Friday, July 26, 2013

FF: Tanpa Kata

Namanya Noer Sam. Aku memanggilnya Sam. Diakui atau tidak, pertama kali aku mengenalnya, aku sudah tertarik dengan tampilan fisiknya. Kurus, tinggi, rambut ikal sedikit panjang, sorot mata tajam dipadukan dengan alis tebal, membuat wanita yang menatapnya pasti langsung terbuai. Belum lagi hidung mancung dan lesung pipi yang hanya tampak di pipi kanan. Cinta fisik yang membuai. Sisi fisik lain Sam yang menarik adalah tangan dan jemarinya.

Dulu, kukira ada yang aneh dengan tangan lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu. Lentik dan gemulai. Tapi aku akhirnya tahu siapa dia sebenarnya, setelah melihat langsung apa yang menjadi pekerjaan sehari-harinya. Dia seorang pelukis dengan aliran surealis. Ya, dia pelukis. Sehari-harinya melukis. Sama halnya dengan pelukis lain, Sam selalu cuek dan diam saat melukis. Hahaha, ya tentunya begitu. Memangnya selama ini ada pelukis yang banyak omong saat melukis? Jarang.

Jujur saja, saat bertandang ke rumahnya yang dibentuk sekaligus menjadi galeri seni, aku langsung terpikat dengan lukisan-lukisan sureal. Awalnya aku tidak paham dengan kategori lukisan yang membutuhkan penjelasan rinci itu. Tapi terlalu sering melihat karya lukisnya, aku jadi jatuh hati. Cinta mati malah. Satu-dua kali aku sempatkan untuk datang ke galerinya untuk mengecek lukisan terbaru tiap minggunya. Padahal, di balik itu semua, aku lebih rindu melihat wajah tampan yang pendiam itu.

Sam memang tampan, juga pendiam. Tapi dia seorang yang humoris, mudah bergaul, dan murah senyum. Yah, siapa sangka jika sifat-sifatnya itu telah membuatku terpedaya, mabuk kepayang. Ah, Sam memang sialan. Selain tampan, dia juga baik hati. Belum lagi sikap manisnya jika aku tengah mengikuti gerakan tangannya, belajar melukis.

Kau tahu, sejak pertemuan tiga tahun lalu, aku langsung jatuh cinta. Aku selalu mati-matian menahan diri agar tidak terlihat mati gaya dan salah tingkah di depannya. Pelan-pelan, Sam mengajariku melukis. Pelan-pelan juga hubungan kami semakin dekat. Tapi aku tahu persis, bahwa mengharapkan Sam menjadi lebih dari seorang teman adalah berlebihan. Ya, bagaimanapun, toh dia seorang mentor.

Perjalananku dengan Sam sudah tidak terhitung lagi. Semakin hari semakin aku merindunya, mencintanya. Aku tahu, itu terlalu berlebihan. Tapi memang begitu adanya. Kadang, menyadari segala ketidakmungkinan itu begitu perih, mengiris hati. Sekuat hati aku juga harus menabahkan diri, menghadapi segala kemungkinan buruk yang mau tidak mau, cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Cinta itu menyedihkan.

"Sam, hari ini kamu mau mengajariku apa?" aku membawa kanvas putih dengan palet di satu tangan. Sementara tanganku yang lain sibuk memencet ponsel, membalas sms dari rekan kerja yang menanyakan keberadaanku. Sepulang kantor tadi, aku sengaja tidak berpamitan pada siapapun. Sungguh aku tidak sabar bertemu dengan Sam. Rindu--meski terkesan berlebihan.

Kakiku melangkah perlahan, melewati ruang belakang. Kulihat Sam tengah serius melukis. Namun, menyadari keberadaanku, dia mengangkat pandangan, melempar senyum. Duh, Sam.

"Hai, Sam," aku balas tersenyum menyapa. Dalam hati tak keruan. Ya, kau tentu tahulah bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam. Aneh, misterius, dan sering geregetan. Sambil mengambil duduk di dekatnya, aku menata papan penyangga. Sesekali kucermati lukisan yang digambarnya. Aku mengeryit, memikirkan makna lukisannya. Seorang wanita menatap ke atas dengan menggunakan topi. Yang menarik, topi si wanita penuh dengan gedung dan teknologi masa depan. Bukan itu saja, pantai dan gunung juga dilukiskan. Pandanganku beralih pada satu mobil gaya klasik nan elegan, limusin, yang terbuka pintunya. Seorang yang mungkin saja adalah sosok lelaki keluar dari pintu limusin. Seorang diri. Kenapa seorang diri?

Jika aku artikan secara kasar, mungkin saja maksudnya adalah seorang wanita yang punya masa depan cerah, visioner, dan terperinci pada kehidupannya. Tapi mobil limusin dengan sosok lelaki seorang diri, apa maksudnya?

Aku berdeham, melempar pandangan pada Sam yang tengah mencampurkan warna pada palet. "Sam," sahutku perlahan, menunggu reaksinya. Dia menoleh. "Laki-laki ini, siapa?" tanyaku kemudian. Bukan hal yang aneh jika aku bertanya demikian, kan?

"Eh, maksudku, kenapa dia sendirian?" buru-buru aku meralat ucapan. Sam, masih dengan mimik wajah seriusnya tersenyum. Palet dan kuas diletakkan, beralih menatapku. Dia, masih sama dengan Sam yang sebelumnya. Sam berhari-hari yang lalu. Hanya diam dan tersenyum. Aku menunggu dengan patuh, membalas senyum.

Pelan-pelan ia bercerita. Aku bisa membaca dan memahami bahasanya. Dia mengisahkan siapa dan apa saja yang ada di lukisannya. Seksama aku mendengarkannya. Aku paham, kemampuanku memahaminya memang jauh berbeda dibandingkan dengan wanita-wanita yang sempat dekat dengannya sebelumku. Mungkin, itulah kenapa kami menjadi dekat.

Dalam cerita yang ia jelaskan, aku menarik kesimpulan. Bahwa lelaki itu adalah Sam yang tengah menunggu seorang wanita. Hatiku seketika berdegup. Siapa wanita itu? Siapa dia? Sedikit geer aku menanggapi Sam. Seulas senyum kuberikan.

Aku meraih tangan Sam yang lentik, meremasnya pelan. Kutatap matanya tegas, "Nanti, Sam. Pada masanya, kamu akan tahu siapa wanita yang layak menjadi pendampingmu," aku bertutur. Tidak bisa kubohongi, ada denyutan memanas yang mengalir di sekujur tubuhku. Rasanya belum rela aku melepas Sam, jika memang ada wanita lain yang layak untuknya. Apa kabar aku? Apa kabar hatiku?

Sam tercenung, menatapku dalam diam. Lekat sekali kami berpandangan hingga aku bisa melihat bayanganku di manik hitamnya. Tangan Sam terulur, menyapu anak rambut yang mampir ke pipiku. Hampir mati rasanya aku berada di titik nol seperti ini. Hormonku naik turun tak keruan. Sialan, Sam. Dengan seksama jemarinya bermain di sekitar wajahku. Hingga kepayang aku tak lagi bisa berpikir. Sebuah isyarat hormon yang memaksaku menutup mata. Menikmati sensasi yang diberikan Sam.

"Sam..." aku membasahi bibirku sendiri, gugup tak biasa. Kupandang lelaki tampan di depanku dengan sejuta tanya. Dia tersenyum. Kembali dia mendekat, mengecup keningku dalam diam. Cinta kadang memang tidak butuh kata, hanya sikap. Dan sikap Sam mungkin adalah jawaban dari kekhawatiranku selama ini. Sam memang tidak bisa berkata-kata, tapi dia bisa bersikap. Dia bisa menceritakan perasaannya, lewat lukisan, padaku.

Sam--satu dari sekian banyak tuna wicara yang juga butuh cinta.

Saturday, July 13, 2013

FF: Rona Rona

Rona mengambil handuk yang tersampir di kursi makan, mengelap wajahnya yang basah oleh air. Hari yang cukup melelahkan. Sambil menepuk-nepuk wajahnya dengan handuk, pikirannya melesat ke ringkasan aktivitas yang dilakoninya sejak pagi hari. Bangun tidur, malas-malasan, curhat-curhatan, mandi, sarapan, hang out sama Aji yang ujung-ujungnya dicurhatin juga, dan pulang malam. Kalau ditotal, sehari penuh hari liburnya dihabiskan bersama sahabat tampannya itu.

Kedua pundaknya dinaikkan, menghela napas. Bersahabat dengan Aji selalu memberi cerita tersendiri. Susah, senang, lupa, kebodohan, pertemanan, persaudaraan, pertengkaran, semua dijalani bersama. Bahkan, hal-hal konyol yang remeh sekalipun. Setidaknya, satu kalimat yang ada di pikiran Rona, bersahabat dengan Aji selalu menyenangkan, menentramkan. Tapi, jika Aji jatuh cinta dengan wanita lain, apakah persahabatan masih akan menyenangkan?

Seulas senyum disunggingkan Rona seiring dengan gelengan kecil. “Kenapa aku harus bersusah payah memikirkan masa depan Aji jika tidak bersamaku? Seberapa penting kehadirannya untukku?” tanyanya pada diri sendiri. Langkahnya berayun menuju kamar seraya mengalungkan handuk di leher.

Jarum jam dinding menunjukkan angka sebelas, belum cukup larut bagi seorang Rona yang lebih sering menghabiskan waktu di jalanan untuk sekadar mencari inspirasi. Lalu lalang orang di jalanan sering kali menjadi bagian dari ide tulisan yang kadang juga dilabuhkan di kanvas putih. Rona seorang penulis yang belakangan mulai belajar melukis hanya karena komentar Aji, penulis yang juga pelukis kayaknya seru ya, Na? Bisa menuangkan ide di kertas dan kanvas. Lucu aja gitu. Lalu tidak berapa lama kemudian, dirinya dengan bangga menyebutkan niatan untuk melukis. Saat itu, Aji tertawa disusul dengan ledekan seperti biasa.

Sebenarnya, Rona dan Aji bukanlah sahabat kental sejak kecil. Mereka hanya dipertemukan oleh waktu yang pada akhirnya memaksa keduanya untuk sering bersama. Peruntungan dan banyak kebetulan membuat keduanya sepakat untuk menjadi sahabat. Aji sendiri merupakan seorang insinyur di perusahan telekomunikasi. Bertolak belakang dengan keseharian Rona yang cenderung santai dan penuh imajinasi. Tapi, nyatanya, perbedaan tidak membuat keduanya jauh, justru semakin dekat.

Rona ingat betul, saat itu, mereka bertemu di rumah makan yang menjajakan menu makanan nasi Padang di dekat rumahnya. Rona yang tengah kelaparan memesan rendang tanpa sayur, sedangkan Aji memesan menu yang sama dengan sayur. Keduanya duduk di meja yang berbeda, sama-sama seorang diri. Saat pramusaji menyajikan menu makanan pesanan, Rona langsung melahap tanpa mengecek betul tidaknya pesanannya. Hap!

“Kayaknya itu pesanan saya, deh. Saya pesan pakai sayur soalnya,” celetuk suara laki-laki dari seberang meja Rona.

Disusul dengan suara lirih dan permohonan maaf pramusaji. “Maaf, Mbak, saya salah kira.”

Jdeng. Rona menelan nasinya cepat-cepat, menimpali. “Ya udah, ambil aja sayurnya. Toh, belum saya makan. Nih,” Rona mengambil garpu, berniat memberikan sayuran dari piringnya. Kontan saja Aji melotot sejadi-jadinya.

“Nggak usah, makasih. Saya bisa pesan lagi,” sahutnya kaget.

Cuek, wanita berambut pendek itu tertawa. “Nah, itu pinter. Mengganggu orang makan aja,” sahutnya datar.

Dering suara ponsel di atas bantal cukup mengagetkan. Baru saja dirinya hendak berbaring, tapi urung. Melihat nama yang tertera di ponsel membuat tubuhnya enggan meneruskan niat. Aji. Telunjuknya otomatis menggeser simbol hijau di layar sentuh ponselnya, lalu menekan loudspeaker.

“Apalagi, Ji?”

Suara di seberang tertawa keras. “Belum tidur, Na?”

Rona menepuk-nepuk bantal, mensugesti diri sendiri agar bantal terasa lebih empuk setelah ditepuk. “Gimana bisa tidur kalau kamu telepon begini?”

Aji kembali tertawa. “Ya, maaf.”

Bibir Rona mengerucut. “Buruan, deh, kenapa lagi dengan Key? Kenapa lagi dengan kamu? Kenapa lagi dengan kalian, hm?” tanyanya memberondong. Seharian membicarakan tiga topik yang sama terus terang saja membuatnya mual. Secara dia mudah bosan dengan satu topik yang sama. Tapi dia tahu betul, sahabatnya tengah jatuh cinta. Mengalah sedikit tentu tidak masalah.

Laki-laki di seberang cengengesan. Sementara Rona berbaring dengan ponsel di sebelah telinganya. “Jadi, Key barusan cerita sama aku, Na,” sahutnya memulai cerita.

“Hm-mm. Then?”

“Dia cerita soal Gilang. Kamu kenal?” suara Aji terdengar datar. Cengengesan dan tawanya memudar.

Di lain tempat, Rona mengernyit, mencoba mengingat-ingat siapa lelaki yang disebutkan sahabatnya. Posisi tidur telentangnya berubah menjadi duduk, mematikan loudspeaker. “Enggak. Siapa emang?”

Rona masih tidak mengerti arti pembicaraan Aji. Meski sudah balik bertanya, pikirannya tetap beterbangan. Gilang siapa ya? Batinnya pelan.

“Gilang itu mantan calon pacarnya Key, Na.”

“Hah?” Rona mencolot seketika. Diakui atau tidak, ada sebagian hatinya yang ikut mencelos mendengar kalimat Aji barusan. Dia masih tidak percaya. “Jangan bercanda, deh, Ji. Kamu bilang Key ngasih perhatian ke kamu? Kok dia punya gebetan, sih?” mulutnya menganga, pikirannya masih tidak bisa mencerna. Jujur saja, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana perasaan Aji? Bagaimana reaksinya begitu mendapat kalimat pernyataan dari Key, wanita pujaannya? Pasti menyakitkan.

Dia tahu, setahun terakhir pembicaraan mereka memang berubah total sejak Aji mengenal Key. Pembicaraan yang dulunya seputar kegiatan mereka, berubah menjadi Key, Key, dan Key. Rona memang bosan, tapi dia tidak ingin mengecewakan Aji, sahabatnya. Lalu, ketika pembicaraan seputar Key, Key, dan Key harus terhenti sekarang juga, kenapa ada rasa kehilangan yang menusuk batinnya? Seperti duri ikan yang perlahan menggerogoti rasa nyaman kerongkongan lepas.

Dari pembicaraan dengan Aji itu juga dirinya tahu Key seperti apa. Meski belum sempat bertemu, setidaknya gambaran Key sebagai sosok yang menyenangkan sudah ada di depan mata. Tapi sekarang?

Rona menelan ludah keras-keras, menahan rasa perih yang perlahan menjalar. “Kok bisa gitu, Ji? Memangnya dia cerita apa ke kamu?”

Tanpa diberi pertanyaan sekalipun, batin Rona tahu, kondisi lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu tidak sedang baik. Pikirannya pasti ke mana-mana. Tapi, dia lebih tahu keadaan. Keadaan yang memaksanya untuk tetap duduk di kamar, menunggu pagi. Karena dia paham, Aji pasti butuh waktu untuk sendiri.

Helaan napas Aji terdengar. Meski sebenarnya hati Rona khawatir, dia berusaha tenang, setidaknya menurut dirinya sendiri. “Ya. Dia baru saja cerita kalau Gilang menolaknya. Dia menangis, Na. Bisa dibayangkan, seseorang yang kita cintai menangisi orang lain yang dicintainya, lalu menceritakan semuanya pada kita. Kamu bisa bayangkan, Na?” suara Aji bergetar membuat bulir air yang ditahan Rona lepas tanpa kendali.

Itu terlalu menyakitkan. Rona hapal bagaimana rasanya berada di tempat seperti itu. Dia pernah merasakannya. Dan itu dengan Aji. Bibir Rona bergetar hebat, dikatupkan kencang-kencang menahan tangis yang kini menggerogoti hampir sepenuh hatinya. Cinta selalu menyakitkan baginya.

“Aku nggak tahu, kenapa aku bisa bertahan dengan keadaan yang sebenarnya tidak berpihak padaku, Na,” ucap Aji yang kini terdengar lelah. Suara menggebunya nyaris hilang seluruhnya.

Rona menyeka tangis tertahannya, mendongakkan kepala, dan menghembuskannya kuat-kuat. “Aku tahu, karena kamu kuat, Ji. Kamu juga pasti tahu, kenapa Tuhan justru memberimu keadaan yang seperti sekarang ini? Karena Tuhan tidak ingin melihat kamu lebih kecewa dibandingkan hari ini,” sahutnya mantap. Hatinya berdesir mengucapkan kalimat yang sebenarnya lebih dia butuhkan. Kalau ingin gambling, Rona yakin, dirinya adalah wanita lemah yang hanya ingin dianggap sok bijak dan tegar. Padahal, hatinya kosong melompong.

Suara di seberang hilang seketika. Berganti dengan suara jangkrik kelaparan.

Di atas sana, langit kelam. Hanya satu-dua bintang yang berani beradu dengan malam, menemani dua anak adam yang membisu diam. Mungkin saja mereka beradu pikir, mencari pembenaran atas hati masing-masing. Bahwa sebenarnya, cinta tidak perlu dicari. Apalagi dipaksa. Karena hatilah yang menunjukkan, memertontonkan pembenaran sejati.

Friday, July 12, 2013

Short Trip: Pantai Bajul Mati

Perjalanan mengajarkanmu arti dari sebuah proses.

Pintu gerbang Bajul Mati.

Beberapa hari lalu Malang Selatan gempa. Kejadian ini tentu mengingatkan saya pada dua minggu terakhir, di mana posisi saya saat itu berada di lokasi gempa tersebut, Bajul Mati. Wilayah Bajul Mati sendiri merupakan wilayah pesisir yang memang merupakan daerah rawan gempa dan tsunami. Letaknya sama dengan Pantai Tamban dan Pantai Goa Cina, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tapi, diakui atau tidak, perjalanan dua minggu lalu adalah mengesankan. Menikmati keindahan karakteristik tiga pantai yang berbeda, tapi masih dalam satu garis bujur.

Pantai Bajul Mati adalah pantai terakhir sebelum kami memutuskan untuk pulang. Terletak bersisian dengan Pantai Goa Cina, jarak Pantai Bajul Mati tidak begitu jauh. Karena Pantai Bajul Mati terletak tepat di balik bukit yang memisahkan dengan Pantai Goa Cina. Malah, saking dekatnya, bisa ditempuh dalam kurun waktu 5 menit saja. Dekatnya jarak ini membuat estimasi waktu untuk sampai Surabaya lebih cepat. Padahal, makin molooor =)).

Selama di perjalanan menuju Pantai Bajul Mati, pengunjung akan disuguhi sebuah jembatan harapan yang mirip dengan jembatan di kota-kota besar. Jembatan kokoh dengan perairan payau (pertemuan antara perairan laut dan perairan air tawar) dilengkapi barisan tanaman pencegah abrasi dan erosi laut, mangrove, di bawahnya. Ya, ini yang membuat Pantai Bajul Mati berbeda dengan Pantai Tamban dan Pantai Goa Cina. Perairan payau yang tenang dengan jenis ikan-ikanan khas bisa dilihat dari atas jembatan. Mau foto? Bisa banget! :p

Jembatan harapan.

Perairan payau.

Memasuki wilayah Pantai Bajul Mati, saya sempat dibuat kaget begitu si penjaga parkir menyebutkan biaya parkir motor sebesar 15000. Gimana nggak? Itu mahal sekali. Setelah sempat bertanya dengan nada nggak enak, ternyata 15000 adalah biaya 2 tiket @6000, 2000 rupiah sebagai jasa asuransi, dan 1000 rupiah untuk parkir. Oh.

Ah iya, penamaan Bajul Mati sendiri katanya penjaga parkir yang sempat saya galaki :p, terlahir dari seekor buaya yang masuk ke desa dan mau memangsa penduduk, tapi mati karena tertimpa pohon. Saat itu sekitar tahun 40-an kalau nggak salah ingat. Sehingga desa di sana dinamakan Bajul Mati, pun pantainya. Yaah, who knows?

6000 rupiah perorang.

Dari tempat parkir motor berada, bibir pantai sudah tampak. Jelas berbeda dengan dua pantai sebelumnya, Pantai Bajul Mati terlihat lebih tandus disertai dengan gazebo-gazebo kecil di dekat pantai. Ada semacam tali peringatan agar pengunjung tidak main-main dengan ombak. Konon, di Bajul Mati ini sering menelan korban, persis dengan Balekambang. Siang hari dan terlihat tandus, membuat kami lebih memilih untuk duduk di gazebo sambil bergosip tralala dan menghabiskan bekal. Sepertinya di sini puncak lelah setelah sebelumnya sibuk jepret-jepret. Tapi yang jelas, sejauh mata memandang, Pantai Bajul Mati ini tampak lebih cadas dan tidak bersahabat. Entah kenapa?

Tampak tandus dan panas.
Gazebo.
Ombak galak.

Meski ada larangan untuk tidak bermain air di pantai, nyatanya pengunjung masih banyak yang bermain-main dengan air. Tapi jangan salah, umumnya pengunjung memilih bermain air di perairan payau yang relatif tenang tanpa ombak. Perairan payau cenderung lebih tenang karena ombak tertambat di akar-akar mangrove. Itulah kenapa mangrove diperlukan bagi wilayah pesisir pantai.

Bukit di perairan payau.
Perairan payau.
Warung-warung.

Ketiga pantai yang kami kunjungi memang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tapi, ada satu yang sama, yaitu di sekeliling ketiga pantai tersebut sama-sama dikelilingi oleh perbukitan. Membuat pemandangan tampak lebih sejuk dinikmati.

Selain ketiga pantai tersebut, wilayah Selatan Malang masih menyimpan puluhan pantai yang harus disinggahi. Dan tentunya memiliki sejuta pesona yang beragam. Mari luangkan waktu untuk belajar tentang keanekaragaman hayati di tempat kita berpijak. :D

Short Trip: Pantai Goa Cina

Berjalanlah sejauh kamu mampu, tapi jangan lupa untuk kembali.



Selamat datang di Pantai wisata Goa Cina.

Pantai Goa Cina. Saya tidak pernah tahu tempat ini sebelumnya, hanya sering mendengar. Maklum, saya anak rumahan yang hanya bepergian dengan keluarga—dulunya. Menjelajah wilayah pesisir pantai Selatan Malang membuat saya antusias. Masuk dalam kategori short trip, karena saya berjalan dalam kurun waktu kurang dari satu hari. Yes, I know, everything happen for a reason, include this pretty short trip. What kinda reason?

Perjalanan menuju Pantai Goa Cina dari Pantai Tamban tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar kurang dari 15 menit kalau ngebut di jalanan yang super lengang dan mulus. Tapi jangan salah, dari jalan utama menuju Pantai Goa Cina dijamin menghancurkan pantat. Ini serius, jalanan makadam penuh batu bercampur lumpur. Bisa dibayangkan bagaimana bentuknya, kan? Kalau nggak menjaga keseimbangan, kepleset. Kalau pelan-pelan, beban jadi terasa lebih berat. Kalau terlalu kencang dan cepat, bisa jatuh. Hahaha, lebay ya? :p.

Well, perjalanan dari jalan utama menuju Pantai Goa Cina ada sekitar 15 menit dengan kecepatan sedang menyesuaikan kondisi pantat *ini kenapa bahasannya pantat melulu, deh? =))* di tepi jalan, ada beberapa rumah penduduk yang menjual buah semangka yang aduhai sekali, kayaknya. Secara saat kami hampir sampai, jam sudah menunjukkan pukul 10.30, panas. Kami sempat tergoda, tapi langsung cerdas berpikir, kalau beli, mau dibelah pakai apa? Kalau minta dibelah sekalian, apa sanggup menghabiskan semangka berdua saja? Karena otak cerdas kami mengatakan lebih baik jangan yasudlah, kami lanjutkan perjalanan :p.   

Tidak banyak berbeda dengan Pantai Tamban, di Pantai Goa Cina, tiket masuk dipatok perorang sebesar 5000 rupiah. Nominal ini sama dengan parkir motor yang juga dihargai 5000 rupiah *langsung mikir, kayaknya di Surabaya hanya di Hotel B yang menerapkan harga parkir motor tinggi :p*.

Loket pintu masuk.

Ada yang menggelitik saat kami tiba di Pantai Goa Cina. Jika sebelumnya, saya merasa kurang puas dengan Pantai Tamban, maka kali ini saya khawatir mendapatkan hal serupa, ke-ce-wa. Yaaah, mirip-mirip dengan di-php-inlah *beda woooi! :p*. Tapi perasaan itu musnah seketika saat saya melihat deburan ombak putih bersih dengan air laut yang biru pekat. Perpaduan eksotika warna bukit yang hijau dipadukan dengan jernihnya air laut, putihnya pasir pantai, cerahnya langit, dan arak-arakan awan, membuat saya berdecak kagum. Ini mahakarya. Ini indah. Dan saya menyukainya.

Indah.
Teduh dan sejuk.
 Dilarang mandi, kecek boleh. :p
Kontras.

Kontras. Yang membuat Pantai Goa Cina berbeda dengan PantaiTamban adalah rerimbunan pohon palm-palman yang ada di sekitar bibir pantai membuat teriknya siang terasa lebih menyejukkan. Belum lagi dengan beberapa tenda yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berada, bikin pingin melungker, ngantuk :p. Jepret sana-jepret sini, rasanya saya benar-benar jatuh hati dengan pantai ini. Sayang, ombaknya cukup galak, nggakk lucu kalau saya terseret arus rasanya *bilang aja kalau cemen, Tiiiq =))*

Pencari rumput untuk ternak.

Kenapa Goa Cina? Pertanyaan ini mendasar sekali. Sama halnya dengan kejadian yang selalu punya alasan, pun nama. Kata Har, di sekitar pantai, ada goa yang membuat pantai ini mendapat julukan Pantai Goa Cina. Karena penasaran, kami pun berjalan menyusuri tepi pantai sebelah kanan (bayangkan posisi kalau kita menghadap pantai) menuju goa yang dimaksud. Terus terang saja, menyebut nama goa, saya sudah memiliki ketakutan tersendiri. Bukan apa-apa, takut ada apa-apa. Halah, hahaha. Letak Goa Cina sendiri tidak jauh dari bibir pantai. Dihiasi dengan payung kuning dengan aksen khas negeri Tirai Bambu, goa ini terlihat memiliki jalur pendek—kayaknya :p. Di depan goa berada, ada satu kisah atau alasan tentang penamaan Goa Cina sendiri. Alkisah, disebutkan seorang pertapa asal Cina menghilang dan meninggalkan secarik kertas dengan tulisan Hing Hook atau Goa Cina. Nah, sejak itulah pantai ini dinamakan Pantai Goa Cina. Dari atas tebing sinilah, pemandangan di bibir pantai bisa dipotret. Keindahannya, juga keasrian wilayah pesisir pantai. Meeeh, serius bikin pingin nyebur.

Keindahan laut di Pantai Goa Cina ini juga bisa dinikmati sembari bersantai di warung makan yang tersedia. Atau kalau bermalam di lokasi pantai, bisa sambil berteduh di tenda. Ah, iya, soal tenda ini, sebenarnya cukup disayangkan bila keberadaannya ada di sekitar pantai, meski mungkin menyenangkan dan melenakan pikiran. Karena bayangpun, saat saya beranjak dari melihat sekitar pantai, ada sepasang kekasih—yang semoga saja mereka telah sah— tengah berganti baju di tenda yang sama. Yaaa, bukan urusan saya memang, tapi itu mengganggu.


Goa Cina.
Pemandangan dari Goa Cina. Memukau.

Overall, percaya atau enggak, di Pantai Goa Cina ini membuat kami betah berlama-lama sekali duduk sambil asal jepret sana-sini saking nggak tahannya membiarkan keindahan panoramanya dianggurin. Nggak percaya? Buktikan sendiri :D.

Beras mundak, tangan methankring. :p
Warung-warung.
Tenda-tenda.
Kami.

Friday, July 5, 2013

Short Trip: Pantai Tamban

Pantai Tamban Indah.

Memiliki jatah libur sehari membuat saya berpikir sebisa mungkin meluangkan waktu untuk jalan-jalan. Minggu lalu, dengan rencana yang sudah disusun satu bulan sebelumnya, saya akhirnya berangkat untuk jalan-jalan, short trip. Malang tetap menjadi tujuan wisata utama karena aksesnya yang mudah dan partner travellingnya yang ready stock #eh :p. Sebenarnya, saya berniat untuk ke Pulau Sempu, tapi karena satu kendala, tujuan pun dialihkan ke tiga pantai yang ada di Malang Selatan.

Kata Malang Selatan langsung tergambar di pikiran sebagai daerah Kabupaten Malang yang terpencil, jauh dari peradaban, susah sinyal, dan melelahkan *ditimpuk warga Malang :p*. Tapi karena saya penasaran dengan pantai-pantainya, bolehlah dicoba perjalanannya. Toh, apa yang ada di pikiran belum tentu sesuai dengan kenyataannya, kan? *haha, gaya banget!*

Partner perjalanan kali ini sama dengan saat trip ke Bromo bulan lalu, Har. Seperti sebelumnya, Kamis malam sepulang kerja, saya bergegas untuk mandi dan beberes seperlunya. Karena siang harinya saya menyempatkan diri untuk ke stasiun dan mendapati tiket kereta Surabaya-Malang habis, maka saya putuskan untuk menggunakan jasa bus. Hitung-hitung sekaligus survey lapangan tarif bus setelah BBM naik sudah ikut naik apa belum. Dan ternyata sudah naik, padahal saat itu Perda belum diketok, apalagi SK Menteri. Tarif bus patas Surabaya-Malang sekarang dibanderol 23.000, sebelumnya 20.000 rupiah.
Menggunakan jasa bus dari terminal Bungurasih, bus berhenti di pemberhentian terakhir, terminal Arjosari Malang. Saat itu, sekitar pukul 9 malam, angkot sudah minim. Apalagi angkot tujuan ke Mergosono—tempat Har bermukim— yang hanya tersisa satu. Masih dalam misi survey lapangan, tarif angkot di Malang justru bikin saya jantungan *lebay :p*. Gimana nggak? rencana kenaikan tarif angkot kala itu sebesar 500-700 rupiah, dari 2500-2700 menjadi 3200-3700 yang mungkin realisasinya dipatok seharga 4000 rupiah. Tapi di Malang sudah mencapai 5000 rupiah, hebring!

Sampai di tempat Har, kami melakukan ritual laiknya wanita pada umumnya. Apalagi kalau bukan girl talk’s moment? :p, sampai waktu menjelang tidur.

The day—kami berangkat pukul 7 tepat dengan menggunakan motor. Estimasi waktu 1,5-2 jam perjalanan. Tujuan perjalanan mantai kami yakni Pantai Tamban, Pantai Gua Cina, dan Pantai Ungaran Bajul Mati (yang nanti akan saya ceritakan karakteristik pantainya di posting yang berbeda).

Ketiga pantai yang akan kami kunjungi ini berada di balik perbukitan dan pegunungan. Jadi, diakui atau tidak, perjalanan menuju ketiga pantai ini menyenangkan. Pepohonan dan rumah-rumah sederhana menghiasi barisan perbukitan. Dengan akses yang sudah baik, jarak lebih dari 80 kilometer pun terasa sebentar—meski pantat mulai panas :p.

Pemandangan di perjalanan.

Terletak di desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan, Malang Selatan, kami sampai pukul 8.45. Pos pembelian tiket belum buka, jadi kami langsung masuk tanpa membeli tiket yang dibanderol 5000 rupiah. Awal sampai di Pantai Tamban saya takjub. Kenapa? Karena saya rindu pantai, rindu melihat deburan ombak yang mendayu-dayu *mulai lebay :p*. Dari pintu masuk yang terbuat dari bambu, saya melihat gerombolan anak muda yang menginap di pantai. Terlihat dari beberapa tenda yang masih berdiri. Saya pikir, seru kali ya, kalau mendirikan tenda dan bermalam di pantai.

Selayang pandang, aktivitas penduduk lokal pagi itu masih mati. Sejumlah perahu yang biasa digunakan melaut, terparkir berjajar. Logis, ombak pagi itu cukup tinggi. Fyi, Malang Selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga jika pasang, cukup membahayakan jiwa. Malang Selatan juga memiliki potensi rawan gempa dan tsunami.

Melihat-lihat sejenak, sekilas saya bisa simpulkan, bahwa Pantai Tamban bukan pantai yang begitu indah. Deburan ombaknya tidak jernih dan cenderung membawa partikel pasir, sampah organik, dan benda-benda lain yang hanyut di laut. Semuanya terbawa arus dan tertambat di bibir pantai. Dan yang membuat kondisi pantai lebih menyedihkan adalah dengan banyaknya anjing penduduk berkeliaran, persis Bali. Tapi saya mencoba menikmatinya. Sayang, kalau jauh-jauh dari Surabaya berniat untuk liburan tapi nggak dinikmati, ya, kaaan? :p.

Kapal dan perbukitan.
Pantai di balik bukit.
Sampah di mana-mana.

Di sisi kiri—jika kita menghadap pantai— (maafkeun, saya disorientasi arah, hanya paham kanan-kiri :D) pengunjung bisa mengambil foto dengan background klasik, pepohonan kering yang menjorok. Lumayan bagus viewnya kalau yang ambil gambar tahu tekniknya. Kalau nggak tahu tekniknya, yaa, semacam saya, asal jepret, hahaha. Di tengah panasnya cuaca pantai pagi itu, di depan rumah penduduk berjajar rerimbunan pohon dan perahu. Lumayan menyejukkan. Tapi sayang, lagi-lagi banyak anjing. Mana pakai acara anjing-anjing itu berantem pula #ngeeek.

Mau foto prewed di sini? Bisa! :))
Har :p
Anjingnya berantem

Dari sisi kiri, kami menyusuri sisi kanan—teteup, jika kita menghadap pantai. Di sana, rerimbunan pohon tampak lebih manusiawi karena terdapat tempat duduk dari pohon yang bisa digunakan untuk beristirahat. Cukup cepat kami berfoto-foto geje di Pantai Tamban ini, kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya, Goa Cina.

Saat akan melanjutkan perjalanan, kami sempat melihat-lihat kondisi sekitar desa. Kami mendapati satu musalla mungil, satu pemondokan dan travel agent, jejeran kamar mandi, dan rumah penduduk yang dilengkapi dengan anjing. Banyaknya anjing-anjing tersebut membuat saya seketika saja berpikir, bahwa penduduk lokal Pantai Tamban bukanlah warga muslim. Pikiran ini sempat didukung dengan kabar lalu yang sempat saya dengar saat di bangku sekolah dulu, bahwa daerah Malang Selatan adalah tempat kristenisasi terbesar di wilayah Malang. Kabar sambil lalu dan kenyataan di lapangan ini ternyata diamini oleh salah satu tokoh di wilayah Bajul Mati saat kami bertandang ke rumahnya.

Warung-warung.
Perahu cuti.
Ponten.
Travel agent.
Tempat istirahat.
Musalla.

Well, bagi saya, apapun agamanya, yang penting saling bertoleransi sudah cukuplah. Banyak anjing atau enggak, asalkan warga muslim tidak merasa terganggu, kenapa nggak yaaa? :D

Monday, July 1, 2013

Kuliner: Lontong Balap Rajawali

Lontong Balap. Mendengar namanya, mungkin di antara kalian sudah bisa menebak bahwa itu adalah makanan legendaris asal Kota Pahlawan. Iya, betul sekali, Lontong Balap adalah makanan khas kota Surabaya. Menurut asal muasal, penamaan Lontong Balap didasarkan pada penjual lontong cambah (kecambah, Red) yang dipikul sambil setengah berlari karena membawa beban terlalu berat. Sehingga jalannya pun tampak seperti orang tengah balapan. Ya, who knows?

Komposisi Lontong Balap sendiri pun tampak sederhana. Yakni, irisan lontong, kecambah rebus, kuah, potongan tahu, dan lentho. Yang membuat Lontong Balap ini nikmat adalah racikan bumbunya. Di mana bumbu terdiri atas petis (hasil fermentasi) ikan atau udang, cabe sesuai selera, dan bawang goreng. Ada beberapa tempat yang pembuatan petisnya diulek di piring alias perpiring perporsi petis, ada juga yang petisnya sudah jadi. Jadi, hanya akan ditambahkan di piring. Umumnya, opsi kedualah yang dipilih pedagang.

Sebagai makanan khas kota berlambang Suro dan Boyo, Lontong Balap menjadi ikon. Nah, sebagai ikon, ada satu tempat makan Lontong Balap yang istimewa dan recommended sekali. Berada di jalan Rajawali, Lontong Balap ini berdiri sejak tahun 1956. Sudah lahir? :p

Sedikit sejarah tentang Lontong Balap Rajawali. Dulunya, ayah dari Cak Miranto—pemilik Lontong Balap— ini berjualan keliling dengan pemanggul. Sekitar 4 tahun berkeliling, beliau memutuskan untuk menetap di sisi SPBU Rajawali. Nah, di awal tahun 90-an, warga asli Gresik ini lantas memutuskan untuk pindah ke trotoar jalan Rajawali atau persis di depan SPBU Rajawali. Tempatnya minim, tapi pelanggannya, beeeh, jangan remehkan; banyak! Bahkan, bukan hanya warga asli yang mencicipi, warga luar kota, luar pulau, dan luar negeri pun jika bertandang ke Surabaya pasti mampir ke sini.

Tidak ada yang berbeda dengan Lontong Balap pada umumnya. Hanya saja, banyak pelanggan yang mengaku bahwa kecambah atau tauge milik Lontong Balap Rajawali ini lebih enak, kriuk, dan berbeda. Apalagi bumbu petisnya yang muaknyuuus. Memang iya, sih, kalau dibandingkan dengan Lontong Balap yang pernah saya coba. Biasanya, Lontong Balap ini dinikmati dengan Sate Kerang dan Es Degan. Apa alasannya? Sate Kerang sebagai bahan penambah lauk (bagi yang merasa makan hanya dengan kecambah, tahu, dan lentho, kurang). Sedangkan Es Degan sebagai penetralisir dari rasa petis yang bagi sebagian besar orang terasa terlalu menyengat, membuat gatal, dan menimbulkan bau tak sedap.


Di Lontong Balap Rajawali ini, perporsinya dibanderol 10.000 rupiah, Es Degan 3.000 rupiah, dan Sate Kerang 5.000. Tapi, berhubung saya dalam rangka bekerja, jadi gratisan. *dijewer massal :p*. Bagaimana? Tertarik, nggak? Kalau enak, kabar-kabar yaa. Kalau nggak enak, yaa, simpan sajaaa, rasa di hatimuuu, sudah lupakan hasrat... *malah nyanyi :p*


Lontong Balap (kecambah, lentho, tahu)

Petis


Sate Kerang

Es Degan

Rame di saat makan siang

Lontong Balap Rajawali