Saturday, October 25, 2014

Setangkup Cemburu

Salah satu sudut kamar tidur dini hari itu cukup kacau. Seorang wanita sedang mencari selembar kertas yang menurutnya sudah disiapkan di malam sebelumnya. Dari satu laci ke laci lain. Lemari satu ke lemari lain. Tas jinjing, tas punggung, tas selempang, dompet. Nihil. Wanita itu mengaduh keras sementara jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

Dini hari itu, bukan dini hari pertama bagi Dita untuk bangun dan sibuk dengan kegiatan. Sebabnya, setiap dini hari sebelumnya, dia hampir selalu bangun dan gedubrakan. Entah mengerjakan tugas kuliah atau sekadar belajar untuk materi presentasi. Ya, kehidupan Dita berubah sejak dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Tepatnya, bekerja sambil kuliah. Itulah alasan kenapa dia ngotot sekali untuk liburan ke Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan mengaturnya tiga bulan sebelumnya. Dia terlampau stres dengan segudang tugas kuliah dan pekerjaan yang sama nggak manusiawi. Sama. Persis.

"Aduh, dimana tiketnya?" Dita menggosok rambutnya yang masih setengah basah. Bete akut. Tiket pesawat Jakarta-Tanjung Pandan hilang. Hilang? Kok bisa?

Dita membuka-buka kembali backpack siap perginya. Dibuka, ditata ulang, ditutup. Dibuka lagi, sambil misuh-misuh stres, ditutup lagi. Nihil. Tiketnya enggak ada.

Aku udah otw. Kamu siap-siap ya. Di depan gang.

Dita mendengus. Masa iya dia harus jujur sama Jaka kalau tiketnya hilang? Nggak mungkin. Pasti didamprat. Atau minimal dibentak, diceramahin panjang lebar, lalu nggak disapa seminggu. Hiiih...

Tiket aku hilang tauuu. Kok kamu udah jemput aja.

Dita membalas sambil kalut. Akhirnya jujur juga.
***

"Bodoh! Apa fungsinya coba semua penerbangan aku yang urus, hah? Ya antisipasi kejadian kayak gini. Kayak kamu lagi ngacak-ngacak backpack, misuh-misuh pagi," suara Jaka tertahan. Kesal. Berkali-kali dia mengingatkan Dita agar tidak ceroboh. Enggak tahunya kejadian juga. Di waktu genting pula.

Wanita di sebelahnya hanya manyun. Mulutnya mengerucut. "Ck! Berisik, Jak! Kenapa kamu enggak maklum aja, sih? Tahu aku pelupa masih aja diceramahin. Ini masih jam tiga pagi, tau." Dita membuang muka ke luar jendela. Masih pagi. Jalanan Surabaya masih lengang. Sepi. Sekali dua saja taksi mereka bersapa dan bersisian dengan pengendara motor membawa sayur mayur. Pedagang di pasar, pasti.

"Jam empat. Kamu pikir dari kamu cari tiket sampai sekarang, jamnya enggak jalan?"

Yaelah. Jaka belum puas berdebat. Dita tahu kok, dia salah. Tapi, kan, nggak begitu juga nyalahin orang. Masa iya sepanjang perjalanan yang dibahas tiket hilang. Kenapa nggak bahas rencana perjalanan di Belitung coba?

Ya, itulah hebatnya Jaka. Berani berdebat panjang dan enggak penting sama Dita. Padahal seumur-umur, justru Dita yang biasa dan dikenal lebih nggak penting kalau ngajak berdebat. Ternyata Jaka lebih. Lebih nggak penting.

Tapi Dita sayang. Sayang banget.

Halah, kalau bahas sayang memang susah. Jadi apa-apa keliatan benar.

"Teman-teman udah sampai mana, Jak?" Dita bertanya, mengalihkan.

Perjalanan Surabaya-Jakarta-Tanjung Pandan kali ini mereka tidak hanya berdua. Ada Rani, Yuda, Adit, dan Chika. Keempatnya saling kenal nggak sengaja. Rani teman Jaka. Yuda teman Dita. Adit teman Yuda. Chika teman Rani. Ya begitu. Saling kenalan. Mereka juga nggak berangkat bareng. Meeting pointnya di Cengkareng. Rani dan Yuda berangkat dari Jogjakarta. Sementara Adit dari Bandung dan Chika dari Bogor.

"Empat hari tiga malam. Nggak sabar ya, Jak? Ntar aku mau diving. Nggak snorkling lagi." Dita tertawa. Nggak menunggu jawaban Jaka. Terus saja berceloteh.

"Diving, Jak! Keren, ya?" ulangnya.

Pantas Dita tertawa. Seminggu lalu dia sengaja ikut kelas diving komunitas diving Surabaya. Biayanya 125.000 selama tujuh jam di kolam renang salah satu hotel bintang empat di Kota Pahlawan. Bayangkan, tujuh jam belajar diving dalam sehari demi bisa tahu keindahan bawah laut Belitung. Apa coba kalau bukan niat?

"Iya. Niat. Banget. Dibelain. Keren." Jaka, dengan wajah innocent hanya menjawab singkat. Lalu wajahnya dibuang ke luar jendela. Mengulum senyum.

"Kalau enggak ikhlas gitu aku jadi nggak bangga, deh." Dita mencubit pinggang Jaka. Gemas. Laki-laki di sebelahnya tertawa kesakitan.

Dasar perasaan. Bisa banget bikin orang kegirangan.
***

Maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia sudah siap. Penumpang tujuan H.A.S Hanandjoeddin satu persatu mulai naik. Ini pengalaman pertama Dita naik maskapai yang katanya paling oke di Indonesia. Kembang kempis hidungnya merasakan sensasinya. Secara, maskapai penerbangan paling keren dan dikenal mahal. Yah, meskipun dia dan teman-temannya ada di kelas ekonomi. Yang penting judulnya: naik maskapai penerbangan paling bergengsi. Gimana nggak keren? Kerenlah.

Wanita-wanita cantik berjejer menyambut penumpang. Sementara Dita dan Jaka masih terlibat percakapan seru yang membuatnya abai dengan sekitar. Sesekali tangannya bergandengan mirip pengantin baru. Ceileh, padahal pacar juga bukan. Baru gebetan.

Satu, dua, tiga, sampai anak tangga terakhir keduanya masih asyik bercakap. Nggak ada peka-pekanya dengan sekitar. Sampai yang menyapa bukan lagi wanita berparas cantik. Tapi lelaki berwajah tampan. Tampan sekali. Saking tampannya, sampai membuat Dita seketika melepas genggaman tangan Jaka.

"Hei, kamu?"

Namanya Althaf. Dia mantan terakhir Dita. Tiga tahun mereka berpacaran sampai memutuskan untuk menikah. Sayang, masih nyaris. Althaf terlalu sibuk dengan keluarganya. Dengan ibunya, khususnya. Mimpi-mimpi ibunya untuk menjodohkan dia dengan teman masa kecilnya. Sounds weird. Itu kenangan paling gila dan menyakitkan bagi Dita. Ya, gimana nggak? Mereka nyaris menikah. Sudah saling berjanji sehidup-semati harus berpisah hanya karena... perjodohan. Siti Nurhaliza aja enggak begitu.

Waktu itu Dita hampir gila rasanya. Pekerjaannya terlantar. Dia jarang makan, cuma merenung. Dia jarang bergaul, cuma menangis. Lalu sekarang dia bertemu lagi dengannya. Dengan lelaki itu. Lelaki yang di jemari manis tangan kirinya sudah melingkar cincin keperakan.

Althaf nggak bisa menyembunyikan raut terkejut di wajahnya. Antara kaget juga senang. "Andita..." tangannya terjulur berniat bersalaman.

Di depannya, Dita susah payah tersenyum. Lalu membawa jemari Jaka kembali di genggamannya. Meremasnya. "Ini Jaka, Al. The next you."
***

Siapapun nggak akan pernah mengira kejadian berapa jam, menit, bahkan detik berikutnya. Dengan siapa bertemu, apa yang terjadi, dan ada pengaruh apa di baliknya. Siapapun nggak akan tahu. Termasuk Dita.

Dia nggak akan tahu, ada dua hati memanas karenanya. Satu dari masa lalu. Satu dari masanya kini.

Dita nggak tahu, bagaimana Jaka menjaga hati untuknya. Dita nggak tahu, bagaimana Althaf setengah mati menahan rindu terpendam dan diluapkan hampa karena statusnya telah berganti. Lalu saat rindu itu ingin diucapkan, ada sosok lain di depannya. Lelaki lain di dekat kekasih tiga tahunnya. Penggantinya. Dita nggak tahu, jika sikapnya membuat keduanya saling menahan amuk cemburu. Dita nggak akan pernah tahu, jika caranya melukai keduanya. Dita nggak akan pernah mau tahu itu. Karena menurutnya, yang terpenting saat itu adalah bagaimana menyembuhkan hati yang pernah pecah kembali utuh. Tanpa memedulikan siapa Jaka. Tanpa pernah peduli dengan rekayasa buatannya.

Dita nggak peduli dengan setangkup rasa cemburu bukan lagi memanas, tapi perlahan membeku. Di sana, di sudut hati lelaki bernama Jaka.

Tuesday, October 7, 2014

Merayakan HUT TNI ke-69 di KRI Banda Aceh 593


Jalasveva Jayamahe: Di laut kita jaya!

Kalian pernah naik kapal? Pasti hampir di antara kalian sudah pernah naik kapal. Entah kapal fery, kapal kecil di sekitar pantai, atau kapal dalam bentuk perahu kayuh, bahkan dayung semacam rafting. Lalu, bagaimana dengan kapal perang, sudah pernah? Menyaksikan langsung atraksi Tentara Nasional Indonesia di laut dan udara, sudah pernah mencobanya?

Kemarin, saya mendapat kesempatan tidak biasa. Sederhana, hanya meliput kegiatan siswa SMA selama dua hari satu malam. Namun, yang membuatnya luar biasa adalah saya harus menginap di kapal perang Indonesia. Saya belum pernah mencobanya dan saya tahu pasti, this is the part of my lucky and fun life!

Namanya, KRI Banda Aceh 593. Kapal perang pertama buatan anak negeri ini tergolong lampu lima. Artinya, kapal perang yang juga mengangkut tank. Tiga bulan lalu, KRI Banda Aceh 593 berhasil menyusuri Merauke menuju Samudera Hindia sampai ke Hawaii untuk latihan militer. Kata salah satu awak, jika membayangkan latihan TNI-AL sulit, lihat saja film Battleship


Full AC: Lorong dan barak tentara yang nyaman tapi sempit

Bagi saya, melaut menggunakan seluruh perlengkapan tentara perang itu lucu dan seru. Mulai mencoba kamar tidur satu orang yang sempit dan bertingkat, ruangan penuh AC, fasilitas makan terbatas dan bikin cegukan, kamar mandi dengan air tawar yang hanya ada di jam tertentu, dan lorong-lorong yang bikin penderita disorientasi arah makin kacau macam saya:)). Ditambah jika angin sedang kencang, tidak ada cemilan, dan terombang-ambing ombak. Seru! Seru-seru gimana gitu:)). 

Komandan Arief Budiman, Pimpinan KRI Banda Aceh 593 sedang memantau lalu lintas laut

Awak kapal di ruang kemudi konsentrasi penuh

Tempat parkir tank yang digunakan untuk kapal kecil

Memasuki wilayah kapal perang, sudah pasti akan dipenuhi dengan bangunan berbahan baja kokoh. Sederhananya, mirip Kapal Selam di Monkasel. Penuh lorong baja, jalanan melingkar, sempit, dan penuh disiplin. Apalagi saat memasuki wilayah kemudi kapal. Wah, jangan harap bisa ngobrol sesuka hati. Di ruang kemudi, akan ada banyak awak yang bicara saling bersahut-sahutan. Masing-masing membawa handie talkie mengabarkan posisi kapal lain yang melintas di sekitarnya. Selain itu, arah mata angin dan kecepatan angin juga selalu diupdate setiap detik. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti tabrakan kapal. Kalau tidak sedang membawa handie talkie, awak biasanya mendapat bagian melihat posisi kapal lain lewat periskop. Satu kata yang pas menggambarkan suasana di ruang kemudi: rame!

Pagi di Selat Madura

Apel pagi masih bisa cengengesan :p

Ratusan siswa yang menyambut Presiden SBY dari atas kapal

Pagi hari di tengah Selat Madura, siapapun bisa melihat terbentuknya matahari secara perlahan. Mulai dari semburat tipis, sedikit tampak, hingga membulat cantik. Semangat pagi juga ditunjukkan para TNI-AL wanita saat apel. Ternyata apel pagi tentara itu disiplin. Tapi tidak kaku. Buktinya, mereka masih bisa senyum-senyum:p. Sementara pagi hari dimanfaatkan ratusan siswa terpilih dari Jawa Timur untuk menyusun barisan menjelang waktu penyambutan Presiden SBY. 


Terbang rendah! Antara kaget dan takjub!

KRI Usman Harun 357 melintasi Terminal Teluk Lamong

Jika atraksi penerjun payung berada jauh dan tidak bisa saya potret. Maka atraksi gabungan pasukan TNI-AU dan TNI-AL membuat saya antara kaget, senang, dan takjub. Puluhan kapal perang dan helikopter lalat serta pesawat jenis Sukhoi meluncur bebas di depan saya. Tidak tinggi. Bahkan ada yang berada di depan kapal yang saya tumpangi persis. Rendah dan mengagetkan. Sementara atraksi TNI-AL lebih banyak parade kapal perang. Salah satunya hadirnya KRI Usman Harun 357 yang sempat menjadi kontroversi beberapa waktu lalu. Senang? Jelas saja, Tidak banyak orang memiliki kesempatan langka seperti ini. Perayaan HUT TNI ke-69 ini disebut sangat spesial dan akbar. Tentunya bukan karena Presiden SBY akan lengser. Tapi karena ini merupakan kali kedua perayaan HUT TNI dirayakan di Surabaya dan dilakukan dengan atraksi laut. Sebelumnya, perayaan serupa pernah digelar di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Wah, saya jadi bersyukur punya pengalaman langka seperti ini. Semoga dengan semakin bertambahnya usia Tentara Nasional Indonesia bisa membuat Indonesia semakin dikenal sebagai negara tangguh dengan alutsista mumpuni. Jaya negeriku, jaya tentaraku. Bersama rakyat, TNI kuat! 

KRI Banda Aceh

Monday, October 6, 2014

Suroboyo Carnival: Teman atau Lawan THR?

Suroboyo Carnival Night Market

Galeri foto Surabaya

Khas Suroboyo, Cuk! :p

Berkunjung ke Surabaya, umumnya wisatawan menginginkan wisata sejarah. Wajar, sebab lokasi kota tua di Surabaya cukup merata. Hampir di seluruh bagian Kota Pahlawan mengandung unsur sejarah. Itulah sebab, wisata kota berlambang ikan sura dan buaya ini didominasi oleh museum. Mulai museum kemaritiman, museum sejarah kemerdekaan, museum kesehatan, hingga museum seni. Serbamuseum.

Namun, Surabaya bukan hanya soal wisata sejarah dan museum. Ada wisata pantai, kuliner, religi, dan keluarga. Salah satu wisata keluarga terbaru adalah hadirnya Suroboyo Carnival Night Market (SCNM) yang ada di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo.

Akhir Juli lalu, SCNM resmi dibuka. Konsepnya mirip pasar malam. Ada 40 wahana permainan dan pasar yang menjual beragam barang. Mulai dari kuliner khas Surabaya, fast food, jajanan ringan, dan pernak-pernik dijual. SCNM merupakan bagian dari Jatim Park Grup yang menaungi Jawa Timur Park 1 dan 2, Batu Night Spectacular, Museum Angkut, Batu Secreet Zoo, dan Wisata Bahari Lamongan.


Ferris wheel dan kereta gantung

Pengunjung bisa menyewa e-bike jika capek berjalan

Masuk ke SCNM pengunjung hanya dikenakan biaya 20.000 (Senin-Kamis)-25.000 (Jumat-Minggu). Murah? Standar. Sebab, tiket yang dibanderol tidak termasuk tiket permainan. Persis dengan Batu Night Spectacular. Untuk harga tiket perwahana dipatok mulai 10.000-30.000 rupiah.  

Memasuki SCNM, pengunjung akan disuguhi aneka wahana permainan. Seperti Go Kart, Tambang Emas, Carousel, Ferris Wheel, dan masih banyak lagi. Di SCNM pengunjung juga bisa menikmati Taman Lampion untuk sekadar mengambil foto dengan tiket masuk sebesar 15.000 rupiah.

Untuk mencapai SCNM tidak ada angkutan khusus yang berhenti tepat di depannya. Sebab, lokasinya berada di jalan tol menuju Bandara Internasional Juanda. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan kota yang turun di depan Korem dilanjutkan dengan jalan kaki. Jika ingin pulang, management menyediakan shuttle bus yang akan membawa pengunjung ke tempat pemberhentian angkot.



Kerlap-kerlip banyak lampu hias

Tetapi, bicara SCNM berarti menyoal tentang keberadaan TamanHiburan Remaja (THR). Wahana permainan serupa yang ada sejak puluhan tahun lalu. Memang, keberadaan SCNM akan menambah pemasukan Surabaya secara drastis. Namun, apa kabar THR kini?

Saya pikir, sudah saatnya THR berbenah jika tidak ingin pengunjungnya beralih. Bukan sekadar mengubah cat, tapi juga bentuk. Sebab, terakhir kali saya mampir, seluruh wahananya tetap sama persis dengan zaman kanak-kanak. Saya berani menjamin, THR memiliki tempat di masing-masing warga Surabaya. Banyak memori yang ada di dalamnya. Bukan sekadar Srimulat pernah mengepak sayap di sana. Tapi juga tentang sejarah seni Surabaya hampir selalu diasah di tempat yang sama. Kenangan itu soal masa lalu. Tapi THR sudah sebaiknya menjaga kenangan warga kotanya agar tetap dicintai.

Jadi, kehadiran Suroboyo Carnival Night Market bisa menjadi teman sekaligus lawan bagi Taman Hiburan Remaja. Namun, keduanya tetap menghibur bagi warga Surabaya maupun luar kota!


Wahana permainan tidak jauh berbeda dengan di BNS

Saturday, October 4, 2014

Reporter Mengajar di Kelas Inspirasi

Relawan pengajar, fotografer, dan fasilitator Kelas Inspirasi Magetan

Menjadi bagian dari dunia pendidikan sudah pernah saya alami, bahkan hingga kini. Entah sebagai siswa, guru, atau reporter pos pendidikan. Ada banyak hal yang ingin saya komparasi. Mulai dari metode pengajaran efektif, medan menuju tempat belajar, guru pengajar, hingga fasilitas penunjang pendidikan di antarsekolah.

Selama sekolah, saya banyak menghabiskan waktu di Surabaya dan tiga tahun di Singosari Kabupaten Malang. Selebihnya, hanya informasi melalui surat kabar dan televisi yang bisa menggambarkan kondisi menyedihkan pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia. Menyedihkan? Ya, tentu saja. Ada banyak hal yang perlu dikupas tuntas jika mulai bicara pendidikan. Dan itu tidak sebentar. Tapi biarlah perubahan kecil dunia pendidikan dimulai dari saya sendiri.

Sebutlah Kelas Inspirasi. Sudah dua tahun Kelas Inspirasi diselenggarakan. Namun, masih sangat banyak orang tidak tahu menahu tentang kegiatan ini. Kelas Inspirasi (anggaplah sebagai) turunan dari Indonesia Mengajar, gerakan mengajar setahun di tempat dengan akses terbatas. Gerakan ini didominasi oleh mahasiswa baru lulus dengan IPK sebagai hard skill fantastis dan kemampuan organisasi sebagai soft skill mumpuni. Bedanya, Kelas Inspirasi hanya mengajar satu hari saja oleh pekerja dengan minimal dua tahun bekerja di bidangnya. Misalnya saya, sebagai reporter televisi lokal Jawa Timur, JTV.

Relawan pengajar Kelas Inspirasi Magetan

Saya bergabung Kelas Inspirasi pada 29 September lalu. Kabupaten Magetan menjadi pilihan. Kontur pegunungan, tidak ada tempat wisata menarik, supersepi, daerah dengan UMK paling rendah di Jatim, dan belum pernah mampir, menguatkan saya untuk memilih dan membandingkan secara langsung.

Jalanan menuju SDN Sukowidi 2, dekat Gunung Lawu

Sebelum masuk sekolah, siswa membersihkan halaman sekolah

Di SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan atau pos ketiga Gunung Lawu saya ditempatkan. Berbagai persiapan seadanya-sebisanya saya lakukan. Mulai dari menyiapkan peraga berupa televisi dan microphone berbahan sterofoam, materi bernyanyi, dan ice breaking, juga doorprize berupa majalah dan buku. Doorprize sepenuhnya disumbang oleh adik saya yang masih berusia sembilan tahun, Tita. Dia mau menyumbang buku setelah saya menceritakan kondisi sekilas dan foto tentang siswa SD yang akan saya ajar. Merasa iba pada teman sebaya, Tita menyumbangkan buku dan majalah yang menjadi benda favoritnya:’). Sementara televisi dan microphone dibuat untuk memudahkan cerita tentang profesi saya.

Peraga sebisanya. Televisi dan microphone

Doorprize dari Tita buat teman sebayanya

Saat mengajar, kelas dibagi menjadi dua, masing-masing 45 menit. Kelas 1-3 dan kelas 4-6. Metode pengajaran antarkelas dibuat berbeda. Di kelas dengan usia siswa lebih kecil, 7-9 tahun, saya lebih banyak bernyanyi, bertepuk tangan, ice breaking, dan sedikit memaparkan materi. Materi yang saya ajarkan di kelas hanya membandingkan antara film kartun dan berita. Saya juga memberikan candu bahwa menjadi reporter bisa keliling Indonesia, bahkan dunia. Peraga televisi dan microphone serta handycam dibawa serta untuk meyakinkan bahwa pekerjaan saya menarik :p. Doorprize saya berikan bagi siswa yang mau maju dan menceritakan cita-citanya atau mau menerangkan kembali tentang profesi reporter.

Berpindah ke kelas yang lebih tinggi membuat saya lebih nyaman. Sebabnya, hampir semua murid sama konyol dengan Tita. Jadi, saya menghadapi mereka seperti berbicara dengan adik bungsu. Menyenangkan!

Materi mengajar juga saya buat sama sederhana dengan sedikit modifikasi. Yakni mendeskripsikan pekerjaan reporter melalui tanya jawab, membandingkan berita dengan film kartun, lalu memeragakan layaknya reporter di depan kelas, serta mengajarkan nilai positif saat bekerja nantinya. Saya terinspirasi di kelas ini. Jika saya pernah grogi saat bicara di depan kamera, maka anak-anak ini tidak. Mereka dengan santai dan cengengesan melaporkan kebakaran dan banjir bandang lengkap dengan wawancara teman sebagai narasumber. Saya tidak banyak bernyanyi di kelas ini. Hanya lebih sering melakukan tepuk diam untuk mendiamkan kelas jika sedikit gaduh sementara saya harus berbicara.  Mengakhiri kelas, saya berikan ice breaking yang diajarkan fasilitator (panitia Kelas Inspirasi Magetan) saat briefing.

Di kedua kelas, saya awali dengan pola reportase. Saya masuk seolah-olah sedang melaporkan kejadian di kelas dengan siswa pandai. Dengan pola seperti itu, siswa bisa langsung fokus pada saya. Kalau pun tidak paham, pasti cuma melihat tapi memperhatikan :)).

Mengendalikan kelas

Belajar reportase

Siswa sebagai narasumber

Selesai materi dan istirahat, siswa diajak menuliskan harapan di kain putih. Harapan ditulis dengan menempelkan tangan menggunakan cat warna-warni lalu menuliskan nama dan cita-citanya. Tidak hanya siswa, fasilitator, relawan pengajar, dan fotografer juga ikut menuliskan cita-citanya. Bukan tanpa alasan, menuliskan cita-cita sejak dini bisa membuat siswa merasa terpacu untuk meraihnya. Saya hanya satu hari berinteraksi dengan mereka. Bisa saja apa yang saya sampaikan tidak sepenuhnya diserap. Mereka memang tidak ada yang ingin jadi reporter, tapi semoga apa yang saya sampaikan tersimpan—baik sedikit ataupun banyak—dan memberikan semangat tersendiri agar mereka mau belajar lebih tinggi. Karena penutup ilmu hanya berada di liang lahat.

Menulis cita-cita di tongkat impian

Bersama guru di SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan

Relawan pengajar, fotografer, dan fasilitator SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan

Saya bersama Taufik, murid yang persis dengan Tita