama lain selain masjid dan pura. Tapi, setelah meminta izin, kami pun diperbolehkan masuk sekadar mengedarkan pandangan, melihat-lihat.
Klenteng Boen Bio diperkirakan keberadaannya sejak tahun 1910-an. Munculnya klenteng tersebut menyusul semakin meluasnya daerah pecinaan di Surabaya. Di sekitar Kapasan juga terdapat daerah pecinaan yang amat kental seperti di jalan Kembang Jepun (dulunya setiap malam selalu terdapat bazaar makanan khas Cina di daerah ini), jalan Slompretan, dan jalan Coklat. Dulu, sebelum kolonial Belanda sampai di Surabaya, kampung pecinaan ini sudah terlebih dulu ada. Lalu, saat pasukan Belanda datang, mereka menyebut daerah ini dengan sebutan Chinese Kamp (sumber: katalog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur).
Bangunan klenteng ini jadi satu dengan sekolah TK di sisi belakang. Saat ke sana, tak banyak hal yang kami dapatkan selain mendokumentasi beberapa bagian klenteng. Berikut dokumentasi pribadi di Klenteng Boen Bio.




City tour: Masjid Cheng Hoo


Dari Monkasel dan masih berbekal peta dari HoS, kami beranjak ke Masjid Cheng Hoo. Terletak tak jauh dari Monkasel (sekitar 5 menit dengan motor) Masjid Cheng Hoo adalah masjid yang didirikan untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo yang memeluk Islam saat masuk ke kerajaan Majapahit.
Arsitektur masjid ini cukup menarilk di mana terdapat perpaduan budaya Islam, Cina, dan Jawa. Hal ini terlihat dari dominasi warna hijau, kuning, merah, dan emas. Selain itu, perpaduan arsitektur tampak dari bangunan khas Cina yang diselipi Joglo Jawa. Konon, ini menunjukkan bahwa hubungan budaya Cina dan Jawa cukup erat dari zaman dulu.
Kini, masih di lokasi Masjid Cheng Hoo terdapat Gedung Serba Guna (GSG) olahraga yang biasa digunakan klub maupun perorangan untuk olahraga. Di dinding GSG terdapat perjanjian yang ditulis dalam tiga bahasa; Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin. Berikut ini, dokumentasi pribadi di Masjid Cheng Hoo.






City tour: Monumen Kapal Selam (Monkasel)

Berawal dari pertanyaan impulsif (selalu!) hari ini mau ke mana? Aku lantas sms Tere untuk city tour lagi ke beberapa daerah yang langsung disetujui olehnya. Berbekal peta dari HoS, kami pun sepakat memulai perjalanan city tour ke Monumen Kapal Selam (Monkasel) atau Submarine Monument.
Terletak di jantung kota Surabaya, tepatnya di sisi Kali Mas dan mal Surabaya Plasa, Monkasel berdiri. Sedikit cerita tentang kapal selam jenis Pasopati 401. Kapal selam ini adalah kapal selam buatan Rusia tahun 1952 yang kemudian dibeli oleh Indonesia sepuluh tahun kemudian untuk pembebasan Irian Barat (1962). Berturut-turut, kapal selam ini digunakan pada konflik Timur-Timur pada 1975, operasi perairan Indonesia pada 1989, dan berakhir penonaktifan penggunaan pada 1990.
Kapal selam ini dulunya digunakan untuk memperkuat Armatim TNI AL Indonesia yang banyak dipusatkan di Surabaya. Di bagian dalam kapal selam terdapat lima ruangan yang terdiri dari:
Ruang satu berisi torpedo dan selongsongnya (ruang persenjataan),
Ruang dua terdiri dari kamar perwira Kapten Pel. Sigitjoto Soedirdjo dan beberapa tempat tidur ABK,
Ruang tiga berisi ruang kemudi dengan periskop,
Ruang empat terdiri dari dapur, meja makan, dan beberapa tempat tidur ABK,
Ruang lima berisi mesin diesel yang digunakan selama kapal selam berada di permukaan dan baterai selama berada di bawah permukaan.
Melengkapi Monkasel, di sisi belakang monumen terdapat ruang pemutaran video Rama yang berisi sejarah kapal selam. Video ini diputar setiap satu jam sekali, mulai pukul 9-21 dengan durasi perpemutaran 20 menit. Tak hanya itu, di sekitar monumen juga terdapat arena bermain anak dan bangku-bangku di tepi bantaran Kali Mas.
Untuk masuk ke Monkasel, Anda diperlukan membayar tiket sebesar Rp 5.000 sudah termasuk video Rama. Berikut ini, dokumentasi pribadi yang didapat dari kamera ponsel.






Saturday, October 6, 2012

City tour: House of Sampoerna

Masih di hari yang sama, karena ke-impuslif-anku, maka kami beranjak ke House of Sampoerna yang selanjutnya disebut HoS.
Terletak tak jauh dari Montupa (sekitar 5 menit jika tanpa nyasar :p), HoS bisa ditemukan di kompeks bangunan bergaya kolonial Belanda. Bangunan ini dibangun pada tahun 1862 yang semula digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola Belanda. Lalu, sekitar tahun 1932 bangunan ini dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri pabrik rokok Sampoerna.
Museum ini menyuguhkan beragam pemandangan unik yang bisa membuat pengunjung terkagum-kagum. Selain desain interior yang masih terawat, ditambah dengan aksesoris unik dari zaman kolonial Belanda, museum ini juga memberikan pengetahuan mengenai bagaimana cara pembuatan rokok. Di sana, terdapat sekitar 3.000 pekerja wanita yang perjamnya melinting lebih dari 300 batang rokok.
Museum yang letaknya berdekatan dengan Penjara Kalisosok yang sejak tahun 2001 seluruh tahanan dipindahkan ke Porong ini terdiri dari dua lantai. Lantai satu terdiri dari sejarah berdirinya bangunan HoS, foto-foto pendiri & pemilik saham, aksesoris unik dari tahun ke tahun, juga beragam lukisan. Sementara di lantai dua terdapat pemandangan serupa hall yang mengarah ke lantai satu tempat para pelinting rokok bekerja. Di sana, juga terdapat ruangan sampel di mana sebagian pelinting lengkap bekerja di lantai dua.
Di sisi lain, terdapat satu ruangan pameran yang perbulannya berganti tema. Saat kami berkunjung, pameran batik sedang berlangsung. Sayangnya, di pameran tersebut hanya sebagian batik yang dipamerkan.
Menambah kesan unik sekaligus melengkapi perjalanan wisata di kota Pahlawan, HoS menyediakan Bus khusus untuk berkeliling kota Surabaya dengan rute yang berbeda. Bus ini ada setiap hari, setiap jam 9, 11, 13, dan 15. Sebagai saran, jika Anda ingin mengikuti Surabaya Heritage Track (SHT) saat weekend, ada baiknya pesan jauh-jauh hari (atau minggu). Karena sesuai pengalaman, kami (dalam hal ini saya dan teman yang lain) tidak mendapatkan kursi jika pesan saat itu juga. Beruntung, kami datang saat weekdays yang artinya bisa mendapatkan kursi secara langsung.
Untuk tujuan track, kami hanya dapat dua tempat yakni di Balai Pemuda dan Gedung Kebudayaan Cak Durasim. Namun, tidak perlu khawatir atau kecewa, karena sepanjang perjalanan tracking, Anda akan ditemani oleh guide yang senantiasa memberikan keterangan di sepanjang jalan yang dilewati. Seperti gedung Balai Pemuda yang dulunya adalah bar atau tempat hiburan Belanda dimana kaum pribumi dilarang masuk. Lalu Kantor Pos Kebon Rojo yang merupakan kantor pos pertama di Surabaya. Menyusul Gedung PTPN XI yang dulunya juga merupakan perkebunan tebu pertama dan kini menjadi perkantoran dengan arsitektur megah zaman kolonial Belanda. Kemudian Gedung Internatio yang dulunya merupakan cikal bakal Bank Indonesia sebelum pindah di sisi utara Montupa.
Beranjak ke gedung kebudayaan Cak Durasim, di sana sedang digelar persiapan pagelaran wayang kulit asal Bojonegoro (sorry, if I'm mistaken) untuk malam hari. Fyi, Cak Durasim adalah budayawan asal Surabaya yang gugur ditembak tentara Jepang karena parikannya yang terkenal, "Bukupon omahe doro, melok Nipon tambah sengsoro."
Untuk biaya, HoS tidak memungut biaya apapun termasuk saat tracking. Cukup tunjukkan KTP/ tanda pengenal, Anda sudah bisa menikmati wisata sejarah di kota Pahlawan. Berikut ini, terlampir dokumentasi pribadi.