Thursday, June 26, 2014

Dari Pantai Senggigi ke Sate Bulayak

Jumat sore, kami sampai di Mataram. Kami memutuskan untuk menginap di Oka Homestay, dengan harga 100.000 rupiah perhari. Nuansa Hindu sangat terasa di sini. Saat kami datang, misalnya. Bu Oka dan Mbak Rini--pemiliknya--sedang menyiapkan sesajen untuk diletakkan di pura di depan rumah dan di titik-titik lain. Meski nuansa Hindu sangat kental, homestay dengan lima kamar itu cukup sejuk. Kali pertama datang, saya langsung merasa klik. Sebab, di depan deretan kamar disuguhi pemandangan teduh dan rimbun pepohonan. Belum lagi, kondisi kamarnya yang bersih dan pemiliknya yang ramah. Kloplah.

Sesampai penginapan, Mbak Rini langsung menawari kami minum teh atau kopi hangat. Mungkin dia tahu kalau kami ngos-ngosan nyari penginapannya :)). Setelah sedikit lega, kami pun langsung menyewa motor di penginapan untuk melihat sunset di Pantai Senggigi. Harga sewa motor di Mataram lebih mahal dan nggak bisa ditawar. Di Oka Homestay, sewa motor perhari dihargai 60.000 rupiah dengan full bensin.

Dari Cakranegara, letak Pantai Senggigi tidak cukup jauh. Paling sekitar setengah jam ditempuh motor bagi yang belum tahu medan sama sekali. Saat itu, kami langsung berkejaran dengan sunset. Kabarnya, sunset di Pantai Senggigi bagus. Kami tertarik, meski sebenarnya perut lebih memberontak minta diisi.

Tidak cukup lama berkendara, akhirnya kami sampai di Pantai Senggigi. Sayang, sunset baru saja tandas menyisakan rona kemerahan di kaki langit. Sedikit kecewa tidak bisa memotret sunset. Tapi melihat partner, saya justru lebih kasihan. Dia membonceng, kelaparan, dan selalu saya buru-buru. Jadi, setelah beberapa saat kami mengambil foto seadanya, kami memutuskan untuk kembali ke Mataram, nongkrong di alun-alun.

Anyway, menurut saya, Pantai Senggigi bisa jadi pantai yang indah untuk melihat sunset. Banyak juga pedagang jagung dengan kursi dan meja tertata rapi. Suasana pas dan romantis, sebenarnya. Sayang, Pantai Senggigi kotor. Meski hari mulai gelap, saya masih bisa melihat tumpukan sampah di beberapa spot dan bibir pantai. Ditambah dengan lokasi Pura Batu Bolong yang bersisian. Senja itu, umat Hindu baru selesai sembahyang. Mereka terlihat ramai menyisakan sesajen di depan pura yang tepat berada di bibir pantai. Mungkin itu bagian dari ritual, saya tidak tahu. Tapi di sisi lain pantai, sampah ada di mana-mana. Kalau kata partner, tidak ada bedanya dengan Pantai Kenjeran di kota kami. Yah, karena alasan itu pulalah yang membuat kami akhirnya memilih pulang untuk menghabiskan malam sambil makan Sate Bulayak.

Hanya 13.000 rupiah untuk seporsi Sate Bulayak, makanan khas Lombok. Tidak ada yang berbeda dengan jenis sate lainnya. Dagingnya terbuat dari ayam, sapi, dan usus. Disajikan dengan lima lontong dalam kulit jagung--di Surabaya, bentuknya mirip kue lepet. Yang istimewa terletak pada bumbu kacangnya yang pedas dan nagih. Saya suka dengan masakannya, enak! Apalagi harganya, nggak semenyakitkan saat makan Ayam Taliwanglah :))).

Monday, June 16, 2014

Ngeteng di Lombok

Ini semua berawal dari resepsionis penginapan, Mbak Erni. Jumat pagi saat sarapan, saya bertanya tentang angkot Kuta-Mataram, karena kami mau pindah penginapan. Mbak Erni bilang, antara Kuta-Mataram tidak ada angkot, taksi, dan ojek. Yang ada hanya mobil travel. Iya mobil travel yang mahalnya semena-mena--waktu itu saya ditawari mbak resepsionis travel seharga 250.000 untuk berdua, cukup sekian dan terima kasihlah ya, saya nggak minat. Saya jelas nggak percaya. Sebab, kenalan saya--pendiri Lombok Backpacker sekaligus penulis buku Travel to Lombok, Lalu Fatah--mengatakan kalau ada ojek, bemo, dan engkel yang bisa mengantar sampai Mataram. Hanya memang mesti oper sampai empat kali. Rutenya Kuta-Praya-Mandalika-Cakranegara. Pikir saya, taksi tidak bisa masuk kawasan Kuta kecuali dari bandara, travel mahal, berarti jalan satu-satunya ya cuma ngeteng karena motor harus dikembalikan. Ya sudah, selesai Jumatan, kami ngeteng. Anw, Fatah ini penunjuk lokasi dan informan terjitu selama saya di Lombok. Iyalah, secara warga asli Lombok :)).

Fatah bilang, kami bisa naik ojek dari pintu masuk Kuta, maka kami berbeda. Kami justru mencari ojek dari Sengkol, which is cukup jauh dari Kuta. Pikiran saya, emang pintu masuk Kuta dimana? Padahal pintu masuk Kuta adalah perempatan tempat saya biasa mondar-mandir. Haish. Yah, menyesal selalu datang di akhir. Setelah memesan ojek dari Terminal Sengkol--yang nggak kayak terminal--kami balik ke Kuta buat check out. Btw, jam check out di G'day Inn fleksibel, bisa ditawar kapan aja penginap mau :D. Menurut Fatah, ojek dari Kuta menuju Praya seharga 20.000 rupiah maksimal. Tapi, saat menawar, ojek tahu kami wisatawan, jadi diberi harga 50.000 rupiah. Wahaha, sori aja, saya nggak mau. Mahal, jeh. Terpaksa sekali, kami ngojek dari Kuta hanya sampai Sengkol. Biayanya 15.000 rupiah perorang. Lalu dari Sengkol kami naik engkel (sejenis oplet) warna putih menuju Praya. Namanya juga ngeteng, pastilah jalur yang kami lewati bukan jalur utama laiknya saat bermotor. Saya jadi tahu, kalau Pulau Lombok itu penuh dengan pepohonan. Iya, memang panas cuacanya, tapi sejauh mata memandang, kanan kirinya pohon dan bukit. Jadi seneng. Apalagi ngeteng membuat saya bisa berbaur dengan masyarakat lokal. Meski hanya ditanya, dari mana? Mau kemana? Seenggaknya, saling menyapa dan senyum cukup menunjukkan bahwa warga asli Lombok itu ramah.

Naik engkel dari Sengkol menuju Praya kami diturunkan di terminal, katanya. Lagi-lagi saya nggak tahu persisnya terminal. Gimana nggak, kami diturunkan di tepi jalan dengan engkel dan bemo (di Jawa mirip mobil bison) berjejer. Apalagi, sepanjang toko mencantumkan tulisan Terminal Praya, padahal persisnya terminal saya nggak tahu. Ya sudahlah. Ongkos Sengkol-Praya sebesar 7.000 rupiah.

Dari Praya, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bemo menuju Terminal Mandalika. Di sini ngetemnya lamaaaa. Sejam persis! Padahal estimasi saya buat ngeteng Kuta-Mataram hanya dua jam dilanjutkan mengejar sunset di Senggigi. Sepanjang ngetem, penumpang didominasi oleh pedagang dengan bawaan berat. Warga lokal yang naik, jarang sekali. Di perjalanan ini, perorangnya dipatok 8.000 rupiah.

Sampai di Terminal Mandalika, lagi-lagi kami diturunkan di tepi jalan. Kami tidak tahu rupa terminal yang sesungguhnya--tapi beruntung tidak tahu. Di sini, saya membuktikan sendiri info yang saya dapat. Terminal Mandalika dikenal angker dan seram. Kenapa begitu? Calonya bertebaran! Serius. Semua orang yang saya temui untuk bertanya angkot menuju Cakranegara, pasti dia calo dan menawarkan jasa dengan harga selangit. Nggak cukup menawarkan, kalau kami nggak tertarik dengan penawarannya, jangan harap diperhatikan. Beberapa kali saya bingung harus ngapain. Sebelumnya, menurut Fatah, saya harus naik engkel kuning--engkel satu-satunya di sekitar Mataram. Tapi saat hendak naik ke engkel yang ngetem, kami dilarang, nggak boleh naik. Selama beberapa menit saya bingung sendiri--partner menyerahkan urusan angkot ke saya. Mau tanya dicuekin, mau naik dilarang, nah terus? Akhirnya, ada angkot kuning yang dipanggil orang agar mau mengangkut kami. Nah, karena sopir angkot membayar 2.000 rupiah pada orang tersebut, feeling saya seketika langsung mendeteksi aroma tidak mengenakkan akan terjadi. Bukan berlebihan, sih. Nyatanya, sopir engkel--entah sengaja atau emang beneran--tidak tahu alamat yang kami tuju, Jalan Repatmaja, Cakranegara. Sebenarnya, Terminal Mandalika ke Cakranegara itu cukup dekat. Tapi, karena sopir bilang nggak tahu lokasi, bertepatan dengan GPS di ponsel tidak berhasil menemukan jalan yang sama, saya hopeless. Hopeless karena mikir, kok bisa sih, angkot satu-satunya di Mataram nggak kenal wilayahnya sendiri? Kenapa juga sopir-sopir itu galak dan nggak ramah sama wisatawan?

Saya gemas selama di perjalanan. Berkali-kali bertanya pada penumpang--yang sialnya, kompak bilang nggak tahu jalan yang saya maksud. Sampai akhirnya, semua penumpang turun tinggal kami berdua. Dengan sok ramah, sopir berjanji mengantar kami sampai jalan yang kami cari ditemukan. Saya sih nggak percaya. Tapi saya pikir, kalau saya turun di tepi jalan tanpa tahu tujuan, malah makin stres di jalanan. Akhirnya, sopir engkel berputar hanya satu kali di wilayah Cakranegara untuk mencari Jalan Repatmaja. Saya yang was-was ditambah ekspresi sopir yang menyebalkan makin bikin pingin buru-buru turun. Hasilnya nihil. Saya minta turun di Pasar Cakranegara dengan pikiran, kalau sopir nggak tahu jalan, masa iya warga lokal juga nggak tahu? Saya turun dengan menyerahkan uang 12.000 rupiah untuk berdua--lebih banyak 2.000 rupiah dari anjuran Fatah. Namun, apa yang terjadi? Sopir meletakkan uang saya dengan gerakan sedikit kasar mirip orang membanting uang. Dia bilang, uang yang saya beri nggak sebanding dengan usaha dia mencari alamat tujuan kami. Lah, berhasil nyari aja enggak, minta bayaran lebih? Beberapa menit saya adu mulut. Sebodo amat saya wisatawan, dia aja nggak sopan. Males banget, kan. Ada pikiran saya lari dari sopir angkot. Tapi pikiran lain saya, takutnya malah ntar diapa-apain sama si sopir. Akhirnya, dengan wajah nggak rela, saya menambah uang menjadi 20.000 rupiah untuk berdua. Cih.

Petualangan ngeteng nggak berhenti samapai di situ. Selepas kesal turun di tepi jalan, kami akrif bertanya pada siapa saja yang kami temui. Termasuk menelepon pemilik Oka Homestay di Jalan Repatmaja, Mbak Rini. Sampai pucuk dicinta ulam pun tiba. Kami menemukan toko peralatan bayi Heron sesuai petunjuk Mbak Rini. Kami pun langsung menuju jalan di dekat Heron yang ternyata masih salah jalan. Gegara salah jalan inilah, saya dikejar anjing yang tiba-tiba keluar dari rumah majikan dan menggonggong dengan gerakan mengejar saya. Kata pembantu rumah itu, saya dilarang lari. Tapi, akal waras siapa yang mau nggak lari saat posisi anjing persis di belakang tubuh? Hahaha, apes!

Sambil setengah berlari, seorang sopir taksi membantu dengan melempari batu--yang pada akhirnya bapak itu ikutan lari dikejar, hahaha. Selisih satu jalan, saya segera menemukan Jalan Repatmaja dan Oka Homestay. Sesampai di sana, saya pun ambruk sambil cekikikan memikirkan betapa melelahkan dan seru-seru menyebalkannya ngeteng di Lombok! :))))

Sunday, June 15, 2014

Pantai Tanjung Aan Lombok

Hari itu, lepas dari Pantai Seger, kami tidak segera menuju ke Pantai Tanjung Aan (orang Lombok menyebutnya Tanjung An. Lagi-lagi karena merasa 'berat' dengan huruf 'a'). Tapi kami balik ke penginapan untuk sarapan karena waktunya hanya dua jam, mulai pukul tujuh sampai sembilan pagi. Estimasi saya, kalau langsung lanjut Tanjung Aan, sarapan kami akan hangus. Sayang banget. Meski hanya omelette tomat dan atau pancake pisang, setidaknya itu bisa mengganjal perut sampai pukul enam sore nanti. Lumayan daripada nggak sama sekali.

Well, Pantai Tanjung Aan di Lombok Tengah dikenal dengan pantai yang indah. Sayang, aksesnya rusak. Jarak yang sebenarnya dekat dari penginapan di Kuta kesannya jadi jauh. Sepanjang perjalanan selain perumahan sederhana penduduk, jalanan dipenuhi semak-semak. Agaknya betul kalau dikatakan berbahaya saat datang pagi-pagi buta. Sepi. Padahal kami datang sekitar pukul setengah delapan, sesuai yang disarankan oleh bapak penjaga penginapan. Kami menjadi pengunjung pertama di sisi Timur Pantai Tanjung Aan. Sebab, dilihat dari sisi Timur, di sisi Barat tampak beberapa wisatawan yang tengah asik berfoto-foto di atas batu besar. Sebenarnya, bapak penjaga penginapan mengusulkan saya untuk memilih di sisi Barat, tapi saya terlanjur nggak paham dengan arah mata angin, jadi ke mana aja boleh :)).
Di Tanjung Aan, pemandangannya hampir mirip dengan Pantai Seger. Tapi karakteristik garis pantai di Tanjung Aan lebih panjang. Jadi, pandangan mata lebih lapang. Birunya langit dan laut beradu. Indah. Belum lagi ombaknya yang tenang membuat suasana pantai jadi sahdu.
Tapi ketenangan saya sedikit terusik ketika tiga bocah datang menghampiri, menawarkan dagangan berupa gelang dan gantungan kunci. Sebenarnya, mereka tidak akan saya anggap mengusik jika menawarkan dagangan tidak sambil mengejar ke manapun wisatawan berjalan. Beneran. Sayangnya, mereka terus merengek dan memohon agar dagangannya dibeli dengan alasan untuk membantu orang tua dan biaya sekolah. Aduh, jurusnya maut. Saya nggak tega kalau ada penawaran begitu. Tapi saya ingat bujet terbatas. Ya, karena saya sengaja tidak mencantumkan oleh-oleh dalam trip kali ini kecuali kaus. Jadi, saya keukeuh menghindar terus. Beruntung partner saya diberi hati tidak tegaan. Mereka pun saya arahkan ke partner agar dia yang membeli barang dagangan tiga bocah itu. Hahaha.

Selama partner dikerumuni tiga bocah, saya memilih untuk foto-foto sendiri, dan menepi di bangku-bangku teduh yang telah disediakan. Sambil memandang laut lepas, ketiga bocah itu datang menghampiri dan kembali menawarkan dagangan :))). Akhirnya, iseng-iseng saya alihkan pembicaraan dagang mereka. Saya ajak mereka ngobrol tentang keseharian, keluarga, dan apa saja. Mereka anak Suku Sasak dari Desa Sade yang berniat membantu orang tuanya kala hari libur sekolah. Katanya, sekolah libur saat hari Jumat. Mereka memilih berjualan di Tanjung Aan karena tidak ada larangan berjualan. Beda lagi sama Kuta. Yang katanya, kawasan itu bebas penjual dagangan seperti mereka. Ya, entahlah.

Kami ngobrol asik sampai seorang perempuan datang menyapa saya dengan senyuman lebar. Perempuan itu membawa bungkusan kain besar yang kemudian dibuka di depan saya. Awalnya, saya tidak peduli karena lebih asik ngobrol dengan tiga bocah. Tapi kemudian perempuan itu bersuara sambil menunjukkan isi kain besar yang terbuka. Saya melirik sekilas. Ternyata, isinya... sarung! Hyaaah, ternyata perempuan itu adalah pedagang sarung tenun dari Sade. Satu perempuan datang membuka dagangan, artinya akan ada pedagang-pedagang lain yang akan berekerumun. Dan benar saja! Dalam sekejap, saya dikerumuni ibu-ibu pedagang. Jeng jeng jeng. Saya melirik sekilas ketiga bocah di depan saya, mereka tersenyum lalu berpindah tempat. Aduh, feeling saya nggak enak :p.

Satu persatu pedagang datang memarkir motor, menghampiri kami, menawarkan barang dagangannya. Ada sarung tenun dan kaus. Mereka menawarkan dengan harga miring. Katanya, kalau beli di Sade lebih mahal, beda dengan barang yang mereka bawa. Di sini, saya sempat pingin tertawa ngakak gara-gara pedagang satu dan yang lain saling iri, lalu mereka menyalahkan saya. Lah?
Ceritanya, setelah sekian lama saya tidak tertarik dengan barang yang mereka bawa, mereka mengatai saya. Mereka bilang, saya parah. Parah dalam artian, banyak yang menawari dagangan tapi nggak tertarik sama sekali. Lalu, ketika ada pedagang kaus datang dan membuka dagangan, saya langsung menengok dan hendak menawar. Saya dengar, mereka berbicara dalam bahasa Indonesia campur bahasa Lombok. Saya parah. Parah tidak tertarik, tidak menawar, dan mereka capek menawakan. Beberapa pernyataan menggelikan mereka sebenarnya banyak saya dengar. Tapi saya cuma datar sambil meringis. Meski pada akhirnya, saya membeli satu sarung seharga 35.000 rupiah, entah buat siapa nantinya. Saya membeli pada perempuan pertama yang datang menawarkan dagangan. Harapannya, setelah saya membeli, mereka membubarkan diri. Eeeh, nggak taunya teteup! Ya udah, sih, saya balik kanan ke pedagang kaus.
Saya membeli dua kaus masing-masing seharga 20.000 rupiah. Itu pun setelah partner saya membeli lima kaus seharga 100.000 rupiah. Awalnya, pedagang kaus--yang didominasi laki-laki--hanya melepas 100.000 untuk lima kaus. Tapi saya nggak mau. Saya bilang, "Saya nggak mau, Pak, kalau harganya segitu buat lima kaus. Saya butuh dua aja, kok. Lagian, saya dan dia, kan, sama saja. Bapak mau nggak ini satu dua puluh ribu?". Saya pikir, kalau pun bapak itu nggak mau, saya masih bisa membeli di Mataram. Akhirnya bapak bilang, "Ya, saya mau." :))).
Setelah saya membeli kaus, kami bergegas untuk kembali ke penginapan menuju Rembitan, Sade. Tapi langkah saya terhenti, ketika ibu-ibu pedagang--yang tidak saya beli dagangannya--ngedumel ke saya. "Mbak, curang. Cuma beli sarung ke ibu itu. Kausnya ke bapak itu. Mbak tahu? Bapak-ibu yang dagangannya mbak beli itu, mereka suami istri. Mbak nggak adil. Belinya ke suami istri aja. Kami nggak dibeli." Pernyataan satu ibu itu langsung diamini oleh yang lain. Yang langsung bikin hati dan lambung saya nggak betah menahan tawa. Lah, mana saya tahu kalau mereka suami istri? Jadi, semua ini salah saya? Hahaha.


Btw, kalau berniat membeli oleh-oleh, jangan membayangkan seperti Pasar Seni Sukowati di Bali atau Pasar Beringharjo di Jogjakarta ya! Sebab, di Mataram belum ada pasar binaan seperti itu. Ada, tapi tidak seperti kedua pasar tersebut. Jadi, kalau mau beli oleh-oleh asli Lombok, mending beli di Tanjung Aan. Ada kaus dan sarung tenun. Baik tenun asli maupun tenun tekstil. Harganya lumayan miring, yang pinter nawar aja. :D

Sunday, June 8, 2014

Segarnya Pagi di Pantai Seger

Hari berikutnya di Lombok Tengah, kami memutuskan untuk berkeliling di sekitar penginapan. Sebenarnya ada banyaaak sekali pantai di dekat penginapan. Secara Lombok Tengah memang terkenal banyak pantai. Tapi apa daya waktu kami terbatas. Rencana kami pun sering molor gegara kelamaan di satu tempat. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat terdekat. Yaitu Pantai Seger, Pantai Tanjung Aan, dan Rumah Adat Sade.

Pagi-pagi sebelum toko buka, kami melaju ke Pantai Seger, searah dengan Pantai Kuta tapi masih lurus *saya nggak paham mata kompas, maklum ya! :p*. Awalnya, kami sepakat dari Pantai Seger langsung menuju Tanjung Aan yang berdekatan, tapi kala itu oleh penjaga penginapan diperingatkan bahwa Tanjung Aan sangat rawan saat masih malam--warga Lombok lebih sering menganggap pukul 5-7 pagi dengan sebutan malam. Akhirnya, kami pun berlama-lama di Pantai Seger.

Betul memang, pagi sekitar pukul 6, tempat wisata sangat sepi sekali. Saat kami sampai di Pantai Seger, hanya ada dua motor terparkir ditinggal pemiliknya surfing. Ya, tentu saja mereka bule. Pantai Seger memang terkenal dengan ombaknya yang tidak galak, sehingga siapa saja bisa belajar surfing. Tapi, as I informed you before, di daerah Kuta didominasi oleh bule, turis lokalnya bisa dihitung jari. Termasuk di Pantai Seger. Pagi itu, sambil menunggu waktu Pantai Tanjung Aan buka, kami duduk di bilik-bilik bambu yang nyaman. Mengarah ke laut, menyaksikan para bule yang perlahan-lahan mulai bertambah. Matahari mulai tinggi ketika saya mulai bosan dengan pemandangan monoton--duduk di bilik bambu, memandang bule surfing. Saya iri! Akhirnya, saya pun mencari bagian lain dari Pantai Seger dan mendapatkan keindahan lain pantai itu.

Jika di dekat bilik bambu saya enggan menjejakkan kaki di pasir putih, maka di sisi kanan Pantai Seger saya mendapati butiran pasir putih unik. Butiran pasir putih sebesar merica tersebut berpadu dengan riuh ombak tenang yang menghantam bebatuan karang. Syahdu. Di lokasi itu, saya masih bisa bermain air, berfoto-foto, dan bersorak hore. Meski bersisian dan masuk dalam satu garis pantai dengan Pantai Kuta, menurut saya, Pantai Seger lebih eksotis.

Puas bermain di bebatuan karang, kami beralih ke sisi lain Pantai Seger. Tepatnya di sebelah pintu masuk, di jembatan bambu yang menghubungkan pantai dengan resort berbintang. Di sisi jembatan bambu tersebut ada beberapa patung terpajang. Patung-patung tersebut didirikan untuk menghormati jelmaan legenda terkenal Suku Sasak, yakni Putri Mandalika. Konon, Putri Mandalika mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Pantai Seger saat akan memilih pasangan hidupnya. Namun, masyarakat tidak bisa menemukan jasadnya, berganti dengan menemukan cacing--nyale--yang dipercaya merupakan jelmaan dari sang putri. Sejak saat itulah, di Pantai Seger selalu diperingati upacara adat Bau Nyale atau mencari cacing laut untuk dimakan bersama-sama setiap bulan Februari.

Jika Pantai Kuta seperti Pantai Sepanjang di Gunung Kidul karena strukturnya memanjang, maka berbeda dengan Pantai Seger. Pantai ini justru memiliki beberapa bagian yang sama indah. Untuk masuk pantai ini gratis, tidak dikenakan biaya masuk maupun parkir, persis seperti Pantai Kuta. Beda lagi dengan Pantai Tanjung Aan...

PS. Masih diambil dari kamera kacrut hape saya...

Pantai Kuta Lombok kala Senja

Selepas dari Taman Mayura di Mataram, kami langsung pulang menuju penginapan di Kuta. Sebenarnya, rencana awal adalah menikmati sunset di Pantai Senggigi. Namun, menurut pemandu di Taman Mayura, lebih baik kami pulang dan menikmati senja di Pantai Kuta, meski tidak ada sunset. Sebab, jalanan menuju penginapan dipastikan sama dengan saat kami kali pertama sampai di Lombok, gelap gulita dan berbahaya. Dan lagi, saya masih punya banyak waktu untuk melihat sunset di ikon Pulau Lombok, Pantai Senggigi. Pertimbangan keamanan itulah yang membawa saya dan partner memilih untuk balik kanan menuju Pantai Kuta.

Pantai Kuta bukan hanya ada di Bali. Meski namanya sama, Lombok juga punya Pantai Kuta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mandalika. Nama Mandalika ini tidak akan saya lupakan karena nantinya akan membawa saya dalam perdebatan kecil dengan sopir engkel esok hari :))).

Saya tidak tahu persis perbedaan Pantai Kuta Bali dengan di Lombok. Ya, meski saya pernah ke Bali tiga kali dan selalu mampir ke Pantai Kuta, saya lupa persisnya jenis pasir, ombak, dan pemandangan di sana. Secara terakhir ke Bali sepuluh tahun lalu. Jadi, harap maklum :p.

Sebelum melaju ke Pantai Kuta, di Mataram kami menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner khas Lombok. Kuliner pertama yang kami coba adalah Ayam Taliwang di Depot Kania, Cakranegara--yang ternyata letaknya berdekatan dengan penginapan kami selama di Mataram. Awalnya, feeling saya mengatakan kalau Ayam Taliwang mahal di harga, enak di lidah. Namun, ketika kami memesan satu Ayam Taliwang yang dibagi untuk berdua, Plecing Kangkung yang segarnya kebangetan, dan dua porsi jus buah, memang rasanya nendang kemana-mana. Termasuk harganya. Kami langsung nangis sambil senyum kecut begitu dapat nota pembayaran sebesar 85.000 ribu rupiah! Kecut banget rasanya, beneran! :))). Sejak merasakan kecutnya harga Ayam Taliwang, kami mewanti-wanti untuk selanjutnya makan di warung pinggiran tanpa nama, irit jeh! :))).

Selesai merasakan rasa sedap di lidah, pahit di kantong Ayam Taliwang, kami melaju ke Pantai Kuta. Jarak Pantai Kuta dan penginapan kami cukup dekat. Hanya 5 menit jika jalan kaki. Tapi kami ke sana tidak jalan kaki :p.

Hari sudah senja ketika kami parkir motor sembarangan di tepi Pantai Kuta. Betul kata pemandu Taman Mayura, Pantai Kuta tidak punya sunset karena letaknya ada di Selatan. Namun karakteristik pantainya cukup oke. Pantai berpasir putih bersih, deburan ombak tenang, bebatuan karang, dan suasana nyaman. Ini yang saya cari. Tenang dan nyaman. Mungkin, karena akses menuju daerah Kuta cukup seram, jadi jarang ada wisatawan menuju ke sana saat senja selain turis asing yang berpesta di tepi pantai. Oh iya, sejauh mata memandang, daerah Kuta didominasi oleh wisatawan asing, wisatawan lokalnya jarang sekali. Saat kami berfoto-foto, sejumlah wisatawan asing tengah menyiapkan--mungkin, barbeque party--api unggun dengan beberapa botol bir di dekatnya. Suasana pesta malam dimulai. Memang, semakin mengarah ke pantai, semakin banyak penginapan, kafe, dan bar berdiri. Suasana ramai. Namun, suasana itu akan berubah ketika saya sampai di penginapan karena pantai mulai gelap. Letak penginapan kami memang dekat dengan pantai, tapi tidak sedekat dengan penginapan penuh bar dan kafe. Penginapan kami lebih dekat dengan masjid. Uniknya, meski arah ke pantai penuh pesta, di masjid tetap ada ritual tahlilan setiap Kamis malam. Tahlilan dan semacam manaqiban juga diperdengarkan melalui pengeras suara. Kontras tapi itu seninya. Beda tapi tetap aman dan tentram. Yang pesta tetap pesta, yang mengaji tetap mengaji.

Malam itu, sekembali dari Pantai Kuta, saya memutuskan untuk langsung tidur setelah bersih diri, tanpa makan malam karena tidak merasa lapar. Meski sebenarnya partner merasa lapar. Haha, egois nian! :))). Esoknya, kami berencana untuk keliling di dekat penginapan sembari bersiap untuk pindah ke Mataram.

PS. Photos are taken by phone camera low lux. Hahaha, buruk rupa sekali :))).

Saturday, June 7, 2014

Taman Mayura, Saksi Kerajaan Hindu di Lombok

Sebenarnya, Mataram adalah tujuan kami di hari ketiga dan keempat. Tapi, karena kami kurang menguasai peta Lombok, selepas dari Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu, kami langsung menuju Mataram mencari tempat wisata apa saja yang bisa ditemui. Kami menemukan Taman Mayura yang letaknya persis di pusat bisnis perkotaan Cakranegara, Mataram, Lombok Barat. Tepatnya di belakang SPBU Cakranegara *meski di pusat kota, kami tetap nyasar dong! :))*

Masuk ke Taman Mayura kalau tidak salah ingat, perorang ditarik harga 10.000 rupiah. Mungkin karena di pusat kota, harga tiketnya jadi lumayan mahal :p *dasar pelit!*. Di sini, pengunjung akan ditawari menggunakan jasa guide atau tidak. Saat itu, kami menggunakan jasa guide untuk menjelaskan secara detail sejarah Taman Mayura.

Taman Mayura adalah saksi sejarah adanya kerajaan Hindu di Pulau Lombok. Dibangun pada abad ke-17 oleh raja Anak Agung Ngurah, Taman Mayura dulunya mempunyai fungsi sebagai tempat petilasan, tempat menjamu tamu, tempat bermusyawaah, hingga tempat istirahat. Kata Mayura diambil dari burung merak yang dulunya digunakan untuk mengusir ular di sekitar taman. Adanya burung merak di taman tersebut atas usul sahabat raja asal Pakistan--yang saya lupa namanya siapa :/.

Nama asli Taman Mayura sebenarnya adalah Taman Mayora. Namun, karena warga Lombok kurang fasih menyebut huruf 'o' maka menjadi Mayura. Pelafalan 'ra' pun tidak menggunakan huruf 'a' tapi 'e'. Jadi jika diucapkan berbunyi Taman Mayure. Persis dengan Taman Narmada jadi Taman Narmade, Pantai Kuta jadi Pantai Kute.

Memasuki Taman Mayura, pengunjung akan disuguhi pemandangan asri laiknya sebuah taman dengan sebuah kolam besar berada di tengah. Kolam tersebut merupakan tempat mandi para dayang raja. Di tengah kolam pemandian terdapat selasar untuk sidang atau tempat musyawarah lengkap dengan enam patung tokoh Islam asal Pakistan. Keenam patung tersebut merupakan simbol balas jasa raja pada teman karibnya yang berhasil mengusir ular dari taman menggunakan burung merak. Simbol patung tersebut juga menandakan adanya keberagaman agama di Pulau Lombok. Artinya, meski kerajaan Hindu berkuasa kala itu, toleransi agama umat Hindu cukup kuat. Itu dibuktikan hingga sekarang. Dimana 40% warga Lombok adalah pemeluk agama Hindu, 55% umat muslim, dan sisanya beragam agama. Suasana Hindunese di Lombok khususnya di Mataram sangat terasa, persis seperti di Bali, banyak pura di tepi jalan. Menariknya, meski memiliki banyak pura di tepi jalan, Lombok lebih dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Sebab, sepanjang jalan, masjid bertebaran dimana-mana. Jadi, umat muslim yang bertandang ke Lombok nggak perlu khawatir nggak bisa salat karena tidak menemukan masjid atau musala.

Kembali ke Taman Mayura, selain disuguhi pemandangan asri taman dan rimbunnya pepohonan disertai angin semilir, pengunjung akan diajak memasuki wilayah peribadatan. Yaitu, Pura Jagatnatha. Pura Jagatnatha adalah pura terbesa ketiga di Indonesia setelah Pura di Borobudur, Jogjakarta dan Pura Bedugul di Bali. Pura ini terbuka untuk umum. Namun, pada saat upacara keagamaan, pura akan disterilkan karena akan menjadi pusat keagamaan umat Hindu. Di sekitar pura terdapat pohon beringin. Menurut kepercayaan, pohon beringin bukan hanya mengandung unsur mistis namun juga merupakan pertanda suatu tempat akan makmur, jaya, serta selalu aman sentosa. Filosofi ini persis seperti di Alun-alun Kidul Jogjakarta yang memiliki dua pohon beringin besar dengan sumber kemakmuran bagi masyarakat yang memercayai.

Saat memasuki wilayah pura, ada satu keluarga yang mendirikan tenda lengkap dengan perabotan rumah tangga. Pemandu menjelaskan, keluarga tersebut merupakan keluarga beruntung yang berhak mendirikan tenda di sekitar pura, tepat di depan tempat petilasan raja di dekat kolam air, selama tiga hari berturut-turut. Sebab, keluarga tersebut berhasil melempar botol akua berisi pengharapan pada salah satu ujung pohon beringin yang diyakini akan mendapat berkah, petunjuk, serta keberuntungan dari Sang Hyang Widhi. Botol yang dikaitkan dengan tali tersebut tidak akan jatuh dalam kurun waktu satu-dua minggu. Tapi bisa sampai berbulan-bulan. Jika botol jatuh, maka umat Hindu lain baru bisa mencoba peruntungan serupa.

Sekilas, Taman Mayura memang tampak tidak ada yang istimewa. Namun, menyewa guide membuat saya sadar bahwa apa yang tampak sederhana tidak selalu sederhana. Justru bisa menyimpan sejuta kisah memesona. Di Taman Mayura, saya tidak hanya belajar sejarah. Tapi, saya juga belajar untuk lebih menghormati pemeluk agama lain selain Islam. Jika raja Hindu bisa, kenapa umat muslim tidak bisa? Bukankah Nabi Muhammad juga menanamkan toleransi beragama yang sama? :d

PS. Photos are taken from phone camera.

Seru-seruan di Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu

Pagi hari, saya bangun dengan persiapan matang. Saking matangnya, saya bangun sebelum subuh untuk bersiap jalan-jalan. Tapi sayangnya, sepagi apapun saya bangun--dengan asumsi semakin pagi, semakin banyak tempat wisata dikunjungi--ternyata, toko-toko di sekitar penginapan belum buka, jalanan masih super gelap gulita! Akhirnya saya balik kanan, memilih untuk bengong di kamar sambil menunggu waktu sarapan. Pukul 7 pagi, resepsionis dan waitresd penginapan membuka menu sarapan. Menu sarapan di sana hanya ada dua pilihan; omelette tomat dan pancake pisang plus teh dan kopi panas.
Selepas sarapan, sambil melihat peta di papan penginapan, saya meminta tolong resepsionis untuk disewakan motor. Dengan cekatan, dia pun langsung menelepon rekannya menggunakan bahasa adat Lombok, memesankan motor. Untungnya, saya mendengar percakapan mereka yang kalau tidak salah sedang menawar harga motor sampai 40.000 rupiah. Saya pun berpikiran bahwa harga sewa motor bisa ditawar! Maka, setelah resepsionis menutup telepon, saya pun menemui pemilik motor yang ternyata ada di depan penginapan tepat. Saya terlibat percakapan dengan pemilik motor hingga akhirnya saya menawar harga motor sehari 45.000 rupiah. Nah, karena rencananya saya pindah ke Mataram pada Jumat siang, otomatis saya meminjam selama 36 jam. Dan saya berhasil mendapatkan harga 65.000 rupiah untuk 36 jam, meski si pemilik motor terlihat nggak rela *the super power of bargaining :p*. Oh, iya, kami mendapat motor tanpa plat, tanpa STNK, dan tanpa helm. Katanya, Lombok aman dari polisi. Iya Lombok memang aman sekali, tapi apa kabar nyawa saya coba?
Setelah mendapatkan motor, sekitar pukul 8 tepat saya langsung ke tujuan wisata pertama, yakni Air Terjun Benang Stokel di kaki gunung Rinjani, Lombok Utara. Di perjalanan awal, kami melewati pasar tradisional Sengkol. Tidak jauh berbeda dengan pasar kebanyakan di Jawa, pedagang di pasar Sengkol meletakkan dagangannya di tepi jalan raya utama. Iya, diletakkan saja seolah jalan raya itu adalah lapak bebas. Alhasil, sekitar pasar Sengkol macet. Gimana nggak? Cidomo (dokar kuda), engkel (sejenis bemo) mobil, motor, dan pangkalan ojek jadi satu tumplek blek. Beruntung, macet tidak terlalu parah. Ada petugas dari Dinas Perhubungan yang--mungkin setiap hari--ikut membantu kelancaran jalan raya utama.
Anyway, menurut beberapa orang yang saya temui, waktu tempuh Kuta-Air Terjun Benang Stokel sekitar 1 jam. Dengan bantuan GPS ditambah surfing, dan tanya sana-sini, saya dan partner pun langsung meluncur kepedean. Sepanjang perjalanan didominasi dengan perbukitan indah, kami percaya pada tiga penunjuk jalan tadi. Namun, pada akhirnya, kami menyerah pada GPS karena ternyata-oh-ternyata, GPS di Lombok sesat banget. Nggak cocok dan suka bikin pemotor stres--kami contohnya :)). Beberapa blog yang saya baca pun bilang demikian. GPS di Lombok hanya berfungsi saat di Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Yang jelas, kalau mau aman, mending tanya warga lokal. Kenapa? Selain GPS sesat, Lombok juga miniiim penunjuk jalan. Serius! Kami bahkan berputar-putar satu lokasi sampai tiga kali saking sesatnya GPS dan minimnya penunjuk jalan. Bahkan, ketika kami sedikit menghirup napas lega karena jarak Air Terjun Benang Stokel katanya makin dekat, kami masih kudu tahan ketawa. Ya, karena pintu masuk Air Terjun Benang Stokel nggak ada papan namanya! Saya bahkan harus turun tanya penjaga palang, mirip tamu yang berkunjung ke rumah, "Misi, Mbak, ini betul Air Terjun Benang Stokel?" Hahaha. Duh!
Sampai di parkiran, siapapun yang tidak jeli pasti akan tergiur masuk pos informasi. Yang ternyata, di pos informasi akan ditarik biaya perpaket wisata di sekitar tiga air terjun berdekatan itu. Mulai 60.000 sampai 180.000 rupiah. Untungnya, saya malas untuk ke pos informasi--yang ternyata didominasi oleh wisatawan asing dilihat dari harga yang tertera menggunakan mata uang dollar. Maka saya dan partner pun hanya membayar masing-masing 6.000 rupiah untuk parkir dan tiket masuk. Sebenarnya, berwisata di Lombok memang diperlukan kejelian ekstra. Karena superminimnya papan penanda. Jadi, setiap tanya pada orang, pasti itu calo, pasti ditawarin macam-macam. Bahkan, nyaris, partner saya terkecoh untuk ngojek ke Air Terjun Benang Kelambu. Padahal naik motor sendiri pun bisa.
Semula, kami memang ingin ke Air Terjun Benang Stokel dulu--yang kabarnya memang dekat dari tempat parkir. Tapi, setelah bertanya dan tidak menggunakan jasa ojek, siapapun yang kami tanya pun memilih untuk bungkam :'(. Akhirnya, kami pun jalan kaki tak tentu arah di kaki Gunung Rinjani yang ternyata berujung pada Air Terjun Benang Kelambu. Jaraknya lumayan, bisa ditempuh 45 menit jalan kaki. Hahaha, what a surprise! Di situ, partner mulai berkeluh kesah karena treking jauh dan mewanti-wanti untuk pakai jasa ojek pas balik. Saya, sih, woles aja.
Treking tanpa penunjuk arah sama sekali, kami beberapa kali bingung dengan persimpangan jalan. Serius, persimpangan jalannya nggak cuma satu-dua, tapi banyak! Beberapa kali kami bertanya warga lokal yang untungnya baik hati dan ramah. Salah satu yang saya tanya adalah petani kopi. Di kaki Gunung Rinjani, ternyata sejumlah ibu-ibu memilih untuk berprofesi sebagai petani kopi yang dijual di pasar. Kopi khas Lombok yang saya lupa untuk mencicipinya :/.
Sambil treking, kami menghilangkan penat dengan berfoto-foto geje. Gimana nggak geje, wong objek yang difoto sama semua; jalanan berlumpur, semak-semak dan pepohonan, dan kami. Monoton.
Tapi, meski 45 menit treking menanjak, semuanya akan terbayar lunas begitu sampai di Air Terjun Benang Kelambu. Serius! Pemandangannya subhanallah, masyaallah! Saya sampai speechless, loh, begitu melihat kali pertama. Air terjun memancar deras dengan dinding tebing penuh dedaunan hijau. Air yang mengalir dingin menyegarkan. Pikiran saya waktu itu hanya; nggak mau pulang, nggak mau kerja! Aduh, serius, saya sampai tidak bisa berkata-kata saking indahnya pemandangan Air Terjun Benang Kelambu. Betul kata para calo, Air Terjun Benang Kelambu memang jauh, tapi pesonanya bikin lupa daratan. Subhanallah...
Di sana, saya merelakan diri berbasah-basahan saking gemesnya sama pemandangan alamnya. Tapi, di saat wisatawan lokal riuh mendinginkan badan, saya hanya bisa puas menginjakkan kaki sampai lutut. Ternyata, selain wisatawan asing, Air Terjun Benang Kelambu juga menarik perhatian wisatawan lokal untuk berlibur bersama keluarga. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana saking terpesonanya saya pada pemandangan yang kerap menjadi foto kalender. Lalu, sekitar pukul 12, kami berbalik arah menggunakan ojek *akhirnya naik ojek juga! :))*. Harga ojek bisa ditawar. Tawar aja sampai 15.000 dari harga semula 30.000. Sebenarnya itu kurang sadis penawarannya, tapi partner mengiyakan saja harga 15.000 perorang dan bawa motor tukang ojek sendiri. Sayang duitnya, ya...
Sampai di parkiran, kami bertanya lokasi Air Terjun Benang Stokel pada orang yang wajahnya kelihatan baik :p. Maka, oleh pedagang bakso dijelaskan, Air Terjun Benang Stokel ada di gerbang tempatnya mangkal. Yang artinya, memang hanya 50 meter dari tempat parkir. Jdeng! Dan lagi, ternyata dari Air Terjun Benang Stokel, ada jalan tembusan yang lebih pendek mengarah ke Air Terjun Benang Kelambu. Yaaah!
Berbeda dengan Air Terjun Benang Kelambu, untuk mencapai Air Terjun Benang Stokel harus melewati puluhan anak tangga. Yaa, lumayan bikin celana longgar! :)).
Penampakan Air Terjun Benang Stokel tidak sebagus Air Terjun Benang Kelambu. Tapi, tempatnya yang dekat dengan tempat parkir dan tidak butuh waktu lama untuk menjangkaunya, membuat air terjun itu lebih ramai dikunjungi. Ditambah ada gazebo-gazebo untuk bersantai. Sayang, saya tidak banyak mengambil foto di sini. Oh iya, di lokasi ini ada tiga air terjun sekaligus. Selain Benang Kelambu dan Benang Stokel, satu sisanya saya lupa namanya dan kata beberapa orang di sana, jaraknya cukup jauh. Jadi, kami pun memutuskan untuk balik kanan setelah puas mengamati Air Terjun Benang Kelambu dan Air Terjun Benang Stokel. Kami beralih tujuan menuju Mataram, pada akhirnya...
PS. All photos are taken by phone camera. Kacrut jaya...