Sunday, August 25, 2013

Lost in Jogja #3


Ngayogyakarta.

Saya masih ingat betul, sebelum berangkat ke stasiun menuju Jogja, Pakde telepon dan bilang, hati-hati yoo, feelingku nggak enak. Eaaa banget. Saat itu saya tertawa. Meski demikian, semua pesan hati-hati dari siapapun, saya ingat-ingat. Termasuk dari ibu. Beliau tidak tahu kalau saya berbohong. Sebenarnya bukan berbohong, tapi membelokkan kata-kata. Memang rencana di awal, saya berangkat dengan seorang teman, tapi kenyataannya dia batal ikut. Masa iya, saya juga ikut batal? Tentu nggak, kan? Nah, di saat berangkat itulah, saya tekankan, nanti ada teman menunggu di stasiun. Padahal nggak ada :p.

Tapi, kalau melihat keadaan saya di Jogja selama dua hari, kenyataannya memang tidak ada yang harus ditakutkan dan tidak perlu takut. Yang membuat saya pede, selain ada teman--meski tidak ditemani jalan atau sekadar bertemu, rambu-rambu yang lumayan jelas, merasa masih serumpun bahasanya, juga karena saya percaya akan ada balasan bagi siapa saja yang berbuat baik. Bukan saya mengharap atau sudah melakukan perbuatan baik yang buanyaaak, tapi saya percaya, bahwa Tuhan menjaga saya. Is it right? 

Hari terakhir, masih sama dengan pagi sebelumnya. Saya bangun pagi, salat, mandi, dan browsing sambil menunggu waktu sarapan di roof top (harga hostel include sarapan). Tujuan saya pagi itu selain check out pukul 12.00, saya mau ke Benteng Vredeburg. Waktu sisanya? Saya masih bingung. Sebenarnya saya pingin ke Parangtritis. Tapi setelah browsing dan menghitung jarak PP, berkemas, dan check out, sepertinya kurang bisa. Akhirnya, saya putuskan mengalir saja. Ah, iya, bicara sarapan, fyi, sarapan di roof top ini seru. Di sisi kaca pembatas, ada sebuah kolam yang dibuat memanjang sejajar kaca. Kolam ini bukan sekadar kolam, karena bagi pengunjung yang membawa anak, bisa banget si anak disuapin sambil main air. Tidak terlalu dalam, hanya berkisar 750 sentimeter saja. Seru, kan?






Roof top hostel yang oke punya.

Setelah sarapan, tujuan pertama saya di hari terakhir adalah Benteng Vredeburg. Tidak sulit mencari keberadaan benteng. Sebab, letaknya berada tepat di daerah 0 kilometer kota Jogja alias berada di seputar Malioboro; tepatnya persis di depan PKL Malioboro--Istana Kepresidenan--diapit Pasar Bringharjo, Monumen 1 Maret, dan Taman Pintar. Karena letaknya berdekatan dengan hostel, maka saat itu juga saya langsung menuju benteng. Sekitar pukul 7.00 saya sampai dan mendapati benteng belum buka. As I informed you before, umumnya, tempat wisata buka pukul 8.00. Saya putuskan untuk berkeliling di sekitar terlebih dahulu untuk menghabiskan waktu. Tujuan saya Pasar Bringharjo dan Malioboro, ya siapa tahu ada yang cocok :p #modus. Tapi, setelah berjalan dari ujung sampai ujung, ternyata kedua tempat ini belum buka. Akhirnya, saya kembali ke benteng, segera membeli tiket masuk, dan menjadi pengunjung pertama *asli, penjaga loketnya bahkan belum siap-siap :)))*. Harga tiket masuk Benteng Vredeburg 2.500 rupiah saja.

Diakui atau tidak, dari sekian banyak tempat wisata yang saya kunjungi, Benteng Vredeburg dan Prambanan yang paling membuat saya jatuh cinta. Berada di benteng membuat saya seolah-olah masih berada di zaman Belanda tahun 1760. Seolah-olah berada pada saat Belanda membangun benteng untuk memata-matai kegiatan di Istana Kepresidenan yang tepat berada di depannya. Namun, saat itu, Belanda berdalih membangun benteng untuk menjaga keamanan di sekitar istana. Eksotis. Sama halnya dengan Prambanan, saya masih tidak percaya jika kisahnya benar-benar ada. Amazing.

Di dalam benteng, bangunan dan ruang-ruang yang ada masih terlihat kokoh. Sejumlah barang peninggalan bisa dilihat di benteng yang kini dialihfungsikan menjadi museum. Ada beberapa diorama yang menggambarkan sejarah perjuangan masyarakat Jogja. Dan yang terpenting, hingga saat ini, tidak banyak ruang yang berubah (kalau dilihat dari dokumentasi yang ada). Saya berkeliling cukup lama di tempat ini dan baru menyadari bahwa benteng ini luas *gempor*.

Pagi di Vredeburg.

Latihan upacara 17 Agustus di Istana Kepresidenan Jogja.

Puas berkeliling benteng, saya berjalan menuju Bringharjo lagi, penasaran dengan isinya. Ternyata, setelah melihat isinya dengan jelas, Bringharjo persis dengan DTC dan sejumlah pasar lain di Surabaya. Di sini, saya mencoba melihat, apakah benar-benar murah barang yang ditawarkan. Apalagi masih pagi dan mereka baru menggelar lapak. Katanya, seperti umumnya pedagang di Bali dan sejumlah tempat wisata lain yang pernah saya datangi, mereka akan melepas harga berapapun jika ditawar pembeli pertama; pelaris. Saya mencoba mencari celana batik motif yang lagi ngetren. Setelah berkeliling, ada penjual yang melepas harga 16.000 dari harga semula 35.000 rupiah--selisih seribu rupiah dari harga yang saya tawarkan. Sebenarnya, saya nggak mau kalah kalau nawar, tapi kaki sudah gempor dan pantat sudah capek pingin duduk. Yang jelas, di Malioboro dan Bringharjo, jiwa tega-menawar-sampai-mampus lebih kuat dibanding di tempat wisata. Percaya, deh.

Bringharjo pagi mirip Pasar Kembang Surabaya.

Dari Bringharjo, saya menuju ke salah satu tempat yang lumayan unik. Yakni Pabrik Tegel Kunci. Sedari awal saya browsing tempat wisata, saya sudah tertarik dengan tempat ini. Karena saya penasaran dengan cara pembuatan tegel (saya menyebutnya tekel) atau ubin yang sempat menempati masa kejayaan, dulunya. Cukup mudah mencari pabrik pembuatan tegel ini. Karena letaknya dekat dengan pusat Bakpia Pathuk, Jalan KS. Tubun, which is dekat dengan hostel tempat saya menginap. Siapapun yang ingin berkunjung ke mari, harus cermat. Karena bangunannya benar-benar tradisional dan kuno, sehingga tidak seperti bangunan modern. Dan itulah kerennya.

Saat memarkirkan motor, saya celingukan memasuki wilayah pabrik. Karena jelas terpampang selebaran ditempel bahwa pabrik saat itu tidak menerima kunjungan wisata. Tapi, saya nekat, saya sendirian, masa iya tidak boleh sekadar melihat-lihat? Begitu masuk, saya disuguhi showroom sederhana yang menyuguhkan pelbagai model tegel. Ah, pingin tidur rasanya, merasakan dinginnya tegel. 

Untuk masuk pabrik ini, pengunjung tidak dikenakan biaya. Hanya saja, perlu izin di kantor yang letaknya persis di sebelah pabrik. Mungkin karena saya sendirian, maka pihak pabrik mengizinkan masuk dan melihat-lihat proses pembuatan tegel. Hal pertama yang membuat saya terpesona adalah pembuatan tegel benar-benar manual. 

Cara pertama untuk membuat satu tegel bermotif adalah dengan menuangkan cat warna ke dalam cetakan. Setelah itu, berturut-turut semen putih, semen abu-abu, dan pasir bangunan dicampur. Langkah terakhir pengepresan dan dikeringkan. Begitu manualnya proses pembuatan tegel ini, salah satu perajin mengaku setiap harinya bisa membuat 110 tegel (saja). Saya tidak sempat bertanya banyak karena saya ketahuan memotret dan langsung cabut begitu kena tegur. Saya tidak tahu bahwa dilarang memotret, karena saat izin pun tidak diberi tahu. Terlepas dari itu, saya senang akhirnya melihat langsung pembuatan tegel dengan sensasi dingin itu. 


Pabrik Tegel Kunci.
Cat pola dituang.

Pengepresan.
Tegel jadi.
Penjemuran.
Display tegel.

Sekitar pukul 10.00 saya bergegas untuk kembali ke hostel untuk berkemas dan check out. Tapi sebelumnya, mampir ke Toko Bakpia (yang berbeda dengan semalam) untuk melihat proses pembuatannya. Sayang, kurang beruntung. Si pemilik toko mengaku proses pembuatannya terpisah jauh dengan toko. Ngoook.

Bakpia.

Mengepak barang menjadi hal yang membosankan ketika saya tahu barang bawaan cukup banyak. Dari yang semula hanya membawa ransel dan tas selempang jalan, kini harus bertambah dua kantung belanjaan yang cukup penuh. Cukup lama saya berpikir di dalam kamar (yang kebetulan penghuninya sudah jalan). Memikirkan cara bagaimana menghabiskan waktu sampai jam 15.00 sore dengan bawaan banyak. Sambil berpikir, saya duduk di lantai dengan pemandangan los di balik hostel. Sama halnya dengan pemandangan di Surabaya, Jogja juga memiliki penduduk yang tinggal dengan rumah bambu. Saat itu, saya mencermati apa yang mereka lakukan. Mulai dari memasak dengan tungku, hingga membuka hasil pungutan pagi, mungkin dia pemulung.

Pemandangan dari kamar.

Setelah memutuskan untuk berkemas, check out, dan mengambil uang jaminan kunci (fyi, untuk menginap di hostel ini, sediakan gembok ya. Karena pengelola hanya menyediakan lemari tanpa gembok) sebelum kena charge lebih, pilihan saya akhirnya jatuh pada Taman Pintar untuk menghabiskan waktu. Selain letaknya yang dekat, juga efisiensi waktu. Tapi sebelumnya, saya sempatkan untuk early lunch dengan menu Lotek di daerah Alun-alun Lor dekat Wijilan. Kalau diperhatikan sekilas, penjual Lotek umumnya juga menjual Gado-gado. Yang membuat Lotek terasa istimewa di lidah saya adalah bumbu olahannya segar. 

Berbeda dengan Gado-gado, bumbu Lotek disajikan mentah. Maksudnya, penjual baru membuat bumbu sesuai pesanan. Isi bumbunya; cabe, bawang putih, garam, gula merah, kacang, dan air. Sedangkan sayurannya; kecambah, kubis diiris tipis, bayam, mentimun, dan tomat. Ditambahkan kerupuk udang, serius, rasanya masih kebayang-bayang sampai sekarang. Segar. Sayang, perporsi yang dihargai 6.000 perak saja ini buanyaaak banget isinya. Jadinya, nggak habis. Sayang banget.



Lotek.

Setelah melotek, saya langsung menuju ke Taman Pintar. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik, tapi mau dikata apalagi? Daripada nganggur, mending menambah referensi. Sekilas, Taman Pintar bisa ditebak seperti Jatim Park, Batu. Tapi, setelah dicermati, kayaknya, sih, memang sama. Saya hanya melihat dari luar. Karena untuk masuk pergedung atau perfasilitasnya dikenakan biaya. Males banget :p. 

Namanya Taman Pintar, didominasi oleh anak-anak. Saking banyaknya anak-anak, sampai pusing. Di luar, di wilayah gratis, anak-anak bisa bermain air yang letaknya tepat di depan musalla. Kalau ingin mengajarkan motorik halus anak, ada tempat belajar membuat clay, yang tentunya bebayar. Ada sekitar 30 menit saya berputar-putar di sekitar Taman Pintar, sebelum saya putuskan untuk melihat penjual buku pelajaran di komplek Taman Pintar. Tidak ada yang berbeda dengan Pasar Blauran dan Jalan Semarang di Surabaya, pemandangan orang jual beli buku seperti biasa. Hanya saja, agaknya harganya lebih mahal, ya? Kebetulan pas saya memotret, ada pembeli yang membeli tiga buku resep dengan harga 30.000 rupiah. Padahal kalau di Surabaya, bisa lebih murah dari itu. Entahlah. 

Taman Pintar.

Gong selamat datang.

Mirip Blauran--Semarang.

Memutuskan untuk mengembalikan motor, saya segera menggeser tempat setelah sebelumnya sms Reza. Di perjalanan pergeseran, saya kembali melewati Bringharjo dan menemukan pengamen (?) yang uniknya, mereka memainkan alat musik lengkap dan diselingi tarian. Si penari laki-laki dengan tingkah gemulai. Saya berhenti dan menjepretnya. Pemandangan serupa juga saya temukan di daerah Jalan Sultan Agung. Mungkin memang seperti itu caranya? Entahlah.


Pengamen (?)

Single trip harus segera diakhiri. Setelah mengembalikan motor dan sampai di Stasiun Tugu, saya merenung. Betapa solo backpaking ini seru. Tidak perlu merepotkan teman karena jadwal yang berbeda, tidak perlu juga menyatukan perbedaan. Semuanya, semau dan semampu saya. Ada kalanya, sendiri memang menyenangkan. 
Stasiun Tugu Jogja.

Hanya saja, yang perlu diperhatikan selama solo backpaking; 
- Ada baiknya merumuskan segala tujuan wisata yang hendak dicapai. Bukan seperti saya, serba dadakan :).
- Ada baiknya juga mempelajari budaya sekitar terlebih dahulu, minimal tahu. Jangan buta total.
- Ada baiknya membaur dengan masyarakat sekitar. Beri senyumlah paling nggak.
- Siapkan dua tas. Satu untuk perlengkapan, satu untuk membawa barang penting. Siapkan juga uang secukupnya di saku tas atau celana untuk sesuatu yang mendadak, mempermudah jangkauan.
- Solo backpaking memang hal yang baru buat saya, tapi ada baiknya selama perjalanan, tidak memakai sesuatu yang mencolok. Biasa saja. Sebisa mungkin agar tidak terlihat seperti pendatang. 
- Yang menjadi kekurangan selama single trip adalah tidak ada yang mengingatkan saya akan limit uang di dompet. Secara saya suka lapar mata. Masalah tidak ada yang memotretkan diri, bisa diatasi dengan meminta tolong sesama wisatawan atau pengelola. 

Simpulannya, single trip itu menyenangkan. Ini serius. Bahkan, membuat ketagihan. :)

Itinerary:
- Tiket Sancaka-Agro Wilis Surabaya-Jogja PP: 180.000
- Hostel 2 malam @70.000: 140.000
- Tiket Prambanan & Audiovisual: 30.000 & 5.000
- Tiket Tamansari: 4.000
- Tiket Kraton: 5.000
- Tiket Benteng Vredeburg: 2.500
- Bensin: 33.000
- Makan: 48.500
TOTAL: Rp 448.000 

Thursday, August 22, 2013

Lost in Jogja #2



Candi Prambanan.


Pagi-pagi, saya memulai hari di kota orang. Rencananya, saya akan mengunjungi beberapa tempat wisata. Di antaranya, Kraton Jogja, Tamansari, Sentra Kerajinan Perak Kotagede, Cokelat Monggo Factory, dan Candi Prambanan. Namun, berhubung pagi-pagi saya sudah siap dan rapi jali, sedangkan banyak tempat wisata baru buka pukul 8, maka saya menghabiskan waktu pagi dengan browsing rute dan sejumlah tempat wisata lain di komputer hostel. Waktu pagi saya juga habis untuk sarapan di roof top hostel. Ini seru. Pagi-pagi, saya sarapan di roof top dengan pemandangan kota Jogja yang lengang dan masih sejuk. Dari roof top, Merapi terlihat samar-samar. Cuaca pagi yang sejuk, sedikit berkabut, sinar matahari malu-malu, dan ramai dengan keluarga, membuat pagi menjadi lebih ceria. Indah. Seketika hilang pikiran saya tentang Surabaya yang selalu padat--pagi sekalipun.
Sarapan di roof top.

Pemandangan Jogja lengang dari roof top.
Sky is the limit.

Selesai sarapan, saya masih kebingungan arah dan tujuan, secara masih pukul 7 pagi. Akhirnya, setelah berpikir dan mempertimbangkan, saya memutuskan untuk mengubah rute. Awalnya Candi Prambanan baru akan dikunjungi sekitar pukul 13.00, tapi karena jaraknya yang cukup jauh, yakni di perbatasan Jogja-Solo, jadi saya putuskan--setelah nge-Whatsapp Masjek juga-- untuk ke Prambanan terlebih dahulu. Terhitung dari wilayah 0 kilometer kota Jogja (terletak di persimpangan gedung BNI46-Monumen 1 Maret-Malioboro-Jalan Panembahan Senopati) jarak ke Prambanan sekitar 19,5 kilometer yang bisa ditempuh dalam kurun waktu 30-40 menit (ini estimasi dari Masjek). Jarak yang jauh membuat saya senang, sekalian menghapal jalan--meski pada kenyataannya rutenya hanya luruuuuuusss. Hahaha :)))).

Perjalanan dimulai dengan Prambanan menjadi tujuan pertama. Hal pertama yang saya lakukan ketika berkendara seorang diri adalah mencermati jalan dan menghapal nama-nama jalan. Ini tidak jauh berbeda dengan yang saya lakukan ketika di Surabaya. Saya lebih menyukai menghapal nama jalan dibandingkan dengan arah mata angin, pusing :|. Saya menikmati perjalanan dengan rasa masih tidak percaya. Di Jogja, saya mengendarai motor, berkeliling untuk liburan, seorang diri, siapa yang menyangka? Ini sama halnya dengan memperkaya pengetahuan--meski pada akhirnya tidak begitu pintar :))). Sampai di Prambanan pun saya tidak henti-hentinya tertawa. Iya, persis orang stres, tertawa-tawa sendiri. Saya senang alang kepalang *berlebayan :)))*.

Sembari menghapal jalan, ada beberapa hal yang berbeda. Jika pagi-pagi Surabaya sudah penuh dengan ribuan kendaraan, maka di Jogja justru lengang. Gimana nggak? Jam setengah delapan pagi, jalanan masih sepiii banget. Saya bahkan mendapati lampu merah kurang 24 detik diterobos dengan santainya oleh pengendara. Saya bengong melihat kejadian dua-tiga kali pagi itu. Surabaya yang biasa membiarkan lampu merah habis baru jalan (ya iyalah, memangnya mau tertabrak?), di Jogja malah diterobos. Anehnya, semua kendaraan begitu. Jadi, saya berhenti sendirian menunggu lampu merah habis, kena klakson, dan ikut arus #ngoook. Yang berbeda lagi, di Jogja, waria means bencong justru mau keluar siang hari. Beda banget dengn pemandangan di Surabaya. Waria baru keluar ketika Maghrib. Pemandangan ini terjadi di lampu merah Jalan Panembahan Senopati.

Sampai di Prambanan, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk sebesar 30.000 rupiah. Tiket ini berbeda dengan tiket terusan ke Candi Ratu Boko, emaknya Roro Jonggrang, yang cuma 37.000 plus transport. Bodohnya, saya baru sadar kalau tiket terusan ini jauuuuhh lebih murah dibandingkan dengan Candi Prambanan aja. Dan saya baru sadar ketika sudah keluar dari Prambanan. Errr. -___-"

Masuk Candi Prambanan yang merupakan candi umat Hindu terbesar di Indonesia, pengunjung diharuskan menggunakan sarung batik putih. Untuk pengunjung perempuan, simpul ikat di sebelah kiri. Sedangkan laki-laki di sebelah kanan. Tujuannya, mempermudah petugas mencermati pengunjung.

Cerita Para Dewa.



Pose. :p

Sebenarnya, setiap masuk objek wisata waktu yang diasumsikan Masjek satu jam. Tapi, berhubung saya sering terhanyut dengan sikon, jadi di Prambanan selama tiga jam. Iya, tiga jam buat muter-muter motret-motret geje :p. Di sana ada fasilitas berkeliling tiga candi dengan menggunakan sepeda single (10.000) atau double (20.000). Pingin, sih, tapi berhubung yang tersedia saat itu hanya yang double, jadi niat berkeliling kompleks candi urung. Masa iya, pakai sepeda double tapi sendirian. #kodekeras :)))

Di sekitar Prambanan juga ada museum yang bisa dinikmati gratis. Ada workshop membatik dan melukis di sana. Kalau mau melihat sejarah di balik megahnya candi ramping nan singset dan segala cerita tentang Brahma, Wishnu, dan Siwa serta Roro Jonggrang pengunjung bisa masuk ruang audio-visual dengan tiket 5.000 rupiah. 

Sama halnya dengan tempat wisata lainnya, di kompleks Prambanan juga banyak sekali terdapat penjual aneka benda. Di sini, niat hati menahan gejolak belanja bubar sudah. Padahal niat awal mau belanja di Malioboro malah memborong di sini. Tips: Kalau belanja di Prambanan, ada baiknya dibatasi seperlunya. Karena harga di Malioboro dan Beringharjo jauh lebih murah. Nawar pun bisa setega mungkin. *sadis :p* Bicara belanja, saya sama dengan wanita lainnya. Sering kalap dan nggak mikir. Ini kejadian nyata. Keluar Prambanan, saya menenteng banyak belanjaan. Tapi itu normal yaa. Hahaha :))).

Dari Prambanan, saya mampir menikmati Dawet Jogja yang ada di sekitar jalan, berjejer. Namanya Dawet, ya tentu 11-12. Kalau Dawet Jogja, isinya ya dawet *mbulet :))*. Dawetnya berwarna putih dan diberi gula merah. Yang membedakan hanya tambagan tape ketan putih yang dijual perbungkus 500 rupiah. Tape ketan putih, sih, masih cukup banyak ditemui di Surabaya. Harga Dawet Jogja 4.000 rupiah dengan dua tape ketan. Worth it-lah untuk cuaca di siang hari yang lumayan panas.

Dawet Jogja.

Perjalanan dilanjutkan ke Tamansari dan Kraton Jogja. Niat awal mencermati jalanan Jogja masih saya lakukan. Makanya, saya berkendara hanya setengah ngebut. Percaya atau tidak, uniknya berkendara di Jogja, sama sekali tidak merasakan takut untuk nyasar. Kenapa? Meski rambu-rambu jalan di jalan utama kurang jelas, tapi penunjuk arah di jalan-jalan kecil cukup jelas. Penunjuk jalan ini selalu mengarah ke jalan besar dan utama. Jadi, kemungkinan nyasar kecil. Makanya, saya tenang aja meski sendirian. :))))

Tamansari adalah sebuah istana atau pemandian istri dan putra-putri kerajaan. Bangunan ini dibangun pada masa kejayaan Sri Sultan Hamangkubuwono I. Memasuki area wisata, pengunjung diharuskan membayar tiket 4.000 rupiah. Masuk gerbang Tamansari yang terasa pertama kali selain bangunan kuno kokoh adalah bau wewangian, sesajen. Ya, siapa tidak tahu? bahwa Jogja memang didominasi oleh hal-hal berbau mistis, bahkan hingga sekarang. Gemericik air yang jernih luar biasa terdengar begitu melewati gapura pertama. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara memenuhi wilayah ini sekadar untuk berfoto. Di sini, diakui atau tidak, ada perasaan oh, hanya begini saja dalam batin saya. Karena memang hanya menampilkan bangunan kuno kokoh berwarna krem tanpa apa-apa. Polos.

Tamansari.

Di wilayah Tamansari, ada perajin wayang kulit yang mengaku memproses awal hingga jadi selama dua minggu persatu wayang. Saya sempat mengambil gambar perajin ini, namun begitu sepi dan saya masih takjub dengan prosesnya, si perajin nyeletuk seiklasnya aja, Mbak. Kalau ambil gambar saya harus bayar. Dueng. Saya melipir menuju ruang pajang wayang jadi. Di sini, saya ditegur penjaganya. Tapi begitu saya jawab hanya mau lihat-lihat saja, si penjaga langsung menunjuk bangunan Tamansari dan berujar kalau mau lihat-lihat saja, di sana, Mbak. Saya diusir. Hahaha :))).

Perajin Wayang Kulit.

Perjalanan dari Tamansari dilanjutkan dengan Kraton Jogja. Tapi, sebelum ke Jogja, saya tidak sengaja melajukan motor pelan-pelan sambil tengok sekitar. Saya menemukan rumah pajang kaos Dagadu. Hahaha, haduuuh, serius, naluri saya kembali naik. Belanja lagiiii!!! :))). Di Dagadu, selain membeli kaus, saya juga belajar untuk menggunakan kartu gesek debit pertama kalinya. Secara duit cash di dompet cuma cukup untuk dua kaus, sedangkan saya beli tiga, ya menggeseklah saya. Ternyata, enak juga kalau belanja modal gesek begini. Muhahaha, asli norak!

Dagadu dan Kraton Jogja berada di satu tempat, yakni dekat Alun-alun Lor, dekat juga dengan Jalan Wijilan--jalan yang terkenal dengan Gudegnya. Saya tidak makan di Wijilan, tapi makan di emperan dekat Kraton dengan menu yang sama. Tips: Hitung harga makanan dengan cermat. Jangan mau dibodohi. Tanyakan harga peritemnya berapa. Makan siang dengan menu Gudeg emperan rasanya masih sama dengan Gudeg yang lain *iyalah, sama-sama Gudeg* di sini, lauk ayam dan telur dihitung beda. Makan siang saya total seharga 17.500 rupiah.

Dagadu.

Masuk ke Kraton Jogja, harga tiket dipatok 5.000 rupiah. Hal pertama yang saya ingat, di hall Kraton Jogja, rasanya dulu ada kereta kuda yang dipajang lengkap dengan segala peralatan zaman dulu. Tapi sekarang, hall dibiarkan los. Entah kemana semua itu yang dulunya dipajang. Di sini, saya tidak banyak waktu karena ada perasaan oh begini saja. Toh, masih ada tujuan lain yang harus saya tuntaskan, yaitu Kerajinan Perak Kotagede dan Cokelat Monggo Factory.

Kraton Jogja loooss.

Pagi hari sebelum memulai perjalanan, saya telah menyusun rute ke mana tujuan saya. Begitu pula dengan arah ke Kotagede. Tidak sulit menemukan Kotagede. Yang membuat sulit hanya apa yang di go.map ternyata tidak sepenuhnya benar. Saya nyasar dan kebingungan karena go.map ngasih petunjuk yang nggak saya pahami *yeee, ini, sih, saya yang salah baca kali, ya :)))*. Akhirnya, saya Whatsapp Masjek minta ditunjukin ke jalan yang lurus. Sayangnya, setelah sampai di tempat tujuan, para perajin perak sudah pulang, karena saya sampai pukul 15.30. Sedangkan mereka bekerja dari pukul 8.00 hingga 15.00. Sayang banget. Jadinya, saya nggak masuk ke toko sekaligus workshop perajin perak, langsung ke tujuan selanjutnya, Cokelat Monggo Factory.

Masih di daerah Kotagede, Jogja, siapa, sih, yang tidak kenal Cokelat Monggo? Cokelat ini khas Jogja. Dari namanya saja sudah terlihat. Monggo means mariii. Di pabrik dan showroom Cokelat Monggo, saya seketika dibuat lupa bahwa tujuan pertama kalinya adalah melihat pembuatan cokelat. Saya begitu antusias begitu ditawari cokelat untuk dicicipi. Sialan, tahu banget kelemahan :)))). Sudah lupa tujuan, saya akhirnya hanya membeli cokelat. Lupa berat sama tujuan ke pabrik. Ah, iya, untuk mencapai lokasi pabrik dan showroomnya, pengunjung akan melewati makam raja-raja Mataram. Saya, sih, nggak mampir. Cuma lewat dan asal tahu saja, hehehe.


Cokelaaaatt!!!

Menjelang Maghrib, setelah menyempatkan jama salat *nggak usah protes buat yang biasa memprotes salat dilarang dijama kalau tujuannya berlibur :p*, saya kembali ke hostel. Tujuannya simpel saja, mandi, meletakkan tas belanja, lalu cabut lagi. Iya, tujuan saya masih kurang. Malioborooo!! Apalah artinya Jogja tanpa Malioboro. :)))

Tempat syutingnya FTV, nih. Malioboro. :)))

Di Malioboro, saya bertekad kuat untuk tidak membeli kaus. Secara kausnya sudah buanyak. Saya hanya mencari makan dan aksesoris. Meski ketar-ketir menahan hawa napsu belanja baju, ternyata saya kuat juga, loh. Terbukti setelah mondar-mandir beberapa kali, saya hanya membawa pulang aksesoris dan sandal, juga perut kenyang. Tips: Di Malioboro, harga kaus dan segala macamnya jauh lebih murah dibandingkan dengan di tempat wisata. Kalau niat belanja, niatkan di sini saja. Oh iya, kalau mau makan malam non-seafood, di sini ada penjual nasi kucing dan bakso-mi ayam. Standarlah. Ada juga fast food, makanan sejuta umat. Makan mi ayam (lagiiii), makan malam saya total 10.000 rupiah saja.

Dari Malioboro, saya sempat melirik jam. Ternyata masih belum cukup larut. Niat keliling Jogja masih cukup kuat. Ya, secara besoknya, besok sore, saya harus kembali ke Surabaya, jadi harus tuntas apa yang menjadi keinginan terpendam ini *preeett! :)))*. Saya putuskan untuk ke Jalan KS. Tubun. Letaknya dekat hostel banget. Tau, kan, itu tempat apa? Iya, KS. Tubun adalah jalan dengan sentra Bakpia Pathuk. Sebenarnya tujuan belanja makanan dijadwalkan di hari terakhir, tapi daripada nganggur, kenapa nggak? Sayangnya, proses pembuatan Bakpia hanya sampai Maghrib, jadi saya hanya puas melihat kotak-kotak pembungkus yang dijajar untuk dihangatkan. Tips: Kalau memang berniat membeli Bakpia, boleh beli di tempat paling tenar, Bakpia 25. Tapi kalau beli cemilan lain, ada baiknya beli di tempat lain. Harganya bisa selisih sampai 10.000 rupiah. Misal, Dodol Picnic Garut. Di Bakpia 25 dijual 31.000 di tempat lain hanya 21.000. 


Bakpia 25.

Puas berbelanja dan jalan-jalan, saya putuskan untuk kembali ke hostel pukul 9 malam. Badan sebenarnya belum capek, tapi saya bingung mau ke mana lagi. Fyi, saya keluar hostel saat para bule teman sekamar belum bangun (pukul 05.30) dan balik hostel saat mereka sudah tidur (pukul 21.00). Hari yang menyenangkan. Besok, hari terakhir saya di Jogja.

Thursday, August 15, 2013

Lost in Jogja #1

Monumen Tugu, monumennya FTV :)).

Jogja. Mungkin bagi sebagian orang terdengar biasa saja. Tapi, bagi saya, Jogja punya arti tersendiri. Dulu, zaman saya masih SD, cukup sering saya dan keluarga berlibur ke Jogja. Terakhir, kelas 2 SMP, tahun 2002--ketauan tuanya :)))-- setelahnya, saya hanya bisa berangan kapan kembali. Maka, setelah hampir sepuluh tahun saya berangan, ada satu kesempatan di mana saya bisa berlibur ke Jogja. Yakni, setelah lebaran. Rencana ke Jogja sendiri hanya sekilas, sebatas lewat. Namun, saya serius. Jika memang tidak ada teman, kenapa tidak bisa sendiri? Toh, setiap harinya pekerjaan saya berkeliling sendiri. Saya pasti bisa.

Sekitar H-7, di sela-sela kerja, saya mengecek ketersediaan tiket kereta api via online tujuan Jogja. Di situ, saya sekaligus pesan tiket PP kelas bisnis-ekskutif. Bukan apa-apa, tiket ekonomi sampai akhir Agustus sudah ludes soalnya. Jadi pilihannya, tinggal iya atau tidak. Apalagi, kedua tiket yang saya pesan tersebut hanya tersisa satu. Artinya, pilihan 'iya' harus sesegera mungkin diambil dalam hitungan menit. Kalau tidak? Hilang sudah kesempatan liburan. Harga tiket kereta PP 180.000.

Menyusun keberangkatan tanggal 13 Agustus 2013, dalam kurun waktu satu minggu, saya tidak punya waktu untuk online sekadar mencari tujuan wisata. Hari saya tersita di lapangan, kantor, dan rumah. Maklum saja, musim liburan dan lebaran, pikiran dan tenaga saya multitasking. Bagaimana caranya masih bisa silaturahim--meski nggak full-- dan tetap kerja. Lumayan menyita perhatian. Apalagi pas malam lebaran, badan rasanya remuk *malah curhat :)))*. Maka, jadilah saya berangkat dengan peta Jogja. Blind trip!

Blind trip. Sepertinya seru. Memang seru, tapi nyali saya masih ciut. Jogja yang dulu dan sekarang pasti berbeda. Apalagi ingatan saya mudah terganggu alias pelupa akut, ya mana ingat :))).

Beruntung, saya punya teman dunia maya, plurker Jogja [special thanks to @masjek, @restiizati and her friend, dan Menik, teman kuliah beda jurusan :)]. Empat orang ini yang membantu saya selama di Jogja. Masjek penunjuk arah-penginapan dan penyusun rundown, Rere yang minjemin motor untuk keliling Jogja, Temannya Rere yang nganterin motornya, dan Menik yang nemenin Whatsappan sambil jadi penunjuk arah. Ah, liburan saya tidak sendiri ternyata ya? :p

Well, d-day has came. Saya berkemas dan siap berangkat dengan peta buta. Tips: Kalau berencana memborong banyak baju, ada baiknya membawa minim baju ganti. Hal ini memudahkan pergerakan dan bawaan saat pulang. Perjalanan Gubeng-Tugu membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam yang saya gunakan untuk tidur sepenuhnya karena malam sebelumnya dari Batu dan kurang tidur. Selama perjalanan, saya masih kurang percaya dengan apa yang akan saya lakukan. Benar tidaknya masih diragukan. Secara ini perjalanan pertama saya ke luar kota sendirian, peta buta, dan sama sekali tanpa bayangan di mana letak tempat wisata. But, show must go on. Tiket PP satu-satunya dan penginapan oke yang sudah diDP terbayang-bayang. Perjalanan harus terjadi.

Train runs fast. Pukul 14.30 saya sampai di Stasiun Tugu. Saya masih ingat, hal pertama yang saya lakukan begitu sampai adalah, tersenyum. Saya senang saya akan memulai perjalanan peta buta ini. Saya sudah siap. Setelah senyum, saya salat dijama, dan makan. Tempat makannya masih di sekitar stasiun, Soto Sulung. Saya tau tempat makan ini dari web wisata dan ingin membuktikan. Nasi di Soto Sulung tidak dicampur dengan soto tapi dibungkus mirip nasi kucing. Harga perbungkus nasi putih kucing ini 1.000, sedangkan kuah soto campur 8.000, teh hangat 2.000, dan dua kerupuk 500 rupiah. Ongkos awal saya sampai Jogja 12.500.

Sudah salat dan makan, saya menunggu jemputan teman Rere untuk mengambil motor. Tapi berhubung lama, saya putuskan untuk jalan kaki menuju hostel. Bicara hostel, sesuai petunjuk Masjek, saya memilih Edu Hostels di Jalan Jend. Suprapto 17. Kebayang, kan, yang namanya hostel seperti apa? Iya, berbagi kamar. Jadi, dalam satu kamar ada lima orang lain. Sebelum reservasi, saya melihat harga perharinya yang lumayan pas-pasan dengan fasilitas dan tempat yang bersih, 70.000. Maka, tanpa pikir panjang, saya langsung reservasi untuk dua malam (140.000).

Memutuskan untuk jalan kaki--karena setelah bertanya pada tukang becak-parkir (beberapa orang menyarankan saya untuk bertanya pada kedua profesi ini agar tidak diusili. Tapi pada kenyataannya, satpam, penjual nasi, dan orang biasa yang saya tanya tidak menunjukkan keusilannya. *ketauan sering nyasar, banyak tanya :p*) dan melihat go.map-- ternyata jaraknya tidak begitu jauh. Bodohnya saya, saya tidak menyadari bahwa jarak di peta dan kenyataan itu berkali-kali lipat. Jadi, lumayan gempor kaki jalan dua kilo. Hahaha :))). Tapi gempor kaki berubah menjadi senang begitu melihat hostel tempat saya menginap. Kereeen. Saya suka dan langsung jatuh cinta karena tempatnya bersih, jauh dari kesan murahan. Setelah check in dan membayar uang jaminan kunci sebesar 50.000 saya langsung rebahan di kasur sambil nunggu waktu buat ambil motor.

Edu Hostel.
Lobi hostel.
Tempat santai.
Ada fasilitas komputer gratis.
Kamar tidur dalam kondisi penuh.
Lemari.
Kamar mandi.

Akhirnya, setelah motor didapat, saya diajak sedikit berkeliling--biar nggak buta banget-- sama temannya Rere, Reza. Lumayan membantu buat jalan-jalan selanjutnya. Ilmu hapalan jalan ini langsung saya praktekkan di malam hari setelah bersih diri. Malam itu, tujuan saya menghabiskan malam di Alun-alun Kidul (Alkid), letaknya dekat dengan Tamansari. Sampai di Alkid, pikiran saya langsung tertuju pada Taman Bungkul dan taman-taman lain yang ada di Surabaya. Persis. Bedanya, Alkid berpasir, Taman Bungkul dan taman lain di Surabaya berpaving. Lainnya, hampir sama. Anak-anak bermain kitiran terbang berlampu kerlip dan naik odong-odong berkerlap-kerlip, penjual makanan berjejer. Makanan yang dijual pun sama; mi ayam, tempura, minuman, dan ronde. Sebelas-dua dengan Taman Bungkul. Makan malam di sini saya mengeluarkan 15.000 untuk ronde, mi ayam, dan esjeruk. Tips: gunakan bahasa Jawa kromo Inggil buat percakapan untuk yang bisa, lumayan ngefek ini. Jangan lupa tanyakan harga dulu sebelum membeli apapun. Biar nggak ditipu.

Sudah kenyang, saya berkeliling lapangan. Saya tertarik dengan orang yang menggantung kain-kain hitam dengan tulisan sewa di gerobak sepedanya. Ternyata, dia menyewakan kain penutup mata untuk dipakai melintasi dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan. Kalau si pemakai bisa melintasi dua pohon beringin dengan jalan lurus tanpa mengintip, KATANYA hajatnya bisa tercapai. Tapi kalau mengintip, KATANYA--lagi-- si pemakai akan berada di alam lain. Entahlah. Jika tertarik, untuk menyewa kain ini dihargai 5.000 rupiah. Saya, sih, tertarik buat dokumentasi saja. Oh, iya, selepas dari Alkid saya langsung pulang, balik hostel, ngantuk parah. Maklum, perjalanan jauh--alesyaaannn :))). Perjalanan berikutnya, pasti lebih menyenangkan.


Alun-alun Kidul.

--Cont. *dicatat di atas kereta Agro Wilis jurusan Jogja-Surabaya.