Tuesday, January 14, 2014

Pesisir Jogja yang Memukau

Gunungkidul, Jogjakarta dikenal sebagai wilayah pesisir dengan sejuta pesona yang tidak akan pernah ada habisnya. Puluhan pantai berjajar apik dengan karakteristik berbeda-beda, meski berada pada satu garis pantai yang sama, yakni Selatan. Seperti laiknya pantai Selatan, keindahan pantai di Gunungkidul tidak ada duanya. Nah, November lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi jejeran pantai di Gunungkidul. Berbekal seadanya, saya mengajak Andita, teman kuliah yang kini melanjutkan kuliah di Jogja, untuk turut serta dalam perjalanan kali ini. Saya sengaja menginap di kosan Andita untuk menghemat bujet. Selanjutnya, kami menyewa sepeda motor yang perharinya dipatok sebesar 45.000 rupiah.

Jarak Gunungkidul dari daerah Pascasarjana UGM sekitar dua jam ditempuh dengan motor. Sepanjang perjalanan menuju Gunungkidul, sejauh mata memandang, pemandangan hijau di kanan kiri jalan sangat memukau. Hawa dingin menyergap begitu motor melaju di Wonosari. Ditambah dengan angin segar membuat lupa keadaan kota Surabaya. Betul, travelling memang candu yang melenakan.

Untuk memasuki kawasan pantai Gunungkidul, pengunjung diharuskan membayar retribusi sebesar 8.000 rupiah, selebihnya bayar parkir saja. Saking banyaknya pantai bertebaran di Gunungkidul, kami pun mengunjungi deretan pantai yang ada mulai deretan termudah, Pantai Baron.

Dulu, saat saya masih duduk di kelas dua SD, saya pernah berkunjung ke Pantai Baron. Saya masih ingat betul bagaimana sosok pantai ini. Kesan saya kala itu hanya satu: kotor. Kesan itu begitu kuat karena ketika saya kembali berkunjung, kesan yang sama masih melekat. Mungkin, karena Pantai Baron memiliki pasir hitam dan banyak perahu nelayan bersandar menjadi identik sebagai pantai ikan. Di mana-mana perahu, jala ikan, dan nelayan. Pantai Baron kurang apik dipakai untuk berfoto-foto.

Pantai Kukup menjadi tujuan kami selanjutnya. Masih sama dengan saat saya pernah berkunjung, Pantai Kukup masih memesona. Berpasir putih dan memiliki gardu untuk melihat pemandangan lepas pantai yang memukau. Birunya langit dan laut beradu padu bercampur putihnya buih laut dan gumpalan awan. Indah. Kawasan Pantai Kukup juga asri dengan pepohonan di tepian pantai. Kami betah berlama-lama di sini.

Deretan pantai selanjutnya adalah Pantai Sepanjang. Sesuai namanya, pantai ini berbentuk memanjang dan paling panjang dari seluruh pantai yang kami kunjungi. Bentuk pantai ini hanya lurus memanjang. Berhubung kami ke sana bukan hari libur, pemandangan lepas pantai yang melompong pun didapat. Saking panjang dan sepi kondisi pantai, kami bahkan tidak tahu di mana letak tempat parkir. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk berhenti sekenanya yang justru membuat kami menjadi satu-satunya penghuni pantai. Yes, tempat kami berhenti tepat di lokasi yang sepi. Panasnya cuaca siang itu tidak menjadi halangan karena pemandangan yang kami dapatkan sangat indah. Bebatuan hitam, pasir putih, deburan ombak yang tenang, serta suasana pantai yang kosong membuat kami terbuai. Foto selfie pun banyak didapat di sini. Sepanjang, it's not a hidden paradise, but private. Seriuuus! Hanya di Sepanjang ombaknya bisa diajak bermain-main. Kami sama-sama suka tempat ini.

Puas bermain air di Pantai Sepanjang, kami bergeser ke arah Pantai Drini. Kabarnya, pantai ini sangat indah dan memang betul indah. Karakteristik deburan ombak yang galak masih membayang. Tapi, hamparan pasir putihnya sangat bersahabat. Saya bahkan bergulung-gulung di empuknya pasir saking nyamannya. Selain Pantai Sepanjang, Pantai Drini adalah pantai yang paling memukau bagi kami. Indah luar biasa. Yang saya suka, Pantai Drini teduh dan menentramkan. Meski perahu nelayan juga berjejer, kesan kotor dan kumuh jauh dari lokasi ini. Kontras dengan Pantai Baron. Saat di Pantai Drini, kami mulai memrediksi bahwa hujan akan segera datang dilihat dari tekstur dan warna langit yang perlahan mulai abu. Namun, bagi saya, paduan mendung yang hangat dengan air laut membiru pekat menjadi pemandangan yang luar biasa eksotis. Ah, di sini, kami juga menemukan kepiting terdampar yang akhirnya menjadi masalah di kosan Andita :))).

Well, kami berangkat telat dari Jogja, sehingga tak banyak pantai yang kami kunjungi. Terlebih Andita juga harus melaksanakan tugas sebagai mahasiswa sekaligus cuaca yang pada akhirnya kurang bersahabat membuat kami berpacu dengan waktu. Hujan mengguyur deras selepas kami berlalu dari Pantai Drini. Ah, iya, saat di Pantai Drini, kami bertemu dengan kru FTV--sepertinya-- yang tengah syuting, fyi aja, sih :p. Yang terpenting, jangan lupa, trip di musim hujan sudah seharusnya membawa bekal jas hujan untuk keselamatan pribadi. Jadi, tertarik untuk melahap puluhan pantai yang ada di Gunungkidul, Jogja? Pastikan cuaca cerah agar tidak kecewa. Selamat bermain air.

Wisata Keluarga di Pantai Tanjung Papuma

Masih dalam serangkaian perjalanan cuti, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Pantai Tanjung Papuma, Jember. Semula, saya pikir, rombongan kantor ayah akan menghabiskan wilayah pesisir Banyuwangi yang terkenal dahsyat ombak dan pemandangannya. Tapi ternyata, tujuan wisata pantai tertulis hanya di Pantai Pasir Putih Situbondo dan Pantai Watu Ulo Jember. Jeng jeng jeng. Saya yang memang ikut rombongan pun hanya bisa komplain dalam hati. Tahu sendiri, kalau kedua pantai tersebut tidak seindah bayangan, hehe. Usut punya usut, ternyata sesampainya di Pantai Watu Ulo, rombongan justru menyiapkan transportasi lain untuk ke Pantai Tanjung Papuma. Yay!
Jarak Pantai Tanjung Papuma dari Pantai Watu Ulo tidak begitu jauh. Berkisar sekitar 1,5 kilometer saja. Namun, medan yang menanjak memaksa bus untuk berhenti di Pantai Watu Ulo. Jika wisatawan ingin ke Pantai Tanjung Papuma, bisa menyewa ojek dengan harga 10.000 rupiah. Pemandangan di sepanjang Watu Ulo dan Tanjung Papuma sangat memukau. Dikelilingi rimbunnya hutan hujan tropis dan akses jalan yang cukup bersahabat meski terdapat lubang di sana-sini menjadikan perjalanan terasa menyenangkan. Percayalah, keindahan pemandangan yang terbentang akan menghapus stres pikiran. Perjalanan menuju Tanjung Papuma mengingatkan saya akan pemandangan serupa di Pantai Selatan Malang, Pantai Prigi Trenggalek, dan Gunungkidul Jogja indah dengan kelokan-kelokan tajam.
Sampai di Pantai Tanjung Papuma, saya dihadapkan pada kenyataan yang juga saya dapatkan di sejumlah pantai lain. Yakni, meski dalam satu garis pantai yang sama, karakteristik pantai satu dengan yang lain berbeda. Jika Pantai Watu Ulo memiliki karakteristik pasir hitam dan terkesan tandus, maka Pantai Tanjung Papuma justru memiliki pasir putih yang bersih dengan air laut yang jernih. Belum lagi dengan rimbunnya pepohonan yang membuat wisatawan betah berlama-lama. Di Pantai Tanjung Papuma, juga terdapat sejumlah penginapan milik Perum Perhutani. Di sana juga terdapat fasilitas outbond dan bagi yang ingin menghabiskan malam dengan mendirikan tenda juga bisa. Di sepanjang pantai juga ada warung yang menyajikan menu makanan khas laut, ikan bakar dan es kelapa muda. Hanya, yang perlu diwaspadai, karena tergolong pantai Selatan dengan ombak yang cukup besar, ada baiknya anak-anak selalu dalam pengawasan orang tuanya.
Selain bisa berendam dan bermain air di tepi pantai, wisatawan juga bisa menyewa perahu dengan harga 15.000 perorang untuk berkeliling di seputar pantai. Atau, jika wisatawan hobi memancing, di tepi pantai juga bisa memancing ikan.  Pemandangan pantai yang bersih juga bisa diabadikan dari setiap spot yang ada. Nggak percaya? Datang aja ke Pantai Tanjung Papuma, Jember. Bebatuan yang menjulang semakin menambah eksotisme pemandangan yang memukau. Selamat berlibur.

Saturday, January 11, 2014

Menikmati Keindahan di Tengah Bahaya Kawah Ijen

Awal tahun 2014 saya dibuka dengan trip ke beberapa tempat yang belum pernah saya singgahi. Letaknya di ujung Timur Jawa Timur, Banyuwangi, salah satunya trip ke Kawah Ijen. Sudah sejak lama saya menunggu trip dengan tujuan Kawah Ijen yang disebut-sebut sangat memesona. Maka, ketika tawaran untuk ikut trip ke Kawah Ijen datang, saya pun langsung rela mengambil cuti dua hari. Kali ini, saya ikut rombongan kantor ayah. Ikut rombongan, berarti harus siap menanggung risiko karena tidak ikut menyusun rencana :p.
Kawah Ijen atau Ijen Crater terletak di perbatasan kota Bondowoso dan Banyuwangi. Letak Kawah Ijen sendiri berada di ketinggian 2.386 dpl. Mulanya, saya pikir rombongan akan menginap di penginapan milik Perhutani yang berada di Pos Paltuding, tiga kilometer dari Kawah Ijen. Tapi ternyata, dugaan saya meleset jauh. Penginapan kami justru berada jauh dari Pos Paltuding. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk menuju Kawasan Wisata Kawah Ijen sekitar 2,5 jam, semacam jarak dari Surabaya-Malang.
Sebelum mengikuti Tour de Ijen, saya sempat browsing tentang Kawah Ijen. Termasuk estimasi waktu yang tepat agar bisa sampai di puncak mendapatkan si Api Biru--yang hanya terlihat sebelum matahari terbit sekitar pukul 2-3an. Tapi, karena saya hanya ikut rombongan--yang berarti ngikut aja--akhirnya, dugaan saya pun benar adanya. Kami baru sampai di Paltuding pukul 02.30 ditambah membagi sarapan dan ke toilet berjamaah, fix kami start treking pukul 03.00. Dengan estimasi treking dua jam untuk tiga kilometer, diprediksi kami sampai pukul 05.00. Artinya, perhitungan waktu panitia meleset. Saya sempat mendengar bahwa jarak penginapan ke Pos Paltuding hanya 30 menit, ternyata fiktif. Yah, tak apa, namanya juga ngikut :)).
Pos Paltuding adalah pos dengan banyak perlengkapan. Mulai dari penginapan backpacker, toilet yang cukup bersih, tempat parkir luas, dan beberapa toko. Seperti didesain betul untuk wana wisata. Dari Pos Paltuding treking menuju Kawah Ijen diperlukan fisik yang kuat, di samping persiapan materiil seperti jaket, masker, kaus kaki, sarung tangan, jas hujan, dan senter. Jangan lupa juga, air mineral dan cemilan sebagai pengurang rasa lapar.
Treking dimulai pukul 3.00. Untuk menuju puncak, jangan khawatir tersesat karena akses jalannya sudah beraspal, minim risiko wisatawan tersesat. Terlebih lagi, di sepanjang perjalanan menuju puncak, pengunjung pasti akan bertemu dengan sejumlah penambang belerang dengan senter di kepala. Tak jarang, mereka menunggu dan menemani rombongan yang tengah beristirahat untuk ngobrol lantaran curamnya trek yang harus dilalui. Para penambang belerang biasa memulai hari pukul 24.00 dan kebanyakan baru mengakhiri pekerjaan pada sore hari pukul 15.00. Tapi, tidak semuanya begitu, karena ada juga yang baru berangkat pukul 3-4an, tergantung kesibukan masing-masing. Untuk menambang belerang, mereka hanya membutuhkan dua buah keranjang dengan sebilah bambu di pundak. Saat pulang, belerang di pundak bisa sampai 50-80 kilogram dengan harga perkilogram belerang sebesar 780 rupiah saja. Kebanyakan, mereka bolak-balik memanggul belerang dari kawah sampai tempat pengumpulan sebanyak dua-tiga kali, tergantung kekuatan fisik. Mereka melakukan pekerjaan seperti itu setiap hari. Tidak ada hari libur, jika ingin tetap makan setiap harinya, kecuali sakit. Para penambang juga akan menyemangati wisatawan yang nyaris putus asa treking menuju puncak. Seperti ayah dan ibuk yang mulai pesimis begitu tahu medan treking yang berat. Sempat balik kucing untuk turun, namun akhirnya dengan susah payah sampai juga ke puncak :)).
Di puncak Kawah Ijen, cuaca kurang bersahabat. Gerimis dan angin kencang menyambut kami--rombongan paling akhir dari rombongan kantor. Kencangnya angin membuat asap belerang tebal menutupi jalanan, gelap gulita dan menyesakkan dada. Saya tidak bisa mendaki sampai ujung point of view teroke karena asapnya begitu tebal menutupi jarak pandang mata, terlebih baunya yang kuat dan gampang membuat pening dan perih mata. Terlalu bahaya. Akhirnya, kami pun hanya berfoto di sisi kawah paling dekat. Untungnya, sebelum angin bertiup sangat kencang, saya sempat memotret hijaunya Kawah Ijen. Memang indah dan memesona, tapi berbahaya.
Puas berfoto, kami segera kembali turun, takut dengan kepungan asap yang nyaris membuat mata saya menangis saking pedihnya. Treking saat hari menuju siang ditambah dengan angin kencang ternyata cukup membantu kami agar bisa jalan lebih cepat. Namun, perlu hati-hati untuk turun tekstur jalanan sedikit berpasir mudah membuat wisatawan terpeleset karena licin.
Sama halnya dengan saat mendaki, saat turun pun wisatawan juga akan bertemu dengan penambang belerang yang memanggul belerang. Mereka akan berhenti di dekat kantin bundar untuk menimbang hasil tambangan, sesekali juga berhenti mengatur napas sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Di kantin bundar, mereka juga menggelar dagangan berupa belerang yang dicetak aneka rupa sebagai suvenir. Harganya relatif murah, tergantung kelihaian menawar.
Perjalanan kembali ke Pos Paltuding berakhir pukul 8.00. Kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju PTPN XII Balawan, gedung berarsitektur Belanda untuk sarapan. Saya mencatat, serunya perjalanan bukan hanya karena tempatnya, tapi perjalanan membuat setiap orang mengasah kepekaan hati. Perjalanan mengajarkan pejalannya untuk bersyukur menikmati hidup. Seperti bagaimana penambang belerang menikmati dan mensyukuri hidup dengan pekerjaan yang setiap saat mengancam nyawanya. Mari bersyukur, Alhamdulillah.

Wednesday, January 1, 2014

Halo, 2014!

Selamat datang di tahun kuda. Selamat berjumpa dengan sejuta harapan dan rencana-rencana baru. Saya yakin, tahun kuda bukan sekadar tahun biasa. Tapi tahun yang kuat. Saya juga yakin, kalau di tahun kuda akan banyak sekali kejutan-kejutan tidak terduga yang memberi warna pada hari-hari saya. Resolusi sudah ditulis. Banyak hal yang tidak hanya bisa ditulis dan direncanakan, tapi harus dilakukan. Salah satunya melakukan banyak perjalanan yang tidak hanya menyegarkan pikiran, tapi juga mengambil pelajaran dari perjalanan itu sendiri. Menjadi orang baik di antara orang-orang baik, tetap berkreasi, melakukan banyak tantangan baru, bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi hamba pilihan Tuhan. Amin.

*ditulis di tengah liputan pesta kembang api di malam pergantian tahun baru, Hotel Singgasana, Surabaya.