Sunday, September 29, 2013

Aku, Kamu, dan Sunrise Gunung Bromo

"Serius?" aku membelalakkan mata, tidak percaya. Gimana nggak? selama ini aku hanya bisa membayangkan menikmati panorama matahari terbit di gunung Bromo. Tapi sekarang, Nemo justru mengajakku turut dalam perjalanannya.

Aku tahu, ini bukan kali pertamanya ke Bromo. Tapi mengajakku untuk ikut serta, berdua saja, kurasa memang baru kali ini.

Aku tersenyum lebar masih tidak percaya. Sementara Nemo hanya mengangguk-angguk yakin, menantangku untuk benar-benar ikut. "Tapi kamu tahu, izin ayah dan ibu nggak mudah didapat," buru-buru aku kecewa. Mulutku mengerucut.

Nemo. Sebenarnya namanya bukan Nemo, tapi Bara. Nemo adalah panggilan yang kuberikan saat kami menonton Finding Nemo berdua di rumahku saat usia kami baru berusia 13 tahun. Begitu imut dan lucunya Nemo, membuatku langsung terinspirasi untuk memanggil Bara dengan sebutan itu. Alasan lainnya, hanya karena saat itu fisik Nemo dan Bara adalah sama, kecil--lebih kecil dari pada aku. Tapi itu dulu, jangan tanya sekarang. Dia kini tumbuh tinggi dengan postur kurus jangkung. Dia adalah sahabatku sejak kecil.

Sejak kami saling mengenal, aku sering bahkan selalu menghabiskan waktu berdua. Sampai sekarang, dua puluh tahun pertemanan kami. Uniknya, meski kami saling mengenal dan dekat satu sama lain--sebagai sahabat--ayah dan ibuku tetap tidak bisa begitu saja percaya jika aku pergi berdua dengan Nemo. Mereka khawatir denganku. Aku paham itu. Sebagai anak tunggal, mereka memang terlalu protektif.

Nemo tersenyum menenangkan. "Tenang aja, semua izin sudah didapat. Kamu tinggal berangkat bareng aku. Mau nggak, sih?" dia memancing, satu hal yang paling aku benci saat dalam kondisi dilema.

Aku terdiam. Menyaksikan lalu lalang orang di depan kedai kopi langgananku. "Memangnya kapan kamu izin pada ayahku?" aku bertanya cepat, penasaran.

Dia tersenyum. "Rahasia. Yuk, pulang, kubantu packing." Nemo meraih tanganku, mengajakku pulang meninggalkan bangku sevel. Aku mengikutinya.
***

Dua puluh tahun bersahabat dengannya, baru kali ini Nemo berani mengajakku pergi ke luar kota berdua saja. Biasanya, kami pergi ramai-ramai bersama teman-temanku atau teman-temannya. Ya, kalian pasti tahu, orang tua mana yang akan ikhlas anaknya diajak jalan berdua oleh sahabatnya sekalipun. Namanya lawan jenis, bagaimanapun statusnya, apapun bisa saja terjadi. Makanya, aku heran, memangnya dia izin apa pada ayahku?

Aku memerhatikan Nemo mengemas apa saja yang perlu dibawa untuk cuaca dingin Bromo. Jaket berbahan polar, topi, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu dengan tutup sempurna. Untuk ukuran lelaki, dia tergolong taktis dan praktis terlihat dari bagaimana dia mengemas perlengkapanku. Pikiranku melayang-layang masih tidak percaya.

Puk-puk! Dia menepuk-nepuk backpack yang akan kubawa serta. "Beres. Nanti malam jam sebelas kujemput. Jangan lupa pakai kaus dan celana non-jeans untuk memudahkan pergerakan," Nemo mengingatkan diiringi seringai senyum.

Aku manyun. "Cerita dulu, deh, gimana bisa kamu dapat izin," tanganku menarik lengannya, mencegahnya pergi.

Dia tertawa. "Di penanjakan, kamu akan tahu alasannya," sahutnya seraya berlalu dari kamarku. Kebiasaan sok misterius.
***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Nemo datang sesuai janjinya. Tidak biasanya ayah dan ibu terlihat santai begitu tahu anaknya akan bepergian berdua dengan lawan jenis ke luar kota. Sejauh ini, aku dan Nemo memang sering bepergian berdua, tapi di sekitar Surabaya saja. Entah menonton bioskop, konser, atau sekadar ngopi.

Aku masih tidak mengerti dengan kode yang saling mereka lemparkan. Sambil tetap memasang wajah penasaran, aku menyambut Nemo. "Ini beneran berdua aja? Nggak ada yang lain?"

Serius, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di depanku.

Nemo tertawa, lalu berpamitan ke ayah dan ibuku membuatku melongo. Baiklah, untuk ukuran loading, otakku memang terkenal lama. Susah tanggap. Tapi bukan berarti aku tidak paham dengan apa yang dilakukan Nemo adalah hal yang langka dan aneh. Tentu saja aku paham. Tapi kok...? Ah, sudahlah. Mungkin di perjalanan dia akan bertutur banyak soal trip aneh kali ini.
***

Aku mengenal Nemo sama seperti aku mengenal diriku sendiri. Impulsif, ramai, kadang aneh, dan punya selera humor yang sama-sama lumayan. Hanya bedanya, dia lebih susah ditebak. Kontras denganku yang mudah ditebak apa mauku, apa tujuanku, semuanya. Kata banyak orang, itulah gunanya persahabatan. Saling melengkapi.

Perjalanan menuju Bromo ditempuh via Nongkojajar, Pasuruan. Aku duduk di sebelah Nemo dengan kondisi saling diam membisu sibuk dengan pikiran masing-masing. Bukan, lebih tepatnya, aku menahan kantuk. Kurasa, Nemo tahu bahwa aku paling tidak bisa menahan kantuk lewat dari pukul sebelas malam. Ya, lagi-lagi itulah gunanya persahabatan, saling tahu kondisi dan kebiasaan masing-masing.

"Mo, ini perlu ditemenin ngobrol atau kamu mengikhlaskan diri kutinggal tidur? Aku ngantuk." Aku membuka suara. Terdengar parau pertanda kurang tidur. "Memangnya perjalanannya butuh berapa lama lagi?"

Dengan diiringi lagu dari radio, lelaki di sebelahku tersenyum santai sambil mengangguk. "Tidur aja. Aku berani kok."

Errr. Aku mengerong dalam hati. Maksudnya berani apaan coba? Tanpa menunggu lama, aku membetulkan jaket, mencari posisi pas untuk tidur. Semoga bisa mimpi indah.
***

Penanjakan pagi itu cukup ramai. Padahal jam baru menunjukkan pukul tiga pagi. Weekend menjadi pilihan wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung. Udara musim kemarau yang dingin cukup membuat bulu kuduk meremang. Sambil menahan dingin, wisatawan berbondong-bondong mencari tempat strategis untuk menyambut matahari terbit. Kabarnya, view yang didapat sangat memukau.

Aku masih setengah sadar dengan semua keramaian yang ada. Setelah memarkir mobil, berganti jeep, dan tandem dengan rombongan lain, sampai di penanjakan nyawaku seolah masih melayang. Maklum saja, jam tidur terganggu.

Mulutku terbuka lebar-lebar, menguap, saking ngantuknya. Nemo tertawa kecil. "Ngantuk ya? Sabar aja, habis ini pemandangannya seru sekali. Nggak rugi sama dinginnya udara." ujarnya menenangkan. Sementara aku cuek tidak peduli, masih fokus dengan rasa kantuk.

"Eh, mau kopi?" Nemo bergegas kembali turun menuju warung kopi. Aku mengikuti.

Di sepanjang jalan menuju penanjakan, ada kedai berjejer rapi. Isinya jelas menjual minuman dan makanan hangat, ditambah suvenir. Aku tidak tertarik. Kubilang juga apa, aku lebih fokus dengan rasa kantukku. Tapi Nemo tidak peduli, meski aku abai, dia tetap membelikanku secangkir kopi panas dengan asap mengepul.

Sejujurnya, sebenarnya yang membuat aku penasaran dengan Bromo adalah adat dan kebudayaan Suku Tengger. Menurut kisah yang beredar, Suku Tengger memiliki keunikan tersendiri. Seperti selalu memakai sarung dan merasa kurang percaya diri jika tidak memakainya. Atau juga berbangga hati menjadi bagian dari Suku Tengger dengan menanam dan mengkonsusmsi hasil bumi yang ditanam di sekitar. Ya, aku tahu, kebanyakan suku di Indonesia kurasa memang begitu. Tapi menilik lebih dekat Suku Tengger, tidak ada salahnya juga, kan?

Jarum jam berdetak kian cepat. Secepat wisatawan yang kian ramai berkumpul di sisi pagar penanjakan. Tidak terkecuali kami.

"Tahu nggak, Na, sebenarnya penanjakan itu tempat apa?" Nemo melempar tanya ketika kami berada di salah satu sisi pagar tepat menghadap Bromo.

Aku terdiam. Pandanganku beralih pada wisatawan yang berjejer. "Tempat melihat sunrise," sahutku dengan senyum lebar. Aku yakin sekali.

Lelaki di depanku tertawa, mengacak-acak rambutku kasar. "Betul. Tapi yang terpenting, penanjakan adalah tempat di mana permaisuri kerajaan Majapahit, Rara Anteng dan brahmana Joko Seger bertemu sebelum akhirnya menikah dan mempunyai keturunan berupa Suku Tengger." Nemo tersenyum menjelaskan, membuat seketika tersenyum lebar. Tuh, kan, dia memang susah ditebak. Aku bahkan baru sekarang tahu ceritanya.

Tanganku spontan memukul lengannya. "Serius, Mo? Kamu tahu banyak soal Suku Tengger?" aku bertanya antusias. Rasa kantukku hilang berganti dengan penasaran.

"Ya, nggak lebih banyak dari aku tahu kamu-lah, Na." Nemo nyengir kuda seraya menjulurkan lidah. Dasar.

"Eh, mayoritas mereka bercocok tanam, berkebun, dan..." aku memutar bola mata, berpikir. "berwirausaha?"

Sahabatku Nemo lagi-lagi tersenyum. Obrolan kami mengalir seperti biasanya. Kami saling menimpali, hingga lupa dengan sekitar. Layaknya persahabatan yang sudah lama terjalin, apapun topik pembicaraannya membuat kami lupa keadaan. Gemuruh riuh tepuk tangan dari sekitar justru menyadarkan kami bahwa kami berada di tengah-tengah wisatawan. Matahari terbit, mereka bertepuk tangan, sesekali menyeringai.

Nemo menatapku serius. Seulas senyum tipis disunggingkan. "Kamu tahu, Na? Matahari terbit adalah simbol adanya sebuah pengharapan baru. Setiap harinya, setiap paginya, bumi berotasi, mengingatkan makhluk bumi bahwa harapan pada apapun masih ada."

Aku tertawa lebar, mengamini kalimat Nemo. "Ya. Aku tahu. Yang membedakan orang hidup dan mati selain napas adalah harapan."

"Matahari di Bromo indah. Seindah harapanku pagi ini." Nemo mengangkat kameranya, mengarahkan moncong kamera tepat pada bidikan sunrise di balik Bromo.

"Oh, ya? Apa harapanmu pagi ini, Mo?" Aku mengangkat alis. Harapan, mimpi, dan kenyataan yang kami utarakan tidak pernah luput satu sama lain.

Klik! Kamera berpindah posisi, menangkap bayanganku dalam siluet. Masih dalam riuh wisatawan di sekeliling kami, Nemo berujar serius. "Bisa menikmati secangkir kopi panas denganmu." tangannya menggeser kamera, menunjukkan hasil jepretannya padaku. "Dan selayaknya awal mula kisah Suku Tengger."

Siapapun boleh berharap. Termasuk Nemo. Tapi harapanku pagi ini adalah, semoga dia tidak tahu bahwa jantungku berhenti berdetak detik itu juga.
***

Festival Majapahit Internasional 2013

Peserta dari sembilan negara.

Sebenarnya saya hanya mendapat tugas meliput preskon Festival Majapahit Internasional 2013 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, bukan saat acara berlangsung. Karena saat acara mulai, sudah ada tim kantor yang meliput khusus. Tapi, karena kangen melihat pertunjukan sendratari, akhirnya saya ikut berangkat bersama rombongan jurnalis dan beberapa panitia ke Taman Chandrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan, sepulang jam kerja.

Festival Majapahit Internasional 2013 sendiri merupakan festival internasional serupa kedua yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim setelah vakum 32 tahun dan diikuti oleh sembilan negara Asia. Seperti Laos, Thailand, Malaysia, India, Singapura, Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Acaranya berlangsung tiga hari berturut-turut, 11-13 September 2013 lalu. Dibuka dan disaksikan langsung oleh perwakilan duta besar di Jatim, pembukaan acara ini berlangsung sangat meriah. Ada sekitar sepuluh ribu pengunjung memadati Chandrawilwatikta yang tidak dikenakan biaya sepeser pun. Ini yang membuat saya bangga. Acara besar berskala internasional, dihadiri banyak tamu besar, masyarakat tidak dipungut biaya. Nonton sepuasnya, sebosannya.

Acara dimulai pukul 19.30 dengan tarian pembuka dari perwakilan sembilan negara peserta festival. Serius, saya benar-benar terpukau dengan serentetan gerakan tari yang ditarikan puluhan penari pembuka. Saat itu saya berkeyakinan bahwa pasti ada yang lebih menarik dari tarian pembuka. Dan saya tidak salah. Setelah tarian pembuka, peserta dari India menampilkan sendratari kisah Sita dan Rama, Ramayana.



Penampilan asal India.

 Gemuruh pengunjung membuat saya excited. Siapa yang tidak mengenal India? Tentu semua kenal dan bergembira, mengingat hampir sebagian besar penduduk Indonesia menyukai dangdut dan musik India, ngaku? :p. Sayangnya, karena sedari awal saya mengenal film India dan sudah takut melihat om-om brewok, maka settingan panggung dan backsound yang dibuat total India membuat saya merinding. Make up Rahwana dan Rama persis dengan yang ada di buku-buku, menakutkan. Padahal, sendratarinya seru sekali. Diiringi tari-tarian khas India, malam itu saya terhibur.

Pascatarian India, Kamboja menjadi peserta kedua yang menarikan tarian yang saya lupa judulnya apa. Yang jelas, menarikan masa kejayaan kerajaan Ramayana. Dibandingkan dengan India, tarian kedua lebih krik-krik, mungkin karena tidak banyak masyarakat tahu menahu soal kisah yang dipaparkan. Tapi secara total, tetap memukau.


Penampilan asal Kamboja.

Masing-masing peserta mendapatkan jatah tampil selama tiga puluh menit. Tidak terkecuali Indonesia. Dari tiga pertunjukan tiga negara yang disuguhkan, sejujurnya saya begitu bangga dengan tarian yang dibawakan para penari asal STKW. Sekitar dua ratusan penari perwakilan Indonesia menari dengan sangat apik. Berkali-kali saya dan puluhan ribu penonton lainnya bahkan berdecak kagum saking terpesonanya. Membawakan kisah kerajaan Majapahit di bumi Jawa Timur, ternyata, Indonesia begitu kaya. Percayalah, apa yang ada di bumi Indonesia adalah milik kita yang harus dilestarikan. Di akhir cerita, Hayam Wuruk menyisipkan pesan agar rakyat menjaga kelestarian hutan untuk kelangsungan hidup anak cucunya. Di festival ini, Indonesia menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan sendratari Majapahit sesuai temanya. Seru, keren, terpukau, dan masih tidak percaya melihat ratusan penari menari dengan kompak dan rancak. Melihat sendratari ini, saya langsung sadar, bahwa sesungguhnya Indonesia memang sangat kaya akan budaya, adat, dan keindahan yang beragam. Sure, I'm proud to Indonesia.

 




Indonesia diwakili STKW Surabaya.

Friday, September 27, 2013

Nostalgia: Gulali Gula-Gula

Salah satu kegiatan saya saat hari libur adalah mencari apa saja yang menyenangkan hati. Termasuk mencari jajanan jadul gulali aneka bentuk.

Berada di tengah perkampungan kota Surabaya, cukup sering saya menemukan aneka jajanan jadul. Kali ini, giliran gulali yang membuat saya girang. Sebenarnya, cukup sering saya menemuinya. Tapi baru kali ini yang benar-benar beli, ngobrol, dan motret :p.

Dari hasil ngobrol singkat dengan penjaja, untuk membuat gulali gula-gula aneka bentuk ini bisa dibilang cukup mudah. Caranya, satu kilogram gula dilarutkan dengan 400 mililiter air, diaduk dan dicampur dengan pewarna makanan, sampai 2-3 jam. Adonan ini tidak boleh dingin, harus tetap hangat. Karena jika tidak, adonan akan mengeras dan sulit dicetak. Yang membuat sulit, tentu saja membentuk gulalinya, ini menurut saya :p. Tapi, kalau mau lebih mudah, bisa saja membeli cetakan ceper untuk membuat bentuk yang diinginkan.

Umumnya, setiap hari penjaja berkeliling dari satu kampung dan sekolah. Untuk satu buah gulali gula-gula tradisional ini, dijual seharga 500 rupiah saja. Peminatnya tentu lebih banyak anak-anak. Jarang ada orang dewasa yang mau beli, kecuali saya :p. Uniknya, pembeli juga bisa memesan bentuk sesuai keinginan. Tertarik?








Thursday, September 26, 2013

Sandal yang Tertukar #2

Bagaimanapun juga, pengalaman mengajarkan untuk tahu, mana yang dinamakan kesempatan, peluang, atau justru keberuntungan.

Aku tersenyum simpul mendengarkan rangkaian cerita Tom. Hari sudah sore dan aku masih betah duduk di lesehan Gudeg Wijilan, depan Keraton Jogja. Sengaja tidak langsung ke daerah Wijilan karena memilih tempat yang tidak begitu ramai dan nyaman. Pantas saja malam itu raut wajah Tom kesal bercampur sedih. Mendengar ceritanya saja aku ikut simpati. Pantas juga dia memposisikan dirinya serupa Rakai Pikatan. Hanya bedanya, dia tidak membunuh, apalagi mengutuk wanita yang disebutnya penipu. Hih, amit-amit.

"Kau tahu Tom? Semua itu ada alasannya. Bukan karena nasib sial sedang memburumu, bukan banget. Tapi justru karena Tuhan sedang menyelamatkanmu," aku duduk bersila di depannya, berkali-kali memberinya senyuman.

Dia ikut tersenyum.

Aku meraih gelas teh hangat, meneguknya sedikit. Rasa harum daun teh tercium indra penciuman, menenangkan.  "Coba bayangkan, jika di awal saja wanita itu sudah berbohong padamu, bukan tidak mungkin dia akan berbohong di lain hari. Mengajarkan anak-anak kalian dengan kebohongan, menumbuhkan bibit-bibit pembohong di muka bumi. Lalu tumbuh koruptor muda di negara kita, Indonesia. Bagaimana, mengerikan, bukan?" kepalaku miring, meminta persetujuan. Tak kulihat nada sepaham di wajah Tom.

Pundakku bergetar pelan, tertawa kecil. "Terlalu menakutkan, ya, perumpamaannya?" kulihat paras lelaki tampan di depanku diam. Sejujurnya, dia terlalu kasihan jika ditelantarkan, terlalu tampan dan baik untuk dibiarkan sendiri dan berlarut-larut dalam kesedihan. Yaaah, paling tidak, aku ingin membuatnya selalu senang dan bahagia, meski bukan aku yang menjadi alasannya untuk tertawa.

"Sesakit apa, sih, Tom, rasanya dihianati? Sesakit apa rasanya dibohongi dan diduakan?" aku membiarkan kalimat yang kutahan lama akhirnya keluar juga. Biarlah, toh, jika dia tidak berkenan menjawab, dia bisa mengabaikannya. Mudah saja.

Tom, lelaki yang baru kukenal tiga hari itu masih terdiam. Pandangannya dalam menatap mataku, seolah mencari kebenaran atas kata-kataku, sekaligus kepercayaan. Aku tahu, dia butuh tempat untuk percaya. Sebagai orang baru, tentu peluangku untuk dipercaya sangat kecil.

Aku mengangkat alis, kembali tersenyum. "Ada banyak alasan juga untuk kau percaya padaku, Tom," ucapku membuyarkan hening di antara kami. "Salah satunya, karena kita tidak saling mengenal sebelumnya. Jadi, bukan tidak mungkin setelah ini kita kembali menjadi orang yang saling tidak mengenal. Artinya, kau tidak perlu khawatir ceritamu bocor. As simple as that," kedua tanganku terbuka, memastikan bahwa semua akan aman.

Ada sekitar lima menit lamanya hening kembali tercipta di antara kami. Aku menunggu dalam diam sembari memainkan Whatsapp, mengajak teman untuk berbincang, membunuh sepi.

"Kata siapa aku tidak percaya padamu? Aku bahkan percaya di saat kita kali pertama bertemu," Tom buka suara. Akhirnya.

Lesung pipi di pipi kanannya menonjol seiring senyumnya yang tersungging. "Dihianati, dibohongi, diduakan, semuanya menyakitkan. Percaya, deh. Apalagi ketika kau tahu kebenaran bukan dari orang yang kau puja atau percaya. Tapi justru dari orang lain. Rasanya hidup sudah tidak berguna lagi,..."

Aku menyela dengan tertawa lebar. "Kau tahu apa soal hidup tidak berguna, Tom? Memangnya kau Tuhan? sampai tahu masalah hati bisa membuat hidup tidak berguna," tanganku menggebrak meja berulang-ulang, tertawa tiada henti, membuatnya seketika diam.

"Eh, sori," aku membungkam mulut cepat. "Lanjutkan ceritanya, deh."
***

Seiring waktu, aku mulai mengerti dengan jalan pikiran Tom. Kami sudah sering bertemu di luar kota Jogja, kota kali pertama kami bertemu. Banyak hal kami bicarakan. Dan hari ini, aku mengajaknya untuk berkeliling Surabaya, kota kelahiranku, saat dia sengaja berkunjung dari Semarang untuk sekadar bertemu. Tepat hari ini, kami sudah saling mengenal dalam kurun waktu enam bulan.

Hari ini aku memakai kaus maroon lengan pendek, celana jins panjang, jam tangan sport, rambut kucir kuda, sneakers cokelat, dan tas selempang berisi block note, kotak pensil, kamera poket, dompet, ponsel, dan mukena. Tujuan jalan-jalan hari ini adalah ke museum rokok House of Sampoerna yang ada di Utara Surabaya. Pagi hari, aku menjemputnya di homestay tempatnya menginap, di daerah Gayungsari.

"Sudah, Tom?"

"Seperti yang kau lihat, aku siap kau culik seharian untuk berkeliling kotamu," Tom tertawa memamerkan kesiapannya. Aku acungkan dua jempol seraya terbahak.

Selain HoS, kami juga berencana berkunjung ke museum kesehatan dan monumen Jalasveva Jayamahe. Semuanya di Utara Surabaya.

"Dira, kau terganggu dengan kedatanganku ke mari?" tanya Tom saat kami sama-sama terdiam, sibuk dengan jalan pikiran masing-masing.

"Hm?" aku mendongak, membenarkan helm, melihat Tom dari spion, lalu menggeleng. "Enggaklah. Mana mungkin aku terganggu. Lagipula, kalau aku terganggu nggak akan bilang," lanjutku sambil menjulurkan lidah, mengejeknya.

Dia tertawa. "Kau tahu, Dira? Kurasa aku tahu alasan Tuhan kenapa Dia mempertemukanku denganmu."

Aku mendekatkan telinga, samar-samar mendengarkan. "Hm. Apa?"

"Karena kau adalah penawar. Kau didatangkan tepat saat aku sakit hati. Saat aku butuh orang untuk percaya pada ceritaku." Tom menjelaskan setengah berteriak. Maklum saja, posisi kami tidak berhadapan. Lagi pula kondisi jalan yang ramai memaksa kami untuk bicara sedikit kencang agar bisa saling mendengar.

Di belakangnya, aku tertawa kecil. Senang mendengarnya.
***

Di HoS, wisatawan diajak untuk tahu segala hal soal rokok, salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Mulai dari sejarah keluarga Sampoerna, pabrik Sampoerna, segala hal tentang jenis tembakau, cengkeh, dan aneka bungkus rokok lengkap dengan ratusan pelinting rokok yang bisa dilihat dari jarak satu meter. Kami saling mengomentari apa saja yang ada, termasuk kandungan tembakau yang sebenarnya bisa digunakan untuk selain rokok. Seperti untuk antikanker, obat HIV, penyembuh luka, pestisida, dan banyak lagi. Mestinya pemerintah tahu tentang ini, agar mindset masyarakat Indonesia tentang kaitan tembakau dan rokok hilang. Sayangnya, pemerintah justru terbuai dengan penghasilan yang didapat dari penjualan rokok.

"Tom, boleh tanya?" aku menyentuh lengannya pelan, mengalihkan perhatian dari display bahan-bahan rokok. Kubuat wajahku seserius mungkin. Ada hal penting yang harus segera kuketahui.

Tom menoleh, tersenyum, dan mengangguk. "Silakan."

Aku melumasi bibir, menyiapkan pertanyaan remeh yang membuatku cukup penasaran. "Tentang wanita enam bulan lalu. Apa kabar?" tanyaku pelan. Kubuat senyum semanis mungkin, kubuat aku tampak datar dan biasa saja. Padahal dalam hati deg-degan bukan main.

Tom, lelaki berambut lurus cepak itu tertawa. Tangannya mengusap kepalaku. "Perlu kuulang lagi, Dira?"

Aku mengerjap. "Apa?"

"Kubilang kau ini penawar. Kau penawar rasa sakit. Jadi, kurasa kau bisa artikan sendiri kabar wanita itu, kan?" Tom mengerling. Aku menatapnya tidak percaya. Tangannya menjawil hidungku gemas. "Kau tidak ingat juga?"

Kali ini aku mengernyit, mencoba mengingat-ingat apa saja yang mungkin kulupakan. Sayang, gagal. Aku menggeleng. "Apa?"

"Dira, kurasa kau tentu masih ingat dengan kalimat yang kauucapkan padaku. Tentang sepasang sandal yang tertukar," Tom membuka ingatan yang seketika membuatku sadar.

"Bahwa sejatinya sandal jepit yang tertukar tidak akan nyaman digunakan. Sebagus apapun, semahal apapun, jika salah satunya tertukar, maka tidak akan bisa dipakai," aku menyela cepat membuat Tom mengangguk seraya tersenyum.

Kali ini aku ingat. Dua bulan lalu, aku menemukan filosofi sandal setara dengan cinta saat akan mengambil air wudu untuk salat Isya. Sepasang sandal yang tidak sama, tidak akan bisa digunakan. Sekalipun bisa, akan ada ketidakcocokan dan satu yang merasa dipaksa agar terlihat cocok. Tidak imbang. Persis dengan mencari pasangan. Tidak tepat, tidak sama dan cocok, ditambah pemaksaan, tidak akan bisa dijalani.
***

Sandal yang Tertukar #1

Lelaki berparas bersih itu menghembuskan napas berat. Di tangannya ada secarik kertas yang dilipat perlahan. Dari raut wajahnya, terlihat dia tengah dirundung duka. Tubuhnya yang tegap meski tidak gagah, kini lesu. Dua pundaknya layu dengan kepala tertunduk. Berkali-kali pandangannya beralih, bergantian antara buih air laut dan kertas yang dibawa. Kakinya dibuat menyilang, posisi benar-benar putus asa. Tidak dihiraukannya gegap gempita sekitar yang tengah merayakan malam pergantian tahun. Padahal langit cerah dengan aneka warna kembang api. Sekilas, dari kejauhan tempatku berdiri bersandar, kulihat dia meremas kertas yang dibawa dan melemparnya kuat ke lautan. Lelaki berkacamata bingkai hitam itu membuang kertas yang sudah digenggamnya beberapa saat. Mungkin dia kesal. Sejurus kemudian, kulihat dia mengacak-acak rambutnya kasar, saat yang kurasa tepat untukku bergabung, barangkali.

Aku melangkah meninggalkan tempatku berdiri, berjalan menuju lelaki itu. Terus terang, aku penasaran. Memangnya, ada masalah apa sampai dia harus terlihat sedepresi itu? Aku mempercepat langkahku seraya membenarkan anak rambut yang beterbangan tertiup angin. Malam ini cerah, ramai, dan angin malam bertiup cukup kencang. Seharusnya bisa dinikmati dengan secangkir cokelat panas di warung tepi pantai. Bukan merenung sendiri menyesali nasib, seperti dia, lelaki tampan nan pemurung itu.

"Hai," aku berdiri di dekatnya, sengaja menyapa tanpa langsung duduk di sisinya. Dua-tiga detik dia tak bereaksi sampai aku kembali menyapa untuk kali kedua dengan sapaan yang sama.

"Sori, aku Dira. Boleh duduk di sini?" aku bertanya tanpa basa-basi setelah dia mendongakkan kepala menatapku. Aku melempar senyum, meminta dengan sopan.

Dia mengangguk lalu acuh.

Aku tertawa kecil melihat reaksinya. Pundakku bergetar pelan. "Tahun baru, mestinya orang punya harapan baru, memperbaiki apa saja yang kurang. Bukan malah sedih dan menyendiri," aku bermonolog. Cuek saja meski dia tidak peduli. Kalau pun dia peduli, mungkin dia menganggap bahwa aku orang gila. Stres karena bicara sendiri.

"Seharusnya kau paham kalau harapan itu masih ada. Bukan malah menyesali kenapa apa yang kau inginkan terlepas begitu saja," aku terus beropini. Sifat sok tahuku muncul. Pede saja.

Semilir angin malam membuai, membuatku terlarut pada apa saja yang terlintas di pikiranku. "Kau mencemaskan wanita yang tidak menganggapmu ada?" pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku pun tidak sepenuhnya sadar pada yang kulontarkan. Yang jelas, berhasil membuat raut wajahnya berubah, menatapku.

Aku meringis. "Sori," mataku menyipit, meminta maaf.

Bukan aku mau ikut campur urusan orang, hanya saja aku tertarik menanggapi. Bagiku, tabu melihat orang sedih di malam pergantian tahun. Terlebih lelaki.

Pandangan lelaki itu menyipit, alisnya hampir bertaut. "Kau siapa?" tanyanya yang langsung kujawab dengan uluran tangan.

"Dira. Nadira," aku menyebut nama panggilan dan pendekku, memperkenalkan diri. "Kau?"

"Tom," dia menjawab, mengabaikan uluran tanganku, dan beranjak pergi meninggalkanku.

Sudah biasa. Aku mengedikkan bahu, tersenyum kecut.
***

Dua hari lalu saat malam pergantian tahun, kali pertama aku bertemu dengannya. Lelaki berparas bersih, tampan, berkacamata, namun tengah bersedih. Pemandangan yang tentu kontras dengan sekelilingnya. Debur ombak, pesta kembang api, suka cita, dan harapan.

Aku memainkan pensil di tangan kananku. Sesekali kugigit ujungnya jika otakku benar-benar buntu. Pagi ini Parangtritis sepi. Hanya ada beberapa turis berkunjung dengan two tone swim suit. Seperti biasa, aku tidak peduli. Aku lebih fokus pada apa yang menjadi topik penulisan bukuku selanjutnya. Draft novel biasa kutulis saat aku sedang sendiri. Karena aku tahu, ide selalu datang saat aku menyendiri di tempat yang tenang. Hamparan pasir pantai dengan angin semilir sesekali membuatku terlena. Namun ide tak kunjung datang. Pikiranku tengah penuh dengan bayangan lelaki di malam pergantian tahun, Tom. Sejak pertemuan malam itu, aku tidak pernah bertemu lagi. Tapi wajahnya yang muram justru sulit kuhapus dari ingatan.

Aku membuang napas. Pensil dan block note hijau tempatku menulis draft kuletakkan di sisiku. Kututup mata perlahan diiringi tarikan napas satu-dua. Aku bermeditasi, menenangkan pikiran, menggali ide lebih dalam. Breath in, breath out. Aku menikmati sensasi menenangkan jiwa yang kuciptakan. Meditasi selalu membuatku tenang.

"Kau sedang apa, heh?" suara seorang laki-laki mengagetkan, membuat mataku terbuka seketika. Lelaki malam itu sudah duduk tepat di depanku, memandangku heran.

Ini terlalu tiba-tiba. Dia datang dan mengagetkan. Mataku mengerjap-kerjap cepat. Seulas senyum kusunggingkan kecil. "Hai, Tom," aku menyapanya seraya membenarkan posisi duduk. "Aku sedang meditasi," lanjutku senang melihatnya lagi.

Tom mengangkat alis. "Ya?"

"Ya. Kau tahu? Untuk ukuran orang dewasa, meditasi cukup membantu menghilangkan stres. Apalagi masalah paceklik hati sepertimu malam lalu," aku terkikik menyindirnya. Dia melotot.

Sebenarnya, bukan aku sengaja membuatnya ingat pada malam itu. Tapi apa daya aku keceplosan. "Kau mau mencobanya, Tom?"

Setahuku, meditasi dan yoga seringkali membuat perasaan seseorang menjadi lebih rileks. Memang tidak menyelesaikan masalah yang ada, tapi membantu membuka peredaran darah pada tubuh dan otak agar bisa berpikir jernih, santai, dan tidak gegabah. Aku sering melakukannya. Makanya, kupikir tidak ada salahnya juga jika aku menawarkan padanya.

Tom tersenyum. "Kau penulis?" dia balik melempar pertanyaan, tidak menjawab pertanyaanku. Yang kuherankan, bagaimana bisa dia tahu siapa aku?

"Penulis biasanya sensitif pada sekitar. Punya perasaan peka di atas rata-rata. Kamu, block note, dan pensil adalah paduan yang pas untuk disebut sebagai penulis," Tom terawa kecil. Matanya menyipit menyisakan garis lurus. "Pantas saja kau tahu apa yang terjadi padaku. Kau punya bakat jadi peramal," sambungnya seraya tertawa lebar yang mau tak mau membuatku ikut mengimbanginya.

"Kau yang peramal. Bagaimana kau tahu bahwa aku seorang penulis?" aku mencondongkan kepala, penasaran.

"Intuisi," senyum Tom melengkapi permulaan hariku pagi itu.
***

Jika kadang orang menyebut bahwa jodoh bisa datang karena kebetulan, maka aku berkata lain. Bagiku, jodoh datang karena alasan. Cocok, waktu, sepadan, dan semua hal yang beralasan. Termasuk pertemuan.

Tom tertawa dengan kamera di tangannya. Jemarinya sibuk melihat preview gambar yang berhasil ditangkap. Sesekali menunjukkan padaku.

"Foto ini lucu sekali, kau terlihat natural," Tom menggeser kameranya, mempersilakan aku melihat sosok diriku di bingkai kamera. Tampak aku sedang tertawa lepas menatap ke arahnya.

"Makasih," aku tersenyum, menggeser kembali kameranya.

Tom masih menunduk, melihat satu persatu gambar yang dia dapat. Senyumnya masih tersungging.

"Tom, kau tahu? Candi ini menceritakan kisah cinta Roro Jonggrang yang penuh tipu muslihat. Kau tentu pernah mendengarnya, bukan, hm?" aku menerawang sambil menatap jejeran candi yang konon dibuat Rakai Pikatan atau Bandung Bondowoso, lelaki yang menggilai Roro Jonggrang.

Tom menoleh, menghentikan aktivitasnya. Dia hanya tersenyum.

"Apa pendapatmu soal itu?" pandanganku sama sekali tidak beralih, tidak juga tahu reaksinya. Pandanganku hanya membayang pada satu candi utama di kompleks Prambanan, Candi Siwa.

Hening. Tidak kudengar suara Tom menyahut. Pandangannya mengikuti ke mana arah mataku. Hari itu memang bukan hari libur, jadi maklum jika kompleks candi Prambanan sepi. Pengunjung tidak sebanyak weekend atau pun hari libur tanggal merah.

"Kurasa, wanita seperti legenda Roro Jonggrang itu banyak," sahutku kemudian. "Pura-pura mencintai, lalu meninggalkan. Pasti sakit, jika ditinggalkan begitu saja."

Aku berceloteh sendiri.

"Tapi, kurasa semuanya beralasan. Contohnya saja, Roro Jonggrang. Menurut cerita, dia wanita cantik yang dicintai Bandung Bondowoso, lelaki yang telah membunuh ayahnya, Prabu Baka, pemimpin kerajaan Baka pada pertempuran melawan kerajaan Pegging. Prabu Baka meninggal dalam pertempuran itu. Singkatnya, Bandung Bondowoso jatuh cinta pada Roro Jonggrang,..."

"Lalu gadis yang dikisahkan jelita itu meminta syarat pada Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi dan sebuah sumur," Tom menimpali, membuatku seketika terdiam, takjub. "Namun ternyata, Roro Jonggrang menipunya dan pada akhirnya Bandung Bondowoso mengutuk putri Prabu Baka menjadi arca, sebagai pelengkap 999 candi yang telah dibangunnya."

Aku tertawa kecil, memukul lengan Tom pelan. "Hei, kau tahu legendanya?" tanyaku tidak percaya.

Dia mengangguk. "Menurutmu, apa aku terlihat menguasai materi kisah cinta wanita penipu itu, hm?"

Aku bertepuk tangan, berdiri. "Sangat. Kau suka sejarah?"

"Tidak juga. Aku hanya berpikir bahwa posisiku sama dengan Bandung Bondowoso," dia tersenyum masam.
***

Friday, September 13, 2013

Keindahan Pulau Tak Berpenghuni, Sempu Island

Sabtu malam (24/8) saya sudah berkemas untuk ikut trip bareng Plurker Surabaya ke Papuma, Jember. Tapi batal H-1 jam keberangkatan. Saya gondok akut karena dilarang pergi dengan alasan saya baru saja bepergian ke Jogja (13-15/8). Lah, namanya saya, begitu dilarang pergi, ya langsung menyusun rencana berikutnya dengan teman yang lain. Pokoknya, harus jadi jalan-jalan. Kapan lagi?

Setelah mengontak Har dan Vis (teman trip ke Bromo) detik itu juga pascapelarangan untuk pergi ke Papuma, kami sepakat untuk pergi ke Pulau Sempu hari Jumat (30/8). Perjalanan singkat dan dadakan itu pun dirancang sedemikian rupa agar benar-benar terjadi. Setelah rencana semi-matang tersusun, Kamis malam sepulang kerja saya berangkat bersama dua rekan lain asal Surabaya, Laila dan Lina, dengan menggunakan kereta ekonomi. Harga tiketnya masih 4.000 rupiah tujuan Stasiun Malang Kota Baru. 

Di sepanjang perjalanan, saya menghabiskan waktu dengan tidur. Maklum saja, hari itu saya berangkat kerja pagi-pagi--pukul tujuh :p-- jadi sambil ngecharge badan lagi, kan, lumayan. Sampai di Stasiun Malang Kota Baru pukul 22.00, kami langsung menuju pemondokan Har di Margomulyo menggunakan angkot AMG. Tarif angkot dipatok sebesar 5.000 rupiah, jauh dekat. Tarif yang lumayan tidak sepadan dengan jaraknya. 

Sesampainya di pemondokan, sambil berkenalan dengan teman baru, kami kembali merancang rencana perjalanan esok hari. Diputuskan, kami berangkat pukul 6.00 atau 7.00 pagi, karena jam tersebut paling memungkinkan untuk berangkat. 

Satu, penyebrangan kapal di Pantai Sendang Biru menuju Pulau Sempu baru dibuka pukul 5.00 pagi. Dua, jika ingin melihat sunset di Sendang Biru, berangkat dini hari adalah sia-sia, karena daerahnya terkenal rawan--apalagi kami mayoritas wanita. Informasi rawan tidaknya daerah Malang Selatan, tepatnya di Sumbermanjing Wetan ini saya dapatkan dari rekan kuliah selaboratorium yang memang rumahnya di sana. Tiga, berangkat pukul 5.00 dari pemondokan sulit dilakukan. Alasannya simpel saja, karena kami belum mendapatkan pinjaman motor sampai pagi menjelang, menyewa motor pun rental belum buka. Jadi, sembari memikirkan plan-B-C-Z, jarum jam terus meluncur hingga pukul 7.00, semuanya beres dengan rombongan trip lengkap; Vis, Har, Mila (teman Har), Laila, Lina (teman Laila), dan saya.

Perjalanan dari Malang menuju Pantai Sendang Biru membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Letak Pantai Sendang Biru sendiri berada di dekat Pantai Tamban. Setelah mengisi bensin, baik untuk motor dan perut masing-masing, perjalanan dilanjutkan dengan suasana hati riang gembira--yaiyalah, senang, perut sudah kenyang :))). Fyi, untuk mencapai kawasan Pantai Sendang Biru, jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, bisa menggunakan kendaraan umum. Dari terminal Arjosari bisa menggunakan angkot menuju terminal Gadang (AMG, AG, ABG) dilanjutkan naik bis mini menuju Turen dan Sendang Biru.

Kami sampai di kawasan Pantai Sendang Biru pukul 9.00. Memasuki Sendang Biru, pengunjung akan disuguhi pemandangan puluhan perahu nelayan berjejer rapi. Ya, kawasan ini juga dikenal dengan sebutan pantai nelayan karena letaknya yang berdekatan dengan tempat pelelangan ikan. Saya cukup menyesal, kenapa tidak menyempatkan waktu untuk mampir ke TPI. Coba, kalau saya mampir, mungkin saya akan tahu bagaimana proses pengolahan pembuatan ikan pindang dan tongkol yang gurih itu. Di Pantai Sendang Biru, 3 motor--6 penumpang dipatok harga 40.000 rupiah. Saya yakin, tiket masuk ini sebenarnya fleksibel. Kenapa? Satu, saya tidak mendapatkan tiket dengan stempel dan harga tertera. Dua, sebelumnya, saya dipatok harga 45.000 rupiah, tapi karena si penarik tiket tidak punya uang kembalian 5.000 rupiah, jadinya tiket masuk kami dihargai 40.000 dengan rincian yang saya sendiri tidak paham.

Perahu nelayan.

Dari tempat kami berdiri, Pulau Sempu berada tepat di depan mata. Saking dekatnya, bahkan bisa saja pengunjung berenang untuk menjangkaunya--bagi yang niat dan mau--saya, sih, makasih banyaaak :))). Sebelum menyebrang, pengunjung diminta untuk melakukan izin di Balai Konservasi Pulau Sempu yang berada di dekat tempat parkir. Selain izin, di sana juga dipatok biaya administrasi yang lagi-lagi saya tengarai fleksibel karena tidak ada tiket yang diberikan. Untuk enam orang rombongan kami, dipatok biaya perizinan sebesar 20.000 rupiah.
Balai Konservasi Wilayah Pulau Sempu.

Beres semuanya, pukul 9.25 kami langsung menuju tepi pantai untuk menyewa kapal. Satu kapal--berapapun orangnya (maksimal 10)-- dihargai sebesar 100.000 rupiah PP. Kapal ini akan mengantarkan pengunjung menuju Ant Bay, Segara Anakan, Pulau Sempu. Jika pengunjung ingin ke tempat lain (bukan Segara Anakan. Fyi, di Pulau Sempu ada sekitar 25 objek wisata yang berbeda. Tapi Segara Anakan yang paling populer.) harga yang diberikan juga sama. Tapi, kalau tujuannya lebih dari satu tujuan, harga sewa kapal naik menjadi 150.000 rupiah. Sewa kapal ini terakhir pukul 16.00 atau pukul 17.00 kalau kondisi benar-benar ramai. Perjalanan penyebrangan ini membutuhkan waktu singkat. Hanya sekitar 9-11 menit.


Ant Bay.

Kami sampai di Ant Bay pukul 9.34, kondisi perairan sedang dangkal. Kami pun berhenti di tepian bakau untuk jalan kaki. Di sini, kami cukup excited menginjakkan kaki, mengingat kami sama sekali belum pernah ke sana--kecuali Vis.  Untuk menuju Segara Anakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan treking. Sebelum keberangkatan, saya sempat surfing mengenai seperti apa jalur treking Pulau Sempu. Banyak pengunjung yang mengatakan jalur treking bisa ditempuhh selama 2-3 jam tergantung cuaca. Kalau sedang musim hujan, bisa sampai 4 jam perjalanan dengan kondisi trek penuh lumpur dan licin. Saya pun ingin membuktikan dan sengaja memposisikan diri sebagai time keeper.

Di perjalanan ini, selain main jepret, kami juga saling menyapa pada sesama pejalan yang bersinggungan. Umumnya, mereka menginap di Segara Anakan 2-4 hari dengan rata-rata pengunjung asal Jakarta dan Bandung. Saya percaya, perjalanan mengharuskan pejalannya untuk tahu hal baru, juga teman baru.



Treking.

Sambil ngobrol ngalur ngidul, saya terus memantau jam. Ternyata, untuk sampai di Segara Anakan diperlukan waktu sekitar 1 jam (saja). Entah karena kami banyak omong sehingga perjalanan tidak terasa, atau karena langkah kami cukup cepat, atau bisa jadi karena treknya yang pendek *sesumbaaaarr =))))*. Yang jelas, setelah 1 jam 4 menit perjalanan kami sampai di Segara Anakan.

Sampai di Segara Anakan, hal pertama yang kami lakukan adalah tertawa-tawa senang. Treking panjang dibayar lunas dengan pemandangan pasir putih dan deburan ombak tenang berwarna hijau. Langit cerah dengan awan berarakan membuat hati seketika lupa dengan rasa capek yang menjalar. Suasana sepi Segara Anakan membuat saya gembira dan langsung menganggap bahwa Pulau Sempu adalah milik saya, muahahaha. Benar-benar menyenangkan. Kami benar-benar beruntung, karena ke sana di saat hari bukan hari libur. Jadi suasananya memang sepi. Ada beberapa kemah berdiri, tapi itu sama sekali tidak mengganggu. Eh, iya, di sini tidak semua sinyal hape mati, tergantung operatornya. Jadi, buat siapapun yang ingin pamer foto ke sosmed langsung fresh from the pan, bisa banget :))).


Segara Anakan.

Kemah.

Setelah mencari tempat yang cukup teduh, kami pun segera bermain air, pasir, jepret berbagai pose, juga main voli--yang bolanya pinjam dari tetangga sebelah. Sayang sekali, saya baru menyadari bahwa membawa baju ganti sebenarnya adalah hal yang wajib dilakukan. Karena tempatnya asik untuk berenang. Sayang bangeeet :(. Jadi, kalau memang berniat main basah-basahan, jangan lupa bawa baju ganti.

Di sini, saya juga cukup menyayangkan dengan kondisi di sekitar Segara Anakan. Ada beberapa botol minuman berserakan. Padahal, saat di tempat perizinan, pengunjung akan diberi pesan untuk membawa pulang sampah-sampah yang dihasilkan, bukan ditinggal. Yaa, gimana bisa Indonesia makin dicari turis asing kalau wisatawan lokalnya tidak menjaga destinasi wisatanya sendiri?


Halooo.

Hup!

Natural.

Nyi-nyi.

Komplit!
Sampah. :/

Jika Segara Anakan adalah laguna dengan kedalaman standar, maka di balik bebatuan karang justru sebaliknya. Lautan lepas pantai terhampar dengan deburan ombak yang cukup membuat hati merinding. Berwarna biru dengan pandangan lepas ke Samudera Hindia. Sayangnya, pemandangan menakutkan tapi indah ini diganggu dengan bau amonia yang cukup kuat. Lagi-lagi saya kecewa. Bisa dipastikan, banyak pengunjung yang memilih untuk buang air kecil di bebatuan karang ini. Cekungan batu karang di beberapa titik pun terlihat ada air berwarna kekuningan. Errr, sayang sekali.


Indah tapi seram.

Setelah berfoto dan bersantai sepuas-puasnya, kami pun memutuskan untuk kembali pada pukul 13.05. Treking lagi dan nggosip lagi. Karena Pulau Sempu merupakan daerah konservasi, jadi beberapa satwa liar masih bisa dijumpai di tempat ini. Salah satu hewan liar yang paling sering dijumpai adalah jenis primata, mulai dari lutung hitam hingga makaka. 




Makaka sp.


Kapal bersandar kembali di Sendang Biru sekitar pukul 14.40. Jujur saja, saya merasa jauh lebih capek saat treking perjalanan pulang. Kami pun sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat mengatur napas perdua puluh menit. Sampai di Sendang Biru, kami beristirahat sejenak di warung-warung yang ada, sambil melemaskan otot-otot yang pegal. Nah, bagaimana, tertarik untuk melakukan perjalanan ke Pulau Sempu? Boleh saja, asal sampahnya dibawa kembali dan dibuang di tempatnya. Selamat berlibur!

Rincian biaya:
Bensin: 39.000
Tiket masuk: 40.000
Sewa kapal: 100.000
Izin: 20.000
Parkir: 9.000
Total: 208.000/6 = 35.000 perorang.

Friday, September 6, 2013

Day 12. FF: Bronis.

Whatever tickel your fancy adalah tema tetap setiap hari kelipatan enam. Dan hari ini saya akan membeberkan salah satu jenis kesukaan saya. Yakni, menulis flash fiction :p. Flash fiction atau cerita amat singkat memuat 500 kata (tapi saya suka kelewatan biasanya :p) adalah jenis tulisan yang menyenangkan menurut saya. Karena sifatnya yang pendek dan cepat tuntas, memungkinkan saya bisa menulis kapanpun dan di manapun ide datang. Selain bisa cepat menuangkan ide yang tetiba datang, juga bisa latihan menulis. Jadi, memang layak menjadi kesukaan ya :)).
###---***---###
Pagi itu, aku berkemas taktis. Seperti jadwal yang sudah disepakati, aku dan Boy akan berangkat menuju kepulauan Karimun Jawa. Estimasi waktu dari Surabaya ke Jepara sekitar delapan jam ditempuh dengan bis. Sampai terminal bisa jalan kaki ke Pelabuhan Kartini sekitar sepuluh menit. Jadi, bisa dikatakan, kami akan sampai dan siap menyebrang pukul 6 tepat--jika tidak molor. Berbagai persiapan sudah lengkap, tinggal telepon Boy yang akan datang menjemputku yang kurang.
Boy adalah adik tingkatku. Usianya baru 20 tahun. Kami sama-sama pecinta travelling yang bertemu di laman khusus traveller. Setelah beberapa kali jalan dengannya, aku baru tau kalau ternyata dia satu kampus denganku. Yah, lumayan membantu jika ada rencana travelling.
Rencananya, kami pergi berdua dari Surabaya. Tapi sampai di pelabuhan, sudah ada teman asal Jakarta dan Bandung menunggu. Ya, kami sepakat menjadikan pelabuhan sebagai meeting point.
***
"Boy, ini perjalanan ke Karimun Jawa yang ke berapa buatmu?" aku bertanya saat bis malam sudah melaju. Boy yang tengah asik dengan ponselnya menoleh ke arahku. Dia tersenyum.
"Baru sekali," dia menjawab pendek. Alisku bertaut, tidak percaya. "sekali denganmu. Dua kali dengan teman-temanku," lanjutnya kemudian.
Aku tertawa kecil, meninju lengannya pelan. "Sialan."
"Kamu tidak curiga padaku, kan, Res?" tatapan serius Boy membuatku bingung. Curiga? Kenapa bisa?
Gelengan kepalaku menjawab pertanyaannya. Seiring dengan jemari kami yang saling menggenggam. Aku sendiri tidak tahu, sejak kapan aku merasa nyaman berada di dekatnya. Seperti sekarang. Seharusnya aku tidak membiarkan perasaanku larut dalam malam kelam di perjalanan menuju gugusan kepulauan sejuta pesona. Tapi entahlah, naluriku jauh lebih mengerti apa yang kubutuhkan saat ini.
"Menurutmu, apa ini menjadi satu jawaban pasti bahwa kamu mau bersamaku, Res?" Boy mengangkat jemariku, menciumnya perlahan. Ada desiran aneh dalam dada. Menggelitik.
Jika aku masih ingat pada janji dan prinsipku, tentu aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak menyukai lelaki yang lebih muda dariku karena aku tahu, bisa saja pengalaman dan pengetahuannya lebih minim dariku. Licik memang, karena pada kenyataannya Boy tidak demikian.
Aku terkesiap. Lalu melonggarkan genggamannya perlahan. "Aku tidak bisa, maaf."
Aku tahu, cinta itu dipilih oleh hati. Tapi aku juga tahu, logika sering kali tidak masuk akal dalam menentukan pilihan. Sepertiku kini. Senyap menyelimuti malam di perjalanan menuju Jepara. Perjalanan masih jauh. Sama dengan perasaan yang enggan membuka diri, memilih untuk sendiri kadang menjadi satu pilihan tepat di saat hati dan pikiran tidak bisa berkompromi. Dan perjalanan menuju satu titik kompromi, pada kenyataannya, masih jauh.

Thursday, September 5, 2013

City Tour: Forest Ria, Plasa Surabaya

Awal Juli lalu saya sedang rindu dengan tempat wisata di Surabaya yang dulunya sering kami kunjungi. Salah satunya adalah Forest Ria, lantai 4 Plasa Surabaya--letalnya persis berhadapan dengan Delta 21. Hampir tiap minggu (saat keluarga kami masih berempat) kami jalan-jalan, dan Plasa Surabaya menjadi pilihan wajib dikunjungi. Sama halnya dengan anak-anak lain, saya selalu gembira jika diajak jalan-jalan--sekarang pun :p. Bahkan, saya selalu punya baju favorit untuk jalan yang beberapa kali jalan ya pakai itu-itu saja. Haha, maklum anak-anak :p.
Karena kerinduan pada masa kecil, maka Jumat beberapa bulan lalu, saya mengajak Ilma dan Tita yang ternyata belum sekali pun jalan-jalan ke sana mencoba wahana permainan yang ada. Kasian :p.
Saya masih ingat, lantai 4 Plasa Surabaya dulunya sangat populer oleh anak-anak seusia saya. Sayangnya pemandangan itu begitu kontras dengan kini, yang begitu sepi. Saat bertandang untuk bernostalgia, saya dibuat kaget dengan semua wahana permainan yang nyaris tidak ada yang berbeda satu pun. Posisi Merry Go Round, kereta, bianglala, dan aneka permainan lain sama persis dengan masa kecil saya. Yang paling membuat saya kaget, harga tiket perwahana dijual hanya seharga 2.000 rupiah saja. Meeeh. Harga itu juga menunjukkan gambling. Mau dinaikkan, takut makin sepi pengunjung. Mau tetap, ya terlalu murah. Mau bagaimana lagi?
Karena saya membawa dua makhluk yang baru kali pertamanya bertandang ke mari, jadi lumayan narsis mereka. Banyak foto-fotooo *padahal ngikut juga :)))*. Ada memori di bianglala. Saat itu, kami berempat (ayah, ibu, simas, dan saya) naik bianglala. Berbeda dengan wajah binar-binar saya karena bisa melihat atap-atap rumah dan gedung yang posisinya lebih rendah, simas malah menangis takut nggak bisa pulang dan turun. Pikiran saya saat itu, kayaknya aku yang pas jadi kakaknya :))). Nah, persis dengan kondisi saat itu, Tita juga ketakutan saat naik bianglala untuk kali pertamanya. Tapi, begitu tau naik bianglala ternyata seru, ketagihan dia. Ngoook.
Kami menghabiskan 24.000 atau 12 tiket untuk menjajal permainan di sana. Tapi, namanya juga ingat umur, saya dan Ilma cuma naik bianglala saja, cukup dua kali-lah.
Menapaki nostalgia di masa lalu, menyadarkan saya bahwa kejayaan pariwisata di Surabaya telah menurun. Sebut saja Taman Remaja Surabaya, Pantai Ria Kenjeran, dan Kebun Binatang Surabaya. Ketiga tempat tersebut memang ramai jika musim liburan tiba. Tapi kontras dengan hari biasa yang begitu melompong. Apalagi kondisi lantai 4 Plasa Surabaya. Nyaris hanya menyisakan pemandangan kosong dengan beberapa pegawai bercengkrama. Diakui atau tidak, masyarakat Surabaya beralih ke luar kota untuk berwisata. Saya pun merasa demikian. Pariwisata Surabaya nggak variatif. Nggak ada pembaruan, apalagi pembenahan. Makanya, nggak salah juga kalau masyarakatnya berbondong-bondong beralih tempat untuk berwisata.
Mungkin, beberapa pengunjung yang datang bebarengan dengan saya juga memiliki tujuan yang sama, yakni bernostalgia. Ya, kalau pada kenyataannya seperti ini--sepinya--siapa lagi yang bisa menghidupkan kondisi pariwisata Surabaya jika bukan warganya sendiri?