Friday, June 21, 2013

Nostalgia: Jipang Brondong

Jipang
Jipang siap saji

Meski hidup di kota besar, ternyata, saya masih bisa menemukan beberapa hal yang tergolong tradisional dan kuno. Apalagi soal makanan :p.

Saya tinggal di daerah perkampungan yang ada di Surabaya Selatan. Meski masuk kategori kampung, justru saya bersyukur karena masih sering menemukan hal-hal unik yang tergolong langka dan tradisional. Seperti makanan. Kebetulan sekali, rumah saya terletak di dekat pabrik pembuatan makanan yang seolah tak lekang oleh waktu, Jipang-Brondong. Eh, betul, tak lekang oleh waktu? Mungkin, di perkotaan, makanan ringan tersebut hanya bisa ditemukan di daerah perkampungan ya. Makanya, tidak mengherankan jika Jipang-Brondong tergolong langka saat ini.

Iseng, saat hari libur, saya datang untuk membeli Jipang dan Brondong. Kegiatan Pabrik Fajar Jaya siang itu cukup sepi mengingat jam menunjukkan pukul setengah dua belas, waktunya Jumatan. Seraya menyodorkan uang tiga ribu rupiah, saya juga melakukan  negosiasi untuk urusan pekerjaan. Sekalianlah, pikir saya. Cukup lama saya berada di pabrik pembuatan Jipang-Brondong yang berdiri sudah cukup lama, sejak tahun 78-an. Step by step proses pembuatan saya cermati.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya cara pembuatan Jipang-Brondong ini tergolong mudah—mudah bagi yang sudah mahir maksudnya, haha. Menggunakan bahan jagung dan beras ketan yang telah dijemur sebelumnya, kedua bahan ini kemudian dikukus dan dicampur dengan gula (untuk brondong dicampur dengan gula aren dan untuk ketan menggunakan gula putih). Setelah bahan tercampur, baru diletakkan pada meja papan. Selanjutnya, adonan dipipihkan untuk dipotong-potong sebelum dibungkus plastik. Gampang? Kayaknya :p.
Mencermati sekian proses yang ada, umumnya pekerja yang ada di pabrik pembuatan Jipang-Brondong ini sudah bekerja puluhan tahun, hampir 30 tahunan. Makanya, tidak mengherankan jika kerja mereka cepat dan taktis. 30 tahun, jeh!
Jagung dijemur
Mencampur adonan dengan gula
Hap!
Proses pemipihan dan pemotongan
Suasana pabrik
Pekerja anak

Setelah adonan jadi, dibungkus menggunakan plastik, dan direkatkan dengan bantuan api kecil, perkotak Jipang dan Brondong dijual seharga 500 rupiah. Itu di pasaran, kalau dari pabrik pasti lebih murah, sekitar 350 rupiah perkotak. Kalau mau lebih murah lagi, bisa beli curah atau potongan tidak beraturan. Bisa dapat satu kantung plastik penuh.

Memasuki era modern, percaya atau tidak, jajanan manis dan enak serta gurih ini lebih sering ditemui di warung-warung kampung dan didistribusikan di pasar tradisional. Ada yang lebih modern kemasannya, tapi harganya jelas berbeda jauh. Rasanya pun jauh lebih manis dengan kemasan yang lebih tertata apik. Biasanya, Jipang dan Brondong modern dikemas menggunakan kertas putih atau plastik bening tebal. Jadi terlihat mewah.

Jipang dan Brondong Jagung, lazimnya cocok dijadikan cemilan sore dengan teh hangat sebagai teman duduk. Nyam... kriuk, rindu jajanan masa lalu juga?

Tita unyuuuu :*
Jipang
Brondong Jagung

City Tour: Pantai Ria Kenjeran (Kenpark)

I start my destination from the first step I made.

Pintu gerbang utama Kenpark

Liburan kali ini bertepatan dengan momen liburan sekolah dan kuliah. Jadi, saya langsung mengajak Tita dan Ilma untuk sekadar berjalan-jalan di sekitar kota Surabaya. Pilihannya hanya empat tempat wisata; KBS, Pantai Ria Kenjeran, THR, dan wahana di lantai 4 Delta Plasa. Pilihan jatuh ke Pantai Ria Kenjeran karena kami berencana untuk main layang-layang dan naik kapal.

Pukul 10,15 kami berangkat dengan menggunakan motor. Butuh waktu sekitar 30 menit dari rumah untuk sampai ke Kenjeran jika ditempuh dengan kecepatan sangat hati-hati. Secara beban motor berat, broh! :p. Sayangnya, setelah on fire mau main layang-layang di Pantai Kenjeran lama (fyi, Pantai Ria Kenjeran terbagi dua; lama dan baru.) ternyata di tengah jalan, akses satu-satunya yang bisa ditempuh ternyata diblokir secara sepihak oleh warga sekitar karena kondangan. Hahaha, iya, sepihak. Pengguna jalan, dilarang lewaaaat!

Akhirnya, kami putar balik dan beralih ke Pantai Ria Kenjeran baru. Lama dan baru ada perbedaan yang cukup mencolok. Selain dari harga tiket masuk yang selisih 2.000 (lama Rp 6.000, baru Rp 8.000), dari sisi fasilitas, dan tempat parkir juga berbeda. Untuk fasilitas, di Kenjeran lama pengunjung bisa bermain di pasir pantai yang tidak bersih lagi. Sedangkan di Kenjeran baru, pengunjung diajak untuk menikmati aneka jenis permainan gratis dengan rimbunan pohon yang menyejukkan. Arena parkir Kenjeran lama mirip parkir di jalanan umum, sedangkan di Kenjeran baru ada tempat parkir khususnya.

Sebagai warga asli Surabaya, mungkin ada kesan, ngapain juga saya main ke Kenjeran yang terkesan kumuh? Kenapa nggak ke tempat lain? Jadi, begini. Kenjeran, sejauh ini selalu identik dengan tempat mesum dan kotor. Hingga berusia hampir seperempat abad, saya tidak pernah peka dengan kondisi ini. Sekilas, jika saya tengah kerja di daerah ini, saya melihat hanya sambil lalu. Tapi jika saya menyempatkan satu hari untuk melihat langsung, mungkin saya bisa tahu alasan penempelan kesan tersebut.

Kenjeran terletak di ujung Timur Surabaya dan berbatasan langsung dengan Pulau Madura. Kondisi akses di sepanjang Kenjeran tidak dilengkapi dengan lampu jalan yang layak, serta penuh dengan semak dan pepohonan. Kondisi ini diperparah dengan adanya bangunan-bangunan liar yang sudah tidak terawat, apalagi digunakan. Lengkap dengan kondisi tersebut, Kenjeran akhirnya menjadi tempat favorit bagi pecandu cinta yang ingin berbuat tidak sepantasnya dengan harga murah. Tidak sedikit yang berpikiran demikian.

Lain kondisi akses jalanan Kenjeran, saya mencermati jalanan masuk menuju kawasan Pantai Ria Kenjeran baru atau disebut Kenpark, Kenjeran Park. Berbeda dengan Kenjeran lama, Kenpark terletak lebih dekat dengan jalanan utama Jalan Kenjeran. Posisinya menonjol di sisi kanan jalan. Pintu gerbang dibangun mencolok dengan aksen bangunan kerajaan dan berwarna-warni. Bagus? Lumayan. Hanya satu yang kurang, akses pintu gerbang masih berupa pasir, bukan jalan semen, paving, atau beton. Kondisi ini membuat Kenpark tampak kumuh. Apalagi genangan air sisa hujan tampak di mana-mana.

Masuk Kenpark, pengunjung akan dikenakan tarif permotor untuk dua orang sebesar 8.000 rupiah. Sedangkan untuk mobil sebesar 10.000. Meski demikian, tarif ini ternyata juga berlaku bagi motor dengan tiga penumpang. Jadi, bisa saja permotor isi empat-lima orang tarifnya sama (kalau kuat dengan beban berat dan niat, sih :p).

Dari gerbang utama, pengunjung akan diajak untuk menikmati pemandangan di sepanjang kanan kiri jalan. Isinya? Tanaman-tanaman. Ada persimpangan jalan di sini. Mau ke Pura Sanggar Agung, Kolam Renang, atau ke Pantai, semuanya dijelaskan lewat penunjuk arah. Karena kami ingin ke Pantai, kami memilih jalur lurus. Setelah parkir, kami masuk gerbang. Dan tarra! Di sini kami kebingungan. Setelah masuk arena Pantai, tidak ada penanda sama sekali. Mau ke kanan, kiri, atau lurus, serahkan pada kaki melangkah.

Pintu masuk dan keluar

Kami memilih jalur lurus dengan pintu masuk, ternyata buntu. Mau ke kanan, buntu juga. Pilihan terakhir, jalur ke kiri yang tampak lebih luas. Masuk ke jalur kiri, pengunjung disambut dengan jejeran kursi dan kedai-kedai mini untuk bersantai. Umumnya, kedai-kedai menjual makanan ringan dan berat khas tepi laut Surabaya, seperti Lontong Kupang dan Lontong Balap. Yang menarik, tempat jajan di sini dibentuk menyerupai food road pecinan dengan lampion-lampion merah menghiasi langit-langit. Mau foto-foto? Bisa.

Setelah melintasi kawasan food road, pengunjung bisa menikmati rimbunan pepohonan dengan suasana sepoi-sepoi, menyejukkan. Ditambah dengan aneka jenis permainan, seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan teman-temannya. Ada juga fasilitas menunggang kuda dengan beaya sebesar Rp 15.000 untuk satu kali putaran perdua orang.


Food road pecinan

selamat miring! :))

Sambil menjaga tas, saya membiarkan Tita dan Ilma mecoba permainan sambil berlari-lari. Serius, posisi seperti ini semacam menggantikan posisi emak yang biasanya kebagian menjaga tas :p. Melihat-lihat kondisi sekitar, saya mencari satu hal penting yang sedikit janggal. Tempat sampah. Di sekitar tempat saya duduk, saya jarang menemukan tempat sampah. Kalau pun ada, tidak diletakkan di tempat yang sering dikunjungi atau disinggahi pengunjung. Tapi justru di sudut-sudut. Sayang sekali. Menurut saya, inii yang membuat kondisi Kenpark akan tampak kumuh. Belum lagi tatanan semak belukar dan pepohonan yang tidak tertata apik. Bukan tidak mungkin, pengunjung membuang sampah di sembarang tempat.


Aneka permainan dan patung binatang

Menurut saya, sebagai organ vital dari fasilitas umum, tempat sampah wajib diletakkan di tempat-tempat dengan intensitas pengunjung yang tinggi. Katakanlah, persepuluh sampai lima belas meter, mungkin? Yang jelas, untuk memberikan kesan fasilitas umum bersih, dimulai dengan tempat sampah. Iya, kalau seluruh pengunjung sadar, kalau tidak ada tempat sampah, sampahnya dikantongin sendiri dan baru dibuang setelah nemu, kalau nggak?

Selain tempat sampah, sepinya pengunjung membuat sejumlah tempat duduk beralih fungsi menjadi tempat tidur. Eng ing eng! Iya, pengunjung banyak yang tidur di tempat duduk. Yang lebih unik lagi, di Kenpark—yang pengunjungnya didominasi oleh anak-anak—ternyata masih ada pasangan mesum. Akhirnya, saya tidak hanya mendengar cerita, tapi melihatnya sendiri. Pasangan mesum menggunakan fasilitas tempat duduk yang menghadap tembok dan sepi. Jadi kalau ketahuan, hanya punggungnya saja yang terlihat. Nggak malu-malu amat, mungkin, pikirannya.

Well, jadi, sebenarnya apa yang bisa saya simpulkan dari asah peka cepat di Kenpark? Ada baiknya, rebuild up fasum menjadi pilihan pertama yang bisa dilakukan pengelola. Alasannya, dengan pembenahan, Kenpark tidak akan memberikan kesan kumuh. Penataan tanaman baik, tempat sampah ditambah. Dengan pembenahan, faktor mesum kayaknya bisa dikurangi. Bukan itu saja, pembenahan juga akan menarik wisatawan domestik untuk berkunjung ke tempat wisata ini, yang tentunya berdampak pada pemasukan daerah. Tapi, untuk mewujudkan semua itu, tentu diperlukan peran serta masyarakat. Jadi, jangan andalkan penguasa, mulai dari langkah kecil dalam diri kita masing-masing. Siapa tahu, pengunjung yang memiliki kesadaran tinggi akan lingkungan memberikan inspirasi bagi pengelolanya. Siapa yang tahu?


Social Media for Social Movement

source: pesanlogo.net

Di era digital seperti sekarang, siapa yang tidak mengenal sosial media? Hampir dipastikan tidak sedikit yang mengaku kenal, atau minimal tahu. Jika, dulunya sosial media ini sebagai ajang curhat—yang sampai sekarang masih sama— ternyata, percaya atau tidak, sosial media juga memiliki manfaat yang oke punya. Nggak percaya?

Sebagai pengguna sosial media aktif, tentu kita masih ingat kerusuhan Mesir yang cukup menyita perhatian dunia, awal tahun 2011 lalu. Kerusuhan dipicu oleh sejumlah ketimpangan sosial yang terjadi selama kepemimpinan presiden Hosni Mubarok. Selama 3 dekade, Hosni Mubarok memimpin Mesir dengan membiarkan pengangguran, kemiskinan merajalela, dan korupsi di kalangan pemerintahan. Rakyat bosan dengan kondisi tersebut dan akhirnya menghimpun massa melalui situs jejaring sosial, Facebook. Dan ka-boom! Demonstrasi besar-besaran terjadi dengan cepat. Facebook diblokir. Suasana semakin mencekam, ribuan WNI tegang. Karena Facebook. Rakyat Mesir bergejolak, menyelamatkan negara, rindu keamanan.

Tidak jauh berbeda dengan Facebook, Twitter juga memiliki peranan yang cukup kuat dalam menghimpun massa. Berawal dari satu kesukaan yang sama antarakun, terbentuk satu akun sosial bersama, menjadi komunitas. Komunitas inilah yang kemudian menghimpun massa lebih banyak untuk membuat satu agenda. Sebut saja satu komunitas pecinta lingkungan yang menghimpun massa untuk menanam mangrove, menanam bibit tanaman, dan bersih sungai. Dari Twitter, sosial media.

See? Sosial media ternyata memiliki pengaruh kuat untuk memengaruhi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Asal satu visi dan misi. Sosial media memiliki peranan penting untuk membuat user menjadi lebih cerdas, bukan hanya sebagai user reguler, tapi juga berpengetahuan, serta mampu membuat perubahan.

Berawal dari mengikuti sebuah talkshow bertajuk Social Media for Social Movement, saya pikir, kekuatan sosial media begitu besar. Banyak agenda besar yang mampu memutarbalikkan pikiran dari biasa saja menjadi lebih kreatif dan tertata. Tapi, jangan salah, berlaku juga kebalikan. But sure, user sosial media kebanyakan juga mudah terpengaruh (dalam konteks positif dan negatif) untuk melakukan perubahan. Berawal dari satu langkah perubahan, kenyataannya, pada akhirnya, cukup banyak massa yang terhimpun dan bersama-sama do something.

Karena perubahan itu bersifat statis, tidak bisa tetap, maka jangan salah jika sosial media juga memiliki peranan penting dalam mengubah lingkungan menjadi lebih buruk. Nggak percaya? Beberapa kasus trafficking menyebutkan bahwa antara korban dan pelaku adalah orang yang baru berkenalan dari sosial media. Berawal dari sosial media, menjadi mucikari. Berawal dari sosial media, menjadi germo, dst.


Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pun dunia maya, termasuk sosial media. Social media for social movement, kenapa tidak? Karena pada prinsipnya, perubahan menjadi baik atau buruk, bergantung pada agent of change—yang kini bukan hanya mahasiswa saja, tentunya.

Friday, June 7, 2013

Kuliner: Rujak Cingur Genteng Durasim

Actually, mampir ke Rujak Cingur Genteng Durasim kalau nggak liputan kayaknya nggak bakal mampir. Hahaha. Secara, harganya cukup menguras keringat. Makanya, saya bersyukur bisa mampir dan icip gratis. #plak

Sebagai makanan khas Suroboyo, siapa siiiih yang nggak kenal Rujak Cingur? Ada yang nggak kenal? Walaaah, berarti kebacut! :p. Ya, pasalnya, Rujak Cingur memang ibaratnya sudah diklaim menjadi milik Surabaya! *bangga :)))*. Bahkan, saking nggak maunya diklaim oleh negara manapun, Pemkot Surabaya tiap tahunnya menggelar Festival Rujak Ulek. Peminatnya pun nggak main-main, 1200 orang! Apalagi pengunjungnya yang mencapai 10.000!! Orz, kebayang dong betapa pentingnya Rujak Cingur bagi warga Suroboyo? *lebaaaay :)))*

Well, mampir ke Rujak Cingur Genteng Durasim, saya senang karena tahu sejarah berdirinya. Bisa dibilang, Rujak Cingur Genteng Durasim (yang kemudian saya singkat dengan RCGD karena kepanjangan :p) ini merupakan rujak pertama yang hadir di Surabaya. Bayangpun, berdiri sejak tahun 1942, RCGD ini sekarang dipegang oleh turunan ketiga. Kalau ada yang tahu Rujak Cingur Ahmad Jais--yang harganya jaaaaauuuuuhhhh lebih nggak manusiawi; 50ribu perporsinya--RCGD ini masih lebih dulu. Sedangkan yang di Ahmad Jais baru buka sekitar tahun 1960-an. *ini versi Cak Hendri, pemilik RCGD*.

Karena merupakan peninggalan nenek dari Cak Hendri, semua barang yang digunakan pun masih dilestarikan. Termasuk cobek super gede yang sekarang udah mulai cengkung ke dalam. Sedikit cerita, setiap harinya, Cak Hendri dibantu 4 orang termasuk istri dan adiknya, menghabiskan 50 kilo cingur/ hidung sapi dan 30 kilo cecek/ kulit sapi sebagai bahan pokok. Itu untuk membuat sekitar 200 porsi. Yang membuat berbeda, rujak buatan Cak Hendri ini khas sekali bumbunya. Meski sebenarnya bumbu petis (hasil fermentasi udang/ ikan) rasanya begitu-begitu saja, tapi olahannya cukup menggiurkan lidah *ngetik sambil ngeces :))*.

Seperti halnya rujak pada umumnya, RCGD juga menawarkan pilihan Campur atau Matengan. Campur berarti campur irisan buah, sayur, lontong, tahu, tempe, dan timun/ benduyo (timun matang). Kalau Matengan berarti sedikit atau bahkan tanpa irisan buah. Isinya lebih ke bahan yang sudah matang. Nggak cukup di situ, RCGD juga memberikan 2 pilihan rujak yang bisa dinikmati. Spesial dan biasa. Kalau spesial, menggunakan full cingur--yang luar biasa endes :p-- kalau biasa, pakai campuran cecek/ kulit sapi yang memiliki struktur dan fisik mirip cingur.

Harganya? Jelas beda dong! Untuk Rujak Cingur Biasa dipatok 17 ribu rupiah perporsi. Sedangkan yang Spesial dibanderol seharga 30 ribu rupiah. Meski harga cukup selangit buat saya, karena rasa yang enak dan fenomenal sejak Indonesia belum merdeka, ternyata pelanggannya pun nggak main-main. Mulai dari sekitar Surabaya, luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri!! Saat gelaran APEC di Surabaya, RCGD diundang Walikota untuk menyajikan sajian Rujak Cingur pada 1500 peserta APEC dari 21 negara yang berbeda.

Eeh, sebagai penambah menu, di warung yang letaknya persis di belakang Hotel Weta Jl. Genteng Kali ini juga menyajikan menu lain. Seperti Sup Buntut dan aneka makanan lain.

Begitu terkenalnya RCGD ini temans, beberapa awak media dan artis juga kerap bertandang saat berkunjung ke Surabaya. Di dindingnya ada beberapa foto hasil liputan beberapa media yang pernah berkunjung. Tertarik mencicipi?





Sembilan

Hujan selalu punya cerita. Entah bahagia, rindu, tersakiti, trauma, sendu. Apapun. Aku yakin, setiap orang memiliki kisah bersama hujan. Tapi, aku juga yakin, bahwa tidak semua orang menyukai hujan. Yah, layaknya banyak hal, hujan juga sama persis dengan lainnya. Pros dan contras. But, I'm sure, I'm doing great when rain comes. Berteduh.

Berteduh. Bagi banyak orang juga memiliki arti yang beragam. Berteduh dari hujan, segala bencana, atau masalah sepele harian. Tapi, kurasa, bukan lagi waktunya untuk mengeluh soal hujan jika kau tahu filosofinya.

Ya, hujan. Selain punya cerita, juga punya filosofi--tentunya bagi tiap orang berbeda arti. Tapi menurutku, hujan itu ciptaan Tuhan, fenomena alam, yang mengajarkanku untuk tahu arti kejujuran. Bukan kepura-puraan. Dari rinainya, tetesan yang menghujam bumi, proses dan hasilnya bagi banyak hal, semuanya dilakukan dengan jujur. Tuhan mengontrolnya dengan baik.

Jika dirasa bumi terlalu panas, yang menyebabkan banyak orang mengeluh, maka hujan turun. Tuhan mengaturnya. Jika hujan terlalu deras, kurasa memang ia sedang rindu dengan bumi. Dengan tanaman-tanaman yang terlalu kering. Padi, bawang, dan aneka rupa sayuran. Psst, hujan juga punya rindu. Ia juga punya amarah. Masih ingat pepohonan roboh akibat hujan, puting beliung, dan merenggut korban? Bukan fenomena asing yang sebenarnya mengharuskan kita untuk waspada dan berkaca, sikap apa yang kurang untuk lingkungan? Karena sebenarnya, alam dan kita adalah siklus dan simbiosis mutualisme.

Tapi yang jelas, selain jujur, hujan juga mengajarkanku arti dari kewaspadaan. Waspada pada banyak hal. Terlebih pada hal-hal kecil di luar ekspektasi dan rencana.
***

"Walaaah, Ibu beneran nggak tahu kalau kamu ini Alika temannya Jalu dulu, Nak. Dari awal, Ibu sebenarnya ingat wajahmu, tapi lupa. Takut salah orang," sembil terkikik sendiri, Bu Rosyidah meletakkan secangkir teh hangat di meja. Aku tersenyum mengangguk maklum. Umur beliau sudah mencapai angka 60-an, wajar jika sedikit alpa. Jangankan beliau, aku saja--yang masih muda begini-- sering lupa.

Tanganku mengibas pelan, membeberkan tanda no problemo. "Nggak apa, Bu. Saya aja juga lupa-lupa ingat. Berapa tahun kita tidak bertemu ya?" Aku melempar tanya yang juga kutujukan pada Jalu. Sambil menoleh pada kami, Jalu yang tengah duduk di bangku dekat piano tersenyum. Bola matanya berputar-putar.

"Almost... hm, 17 tahun, Al?" kedua alisnya diangkat, bertanya padaku.

Baru hampir menjawab pertanyaan Jalu, suara Bu Rosyidah membuatku mengurungkan niat. "Lah sudah selama itu ya? Pantesan aja ibu lupa. Nak Alika juga udah dewasa begini. Dulu pindah tiba-tiba, sih. Nggak sempat main ke sini," telunjuknya menjawil gemas hidungku. Aku tertawa kecil melihatnya. Ah, aku rindu seperti ini. Dulu aku pernah berada pada kondisi begini. Saat aku mulai menyadari ada yang berbeda pada sosok Jalu yang kukenal. Bukan hanya pandai bermain bola, tapi juga pandai melukis. Di sela-sela waktu bermain, dia juga sering membuat bocah seusiaku kala itu, terpesona. Dia sosok pemimpin yang punya banyak teman. Aku sungguh rindu.

"Eh, Al...," tiba-tiba Bu Rosyidah menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh, tersenyum. "Ya, Bu?"

"Sudah pernah ketemu Anjar, kakak Jalu?"

Dua alisku bertautan, menoleh bergantian pada Jalu dan ibunya. Sementara pikiranku berputar, berpikir keras siapa Anjar, seperti apa sosoknya.

Dulu sekali, mungkin kami pernah bermain bersama bertiga dengan Jalu. Tapi jarang. Jadi wajar jika aku lupa. Kalau pun bermain bersama, Jalu pasti mendominasi. Begitu pun aku, pasti lengket dengan Jalu.

"Anjar...?" aku menggantungkan kalimatku, bingung bercampur penasaran. Kepala sengaja kumiringkan ke arah Jalu, meminta bantuan.

Jalu tertawa. "Sebentar," dia beranjak meninggalkan kami. Mungkin pergi ke belakang rumah.

Sementara aku masih bingung, Bu Rosyidah sudah berganti topik pembicaraan. Mulai dari ngomongin harga komoditas naik, elpiji, BBM, sampai harga pakaian dan kebutuhan lainnya. Semuanya kujawab dengan antusias. Seantusias sesama pedagang yang menemukan obrolan yang klop.

Tidak berapa lama meninggalkan kami, Jalu datang dengan seorang laki-laki yang benar asing buatku. Katanya, itu Anjar. Dengan posisi bersisian, Jalu mengajakku untuk berkenalan dengan kakaknya. Kami bersalaman, berkenalan, dan terlibat obrolan yang cukup panjang. Singkatnya, Anjar adalah seorang manajer operasional di salah satu kafetaria terkenal di Surabaya. Berbeda dengan Jalu yang merupakan pekerja bank dengan karir yang cukup menanjak.

Sekilas, aku menyebutnya de javu. Seperti tersedot time tunnel, aku merasa nyaman dengan keluarga ini. Cukup lama aku berada di tengah dua anak laki-laki Bu Rosyidah hingga Jalu mengingatkanku untuk segera pulang. Hari telah larut dan dia bersedia mengantarku pulang, meski sebenarnya aku bisa sendiri.
***

Malam ini indah. Aku bertemu keluarga hangat dengan dua anak laki-laki yang sama menyenangkan. Tapi satu yang berarti bagiku, aku bisa berbicara banyak dengan Jalu. Jalu, sosok masa laluku yang kembali hadir setelah berpisah 17 tahun. Aku menyimpan secuil rasa manis di ujung hatiku yang malam ini berubah menjadi segumpal harapan. Jalu, sosok masa lalu yang seolah membangunkanku dari tidur panjang. Namanya... Jalu.

Thursday, June 6, 2013

Bekerja, Bersedekah, Berhemat



jouzz.wordpress.com

Sejak kuliah, saya sudah bekerja meski berpenghasilan minim. Masih ingat betul pendapatan saya kala itu berkisar 20-50ribu rupiah perbulannya. Cukup kecil namun mampu mencukupi kebutuhan bulanan saya di sisi uang jajan bulanan yang mencapai 300rb.

Sejujurnya, pernah mendapatkan gaji minim namun segalanya terpenuhi membuat saya santai. Ibaratnya, Belanda masih jauh. Namun kata santai itu berubah setelah saya bekerja (yang sepenuhnya; bukan part time) dan memutuskan untuk menetap sementara di kota Malang. Saya menjadi kurang bersyukur dan selalu merasa kekurangan. Ini juga yang membuat pekerjaan saya tidak bertahan lama.

Beralih ke Surabaya dengan pengalaman demikian, kini saya bekerja di lapangan. Sesuai dengan cita-cita saya jauh-jauh hari. Saya ingin bekerja di lapangan dan bersenang-senang. Bagaimana pendapatan? Belajar dari pengalaman, saya tidak banyak menuntut. Saya berusaha menerima berapapun penghasilan yang diberikan. Terlebih kondisi berada di rumah sendiri membuat urusan perut bisa dikatakan, aman, sentosa, damai, dan sejahtera.

Bekerja di lapangan menuntut saya bertemu dengan banyak orang baru. Dari kalangan bawah hingga kalangan menteri sekalipun. Bekerja di lapangan juga memaksa saya untuk mau tidak mau harus mengucap banyak-banyak syukur. Bagaimanapun, nyatanya masih banyak orang yang keadaannya jauh di bawah saya--kondisi keluarga saya--meski banyak yang jauh di atas saya. Tapi, setiap motor melaju, ada banyak kisah yang membuat saya sadar dan paham akan keadaan normal ini.

Sebut saja, kejadian beberapa waktu lalu. Seusai menunaikan salat Asar di masjid, saya bersiap untuk kembali mengenakan sepatu. Pemandangan sederhana membuat saya berpikir, betapa hidup saya jauh lebih beruntung dibandingkan 97 juta penduduk miskin di Indonesia. Seorang penjaja minuman keliling berhenti di depan masjid dan bersiap mengambil wudu. Tapi sebelumnya, dia menyelipkan uang ke kotak amal yang berada di depan masjid. Bayangkan, berapa puluh ribu uang yang dihasilkan setiap harinya jika harga pergelasnya hanya dijual dua ribu rupiah? Asumsinya, jika 20 gelas terjual setiap harinya, berarti dia mendapatkan penghasilan sebesar 40 ribu rupiah. Itu kalau laris. Kalau tidak? Belum dipotong beaya makan dan uang untuk ditabung. Sebenarnya, bukan urusan saya menghitung pendapatan orang. Tapi jika melihat jumlah penghasilan tidak menentu setiap harinya, membuat saya berkaca, mengkalkulasi pendapatan pribadi. Betapa saya jauh lebih beruntung. Lalu, jika demikian, mengapa masih pelit bersedekah? Tidak ingatkah janji Allah yang menjamin rizqi hamba-Nya jika rajin bersedekah? Saya malu.

Lain lagi dengan pemandangan yang membuat saya kembali merenung. Malam itu, sekitar pukul setengah 12  saya baru sampai rumah setelah liputan. Lapar, saya memutuskan untuk membeli nasi goreng dekat rumah. Saya melihat seorang pemulung dengan bawaan super menggunung tengah berjalan, mungkin mau pulang. Saya berpikir, pulang larut, berangkat pukul empat subuh, apa sempat makan? Kontras sekali dengan kondisi saya. Lagi-lagi saya malu. Masih banyak keadaan di lapangan yang seringkali membuat saya miris. Miris pada diri saya, keadaan timpang, dan pemandangan yang ada.

Bukan saya mau sesumbar. Tapi saya ingin bercermin, merefleksikan segala yang saya dapat pada kenyataan. Betapa kondisi di lapangan penuh dengan pelajaran. Filosofi kehidupan. Dimana penjaja susu mengajarkan saya bahwa bekerja pada dasarnya untuk berbagi, bersedekah. Bahwasanya, di bawah kita, semiskin, sekurang apapun kondisi kita, nyatanya masih banyak yang jauh lebih membutuhkan. Mungkin grafisnya begini, di bawah saya ada penjaja susu, di bawah penjaja susu masih ada tuna wisma, gepeng, fakir miskin, dan sebagainya. 

"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian." (Adz-Dzariyat: 19)

Cukup jelas ayat tersebut menerangkan. Bahwasanya, di sebagian harta saya, ada bagian untuk mereka yang membutuhkan. Dan saya rasa, bekerja bukan hanya mengajarkan untuk bersedekah. Tapi juga untuk berhemat. Tidak menghamburkan uang, tidak berlebihan, dan bermewah-mewahan, serta hidup sekucupnya. Selain bermewah-mewahan adalah salah satu sifat setan, juga hidup berlebihan adalah indikasi ketimpangan sosial. Bukankah Rosul sudah mengajarkan untuk hidup sederhana dan secukupnya? Pelajaran, bukan hanya diajarkan di bangku sekolah. Tapi lapangan dan pengalaman hidup orang lain adalah pelajaran yang sesungguhnya. Maka, bersyukurlah hidup seperti ini. Alhamdulillah wasyukurillah.

Hiduplah sederhana seolah kamu akan meninggalkan dunia. Hiduplah secukupnya, seolah kamu akan miskin esoknya.  

Saturday, June 1, 2013

Nostalgia: Rambut Nenek

Eits, membaca judul, jangan sampai kalian memikirkan hal yang nggak-nggak. Karena Rambut Nenek yang saya maksud bukanlah sembarang rambut.

Orang Jawa Barat banyak menyebutnya Rambut Nenek sesuai dengan bentuk morfologinya. Tapi orang Jawa Timur justru menyebut makanan ringan berbahan utama gula ini dengan sebutan Arbanat atau Arum Manis. Arbanat adalah jajanan tempoe doeloe yang dijajankan oleh seorang pedagang keliling dengan alat musik gesek menemani. Khas sekali. Bahkan bisa ditebak, jika ada penjaja makanan membunyikan alat musik geseknya, maka itu berarti penjual Arbanat.

Arbanat adalah makanan dari Lamongan--ini versi penjaja Arbanat. Yang kini keberadaannya bisa dibilang mulai tenggelam. Modernisasi membuat satu persatu penjaja Arbanat beralih menjadi penjaja makanan yang lebih masa kini. Padahal, kalau ditilik lebih dalam, Arbanat adalah jajanan sejuta umat yang nikmat tiada tara tiada banding. *halah*

Di kota besar seperti Surabaya, eksistensi penjaja Arbanat bisa dibilang sedikit. Beruntung, daerah tinggal saya masih cukup sering dilewati oleh penjaja-penjaja makanan ringan tempo dulu.

Pagi itu, masih seperti pagi sebelumnya. Penjaja Arbanat menggesek alat musiknya--yang saya lupa menanyakan namanya :/-- dan berjalan santai di depan rumah. Saya sengaja memanggilnya untuk bernostalgia.

Masih sama persis dan tidak ada yang berubah sedikit pun dari masa lalu saya. Penjaja Arbanat masih menggunakan tempat layaknya kaleng kerupuk dengan dua tutup. Satu tutup berisi Arbanat, sisanya untuk uang. Biasanya, penjaja Arbanat menjual dagangannya seharga 1000 rupiah untuk Arbanat dengan potongan koran sebagai tempatnya. Sambil menunggu pesanan (saat itu saya membeli 3000 rupiah dengan wadah plastik) saya sempat berinteraksi dengan penjaja.

Bahan baku Arbanat adalah gula dan air. Dimana porsi gula lebih banyak dibanding air. 2 kg gula dicairkan dengan 1 liter air hingga mengeras seperti bahan baku Gulali yang bisa dibentuk beraneka ragam. Setelah mengeras, bahan Gulali tersebut ditarik-tarik hingga menyerupai rambut-rambut halus dan kering. Itulah kenapa beberapa orang menyebutnya Rambut Nenek. Selain bentuk, warnanya yang putih pudar mirip uban.

Proses pembuatan Arbanat terbilang cukup lama. Untuk mencairkan gula, membutuhkan 2 jam proses pengadukan. Proses ini tidak boleh diabaikan. Sebab, jika lengah sedikit, gula akan kembali mengkristal. Kemudian proses penarikan dan pengeringan membutuhkan waktu 30 menit.

Setiap harinya, penjaja Arbanat ini menyiapkan 2 kg bahan untuk dijajankan. Dan memulai segala prosesnya pada petang hari.

Arbanat, Arum Manis, atau Rambut Nenek, apapun namanya, makanan ringan tersebut sudah seharusnya dilestarikan. Tentu kita tidak ingin jajanan era 80-an ini lenyap begitu saja, bukan? Rasanya yang legit mengingatkan kita, bahwa jajanan tempo dulu pada kenyataannya tidak semanis masa kini.