Monday, November 25, 2013

Batas

Dieng pagi itu dingin. Rania melirik layar ponsel, 14 derajat celcius. Pantas saja tubuhnya menggigil. Punggung tangannya berkali-kali menutup mulut menahan kantuk saat jarum jam menunjuk angka nyaris empat. Artinya, ia tidak bisa merapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh. Kemarin, dirinya sudah menaruh janji pada tukang ojek, pukul empat dijemput untuk berangkat menuju Gunung Sikunir. Waktu yang tepat untuk mendaki dan melihat sunrise, begitu kata ibu pemilik penginapan.

Rania, wanita berusia 26 tahun memiliki hobi jalan-jalan. Bekerja sebagai editor majalah fashion mingguan, membuat rutinitasnya menggunung. Beruntung, pekerjaannya masih tergolong fleksibel, masih bisa dikerjakan dari kejauhan--kalau tidak tahu malu. Liburan cuti kali ini, ia sengaja solo trip. Bukan tidak ada kawan atau lawan. Hanya, kejadian seminggu lalu meyakinkan dirinya bahwa ia harus pergi sendiri. Rama, lelaki yang dipacari dua tahun terakhir berulah. Tidak jauh-jauh, lelaki berparas bersih itu kembali membuat Rania kecewa. Liburan yang seharusnya bisa dinikmati bersama akhirnya terpaksa dirasakan sendiri-sendiri. Masalahnya sepele. Rania kecewa dengan Rama yang membatalkan janji mendadak untuk merayakan hari jadi mereka yang kedua. Rania yang sudah ready bahkan sampai menunda jadwal meeting dengan klien hanya bisa menghela napas, kecewa untuk kali sekian. Berkali-kali ia sadar, cinta jarang mengecewakan. Sayangnya, ia buta. Ia hanya selalu memaafkan dan mentolerir kelakuan Rama.

Wajah pucat Rania terpantul dari cermin. Air dingin Dieng menyusup tulang. Kesalahan besar mencicipi air pegunungan di pagi buta. Tapi akan jauh lebih salah jika ia abai pada Tuhan. Selepas salat, ia bergegas menghubungi ojek untuk dijemput. Sebelum tukang ojek sampai, ibu pemilik losmen menawari teh panas, lumayan membantu menghangatkan kerongkongan dan pencernaan, pikirnya.

"Biasanya rombongan pukul empat sudah ready, Mbak. Mendakinya nggak lama, sih. Paling cuma lima belas menit," ibu pemilik losmen menemani Rania yang tengah menyeruput teh panas di lobi yang juga berfungsi sebagai warung. Sebelah tangannya sibuk membenarkan posisi kamera yang akan ia bawa, senjata ampuh saat melakukan perjalanan.

Wanita itu tersenyum, menyisakan lesung di kedua pipinya. "Oh, ya? Cukup dekat berarti," Rania manggut-manggut. "Tapi saya nggak ngejar golden sun, Bu. Saya hanya pingin refreshing. Di Surabaya jenuh," sambungnya.

Bagi sebagian besar orang, yang dicari saat mendaki gunung adalah golden sun, matahari pertama. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mengabadikan momen dengan menyaksikan matahari terbit. Satu harapan baru timbul. Tapi bagi wanita Leo, Rania, menikmati ciptaan Tuhan tidak melulu melalui matahari terbit. Karena berada pada puncak gunung dengan pemandangan alam lepas pun sudah menghangatkan perasaan, menghilangkan stres.

Ibu pemilik losmen tersenyum. "Kebanyakan wisatawan begitu. Ke Dieng untuk menghilangkan jenuh di kota. Dan balik kalau jenuh lagi."

Rania tertawa. "Mungkin saya juga begitu, Bu," sahutnya mengamini. Terdengar deru motor mendekat ke losmen, ia pun bergegas, berpamitan. Ojeknya datang.

Perjalanan dari losmen ke desa wisata Sembungan sekitar 7,2 kilometer. Jarak yang sebenarnya cukup dekat jika ditempuh dengan jalan kaki. Sayangnya, Rania tidak berminat menyusuri jalanan seorang diri di pagi buta. Hawa dingin menusuk tulang, tapi tak sampai membuat giginya bergemelutuk. "Dieng ini seru sekali, ya, Pak?" ia membuka percakapan dengan tukang ojek. Bukan tipikalnya kalau ia hanya diam jika bertemu dengan orang baru. Gatal di mulut, katanya.

Tukang ojek bernama Nyoto itu pun mengangguk. "Ya. Banyak wisatawan yang ketagihan ke sini, Mbak. Katanya, Dieng menenangkan. Mbak tahu, kan, kalau Dieng, tepatnya di Desa Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa? Di sini tempat persemayaman dewa Sang Hyang Di." obrolan pun mengalir layaknya teman lama. Rania bertanya, Pak Nyoto menjawab, kadang sebaliknya. Pak Nyoto juga bercerita tentang anak gimbal yang khas dari pegunungan Dieng. Dingin pagi itu seketika menguap. Rania mendapatkan banyak info. Ternyata, Pak Nyoto bukan sekadar tukang ojek biasa, tapi juga guide yang dalam pendakian. Ia selalu menawarkan jasa guide tanpa imbalan jika wisatawan memang membutuhkannya. Prinsipnya, jangan sampai wisatawan kecewa dan tidak kembali lagi ke Dieng.

Bicara soal kecewa, Rania teringat Rama. Berapa kali pun lelakinya mengecewakan, berapa kali pun ia memaafkan. Seperti ada yang salah dalam hubungannya. Namun, ia enggan membuka. "Bapak kenapa nggak pingin wisatawan kecewa? Bapak nggak rugi, ngojek bonus jadi guide begini?" tanya Rania sambil memerhatikan jalan setapak pendakian. Tekstur jalan yang sedikit basah akibat embun mendominasi membuatnya harus berhati-hati.

Di belakangnya, Pak Nyoto tertawa kecil. "Gampang saja, Mbak. Kalau saya bikin kecewa pengunjung, nanti saya makan dari mana? Kan, saya dapat uang dari pengunjung kayak mbak begini. Saya juga pingin punya banyak teman dari lokasi berbeda-beda, Mbak. Kalau saya mengecewakan, apa mungkin Mbak Rania merekomendasikan saya ke teman-temannya?" Pak Nyoto menjelaskan. Rania manggut-manggut sambil mengatur napas.

Kontras sekali dengan Rama dan dirinya. Dua tahun menjalin dan kekecewaan mendominasi hatinya. Seolah selalu ada pintu maaf untuk lelaki terkasihnya. Rama yang khilaf nyaris berselingkuh, ia maafkan. Rama yang melupakannya karena terlalu sibuk pada pekerjaan, ia maafkan. Rama yang perfeksionis dan sering memaksanya untuk tampil anggun di depan umum, ia turiti dan maafkan. Apa itu salah? Bukankah itu cinta?

Sembari mendaki, Rania menekuri langkah-langkah kakinya. Ia berpikir keras tentang kecewa. "Pak Nyoto pernah bikin kecewa pengunjung?" tanyanya akhirnya. Siapa tahu, Pak Nyoto mau berbagi tentang rasa kecewa. Tentu, itu akan menjadi bonus untuknya.

"Mepet sebelah kanan ya, Mbak." ayah dua anak itu mengingatkan agar saya tidak terlalu ke kiri, tempat jurang berada. Rania menuruti.

"Kalau kata orang, karma itu ada. Kalau kata saya, dunia itu dipenuhi hukum timbal balik. Sekali saya mengecewakan, bisa berkali-kali saya dikecewakan. Impas. Semudah itu logikanya, Mbak. Tapi, yang namanya manusia, tempatnya salah dan lupa. Meskipun saya berusaha agar tidak mengecewakan, siapa tahu ternyata masih ada yang kecewa? Kecewa, kan, masalah hati, Mbak." Kalimat Pak Nyoto masuk akal. Rania kian terpekur.

"Mbak Rania ada masalah dengan kekecewaan?" tanpa tedeng aling-aling, Pak Nyoto bertanya. Membuat langkah wanita galau itu terganggu.

Dengan senyum tipis ia membalik badan. "Bukankah setiap orang, sengaja atau tidak, pasti pernah mengecewakan dan dikecewakan, Pak?"

Puncak Gunung Sikunir sudah tampak. Matahari baru sedikit berkelana, menunjukkan cahaya keemasan miliknya. Rania tersenyum memandang puncak. Hatinya mencelos lega. Alam bukan hanya urusan matahari terbit dan tenggelam. Tapi alam adalah persoalan menikmati dengan seluruh panca indra yang ada, juga hati. Menikmati alam bisa saja untuk refleksi kehidupan.

"Tapi saya tahu, Pak, sampai pada titik mana saya harus berhenti mau dikecewakan," sahutnya dengan senyum terkembang. "Karena saya tahu, saya berhak bahagia."

2.263 meter di atas permukaan laut Rania berada. Bersama riuh tepuk tangan pengunjung yang tidak begitu banyak. Lewat alam, mata hati bisa berbicara. Betul kata orang, alam adalah inspirasi terbesar kehidupan. Rania tahu, setiap manusia memiliki batas masing-masing. Termasuk batas toleransi. Kenyamanan, kesabaran, kemampuan, dan segala hal, ada batasnya. Karena sejatinya hanya Tuhan yang tidak memiliki batasan.


Friday, November 15, 2013

Di Balik Serunya Menjadi Single Tracker

Saya sedang suntuk di bis sejak pukul 9 pagi tadi meninggalkan Dieng. Sampai sekarang, pukul 19, saya masih di bis menuju Surabaya setelah oper bis lima kali. Iya, untuk ke Surabaya harus rela berganti bis sebanyak itu dari puncak Dieng. Bisnya: Dieng-Perempatan Njuritan, Wonosobo; Perempatan Njuritan, Wonosobo-Terminal Wonosobo; Wonosobo-Magelang; Magelang-Jogja; Jogja-Surabaya. Sebenarnya, dari Magelang ada bis langsung menuju Surabaya, hanya saja ada di jam tertentu. Yakni pukul 10 dan 15 saja. Berhubung saya sampai Magelang pukul 12.15 jadi mau tidak mau saya harus ke Jogja. Dari Jogja-Surabaya kebetulan tiket kereta habis, jadi bis benar-benar pilihan menyehatkan. Halah.
Perjalanan kali ini, saya kembali menjadi seorang single tracker. Semi single tracker, tepatnya. Mengambil jatah cuti tiga hari plus hari libur, saya berangkat dari Surabaya Senin malam pukul 22. Setelah perjalanan ngebut benjutnya Sumber Slamet, saya sampai Jogja pukul 5 Selasa pagi dilanjutkan menuju MM UGM, tempat saya nebeng di kosan Itak--teman kuliah--dengan Trans Jogja trayek 3B. Sejak menginjakkan kaki di Jogja, saya sempat khawatir TransJ mogok lantaran hari Senin didemo oleh ratusan PO lain yang menolak rencana pemerataan armada di sekitar Jogja menggunakan TransJ. Artinya, bis mikro lain dilarang beroperasi selain TransJ. Kabar yang saya baca, terminal lumpuh. Beruntung, Selasa pagi itu TransJ kembali beroperasi dan saya mendapat bis pertama.
Saya tidak akan bercerita banyak hal tentang perjalanan kali ini. Karena akan ada tulisan tersendiri. Di sini, saya hanya akan menyorot bagaimana rasanya menjadi seorang single tracker amatir dari kaca mata saya. Mungkin, ada banyak hal yang memang harus saya pelajari dengan menjadi seorang pejalan tunggal. Banyak hal.
Kurang dari seminggu merencanakan perjalanan, selama itulah saya berpikir bahwa saya kembali akan menjadi seorang pejalan tunggal. Sebab, dua teman saya membatalkan niatnya untuk ikut. Tak apalah, pikir saya. Toh, di Jogja nanti akan ditemani Itak meski hanya sehari, saat ke Gunung Kidul.
Jogja dua hari, Dieng dua hari, sehari ditemani Itak. Artinya, selama tiga hari saya akan jalan-jalan sendiri. Selama itu, apa yang menjadi rencana saya semuanya berhasil terlewati dengan baik. Maksudnya, keberadaan saya untuk refreshing benar-benar tidak terhalang apapun. Semuanya lancar, Alhamdulillah. Sejak Selasa malam, setelah seharian berkeliling di Utara Jogja, saya merenungi apa saja yang telah saya lakukan hari itu. Nyaris semuanya sempurna. Saya bertemu orang baru yang selalu banyak membantu, tempat baru yang ramah, dan cuaca bersahabat. Apalagi yang kurang? Saya jadi berpikir, apa yang kita lakukan pada alam, lingkungan, dan sosial, pasti akan berbalik pada diri sendiri.
Saya paham, saya seorang diri berjalan ke sana ke mari. Berbekal petunjuk, map, dan tanya sana-sini, saya bisa sampai di tempat tujuan. Tapi, apakah akan begitu jika saya tidak berlaku wajar di tempat orang? Saya pikir sulit.
Menjadi pejalan tunggal, saya merasakan keegoisan dan sifat mendominasi saya menguap. Saya memahami, jika tengah berjalan dengan siapapun, saya akan cerewet, banyak omong, ngomel, dan berkomentar kurang penting. Tapi dengan menjadi pejalan tunggal, meski saya masih ngomel ke diri sendiri, setidaknya saya bisa menahan emosi dan lebih memilih untuk diam. Sayangnya, hal ini tidak berlaku saat saya nyasar di Jogja malam-malam dengan kondisi badan pegal, ngantuk, lapar, pms, plus sinyal Axis lelet, saya emosi jiwa raga. Tapi detik itu juga saya paham, memangnya apa untungnya saya ngomel di kota orang? Kenapa saya tidak lebih menikmati? Toh, nyasar adalah makanan sehari-hari saya di Surabaya. Kenapa?
Menjadi pejalan tunggal, memaksa saya untuk tidak bodoh dan buta informasi. Sesering mungkin, saya mengulik informasi tentang tempat tujuan. Simpel saja, biar saya tidak dibodohi dan agar saya menyimpan banyak informasi penting yang bisa ditanyakan sewaktu-waktu pada orang lain. Menjadi pejalan tunggal, saya tahu, sombong dan angkuh harus dijauhkan. Karena tentu sewaktu-waktu saya butuh bantuan. Lagian, di mana saja sombong kurang bermanfaat juga, ya.
Alam, lingkungan, sosial. Perjalanan kali ini komplit. Saya ke pantai, gunung, dan museum. Di tempat yang berbeda, saya menemukan hal yang berbeda. Di gunung, saya belajar untuk sadar diri. Di antara kepungan gunung, saya menjadi tahu bahwa saya tidak berdaya. Gunung Sindoro, Pakuwojo, Sumbing, Sikunir, Slamet, dan yang lain adalah milik Allah. Sementara saya? Hanya secuil di antara kokohnya ciptaan Tuhan yang membentang. Di pantai, saya belajar mencintai perjalanan dan proses. Butuh waktu dua jam untuk mencapai Gunung Kidul dari Jogja dengan motor. Tapi semuanya terbayar lunas ketika lagi-lagi keindahan ciptaan Tuhan terpapar di depan mata. Artinya, akan ada buah manis dari sebuah perjalanan, yang penting sabar dan usaha tidak lepas. Di museum, saya belajar menghargai masa lalu. Membaca dan mendengar rentetan kejadian masa lalu membuat saya sadar, waktu lampau menjadi pembelajaran untuk masa sekarang. Dari ketiga tempat itu saya simpulkan banyak hal. Bahwa, menjadi pejalan tunggal bukan hal yang mudah. Menjadi sabar, bersosial, menghilangkan ego, mengerti dan memahami diri sendiri adalah tujuan yang saya butuhkan saat ini.
Menjadi pejalan tunggal membuat saya banyak merenung. Bahwasanya, selama ini saya jauh dari hal yang bisa membuat orang nyaman. Tapi dari alam, lingkungan, dan sosial saya belajar. Bahwa menjadi pejalan tunggal harus banyak baca, banyak tanya, banyak sopan, banyak introspeksi, banyak doa, dan banyak syukur. Mungkin, seperti inilah cara Tuhan mengajarkan saya untuk bisa menjadi individu yang lebih baik. Ingat saja, apa yang saya lakukan di alam, lingkungan, dan sosial pada akhirnya akan berbalik melakukan hal serupa pada saya. Saya tahu, Tuhan selalu punya maksud di balik apa saja yang terjadi. Pasti.

Thursday, November 7, 2013

Can I Walk With You?

Sial, setelah berhasil menenangkan diri sendiri, malam ini goyah juga pertahanan saya. Nggak, nggak, bukan galau, tapi sekadar ingat saja. Ceritanya, malam ini sedang nganggur berat, buka Plurk langsung tertarik sama tretnya Mbak Rus, gegara apal betul sama apa yang ditulis. Sialnya lagi, beberapa hari sebelumnya, Mbak Rus menulis tret dengan lagu yang isinya sama persis dengan kondisi saya beberapa waktu lalu. Yaa intinya, lagu-lagu pengharapan, sih. Salah satunya lagu milik India.Arie yang mulai saya kenal saat kelas 2 SMP--sepuluh tahun lalu--yang berjudul Can I Walk With You. Coba cek liriknya, siapa tahu merasakan hal yang sama--sama-sama merasa mengharap tapi nggak mungkin lagi :p.

I woke up this morning you
were the first thing on my mind
I don't know were it came from
all I know is I need you in my
life, yeah

You make me feel like I can be a
better woman
If you just say you wanna take
this friendship to another place

[Chorus:]
Can I walk with you through
your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend 'till the end
Can I walk with you through
your life (fades away)

You've got me wondering if you
know that I am wondering
about you.
This feeling is so strong that I
can't imagine you're not
feeling it too.
You've known me long enough
to trust that I want what's best
for you.
If you want to be happy then I
am the one that you should give
your heart to.

[Chorus]
Now everyday ain't gonna be
like the summers day.
Being in love it really ain't like
the movies screen.
But I can tell you all the drama
aside you
And I can find what the worlds
been looking for forever.
Friendship and love together.

[Chorus]
Can I walk with you in your life?
Till the day that the world stops
spinning.
Can I walk with you in your life?
Till the day that my heart stops
beating.
Can I walk with you in your life?
Can I walk with you
Till the day that the birds no
longer take flight
Till the moon is underwater
Can I walk with you
Can I walk with you
This is the moment I've been
waiting for

Can I walk with you
Can I walk with you
Can I walk with you
You are everything I've been
looking for

Can I walk with you
Creative intellectual
Can I walk with you
Can I walk with you as your wife

Gimana? Liriknya oke, kan? Haha. Cukup ngena, ya, buat siapapun yang sedang dalam penantian. Sayangnya, saya mulai tahu dan paham posisi. Jadi, selamat berteman! :p

PS. Mbak Rus nggak kereeeenn!! :))))