Skip to main content

Rujak Selingkuh, Kuliner Khas Sumenep

Apa yang kalian pikirkan tentang selingkuh? Mendua atau nggak setia? Hmmm, kalau saya, sih, mikirnya begitu. Tapi, tahukah kalian kalau selingkuh bukan hanya dialami oleh manusia dan hewan--secara hewan nggak berakal, nggak ada hukumnya, selingkuh sama anak pun nggak dosa--? Di Sumenep, perselingkuhan dialami oleh makanan.

Awal November lalu, saya mampir ke Sumenep untuk main-main. Salah satu hal yang wajib dilakukan saat jalan-jalan adalah mencicipi kuliner khasnya. Saya pun mencicipi kuliner yang bikin penasaran. Namanya, Rujak Selingkuh.

Usai jalan-jalan, Minggu siang itu, tour guide kami mengantarkan untuk mencicipi makanan khas Sumenep di daerah Pejagalan, dekat alun-alun. Saya nggak tahu persis nama jalannya, karena memang dari awal perjalanan sampai akhir, saya susah mengingat nama-nama dan lajur jalannya. Katanya Ari--teman baru yang menjadi tour guide--tempat makan yang menjorok ke dalam gang itu legendaris. Kami--tepatnya saya--sih, manut saja. Keburu lapar.

Ada tiga menu makanan yang ditawarkan; Rujak, Soto Babat, dan Rujak Selingkuh. Awal membaca menu, saya langsung tertarik dan memesannya.

Rujak Selingkuh adalah makanan serupa Soto Rujak dari Banyuwangi. Yakni, percampuran antara rujak dan soto dalam satu wadah. Isinya, separuh porsi Soto Babat dan separuh porsi Rujak Sumenep. Babat sapi, bumbu rujak petis, irisan buah, tauge, tahu, tempe, lontong, dan satu tambahan bahan unik; irisan singkong rebus!

Jadi, Sumenep ini memang dikenal dengan produksi singkong. Nggak heran, oleh-oleh paling banyak dicari dari Sumenep adalah keripik singkong!

Jangan tanya rasa perselingkuhan rujak dan soto. Sebab, sampai akhir, indra pengecap saya sulit membedakan rasanya. Mana rasa rujak, mana rasa soto. Mungkin, karena saat itu saya agak flu, jadi rasanya pun nggak kentara di lidah. Yang paling saya ingat, perselingkuhan rujak dan soto memberikan rasa manis berlebihan di lidah dan pedas--mending sambal, karena saya nggak suka makanan manis, tentunya--juga efek kenyang luar biasa. Seporsi Rujak Selingkuh hanya dihargai 11.000 rupiah, sama persis dengan harga Soto Babat. Murah? Standarlah ya. Di Surabaya harga makanan seporsi juga segitu. Jadi, kalau ke Sumenep, bisa banget incip-incip Rujak Selingkuhnya. Lalu, ceritakan pada saya bagaimana rasa aslinya, hehe.

Btw, lepas makan siang itu sampai sekarang saya penasaran dengan satu hal; jadi, awal mula perselingkuhan di muka bumi ini diawali oleh rujak atau manusia? Rujak menginspirasi manusia untuk berselingkuh atau manusia menginspirasi rujak untuk mendua? Ini permasalahan serius.

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…