Friday, March 29, 2013

Empat

Dor!

Aku menoleh sekilas pada sosok lelaki yang tengah berdiri di depanku, kini. Ada perasaan senang karena memiliki teman menyendiri. Serius, pekerjaan hari ini hampir membuatku gila. Bayangkan saja, aku harus mengejar iklan dari jam 7 pagi di wilayah Selatan Surabaya, langsung maraton ke Utara, lalu ke Barat, dan terakhir Pusat. Bukannya capek, karena memang saat di lokasi peliputan selalu menyenangkan. Yang jadi masalah adalah naik motornya. Jauuuh!

"Ngelamunin siapa, Ka?" Yayan mengambil duduk tepat di hadapanku. Tasnya diletakkan di bangku kosong di sisi kanannya. "Udah pesan makan?" Aku masih mengamati gerik Yayan yang baru datang. Belum juga pertanyaan pertamanya kujawab, sudah main lempar tanya ke pertanyaan selanjutnya. Kebiasaan.

"Nungguin mas kameramen tivi sebelah, ya, Ka?" Tanpa menunggu jawabanku, Yayan terus berceloteh. Celotehan terakhirnya seketika membuatku mendengus, menghela napas berat. Selalu saja tertebak.

"Kalau suka orang tuh, nggak bisa kalau jalan di tempat aja, Ka. Kudu maju, bukan lihat punggung dari kejauhan. Nggak bakal kelihatan," Yayan memainkan ponsel pintarnya. Telunjuk dan jempolnya dimainkan, menjepit layar, membaca satu persatu email yang mampir. Aku belum tertarik menanggapi kalimatnya meski beberapa kali dengusan terdengar berat.

"Kamu sudah pesan makan belum, Ka? Aku lapar," aku tahu, Yayan bukan tipikal orang yang bisa menahan gejolak yang ada di dalam dan luar tubuh. Beda jauh denganku yang sering dan selalu menutup segalanya sendiri, kecuali kalau memang ada yang harus diceritakan. Pada siapa lagi kalau bukan ke Yayan?

Aku mengangguk, kemudian menggeleng. "Tadi udah, sih. Tapi sekarang lapar lagi. Aku mau paket biasa tapi ayamnya dada, ya. Lapeeer," aku bersuara, sedikit merengek. Sementara Yayan urun anggukan lalu melesat pergi ke meja kasir, memesan sekaligus membayar pesanan.

Tempat ini adalah tempat favoritku dan Yayan, selain kedai kopi. Hampir setiap hari kami menghabiskan malam berdua sekadar berbincang. Banyak hal yang kami perbincangkan. Saking banyaknya bahkan kami lupa apa saja yang dibicarakan saking mengalirnya. Di sini, kedai fast food sebelah kantorku.

"Jadi kapan mau menyatakan cinta, Ka?" baru saja aku melamun, suara Yayan sudah membuyarkan segalanya. Sialan memang orang satu ini.

Aku mendongak, mengerutkan dahi, lalu mengibaskan tangan cepat-cepat. "Apaan, coba, Yan? kamu tuh, cerita gimana dia? Gimana ekspresi dia pas kamu lamar? Masa jadi ngomongin mas kameramen yang nggak jelas juntrungnya itu," aku menjulurkan lidah, mengejek Yayan yang buru-buru meletakkan nampan dan mengacak rambutku kasar. Aku tertawa.

"Ciyeee, ada yang malu. Gimana gimana?" aku masih tertawa, menarik piring dari nampan, meletakkan di depanku. Aku tahu, kalau ditanya bagian ini Yayan pasti malu. Malu setengah mati katanya, entahlah bagian mana yang membuatnya malu. Aku belum mendengar ceritanya penuh. Yang jelas, sejak aku memergokinya telah melamar gadis incarannya, sejak saat itu juga Yayan sering bungkam, menahan hasrat ceritanya. Padahal aku tahu betul kalau dia bukanlah tipikal lelaki yang juara menyimpan rahasia hatinya sendiri. Bukan banget.

Kedua tanganku kugosokkan pelan, menunggu ceritanya. Sementara mulutku menyambar sedotan di gelas kertas berisi kola, meneguk isinya cepat. Kopiku sudah tandas sejak 30 menit lalu, meninggalkan ampas, kenangan, juga harapan.

"Jadi, kenapa bisa dia menerima kamu, Yan? Yakin, dia nggak salah pilih atau salah lihat gitu, minimal?" tanyaku sambil mencuil krispi ayam dan mencocolnya dengan sambal yang diambil Yayan.

Pluk!

Seiris kentang goreng jatuh ke pangkuanku. Hasil lemparan Yayan yang mungkin gemas melihatku. Aku tertawa terbahak menanggapi sikapnya. Kepalaku mengangguk-angguk cepat secepat mataku menangkap bayangan sosok lelaki yang kuidamkan belakangan. Mas kameramen menenteng tas punggung dan tertawa bersama seseorang. Dan seseorang itu adalah gadis yang beberapa kali pernah kulihat sebelumnya. Mataku memberi isyarat pada Yayan agar menoleh pada jarum jam angka sembilan dari tempatku duduk. Saat itu, Yayan mematung. Bukan apa-apa, agaknya dia tahu siapa gadis yang tengah bersama dengan mas kameramen pujaanku itu.

"Ka, itu... Nadia?" telunjuknya bergetar menunjuk gadis itu. Sama bergetarnya dengan jantungku yang berdebum makin tak keruan.

Kuliner: Lontong Kupang

Baiklah, setelah seeekian lama saya hibernasi dari dunia perblogan, malam ini saya kembali setelah buka-buka galeri foto di hape kacrut yang penuh dengan foto geje. So, kali ini saya mau bahas makanan khas kota tercinta saya yang juga jadi makanan favorit, Lontong Kupang.

Nama Kupang diambil dari komposisi utama Lontong Kupang itu sendiri. Kupang (Mytilus edilus) adalah hewan laut yang masuk dalam filum Mollusca atau hewan lunak kelas Bivalvia atau bercangkang dua. Umumnya, kupang hidup di dalam lumpur di perairan air asin atau laut. Yes, namanya juga hidup di lumpur ya, otomatis Anda kudu waspada dengan makanan enak ini. Why? Sebab, di dalam lumpur ada kandungan logam berat seperti merkuri, juga kotoran maupun limbah yang bercampur-baur menjadi satu di lautan. Bisa dibayangkan betapa 'kotornya' lautan yang bercampur dengan limbah-limbah itu, kan? Belum lagi dengan kupang yang justru hidup di dasar laut. Byangkan coba betapa 'kotornya' makanan enak ini? :p

Saya tidak sedang bercanda (hahaha, siapa bilang juga? :p) karena pada dasarnya saya suka makanan ini (nggak ada yang nanya juga :p). Tapi, guys, warning itu nggak hanya berlaku pada kupang saja. Karena semua jenis makanan laut ya begitu juga. Tapi yang menjadi perhatian khusus memang jenis kerang-kerangan atau Bivalvia, sih. Bahkan, dihimbau banget, bagi bumil menghindari makanan ini. Tahu kenapa? Karena ngefekk banget buat janin yang dikandungnya. Nggak percaya? Saya, sih, meskipun belum pernah nyoba dan jangan sampai nyoba begitu ya, percaya aja. Sebab, pernah ada kasus yang bukan disebabkan oleh kupang atau makanan laut, tapi oleh polusi motor dan mobil yang menimpa seorang bapak. Si bapak ini kerjanya di bengkel yang otomatis memaksanya untuk terus menghirup racun dan polusi dari asap kendaraan ya. Di dalamnya ada jenis logam berat juga. Nah, di sinilah kejadian bermula. Keseharian si bapak ini menurun pada anaknya. Anaknya autis dan cenderung cacat. Kenapa bisa? Ya, karena kandungan logam berat yang memengaruhi otak dan fungsi organ lain. Sama persis dengan efek terlalu banyak makan makanan laut tanpa dibarengi dengan hati-hati. Makanya, ketika makan makanan laut, ada anjuran minum air kelapa. Katanya, bisa menyeimbangkan kadar ion dalam tubuh.

Well, itu sekilas tentang kupang dan teman-temannya ya. Tapi, yang jelas, Lontong Kupang ini adalah makanan yang enak pakai banget. Disajikan dengan lontong, petis udang, kupang, suwiran lento, dan biasanya ditambah sate kerang, makanan ini cocok banget disantap di segala suasana. Apalagi pas laper. Waaah, pasti rakus! *curhaaaat :))*

Eniwei, makanan ini khas Surabaya, tapi ada juga bilang punya Sidoarjo. Entah mana yang benar. Yang jelas, yang perlu diperhatikan, Lontong Kupang yang fresh dan sisa hari-hari sebelumnya bisa ditengarai, loh. Ya, sebagai konsumen, kudu cerdas, tho? Jangan pedagangnya yang kecerdasannya menjauhi kita :p. Jadi, kalau kalian menjumpai Lontong Kupang dengan kupang yang besar, putih, dan terlihat segar, berarti itu adalah kupang yang baru didapat dari laut. Berbeda dengan kupang yang sudah dimasak berhari-hari, warnanya pasti menghitam dan kusut. Nggak percaya? Ini ada buktinya. Rasanya juga beda. Alasannya simpel, sih. Kuahnya itu meresap ke kupang, makanya warnanya menghitam dan jadi kusut.

Lontong Kupang fresh, enak, dan nagih! :))


Lontong Kupang lama, rasanya nggak segar lagi, dan bikin pengen cepet-cepet kelar makan.


Jadi, bagaimana? Tertarik buak nyicip makanan enak tapi 'berbahaya' ini? :p. Harganya bisa dikatakan bersahabat di kantong. Cuma 7-10 ribu rupiah perporsi, belum termasuk Sate Kerang. Biasanya, dijual di dekat Pantai Kenjeran, dekat jembatan layang Sidoarjo, deretan Nginden, dan gerobak dorong keliling rumah. Asalkan makan nggak berlebihan, Insyaallah aman yaaa :D. Selamat mencicipi.

Sunday, March 10, 2013

Tes Otak Kanan Atau Otak Kiri?

TES (A)
Genggam tangan seperti orang berdoa. Jika ibu jari tangan kiri berada di bawah ibu jari tangan kanan maka kamu cenderung menggunakan otak kiri. Sebaliknya, jika ibu jari tangan kanan berada di bawah ibu jari tangan kiri artinya otak kanan.

TES (B)
Lipat tangan di depan dada. Jika lengan kanan di depan / di atas lengan kiri maka kamu cenderung menggunakan otak kiri dan jika lengan kiri di depan / di atas lengan kanan kamu cenderung menggunakan otak kanan.

HASILNYA?
(A) Kanan + (B) Kiri (Seimbang cenderung kanan)
Sangat perhatian, konvensional, berbelit-belit, cepat akrab dengan orang lain, waspada, pengalah, stabil.

(A) Kanan + (B) Kanan (Dominan otak kanan)
Suka tantangan dan bersikap apa adanya, cepat bertindak, imajinasi kuat, selalu ingin tahu dan suka tantangan, ceroboh dan nekad, jarang mendengarkan pendapat.

(A) Kiri + (B) Kiri  (Dominan otak kiri)
Berdedikasi, cuek, perfeksionis, logis, selalu merasa benar, bisa dipercaya, kaku, memiliki banyak hal yang membanggakan, lawan yang tangguh.

(A) Kiri + (B) Kanan (Seimbang cenderung kiri)
Suka mengurusi orang lain, berbakat jadi pemimpin, pandai berbicara dan menyiasati situasi, tenang, perhatian, bertanggung jawab, selalu berhati-hati dalam penampilan.

Jadi, manakah otak yang lebih cenderung kamu gunakan?

Source: Astie.

Saturday, March 9, 2013

Ka(mera)men Rider

Hari ini launching buku pertama yang harus kuhadiri dengan mengorbankan jam tidur yang terpangkas. Flight pertama dan seorang diri. Kalau katamu, aku harus mandiri. Aku tahu, kau juga tengah sendiri di sana. Mengambil potret di tanah orang, di tengah ributnya penduduk asal menyelamatkan diri. Di tanah Minang. Ya, aku harus mandiri.

Berulang kali aku menutup mulut, menguap hebat. Ngantuk total. Sudah kuputuskan akan menghabiskan seluruh perjalanan nanti dengan tidur pokoknya. Jakarta.
***

Mataku mengerjap-kerjap cepat. Pesawat sudah berhenti mengudara, penumpang sudah berbisik-bisik ribut, membuyarkan mimpi indahku dengannya, kekasihku. Sesekali aku menguap keras-keras, tidak peduli dengan sekitar. Penerbangan pagi selalu mengganggu.

Langkahku pelan-pelan menyeret. Malas luar biasa. Aku tahu, wajahku pasti buruk rupa saat ini. Tujuan pertama sehabis ini aku langsung ke kamar mandi--selagi menunggu dijemput panitia--merias. Kubuka ponsel, kumatikan mode flight, menantikan pesan darinya. Kosong. Aku menghela napas, sedikit kecewa. Dia ke mana?

Mungkin sibuk, hati kecilku membela.

Satu-dua aku melangkah melewati pintu kaca, masih dengan raut setengah mengantuk ketika aku melihat seseorang tak jauh dari tempatku berdiri dengan kamera besar di pundak. Wajahnya lelah namun senyumnya terkembang lebar. Ah, Zi. Aku mengerjap-kerjap cepat, tidak percaya. Bagaimana mungkin dia datang ke mari sedangkan tugas masih ditanggung?

"Hai."
"Kamu ngapain ke sini? Gempa gimana? Kamu nggak apa? Bukannya tugasmu belum kelar? Reportermu apa kabar? Kok kamu jahat nggak ngabarin aku kalau mau balik? Orang-orang korban gempa gimana? Ya ampun, Sayang. Kamu..."

Zi, begitu aku memanggilnya, menutup mulutku cepat dengan bibirnya. Ah, gila, sepagi ini dia sudah memberiku kejutan. Meski awalnya ingin menghentikan celotehanku, tapi dicium di depan umum pagi-pagi? Siapa yang bisa menolaknya? Terlebih oleh kekasih sendiri.

Aku tersengal. Sebaris senyum kikuk kulemparkan pada sekeliling yang melihat aksi nekat kami. "Zi, kamu tuh, hobinya bikin aku melting, deh. Tugasmu apa kabar, Sayang?"

Lelaki di depanku tersenyum. Bibirnya dihapus dengan lidahnya, tampak menikmati ciuman barusan. Sialan, aku bahkan belum bisa menenangkan jantung saking kagetnya.

"Kau tahu, Sayang, kantor merolingku. Sudah tujuh hari aku di Padang, dianggapnya aku lelah. Begitu pun reporter. Kami pulang tadi malam. Dan kau tahu, Sayang? Aku tidur di bandara biar bisa melihatmu dan mengantarmu ke tempat launching bukumu. Aku antre booksigning, Sayang," sebelah mata Zi dikedipkan. Kembali menggodaku.

Aku tahu, Tuhan tidak pernah salah mengirimkan pendamping untukku. Kalau pun salah, pasti ada arti di baliknya. Tapi aku yakin, Zi, dengan sejuta pesonanya, adalah untukku.

"Thank you, Sayang. Kau tahu, Sayang? Apa yang kuinginkan darimu saat ini?" aku melempar tanya. Sebelah tanganku meraih jemarinya, menggenggam erat.

Jemarinya menggenggamku posesif. Tatapan matanya berhenti di depanku, persis. "Apa?"

"Lamaranmu," aku mengedipkan sebelah mata, tersenyum lebar.

"Dan kau tahu, Sayang? Itu yang kutunggu-tunggu sejak dulu, mengajakmu menikah dan membangun mimpi bersama," satu kecupan di dahi membuatku kembali melayang. Zi, menciumku lagi. Tepat dengan ketukan pintu yang berulang.

Aku mengerjap. Pukul sepuluh. Agenda liputan satu jam lagi. Aku bergegas duduk dan bangkit dari tidur.

Selamat pagi, Zi. Kameramen dalam mimpi.

Sunday, March 3, 2013

Tiga

"Hei hei masih suka espresso?"

Sedetik-dua aku tertegun menatap sosoknya yang tiba-tiba datang dan duduk di depanku dengan senyum sejuta pesona. Ah, lagi-lagi dia datang di saat aku benar membutuhkan sekadar teman duduk dan ngopi.

"Hai," aku menyapa balik. Kuangkat cangkir espresso sejajar dengan wajah, ciri khas sapaan kami jika bertemu di kedai kopi dekat kantor.

Sesaat kami terdiam, hanya saling tersenyum, seolah saling mengirimkan sinyal kabar masing-masing.

"Berapa lama kita tidak bertemu, Al? Seminggu? Dua minggu? Kau sibuk sekali sepertinya," dia memiringkan kepala, sebelah alisnya terangkat, melihatku lebih dekat. Membuat letupan-letupan kecil di hati yang menghangat. Aku tahu, rasaku padanya masih sama. Dan aku juga tahu, dia tidak tahu rasaku ini. Entah kapan aku bisa membuka diri dan perasaan jika batas waktunya tinggal tujuh hari lagi. Atau, malah tidak akan pernah terucap? Bisa jadi begitu.

Aku mengangkat kedua alis seraya tersenyum. Lalu memainkan bola mata ke kanan dan ke kiri, berpikir. "Sepertinya delapan hari. Kau yang sibuk. Aku masih rutin kemari kok. Apalagi kalau pikiran jenuh," jawabku sambil menghitung hari dalam pikiran.

Dia tertawa mendengar jawabanku. Tangannya dikibaskan cepat-cepat. "Hei, kau tidak ingat? Berapa hari lagi kau akan meninggalkanku sendiri di sini, hm? Apa perlu kubantu menghitung hari? Justru kau yang sibuk. Kau tahu, hampir setiap hari aku kemari hanya ingin bercerita denganmu. Tapi kau kemana?" kedua tangan lelaki di depanku diangkat, meminta jawaban seraya masih tertawa.

Salah. Delapan hari berturut-turut aku selalu kemari. Hanya saja waktunya yang sengaja kuplesetkan. Jika selama ini aku duduk di kedai kopi ini sepulang kerja, yang artinya sekitar pukul tujuh, maka waktu itu beda. Aku sengaja memilih jam makan siang untuk ngopi seorang diri, merenungkan kejadian-kejadian yang akan terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua minggu. Sendiri. Namun kali ini, aku datang ke kedai di malam menjelang larut. Artinya, aku benar-benar penat dengan segala hal yang ada di rumah. Segala persiapan, hal-hal remeh, dan peraturan yang bagiku kurang masuk akal harus kuturuti. Aku benci dengan keadaan seperti itu. Tapi aku bisa apa selain duduk di kedai kopi dan menyendiri melamunkan masa depan yang mungkin hanya ada di anganku?

Ya, di sinilah. Di kedai kopi langganan kami. Di kedai yang banyak menyimpan cerita-cerita kami. Cerita-cerita palsuku dan jujurnya. Cerita yang justru seringkali melukai hati namun memberiku ketenangan berkali lipat karena hadirnya. Seperti sekarang. Entah cerita apalagi yang akan dia ceritakan dan kukarang untuk mengimbanginya. Sejujurnya, kadang, aku lelah dengan kepalsuan yang kubuat sendiri. Mengapa jujur bukan menjadi pilihanku?

Aku membalas tawanya, kuletakkan tanganku di atas tangannya yang meminta jawaban. Aku tahu, sebenarnya ini tidak boleh terjadi, tapi aku benar merindukannya. Sekilas, aku melihat binar kaget di matanya. Namun genggamannya membuatku tahu, bahwa dia tahu apa yang terjadi denganku.

Tangan kami saling menggenggam tanpa ada kata yang terucap dalam beberapa menit. Hanya saling menatap, menggenggam, berharap saling tahu apa yang terjadi dan diinginkan hati. Aku menikmati masa ini. Rasanya, ingin sekali aku tetap duduk dan menikmati sensasi letupan hangat dengan kupu-kupu menggelitiki perut.

"Thanks," aku melepaskan genggaman. Ada tenang dan perasaan lega mencelus di rongga dada.

"Ya, delapan hari kita tidak bertemu. Kau punya banyak hutang cerita padaku. Jadi, bagaimana perkembanganmu dengannya, hm?" aku menyipitkan mata, menggodanya yang pasti akan tertawa jika aku sudah menantang begitu. Padahal, hatiku sendiri kembang kempis jika dia sudah bercerita tentang gadis pujaannya.

Benar saja, tawanya meledak. Tangannya langsung meraih kepalaku, mengacak rambutku gemas. Membuat jantungku berdebum berantakan.

"Kau tahu, apa yang paling kurindukan dalam delapan hari kita tidak bertemu?" dua tangannya menopang dagu, bertanya pelan padaku.

"Cerita tentangnya dan mendengar saran-saran bodohku?" aku mencoba menebak. Kepalaku beralih bergantian antara cangkir kopi dan wajahnya. Tumben dia tidak langsung memesan kopi.

Dia menggeleng. "Bukan. Tapi aku rindu mengacak-acak rambutmu gara-gara godaan nakalmu," senyumnya tersungging tipis.

Sialan. Hanya karena itu? Lalu mengapa jantungku tidak beraturan begini detaknya?

Kali ini tawaku meledak, mengalihkan deburan ombak dalam dada. "Sialan. Jadi kau pikir aku wanita nakal, heh?" aku pura-pura marah. Bibir kubuat cemberut.

"Ya, karena kau sering menggodaku," dia menyahut enteng. Senyumnya masih tersungging.

"Ih, itu karena kau mudah tergoda."

"Jadi, salah siapa dong?" dia mendekat, menangkupkan kedua tangannya ke wajahku yang tidak sempat menghindar. Tidak sempat menghindar dan menyebabkan sejumlah aliran listrik dalam tubuh otomatis menyala, saling bersinambung.

"Hangat. Kau sakit?"

Terlambat. Dia terlanjur merasakan getaran yang dihasilkan listrik dalam tubuhku. Aku menggeleng kaku dengan tatapan mata bingung.

"Kalau begitu kau grogi."

Slash! Sialan. Jantungku meledak sejadi-jadinya.

Saturday, March 2, 2013

Dua

Aku menatap layar ponsel yang cahayanya mulai meredup. Ada rasa bersalah, enggan, kasihan, tapi ingin memberontak bercampur menjadi satu. Aku tahu ini masalah sepele, tapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Yang membuat sulit tentu saja kenapa aku? Kenapa harus dia? Kenapa bukan dia yang lain?

Aku mendesah panjang, cukup penat dengan masalah ini. Masalah yang justru jauh lebih memusingkan dibandingkan perkara pekerjaan dan masalah klasik tanggal tua, bokek. Kupandangi cangkir berisi espresso yang tinggal separuh isinya. Bibirku tersungging tipis mengingat celetukan seseorang, teman ngopi yang selalu hadir diam-diam dalam mimpiku. Lalu paginya menjelma menjadi bongkahan rindu.

"Suka espresso, Al? Kopi pekat dengan sedikit biji?" lelaki itu tersenyum memandangku. Aku tahu, sebentar lagi dia akan berfilosofi, menyamakan kopi pilihanku dengan pribadi.

"Kau tahu, apa yang dipilih menunjukkan diri orang itu sendiri? Cerminan diri," dia menyesap cangkir kopinya, meletakkan kembali dengan pandangan tidak beralih dariku. Dia menatapku. Tatapan yang kurindukan.

Aku terdiam, menunggu kalimatnya.

"Espresso itu pahitnya kuat. Tapi diramu dari sedikit biji kopi. Persis kau yang hanya sedikit bicara, menyimpan masalah sendiri, tapi mengecap banyak rasa sekaligus. Akibatnya? Ya itu, masalah-masalahmu berkumpul jadi satu. Jadi stres sendiri," dia menyimpulkan. Yang mau tidak mau membuatku mengulum senyum tipis. Betapa aku merindukannya.

Ah, lagi-lagi kejadian itu membuatku tersenyum. Aku tahu, mengharapnya bagai punuk merindukan bulan. Tapi selama aku masih punya mimpi, bukankah harapan itu juga masih tersisa?

Aku menyesap kopiku, memainkan tepian cangkir sembari melamun, membayangkan kejadian malam-malam lalu dengannya. Apa mungkin dia datang kemari? Di tujuh hari menjelang hariku? Memangnya peduli apa dia padaku? Senyumku tersungging membayangkan. Tentu saja itu tidak mungkin.

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan seluruh lamunanku. Belum genap kagetnya, si penepuk sudah duduk di bangku kosong di depanku, tersenyum lebar.

"Hei hei, masih suka espresso?"

Aku tertegun. Dia datang kembali.