Friday, December 20, 2013

Menikmati Hawa Dingin di Puncak Sikunir

Pertengahan November lalu, saya mengunjungi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sebenarnya, ini adalah rencana spontan yang saya ambil begitu cuti kerja didapat karena sebelumnya, saya memutuskan untuk menghabiskan masa cuti empat hari hanya di Jogjakarta. Namun saya pikir, sayang sekali jika empat hari cuti hanya di satu kota saja.

Memilih masa cuti yang berbeda dengan teman, solo backpacking adalah risiko yang harus saya tanggung. Ya, perjalanan kali ini saya kembali sendiri. Berbekal mencari banyak informasi via internet dan bertanya pada teman yang sudah ke sana, saya berhasil meyakinkan diri. Menjadi solo backpacker, hal yang harus dilakukan adalah tidak berlebihan dalam penampilan. Ramah, menyimpan banyak info, dan aktif bertanya pada warga sekitar juga menjadi jurus ampuh berwisata. Informasi yang saya dapat, kawasan pegunungan yang terkenal dengan buah carica (pepaya gunung) dan kentang tersebut, aman bagi solo backpacker amatir seperti saya.

Perjalanan dimulai dari Jogja menuju Dieng, saya berganti angkutan umum empat kali (Jogja-Magelang 10.000 rupiah; Magelang-Wonosobo 18.000 rupiah; Wonosobo-Terminal Njuritan 2.000 rupiah; Terminal Njuritan-Dieng 10.000 rupiah) dengan total perjalanan sekitar lima jam. Sampai di Wonosobo, pemandangan lalu lintas yang padat seketika hilang berganti dengan alam hijau. Sejauh mata memandang, gunung terbentang. Angin semilir bertiup menyegarkan. Hilang sudah pikiran jenuh di Surabaya. Ada baiknya, sebagai solo memilih tempat duduk di samping supir. Karena umumnya supir ramah dan mau diajak ngobrol tentang daerah sekitar. Lumayan menggali info.

Pemandangan sepanjang Wonosobo-Dieng. Hijaaauu!!
Satu jam perjalanan Wonosobo-Dieng, pukul 13.30 saya turun di pertigaan Dieng, tepat di depan penginapan yang dituju. Setelah check in di penginapan Bu Jono (75.000 rupiah/ kamar bisa diisi sampai 4 orang), meminta peta pada pengelola losmen, dan meletakkan backpack, saya bergegas berkeliling menuju empat tempat wisata sentral Dieng. Meliputi komplek Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theatre, dan Telaga Warna. Keempat tempat wisata tersebut bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi, bagi yang tidak ingin pegal, bisa menggunakan ojek atau rental motor. Tarif yang ditawarkan sangat tinggi, jadi harus pintar-pintar menawar. Saya sendiri, lebih memilih jalan kaki, karena sengaja ingin menikmati pemandangan kepungan gunung yang membentang.

Berbekal peta, saya memulai perjalanan menuju komplek Candi Arjuna. Ada sekitar sembilan candi tersebar di komplek percandian Hindu yang dibangun pada abad ke-7 ini. Hawa dingin, hamparan sawah juga pegunungan, dan pemandangan apik, menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Perjalanan saya berlanjut menuju Kawah Sikidang, salah satu dari sekian banyak kawah yang tersebar di daerah Dieng. Kawah Sikidang merupakan kawah terpopuler karena letaknya sangat mudah dijangkau. Berbeda dengan kawah Bromo, jarak kawah Sikidang terletak dekat sekali dengan wisatawan, sekitar lima meter jaraknya.

Salah satu candi di komplek Candi Arjuna

Dikelilingi hamparan bebatuan kapur, bau belerang sangat kuat tercium. Telaga Warna dan Pengilon menjadi destinasi saya berikutnya. Sayang, saya menjadi pengunjung terakhir saat sampai di sana. Sehingga memotret keindahan telaga dengan tiga warna pun seadanya. Hal sama terjadi ketika saya sampai di Dieng Plateau Theatre (DPT) yang memutar film menyoal pegunungan Dieng. Saya tidak masuk karena sudah tutup dan lebih memilih melihat pemandangan dibandingkan film. Puas berkeliling, saya mengakhiri hari dengan Mie Ongklok (8.000 rupiah), mi kental khas Wonosobo yang juga banyak ditemukan di Dieng. Fyi, jika mau berlibur gratis tanpa dikenakan tarif, berliburlah di musim nonliburan, dijamin gratis. Apalagi saya seorang diri :p. Tarif normal tiket terusan (5 kawasan wisata utama) sebesar 20.000 rupiah.


 Kawah Sikidang


Telaga Warna
Mi Ongklok

Terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, menjadikan suhu Dieng cukup dingin bagi warga Surabaya seperti saya. Pagi hari berikutnya, perjalanan saya berlanjut menuju Gunung Sikunir (2263 m dpl.) untuk melihat sunrise. Letak penginapan dan Sikunir cukup jauh, apalagi jika ditempuh pagi hari, butuh perjuangan ekstra. Saya memilih menggunakan ojek dengan harga standar penawaran, yakni 70.000 rupiah ditambah dengan Sumur Jalatunda. Saran saya, bagi solo backpacker, jika ingin naik ojek, sekalian minta dikawal saat mendaki. Hal ini memermudah untuk mencari informasi tentang sejarah Dieng juga sebagai teman ngobrol. Beruntung, ojek yang saya dapat via online sangat ramah dan mau berbagi cerita. Saya pun diajak ke dua point of view sunrise yang luar biasa keren dan ke good view Telaga Cebong. Dari atas ketinggian, saya bisa melihat Wonosobo dan jajaran gunung yang mengepung, menunjukkan betapa kecil dan tidak berdayanya saya. Untuk sarapan pagi itu, saya membeli Nasi Megono (2.500 rupiah), nasi gurih yang dimasak dengan irisan sayur plus bubur kajang ijo (1.000 rupiah). Rasanya? Hmmm… nggak kalah nikmat.






Puncak Sikunir


Telaga Cebong
Sumur Jalatunda

Saya yakin, siapapun yang ingin melepas penatnya pekerjaan akan tergiur dan lupa seketika dengan jenuh jika berkunjung ke Dieng. Berganti perasaan girang dan terlena pada pemandangan memukau Negeri di Atas Awan, Dieng. Tidak ada masalah dengan menjadi solo backpacking ke tempat asing. Karena yang dibutuhkan hanya berani, berpengetahuan, bertanya, dan berdoa. Jadi, solo backpacking ke Dieng? Ngapain takut. Jangan lupa, di musim penghujan, ada baiknya membawa jas hujan celana dan payung, insyaallah pasti berguna. Selamat berlibur!

Cabe Bandung

Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit

Oktober lalu saya memilih untuk berlibur ke kota tetangga, Mojokerto. Alasannya mudah saja, selain karena bujet menipis, minimnya waktu, dan saya belum pernah ke sana :p. Selain itu, saya butuh menepati janji pada diri sendiri. Makanya langsung hajar. Bahagianya, teman jalan saya kali ini cukup banyak. Dua orang rekan wartawan dan seorang teman TK. Hahaha, iya TK!! Saya juga nggak nyangka bisa ketemu lagi. Semua karena Facebook :)). Bulusnya, karena saya tahu teman TK ini tinggal di Mojokerto, saya pun meminta untuk dikawal, lumayan. Nggak mau rugi, asli! :)).

Jarak Surabaya-Mojokerto sangat dekat bagi kami anak jalanan. Gimana nggak? Cukup ditempuh satu jam dengan motor, kami bisa sampai. Hanya saja karena motor saya dan Mamik sempat rewel, maka molorlah kami. Dari pada ada kejadian yang iya-iya, mending dicegah. Kami pun memilih untuk berhenti atau melajukan motor perlahan. Pelan asal sampai dengan selamat.

Kami berangkat pukul 9 pagi, molor 2 jam dari rencana semula. Meski demikian, kami sudah memutuskan untuk mengunjungi salah satu situs sejarah terbesar erajaan Hindu Majapahit, Trowulan. Cukup mudah menemukan lokasi Trowulan ini karena tanda jalan jelas terpampang. Museum Trowulan atau lebih tenar disebut Museum Majapahit menjadi titik pertama perjalanan kami. Menuju museum, kami melewati petirtaan yang cukup besar, Kolam Segaran. Konon, petirtaan ini tempat mandi para bangsawan. Sayang, kondisi cuaca yang panas membuat kami enggan untuk berhenti. Kami janjian dengan Pipit di depan museum. Namun, sebelum masuk museum, kami menyempatkan diri untuk sarapan di warung-warung depan museum. Harganya standar Surabayalah. Tapi, pemandangan hijau sawah cukup membantu menyegarkan pikiran.
Masuk museum, pengunjung dikenai tarif yang sangat bersahabat. 2500 rupiah saja. Tapi, jangan heran jika tidak menemukan loket penjualan tiket, karena tiket masuk dijual eceran oleh penjaga parkir. Ya, mirip calo begitu. Masuk museum, kami disuguhi banyak sekali arca, gerabah, dan sejumlah peninggalan zaman kejayaan Majapahit. Saking banyaknya, arca rusak pun berserakan. Entah itu asli semua atau tidak karena posisinya yang dibiarkan dekat dengan pengunjung tanpa ada tanda peringatan sama sekali. Tidak lama kami menghabiskan waktu di museum. Karena jam menunjukkan waktu Jumatan. Ini uniknya, tempat wisata di Mojokerto tutup saat Jumatan.


Museum dan sebagian peninggalan

Sambil menunggu waktu tempat wisata buka dan Fikri Jumatan, kami ngadem di Wringin Anom, semacam pendopo dengan banyak pohon. Adem dan anginnya semilir. Di sini, pengunjung dikenakan biaya masuk 1000 rupiah saja. Dan lagi-lagi tidak ada loket khusus apalagi petugas jaga. Yang ada hanya orang mirip calo. Lepas duduk santai, kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Bajang Ratu. Ini tempat favorit saya. Karena meski cuaca sedang panas sekali, hijaunya pepohonan dan taman bunga yang ditata cukup menyejukkan mata. Candi ini tampaknya paling vokal dibandingkan candi lain. Masuk ke Candi Bajang Ratu, pengunjung dikenakan biaya masuk 2500 rupiah.


Candi Bajang Ratu, Trowulan, Mojokerto

Ada yang menarik jika Anda berkunjung ke Trowulan, Mojokerto. Hampir semua rumah penduduk dihiasi gapura khas bangunan gerbang terbelah. Hanya ada beberapa rumah bergaya modern lebih memilih memakai pagar besi, bukan gapura berbahan semen.

Perjalanan kami berlanjut ke Candi Tikus. Menurut literatur bebas yang saya baca, penamaan ini didasarkan pada waktu candi ditemukan, yakni pada 1914, ada banyak sekali tikus bersarang. Candi ini memiliki keunikan tersendiri. Selain letaknya berada di bawah tanah, jika musim penghujan candi ini membentuk genangan air menyerupai kolam, sesuai dengan fungsinya dulu sebagai petirtaan bangsawan. 2000 rupiah untuk masuk Candi Tikus.

Mamik dan Candi Tikus

Saya sarankan, jika ingin mengunjungi situs-situs era kejayaan Majapahit di Trowulan, Anda tidak jalan kaki karena letaknya cukup jauh. Sebaiknya menggunakan ojek atau kendaraan pribadi.

Maha Vihara menjadi tujuan dari perjalanan kami berikutnya, tempat patung Budha tidur raksasa berada. Saya sempat membaca, patung Budha tidur di Maha Vihara Mojokerto adalah terbesar ketiga di dunia. Letaknya masuk di perkampungan namun cukup mudah ditemukan. Saat kami ke sana. tidak ada aktivitas sembayang umat Budha. Sepi. Tapi beberapa dupa tertanam di tempat dupa, mungkin ada yang baru selesai sembayang. Di Maha Vihara, banyak patung Budha dipajang berjejer laiknya ucapan selamat datang pada pengunjung. Saya sarankan juga, saat berkunjung ke Mojokerto--tepatnya di Trowulan-- menyiapkan payung, karena wilayahnya masuk dataran rendah, jadi panasnya luar biasa.


Maha Vihara

Sebenarnya, ada banyak tempat wisata yang ada di Mojokerto jika sekadar ingin melakukan one day trip, baik di dataran rendah maupun dataran tingginya. Namun, lagi-lagi ada baiknya memerhatikan faktor cuaca jika tidak ingin liburan terganggu. Setidaknya, tidak saat panas sekali atau hujan deras mengguyur. Selamat liburan.

Serba-Serbi 2013

Sebelas hari lagi 2013 berlalu, banyak hal yang saya dapat dan berhasil lalui di tahun ini. Berangkat dari resolusi yang saya buat, ada dua hal yang tidak bisa tercapai di tahun ini; menikah dan nyetir mobil. Tapi itu bukan masalah besar, karena waktunya memang belum tepat :p.

Resolusi 2013 yang saya catat pertama dan besar-besar di akhir tahun 2012 adalah travelling. Saya bertekad, setidaknya satu bulan sekali ada masa jalan-jalan. Entah one day trip, city tour di kota sendiri, atau tugas ke luar kota yang melenakan. Yang penting jalan-jalan dan membuat saya lupa dengan pekerjaan :p.

Januari
Minggu pertama bulan Januari, saya ditugaskan ke Lumajang, tepatnya ke Gunung Lemongan dekat dengan 13 ranu yang mengelilingi. Sebelum naik, saya sempat mampir ke Ranu Klakah, udara yang sejuk membuat saya lupa tujuan awal; yakni bekerja :p. Sedikit cerita, Ranu Klakah dan 12 ranu lain di sekitar Gunung Lemongan dulunya sempat kerontang akibat ulah tangan tak bertanggung jawab. Kebakaran dan penebangan hutan massal mendominasi. Namun, di tangan Aak Abdullah dan Laskar Hijau, Gunung Lemongan yang semula tandus berangsur hijau. Tanaman bambu dan tanaman buah-buahan ditanam pelan-pelan di lahan bekas kebakaran. Tanaman bambu menjadi pilihan lantaran sifatnya yang bisa menyimpan banyak air, sedangkan tanaman buah-buahan sengaja ditanam karena memiliki nilai ekonomi. Berkat tangan Aak Abdullah ini, kini 13 ranu di sekitar Gunung Lemongan kembali terisi. Sawah milik petani pun teraliri. Tentu bukan serta merta sukses begitu saja, sempat juga usahanya diganggu oleh orang yang tak suka dengan aksinya. Standar hukum alam. Aksi Aak Abdullah ini berhasil mengantarkan namanya menjadi pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2010.

Di tengah kerja di Gunung Lemongan, Lumajang (Saya, Pak Memet, dan Mas PJ)

Gunung Lemongan, Lumajang

Masih di bulan Januari, saya diajak kantor untuk family gathering. Tapi, karena saya sedang bermasalah dengan keluarga, saya pun memutuskan untuk pergi sendiri dan meminta jatah tiket keluarga untuk teman; Har. Ya, saya nggak mau rugi. Di saat yang lain membawa keluarga, pasangan, dan kerabat, saya pun bisa bawa teman, hahaha.

Statusnya memang awal tahun, tapi keadaannya suram. Masalah di awal tahun membuat saya menjadi seorang yang lebih introvert. Tidak seekstrovert dulu. Ada banyak hal yang kini membuat saya berpikir berkali-kali untuk sekadar bercerita. Bercerita pun hanya pada orang yang saya pikir pas untuk sekadar mendengarkan. Pelan-pelan saya menutup diri, meski masih sering tampak terbuka. Tapi ada bagian lain yang harus saya simpan sendiri. Ya, 2013 pelan-pelan mengubah saya menjadi sosok yang tertutup.

Februari
Bulan kedua tahun 2013. Saya ditugaskan ke Wonosalam, Jombang, dataran sedikit tinggi. Di sana, saya bertemu dengan penggagas makanan sehat berbahan tanaman liar; seperti daun racun dan dedaunan yang saya lupa namanya *payah*. Namanya Hayu Dyah Patria, beliau salah satu pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2011. Di tempat ini saya belajar ketulusan. Saya memang dalam rangka kerja, tapi ide dan niat tulus penggagas serta masyarakat sekitar Wonosalam yang mau menerima perubahan pola berpikir menginspurasi saya; bahwa sejatinya perubahan bisa dimulai dari hal kecil di sekitar. Selama ini daun racun dan dedaunan liar hanya diabaikan oleh masyarakat. Namun, ketika Hayu datang dengan bahan penelitian, perspektif masyarakat pun perlahan berganti. Bahwasanya, tanaman liar pun juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan menyehatkan.

Maret
Maret, saya ditugaskan ke Nganjuk dan Lamongan. Di Nganjuk, saya bertemu dengan wanita inspiratif, Pramu Hermawarnie. Beliau adalah istri dari pensiunan pegawai BUMN terkemuka di Gresik sekaligus ibu dari Hayu Dyah Patria. Sebagai wanita aktif, kepindahannya ke kota Nganjuk diisi dengan mengubah mindset ibu-ibu desa melalui seni kreasi sulam pita. Ia sadar, jika tidak berbagi sekarang, kapan lagi bisa? Ia tidak bisa menjamin hari tuanya akan panjang. Kegiatan ibu-ibu desa setiap harinya adalah menggosip, mengantar anak, dan mengurus keluarga. Memang, itu kodrat wanita. Namun, Ema--akrab ia disapa--ingin membuat hidup ibu desa lebih berarti dan bernilai. Ema mengajak ibu desa untuk menyulam. Tujuannya, mengurangi aktivitas menggosip dan menambah pemasukan bagi keluarga. Menariknya, bahan pekerjaan boleh dikerjakan di rumah tapi tetap dalam pengawasan Ema. Dari kegiatan ini, ibu desa yang dulu sempat direndahkan suaminya kini justru lebih percaya diri dan lebih dihargai oleh orang lain. Karena tidak jarang Ema mengajak ibu-ibu desa binaannya untuk ikut serta menjadi fasilitator saat tengah membina di kota lain.

Di Lamongan, saya bertemu dengan dua pelajar inspiratif penemu pewangi ruangan berbahan kotoran sapi, Dwi Nelly Izzah dan Rintia Miki Aprianti. Siswa SMA Muhammadiyah Babat ini terinspirasi dari ilmuwan Amerika yang membuat parfum dari kotorannya sendiri. Keduanya lantas memutuskan untuk membuat pewangi ruangan berbahan kotoran sapi lantaran di Lamongan banyak peternak sapi yang jarang memanfaatkan kotorannya selain untuk pupuk. Mereka pun membuat percobaan didampingi guru pendamping dengan komposisi 30% kotoran sapi + 20% Ca + sulfur 10% + 5% limbah daun segar kaya Natrium + 10% mikroba pengurai. Hasil dari pencampuran dan destilasi bahan tersebut menjadi pewangi ruangan yang mengantarkan mereka menuju kompetisi sains dunia di Turki, April lalu.

April
Bulan April, masalah pribadi saya berangsur selesai disertai kondisi kesehatan membaik. Di bulan ini, saya kembali ditugaskan ke luar kota yakni Tretes di Ubaya Training Center (UTC) untuk meliput kegiatan outbound. Nah, berhubung saya berangkat bersama kamerawan, jadi saya ikutan outbound, hahaha. Nggak mau rugiii! :))

Ubaya Training Centre (UTC)

Mei
Bromo. Saya merencanakan perjalanan ini serba dadakan. Ya, bukan saya kalau tidak serba mendadak :p. Saya berangkat bersama Har, Vis, dan Vian naik motor dini hari. Belum pernah terpikirkan kalau saya bisa melakukan hal ini :p. Hasilnyaaa? One day trip yang luar biasa dan nagiiiiih! Dari sini saya semakin yakin kalau libur sehari bukan berarti tidak bisa jalan-jalan. Asal niat, pasti bisa.

Bromo (Saya-Vian-Har)
Juni
One day trip memanfaatkan waktu libur yang aneh dan lain dari pada yang lain kali ini tujuan saya adalah pantai Selatan Malang. Ada puluhan pantai di sana. Tapi tenaga dan waktu hanya mampu tiga pantai, Pantai Tamban, Pantai Bajul Mati, dan Pantai Goa Cina. Saya berdua menyusuri Selatan Malang via motor dengan Har. Lucunya, Har ini kenapa selalu mau kalau saya ajak nakal, hahaha. Aah, Har memang teman yang baik hati koook. *bukan rayuan bukan pujian :)))*.

Pantai Goa Cina, Malang Selatan (Saya dan Har)
Juli
Sudah masuk bulan puasa. Tapi seminggu sebelum puasa saya menyempatkan diri untuk city tour sama Tita dan Ilma. Tujuannya dua; Kenjeran dan lantai 5 Plasa Surabaya. Nostalgia yang seru. Apalagi Tita jarang-jarang diajak pergi ke sana.

Plaza Surabaya (Tita dan Saya)

Agustus
Pascalibur Lebaran saya segera menyusun rencana bepergian. Jogja menjadi tujuan saya setelah nyaris sepuluh tahun tidak berkunjung. Di Jogja pulalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh seorang diri. Saya senang, karena single backpacking tidak banyak membuat saya bergantung dan merepotkan orang lain. Di Jogja ini tujuan saya hanya di pusat kota. Memborong banyak belanjaan, seorang diri, sesuka hati, siapa menolak? :p
Taman Sari, Jogja

Di bulan Agustus juga saya ke Pulau Sempu setelah selama ini hanya memimpikan. Teman one day trip kali ini cukup banyak, berenam. Saya, Har, Vis, Laila, Mila, dan teman Laila yang saya lupa namanya, maaaf. Yang saya sayangkan, kenapa saya tidak berenang di siniii? Kenapa saya tidak bawa baju ganti? Kenapa saya tidak gulung-gulung di pasir putihnya yang melenakan itu? Ah, saya harus ke sana lagi kayaknya :p.

Pulau Sempu, Malang (Har, Saya, Mila, Navis, Laila, dan Temannya)

Daaan, di bulan ini saya menginjak ke umur baru, dua puluh empat. Iyeee, saya makin tua. Semoga makin dewasa dan bijak dalam menanggapi masalah yaaa.

September
Saya tidak mempunyai rencana jalan-jalan sama sekali di bulan ini. Sampai Mas Adib nge-Whatsapp dan mengajak serta ke Bromo bareng teman-temannya. Dari awal saya menolak jika naik motor karena pengalaman mengajarkan saya arti ngeri dan ngesot menembus parahnya lautan pasir :p. Tapi ternyata naik mobil, yawislah cus. Kami berdelapan saat itu, bersama enam orang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. But sure, travelling not only brings you to a new place but friend also.


Bromo (Kiki, Mas Muhan, Saya, Mbak Tiwi, Mbak Pipit, Mbak Fitri, Mas Adib, dan Mas Riza)

Oktober
One day trip di bulan Oktober, Mojokerto menjadi kota pilihan saya. Selain mudah, juga dekat, dan efisiensi waktu. Teman perjalanan saya kala itu adalah Pipit (teman TK saya), Fikri, dan Mamik yang merupakan teman kerja sehari-hari. Kami memilih Trowulan untuk melihat masa kejayaan kerajaan Majapahit sekaligus berkunjung ke patung Budha tidur yang kabarnya terbesar ketiga dunia, Maha Vihara.

Maha Vihara, Mojokerto (Fikri, Saya, Mamik, dan Pipit)

Di bulan ini juga saya mendapat tugas liputan ke Ponpes Sunan Drajat, Lamongan. Believe it or not, saya merindukan momen mengaji kitab bersama. Sederhana ya? Sayang sekali dulu saya menyia-nyiakan waktu begitu saja. Giliran sudah sibuk begini mengaji pun jarang. Di sini, saya diramalkan akan segera menikah. Hehe, diaminin saja dulu, ya. 

November
Mendapatkan jatah cuti, perjalanan saya di bulan ini cukup mengasyikkan. Dalam kurun waktu lima hari saya menghabiskan jatah liburan di dua tempat berbeda; Jogja dan dataran tinggi Dieng, Banjarnega. Di Jogja, tujuan wisata saya adalah Utara Jogja meliputi Kaliurang dan museum-museum wilayah Utara. Salah satu museum yang membuat saya terpukau adalah Museum Ullen Sentalu, museum dengan desain alam yang mengajak pengunjung untuk tahu perbedaan kesultanan Jogja dan Surakarta. Saya juga menghabiskan waktu di Selatan DI. Jogja, tepatnya di Gunung Kidul. Berdua mengendarai motor dengan Itak, kami menyambangi empat di antara puluhan pantai yang ada di sana.


Pantai Drini, Gunung Kidul, DI. Jogjakarta (Andita dan Saya)

Hari berikutnya cuti, dataran tinggi Dieng menjadi sasaran saya. Jarak tempuhnya sekitar lima jam dari Jogja. Tapi di sana, dijamin lupa dengan semua hal yang ada di Surabaya. Yang paling membuat saya lupa adalah pesona sunrise dari puncak Gunung Sikunir, Telaga Cebong dari good view Sikunir, dan iring-iringan awan yang menutupi Desa Sembungan--desa tertinggi di Pulau Jawa. Saking terpesonanya, saya bahkan lupa kalau esoknya saya harus kembali kerja. Ah, yang jelas, jalan-jalan bulan November bikin hati puaaaas sekali.

Sunrise Sikunir, Dieng

Desember
Sebenarnya, saya merencanakan untuk menghabiskan masa cuti yang tersisa satu hari ke Magetan. Sayangnya, karena hape saya main drama dan meminta jatah travelling untuk membeli hape baru, jadi rencana jalan-jalan pun batal. Saya pun ikhlas kalau tidak bisa melunasi janji saya di akhir tahun 2012; travelling. Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Sebuah instansi mengajak saya untuk jalan-jalan ke PPLH Seloliman, Ngoro, Mojokerto. Dekat dari Surabaya, memang. Saya pun sudah pernah ke sana. Tapi, masa iya saya menolak begitu saja? Sayang dong, jalan-jalan gratis dilewatkan begitu saja :p. 

Nah, karena yang mengajak adalah instansi listrik milik negara, maka kegiatan kami tidak lain dan bukan adalah mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Bagaimana caranya aliran air sungai bisa menggerakkan turbin sampai membuat nyala listrik yang sebagian masih disuplai oleh instansi ini. Lumayan menambah pengetahuan, bukankah memang begitu tujuan dari jalan-jalan? :p

PLTMH Wot Lemah, Seloliman, Ngoro, Mojokerto

Ah, 2013 akan segera berlalu. Tapi di tahun ini banyak sekali warna yang sudah Tuhan berikan pada saya. Alhamdulillah, saya bisa melaluinya dengan baik. Semoga 2014 rencana yang sudah tersusun bisa berjalan sebagaimana mestinya. Amin.

Monday, December 2, 2013

Rame-Rame Kondom

Masih hangat perbincangan soal Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan beberapa pihak (produsen dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional-KPAN) (sebelumnya saya tulis Kemenkes. Saya mohon maaf.) memeringati Hari Aids, 1 Desember. Banyak opini, kecaman, dan masukan digulirkan di media dan media sosial. Pasalnya, hal tersebut dinilai absurd, tidak solutif namun justru banyak menimbulkan masalah baru. Sebagai awam, dilihat dari sisi mana pun, saya tidak setuju dengan aksi bagi-bagi kondom gratis. Terlebih dengan pembagiannya yang terkesan sembarangan.

Saya sempat membaca media dengan isi pernyataan Wagub DKI Jakarta, Ahok. Di media tersebut disebutkan, Ahok menyatakan setuju melalui pernyataan yang membuat saya mesem. Kurang lebih begini (saya lupa persisnya), "Kalau nggak mau kena HIV/ AIDS, pakai kondom solusinya." Betul sekali pernyataannya. Tapi apa sudah betul sasarannya? Kondom gratis juga dibagikan ke pelajar dan mahasiswa, loh. Lain lagi kalau pembagiannya tepat sasaran. Di salah satu media cetak disebutkan, penderita HIV/ AIDS kini didominasi oleh ibu rumah tangga, pekerja seks komersial, dan sisanya lain-lain. Mencengangkan.

Saya masih sedikit ingat, soal kontroversi adanya rencana memasukkan pelajaran seks di sekolah. Menurut saya, pelajaran ini penting namun disesuaikan pada usia. Namun, alangkah lebih pentingnya jika pelajaran moral dan agama dijadikan landasan utamanya. Tidak jauh-jauh, di sekolah Tita, pelajaran moral ditiadakan. Diganti dengan pelajaran kewarganegaraan. Itu berarti pendidikan moral dan karakter anak harus dimatangkan oleh keluarga. Keluarga mempunyai peranan penting untuk membentuk moral anak. Sebab, dengan pendidikan moral dan agama yang kuat anak akan tahu mana benar dan salah. Termasuk memaknai aksi bagi-bagi kondom gratis. Coba kalau aksi bagi-bagi kondom dilakukan ke rumah perumah dengan sasaran ibu rumah tangga dan ke sejumlah lokalisasi (dilihat dari dominasi pengidap), mungkin cara tersebut akan lebih efektif. Berbeda dengan pembagian di sekolah mau pun kampus. Bisa jadi pembagian tersebut akan memicu rasa penasaran. Bagaimana rasanya menggunakan kondom? Dengan siapa menggunakannya? Implisit, disadari atau tidak, rasa penasaran akan muncul di beberapa pelajar atau mahasiswa dan berujung pada aksi seks bebas. Berawal dari coba-coba, berakhir dengan suka-suka.

Sebenarnya, kalau tujuan dari program ini adalah mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS, saya pikir tidak perlu sebegitu hebohnya bagi-bagi kondom. Tapi dengan sosialisasi bahaya penularan virus melalui seks bebas, narkoba, dan penggunaan jarum suntik bergantian; penguatan nilai moral dan agama; juga pengetahuan soal seks, saya pikir cukup membantu mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS. Tentu, peran serta keluarga dan lingkungan sangat vital.

Namun, jika Pekan Kondom Nasional sudah terlanjur berjalan bahkan sampai menelan biaya 25 milyar, kini giliran masyarakat harus cerdas. Mencari informasi banyak-banyak, bertanya sana-sini tentang kondom, dan memilah dengan tepat serta tegas tindakan mana yang harus dilakukan. Semoga bus Pekan Kondom Nasional tidak sampai di Surabaya, kota yang sedang giat memberantas lokalisasi, ya.