Friday, December 20, 2013

Menikmati Hawa Dingin di Puncak Sikunir

Pertengahan November lalu, saya mengunjungi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sebenarnya, ini adalah rencana spontan yang saya ambil begitu cuti kerja didapat karena sebelumnya, saya memutuskan untuk menghabiskan masa cuti empat hari hanya di Jogjakarta. Namun saya pikir, sayang sekali jika empat hari cuti hanya di satu kota saja.

Memilih masa cuti yang berbeda dengan teman, solo backpacking adalah risiko yang harus saya tanggung. Ya, perjalanan kali ini saya kembali sendiri. Berbekal mencari banyak informasi via internet dan bertanya pada teman yang sudah ke sana, saya berhasil meyakinkan diri. Menjadi solo backpacker, hal yang harus dilakukan adalah tidak berlebihan dalam penampilan. Ramah, menyimpan banyak info, dan aktif bertanya pada warga sekitar juga menjadi jurus ampuh berwisata. Informasi yang saya dapat, kawasan pegunungan yang terkenal dengan buah carica (pepaya gunung) dan kentang tersebut, aman bagi solo backpacker amatir seperti saya.

Perjalanan dimulai dari Jogja menuju Dieng, saya berganti angkutan umum empat kali (Jogja-Magelang 10.000 rupiah; Magelang-Wonosobo 18.000 rupiah; Wonosobo-Terminal Njuritan 2.000 rupiah; Terminal Njuritan-Dieng 10.000 rupiah) dengan total perjalanan sekitar lima jam. Sampai di Wonosobo, pemandangan lalu lintas yang padat seketika hilang berganti dengan alam hijau. Sejauh mata memandang, gunung terbentang. Angin semilir bertiup menyegarkan. Hilang sudah pikiran jenuh di Surabaya. Ada baiknya, sebagai solo memilih tempat duduk di samping supir. Karena umumnya supir ramah dan mau diajak ngobrol tentang daerah sekitar. Lumayan menggali info.

Pemandangan sepanjang Wonosobo-Dieng. Hijaaauu!!
Satu jam perjalanan Wonosobo-Dieng, pukul 13.30 saya turun di pertigaan Dieng, tepat di depan penginapan yang dituju. Setelah check in di penginapan Bu Jono (75.000 rupiah/ kamar bisa diisi sampai 4 orang), meminta peta pada pengelola losmen, dan meletakkan backpack, saya bergegas berkeliling menuju empat tempat wisata sentral Dieng. Meliputi komplek Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theatre, dan Telaga Warna. Keempat tempat wisata tersebut bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi, bagi yang tidak ingin pegal, bisa menggunakan ojek atau rental motor. Tarif yang ditawarkan sangat tinggi, jadi harus pintar-pintar menawar. Saya sendiri, lebih memilih jalan kaki, karena sengaja ingin menikmati pemandangan kepungan gunung yang membentang.

Berbekal peta, saya memulai perjalanan menuju komplek Candi Arjuna. Ada sekitar sembilan candi tersebar di komplek percandian Hindu yang dibangun pada abad ke-7 ini. Hawa dingin, hamparan sawah juga pegunungan, dan pemandangan apik, menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Perjalanan saya berlanjut menuju Kawah Sikidang, salah satu dari sekian banyak kawah yang tersebar di daerah Dieng. Kawah Sikidang merupakan kawah terpopuler karena letaknya sangat mudah dijangkau. Berbeda dengan kawah Bromo, jarak kawah Sikidang terletak dekat sekali dengan wisatawan, sekitar lima meter jaraknya.

Salah satu candi di komplek Candi Arjuna

Dikelilingi hamparan bebatuan kapur, bau belerang sangat kuat tercium. Telaga Warna dan Pengilon menjadi destinasi saya berikutnya. Sayang, saya menjadi pengunjung terakhir saat sampai di sana. Sehingga memotret keindahan telaga dengan tiga warna pun seadanya. Hal sama terjadi ketika saya sampai di Dieng Plateau Theatre (DPT) yang memutar film menyoal pegunungan Dieng. Saya tidak masuk karena sudah tutup dan lebih memilih melihat pemandangan dibandingkan film. Puas berkeliling, saya mengakhiri hari dengan Mie Ongklok (8.000 rupiah), mi kental khas Wonosobo yang juga banyak ditemukan di Dieng. Fyi, jika mau berlibur gratis tanpa dikenakan tarif, berliburlah di musim nonliburan, dijamin gratis. Apalagi saya seorang diri :p. Tarif normal tiket terusan (5 kawasan wisata utama) sebesar 20.000 rupiah.


 Kawah Sikidang


Telaga Warna
Mi Ongklok

Terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, menjadikan suhu Dieng cukup dingin bagi warga Surabaya seperti saya. Pagi hari berikutnya, perjalanan saya berlanjut menuju Gunung Sikunir (2263 m dpl.) untuk melihat sunrise. Letak penginapan dan Sikunir cukup jauh, apalagi jika ditempuh pagi hari, butuh perjuangan ekstra. Saya memilih menggunakan ojek dengan harga standar penawaran, yakni 70.000 rupiah ditambah dengan Sumur Jalatunda. Saran saya, bagi solo backpacker, jika ingin naik ojek, sekalian minta dikawal saat mendaki. Hal ini memermudah untuk mencari informasi tentang sejarah Dieng juga sebagai teman ngobrol. Beruntung, ojek yang saya dapat via online sangat ramah dan mau berbagi cerita. Saya pun diajak ke dua point of view sunrise yang luar biasa keren dan ke good view Telaga Cebong. Dari atas ketinggian, saya bisa melihat Wonosobo dan jajaran gunung yang mengepung, menunjukkan betapa kecil dan tidak berdayanya saya. Untuk sarapan pagi itu, saya membeli Nasi Megono (2.500 rupiah), nasi gurih yang dimasak dengan irisan sayur plus bubur kajang ijo (1.000 rupiah). Rasanya? Hmmm… nggak kalah nikmat.






Puncak Sikunir


Telaga Cebong
Sumur Jalatunda

Saya yakin, siapapun yang ingin melepas penatnya pekerjaan akan tergiur dan lupa seketika dengan jenuh jika berkunjung ke Dieng. Berganti perasaan girang dan terlena pada pemandangan memukau Negeri di Atas Awan, Dieng. Tidak ada masalah dengan menjadi solo backpacking ke tempat asing. Karena yang dibutuhkan hanya berani, berpengetahuan, bertanya, dan berdoa. Jadi, solo backpacking ke Dieng? Ngapain takut. Jangan lupa, di musim penghujan, ada baiknya membawa jas hujan celana dan payung, insyaallah pasti berguna. Selamat berlibur!

Cabe Bandung

Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit

Oktober lalu saya memilih untuk berlibur ke kota tetangga, Mojokerto. Alasannya mudah saja, selain karena bujet menipis, minimnya waktu, dan saya belum pernah ke sana :p. Selain itu, saya butuh menepati janji pada diri sendiri. Makanya langsung hajar. Bahagianya, teman jalan saya kali ini cukup banyak. Dua orang rekan wartawan dan seorang teman TK. Hahaha, iya TK!! Saya juga nggak nyangka bisa ketemu lagi. Semua karena Facebook :)). Bulusnya, karena saya tahu teman TK ini tinggal di Mojokerto, saya pun meminta untuk dikawal, lumayan. Nggak mau rugi, asli! :)).

Jarak Surabaya-Mojokerto sangat dekat bagi kami anak jalanan. Gimana nggak? Cukup ditempuh satu jam dengan motor, kami bisa sampai. Hanya saja karena motor saya dan Mamik sempat rewel, maka molorlah kami. Dari pada ada kejadian yang iya-iya, mending dicegah. Kami pun memilih untuk berhenti atau melajukan motor perlahan. Pelan asal sampai dengan selamat.

Kami berangkat pukul 9 pagi, molor 2 jam dari rencana semula. Meski demikian, kami sudah memutuskan untuk mengunjungi salah satu situs sejarah terbesar erajaan Hindu Majapahit, Trowulan. Cukup mudah menemukan lokasi Trowulan ini karena tanda jalan jelas terpampang. Museum Trowulan atau lebih tenar disebut Museum Majapahit menjadi titik pertama perjalanan kami. Menuju museum, kami melewati petirtaan yang cukup besar, Kolam Segaran. Konon, petirtaan ini tempat mandi para bangsawan. Sayang, kondisi cuaca yang panas membuat kami enggan untuk berhenti. Kami janjian dengan Pipit di depan museum. Namun, sebelum masuk museum, kami menyempatkan diri untuk sarapan di warung-warung depan museum. Harganya standar Surabayalah. Tapi, pemandangan hijau sawah cukup membantu menyegarkan pikiran.
Masuk museum, pengunjung dikenai tarif yang sangat bersahabat. 2500 rupiah saja. Tapi, jangan heran jika tidak menemukan loket penjualan tiket, karena tiket masuk dijual eceran oleh penjaga parkir. Ya, mirip calo begitu. Masuk museum, kami disuguhi banyak sekali arca, gerabah, dan sejumlah peninggalan zaman kejayaan Majapahit. Saking banyaknya, arca rusak pun berserakan. Entah itu asli semua atau tidak karena posisinya yang dibiarkan dekat dengan pengunjung tanpa ada tanda peringatan sama sekali. Tidak lama kami menghabiskan waktu di museum. Karena jam menunjukkan waktu Jumatan. Ini uniknya, tempat wisata di Mojokerto tutup saat Jumatan.


Museum dan sebagian peninggalan

Sambil menunggu waktu tempat wisata buka dan Fikri Jumatan, kami ngadem di Wringin Anom, semacam pendopo dengan banyak pohon. Adem dan anginnya semilir. Di sini, pengunjung dikenakan biaya masuk 1000 rupiah saja. Dan lagi-lagi tidak ada loket khusus apalagi petugas jaga. Yang ada hanya orang mirip calo. Lepas duduk santai, kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Bajang Ratu. Ini tempat favorit saya. Karena meski cuaca sedang panas sekali, hijaunya pepohonan dan taman bunga yang ditata cukup menyejukkan mata. Candi ini tampaknya paling vokal dibandingkan candi lain. Masuk ke Candi Bajang Ratu, pengunjung dikenakan biaya masuk 2500 rupiah.


Candi Bajang Ratu, Trowulan, Mojokerto

Ada yang menarik jika Anda berkunjung ke Trowulan, Mojokerto. Hampir semua rumah penduduk dihiasi gapura khas bangunan gerbang terbelah. Hanya ada beberapa rumah bergaya modern lebih memilih memakai pagar besi, bukan gapura berbahan semen.

Perjalanan kami berlanjut ke Candi Tikus. Menurut literatur bebas yang saya baca, penamaan ini didasarkan pada waktu candi ditemukan, yakni pada 1914, ada banyak sekali tikus bersarang. Candi ini memiliki keunikan tersendiri. Selain letaknya berada di bawah tanah, jika musim penghujan candi ini membentuk genangan air menyerupai kolam, sesuai dengan fungsinya dulu sebagai petirtaan bangsawan. 2000 rupiah untuk masuk Candi Tikus.

Mamik dan Candi Tikus

Saya sarankan, jika ingin mengunjungi situs-situs era kejayaan Majapahit di Trowulan, Anda tidak jalan kaki karena letaknya cukup jauh. Sebaiknya menggunakan ojek atau kendaraan pribadi.

Maha Vihara menjadi tujuan dari perjalanan kami berikutnya, tempat patung Budha tidur raksasa berada. Saya sempat membaca, patung Budha tidur di Maha Vihara Mojokerto adalah terbesar ketiga di dunia. Letaknya masuk di perkampungan namun cukup mudah ditemukan. Saat kami ke sana. tidak ada aktivitas sembayang umat Budha. Sepi. Tapi beberapa dupa tertanam di tempat dupa, mungkin ada yang baru selesai sembayang. Di Maha Vihara, banyak patung Budha dipajang berjejer laiknya ucapan selamat datang pada pengunjung. Saya sarankan juga, saat berkunjung ke Mojokerto--tepatnya di Trowulan-- menyiapkan payung, karena wilayahnya masuk dataran rendah, jadi panasnya luar biasa.


Maha Vihara

Sebenarnya, ada banyak tempat wisata yang ada di Mojokerto jika sekadar ingin melakukan one day trip, baik di dataran rendah maupun dataran tingginya. Namun, lagi-lagi ada baiknya memerhatikan faktor cuaca jika tidak ingin liburan terganggu. Setidaknya, tidak saat panas sekali atau hujan deras mengguyur. Selamat liburan.

Serba-Serbi 2013

Sebelas hari lagi 2013 berlalu, banyak hal yang saya dapat dan berhasil lalui di tahun ini. Berangkat dari resolusi yang saya buat, ada dua hal yang tidak bisa tercapai di tahun ini; menikah dan nyetir mobil. Tapi itu bukan masalah besar, karena waktunya memang belum tepat :p.

Resolusi 2013 yang saya catat pertama dan besar-besar di akhir tahun 2012 adalah travelling. Saya bertekad, setidaknya satu bulan sekali ada masa jalan-jalan. Entah one day trip, city tour di kota sendiri, atau tugas ke luar kota yang melenakan. Yang penting jalan-jalan dan membuat saya lupa dengan pekerjaan :p.

Januari
Minggu pertama bulan Januari, saya ditugaskan ke Lumajang, tepatnya ke Gunung Lemongan dekat dengan 13 ranu yang mengelilingi. Sebelum naik, saya sempat mampir ke Ranu Klakah, udara yang sejuk membuat saya lupa tujuan awal; yakni bekerja :p. Sedikit cerita, Ranu Klakah dan 12 ranu lain di sekitar Gunung Lemongan dulunya sempat kerontang akibat ulah tangan tak bertanggung jawab. Kebakaran dan penebangan hutan massal mendominasi. Namun, di tangan Aak Abdullah dan Laskar Hijau, Gunung Lemongan yang semula tandus berangsur hijau. Tanaman bambu dan tanaman buah-buahan ditanam pelan-pelan di lahan bekas kebakaran. Tanaman bambu menjadi pilihan lantaran sifatnya yang bisa menyimpan banyak air, sedangkan tanaman buah-buahan sengaja ditanam karena memiliki nilai ekonomi. Berkat tangan Aak Abdullah ini, kini 13 ranu di sekitar Gunung Lemongan kembali terisi. Sawah milik petani pun teraliri. Tentu bukan serta merta sukses begitu saja, sempat juga usahanya diganggu oleh orang yang tak suka dengan aksinya. Standar hukum alam. Aksi Aak Abdullah ini berhasil mengantarkan namanya menjadi pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2010.

Di tengah kerja di Gunung Lemongan, Lumajang (Saya, Pak Memet, dan Mas PJ)

Gunung Lemongan, Lumajang

Masih di bulan Januari, saya diajak kantor untuk family gathering. Tapi, karena saya sedang bermasalah dengan keluarga, saya pun memutuskan untuk pergi sendiri dan meminta jatah tiket keluarga untuk teman; Har. Ya, saya nggak mau rugi. Di saat yang lain membawa keluarga, pasangan, dan kerabat, saya pun bisa bawa teman, hahaha.

Statusnya memang awal tahun, tapi keadaannya suram. Masalah di awal tahun membuat saya menjadi seorang yang lebih introvert. Tidak seekstrovert dulu. Ada banyak hal yang kini membuat saya berpikir berkali-kali untuk sekadar bercerita. Bercerita pun hanya pada orang yang saya pikir pas untuk sekadar mendengarkan. Pelan-pelan saya menutup diri, meski masih sering tampak terbuka. Tapi ada bagian lain yang harus saya simpan sendiri. Ya, 2013 pelan-pelan mengubah saya menjadi sosok yang tertutup.

Februari
Bulan kedua tahun 2013. Saya ditugaskan ke Wonosalam, Jombang, dataran sedikit tinggi. Di sana, saya bertemu dengan penggagas makanan sehat berbahan tanaman liar; seperti daun racun dan dedaunan yang saya lupa namanya *payah*. Namanya Hayu Dyah Patria, beliau salah satu pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2011. Di tempat ini saya belajar ketulusan. Saya memang dalam rangka kerja, tapi ide dan niat tulus penggagas serta masyarakat sekitar Wonosalam yang mau menerima perubahan pola berpikir menginspurasi saya; bahwa sejatinya perubahan bisa dimulai dari hal kecil di sekitar. Selama ini daun racun dan dedaunan liar hanya diabaikan oleh masyarakat. Namun, ketika Hayu datang dengan bahan penelitian, perspektif masyarakat pun perlahan berganti. Bahwasanya, tanaman liar pun juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan menyehatkan.

Maret
Maret, saya ditugaskan ke Nganjuk dan Lamongan. Di Nganjuk, saya bertemu dengan wanita inspiratif, Pramu Hermawarnie. Beliau adalah istri dari pensiunan pegawai BUMN terkemuka di Gresik sekaligus ibu dari Hayu Dyah Patria. Sebagai wanita aktif, kepindahannya ke kota Nganjuk diisi dengan mengubah mindset ibu-ibu desa melalui seni kreasi sulam pita. Ia sadar, jika tidak berbagi sekarang, kapan lagi bisa? Ia tidak bisa menjamin hari tuanya akan panjang. Kegiatan ibu-ibu desa setiap harinya adalah menggosip, mengantar anak, dan mengurus keluarga. Memang, itu kodrat wanita. Namun, Ema--akrab ia disapa--ingin membuat hidup ibu desa lebih berarti dan bernilai. Ema mengajak ibu desa untuk menyulam. Tujuannya, mengurangi aktivitas menggosip dan menambah pemasukan bagi keluarga. Menariknya, bahan pekerjaan boleh dikerjakan di rumah tapi tetap dalam pengawasan Ema. Dari kegiatan ini, ibu desa yang dulu sempat direndahkan suaminya kini justru lebih percaya diri dan lebih dihargai oleh orang lain. Karena tidak jarang Ema mengajak ibu-ibu desa binaannya untuk ikut serta menjadi fasilitator saat tengah membina di kota lain.

Di Lamongan, saya bertemu dengan dua pelajar inspiratif penemu pewangi ruangan berbahan kotoran sapi, Dwi Nelly Izzah dan Rintia Miki Aprianti. Siswa SMA Muhammadiyah Babat ini terinspirasi dari ilmuwan Amerika yang membuat parfum dari kotorannya sendiri. Keduanya lantas memutuskan untuk membuat pewangi ruangan berbahan kotoran sapi lantaran di Lamongan banyak peternak sapi yang jarang memanfaatkan kotorannya selain untuk pupuk. Mereka pun membuat percobaan didampingi guru pendamping dengan komposisi 30% kotoran sapi + 20% Ca + sulfur 10% + 5% limbah daun segar kaya Natrium + 10% mikroba pengurai. Hasil dari pencampuran dan destilasi bahan tersebut menjadi pewangi ruangan yang mengantarkan mereka menuju kompetisi sains dunia di Turki, April lalu.

April
Bulan April, masalah pribadi saya berangsur selesai disertai kondisi kesehatan membaik. Di bulan ini, saya kembali ditugaskan ke luar kota yakni Tretes di Ubaya Training Center (UTC) untuk meliput kegiatan outbound. Nah, berhubung saya berangkat bersama kamerawan, jadi saya ikutan outbound, hahaha. Nggak mau rugiii! :))

Ubaya Training Centre (UTC)

Mei
Bromo. Saya merencanakan perjalanan ini serba dadakan. Ya, bukan saya kalau tidak serba mendadak :p. Saya berangkat bersama Har, Vis, dan Vian naik motor dini hari. Belum pernah terpikirkan kalau saya bisa melakukan hal ini :p. Hasilnyaaa? One day trip yang luar biasa dan nagiiiiih! Dari sini saya semakin yakin kalau libur sehari bukan berarti tidak bisa jalan-jalan. Asal niat, pasti bisa.

Bromo (Saya-Vian-Har)
Juni
One day trip memanfaatkan waktu libur yang aneh dan lain dari pada yang lain kali ini tujuan saya adalah pantai Selatan Malang. Ada puluhan pantai di sana. Tapi tenaga dan waktu hanya mampu tiga pantai, Pantai Tamban, Pantai Bajul Mati, dan Pantai Goa Cina. Saya berdua menyusuri Selatan Malang via motor dengan Har. Lucunya, Har ini kenapa selalu mau kalau saya ajak nakal, hahaha. Aah, Har memang teman yang baik hati koook. *bukan rayuan bukan pujian :)))*.

Pantai Goa Cina, Malang Selatan (Saya dan Har)
Juli
Sudah masuk bulan puasa. Tapi seminggu sebelum puasa saya menyempatkan diri untuk city tour sama Tita dan Ilma. Tujuannya dua; Kenjeran dan lantai 5 Plasa Surabaya. Nostalgia yang seru. Apalagi Tita jarang-jarang diajak pergi ke sana.

Plaza Surabaya (Tita dan Saya)

Agustus
Pascalibur Lebaran saya segera menyusun rencana bepergian. Jogja menjadi tujuan saya setelah nyaris sepuluh tahun tidak berkunjung. Di Jogja pulalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh seorang diri. Saya senang, karena single backpacking tidak banyak membuat saya bergantung dan merepotkan orang lain. Di Jogja ini tujuan saya hanya di pusat kota. Memborong banyak belanjaan, seorang diri, sesuka hati, siapa menolak? :p
Taman Sari, Jogja

Di bulan Agustus juga saya ke Pulau Sempu setelah selama ini hanya memimpikan. Teman one day trip kali ini cukup banyak, berenam. Saya, Har, Vis, Laila, Mila, dan teman Laila yang saya lupa namanya, maaaf. Yang saya sayangkan, kenapa saya tidak berenang di siniii? Kenapa saya tidak bawa baju ganti? Kenapa saya tidak gulung-gulung di pasir putihnya yang melenakan itu? Ah, saya harus ke sana lagi kayaknya :p.

Pulau Sempu, Malang (Har, Saya, Mila, Navis, Laila, dan Temannya)

Daaan, di bulan ini saya menginjak ke umur baru, dua puluh empat. Iyeee, saya makin tua. Semoga makin dewasa dan bijak dalam menanggapi masalah yaaa.

September
Saya tidak mempunyai rencana jalan-jalan sama sekali di bulan ini. Sampai Mas Adib nge-Whatsapp dan mengajak serta ke Bromo bareng teman-temannya. Dari awal saya menolak jika naik motor karena pengalaman mengajarkan saya arti ngeri dan ngesot menembus parahnya lautan pasir :p. Tapi ternyata naik mobil, yawislah cus. Kami berdelapan saat itu, bersama enam orang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. But sure, travelling not only brings you to a new place but friend also.


Bromo (Kiki, Mas Muhan, Saya, Mbak Tiwi, Mbak Pipit, Mbak Fitri, Mas Adib, dan Mas Riza)

Oktober
One day trip di bulan Oktober, Mojokerto menjadi kota pilihan saya. Selain mudah, juga dekat, dan efisiensi waktu. Teman perjalanan saya kala itu adalah Pipit (teman TK saya), Fikri, dan Mamik yang merupakan teman kerja sehari-hari. Kami memilih Trowulan untuk melihat masa kejayaan kerajaan Majapahit sekaligus berkunjung ke patung Budha tidur yang kabarnya terbesar ketiga dunia, Maha Vihara.

Maha Vihara, Mojokerto (Fikri, Saya, Mamik, dan Pipit)

Di bulan ini juga saya mendapat tugas liputan ke Ponpes Sunan Drajat, Lamongan. Believe it or not, saya merindukan momen mengaji kitab bersama. Sederhana ya? Sayang sekali dulu saya menyia-nyiakan waktu begitu saja. Giliran sudah sibuk begini mengaji pun jarang. Di sini, saya diramalkan akan segera menikah. Hehe, diaminin saja dulu, ya. 

November
Mendapatkan jatah cuti, perjalanan saya di bulan ini cukup mengasyikkan. Dalam kurun waktu lima hari saya menghabiskan jatah liburan di dua tempat berbeda; Jogja dan dataran tinggi Dieng, Banjarnega. Di Jogja, tujuan wisata saya adalah Utara Jogja meliputi Kaliurang dan museum-museum wilayah Utara. Salah satu museum yang membuat saya terpukau adalah Museum Ullen Sentalu, museum dengan desain alam yang mengajak pengunjung untuk tahu perbedaan kesultanan Jogja dan Surakarta. Saya juga menghabiskan waktu di Selatan DI. Jogja, tepatnya di Gunung Kidul. Berdua mengendarai motor dengan Itak, kami menyambangi empat di antara puluhan pantai yang ada di sana.


Pantai Drini, Gunung Kidul, DI. Jogjakarta (Andita dan Saya)

Hari berikutnya cuti, dataran tinggi Dieng menjadi sasaran saya. Jarak tempuhnya sekitar lima jam dari Jogja. Tapi di sana, dijamin lupa dengan semua hal yang ada di Surabaya. Yang paling membuat saya lupa adalah pesona sunrise dari puncak Gunung Sikunir, Telaga Cebong dari good view Sikunir, dan iring-iringan awan yang menutupi Desa Sembungan--desa tertinggi di Pulau Jawa. Saking terpesonanya, saya bahkan lupa kalau esoknya saya harus kembali kerja. Ah, yang jelas, jalan-jalan bulan November bikin hati puaaaas sekali.

Sunrise Sikunir, Dieng

Desember
Sebenarnya, saya merencanakan untuk menghabiskan masa cuti yang tersisa satu hari ke Magetan. Sayangnya, karena hape saya main drama dan meminta jatah travelling untuk membeli hape baru, jadi rencana jalan-jalan pun batal. Saya pun ikhlas kalau tidak bisa melunasi janji saya di akhir tahun 2012; travelling. Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Sebuah instansi mengajak saya untuk jalan-jalan ke PPLH Seloliman, Ngoro, Mojokerto. Dekat dari Surabaya, memang. Saya pun sudah pernah ke sana. Tapi, masa iya saya menolak begitu saja? Sayang dong, jalan-jalan gratis dilewatkan begitu saja :p. 

Nah, karena yang mengajak adalah instansi listrik milik negara, maka kegiatan kami tidak lain dan bukan adalah mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Bagaimana caranya aliran air sungai bisa menggerakkan turbin sampai membuat nyala listrik yang sebagian masih disuplai oleh instansi ini. Lumayan menambah pengetahuan, bukankah memang begitu tujuan dari jalan-jalan? :p

PLTMH Wot Lemah, Seloliman, Ngoro, Mojokerto

Ah, 2013 akan segera berlalu. Tapi di tahun ini banyak sekali warna yang sudah Tuhan berikan pada saya. Alhamdulillah, saya bisa melaluinya dengan baik. Semoga 2014 rencana yang sudah tersusun bisa berjalan sebagaimana mestinya. Amin.

Monday, December 2, 2013

Rame-Rame Kondom

Masih hangat perbincangan soal Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan beberapa pihak (produsen dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional-KPAN) (sebelumnya saya tulis Kemenkes. Saya mohon maaf.) memeringati Hari Aids, 1 Desember. Banyak opini, kecaman, dan masukan digulirkan di media dan media sosial. Pasalnya, hal tersebut dinilai absurd, tidak solutif namun justru banyak menimbulkan masalah baru. Sebagai awam, dilihat dari sisi mana pun, saya tidak setuju dengan aksi bagi-bagi kondom gratis. Terlebih dengan pembagiannya yang terkesan sembarangan.

Saya sempat membaca media dengan isi pernyataan Wagub DKI Jakarta, Ahok. Di media tersebut disebutkan, Ahok menyatakan setuju melalui pernyataan yang membuat saya mesem. Kurang lebih begini (saya lupa persisnya), "Kalau nggak mau kena HIV/ AIDS, pakai kondom solusinya." Betul sekali pernyataannya. Tapi apa sudah betul sasarannya? Kondom gratis juga dibagikan ke pelajar dan mahasiswa, loh. Lain lagi kalau pembagiannya tepat sasaran. Di salah satu media cetak disebutkan, penderita HIV/ AIDS kini didominasi oleh ibu rumah tangga, pekerja seks komersial, dan sisanya lain-lain. Mencengangkan.

Saya masih sedikit ingat, soal kontroversi adanya rencana memasukkan pelajaran seks di sekolah. Menurut saya, pelajaran ini penting namun disesuaikan pada usia. Namun, alangkah lebih pentingnya jika pelajaran moral dan agama dijadikan landasan utamanya. Tidak jauh-jauh, di sekolah Tita, pelajaran moral ditiadakan. Diganti dengan pelajaran kewarganegaraan. Itu berarti pendidikan moral dan karakter anak harus dimatangkan oleh keluarga. Keluarga mempunyai peranan penting untuk membentuk moral anak. Sebab, dengan pendidikan moral dan agama yang kuat anak akan tahu mana benar dan salah. Termasuk memaknai aksi bagi-bagi kondom gratis. Coba kalau aksi bagi-bagi kondom dilakukan ke rumah perumah dengan sasaran ibu rumah tangga dan ke sejumlah lokalisasi (dilihat dari dominasi pengidap), mungkin cara tersebut akan lebih efektif. Berbeda dengan pembagian di sekolah mau pun kampus. Bisa jadi pembagian tersebut akan memicu rasa penasaran. Bagaimana rasanya menggunakan kondom? Dengan siapa menggunakannya? Implisit, disadari atau tidak, rasa penasaran akan muncul di beberapa pelajar atau mahasiswa dan berujung pada aksi seks bebas. Berawal dari coba-coba, berakhir dengan suka-suka.

Sebenarnya, kalau tujuan dari program ini adalah mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS, saya pikir tidak perlu sebegitu hebohnya bagi-bagi kondom. Tapi dengan sosialisasi bahaya penularan virus melalui seks bebas, narkoba, dan penggunaan jarum suntik bergantian; penguatan nilai moral dan agama; juga pengetahuan soal seks, saya pikir cukup membantu mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS. Tentu, peran serta keluarga dan lingkungan sangat vital.

Namun, jika Pekan Kondom Nasional sudah terlanjur berjalan bahkan sampai menelan biaya 25 milyar, kini giliran masyarakat harus cerdas. Mencari informasi banyak-banyak, bertanya sana-sini tentang kondom, dan memilah dengan tepat serta tegas tindakan mana yang harus dilakukan. Semoga bus Pekan Kondom Nasional tidak sampai di Surabaya, kota yang sedang giat memberantas lokalisasi, ya.

Monday, November 25, 2013

Batas

Dieng pagi itu dingin. Rania melirik layar ponsel, 14 derajat celcius. Pantas saja tubuhnya menggigil. Punggung tangannya berkali-kali menutup mulut menahan kantuk saat jarum jam menunjuk angka nyaris empat. Artinya, ia tidak bisa merapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh. Kemarin, dirinya sudah menaruh janji pada tukang ojek, pukul empat dijemput untuk berangkat menuju Gunung Sikunir. Waktu yang tepat untuk mendaki dan melihat sunrise, begitu kata ibu pemilik penginapan.

Rania, wanita berusia 26 tahun memiliki hobi jalan-jalan. Bekerja sebagai editor majalah fashion mingguan, membuat rutinitasnya menggunung. Beruntung, pekerjaannya masih tergolong fleksibel, masih bisa dikerjakan dari kejauhan--kalau tidak tahu malu. Liburan cuti kali ini, ia sengaja solo trip. Bukan tidak ada kawan atau lawan. Hanya, kejadian seminggu lalu meyakinkan dirinya bahwa ia harus pergi sendiri. Rama, lelaki yang dipacari dua tahun terakhir berulah. Tidak jauh-jauh, lelaki berparas bersih itu kembali membuat Rania kecewa. Liburan yang seharusnya bisa dinikmati bersama akhirnya terpaksa dirasakan sendiri-sendiri. Masalahnya sepele. Rania kecewa dengan Rama yang membatalkan janji mendadak untuk merayakan hari jadi mereka yang kedua. Rania yang sudah ready bahkan sampai menunda jadwal meeting dengan klien hanya bisa menghela napas, kecewa untuk kali sekian. Berkali-kali ia sadar, cinta jarang mengecewakan. Sayangnya, ia buta. Ia hanya selalu memaafkan dan mentolerir kelakuan Rama.

Wajah pucat Rania terpantul dari cermin. Air dingin Dieng menyusup tulang. Kesalahan besar mencicipi air pegunungan di pagi buta. Tapi akan jauh lebih salah jika ia abai pada Tuhan. Selepas salat, ia bergegas menghubungi ojek untuk dijemput. Sebelum tukang ojek sampai, ibu pemilik losmen menawari teh panas, lumayan membantu menghangatkan kerongkongan dan pencernaan, pikirnya.

"Biasanya rombongan pukul empat sudah ready, Mbak. Mendakinya nggak lama, sih. Paling cuma lima belas menit," ibu pemilik losmen menemani Rania yang tengah menyeruput teh panas di lobi yang juga berfungsi sebagai warung. Sebelah tangannya sibuk membenarkan posisi kamera yang akan ia bawa, senjata ampuh saat melakukan perjalanan.

Wanita itu tersenyum, menyisakan lesung di kedua pipinya. "Oh, ya? Cukup dekat berarti," Rania manggut-manggut. "Tapi saya nggak ngejar golden sun, Bu. Saya hanya pingin refreshing. Di Surabaya jenuh," sambungnya.

Bagi sebagian besar orang, yang dicari saat mendaki gunung adalah golden sun, matahari pertama. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mengabadikan momen dengan menyaksikan matahari terbit. Satu harapan baru timbul. Tapi bagi wanita Leo, Rania, menikmati ciptaan Tuhan tidak melulu melalui matahari terbit. Karena berada pada puncak gunung dengan pemandangan alam lepas pun sudah menghangatkan perasaan, menghilangkan stres.

Ibu pemilik losmen tersenyum. "Kebanyakan wisatawan begitu. Ke Dieng untuk menghilangkan jenuh di kota. Dan balik kalau jenuh lagi."

Rania tertawa. "Mungkin saya juga begitu, Bu," sahutnya mengamini. Terdengar deru motor mendekat ke losmen, ia pun bergegas, berpamitan. Ojeknya datang.

Perjalanan dari losmen ke desa wisata Sembungan sekitar 7,2 kilometer. Jarak yang sebenarnya cukup dekat jika ditempuh dengan jalan kaki. Sayangnya, Rania tidak berminat menyusuri jalanan seorang diri di pagi buta. Hawa dingin menusuk tulang, tapi tak sampai membuat giginya bergemelutuk. "Dieng ini seru sekali, ya, Pak?" ia membuka percakapan dengan tukang ojek. Bukan tipikalnya kalau ia hanya diam jika bertemu dengan orang baru. Gatal di mulut, katanya.

Tukang ojek bernama Nyoto itu pun mengangguk. "Ya. Banyak wisatawan yang ketagihan ke sini, Mbak. Katanya, Dieng menenangkan. Mbak tahu, kan, kalau Dieng, tepatnya di Desa Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa? Di sini tempat persemayaman dewa Sang Hyang Di." obrolan pun mengalir layaknya teman lama. Rania bertanya, Pak Nyoto menjawab, kadang sebaliknya. Pak Nyoto juga bercerita tentang anak gimbal yang khas dari pegunungan Dieng. Dingin pagi itu seketika menguap. Rania mendapatkan banyak info. Ternyata, Pak Nyoto bukan sekadar tukang ojek biasa, tapi juga guide yang dalam pendakian. Ia selalu menawarkan jasa guide tanpa imbalan jika wisatawan memang membutuhkannya. Prinsipnya, jangan sampai wisatawan kecewa dan tidak kembali lagi ke Dieng.

Bicara soal kecewa, Rania teringat Rama. Berapa kali pun lelakinya mengecewakan, berapa kali pun ia memaafkan. Seperti ada yang salah dalam hubungannya. Namun, ia enggan membuka. "Bapak kenapa nggak pingin wisatawan kecewa? Bapak nggak rugi, ngojek bonus jadi guide begini?" tanya Rania sambil memerhatikan jalan setapak pendakian. Tekstur jalan yang sedikit basah akibat embun mendominasi membuatnya harus berhati-hati.

Di belakangnya, Pak Nyoto tertawa kecil. "Gampang saja, Mbak. Kalau saya bikin kecewa pengunjung, nanti saya makan dari mana? Kan, saya dapat uang dari pengunjung kayak mbak begini. Saya juga pingin punya banyak teman dari lokasi berbeda-beda, Mbak. Kalau saya mengecewakan, apa mungkin Mbak Rania merekomendasikan saya ke teman-temannya?" Pak Nyoto menjelaskan. Rania manggut-manggut sambil mengatur napas.

Kontras sekali dengan Rama dan dirinya. Dua tahun menjalin dan kekecewaan mendominasi hatinya. Seolah selalu ada pintu maaf untuk lelaki terkasihnya. Rama yang khilaf nyaris berselingkuh, ia maafkan. Rama yang melupakannya karena terlalu sibuk pada pekerjaan, ia maafkan. Rama yang perfeksionis dan sering memaksanya untuk tampil anggun di depan umum, ia turiti dan maafkan. Apa itu salah? Bukankah itu cinta?

Sembari mendaki, Rania menekuri langkah-langkah kakinya. Ia berpikir keras tentang kecewa. "Pak Nyoto pernah bikin kecewa pengunjung?" tanyanya akhirnya. Siapa tahu, Pak Nyoto mau berbagi tentang rasa kecewa. Tentu, itu akan menjadi bonus untuknya.

"Mepet sebelah kanan ya, Mbak." ayah dua anak itu mengingatkan agar saya tidak terlalu ke kiri, tempat jurang berada. Rania menuruti.

"Kalau kata orang, karma itu ada. Kalau kata saya, dunia itu dipenuhi hukum timbal balik. Sekali saya mengecewakan, bisa berkali-kali saya dikecewakan. Impas. Semudah itu logikanya, Mbak. Tapi, yang namanya manusia, tempatnya salah dan lupa. Meskipun saya berusaha agar tidak mengecewakan, siapa tahu ternyata masih ada yang kecewa? Kecewa, kan, masalah hati, Mbak." Kalimat Pak Nyoto masuk akal. Rania kian terpekur.

"Mbak Rania ada masalah dengan kekecewaan?" tanpa tedeng aling-aling, Pak Nyoto bertanya. Membuat langkah wanita galau itu terganggu.

Dengan senyum tipis ia membalik badan. "Bukankah setiap orang, sengaja atau tidak, pasti pernah mengecewakan dan dikecewakan, Pak?"

Puncak Gunung Sikunir sudah tampak. Matahari baru sedikit berkelana, menunjukkan cahaya keemasan miliknya. Rania tersenyum memandang puncak. Hatinya mencelos lega. Alam bukan hanya urusan matahari terbit dan tenggelam. Tapi alam adalah persoalan menikmati dengan seluruh panca indra yang ada, juga hati. Menikmati alam bisa saja untuk refleksi kehidupan.

"Tapi saya tahu, Pak, sampai pada titik mana saya harus berhenti mau dikecewakan," sahutnya dengan senyum terkembang. "Karena saya tahu, saya berhak bahagia."

2.263 meter di atas permukaan laut Rania berada. Bersama riuh tepuk tangan pengunjung yang tidak begitu banyak. Lewat alam, mata hati bisa berbicara. Betul kata orang, alam adalah inspirasi terbesar kehidupan. Rania tahu, setiap manusia memiliki batas masing-masing. Termasuk batas toleransi. Kenyamanan, kesabaran, kemampuan, dan segala hal, ada batasnya. Karena sejatinya hanya Tuhan yang tidak memiliki batasan.


Friday, November 15, 2013

Di Balik Serunya Menjadi Single Tracker

Saya sedang suntuk di bis sejak pukul 9 pagi tadi meninggalkan Dieng. Sampai sekarang, pukul 19, saya masih di bis menuju Surabaya setelah oper bis lima kali. Iya, untuk ke Surabaya harus rela berganti bis sebanyak itu dari puncak Dieng. Bisnya: Dieng-Perempatan Njuritan, Wonosobo; Perempatan Njuritan, Wonosobo-Terminal Wonosobo; Wonosobo-Magelang; Magelang-Jogja; Jogja-Surabaya. Sebenarnya, dari Magelang ada bis langsung menuju Surabaya, hanya saja ada di jam tertentu. Yakni pukul 10 dan 15 saja. Berhubung saya sampai Magelang pukul 12.15 jadi mau tidak mau saya harus ke Jogja. Dari Jogja-Surabaya kebetulan tiket kereta habis, jadi bis benar-benar pilihan menyehatkan. Halah.
Perjalanan kali ini, saya kembali menjadi seorang single tracker. Semi single tracker, tepatnya. Mengambil jatah cuti tiga hari plus hari libur, saya berangkat dari Surabaya Senin malam pukul 22. Setelah perjalanan ngebut benjutnya Sumber Slamet, saya sampai Jogja pukul 5 Selasa pagi dilanjutkan menuju MM UGM, tempat saya nebeng di kosan Itak--teman kuliah--dengan Trans Jogja trayek 3B. Sejak menginjakkan kaki di Jogja, saya sempat khawatir TransJ mogok lantaran hari Senin didemo oleh ratusan PO lain yang menolak rencana pemerataan armada di sekitar Jogja menggunakan TransJ. Artinya, bis mikro lain dilarang beroperasi selain TransJ. Kabar yang saya baca, terminal lumpuh. Beruntung, Selasa pagi itu TransJ kembali beroperasi dan saya mendapat bis pertama.
Saya tidak akan bercerita banyak hal tentang perjalanan kali ini. Karena akan ada tulisan tersendiri. Di sini, saya hanya akan menyorot bagaimana rasanya menjadi seorang single tracker amatir dari kaca mata saya. Mungkin, ada banyak hal yang memang harus saya pelajari dengan menjadi seorang pejalan tunggal. Banyak hal.
Kurang dari seminggu merencanakan perjalanan, selama itulah saya berpikir bahwa saya kembali akan menjadi seorang pejalan tunggal. Sebab, dua teman saya membatalkan niatnya untuk ikut. Tak apalah, pikir saya. Toh, di Jogja nanti akan ditemani Itak meski hanya sehari, saat ke Gunung Kidul.
Jogja dua hari, Dieng dua hari, sehari ditemani Itak. Artinya, selama tiga hari saya akan jalan-jalan sendiri. Selama itu, apa yang menjadi rencana saya semuanya berhasil terlewati dengan baik. Maksudnya, keberadaan saya untuk refreshing benar-benar tidak terhalang apapun. Semuanya lancar, Alhamdulillah. Sejak Selasa malam, setelah seharian berkeliling di Utara Jogja, saya merenungi apa saja yang telah saya lakukan hari itu. Nyaris semuanya sempurna. Saya bertemu orang baru yang selalu banyak membantu, tempat baru yang ramah, dan cuaca bersahabat. Apalagi yang kurang? Saya jadi berpikir, apa yang kita lakukan pada alam, lingkungan, dan sosial, pasti akan berbalik pada diri sendiri.
Saya paham, saya seorang diri berjalan ke sana ke mari. Berbekal petunjuk, map, dan tanya sana-sini, saya bisa sampai di tempat tujuan. Tapi, apakah akan begitu jika saya tidak berlaku wajar di tempat orang? Saya pikir sulit.
Menjadi pejalan tunggal, saya merasakan keegoisan dan sifat mendominasi saya menguap. Saya memahami, jika tengah berjalan dengan siapapun, saya akan cerewet, banyak omong, ngomel, dan berkomentar kurang penting. Tapi dengan menjadi pejalan tunggal, meski saya masih ngomel ke diri sendiri, setidaknya saya bisa menahan emosi dan lebih memilih untuk diam. Sayangnya, hal ini tidak berlaku saat saya nyasar di Jogja malam-malam dengan kondisi badan pegal, ngantuk, lapar, pms, plus sinyal Axis lelet, saya emosi jiwa raga. Tapi detik itu juga saya paham, memangnya apa untungnya saya ngomel di kota orang? Kenapa saya tidak lebih menikmati? Toh, nyasar adalah makanan sehari-hari saya di Surabaya. Kenapa?
Menjadi pejalan tunggal, memaksa saya untuk tidak bodoh dan buta informasi. Sesering mungkin, saya mengulik informasi tentang tempat tujuan. Simpel saja, biar saya tidak dibodohi dan agar saya menyimpan banyak informasi penting yang bisa ditanyakan sewaktu-waktu pada orang lain. Menjadi pejalan tunggal, saya tahu, sombong dan angkuh harus dijauhkan. Karena tentu sewaktu-waktu saya butuh bantuan. Lagian, di mana saja sombong kurang bermanfaat juga, ya.
Alam, lingkungan, sosial. Perjalanan kali ini komplit. Saya ke pantai, gunung, dan museum. Di tempat yang berbeda, saya menemukan hal yang berbeda. Di gunung, saya belajar untuk sadar diri. Di antara kepungan gunung, saya menjadi tahu bahwa saya tidak berdaya. Gunung Sindoro, Pakuwojo, Sumbing, Sikunir, Slamet, dan yang lain adalah milik Allah. Sementara saya? Hanya secuil di antara kokohnya ciptaan Tuhan yang membentang. Di pantai, saya belajar mencintai perjalanan dan proses. Butuh waktu dua jam untuk mencapai Gunung Kidul dari Jogja dengan motor. Tapi semuanya terbayar lunas ketika lagi-lagi keindahan ciptaan Tuhan terpapar di depan mata. Artinya, akan ada buah manis dari sebuah perjalanan, yang penting sabar dan usaha tidak lepas. Di museum, saya belajar menghargai masa lalu. Membaca dan mendengar rentetan kejadian masa lalu membuat saya sadar, waktu lampau menjadi pembelajaran untuk masa sekarang. Dari ketiga tempat itu saya simpulkan banyak hal. Bahwa, menjadi pejalan tunggal bukan hal yang mudah. Menjadi sabar, bersosial, menghilangkan ego, mengerti dan memahami diri sendiri adalah tujuan yang saya butuhkan saat ini.
Menjadi pejalan tunggal membuat saya banyak merenung. Bahwasanya, selama ini saya jauh dari hal yang bisa membuat orang nyaman. Tapi dari alam, lingkungan, dan sosial saya belajar. Bahwa menjadi pejalan tunggal harus banyak baca, banyak tanya, banyak sopan, banyak introspeksi, banyak doa, dan banyak syukur. Mungkin, seperti inilah cara Tuhan mengajarkan saya untuk bisa menjadi individu yang lebih baik. Ingat saja, apa yang saya lakukan di alam, lingkungan, dan sosial pada akhirnya akan berbalik melakukan hal serupa pada saya. Saya tahu, Tuhan selalu punya maksud di balik apa saja yang terjadi. Pasti.

Thursday, November 7, 2013

Can I Walk With You?

Sial, setelah berhasil menenangkan diri sendiri, malam ini goyah juga pertahanan saya. Nggak, nggak, bukan galau, tapi sekadar ingat saja. Ceritanya, malam ini sedang nganggur berat, buka Plurk langsung tertarik sama tretnya Mbak Rus, gegara apal betul sama apa yang ditulis. Sialnya lagi, beberapa hari sebelumnya, Mbak Rus menulis tret dengan lagu yang isinya sama persis dengan kondisi saya beberapa waktu lalu. Yaa intinya, lagu-lagu pengharapan, sih. Salah satunya lagu milik India.Arie yang mulai saya kenal saat kelas 2 SMP--sepuluh tahun lalu--yang berjudul Can I Walk With You. Coba cek liriknya, siapa tahu merasakan hal yang sama--sama-sama merasa mengharap tapi nggak mungkin lagi :p.

I woke up this morning you
were the first thing on my mind
I don't know were it came from
all I know is I need you in my
life, yeah

You make me feel like I can be a
better woman
If you just say you wanna take
this friendship to another place

[Chorus:]
Can I walk with you through
your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend 'till the end
Can I walk with you through
your life (fades away)

You've got me wondering if you
know that I am wondering
about you.
This feeling is so strong that I
can't imagine you're not
feeling it too.
You've known me long enough
to trust that I want what's best
for you.
If you want to be happy then I
am the one that you should give
your heart to.

[Chorus]
Now everyday ain't gonna be
like the summers day.
Being in love it really ain't like
the movies screen.
But I can tell you all the drama
aside you
And I can find what the worlds
been looking for forever.
Friendship and love together.

[Chorus]
Can I walk with you in your life?
Till the day that the world stops
spinning.
Can I walk with you in your life?
Till the day that my heart stops
beating.
Can I walk with you in your life?
Can I walk with you
Till the day that the birds no
longer take flight
Till the moon is underwater
Can I walk with you
Can I walk with you
This is the moment I've been
waiting for

Can I walk with you
Can I walk with you
Can I walk with you
You are everything I've been
looking for

Can I walk with you
Creative intellectual
Can I walk with you
Can I walk with you as your wife

Gimana? Liriknya oke, kan? Haha. Cukup ngena, ya, buat siapapun yang sedang dalam penantian. Sayangnya, saya mulai tahu dan paham posisi. Jadi, selamat berteman! :p

PS. Mbak Rus nggak kereeeenn!! :))))

Tuesday, October 29, 2013

Satu Tahun Menjadi Bagian dari Pekerjaan yang Diidamkan

Hari ini, tepat satu tahun saya menjadi bagian dunia yang dulunya hanya menjadi cita-cita saja, media. Tepat tanggal ini, satu tahun lalu, saya memulai pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan background pendidikan saya. Dunia media, tidak pernah saya pelajari di ruang perkuliahan. Tidak pernah saya baca di diktat kuliah. Apalagi di laboratorium. Sama sekali tidak pernah. Hanya saja, perkuliahan mewarisi kebiasaan menulis yang menjadi tugas pokok dari seorang jurnalis. Beruntung, kebiasaan menulis (dengan tangan :p) sedikit didukung oleh hobi menghayal atau olah kata. Jadinya, beradaptasi dengan gaya penulisan televisi lumayan sedikit cepat.

Berbeda dengan belajar kamera tangan dan video. Saya buta. Tidak mengenal sama sekali apa itu angle dan macam-macamnya. Saya hanya mengenal jenis pengambilan gambar untuk berita adalah cut to cut atau hanya seputar long-medium-close up-ekstrem close up dengan durasi minimal tujuh detik perscene. Ternyata salah. Ya, memang cut to cut, namun permainan seni pengambilan gambar justru paling urgent. Pemirsa akan bosan jika pengambilan gambar monoton. Saya pun demikian saat memposisikan diri sebagai pemirsa. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk belajar soal teknik pengambilan gambar. Beruntung, lingkungan kerja yang komunikatif dan saling mendukung membuat saya cepat tanggap dan tahu apa yang harus saya lakukan.

Seorang teman editor memberi video teknik pengambilan gambar yang sangat berguna bagi orang buta kreasi macam saya. Video tersebut berisi beragam jenis teknik pengambilan gambar yang saya putar berulang-ulang. Saya yakin, kalau saya pasti bisa memainkan otak kiri untuk berkreasi. Saya masih ingat betul kalimat pimred yang memastikan saya pasti bisa memainkan kamera tangan. "Satu bulan cukuplah belajar kamera." Jelas, saya terpacu. Kapan lagi saya belajar kalau tidak sekarang? Toh, bekerja adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan. Mulanya, saya memang takut. Tapi lagi-lagi saya beruntung ditemukan dengan orang-orang keren dan penuh dukungan. Berkali-kali teman-teman baru memberikan pengetahuan soal gambar tanpa sesumbar sedikit pun. Dan saya sangat senang dengan lingkungan seperti itu.

Tiga hari tandem, hari keempat saya dilepas. Saya cenggo berat. Topik liputan pertama saya soal BBM dengan narasumber Menteri BUMN. Meh. Saya depresi berat pagi itu. Saking depresinya karena grogi, ternyata saat wawancara saya tidak menekan tombol record. Detik itu juga, rasanya pingin nabrakin diri ke tembok. Secara, siapa Menteri BUMN? Siapa pemilik media tempat saya bekerja? Omelan petinggi kantor pun berputar-putar di kepala. Tapi, sejak kejadian itu, saya memilih untuk semakin banyak bertanya pada editor dan teman sesama reporter. Saling sharing, berbagi. Banyak ilmu yang saya dapat hingga saya sedikit memahami uniknya dunia baru ini.

Sebagai jurnalis, setiap harinya, saya diharuskan menyetor dua berita, minimal. Hal ini tentu menyulitkan untuk saya, anak baru. Belum banyak punya teman jurnalis, apalagi dapat agenda peliputan? Setiap hari saya memelototi website, browsing mencari ide peliputan. Saat itu, saya ditemani oleh jurnalis yang sama baru dari media cetak satu grup, Fikri. Bersama Fikri, saya merasakan betul bagaimana rasanya menjadi bagian baru dari media. Saya ingat sekali, membuka link sangat sulit. Berkenalan dengan orang baru lalu diajak janjian untuk diliput, benar-benar sangat-sangat sulit. Tapi saya tanamkan pada diri, bahwa inilah seninya jurnalis. Penuh tantangan.

As time goes on, satu tahun berada di sini, saya masih merasakan bagaimana hangat dan bersahabatnya lingkungan kerja internal. Saya nyaman, bukan berarti saya merasa aman. Saya tetap waspada. Waspada pada apa saja yang mungkin tidak saya duga terjadi ;)).

Satu tahun di dunia media, saya mulai merasakan enjoy. Selain karena sudah berhak mendapat cuti :p, saya juga senang mengambil beragam pelajaran dari orang-orang baru. Tentang bagaimana sikap, watak, dan karakternya, serta macam-macam hal unik dan kreatif di sekitar. Satu tahun menjadi jurnalis, saya mulai terbiasa untuk menghapal jalanan Surabaya--hal yang saya nantikan dari zaman kecil. Menjadi bagian kecil dari media, tentu saya mempunyai peran besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyajikan berita berkualitas dan bermutu agar masyarakat paham dinamika kehidupan yang ada. Menjadi bagian dari dunia pertelevisian, semoga saya bisa memilah angle kehidupan yang baik bagi saya dan orang lain. Semoga saya tetap berkomitmen. Amin.

PS. Terima kasih untuk Mbak Nora yang mengenalkan saya pada dunia media dan lapangan, ayo makan-makan!; Mas Panji SBO untuk kuliah singkatnya; Mbak Rizqi untuk waktu sharing kegalauan di dunia baru; Fikri untuk waktu-waktu awal; teman-teman kantor yang komunikatif; dan teman-teman jurnalis lain.


Sunday, September 29, 2013

Aku, Kamu, dan Sunrise Gunung Bromo

"Serius?" aku membelalakkan mata, tidak percaya. Gimana nggak? selama ini aku hanya bisa membayangkan menikmati panorama matahari terbit di gunung Bromo. Tapi sekarang, Nemo justru mengajakku turut dalam perjalanannya.

Aku tahu, ini bukan kali pertamanya ke Bromo. Tapi mengajakku untuk ikut serta, berdua saja, kurasa memang baru kali ini.

Aku tersenyum lebar masih tidak percaya. Sementara Nemo hanya mengangguk-angguk yakin, menantangku untuk benar-benar ikut. "Tapi kamu tahu, izin ayah dan ibu nggak mudah didapat," buru-buru aku kecewa. Mulutku mengerucut.

Nemo. Sebenarnya namanya bukan Nemo, tapi Bara. Nemo adalah panggilan yang kuberikan saat kami menonton Finding Nemo berdua di rumahku saat usia kami baru berusia 13 tahun. Begitu imut dan lucunya Nemo, membuatku langsung terinspirasi untuk memanggil Bara dengan sebutan itu. Alasan lainnya, hanya karena saat itu fisik Nemo dan Bara adalah sama, kecil--lebih kecil dari pada aku. Tapi itu dulu, jangan tanya sekarang. Dia kini tumbuh tinggi dengan postur kurus jangkung. Dia adalah sahabatku sejak kecil.

Sejak kami saling mengenal, aku sering bahkan selalu menghabiskan waktu berdua. Sampai sekarang, dua puluh tahun pertemanan kami. Uniknya, meski kami saling mengenal dan dekat satu sama lain--sebagai sahabat--ayah dan ibuku tetap tidak bisa begitu saja percaya jika aku pergi berdua dengan Nemo. Mereka khawatir denganku. Aku paham itu. Sebagai anak tunggal, mereka memang terlalu protektif.

Nemo tersenyum menenangkan. "Tenang aja, semua izin sudah didapat. Kamu tinggal berangkat bareng aku. Mau nggak, sih?" dia memancing, satu hal yang paling aku benci saat dalam kondisi dilema.

Aku terdiam. Menyaksikan lalu lalang orang di depan kedai kopi langgananku. "Memangnya kapan kamu izin pada ayahku?" aku bertanya cepat, penasaran.

Dia tersenyum. "Rahasia. Yuk, pulang, kubantu packing." Nemo meraih tanganku, mengajakku pulang meninggalkan bangku sevel. Aku mengikutinya.
***

Dua puluh tahun bersahabat dengannya, baru kali ini Nemo berani mengajakku pergi ke luar kota berdua saja. Biasanya, kami pergi ramai-ramai bersama teman-temanku atau teman-temannya. Ya, kalian pasti tahu, orang tua mana yang akan ikhlas anaknya diajak jalan berdua oleh sahabatnya sekalipun. Namanya lawan jenis, bagaimanapun statusnya, apapun bisa saja terjadi. Makanya, aku heran, memangnya dia izin apa pada ayahku?

Aku memerhatikan Nemo mengemas apa saja yang perlu dibawa untuk cuaca dingin Bromo. Jaket berbahan polar, topi, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu dengan tutup sempurna. Untuk ukuran lelaki, dia tergolong taktis dan praktis terlihat dari bagaimana dia mengemas perlengkapanku. Pikiranku melayang-layang masih tidak percaya.

Puk-puk! Dia menepuk-nepuk backpack yang akan kubawa serta. "Beres. Nanti malam jam sebelas kujemput. Jangan lupa pakai kaus dan celana non-jeans untuk memudahkan pergerakan," Nemo mengingatkan diiringi seringai senyum.

Aku manyun. "Cerita dulu, deh, gimana bisa kamu dapat izin," tanganku menarik lengannya, mencegahnya pergi.

Dia tertawa. "Di penanjakan, kamu akan tahu alasannya," sahutnya seraya berlalu dari kamarku. Kebiasaan sok misterius.
***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Nemo datang sesuai janjinya. Tidak biasanya ayah dan ibu terlihat santai begitu tahu anaknya akan bepergian berdua dengan lawan jenis ke luar kota. Sejauh ini, aku dan Nemo memang sering bepergian berdua, tapi di sekitar Surabaya saja. Entah menonton bioskop, konser, atau sekadar ngopi.

Aku masih tidak mengerti dengan kode yang saling mereka lemparkan. Sambil tetap memasang wajah penasaran, aku menyambut Nemo. "Ini beneran berdua aja? Nggak ada yang lain?"

Serius, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di depanku.

Nemo tertawa, lalu berpamitan ke ayah dan ibuku membuatku melongo. Baiklah, untuk ukuran loading, otakku memang terkenal lama. Susah tanggap. Tapi bukan berarti aku tidak paham dengan apa yang dilakukan Nemo adalah hal yang langka dan aneh. Tentu saja aku paham. Tapi kok...? Ah, sudahlah. Mungkin di perjalanan dia akan bertutur banyak soal trip aneh kali ini.
***

Aku mengenal Nemo sama seperti aku mengenal diriku sendiri. Impulsif, ramai, kadang aneh, dan punya selera humor yang sama-sama lumayan. Hanya bedanya, dia lebih susah ditebak. Kontras denganku yang mudah ditebak apa mauku, apa tujuanku, semuanya. Kata banyak orang, itulah gunanya persahabatan. Saling melengkapi.

Perjalanan menuju Bromo ditempuh via Nongkojajar, Pasuruan. Aku duduk di sebelah Nemo dengan kondisi saling diam membisu sibuk dengan pikiran masing-masing. Bukan, lebih tepatnya, aku menahan kantuk. Kurasa, Nemo tahu bahwa aku paling tidak bisa menahan kantuk lewat dari pukul sebelas malam. Ya, lagi-lagi itulah gunanya persahabatan, saling tahu kondisi dan kebiasaan masing-masing.

"Mo, ini perlu ditemenin ngobrol atau kamu mengikhlaskan diri kutinggal tidur? Aku ngantuk." Aku membuka suara. Terdengar parau pertanda kurang tidur. "Memangnya perjalanannya butuh berapa lama lagi?"

Dengan diiringi lagu dari radio, lelaki di sebelahku tersenyum santai sambil mengangguk. "Tidur aja. Aku berani kok."

Errr. Aku mengerong dalam hati. Maksudnya berani apaan coba? Tanpa menunggu lama, aku membetulkan jaket, mencari posisi pas untuk tidur. Semoga bisa mimpi indah.
***

Penanjakan pagi itu cukup ramai. Padahal jam baru menunjukkan pukul tiga pagi. Weekend menjadi pilihan wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung. Udara musim kemarau yang dingin cukup membuat bulu kuduk meremang. Sambil menahan dingin, wisatawan berbondong-bondong mencari tempat strategis untuk menyambut matahari terbit. Kabarnya, view yang didapat sangat memukau.

Aku masih setengah sadar dengan semua keramaian yang ada. Setelah memarkir mobil, berganti jeep, dan tandem dengan rombongan lain, sampai di penanjakan nyawaku seolah masih melayang. Maklum saja, jam tidur terganggu.

Mulutku terbuka lebar-lebar, menguap, saking ngantuknya. Nemo tertawa kecil. "Ngantuk ya? Sabar aja, habis ini pemandangannya seru sekali. Nggak rugi sama dinginnya udara." ujarnya menenangkan. Sementara aku cuek tidak peduli, masih fokus dengan rasa kantuk.

"Eh, mau kopi?" Nemo bergegas kembali turun menuju warung kopi. Aku mengikuti.

Di sepanjang jalan menuju penanjakan, ada kedai berjejer rapi. Isinya jelas menjual minuman dan makanan hangat, ditambah suvenir. Aku tidak tertarik. Kubilang juga apa, aku lebih fokus dengan rasa kantukku. Tapi Nemo tidak peduli, meski aku abai, dia tetap membelikanku secangkir kopi panas dengan asap mengepul.

Sejujurnya, sebenarnya yang membuat aku penasaran dengan Bromo adalah adat dan kebudayaan Suku Tengger. Menurut kisah yang beredar, Suku Tengger memiliki keunikan tersendiri. Seperti selalu memakai sarung dan merasa kurang percaya diri jika tidak memakainya. Atau juga berbangga hati menjadi bagian dari Suku Tengger dengan menanam dan mengkonsusmsi hasil bumi yang ditanam di sekitar. Ya, aku tahu, kebanyakan suku di Indonesia kurasa memang begitu. Tapi menilik lebih dekat Suku Tengger, tidak ada salahnya juga, kan?

Jarum jam berdetak kian cepat. Secepat wisatawan yang kian ramai berkumpul di sisi pagar penanjakan. Tidak terkecuali kami.

"Tahu nggak, Na, sebenarnya penanjakan itu tempat apa?" Nemo melempar tanya ketika kami berada di salah satu sisi pagar tepat menghadap Bromo.

Aku terdiam. Pandanganku beralih pada wisatawan yang berjejer. "Tempat melihat sunrise," sahutku dengan senyum lebar. Aku yakin sekali.

Lelaki di depanku tertawa, mengacak-acak rambutku kasar. "Betul. Tapi yang terpenting, penanjakan adalah tempat di mana permaisuri kerajaan Majapahit, Rara Anteng dan brahmana Joko Seger bertemu sebelum akhirnya menikah dan mempunyai keturunan berupa Suku Tengger." Nemo tersenyum menjelaskan, membuat seketika tersenyum lebar. Tuh, kan, dia memang susah ditebak. Aku bahkan baru sekarang tahu ceritanya.

Tanganku spontan memukul lengannya. "Serius, Mo? Kamu tahu banyak soal Suku Tengger?" aku bertanya antusias. Rasa kantukku hilang berganti dengan penasaran.

"Ya, nggak lebih banyak dari aku tahu kamu-lah, Na." Nemo nyengir kuda seraya menjulurkan lidah. Dasar.

"Eh, mayoritas mereka bercocok tanam, berkebun, dan..." aku memutar bola mata, berpikir. "berwirausaha?"

Sahabatku Nemo lagi-lagi tersenyum. Obrolan kami mengalir seperti biasanya. Kami saling menimpali, hingga lupa dengan sekitar. Layaknya persahabatan yang sudah lama terjalin, apapun topik pembicaraannya membuat kami lupa keadaan. Gemuruh riuh tepuk tangan dari sekitar justru menyadarkan kami bahwa kami berada di tengah-tengah wisatawan. Matahari terbit, mereka bertepuk tangan, sesekali menyeringai.

Nemo menatapku serius. Seulas senyum tipis disunggingkan. "Kamu tahu, Na? Matahari terbit adalah simbol adanya sebuah pengharapan baru. Setiap harinya, setiap paginya, bumi berotasi, mengingatkan makhluk bumi bahwa harapan pada apapun masih ada."

Aku tertawa lebar, mengamini kalimat Nemo. "Ya. Aku tahu. Yang membedakan orang hidup dan mati selain napas adalah harapan."

"Matahari di Bromo indah. Seindah harapanku pagi ini." Nemo mengangkat kameranya, mengarahkan moncong kamera tepat pada bidikan sunrise di balik Bromo.

"Oh, ya? Apa harapanmu pagi ini, Mo?" Aku mengangkat alis. Harapan, mimpi, dan kenyataan yang kami utarakan tidak pernah luput satu sama lain.

Klik! Kamera berpindah posisi, menangkap bayanganku dalam siluet. Masih dalam riuh wisatawan di sekeliling kami, Nemo berujar serius. "Bisa menikmati secangkir kopi panas denganmu." tangannya menggeser kamera, menunjukkan hasil jepretannya padaku. "Dan selayaknya awal mula kisah Suku Tengger."

Siapapun boleh berharap. Termasuk Nemo. Tapi harapanku pagi ini adalah, semoga dia tidak tahu bahwa jantungku berhenti berdetak detik itu juga.
***

Festival Majapahit Internasional 2013

Peserta dari sembilan negara.

Sebenarnya saya hanya mendapat tugas meliput preskon Festival Majapahit Internasional 2013 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, bukan saat acara berlangsung. Karena saat acara mulai, sudah ada tim kantor yang meliput khusus. Tapi, karena kangen melihat pertunjukan sendratari, akhirnya saya ikut berangkat bersama rombongan jurnalis dan beberapa panitia ke Taman Chandrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan, sepulang jam kerja.

Festival Majapahit Internasional 2013 sendiri merupakan festival internasional serupa kedua yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim setelah vakum 32 tahun dan diikuti oleh sembilan negara Asia. Seperti Laos, Thailand, Malaysia, India, Singapura, Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Acaranya berlangsung tiga hari berturut-turut, 11-13 September 2013 lalu. Dibuka dan disaksikan langsung oleh perwakilan duta besar di Jatim, pembukaan acara ini berlangsung sangat meriah. Ada sekitar sepuluh ribu pengunjung memadati Chandrawilwatikta yang tidak dikenakan biaya sepeser pun. Ini yang membuat saya bangga. Acara besar berskala internasional, dihadiri banyak tamu besar, masyarakat tidak dipungut biaya. Nonton sepuasnya, sebosannya.

Acara dimulai pukul 19.30 dengan tarian pembuka dari perwakilan sembilan negara peserta festival. Serius, saya benar-benar terpukau dengan serentetan gerakan tari yang ditarikan puluhan penari pembuka. Saat itu saya berkeyakinan bahwa pasti ada yang lebih menarik dari tarian pembuka. Dan saya tidak salah. Setelah tarian pembuka, peserta dari India menampilkan sendratari kisah Sita dan Rama, Ramayana.



Penampilan asal India.

 Gemuruh pengunjung membuat saya excited. Siapa yang tidak mengenal India? Tentu semua kenal dan bergembira, mengingat hampir sebagian besar penduduk Indonesia menyukai dangdut dan musik India, ngaku? :p. Sayangnya, karena sedari awal saya mengenal film India dan sudah takut melihat om-om brewok, maka settingan panggung dan backsound yang dibuat total India membuat saya merinding. Make up Rahwana dan Rama persis dengan yang ada di buku-buku, menakutkan. Padahal, sendratarinya seru sekali. Diiringi tari-tarian khas India, malam itu saya terhibur.

Pascatarian India, Kamboja menjadi peserta kedua yang menarikan tarian yang saya lupa judulnya apa. Yang jelas, menarikan masa kejayaan kerajaan Ramayana. Dibandingkan dengan India, tarian kedua lebih krik-krik, mungkin karena tidak banyak masyarakat tahu menahu soal kisah yang dipaparkan. Tapi secara total, tetap memukau.


Penampilan asal Kamboja.

Masing-masing peserta mendapatkan jatah tampil selama tiga puluh menit. Tidak terkecuali Indonesia. Dari tiga pertunjukan tiga negara yang disuguhkan, sejujurnya saya begitu bangga dengan tarian yang dibawakan para penari asal STKW. Sekitar dua ratusan penari perwakilan Indonesia menari dengan sangat apik. Berkali-kali saya dan puluhan ribu penonton lainnya bahkan berdecak kagum saking terpesonanya. Membawakan kisah kerajaan Majapahit di bumi Jawa Timur, ternyata, Indonesia begitu kaya. Percayalah, apa yang ada di bumi Indonesia adalah milik kita yang harus dilestarikan. Di akhir cerita, Hayam Wuruk menyisipkan pesan agar rakyat menjaga kelestarian hutan untuk kelangsungan hidup anak cucunya. Di festival ini, Indonesia menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan sendratari Majapahit sesuai temanya. Seru, keren, terpukau, dan masih tidak percaya melihat ratusan penari menari dengan kompak dan rancak. Melihat sendratari ini, saya langsung sadar, bahwa sesungguhnya Indonesia memang sangat kaya akan budaya, adat, dan keindahan yang beragam. Sure, I'm proud to Indonesia.

 




Indonesia diwakili STKW Surabaya.