Friday, May 30, 2014

Backpacking Seru di Lombok

Yay! Akhirnya saya mendapatkan jatah cuti juga. Sebenarnya, tujuan cuti saya kali ini adalah Belitung, Bangka Belitung. Namun, setelah hitung-menghitung bujet, tabungan jalan-jalan saya kurang. Maka berbelok arahlah saya menuju Lombok.
Kenapa harus Lombok? Menurut kabar yang beredar, Lombok memiliki sejuta pesona. Tiga gili yang terkenal, pemandangan alam yang penuh pepohonan hijau, cuaca dan hawa segar, dan pesona bawah laut yang memukau. Siapa yang tidak tertarik? Selain itu, saya tertarik dengan Lombok karena membaca tulisan di kaus ayah tentang tiga gili populer Lombok. Saat itu, saya masih duduk di kelas empat SD ketika ayah mendapat tugas di Lombok. Pikiran saya cuma satu saat itu; bagaimana bentuk Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air? Kok ayah sudah ke sana. Dari situ, saya pun terobsesi memasukkan Pulau Lombok dalam list perjalanan saya :d.
Nah, perjalanan liburan kali ini sengaja saya tempuh melalui jalur udara. Alasannya untuk efisiensi waktu. Biarlah meski merogoh kocek sedikit lebih dalam. Toh, materi mudah dicari. Dan lagi, bukankah liburan adalah bagian dari kado bagi diri sendiri setelah lelah bekerja? Tentu saja! :p
Pagi itu, sebelum berangkat kerja, saya packing supercepat. Memilih 5 kaus--termasuk yang dipakai berangkat, 1 celana kain--buat tidur dan snorkling, 1 celana jeans--dipakai sejak awal berangkat, peralatan mandi serbamini, dan sandal jepit. Semuanya saya sesuaikan dengan jumlah hari saya di sana. Asumsinya, perhari ganti satu baju karena seharian akan dipakai untuk jalan-jalan. Untuk underwear, bisa dihitung sendiri. Bawa sedikit dan dicuci di penginapan juga bisa. Jangan lupa, untuk menghemat backpack, packing pakaian dengan baik; yaitu digulung. Dengan menggulung pakaian, backpack saya longgar dan nggak terasa berat; hanya sekitar 2,7 kilogram. Oh, iya, jangan lupa, baju juga bisa diminimalisir jika memang berniat membeli baju di lokasi. Hemat backpack, sayang pundak :d. Jangan lupa juga, siapkan uang mentah di tas selempang ya, buat jaga-jaga tanpa harus membuka dompet di depan publik.
Saya terbang menuju Lombok setelah menyelesaikan deadline pekerjaan sampai pukul 15.00 dan diobrak-obrak partner agar segera pulang dan berangkat menuju bandara. Padahal pesawat flight baru pukul 18.20. Manisnya, pesawat delay 90 menit. Yang artinya, saya menunggu 3,5 jam di bandara dan menunggu boarding sambil berpindah duduk di tiga tempat berbeda. Bosen, cyiiin!
Perjalanan SUB-LOP sekitar satu jam lebih sedikit. Setelah mendapat kompensasi makan malam, saya memutuskan tidur sampai landing. Lombok masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Barat. Artinya, satu jam lebih cepat dibandingkan dengan Surabaya. Saat itu saya sampai pukul 23.05 waktu Lombok dan langsung memesan taksi bandara menuju penginapan di daerah Kuta, Lombok Tengah dengan biaya 84.000 rupiah. Mungkin, jika tanpa taksi bandara akan lebih murah harganya karena menggunakan argo. Namun sebelumnya, seperti laiknya turis kebanyakan, saya mejeng di depan tulisan Bandara Internasional Lombok Praya. Buat apa lagi selain foto-foto? Yaa, kan, saya turis jugaaa :)).
Bandara International Lombok Praya merupakan bandara yang baru selesai dibangun pada 2011 lalu. Karena termasuk baru, warga sekitar masih sering memanfaatkan bandara sebagai tempat wisata. Iya, tempat wisata! Saat itu di antara penumpang satu pesawat, saya yang paling akhir dan paling kaget begitu melihat puluhan warga berdiri memandang kami dengan tatapan seolah menunggu sesuatu. Setelah berjalan beberapa meter melewati mereka, saya pun melihat beberapa tikar tergelar di rerumputan dengan beberapa orang duduk. Oh, ternyata mereka sedang berwisata malam. Menurut warga asli Lombok, wilayah Lombok Tengah terkenal lebih primitif dibandingkan Lombok Barat dan Timur. Sehingga maklum saja jika mereka berwisata di bandara dan melihat takjub siapa saja yang baru dan akan naik pesawat.
Perjalanan dari bandara menuju Kuta sekitar 30 menit dengan infrastruktur yang sangaaat... kontras. Jalanan mulus tiada terkira, namun tidak ada satu pun lampu jalan menerangi. Belum lagi banyak anjing liar main potong jalan. Sunyi mencekam. Kabarnya, daerah Praya, Lombok Tengah masih rawan rampok. Jangankan turis, warga Lombok wilayah lain pun kerap berseteru dengan warga Lombok Tengah. Namun, sekarang mulai berkurang seiring mulai banyak wisatawan datang ke Lombok, meski nggak sebanyak Bali. Sedikit demi sedikit, mereka mulai paham dengan kedatangan wisatawan. Meski sedikiiit sekali.
Sepanjang perjalanan, nggak ada salahnya mengajak ngobrol supir taksi buat tanya-tanya seputar wisata Lombok. Lumayan mengusir kantuk yang menyerang. Dan lagi, gelapnya jalanan cukup membuat suasana sepi cenderung menegangkan. Menurut supir taksi, jalanan Lombok yang gelap memang karena pemda setempat belum membangun lampu jalan. Katanya, dalam tahap proses pengerjaan. Entah kapan selesai, sepanjang perjalanan yang saya amati tidak menunjukkan tanda adanya pembangunan lampu jalan. Btw, supir taksi di Lombok ramah kok. Bahkan sampai menawari carter taksi untuk keliling Lombok--nyambi jadi calo, cyiiin! :)).
Setelah sampai di pintu masuk Kuta, saya langsung diantar menuju penginapan. Saya menginap di sekitar Pantai Kuta tepatnya di G'Day Inn Budget Room. Harga permalamnya 135.000 rupiah via Booking.com, kalau on the spot harga dibanderol 150.000 permalam dengan fasilitas yang sama oke. Double bed, kamar mandi dalam, kipas angin, dan sarapan serta air mineral sepuasnya. Untuk ukuran harga--yang menurut saya kurang murah :p--segitu lumayanlah ya. Soalnya fasilitasnya oke plus bersih, jadi worth it-lah. Oh, iya, karena saya sudah booking seminggu sebelum berangkat, sampai penginapan pukul 23.33 pun dibukain juga. Secara karena daerah Kuta memang masih sepi, jadi pukul 22.00 sudah gelap gulita termasuk penginapan. Nah, karena sudah larut, saya pun memutuskan untuk langsung tidur setelah salat Isya sekaligus persiapan tenaga untuk menuju ke Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu di Lombok Utara Kamis pagi.

Mumpung Masih Muda Banyakin Jalan-jalan


Dunia travelling sedang menggeliat. Saking menggeliatnya, hampir seluruh perbincangan di sosial media dan toko buku menghadirkan kisah perjalanan. Mulai tips perjalanan murah ala backpacker sampai perjalanan menggunakan koper alias berbujet tinggi. Yah, well, setidaknya itu memberikan keuntungan tersendiri bagi pemasukan daerah dan Indonesia atau negara lain; civil starts love travel and give any income.

Begitu pun saya. Sejak kerja, pikiran saya cuma dua; menabung untuk masa depan dan menabung untuk jalan-jalan. Hobi jalan-jalan sebenarnya sudah mengendap sejak lama. Sejak saya masih kecil, saat sering ikut kantor ayah berlibur. Lalu, kesenangan itu menguar pelan-pelan hingga sekarang. Meski sebenarnya, hobi itu selalu terkendala untuk mencapainya; izin orang tua.

Ayah saya seorang workaholic--yang jarang bepergian. Bepergian baru terlaksana atas dorongan sebagian besar anggota keluarga. Berbeda dengan ayah, ibu lebih terbuka. Meski sebenarnya sama-sama suka parno jika anaknya keluyuran kemana-mana.

Dari dulu, saat saya ingin bepergian, ayah selalu menghambat. Yang nggak boleh inilah-itulah, yang ujung-ujungnya saya batal berangkat atau nekat berangkat. Pernah saya sudah siap berangkat, sudah packing, sudah tukar libur, namun izin tidak saya dapat. Akibatnya? Saya gondok berat.


Well, sebenarnya, saya keberatan dengan sikap orang tua--yang terkesan terlalu parno. Padahal, kalau saja mereka menaruh kepercayaan, tentu saya nggak perlu nekat dan mencari-cari alasan agar bisa tetap berangkat untuk melayani nafsu berlibur. Saya yakin seratus dua persen kalau mereka tahu cerita Ibnu Battuta--pengembara muslim terbesar di pertengahan abad ke-13.

Ibnu Battuta seorang muslim taat. Beliau sengaja menghabiskan hidupnya untuk mengembara, mencari makna hidup, mempelajari, dan mengamalkannya. Bahkan, dari perjalanan-perjalanannya itu beliau dipercaya menjadi duta besar di beberapa negara Arab dengan posisi dan bayaran tinggi. Alasannya, Ibnu Battuta memiliki strategi bagus untuk mengembangkan suatu negara karena pengalaman mengembaranya diterapkan. Beliau mempelajari banyak hal di berbagai tempat. Mulai dari kebiasaan suatu suku, latar belakang suatu daerah terbentuk, hingga hal menarik yang tidak banyak orang tau--seperti jenis tanaman dan hewan yang tumbuh di gurun terbesar dunia, Sahara. Semuanya berawal dari berjalan, travelling. Tidak kurang-kurang, bahkan, dalam hadits nabi disebutkan, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Artinya, ilmu itu ada di mana-mana, mulai dari gendongan ibu sampai ke liang lahat. Ilmu tidak melulu ada di sekitar, tapi juga di tempat lain. Ilmu juga tidak melulu soal pelajaran di bangku belajar. Ya, seharusnya orang tahu soal ini, termasuk orang tua saya. Begitu hebatnya Ibnu Battuta ini, sampai-sampai beliau meracuni pikiran anak muda masa kini--meski mungkin Vasco de Gama lebih dikenal.

Pada dasarnya, travelling adalah cara belajar yang--menurut saya--pas bagi seorang kinestetik. Belajar sambil bergerak akan memermudah ingatan seorang kinestetik dibandingkan dengan audio-visual. Dengan berjalan, orang akan lebih banyak tahu hal-hal baru yang tidak ada dalam referensi. Travelling belajar secara mendalam dan menyeluruh. Mengapa? Karena travelling mengajarkan manusia untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, bercerita antarsesama. Interaksi inilah yang membuat seseorang bisa dianggap lebih maju dari pada orang yang tidak melakukan perjalanan. Berdasarkan survey perusahaan travel asal Inggris, Contiki Holidays seperti dikutip dari Daily Mail, survey yang diberikan pada 2000 orang 75%  di antaranya mengaku hidupnya lebih bahagia dengan travelling saat di bawah umur 35 tahun. Sementara sisanya menyesal karena tidak pernah memperluas wawasan saat muda. Mengapa bisa demikian?

Tahukah kamu, kalau travelling, berjalan-jalan di usia muda tidak hanya mampu membuka wawasan, tapi juga mengasah kepekaan dan meningkatkan kepercayaan diri? Tentu saja. Travelling membuat seseorang mampu bersosialisasi dengan orang baru. Mampu memahami lingkungan baru sehingga bisa melakukan keputusan dan menyelesaikan masalah dengan bijak. Sebab, seorang pejalan umumnya mampu melihat satu hal dari berlainan sisi. Sebagai contoh; saya akan berwisata ke Lombok dengan estimasi waktu lima hari dan bujet maksimal 800 ribu rupiah--tidak termasuk transport. Lalu sebaiknya saya menempuh jalur mana? Lewat udara anggaplah PP 800 ribu rupiah dari Surabaya menuju Lombok Praya. Lalu akomodasi dan transport serta makanan memilih yang berbujet rendah. Penginapan menumpang di rumah kenalan, sewa motor 50 ribu rupiah perhari, makan makanan harga miring di tepi jalan. Apakah 800 ribu rupiah cukup? Tentu saja! Waktu lebih efisien, materi lebih hemat. Lain lagi lewat jalur laut yang lebih murah namun lebih memakan waktu. Perjalanan menuju Lombok harus ditempuh dari Surabaya-Banyuwangi-Bali-Lombok atau dua kali penyebrangan. Siapapun bisa menimbang-nimbang. Dengan waktu libur lima hari, bujet maksimal 800 ribu rupiah, mana yang lebih worth it? Pejalan pasti tahu mana yang dipilih, mana yang lebih menguntungkan.


Meski terkesan remeh, hal-hal seperti itu jangan dikira tidak berpengaruh pada masa depan. Beberapa survey menunjukkan bahwa pengalaman travelling mampu membuat seseorang mudah mencari pekerjaan. Alasannya, seorang pejalan dianggap mempunyai time management bagus. Punya pemikiran yang cemerlang dan penuh inovasi. Serta memiliki problem solving yang tepat sehingga dianggap sebagai decision maker yang baik.

Jika direnungkan, memang ada kaitannya kok. Seorang pejalan akan terbiasa mengatur waktu dari satu tempat ke tempat lain. Dia akan membuat estimasi dan rancangan sedemikian rupa agar tidak membuat rencana berikutnya terbengkalai. Jika plan A gagal, selalu ada plan B untuk menyelamatkan tujuannya. Seorang pejalan juga dianggap sebagai tim yang bagus karena mampu mengatur satu orang dan yang lain dengan cakap sesuai porsi.

Di sisi lain, seorang pejalan akan peka terhadap sekitar. Sederhananya, tidak akan membuang sampah sembarangan. Yaa, remeh memang, tapi seorang pejalan yang baik adalah tahu bagaimana menjaga lingkungan dengan baik.

Well, umur orang memang tidak ada yang tahu. Bagi saya, berjalan adalah cara ampuh untuk mengusir penat. Travelling memang menguras tenaga, waktu, dan materi. Tapi keuntungannya, tentu bukan hanya sekadar foto indah, melainkan pengalaman berbagi yang bisa diceritakan untuk anak cucu. Saya tidak ingin menyesal dua kali dalam hidup singkat ini. Cukup satu; saat SMA dan mahasiswa dulu tidak pernah ikut olimpiade dan jarang ikut kompetisi karya ilmiah yang mungkin bisa menambah wawasan ilmiah. Biar nggak bego-bego amat seperti sekarang :p. Jadi, buat saya, berjalanlah selagi mampu, selagi bisa, selagi muda, agar kelak tidak kecewa. Life is short, make it count.

Sunday, May 25, 2014

Islam, Budaya, dan Indonesia

Meluangkan waktu untuk ke Pulau Lombok memberikan manfaat tersendiri bagi saya. Berjalan, belajar, dan bertemu banyak orang baru membuat saya paham bagaimana bentuk negara yang saya pijak, Indonesia, di mata wisatawan asing.
Indonesia adalah negara dengan sejuta pesona yang tidak pernah ada habisnya. Ragam suku, adat, dan budayanya membuat banyak orang terpukau. Multikultural. Berjalan di Pulau Lombok, saya bertemu dengan banyak sekali orang baru, tidak terkecuali wisatawan asing. Beberapa wisatawan asing yang saya temui berasal dari Amerika, Belgia, Perancis, Belanda, dan Jerman. Sedangkan wisatawan lokal asal Jogja, Semarang, dan Jakarta.
Bertemu dengan mereka, bukan hanya sekadar say hi! Tapi kami saling berbicara alasan kedatangan di Pulau Lombok. Ada apa di Pulau Lombok? Mengapa dipilih sebagai destinasi wisata?
Seorang wisatawan asing keturunan Cina asal Amerika yang saya temui mengaku senang bisa berwisata di Pulau Lombok. Namanya Laurent, dia adalah mahasiswa Harvard University yang mendapatkan scholarship untuk mengulik budaya unik di suatu negara. Indonesia sengaja dipilih karena dia terkesan dengan kekayaan budayanya dan adanya dominasi pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Alasan lain, dia tertarik untuk meneliti Indonesia lantaran pernah ada seorang penulis wanita asal Amerika yang menghujat Islam. Penulis itu menggelar talk show di negara ini dan dibubarkan oleh ormas yang memang terkenal rusuh. Dia penasaran sekali dengan banyak hal di Indonesia. Mengapa pemeluk agama Islam di Indonesia banyak sekali? Mengapa suku, adat istiadat, dan budaya di Indonesia beragam sekali?
Di home stay Mataram, saya bertemu dengan turis asal Belgia dan Perancis--yang saya lupa namanya. Mereka travelling khusus di Indonesia sejak Januari lalu. Banyak hal yang membuat mereka tertarik. Pemandangan alamnya, budaya, adat istiadatnya, semuanya. Apalagi, Indonesia terkenal sangat murah. Entah masyarakatnya yang murah senyum atau barang-barangnya yang super murah. Mereka bahkan menganalogikan; menyewa flat sempit di Eropa--tanpa tv, wifi, tanpa makan, tanpa air, hanya bisa tidur-- selama satu bulan nominalnya setara dengan keliling Indonesia selama satu bulan, lengkap dengan makan di restoran, menginap di hotel, plus transportasi dari satu kota ke kota lain. Wow! Sebegitu njomplangnya kehidupan di Eropa dan Indonesia yang membuat mereka betah berlama-lama di negara kepulauan terbesar dunia ini.
Ya, negara saya, negaramu, negara kita ini memang luar biasa dahsyat. Elok alamnya; hutan, gunung, dan laut. Ragam budayanya; agama, suku, ras, bahasa, tarian, seni, dan kebiasaan. Banyak! Yang membuat saya semakin takjub dan bersyukur hidup di tanah air ini, alasan berkebalikan dari turis-turis itu.
Tentang Islam. Wisatawan Amerika tertarik dengan Islam di Indonesia. Dia ingin belajar tentang Islam. Padahal, Islam di Indonesia sangat beragam. Saking beragamnya, pelaksanaan hari raya pun juga tidak bersamaan.
Tentang Indonesia. Dua wisatawan asing tetangga kamar tertarik karena Indonesia memang menarik. Padahal, jika mencermati berita sehari-hari, masyarakat Indonesia juga kerap bertengkar. Saling memusuhi, saling berseteru.
Mereka bilang, Indonesia itu kaya. Di tengah kekayaan alam melimpah ruah--sampai dibagi-bagikan pada tetangga-- masyarakat kita masih bisa hidup berdampingan. Suku Jawa dengan suku Madura, suku Batak, suku Tengger, suku Sasak, suku Asmat, suku Bugis, suku Sasak, semuanya. Mereka senang melihat keragaman itu. Mereka tidak percaya bahwa keragaman bisa membuat Indonesia satu. Karena itulah mereka ke mari, tertarik.
Namun sayangnya, seperti yang kita tahu, tidak semua masyarakat Indonesia paham akan potensi besar yang dimiliki negeri tercinta ini. Tidak sepenuhnya paham bahwa kelestarian Indonesia harus dimulai dari sekarang. Ya, dari sekarang. Meski sebenarnya terlambat. Tapi, tentu terlambat masih lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Sampai hari ini, beberapa tempat yang pernah saya kunjungi memang betul, indah. Memang betul, mampu menghilangkan penat di pikiran. Tapi sayang, beberapa tempat itu tidak jauh dari sampah berserakan. Wisatawan dan penduduk lokal masih dengan mudah membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan. Padahal, begitu besar potensi wisata Indonesia, mestinya bisa semakin besar meraup keuntungan, mengumpulkan pundi rupiah, menyejahterakan masyarakat setempat.
Di Pulau Sempu, Gunung Bromo, Pantai Watu Ulo, Gunung Sikunir, Gili Trawangan (atau Gili Meno dan Gili Air), Pantai Senggigi, dan masih banyak lagi wisata lain yang penuh sampah. Yang paling parah, pemandangan bawah air 3 gili di Lombok membuat saya tidak berhenti menggeleng. Koral rusak dan mati. Padahal setiap harinya wisatawan asing silih berganti datang mengalahkan jumlah wisatawan lokal.
Ya, pesona Indonesia memang luar biasa indah. Namun, saya percaya, Indonesia akan jauh lebih indah dan ramah jika masyarakat mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Sederhananya, memulai mengumpulkan sampah pribadi di kantung bawaan jika tidak menemukan tempat sampah. Sederhana, tapi hasilnya akan berkelanjutan untuk masa depan.
Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita.

Di Penyeberangan Bangsal-Gili Trawangan

Hari masih pagi, tapi pelabuhan Bangsal di Lombok Utara sudah menggeliat. Wisatawan dan pedagang berbaur menunggu kuota kapal penuh. Tidak terkecuali cidomo, engkel, dan ojek yang sibuk menurunkan dan menunggu penumpang. Penyeberangan terbanyak menuju Gili Trawangan, pulau yang penuh gemerlap bar, kafe, tour travel, dan penginapan.
Pagi itu pukul setengah sembilan waktu setempat. Barang dagangan seperti nasi, jajanan, buah dan sayuran, sepeda, dan tanaman, masih tergeletak di tepi pelabuhan. Kuota kapal menuju Gili Trawangan belum maksimal, 30 orang. Meski tergeletak, seolah tidak mau rugi, penjaja makanan juga menggelar barang dagangannya untuk dijual. Yang paling laris tentu saja penjual nasi bungkus. Sejumlah laman blog wisata maupun catatan perjalanan menyarankan membeli sarapan pada ibu-ibu penjual nasi di sini. Sebab, jika sudah masuk Gili Trawangan, jangan berharap ada harga murah. Semuanya serbamahal.
Menunggu kuota mencapai 30 orang tidak begitu lama. Karena setiap kekurangan kuota akan diumumkan melalui pengeras suara agar tidak ada penumpang yang tertinggal. Saat kuota tercukupi, pedagang akan berlomba memasukkan barang dagangan menuju kapal. Geliatnya benar-benar terasa. Teriakan antarpedagang membuat pelabuhan semakin riuh. Ramai.
Satu persatu dagangan dinaikkan, disusul pedagang, dan terakhir adalah wisatawan. Kapal berkapasitas 30 orang pun siap melaju menuju Gili Trawangan. Butuh 30 menit untuk mencapainya. Tidak begitu lama, karena kepungan gunung dengan pepohonan hijau mengelilingi laut. Indah.
Memutuskan untuk menyeberang dengan tiket 13 ribu rupiah artinya bersedia berjejalan dengan para pedagang. Meski bersesalan, masih bisa membuat siapapun larut dalam cerita masing-masing. Termasuk pedagang kue di sisi saya.
Pedagang tersebut berjualan kue di Gili Trawangan sejak dua tahun lalu. Meski berjualan, pedagang wanita separuh baya itu mengaku tidak membuat sendiri. Beliau bilang, tidak ada waktu. Ya, jelas saja tidak ada waktu, perjalanan dari rumah daerah Narmada sampai Gili Trawangan cukup jauh. Belum lagi capek berjualan dan masih harus mengurus rumah setelah pulang sekitar pukul dua siang. Ibu penjual pun memilih untuk membeli kue di pasar dan di dekat rumahnya pagi-pagi setelah subuh. Kue-kue itu lalu dijual kembali pagi pukul delapan seperti pagi itu. Gili Trawangan dipilih karena ramai. Itulah kenapa beliau memutuskan untuk pindah tempat berjualan dari Praya menuju Gili Trawangan. Untungnya berlipat.
Sayangnya, meski memburu untung berlipat di pulau serbagemerlap, para pedagang masih kurang menyadari potensi wisata di tanah kelahirannya. Beberapa pedagang masih membuang sampah di laut. Padahal, kalau saja mereka tahu bahwa laut adalah ekosistem terbesar di muka bumi yang perlu dijaga kelestariannya. Apalagi, sampah plastik yang dibuang ke laut membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk hilang dari muka bumi. Dan lagi, dampak bagi ikan-ikan di laut juga sangat membahayakan. Akibatnya, berbalik lagi pada manusia. Pada kita semua. Parahnya, ironi ini tidak hanya di laut, tapi di beberapa tempat wisata pun. Warga lokal masih sering membuang sampah sembarangan. Buktinya di sejumlah tempat wisata tampak penduduk lokal semena-mena membuang sampah. Ini diperparah oleh wisatawan yang juga membuang sampah sembarangan. Ya, tentu saja ini ironi di antara kemolekan panorama Pulau Lombok. Ironi di gugusan kepulauan Indonesia.

Friday, May 23, 2014

Sedikit Cerita tentang Suku Sasak, Lombok

Lombok. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Lombok. Kali pertama saya juga menggunakan jasa penerbangan. Sejuta pesona Lombok membuat saya berani menyisihkan sebagian pemasukan bulanan untuk datang ke sana.
Bicara Lombok, bicara backpacking, bicara juga tentang keunikan pulau dengan panganan khas Sate Bulayak dan Nasi Balap Puyung ini. Sejak memutuskan menghabiskan waktu di Lombok, saya berusaha mencermati apa saja keunikan yang ada. Termasuk kebiasaan dari warga setempat dan suku asli penghuni pulau di Timur Pulau Bali, suku Sasak.
Suku Sasak adalah suku asli dari Pulau Lombok. Tepatnya di Dusun Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Sebagai suku asli Pulau Lombok, kawasan Sade dibuat menjadi tempat jujukan para wisatawan. Pekerjaan utama masyarakat suku Sasak adalah menenun dan hasilnya dijual di depan rumah mereka sendiri. Ada sekitar 150 kepala keluarga yang menempati kawasan Sade dan semuanya merupakan suku Sasak. Namun jangan salah, ada pula suku Sasak yang memilih hidup di luar rumah wisata Sade. Alasannya beragam. Beberapa orang yang saya temui beralasan ingin membangun rumah dengan desain modern. Tanpa lantai berbahan tanah, tai sapi atau kerbau sebagai bahan membersihkan lantai dua minggu sekali, atap jerami, dinding beranyaman bambu, patung kepala sapi, mesin penenun, lumbung padi di bagian atap rumah--yang hanya diperbolehkan bagi kaum laki-laki untuk mengambil padi. Kalau perempuan ditakutkan akan menghambat rezeki--dan perabot berbahan kayu.
Indonesia dikenal dengan negara beragam suku, adat, dan istiadat. Ada satu tradisi menarik di sini. Yaitu, tradisi kawin lari. Jika suku Jawa melarang kawin lari, maka suku Sasak justru menganggap itu adalah tradisi yang harus dipertahankan. Jadi, jika ada sepasang remaja yang saling suka, maka harus melarikan si cewek tanpa sepengetahuan orang tua. Jika berhasil melarikan si cewek, mereka lalu dinikahkan oleh orang tuanya. Lalu setelah menikah, pasangan ini diwajibkan menginap di salah satu bilik kosong di Sade. Istilahnya untuk honeymoon. Biliknya sederhana, tidak jauh berbeda dengan rumah lainnya. Hanya bentuknya persegi saja. Tidak ada ruangan lain.
Merupakan desa adat, penduduk di Sade biasanya juga masih suka menginang. Itu terlihat dari giginya yang berwarna merah akibat dari mengunyah biji pinang, kapur, dan sirih. Menurut kabar, dulunya, suku Sasak adalah penganut Islam wektu telu. Namun, belakangan sudah menganut ke wektu limo. Apa bedanya? Sebenarnya, dari jumlah salat yang dikerjakan antara wektu telu dan wektu limo tidaklah berbeda. Hanya, waktu mengerjakan salat yang berbeda membuat wektu telu terlihat beda. Wektu telu mengerjakan salat subuh tepat waktu, zuhur di waktu hampir memasuki ashar, kemudian dilanjutkan ashar, maghrib di waktu nyaris memasuki isya, dilanjutkan salat isya. Mengerjakan salat di akhir waktu itulah yang disebut wektu telu. Seolah-olah salatnya hanya ada di tiga waktu. Namun, jumlah salatnya tetap lima.
Menenun adalah pekerjaan utama perempuan bagi suku Sasak selain berjualan. Memasuki Desa Sade, pengunjung pun akan disuguhi anak-anak yang bermain di bale-bale dan satu-dua di antaranya akan lari begitu melihat asa wisatawan. Mereka lari ke depan rumah dan mempromosikan dagangan yang dijual. Mulai dari kain hasil tenunan, kaus, gelang, sampai peralatan masak. Namun, siapa sangka jika anak-anak ini juga berani berjualan di lokasi wisata lain? Ya, mereka berjualan di tempat wisata terdekat dari desa. Tanjung Aan, misalnya. Mereka umumnya naik angkot menuju Kuta lalu oper menuju Tanjung Aan. Anak-anak seusia SD itu berjualan jika hari libur sekolah tiba. Menurut cerita mereka, berjualan untuk membantu orang tua. Ayahnya seorang buruh tani dan ibunya seorang penenun sekaligus ibu rumah tangga yang bertugas memasak untuk disajikan saat pulang sekolah. Barang yang mereka jual amatlah sederhana. Gelang dari benang tenun dililitkan yang dihargai lima ribu rupiah, kalung, dan gantungan kunci seharga tujuh ribu lima ratus rupiah. Kata mereka, uang yang didapatkan untuk sekolah dan menambah pemasukan keluarga. Sebagai pemasukan keluarga tambahan, mereka juga menyewakan motor. Motor didapat dari hasil menjual sapi muda.
Selain anak-anak, di tempat wisata yang sama juga banyak sekali warga Sade berjualan. Mereka menawarkan kain songket, sarung, dan kaus dengan harga miring. Biasanya, mereka akan datang dan menyerbu satu wisatawan beramai-ramai. Kalau tidak terkecoh, penjual-penjual ini akan memaki pembeli. Entah dibilang parah--karena tidak mau beli-- atau bahkan dibilang pelit. Bisa juga dibilang curang karena tidak membeli barang padanya.
Geliat wisata dan hiruk pikuk Pulau Lombok memang memesona. Sejuta ceritanya tidak akan pernah habis dikupas. Ya, sepenggal cerita, sependek apapun ceritanya, akan memberikan makna baru bagi setiap orang yang melihatnya. Di sini, di Lombok.

Sunday, May 11, 2014

Jangan Buru-Buru Menikah

Menikah itu nggak gampang. Kalimat itu selalu saya tanamkan pada otak ketika di luar sana mulai ribut pertanyaan, "Kapan menikah?".

Seperti halnya kebanyakan wanita twenty something lainnya, sejujurnya, saya ingin menikah. Itu wajar, kan? Menikah itu fitrah, termasuk keinginan untuk menikah. Apalagi di usia seperti saya. Keinginan itu selalu ada. Bahkan kadang meletup-letup, kadang biasa saja. Tergantung mood. Namun, belakangan, saya mulai merasa perlu mengkoreksi keinginan meletup untuk segera menikah. Selain karena perjodohan yang--hampir selalu gagal-- saya juga mencermati hal lain di balik serunya pernikahan.

Jauh sebelum hari ini, saya beberapa kali bertanya pada ibu. Pertanyaan sepele yang membuat saya kurang yakin pada pernikahan--jika saya melakukannya dalam waktu mendadak, tiba-tiba, dan serbacepat. Waktu itu saya bertanya, "Apakah menikah itu menyenangkan? Kalau iya, mengapa temanku banyak sekali yang bercerai-berai. Atau bahkan ada yang memiliki anak namun tidak mau menikah. Sekrusial apa makna pernikahan itu?"

Sederhana. Siapapun bisa bertanya pertanyaan sepele seperti itu. Saat itu, ibu diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Pernikahan itu sama sekali tidak mudah. Menggabungkan dua watak berlainan dan harus menjadi padu. Sama sekali rumit. Maka, hal termudah yang bisa kamu lakukan hanya satu; berdoa."

Jawaban itu luar biasa mudah. Siapa tidak tahu kalau dengan berdoa semua bisa lancar? Hanya, doa seperti apa yang bisa dikabulkan? Dalam kondisi seperti apa kita saat meminta?

Hampir lima bulan di tahun 2014 ini saya mendapatkan kabar sangat beragam dari teman-teman. Tentang pernikahan mereka yang menakjubkan dan mengagetkan. Salah satunya, tentang sebuah pernikahan melalui perjodohan. Dalam frame yang saya lihat secara nyata, keduanya tampak sangat anggun dan bahagia di pelaminan. Namun, siapa sangka jika beberapa bulan setelahnya si wanita melarikan diri? Tidak mau dijamah, tidak menganggap lelakinya adalah suami? Lalu pergi dengan lelaki lain. Mendapati hal itu, ada perasaan berdesir dalam dada. Kok bisa mereka tampak bahagia padahal ternyata ada lubang menganga di antaranya?

Kisah lain yang membuat saya miris. Ada seorang teman menikah melalui murabbi. Keduanya menikah setelah saling mengirim proposal diri, cocok, dan menikah. Di pelaminan, keduanya tampak sangat bahagia. Saya pikir, perkenalan singkat tidak akan membuat kualitas suatu hubungan pernikahan terganggu. Namun kenyataannya tidak demikian. Hampir tiga bulan menikah, ternyata si wanita tidak jatuh cinta pada si lelaki. Alasan klasik--yang saya pun juga pernah mengalaminya. Hingga akhirnya tuntutan untuk cerai pun datang. Padahal si lelaki sudah berusaha memperbaiki diri seperti yang diminta si wanita. Lalu apakah bercerai memang semudah itu?

Cerita lain, saya mempunyai teman wanita. Usianya hampir menyentuh kepala tiga. Dia belum menikah. Padahal, dia sudah umrah, memanjatkan doa meminta jodoh, sejak usianya masih twenty something. Namun ternyata jodohnya baru datang belakangan. Dia tidak cinta, namun dia menerima. Hingga saat ini, beberapa bulan usia pernikahannya, saya pikir masih (dan semoga selalu) aman sentosa. Si wanita bahkan mengaku kualitas hubungannya sangat baik, meski masih juga menderita karena LDR *yaa dinikmati aja keleuuus :p*.

Jodoh memang tidak bisa ditebak, kan? Siapa yang menjamin, umrah bisa langsung mendatangkan jodoh atau apapun yang diminta? Tidak ada jaminan. Karena semuanya hanya masalah waktu.
Namun, dari tiga cerita singkat tentang teman saya itulah yang membuat saya berpikir berulang-ulang. Saya takut.

Ketakutan itu cukup mendasar. Sebab, teman sekolah dan kuliah saya banyak sekali yang sudah menikah dan mempunyai anak. Ada yang satu, dua, tiga, bahkan empat! Luar biasa, bukan? Lantas, apakah saya merasa tersaingi dan harus mengejar ketertinggalan layaknya sebuah perlombaan? Dulu, sempat terbesit sedikit bahwa saya tertinggal. Tapi setelah saya memahami, saya kemudian sadar bahwa pernikahan bukanlah ajang balap yang harus segera dipertontonkan pada khalayak ramai. Bukan pula ajang perlombaan memperlihatkan kemesraan dalam rumah tangga baru pada teman lain.
Ibu pernah bilang, "Ya memang, menikah itu sulit. Tapi kamu, kan, punya Allah, ngapain harus takut?"

Mungkin, tulisan serupa ini sering sekali saya tulis. Saya pun mulai bosan dengan topik yang begini-begini saja. Tapi apa mau dikata? Saya tidak biasa menyimpan kegelisahan. Jadi, biar saja tulisan serupa berkali menghiasi laman blog, asal saya damai, aman, tentram, sentosa :p. Intinya, dari cerita di atas, jangan buru-buru nikah. Mending cari kejelasan masa depan karir yang masih buram dan suram :))).