Saturday, December 27, 2014

Kaleidoskop 2014

Saya pikir, tahun 2014 adalah tahun suka cita. Bukan apa-apa, hanya saja, saya merasa di tahun ini banyak sekali kejadian tak terduga yang didapat. Senang, sedih, kaget, bahagia campur haru, semuanya ada di tahun ini. Kejadian yang menurut saya paling besar terjadi di tahun ini adalah: saya mendaftarkan diri untuk sekolah lagi. Kejadian yang dulunya menurut saya mustahil saya lakukan. Alhamdulillah. Tapi tentunya, saya senang karena sepanjang tahun 2014 ini saya banyak menghamburkan uang untuk jalan-jalan, hahaha.

Januari
Di awal Januari, saya langsung mengajukan cuti dua hari untuk pergi bersama keluarga ke Kawah Ijen, Pantai Papuma, dan Pantai Pasir Putih. IKut acara kantor ayah itu selalu terjamin. Selama tiga hari perjalanan, saya nggak mengeluarkan uang sama sekali, perut kenyang, dan hati senang gembira. Hahaha.

Bareng ayah dan Tita di Kawah Ijen

Februari
Nggak ada rencana kemana-mana. Hanya ke luar kota, tepatnya di Tuban untuk menghadiri pernikahan Mas Aris Jawa Pos. Spesialnya, momen itu juga menjadi momen perpisahan dengan Rizal yang memutuskan untuk resign dari Jawa Pos demi hitchhiking ke Asia, bahkan dunia. Beeeh, salut! Perpisahan disusul oleh Mas Aris dan Fikri yang pindah ke Jakarta mencari semangkok berlian.

Di momen ini, saya juga mendapat pesan dari Rizal. Pesan yang buat saya penting tapi susah dilakukan. "Kalau memang suka jalan-jalan, kalau bisa jangan tidur di perjalanan. Justru di perjalanan adalah momen tepat untuk mencari tahu banyak hal." Yaelahaa, itu pesan yang susah banget dijalankan. Secara saya pelor luar biasa, meski tidur hanya beberapa menit sekalipun pokoknya harus tidur, hhehe. 

Mas Aris, Dinda, saya, Fikri, dan Rizal di kondangan Mas Aris

Maret
Bulan Maret adalah jatah jalan-jalan dari kantor. Kebetulan saya mendapat jatah empat tiket. Namun hanya Ilma yang bisa ikut. Nah, karena saya nggak mau rugi, saya pun mengajak dua teman saya untuk ikut serta ke Taman Safari Prigen. Lumayan, kan, ya? *cerdas tiada tara :))*

Beruang madu di Taman Safari Prigen

April
Bulan April rencana main-main saya hanya di sekitar Malang. Tujuannya jelas pantai. Pantai Ngliyep dan pantai perawan Jonggring Saloko. Main-main di tempat jauh dengan jalan hancur, bonus jatuh dari motor. Lumayan buat kenangan  mengingat partner saya, Navis dan Har, sekarang sudah balik badan dari Malang. *peluk satu-satu*

Saya, Har, dan Navis di Pantai Jonggring Saloko

Mei
Bulan Mei saya ke Lombok, NTB. Berdua saja dengan teman. Bepergian jauh ternyata beneran bisa menghilangkan pikiran dari pekerjaan yaa. Saya senang sekali liburan di sini. Air laut yang hijau toska bercampur biru bening, pasir putih halus, hijaunya pepohonan, semuanya indah! Puas meski sempat ruwet saat ngeteng tapi overall, saya senang!

   
Di Gili Amatra

Juni
Bulan Juni, saya pergi bersama plurker Suroboyo. Tujuannya masih di Jawa Timur, tapi cukup jauh. Di Pacitan. One day trip seminggu sebelum puasa. Karena posisi Pacitan ada di selatan, otomatis wisata yang ditawarkan adalah wisata pantai. Sehari, kami menjelajah di 6 pantai menggunakan mobil carteran. Lumayan murah untuk liburan sehari bertujuh orang. Hati senang dan riang.

Di Pantai Banyutibo

Juli
Saya enggak kemana-mana. Gegaranya, saya mendapat peluit dari ayah akibat terlalu banyak jalan-jalan *mestinya maklum yaa, kan baru punya duit :))*. Saya hanya menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Batu saat lebaran. Tapi teteup, menyenangkan karena saya betul-betul liburan khusus untuk keluarga.  
 
Bianglala Kota Wisata Batu

Agustus 
Masih dalam peluit ayah, saya enggak kemana-mana di bulan spesial ini. Uang jalan-jalan saya, saya alihkan untuk daftar studi magister. Sebelum yakin, saya berkali-kali diyakinkan ayah dan ibu tentang konsekuensinya. Yang jelas, tujuan saya kuliah lagi hanya satu: belajar. Saya tidak tahu tujuan perjalanan saya berikutnya seperti apa, saya menjadi apa, bekerja di bidang apa. Yang saya tahu, saya hanya perlu mempersiapkannya. Hitung-hitung mengisi waktu luang di tengah pekerjaan. Meskipun, tidak dimungkiri, ada beberapa teman saya yang sangsi pada keputusan saya ini. Saya sih cuek saja. Biar Allah yang membukakan jalan hidup saya. Doakan saya bisa kuliah sambil kerja sampai selesai ya:).

September
Ternyata kuliah sambil kerja itu susah. Hahaha. Setidaknya itu yang saya rasakan di bulan pertama saya kuliah. Akibatnya, saya langsung mengambil cuti dan lari dari kenyataan dengan penjelasan panjang lebar ke ayah, ehehe. Di bulan September, saya melarikan diri untuk mengikuti kegiatan yang cukup prestise. Menjadi bagian dari Indonesia.Travel dan menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Magetan. Bayangkan, kurang prestise apa, sih, saya? Hahaha. Selama di dua kota tersebut, tentu saya jalan-jalan. Ke Museum Angkut, menengok budidaya jamur, dan Pura Giri Arjuna. Lalu di Magetan, saya mencicipi tempat nongkrong anak gaul Magetan, ke Telaga Sarangan, dan ke perkebunan stroberri. Mungkin, karena tujuan jalan-jalannya oke, jadi ayah mengizinkan saya keluar setiap minggu di bulan ini :D.

Bareng seluruh peserta workshop Indonesia.Travel

Bareng relawan dan fasilitator Kelas Inspirasi Magetan

Oktober
Karena bulan September saya mendapatkan lampu hijau untuk jalan-jalan, akibatnya saya merasa cukup tahu diri. Antisipasi kalau sewaktu-waktu saya nggak dapat izin jalan-jalan, saya mengerem keinginan saya untuk ke luar kota. Waktu senggang saya manfaatkan untuk ke Surabaya Carnival Night Market bareng Laila. Lumayan menyenangkan, secara itu kali pertama saya masuk sana setelah dibuka Juli sebelumnya.

Selamat datang di Surabaya Carnival Night Market

November
Awal bulan November, saya pergi bersama teman kuliah ke Pulau Madura. Tepatnya di Sumenep, kabupaten paling ujung dari Pulau Madura. Ngapain? Wisata pantai menghilangkan stres kebanyakan tugas, hahaha. Serius, ternyata sekolah magister itu banyak tugas! *ngakak sambil nangis* Kami pergi ke kraton Sumenep, museum, Pantai Lombang, dan Pantai Slopeng.

Kami di Pantai Lombang

Desember
It was great! Saya stres luar biasa. Tugasnya makin banyak, belum belajar UAS, dan saya pindah pos baru. Komplit. Saya akhirnya kabur ke Semarang dan Magelang sendirian. Waaah, serius! Saya benar-benar menikmati liburan di pertengahan bulan Desember. Banyak pelajaran, banyak bertemu orang baru, banyak melihat gunung yang menenangkan, banyak hal lain lagi yang membuat saya lupa dengan capek, apalagi tugas di Surabaya. Semuanya hilang. Alhamdulillaaah. Meskipun pada akhirnya pulang ke Surabaya kembali menatap layar laptop, setidaknya stres sudah hilang :D.

Bulan ini saya juga jalan-jalan nggak jelas bareng keluarga. Ini momen paling jarang di luar lebaran. Sebab, kami sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Di rumah hanya say hi, ngobrol sebentar, lalu menghilang pagi, pulang malam. Hampir begitu setiap hari. Jadi, meski jalan-jalan bareng keluarga pada akhirnya nggak jelas tujuannya, yang penting sudah bercanda dan berbincang banyak hal di luar rumah. It was a great moment! 

Saya senang! :D

Akhirnya komplit :)

Sepanjang 2014 ini saya merasakan perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saya bersyukur bisa melalui apa saja yang menjadi penghalang meski harus pelan-pelan. Meski tahun ini sudah menyenangkan, melegakan, dan banyak hal asyik yang saya dapat, saya yakin di tahun 2015 akan ada yang lebih baik dan menyenangkan yang bisa saya dapatkan. Alhamdulillah, saya siap bersenang-senang di tahun depan. Semoga tidak banyak masalah baru yaa :)). 

Monday, December 1, 2014

Gara-gara Prewedding

Kami sama-sama penyuka traveling. Suka sekali. Kemanapun, jika sedang sama longgar, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Entah dengan teman-temannya, atau temanku, atau berdua saja. Tidak di Surabaya, tentunya. Di luar kota.

Saking sukanya kami dengan jalan-jalan, hampir setiap bertemu, setiap berkomunikasi, materi yang dibahas adalah; kemana liburan kita selanjutnya? Selalu.

Hanya saja, kesukaan kami berbeda. Aku suka sekali dengan pantai. Deburan ombaknya yang menenangkan, pasir putih halus menggelitik telapak kaki, angin semilir menentramkan, semua lepas. Melepaskan hampir seluruh penat di tiap-tiap persendian.

Sementara dia, penyuka gunung tingkat dewa. Jangan tanya berapa kali kami berdebat memutuskan tempat tujuan liburan. Berkali-kali dan selalu. Alhasil, jalan keluarnya kami sama-sama mengalah.

Seperti bulan lalu, saat kami memutuskan untuk ke Gunungkidul, Jogjakarta. Sehari kami ke belasan pantai selatan, sehari berikutnya kami naik Merapi, sehari sisanya kami ke Gua Pindul. Perpaduan antara pantai dan gunung. Ada air dan bebatuan. Klise.

Sebagai anak gunung sejati, persiapannya komplit luar biasa meski hanya sehari dan tanpa mendirikan tenda. No besar. Awal perjanjian begitu. Kalau memang mau adil, kami tidur di hotel, bukan membuka tenda hanya karena urusan selera tempat liburan. Aku tahu persis, kalau sudah membuka tenda, dia nggak bakal mau cepat pulang. Kebiasaan.
***

Hari ini kami ribut, lagi. Alasannya lagi-lagi masalah selera. Menentukan tempat prewed yang cantik dan eksotis. Kami ribut. Mau gunung atau pantai?

Seperti biasa, aku ngotot ke pantai. Alasannya, sunset atau sunrise di pantai itu romantis. Cewek banget, kan, ya? Sementara dia juga ngotot berat mau ke gunung. Tujuannya ke Bromo. Lengkap dengan motor vespa bututnya.

Plislah, masa iya ke gunung naik vespa? Lagipula, ini Bromo, gunung pasir. Masa iya, sih? Berkali-kali aku tanya ke dia, "Are you crazy or what?"

Coba dipikir, Bromo memang eksotis. Sunrise di sana dikenal cantik. Tapi menuju ke sana nggak harus penuh perjuangan juga, kan? Apalagi buatku yang nggak begitu suka gunung, nggak suka capek, apalagi ribet. Kalau ada yang mudah, kenapa harus ribet?

Belum lagi dia ingin foto dengan latar penuh Bromo. Yang artinya, vespa butut-warna-oranye-ngejreng-yang-katanya-sesuai-selera-warna-kesukaanku-padahal-nggak-juga-itu dibawa sampai ke lautan pasir. Yang artinya lagi, kami harus menuruni kelokan 45 derajat untuk sampai ke sana. Kelokan tajam dan bikin sesak napas. Lalu, lautan pasir harus ditempuh untuk benar-benar berada di puncaknya. Nggak kebayang. Aku pernah sekali ke Bromo menggunakan motor, itu capek sekali. Perlu tenaga ekstra mengingat roda motor nggak secanggih mobil off road. Lah, ini malah pakai vespa. Dia masih waras, kan?

Sebenarnya, aku nggak masalah dia menggunakan vespa sebagai properti wajib untuk prewed. Tapi, mbok ya dia lihat situasi dan kondisi. Iya, aku tahu kalau vespa ngejreng itu cinta sejatinya. Tapi... ah, sudahlah.

Kupikir, pantai memang satu-satunya tempat paling aman untuk liburan. Tenang, nyaman, dan damai. Ya ampun, apalagi yang diragukan dari pantai, sih? Kalau ada orang tenggelam di pantai, masa iya salah pantai? Kalau ada pantai jorok dan kotor, masa iya aku pilih pantai itu? Di pantai, semua bisa dilogika. Nggak susah dijangkau dan membebaskan pikiran.

"Jadi, sampai hari ini kalian masih ribut?" Gista, temanku yang juga temannya, bertanya padaku. Wajahnya tampak nggak habis pikir dengan kelakuan kami. Aku maklum saja. Gista, kan, nggak merasakan sebagai aku. Sebagai partner in crime pemuda yang nggak mau ngalah. Wajar.

Aku mendengus saja.

"Sudah, seminggu nggak komunikasi, kan? Itu lama banget, loh, buat ukuran wanita yang mau menikah. Apalagi tinggal satu kota." Gista masih nyerocos. Biarin sajalah, terserah dia menganggap hubungan kami semacam apa. Toh, dia nggak ikut menjalankan peran.

"Eh, tapi, memangnya prewed itu perlu banget ya? Wajib gitu?" Tiba-tiba nada kalimat Gista berubah nggak yakin. Aku apalagi.

Tanganku mencubit pipi kanannya. "Kamu pikir, kalau prewed nggak penting, bisa bikin kami gondok-gondokan selama seminggu gitu?"
***

Rasanya aneh, tanggal pernikahan sudah ditentukan tapi kami malah berantem. Ada gitu lebih dari dua minggu. Meeen, dua minggu! Bayangpun, dua minggu berantem hanya karena menentukan latar prewed. Demi masa. Apa kabar gedung, catering, dan riasan manten ya?

Aku mematut diri di cermin. Memanyunkan mulut sesekali melihat hape. Nihil. Dia masih keukeuh nggak menghubungi aku. Kok dia bisa kuat, sih? Aku gemas sendiri. Laki-laki payah.

"Mau sampai kapan kalian berantem begini, heh?" Tara, sepupuku yang merangkap menjadi fotografer pesananku muncul tiba-tiba. Di pundaknya menggantung kamera mahal properti wajib yang harus dibawa.

Fiuuuh. Aku menghela. Bergeming. Hanya melihatnya sekilas lalu abai.

"Oh iya, dia punya usul baru. Mau ke Pantai Merah atau ke Ijen Crater?" Tara melempar tanya. "Nggak harus pakai vespa, sih."

Heh? Serius, kalimat tambahan Tara langsung membuatku kaget. Prewed? Tanpa vespa bututnya? Kok bisa gitu? Aku memainkan bola mata, berpikir. Sejenak-dua, hapeku sudah menempel di telinga.

"Kenapa, sih, menikah harus ribet dengan prewed?" Aku bertanya pada suara di seberang. Rasanya tenang begitu mendengar kabarnya baik saja. Aku kangen.

Dia tertawa.

"Memangnya, menikah dengan prewed itu perlu?"

Di sana, lelakiku masih tertawa.

"Kenapa kita nggak melupakan semua tentang prewed lalu berbaikan? Aku kangen tau." Aku gemas sendiri. Sial. Harga diriku bisa tiba-tiba jatuh begini di depannya.

Dua detik, ada senyap di antara kami. "Ya sudah, kutunggu di Stasiun Semut sekarang. Ajak Tara juga." Dia menutup kalimatnya dengan tersenyum. Aku tahu itu.

Seketika aku teringat, bahwa kami juga memiliki kesukaan lain. Bangunan tua dan kereta api. Semuanya ada di Stasiun Semut. Ah, kenapa aku bisa lupa. Seandainya menikah nggak perlu ribet.

Aku berkemas kegirangan. "Kita berangkat ke Semut. Pemotretan di sana." Sahutku senang pada Tara.

Sarangan: Telaga di Kaki Gunung Lawu

 
Gunung Lawu dari Telaga Sarangan
 
Pernah ke Magetan? Jujur saja, saya baru kali pertama ke Magetan September lalu. Sebelumnya, hanya numpang lewat. Kali pertama ke Magetan lantaran saya ikut dalam Kelas Inspirasi sebagai relawan pengajar. Dua kali saya ke Magetan, dua kali pula saya mendapat sambutan hangat dari teman-teman baru *sungkem*.

Minggu pertama ke Magetan, saya ngotot sekali ingin ke Telaga Sarangan. Iya, maskot wisata yang dipunya kabupaten yang dikenal dengan budidaya jeruk pamelo. Saya kenal Telaga Sarangan sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Saat itu, di buku Bahasa Inggris ada materi bacaan tentang Telaga Sarangan, penginapan, speed boat, dan sewa kuda. Sejak saat itulah saya penasaran dengan Telaga Sarangan. Norak? Biarin aja.

Pagi itu, setelah sarapan Tepo Pecel, saya dan 4 teman (Mbak Sasa, Mas Andian, Mbak Eka, dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--) berangkat menggunakan motor. Jalanan Magetan pagi super sepi, sejuk, dan menenangkan. Yakin, saya betah berlama-lama di sana--asalkan ada mal, kafe, bioskop, bolehlah sebulan-dua:p. Inilah bedanya Magetan dan Surabaya. Sekitar pukul 8 pagi, jalanan masih adem ayem. Beda banget sama Surabaya yang padat dan penuh polusi.

Berkendara sekitar 30 menit, kami sampai di Telaga Sarangan, Plaosan. Tidak ada tiket masuk di sini. Layaknya daerah wisata lain yang saya jumpai, Telaga Sarangan menerapkan asas warga asli Magetan monggo masuk gratis. Kira-kira begitu. Sebabnya, Mas Andian dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--asli Magetan. Jadi, langsung menerobos pintu masuk, hehe.

Awal parkir di telaga yang berada di kaki Gunung Lawu hal yang saya takjubkan adalah; ini tempat wisata apa? Kok susunan daerah wisatanya berantakan? Maklum saja, sekilas saya melihat, mobil dan sepeda motor ada dimana-mana, nggak ada aturan. Tata wisatanya jelek. Serius. Bukan saya menghina atau apa, tapi saya sebagai wisatawan domestik kaget begitu melihat pertokoan ada di tengah jalan dengan ketumpah-ruahannya.  How come?


Semrawutnya tatanan wisata Telaga Sarangan

Lupakan kesemrawutan di depan. Kami menjejakkan kaki tepat di bibir telaga. Melihat-lihat pengunjung lain tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Menawar dagangan, naik kuda, menawar speed boat, makan Tepo Sate Kelinci. Ramai. Mbak Eka mengajak kami naik speed boat seharga 50 ribu rupiah sekali putaran telaga perkapal. Saya menolak karena enggak minat. Tapi akhirnya luluh dengan wajah iba Mbak Eka yang serius sekali menawarkan naik speed boat gratis *muka gratisan*



Bisa naik boat atau pun kereta kayuh

Awalnya, saya ingin sekali ke Air Terjun Tirtosari. Tapi, melihat saya dikejar waktu dan kondisi teman-teman kelelahan, maka ditunda. Agenda berikutnya hanya duduk manis di tepi telaga. Ada buanyak sekali penjaja minuman hangat mengitari telaga seluas 30 hektar lengkap dengan gelaran tikar dan angin semilir. Minuman dan jajanan hangat siap disantap dengan harga standar. Bagi yang tidak ingin lelah, sampai di Sarangan bisa banget hanya duduk di tepi telaga sambil memakan bekal dan sharing. Suasananya tenang dan tentram membuat saya lupa akan penatnya Surabaya. Saya senang di sini. Di sepanjang mata memandang, hamparan pepohonan hijau mengelilingi. Tenaaang. Tertarik buat ke Telaga Sarangan?

Bisa naik kuda juga, 40.000 rupiah sekali putaran 

Tatanan penginapan di lekuk pegunungan 

Telaga Sarangan bisa ditempuh dari Surabaya menggunakan bis ekonomi jurusan Jogja turun di Terminal Maospati. Dari Maospati bisa naik ojek atau sewa motor ke Sarangan. Karena sepanjang pengamatan saya, nggak ada angkot menuju Sarangan. Nggak usah bawa uang saku banyak-banyak, di sana harga apa-apa murah. Jadi, kapan dong kalian ke Magetan?

Sunday, November 30, 2014

Akhirnya Masuk Koran-Jawa Pos, 27 November 2014

Kamis pagi lalu, saat saya sedang sibuk berkemas untuk kuliah dan kerja pagi, ibu saya teriak-teriak kegirangan dari ruang tamu. Saya yang sedang sibuk mengecek perlengkapan tempur pun abai. Mendengar teriakan ibu sambil lalu. Namun, begitu ibu berkali-kali memanggil, saya pun beranjak dari kamar, turun menghampiri. 

"Kamu masuk koran!"

Eaaa. Kirain ada apa. Saya pun bertanya, "Gara-gara apa?"

"Setahun lalu, ke Dieng sendirian."

Owalaaah. Saya langsung ngakak. Ya, memang sih, itu cerita yang saya tulis dan kirim ke Jawa Pos. Solo backpacking ke Dieng. Sudah lama. November lalu saat saya sedang luar biasa bete dengan hati. Haha. Iya norak! Nggak nyangka, akhirnya tayang juga tulisannya.

Sebenarnya, saya bukan mengejar merchandise atau apapun dari artikel perjalanan yang saya tulis. Dari awal saya melakukan solo backpacking, niat saya hanya satu; ayah tahu kalau anak gadis pertamanya ini sedang belajar mandiri. Jujur saja, sampai sebesar ini, ayah saya masih jarang ngebolehin saya kemana-mana. Alasannya, sayang anak perempuan. Tetapi, niat saya terkabul. Dengan terbitnya tulisan solo backpacking itu, hati ayah saya lumayan terbuka. Positifnya, saya dibolehin jalan kemana-mana karena beliau mulai percaya saya bisa menjaga diri. Alhamdulillaaah. 
Yah, semoga Allah selalu menjaga di setiap langkah saya berayun. Amiin.

Sunday, November 23, 2014

Rujak Selingkuh, Kuliner Khas Sumenep

Apa yang kalian pikirkan tentang selingkuh? Mendua atau nggak setia? Hmmm, kalau saya, sih, mikirnya begitu. Tapi, tahukah kalian kalau selingkuh bukan hanya dialami oleh manusia dan hewan--secara hewan nggak berakal, nggak ada hukumnya, selingkuh sama anak pun nggak dosa--? Di Sumenep, perselingkuhan dialami oleh makanan.

Awal November lalu, saya mampir ke Sumenep untuk main-main. Salah satu hal yang wajib dilakukan saat jalan-jalan adalah mencicipi kuliner khasnya. Saya pun mencicipi kuliner yang bikin penasaran. Namanya, Rujak Selingkuh.

Usai jalan-jalan, Minggu siang itu, tour guide kami mengantarkan untuk mencicipi makanan khas Sumenep di daerah Pejagalan, dekat alun-alun. Saya nggak tahu persis nama jalannya, karena memang dari awal perjalanan sampai akhir, saya susah mengingat nama-nama dan lajur jalannya. Katanya Ari--teman baru yang menjadi tour guide--tempat makan yang menjorok ke dalam gang itu legendaris. Kami--tepatnya saya--sih, manut saja. Keburu lapar.

Ada tiga menu makanan yang ditawarkan; Rujak, Soto Babat, dan Rujak Selingkuh. Awal membaca menu, saya langsung tertarik dan memesannya.

Rujak Selingkuh adalah makanan serupa Soto Rujak dari Banyuwangi. Yakni, percampuran antara rujak dan soto dalam satu wadah. Isinya, separuh porsi Soto Babat dan separuh porsi Rujak Sumenep. Babat sapi, bumbu rujak petis, irisan buah, tauge, tahu, tempe, lontong, dan satu tambahan bahan unik; irisan singkong rebus!

Jadi, Sumenep ini memang dikenal dengan produksi singkong. Nggak heran, oleh-oleh paling banyak dicari dari Sumenep adalah keripik singkong!

Jangan tanya rasa perselingkuhan rujak dan soto. Sebab, sampai akhir, indra pengecap saya sulit membedakan rasanya. Mana rasa rujak, mana rasa soto. Mungkin, karena saat itu saya agak flu, jadi rasanya pun nggak kentara di lidah. Yang paling saya ingat, perselingkuhan rujak dan soto memberikan rasa manis berlebihan di lidah dan pedas--mending sambal, karena saya nggak suka makanan manis, tentunya--juga efek kenyang luar biasa. Seporsi Rujak Selingkuh hanya dihargai 11.000 rupiah, sama persis dengan harga Soto Babat. Murah? Standarlah ya. Di Surabaya harga makanan seporsi juga segitu. Jadi, kalau ke Sumenep, bisa banget incip-incip Rujak Selingkuhnya. Lalu, ceritakan pada saya bagaimana rasa aslinya, hehe.

Btw, lepas makan siang itu sampai sekarang saya penasaran dengan satu hal; jadi, awal mula perselingkuhan di muka bumi ini diawali oleh rujak atau manusia? Rujak menginspirasi manusia untuk berselingkuh atau manusia menginspirasi rujak untuk mendua? Ini permasalahan serius.

Sunday, November 16, 2014

Tepo Tahu, Kuliner Khas Magetan

Mampir ke kabupaten kecil di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, Magetan, tidak ada salahnya jika mencicip kuliner khasnya. Namanya Tepo Tahu.

September lalu, saat berkunjung ke sana, jajanan khas ini mampu membuat saya penasaran. Dari namanya, pastilah tidak jauh-jauh dari makanan olahan kedelai, tahu. Tapi, nama 'tepo' justru membuat saya bertanya, apa itu tepo?

Ternyata, tepo adalah lontong! Iya lontong! Beras yang dimasak dalam daun pisang, dibentuk prisma--bukan lonjong seperti lontong atau belah ketupat seperti kupat--dan dikukus selama berjam-jam. Jadi, Tepo Tahu adalah lontong tahu atau tahu lontong *dibolak-balik sama ajeu:))*

Tepo Tahu ini biasanya dijajankan pada malam hari, katanya sih begitu. Padahal di warung yang saya datangi, buka mulai pukul 9-21. Jajanan ini mulai langka. Isi dan bumbunya tidak jauh berbeda dengan Kupat Tahu, Tahu Tek, Tahu Telor, Tahu Gimbal, dan makanan olahan tahu lontong lainnya. Hanya, yang membuat berbeda adalah bumbu dan topingnya. Bumbunya terbuat dari kacang tanpa petis--fermentasi udang, ikan, atau yang lain--seperti khas Surabaya. Jadi, bumbunya terasa segar. Bumbunya juga baru dibuat perporsi seperti makanan olahan kebanyakan. Jika memesan bumbu pedas, cabai dihaluskan bersama bumbu kacang plus air. Sementara kacang utuh, tauge, dan daun seledri menjadi toping. Tepo disuguhkan dengan potongan-potongan kecil, telur orak-arik yang dicampur dengan potongan tahu dan tempe, lalu disiram bumbu, diberi bawang goreng, kacang goreng, tauge, daun seledri, dan terakhir kecap manis. Nyam! Rasanya manis--mirip kuliner Jawa Tengah yang rasanya manis--bercampur pedas *iyalah pesennya pedas banget:))*

Gegara penasaran dengan namanya, saya yang semula berniat tidak makan malam, jadi mencicip jajanan ini. No more diet for today. Hahaha!

Btw, harga perporsinya murah. Tidak sampai 10.000 rupiah. Letak warung Tepo Tahu yang legendaris ada di depan Pegadaian Jalan Pahlawan, Tepo Tahu Mbah Sudir. Jadi, jangan lupa mencicip Tepo Tahu kalau mampir ke Magetan. Dijamin nagih!

Saturday, November 8, 2014

Medio Rasa

Sibuk nggak? Atau masih capek?

Aku mengeja pesan instan yang masuk ke ponsel di tengah rapat. Rapat sore ini terbilang menjemukan. Bertemu klien dari media dan perusahaan tempatku bekerja mengkalkulasi keuntungan yang disampaikan. Bosan. Marketing media cetak itu ngotot menghitung keuntungan besar yang akan perusahaan kami dapat jika deal dengan penawaran kerja sama yang diajukan.

Ck. Dia lagi. Ada apalagi?

Aku mengeluh dalam hati. Tanganku menggenggam ponsel. Berhitung. Sementara bibirku merapal mantra sakti menenangkan hati.

Bisa bertemu?

Pesan berikutnya sampai tanpa sempat kubalas terlebih dahulu. Semakin membuat hatiku tak tenang. Pikiranku menerawang cuplikan-cuplikan kejadian masa lalu dengan laki-laki yang namanya seharusnya tak lagi ada dalam kehidupanku. Sudah cukup menyakitkan mengingat masa itu. Tetapi, untuk apa dia datang lagi? Masih kurang menyakitkankah sikapnya melukai hatiku?

Ada apa?

Pelan aku mengetik pesan balasan. Lalu kuhapus. Ada jengah menyusup hati. Masa lalu itu membayang-bayang. Sementara genggaman tangan pada ponsel semakin erat, ragu, pandangan mataku berputar, melihat satu-persatu peserta rapat. Nyaris klir. Terserah. Untuk saat ini aku benar-benar buntu ide. Menyumbangkan suara pun malas. Bagaimanapun keputusan akhir dari penawaran kerja sama ini, aku angkat tangan. Benar-benar penat.

Jemariku menari di layar ponsel. Menyusun satu persatu kata.

Ada apalagi? Waktuku terbatas.

Sengaja. Kalau tidak begitu aku yakin urusan hati ini akan semakin runyam. Serunyam satu-dua tahun lalu menghapus namanya dari ingatanku.

Aku menghela napas, lelah. Pesanku terbaca.
***

"Ibu," dia membuka kalimatnya.

Sial. Aku paling benci dengan skenario kali ini. Apalagi ada satu nama yang hampir selalu membuat jantungku berdetak disebut. Bagus. Dia cerdas memakai nama itu.

Aku menggumam dalam hati. Membisikkan kalimat penenang agar tak tampak risau. Padahal jangan ditanya. Bukan hanya hati, pikiranku nyaris lumpuh.

Laki-laki itu menatapku serius. Aku masih terdiam menenangkan.

"Ibu sakit."

Ide bagus! Begitu saja lebih baik. Teruskan saja kalimat persuasif itu. Buat aku terus merasa bersalah dengan posisiku saat ini. Posisi yang sejujurnya memang tidak pernah dikehendaki.

"Ibu..." aku mencecap kata. "Ada apa?"
***

Ini betul-betul di luar dugaanku. Setelah sekian lama dia menghilang, sore ini dia datang lagi. Mengajak bertemu dan memberi kabar tak masuk akal. Aku muak, sejujurnya. Muak sejadi-jadinya. Membayangkan sikap acuhnya yang setiap saat ditunjukkan. Tetapi kembali asuh saat membutuhkan. Tanpa pernah peduli dengan kabar hatiku. Memang, aku butuh kepastian laijnya wanita lain. Wajar jika aku marah begitu dia hanya mendekati kala butuh. Katakan, wanita mana yang senang dengan perilaku lelaki demikian? Nyaris tidak pernah ada.

"Kenapa kamu selalu berpikir rekayasa?"

Lorong rumah sakit malam ini lengang. Beberapa lampunya mati. Hanya ketukan sepatu saling beradu terdengar. Tidak ada perawat menjaga di setiap blok kelas. Tumben.

"Kenapa aku harus berpikir serius?" Aku membantah. Berharap tak masuk perangkapnya lagi.

"Kenapa tidak?"

Aku tersenyum sinis. "Kenapa harus?"

Hening. Secepatnya kami terdiam. Saling mencerna kalimat perkalimat.

"Kali ini aku serius, Dilla."

Kudengar kami saling mendekap jantung. Merasakan deru napas beradu. Sementara waktu membawa kami bertautan menghantarkan impuls ke dalam sel syaraf. Menyadari hal yang tak seharusnya dielak.

"Ibu butuh kita."

Saturday, October 25, 2014

Setangkup Cemburu

Salah satu sudut kamar tidur dini hari itu cukup kacau. Seorang wanita sedang mencari selembar kertas yang menurutnya sudah disiapkan di malam sebelumnya. Dari satu laci ke laci lain. Lemari satu ke lemari lain. Tas jinjing, tas punggung, tas selempang, dompet. Nihil. Wanita itu mengaduh keras sementara jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

Dini hari itu, bukan dini hari pertama bagi Dita untuk bangun dan sibuk dengan kegiatan. Sebabnya, setiap dini hari sebelumnya, dia hampir selalu bangun dan gedubrakan. Entah mengerjakan tugas kuliah atau sekadar belajar untuk materi presentasi. Ya, kehidupan Dita berubah sejak dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Tepatnya, bekerja sambil kuliah. Itulah alasan kenapa dia ngotot sekali untuk liburan ke Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan mengaturnya tiga bulan sebelumnya. Dia terlampau stres dengan segudang tugas kuliah dan pekerjaan yang sama nggak manusiawi. Sama. Persis.

"Aduh, dimana tiketnya?" Dita menggosok rambutnya yang masih setengah basah. Bete akut. Tiket pesawat Jakarta-Tanjung Pandan hilang. Hilang? Kok bisa?

Dita membuka-buka kembali backpack siap perginya. Dibuka, ditata ulang, ditutup. Dibuka lagi, sambil misuh-misuh stres, ditutup lagi. Nihil. Tiketnya enggak ada.

Aku udah otw. Kamu siap-siap ya. Di depan gang.

Dita mendengus. Masa iya dia harus jujur sama Jaka kalau tiketnya hilang? Nggak mungkin. Pasti didamprat. Atau minimal dibentak, diceramahin panjang lebar, lalu nggak disapa seminggu. Hiiih...

Tiket aku hilang tauuu. Kok kamu udah jemput aja.

Dita membalas sambil kalut. Akhirnya jujur juga.
***

"Bodoh! Apa fungsinya coba semua penerbangan aku yang urus, hah? Ya antisipasi kejadian kayak gini. Kayak kamu lagi ngacak-ngacak backpack, misuh-misuh pagi," suara Jaka tertahan. Kesal. Berkali-kali dia mengingatkan Dita agar tidak ceroboh. Enggak tahunya kejadian juga. Di waktu genting pula.

Wanita di sebelahnya hanya manyun. Mulutnya mengerucut. "Ck! Berisik, Jak! Kenapa kamu enggak maklum aja, sih? Tahu aku pelupa masih aja diceramahin. Ini masih jam tiga pagi, tau." Dita membuang muka ke luar jendela. Masih pagi. Jalanan Surabaya masih lengang. Sepi. Sekali dua saja taksi mereka bersapa dan bersisian dengan pengendara motor membawa sayur mayur. Pedagang di pasar, pasti.

"Jam empat. Kamu pikir dari kamu cari tiket sampai sekarang, jamnya enggak jalan?"

Yaelah. Jaka belum puas berdebat. Dita tahu kok, dia salah. Tapi, kan, nggak begitu juga nyalahin orang. Masa iya sepanjang perjalanan yang dibahas tiket hilang. Kenapa nggak bahas rencana perjalanan di Belitung coba?

Ya, itulah hebatnya Jaka. Berani berdebat panjang dan enggak penting sama Dita. Padahal seumur-umur, justru Dita yang biasa dan dikenal lebih nggak penting kalau ngajak berdebat. Ternyata Jaka lebih. Lebih nggak penting.

Tapi Dita sayang. Sayang banget.

Halah, kalau bahas sayang memang susah. Jadi apa-apa keliatan benar.

"Teman-teman udah sampai mana, Jak?" Dita bertanya, mengalihkan.

Perjalanan Surabaya-Jakarta-Tanjung Pandan kali ini mereka tidak hanya berdua. Ada Rani, Yuda, Adit, dan Chika. Keempatnya saling kenal nggak sengaja. Rani teman Jaka. Yuda teman Dita. Adit teman Yuda. Chika teman Rani. Ya begitu. Saling kenalan. Mereka juga nggak berangkat bareng. Meeting pointnya di Cengkareng. Rani dan Yuda berangkat dari Jogjakarta. Sementara Adit dari Bandung dan Chika dari Bogor.

"Empat hari tiga malam. Nggak sabar ya, Jak? Ntar aku mau diving. Nggak snorkling lagi." Dita tertawa. Nggak menunggu jawaban Jaka. Terus saja berceloteh.

"Diving, Jak! Keren, ya?" ulangnya.

Pantas Dita tertawa. Seminggu lalu dia sengaja ikut kelas diving komunitas diving Surabaya. Biayanya 125.000 selama tujuh jam di kolam renang salah satu hotel bintang empat di Kota Pahlawan. Bayangkan, tujuh jam belajar diving dalam sehari demi bisa tahu keindahan bawah laut Belitung. Apa coba kalau bukan niat?

"Iya. Niat. Banget. Dibelain. Keren." Jaka, dengan wajah innocent hanya menjawab singkat. Lalu wajahnya dibuang ke luar jendela. Mengulum senyum.

"Kalau enggak ikhlas gitu aku jadi nggak bangga, deh." Dita mencubit pinggang Jaka. Gemas. Laki-laki di sebelahnya tertawa kesakitan.

Dasar perasaan. Bisa banget bikin orang kegirangan.
***

Maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia sudah siap. Penumpang tujuan H.A.S Hanandjoeddin satu persatu mulai naik. Ini pengalaman pertama Dita naik maskapai yang katanya paling oke di Indonesia. Kembang kempis hidungnya merasakan sensasinya. Secara, maskapai penerbangan paling keren dan dikenal mahal. Yah, meskipun dia dan teman-temannya ada di kelas ekonomi. Yang penting judulnya: naik maskapai penerbangan paling bergengsi. Gimana nggak keren? Kerenlah.

Wanita-wanita cantik berjejer menyambut penumpang. Sementara Dita dan Jaka masih terlibat percakapan seru yang membuatnya abai dengan sekitar. Sesekali tangannya bergandengan mirip pengantin baru. Ceileh, padahal pacar juga bukan. Baru gebetan.

Satu, dua, tiga, sampai anak tangga terakhir keduanya masih asyik bercakap. Nggak ada peka-pekanya dengan sekitar. Sampai yang menyapa bukan lagi wanita berparas cantik. Tapi lelaki berwajah tampan. Tampan sekali. Saking tampannya, sampai membuat Dita seketika melepas genggaman tangan Jaka.

"Hei, kamu?"

Namanya Althaf. Dia mantan terakhir Dita. Tiga tahun mereka berpacaran sampai memutuskan untuk menikah. Sayang, masih nyaris. Althaf terlalu sibuk dengan keluarganya. Dengan ibunya, khususnya. Mimpi-mimpi ibunya untuk menjodohkan dia dengan teman masa kecilnya. Sounds weird. Itu kenangan paling gila dan menyakitkan bagi Dita. Ya, gimana nggak? Mereka nyaris menikah. Sudah saling berjanji sehidup-semati harus berpisah hanya karena... perjodohan. Siti Nurhaliza aja enggak begitu.

Waktu itu Dita hampir gila rasanya. Pekerjaannya terlantar. Dia jarang makan, cuma merenung. Dia jarang bergaul, cuma menangis. Lalu sekarang dia bertemu lagi dengannya. Dengan lelaki itu. Lelaki yang di jemari manis tangan kirinya sudah melingkar cincin keperakan.

Althaf nggak bisa menyembunyikan raut terkejut di wajahnya. Antara kaget juga senang. "Andita..." tangannya terjulur berniat bersalaman.

Di depannya, Dita susah payah tersenyum. Lalu membawa jemari Jaka kembali di genggamannya. Meremasnya. "Ini Jaka, Al. The next you."
***

Siapapun nggak akan pernah mengira kejadian berapa jam, menit, bahkan detik berikutnya. Dengan siapa bertemu, apa yang terjadi, dan ada pengaruh apa di baliknya. Siapapun nggak akan tahu. Termasuk Dita.

Dia nggak akan tahu, ada dua hati memanas karenanya. Satu dari masa lalu. Satu dari masanya kini.

Dita nggak tahu, bagaimana Jaka menjaga hati untuknya. Dita nggak tahu, bagaimana Althaf setengah mati menahan rindu terpendam dan diluapkan hampa karena statusnya telah berganti. Lalu saat rindu itu ingin diucapkan, ada sosok lain di depannya. Lelaki lain di dekat kekasih tiga tahunnya. Penggantinya. Dita nggak tahu, jika sikapnya membuat keduanya saling menahan amuk cemburu. Dita nggak akan pernah tahu, jika caranya melukai keduanya. Dita nggak akan pernah mau tahu itu. Karena menurutnya, yang terpenting saat itu adalah bagaimana menyembuhkan hati yang pernah pecah kembali utuh. Tanpa memedulikan siapa Jaka. Tanpa pernah peduli dengan rekayasa buatannya.

Dita nggak peduli dengan setangkup rasa cemburu bukan lagi memanas, tapi perlahan membeku. Di sana, di sudut hati lelaki bernama Jaka.

Tuesday, October 7, 2014

Merayakan HUT TNI ke-69 di KRI Banda Aceh 593


Jalasveva Jayamahe: Di laut kita jaya!

Kalian pernah naik kapal? Pasti hampir di antara kalian sudah pernah naik kapal. Entah kapal fery, kapal kecil di sekitar pantai, atau kapal dalam bentuk perahu kayuh, bahkan dayung semacam rafting. Lalu, bagaimana dengan kapal perang, sudah pernah? Menyaksikan langsung atraksi Tentara Nasional Indonesia di laut dan udara, sudah pernah mencobanya?

Kemarin, saya mendapat kesempatan tidak biasa. Sederhana, hanya meliput kegiatan siswa SMA selama dua hari satu malam. Namun, yang membuatnya luar biasa adalah saya harus menginap di kapal perang Indonesia. Saya belum pernah mencobanya dan saya tahu pasti, this is the part of my lucky and fun life!

Namanya, KRI Banda Aceh 593. Kapal perang pertama buatan anak negeri ini tergolong lampu lima. Artinya, kapal perang yang juga mengangkut tank. Tiga bulan lalu, KRI Banda Aceh 593 berhasil menyusuri Merauke menuju Samudera Hindia sampai ke Hawaii untuk latihan militer. Kata salah satu awak, jika membayangkan latihan TNI-AL sulit, lihat saja film Battleship


Full AC: Lorong dan barak tentara yang nyaman tapi sempit

Bagi saya, melaut menggunakan seluruh perlengkapan tentara perang itu lucu dan seru. Mulai mencoba kamar tidur satu orang yang sempit dan bertingkat, ruangan penuh AC, fasilitas makan terbatas dan bikin cegukan, kamar mandi dengan air tawar yang hanya ada di jam tertentu, dan lorong-lorong yang bikin penderita disorientasi arah makin kacau macam saya:)). Ditambah jika angin sedang kencang, tidak ada cemilan, dan terombang-ambing ombak. Seru! Seru-seru gimana gitu:)). 

Komandan Arief Budiman, Pimpinan KRI Banda Aceh 593 sedang memantau lalu lintas laut

Awak kapal di ruang kemudi konsentrasi penuh

Tempat parkir tank yang digunakan untuk kapal kecil

Memasuki wilayah kapal perang, sudah pasti akan dipenuhi dengan bangunan berbahan baja kokoh. Sederhananya, mirip Kapal Selam di Monkasel. Penuh lorong baja, jalanan melingkar, sempit, dan penuh disiplin. Apalagi saat memasuki wilayah kemudi kapal. Wah, jangan harap bisa ngobrol sesuka hati. Di ruang kemudi, akan ada banyak awak yang bicara saling bersahut-sahutan. Masing-masing membawa handie talkie mengabarkan posisi kapal lain yang melintas di sekitarnya. Selain itu, arah mata angin dan kecepatan angin juga selalu diupdate setiap detik. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti tabrakan kapal. Kalau tidak sedang membawa handie talkie, awak biasanya mendapat bagian melihat posisi kapal lain lewat periskop. Satu kata yang pas menggambarkan suasana di ruang kemudi: rame!

Pagi di Selat Madura

Apel pagi masih bisa cengengesan :p

Ratusan siswa yang menyambut Presiden SBY dari atas kapal

Pagi hari di tengah Selat Madura, siapapun bisa melihat terbentuknya matahari secara perlahan. Mulai dari semburat tipis, sedikit tampak, hingga membulat cantik. Semangat pagi juga ditunjukkan para TNI-AL wanita saat apel. Ternyata apel pagi tentara itu disiplin. Tapi tidak kaku. Buktinya, mereka masih bisa senyum-senyum:p. Sementara pagi hari dimanfaatkan ratusan siswa terpilih dari Jawa Timur untuk menyusun barisan menjelang waktu penyambutan Presiden SBY. 


Terbang rendah! Antara kaget dan takjub!

KRI Usman Harun 357 melintasi Terminal Teluk Lamong

Jika atraksi penerjun payung berada jauh dan tidak bisa saya potret. Maka atraksi gabungan pasukan TNI-AU dan TNI-AL membuat saya antara kaget, senang, dan takjub. Puluhan kapal perang dan helikopter lalat serta pesawat jenis Sukhoi meluncur bebas di depan saya. Tidak tinggi. Bahkan ada yang berada di depan kapal yang saya tumpangi persis. Rendah dan mengagetkan. Sementara atraksi TNI-AL lebih banyak parade kapal perang. Salah satunya hadirnya KRI Usman Harun 357 yang sempat menjadi kontroversi beberapa waktu lalu. Senang? Jelas saja, Tidak banyak orang memiliki kesempatan langka seperti ini. Perayaan HUT TNI ke-69 ini disebut sangat spesial dan akbar. Tentunya bukan karena Presiden SBY akan lengser. Tapi karena ini merupakan kali kedua perayaan HUT TNI dirayakan di Surabaya dan dilakukan dengan atraksi laut. Sebelumnya, perayaan serupa pernah digelar di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Wah, saya jadi bersyukur punya pengalaman langka seperti ini. Semoga dengan semakin bertambahnya usia Tentara Nasional Indonesia bisa membuat Indonesia semakin dikenal sebagai negara tangguh dengan alutsista mumpuni. Jaya negeriku, jaya tentaraku. Bersama rakyat, TNI kuat! 

KRI Banda Aceh

Monday, October 6, 2014

Suroboyo Carnival: Teman atau Lawan THR?

Suroboyo Carnival Night Market

Galeri foto Surabaya

Khas Suroboyo, Cuk! :p

Berkunjung ke Surabaya, umumnya wisatawan menginginkan wisata sejarah. Wajar, sebab lokasi kota tua di Surabaya cukup merata. Hampir di seluruh bagian Kota Pahlawan mengandung unsur sejarah. Itulah sebab, wisata kota berlambang ikan sura dan buaya ini didominasi oleh museum. Mulai museum kemaritiman, museum sejarah kemerdekaan, museum kesehatan, hingga museum seni. Serbamuseum.

Namun, Surabaya bukan hanya soal wisata sejarah dan museum. Ada wisata pantai, kuliner, religi, dan keluarga. Salah satu wisata keluarga terbaru adalah hadirnya Suroboyo Carnival Night Market (SCNM) yang ada di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo.

Akhir Juli lalu, SCNM resmi dibuka. Konsepnya mirip pasar malam. Ada 40 wahana permainan dan pasar yang menjual beragam barang. Mulai dari kuliner khas Surabaya, fast food, jajanan ringan, dan pernak-pernik dijual. SCNM merupakan bagian dari Jatim Park Grup yang menaungi Jawa Timur Park 1 dan 2, Batu Night Spectacular, Museum Angkut, Batu Secreet Zoo, dan Wisata Bahari Lamongan.


Ferris wheel dan kereta gantung

Pengunjung bisa menyewa e-bike jika capek berjalan

Masuk ke SCNM pengunjung hanya dikenakan biaya 20.000 (Senin-Kamis)-25.000 (Jumat-Minggu). Murah? Standar. Sebab, tiket yang dibanderol tidak termasuk tiket permainan. Persis dengan Batu Night Spectacular. Untuk harga tiket perwahana dipatok mulai 10.000-30.000 rupiah.  

Memasuki SCNM, pengunjung akan disuguhi aneka wahana permainan. Seperti Go Kart, Tambang Emas, Carousel, Ferris Wheel, dan masih banyak lagi. Di SCNM pengunjung juga bisa menikmati Taman Lampion untuk sekadar mengambil foto dengan tiket masuk sebesar 15.000 rupiah.

Untuk mencapai SCNM tidak ada angkutan khusus yang berhenti tepat di depannya. Sebab, lokasinya berada di jalan tol menuju Bandara Internasional Juanda. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan kota yang turun di depan Korem dilanjutkan dengan jalan kaki. Jika ingin pulang, management menyediakan shuttle bus yang akan membawa pengunjung ke tempat pemberhentian angkot.



Kerlap-kerlip banyak lampu hias

Tetapi, bicara SCNM berarti menyoal tentang keberadaan TamanHiburan Remaja (THR). Wahana permainan serupa yang ada sejak puluhan tahun lalu. Memang, keberadaan SCNM akan menambah pemasukan Surabaya secara drastis. Namun, apa kabar THR kini?

Saya pikir, sudah saatnya THR berbenah jika tidak ingin pengunjungnya beralih. Bukan sekadar mengubah cat, tapi juga bentuk. Sebab, terakhir kali saya mampir, seluruh wahananya tetap sama persis dengan zaman kanak-kanak. Saya berani menjamin, THR memiliki tempat di masing-masing warga Surabaya. Banyak memori yang ada di dalamnya. Bukan sekadar Srimulat pernah mengepak sayap di sana. Tapi juga tentang sejarah seni Surabaya hampir selalu diasah di tempat yang sama. Kenangan itu soal masa lalu. Tapi THR sudah sebaiknya menjaga kenangan warga kotanya agar tetap dicintai.

Jadi, kehadiran Suroboyo Carnival Night Market bisa menjadi teman sekaligus lawan bagi Taman Hiburan Remaja. Namun, keduanya tetap menghibur bagi warga Surabaya maupun luar kota!


Wahana permainan tidak jauh berbeda dengan di BNS