Sunday, July 20, 2014

Semanggi, Kuliner Legendaris Kota Surabaya

Surabaya dikenal sebagai pusat kuliner dengan sensasi pedas di lidah. Selain Rujak Cingur, Lontong Kupang, dan Lontong Balap, Surabaya juga punya kuliner legendaris yang masih ada hingga kini. Bahkan, saking legendarisnya, ada juga lagu bertajuk Semanggi Suroboyo :D. Sama, rasanya pedas dengan sensasi manis di ujung lidah. Namanya, Semanggi.

Semanggi lebih dikenal dengan sebutan Pecel Semanggi. Terbuat dari dedaunan semanggi, Pecel Semanggi memiliki cita rasa berbeda dengan jenis pecel lain yang ada. Hal ini lantaran bumbu Pecel Semanggi disajikan menggunakan campuran ketela, gula merah, dan kacang tanah. Sedangkan cabe ditambahkan sesuai permintaan pembeli.

Semanggi sendiri merupakan tanaman yang tumbuh liar di sekitar rerumputan. Bentuk daunnya terdiri dari empat sisi dengan besar yang sama. Meski liar, di Surabaya, tanaman ini dibudidayakan. Tepatnya dibdaerah Benowo, perbatasan Surabaya dan Gresik, semanggi dibudidayakan di lahan-lahan milik warga. Uniknya, hampir seluruh penjual Pecel Semanggi berasal dari daerah ini dan didominasi oleh wanita yang telah lanjut usia. Cara berdagangnya pun unik. Para penjual membawa keranjang bambu dengan selendang untuk menggendong. Mereka umumnya berangkat pagi bersama rekan sesama penjual dengan naik angkot menuju masing-masing tempat yang berbeda untuk selanjutnya berkeliling di tempat tersebut.

Pecel Semanggi sendiri disajikan dengan daun pisang pincuk. Selain daun semanggi yang direbus, kecambah rebus menjadi sayuran pelengkap sebelum disiram dengan bumbu ketela. Terakhir, Pecel Semanggi disajikan menggunakan kerupuk puli atau kerupuk yang terbuat dari beras. Fungsi kerupuk ini selain untuk penambah nafsu makan, juga sebagai sendok. Karena Pecel Semanggi tidak disajikan dengan sendok. Tertarik untuk memcicipinya? Pecel Semanggi biasa dijual sekitar 5.000-7.000 rupiah perporsi. Cukup bersahabat di kantong ya. Jadi, jika mampir ke Surabaya jangan lupa cicip Pecel Semanggi ya! Dijamin ketagihan, meski bentuk sajiannya tidak begitu indah :D.

Friday, July 18, 2014

One Day Trip di Pacitan

Seminggu sebelum puasa, saya dan lima teman dari Plurk Surabaya memutuskan untuk berwisata ke Pacitan, kota Seribu Goa. Pacitan menjadi tujuan utama kami untuk one day trip. Alasannya, Pacitan tidak begitu jauh dari Surabaya, tetapi banyak objek wisata tersaji. Benar, Jawa Timur memang kaya. Tidak diragukan lagi.
Kami berangkat pada Jumat malam menggunakan bis dari Terminal Bungurasih. Kami sengaja ngeteng, karena tidak mau ambil risiko terlalu capek di jalan. Bis paling akhir Surabaya-Pacitan pukul 22.30 dengan harga 45.000 rupiah. Namun kami stand by sejak pukul 21.30. Jelas, karena kami ingin mendapatkan tempat duduk. Sebab kami tahu, setiap Jumat malam warga pendatang Surabaya sering mudik ke daerah asal, termasuk Pacitan. Strategi kami tidak meleset, justru dengan stand by lebih awal, kami bisa leluasa memilih tempat duduk.
Perjalanan Surabaya-Pacitan selama 6,5 jam kami habiskan dengan tidur. Memasuki Kabupaten Pacitan, jalanan meliuk bertebing membuat saya terjaga sepanjang perjalanan. Susah tidur. Akhirnya, pukul 5.00 kami sampai di Terminal Pacitan. Setelah salat Subuh dan cuci muka, kami menelepon kembali rental motor meminta kepastian motor pinjaman. Sayang, kami tidak beruntung. Tidak ada satupun motor tersedia. Setelah berembuk, kami pun memutuskan untuk menyewa mobil seharga 550.000 rupiah sudah termasuk fee sopir, bensin, dan tiket masuk objek wisata apa saja yang kami inginkan. Worth it-lah ya, kalau dibagi berenam. Secara selama di perjalanan kami hanya duduk, ngemil, dan tidur. Tidak mengeluarkan tenaga sama sekali untuk mencapai tujuan wisata.
Tujuan pertama kami ke Pantai Pancer. Letaknya di pusat kota Pacitan dan bersisian dengan Pantai Teleng Ria. Kedua pantai ini teksturnya sama. Berpasir hitam kecokelatan dan berombak besar. Banyak turis asing datang ke mari untuk berselancar. Di sisi lain Pantai Pancer terdapat bagian air payau, pertemuan air laut dan air tawar. Pertemuan itu biasanya ditandai dengan adanya gugusan pohon mangrove di bibir pantai. Lepas dari Pantai Pancer, kami memesan makanan Nasi Tiwul khas Pacitan untuk dimakan di perjalanan.
Pantai Srau menjadi tujuan kedua kami. Di sini, ada tiga lokasi untuk melihat karakteristik pantai yang berbeda. Pantai Srau juga biasanya digunakan untuk melihat hilal penunjuk bulan Ramadan dan Syawal datang. Di Selatan Pacitan yang lain, ada Pantai Watu Karang. Pantai ini indah dan cukup sepi. Airnya biru kehijauan. Ombaknya tidak begitu ganas. Selain kami, pengunjung didominasi bule yang tampak tengah membuat film dokumenter.
Kata orang, ikon Pacitan adalah Pantai Klayar. Kami ke sana untuk melihat langsung fenomena banyu nggebros atau air yang menyembur karena ombak menabrak celah di antara batu karang. Ombak di pantai ini cukup ganas. Di pantai ini juga terdapat batu mirip spinx yang banyak dijadikan objek foto. Dari Klayar, kami langsung menuju Pantai Banyu Tibo. Sesuai namanya, Banyu Tibo berarti air jatuh. Di pantai ini terdapat air tawar yang jatuh ke laut melalui celah karang membentuk serupa air terjun. Tidak seperti Klayar, pantai ini relatif sepi meski pemandangannya memesona. Perjalanan terakhir kami menuju Pantai Buyutan untuk melihat sunset. Letaknya sangat dekat dengan Klayar. Namun sayang, cuaca sore itu mendung. Pantai ini berada di bawah perbukitan. Berbeda dengan lima pantai lain, pantai ini sangat sepi! Ombaknya tidak ganas namun suasananya syahdu. Senja di tepi pantai yang indah.
Dari Buyutan, kami mampir menikmati Soto Pacitan. Rasanya yang manis membuat otak kecil saya cepat mengingatnya. Terakhir, kami menuju Masjid Agung Pacitan untuk bersih diri sebelum memesan bis paling akhir pukul 23.00 di pergudangan bis. Total one day trip di Pacitan perorang tak sampai 200.000 rupiah. Cukup murah untuk backpacker kere seperti kami. Dari perjalanan ini, kami tahu jika Pacitan bukan hanya soal seribu goa, tapi juga ribuan pantai. Karena, selain enam pantai tersebut, masih banyak pantai tersembunyi di Pacitan. Tertarik?

Wednesday, July 16, 2014

Taman Narmada, Hutan Suranadi, dan Bandara Internasional Lombok

Minggu pagi adalah hari terakhir kami di Lombok. Rencana kami hanya keliling ke sekitar Mataram dan beli oleh-oleh. Entah kaus atau mutiara di Pasar Sekarbela.

Pagi itu, kami menghabiskan waktu dengan duduk di depan kamar dan sarapan. Selebihnya, ngobrol dengan tetangga kamar asal Prancis dan Belgia. Dua orang itulah yang bercerita kalau biaya hidup di Asia super duper murah, apalagi Indonesia. Analoginya, biaya hidup di apartemen mini tanpa makan, air, listrik, hanya tidur selama sebulan di Eropa setara dengan hidup sebulan keliling Indonesia menginap di resort dan makan mewah. Ngok. Perbandingannya jauh banget. Kami juga saling bercerita pengalaman snorkling di laut Indonesia. Karena saya baru snorkling di Karimun Jawa dan Gili Amatra, ya hanya bisa membandingkan keduanya saja. Tapi menurutnya, snorkling di Amed, Utara Bali juga jauh lebih bagus. Bodohnya, saya nggak tahu dimana Amed sebelum dijelaskan. Menyedihkan sekali pengetahuan saya tentang negara sendiri :((.

Selain ngobrol sama dua bule itu, Mbak Rini banyak banget ngasih kami referensi tempat belanja murah dan wisata yang ada di sekitar Mataram. Salah satunya Pasar Sekarbela, Pasar Sayang-Sayang, Pasar Cakranegara, Taman Narmada, dan Hutan Lindung Suranadi.

Entah jam berapa pastinya, kami berangkat menuju Taman Narmada di Narmada atau 10 kilometer arah Timur dari Mataram. Masuk ke Taman Narmada dipatok 6.000 rupiah perorang. Tidak ada pemandu di sini. Jadi saya pun buta sebuta-butanya. Hanya sempat dikabari Mbak Rini jika Taman Narmada adalah refleksi Gunung Rinjani dan Danau Segara Anakan, Lombok Utara. Refleksi itu dilihat dari banyaknya kolam air yang ada di Taman Narmada. Sejauh mata memandang, Taman Narmada memang dikelilingi oleh kolam air, petilasan, pura, dan halaman luas. Usut punya usut, ternyata dulunya Taman Narmada digunakan oleh keluarga Raja Anak Agung untuk tempat istirahat selama musim kemarau. Selain itu, juga digunakan untuk tempat beribadah. Hal itu dibuktikan dengan adanya pura jagat untuk sembahyang umat Hindu yang ada di dalamnya. Di tempat ini juga ada sumber mata air suci yang dipercaya bisa membuat wajah tampak awet muda. Saya sempat mengantre untuk mengambil air suci ini, tapi nggak jadi. Ya, abisnya, di dalam ruang sumber mata air banyak umat Hindu sembahyang dipimpin pemuka agamanya. Masa iya saya ikutan :D.

Oh iya, di tempat ini juga sering kali dijadikan tempat wisata ibadah oleh umat Hindu dari Bali. Kata orang Bali yang saya temui, ibaratnya semacam wali songo di tanah Jawa.

Setelah dari Taman Narmada, kami beranjak menuju Hutan Lindung Suranadi yang letaknya berdekatan. Untuk masuk Suranadi hanya dipatok 2.000 rupiah perorang. Serius, saya sampai bengong loh pas petugasnya bilang kami hanya perlu membayar 5.000 rupiah termasuk parkir. Murah banget dan memangnya setara dengan pendapatan petugasnya? Mana kami juga mendapat buku panduan dan map wisata di kepulauan seluruh Nusa Tenggara Barat pula. Ckck.

Namanya juga hutan, pemandangannya ya pohon dimana-mana. Jadi berasa penelitian kayak zaman kuliah dulu, hehe. Tapi, sebagai lulusan Biologi, ternyata nyali saya ciuuut banget! Gimana nggak? Rute pertama kami di Suranadi penuh dengan monyet liar! Huahahahha. Ya mana beraniii. Mana tatapan monyetnya liar banget pula. Belum lagi monyet anakannya pakai acara berantem dan saling mengerik. Hiih, males banget! :))). Di rute pertama itu saya bertemu dengan turis asal Amerika yang juga takut untuk masuk rute. Saking takutnya, saya mau memotret pakai hape pun masih mikir. Takut hape nggak selamat, sayang banget. Akhirnya, kami pun berbalik badan bareng-bareng sambil cekikikan =)))). Oh iya, Hutan Suryanadi ini juga terdapat bumi perkemahan.

Dari Hutan Suranadi, kami langsung menuju Pasar Cakranegara buat cari kaus. Tapi, alangkah kagetnya saya ketika masuk pasar yang isinya nggak beda dengan pasar tradisional di dekat rumah. Huahaha. Ya udah, sih, kami balik arah menuju Pasar Sekarbela pusat kerajinan mutiara air tawar. Lagipula, kaus yang saya cari nggak ada.

Pasar Sekarbela dikenal dengan sentra kerajinan budidaya mutiara air tawar. Dalam bayangan saya, aksesoris mutiara itu harganya selangit. Tapi ternyata, harganya luar biasa terjangkau kantung saya. Hal itulah yang membuat saya urung tidak membeli oleh-oleh mutiara untuk keluarga. Ya gimana nggak? Harganya dari 7.000 rupiah-ratusan ribu saja. Huahahaha, murah ya? Iyalah! Secara setelah saya bandingkan dengan mutiara teman yang beli di Surabaya, harganya bisa sampai delapan kali lipat!! Untungnyaaa saya beli :))).

Dari Pasar Sekarbela, kami menuju Pasar Sayang-Sayang buat mencari pernik unik khas Lombok. Jaraknya juauuuuhh amit-amit. Sampai sana, kami pun kena zonk gegara deretan tokonya tutup dan ternyata bukanya hanya saat malam. Ngoook.

Akhirnya, daripada muter-muter nggak jelas, sementara waktu tempuh Mataram-Praya sekitar satu jam, ditambah belum check in pesawat, pukul 15.30 kami pilih untuk balik ke penginapan mengambil tas. Sekaligus menunggu mobil Abid Travel (0370) 622056 menjemput. Oh iya, kami pilih travel karena memang nggak nemu angkutan menuju Praya. Jadi, lebih baik naik travel harganya 55.000 rupiah.

Berbeda dengan perjalanan SUB-LOP yang ngaret, perjalanan LOP-SUB tepat waktu banget. Kami yang mau motret di depan tulisan Bandara Internasional Lombok Praya pun harus menanggung malu gegara diobrak petugas keamanan bandara =)))). Noraaakk!

Anw, total perjalanan saya ke Lombok selama 5N4D sekitar 880.000 rupiah tidak termasuk pesawat PP. Kata teman saya, harga segitu terhitung murah.

Thursday, July 10, 2014

Senja di Pantai Nipah

Kapal penyebrangan dari Gili Trawangan menuju Pelabuhan Bangsal sampai sekitar pukul 16.20, Sabtu sore. Lepas dari Bangsal, kami langsung menuju Malimbu. Arah ke Malimbu cukup jelas. Dari Pelabuhan Bangsal ada pertigaan ke kanan, itu arah Malimbu. Berbeda dengan perjalanan saat berangkat yang didominasi pepohonan dan jalan berliku, perjalanan pulang kali ini dihiasi jejeran pantai. Sejauh mata memandang cuma ada pantai dan pantai. Partner saya memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Tujuan kami berikutnya adalah sunset di Pantai Senggigi. Kenapa Senggigi? Ya, karena itu ikon Pulau Lombok.

Namun semuanya berubah ketika saya berpikir impulsif dan memberikan penawaran pada partner, "Kenapa kita nggak nyoba ke pantai terdekat? Kayaknya pantainya lebih bagus dan sepi." Partner saya setuju, kami pun berbelok menuju pantai terdekat. Sebelum berbelok ke pantai terdekat, saya menunjuk pantai paling ujung. Nama pantai itu adalah Pantai Pandanan. Letaknya tepat di ujung pertama saat partner gagal menghentikan laju motor dadakan. Di deretan pantai tersebut, tidak ada sama sekali papan penanda nama-nama pantai. Hanya ada pintu masuk dari besek bambu yang tidak tampak seperti pintu masuk. Hal itulah yang mungkin membuat deretan pantai sepi pengunjung.

Kami berbelok menuju Pantai Nipah, letaknya tepat di sisi Pantai Pandanan. Tekstur pantainya sejauh mata memandang, mirip satu sama lain. Berpasir putih, berombak tenang, sepi, dan romantis. Saya sempat menyapa penduduk lokal bertanya nama pantai di sekitar Pelabuhan Bangsal. Karena kami hanya berdua, beliau mengira kami juga penduduk lokal. Padahal sih bukan banget. Wajah pendatang, kan, kelihatan sekali ya :))).

Suasana Pantai Nipah menjelang senja saat itu sangat sepi. Hanya ada kami berdua dan penduduk lokal. Sementara anak-anak lokal bermain bola di tepi pantai. Saya puas sekali duduk santai di tepi pantai. Syahdu dan menenangkan. Tidak pernah saya temui pemandangan senja sedamai ini. Satu-dua kapal nelayan berangkat melaut, beberapa nelayan berdiri santai di tepinya. Sementara saya berfoto ria sambil memandang satu demi satu aktivitas mereka.

Matahari pelan-pelan mulai turun, menunjukkan warna oranye tua yang menyenangkan. Saya mengusulkan untuk berbalik menuju Bukit Malimbu. Menurut literasi blog yang saya baca, dari Bukit Malimbu bisa melihat Gili Amatra secara lengkap dan menyeluruh. Kami ingin membuktikan itu. Ya, benar saja. Saat kami sampai di Bukit Malimbu--yang berupa jalanan dengan pemandangan lapang menjorok ke laut--banyak sekali motor dan mobil berjajar. Berikut penjual jagung bakar dan minuman hangat. Kami memutuskan untuk tidak berhenti di sana saking padatnya. Kami pun bergeser sedikit. Di dekat Bukit Malimbu terdapat gapura. Di sanalah kami berhenti, menyaksikan keajaiban alam, mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya. Dari tempat kami berdiri, matahari tidak lagi sejajar. Tapi berada di bawah kami. Ya, kami berhenti di titik cukup tinggi dari dekat Bukit Malimbu.

Matahari sudah tenggelam. Jalanan Raya Senggigi mulai gelap. Meski demikian, masih ada satu-dua lampu jalan yang menyala. Tidak seperti kondisi di Kuta yang sama sekali tidak mempunyai lampu jalan. Mengarah ke Senggigi dari Bukit Malimbu, berturut-turut kami melewati Pantai Malimbu, Pantai Tiga, dan Pantai Senggigi. Seluruhnya dalam satu garis lurus yang sama indah.

Hari itu, cukup memuaskan bagi saya. Pemandangan indah, suasana yang nyaman, tenang, dan damai mampu membuat pikiran jenuh hilang seketika. Kami mengakhiri hari dengan makan Nasi Balap Puyung atau di Jawa dikenal dengan Nasi Campur. Namun menu lauk di dalamnya berbeda. Ada paru, daging ayam, daging sapi, kacang kedelai, kelapa manis (serundeng), tempe kering, potongan cabe hijau, sambal, dan entah ada apalagi. Harganya sangat bersahabat di kantong. Hanya 10.000 rupiah perporsi. Untuk harga segitu, rasanya sangat enak! Beneran, deh. Bikin kenyang pula.

Malam sudah mulai larut, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sampai penginapan, kami disambut dengan lampu mati. Eaaa. Nggak di Jawa, nggak di NTB kebagian lampu mati juga :))). Cukup lama kami menunggu di depan kamar sambil ngobrol dengan tetangga sebelah sampai saya merasa ngantuk berat. Nggak cuma ngantuk, banyak nyamuk juga, ding. Mood saya pun langsung down gegara lampu matinya lama. Ya udah, saya pun akhirnya memutuskan untuk mandi ditemani cahaya lilin lanjut tidur :)).

Saturday, July 5, 2014

Snorkling di Gili Amatra

Sabtu, 24 Mei 2014. Pagi itu kami berencana untuk main-main ke tiga gili populer di Lombok Utara; Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air atau lebih dikenal Gili Amatra. Rencananya, kami berangkat pukul setengah tujuh, namun kata Mbak Rini itu terlalu pagi. Sebab, kapal di Gili Trawangan baru berangkat pukul sepuluh pagi. Jadi, kami pun mengulur waktu sambil duduk-duduk di teras kamar dan menikmati teh hangat yang disajikan Bu Oka. Sementara nasi kuning kami simpan sebagai bekal di Gili Trawangan. Untuk ukuran penginapan, antara G'day Inn (135.000 rupiah/ malam) di Kuta dan Oka Homestay (100.000 rupiah/ malam) di Mataram, Oka lebih murah. Keduanya sama-sama dapat sarapan, tapi di Oka dapat nasi, jadi lebih kenyang *dasar perut nasi! :))*

Sambil ngeteh, kami ngobrol bertiga dengan Mbak Rini. Menurutnya, kami lebih baik melewati rute melingkar. Yakni dari Cakranegara-Narmada-Hutan Monyet Pusuk-Bangsal-Gili Trawangan. Lalu pulangnya lewat Barat; Gili Trawangan-Bangsal-Malimbu-Senggigi-Cakranegara. Rute itu pas sekali dengan niat kami yang menanti senja di Lombok. Akhirnya, kami pun berangkat pukul 7.15 dengan beragam ekspektasi. Salah satunya yaitu nyasar :)).

Perjalanan menyenangkan tanpa mandi pagi. Kostum saya persis ketika saya tidur. Jadi, baju tidur saya gunakan untuk snorkling di Gili Amatra. Hemat, beb! :))

Melewati jalanan Pusuk, kami menanti liarnya monyet-monyet Hutan Pusuk. Jalanan berkelok, rimbunnya pepohonan, serta sejuknya udara pagi ternyata tidak membuat satu ekor monyet liar menampakkan hidungnya pagi-pagi. Padahal, saya pingin tahu betapa liarnya monyet di sana, kabarnya. Sepanjang perjalanan, hamparan hijau pepohonan berada di kanan kiri. Luar biasa! Lupakan jalanan sesak, padat, dan macet di Surabaya. Jalanan di sini halus, mulus, dan sepi! Padahal hari itu hari Sabtu. Kontras banget kalau di perkotaan; weekend pasti pusat wisata makin rame. Ah, Lombok memang surga! Sepanjang perjalanan saya gunakan untuk cengar-cengir geje. Iyalah, siapa coba yang nggak seneng buat menikmati teduh dan nyamannya pemandangan?

Kalau tidak salah, sekitar pukul 8.20 kami sampai di Pelabuhan Bangsal. Di sana kami langsung membeli tiket kapal menuju Gili Trawangan seharga 31.000 rupiah perdua orang, sudah termasuk asuransi. Sebenarnya, perkepala sesua harga yang tersedia dihargai 14.000 rupiah, asuransi tidak berada di dalamnya. Tapi ya sudahlah...

Kami menunggu kapal penuh di tepian pantai, sementara loket penjualan kapal terus mengumumkan jumlah kekurangan penumpang menuju Gili Trawangan. Satu kapal umum harus berisi 30 orang, tidak termasuk barang bawaan. Beda dengan kapal cepat yang hanya berisi 8-12 orang dengan harga jauh lebih mahal, jarak tempuh Pelabuhan Bangsal-Gili Trawangan sekitar 30 menit.

Gili Trawangan adalah gili (pulau) terbesar di Utara Lombok. Di sini juga dikenal dengan sebutan paradise island atau party island saking gemerlapnya suasana malamnya. Di Trawangan, semuanya lengkap. Mulai minimarket, penginapan, sewa sepeda atau naik cidomo (dilarang ada kendaraan bermotor di sini), bar, kafe, sampai toko menjual jasa dan peralatan diving-snorkling juga ada. Lengkap-kap-kap. Tapi ingat, kalau urusan harga makanan dan minuman, mending beli di Bangsal yang dikenal lebih miring.

Turun dari kapal, banyak sekali orang yang menawarkan jasa snorkling hanya dengan 100.000 rupiah atau plus makan 120.000. Semua kapal serentak berangkat berkeliling pukul 10.00 tepat. Karena kami sampai satu jam lebih cepat, kami pun memutuskan untuk jalan melihat-lihat penawaran jasa lain sembari sarapan nasi kuning dari penginapan.

Kami mendapatkan harga 110.000 rupiah plus makan perorang. Harga ini kami dapatkan karena sesama orang Jawa :p. Uniknya, jatah makan yang disediakan maksimal 35.000 rupiah. Jadi, lebih baik pilih yang plus makan ya! Jatuhnya snorkling tak sampai 100.000 rupiah. Selain makan, kami mendapat fasilitas fin/ pelampung, water glass, dan air mineral. Foto underwater nggak ada. Jadi bawa sendiri dari rumah saja.

Titik snorkling kami berurutan di Gili Meno dan Gili Air masing-masing dua titik. Sementara makan siang di Gili Air. Selama snorkling, saya belum mendapatkan keindahan bawah laut Gili Amatra. Alasannya, buanyak sekali terumbu karang yang mati, hancur, dan lebur rata dengan tanah. Entah apa yang terjadi selain pengeboman massal. Yang jelas, ekosistem ikan cantiknya sangat melimpah. Sayang banget kalau habitatnya rusak begitu. Padahal, airnya hijau kebiruan jernih luar biasa. Saya kecewa. Dibandingkan dengan pemandangan bawah air Karimun Jawa, Gili Amatra kalah jauh. Atau berpikir positifnya, kali saja titik snorkling saya yang kurang bagus :D. Saya mencoba berpikir positif sampai titik ketiga snorkling, namun tidak juga saya menemukan titik indahnya terumbu karang yang berwarna-warni. Mungkin, para bule yang snorkling dan diving jauh dari spot yang ditentukan menemukan letak indahnya underwater Gili Amatra :D.

Kami makan siang setelah dua kali snorkling di Gili Meno dan Gili Air. Tepatnya di resto bambu pinggir pantai di Gili Air. Memilih menu paling mahal, yaitu Ayam Taliwang :p, saya kembali kecewa. Kenapa? Nasinya keras, hahaha. Ya udah, sih, dimakan ayamnya saja. Kan, yang mahal ayamnya, bukan nasinya :))).

Sesudah makan, snorkling dilanjutkan di dua titik lain. Spot keempat saya absen karena baju saya kepalang kering, jadi males nyemplung lagi :p.

Sampai kembalo di Gili Trawangan pukul 15.40. Saya langsung menuju ke loket pembelian tiket menuju Bangsal. Kabar dari beberapa orang yang saya tanya, kapal terakhir menuju Bangsal pukul 16.00. Ya, lumayan mepet. Beruntung kami mendapat tiket. Harganya berbeda dan sekarang lebih murah, 13.000 rupiah sudah termasuk asuransi. Entah kenapa berbeda.

Buat saya, pemandangan Gili Amatra memang tidak lebih bagus dari laut Utara Jawa. Tapi, melihat pemandangan dan ketenangan penduduk serta lingkungannya, sudah cukup membuat pikiran jenuh hilang. Foto-foto yang memesona selalu menjadi obat rindu saya pada alam. Yep, Gili Amatra, Lombok, indahnya memesona!