Saturday, December 27, 2014

Kaleidoskop 2014

Saya pikir, tahun 2014 adalah tahun suka cita. Bukan apa-apa, hanya saja, saya merasa di tahun ini banyak sekali kejadian tak terduga yang didapat. Senang, sedih, kaget, bahagia campur haru, semuanya ada di tahun ini. Kejadian yang menurut saya paling besar terjadi di tahun ini adalah: saya mendaftarkan diri untuk sekolah lagi. Kejadian yang dulunya menurut saya mustahil saya lakukan. Alhamdulillah. Tapi tentunya, saya senang karena sepanjang tahun 2014 ini saya banyak menghamburkan uang untuk jalan-jalan, hahaha.

Januari
Di awal Januari, saya langsung mengajukan cuti dua hari untuk pergi bersama keluarga ke Kawah Ijen, Pantai Papuma, dan Pantai Pasir Putih. IKut acara kantor ayah itu selalu terjamin. Selama tiga hari perjalanan, saya nggak mengeluarkan uang sama sekali, perut kenyang, dan hati senang gembira. Hahaha.

Bareng ayah dan Tita di Kawah Ijen

Februari
Nggak ada rencana kemana-mana. Hanya ke luar kota, tepatnya di Tuban untuk menghadiri pernikahan Mas Aris Jawa Pos. Spesialnya, momen itu juga menjadi momen perpisahan dengan Rizal yang memutuskan untuk resign dari Jawa Pos demi hitchhiking ke Asia, bahkan dunia. Beeeh, salut! Perpisahan disusul oleh Mas Aris dan Fikri yang pindah ke Jakarta mencari semangkok berlian.

Di momen ini, saya juga mendapat pesan dari Rizal. Pesan yang buat saya penting tapi susah dilakukan. "Kalau memang suka jalan-jalan, kalau bisa jangan tidur di perjalanan. Justru di perjalanan adalah momen tepat untuk mencari tahu banyak hal." Yaelahaa, itu pesan yang susah banget dijalankan. Secara saya pelor luar biasa, meski tidur hanya beberapa menit sekalipun pokoknya harus tidur, hhehe. 

Mas Aris, Dinda, saya, Fikri, dan Rizal di kondangan Mas Aris

Maret
Bulan Maret adalah jatah jalan-jalan dari kantor. Kebetulan saya mendapat jatah empat tiket. Namun hanya Ilma yang bisa ikut. Nah, karena saya nggak mau rugi, saya pun mengajak dua teman saya untuk ikut serta ke Taman Safari Prigen. Lumayan, kan, ya? *cerdas tiada tara :))*

Beruang madu di Taman Safari Prigen

April
Bulan April rencana main-main saya hanya di sekitar Malang. Tujuannya jelas pantai. Pantai Ngliyep dan pantai perawan Jonggring Saloko. Main-main di tempat jauh dengan jalan hancur, bonus jatuh dari motor. Lumayan buat kenangan  mengingat partner saya, Navis dan Har, sekarang sudah balik badan dari Malang. *peluk satu-satu*

Saya, Har, dan Navis di Pantai Jonggring Saloko

Mei
Bulan Mei saya ke Lombok, NTB. Berdua saja dengan teman. Bepergian jauh ternyata beneran bisa menghilangkan pikiran dari pekerjaan yaa. Saya senang sekali liburan di sini. Air laut yang hijau toska bercampur biru bening, pasir putih halus, hijaunya pepohonan, semuanya indah! Puas meski sempat ruwet saat ngeteng tapi overall, saya senang!

   
Di Gili Amatra

Juni
Bulan Juni, saya pergi bersama plurker Suroboyo. Tujuannya masih di Jawa Timur, tapi cukup jauh. Di Pacitan. One day trip seminggu sebelum puasa. Karena posisi Pacitan ada di selatan, otomatis wisata yang ditawarkan adalah wisata pantai. Sehari, kami menjelajah di 6 pantai menggunakan mobil carteran. Lumayan murah untuk liburan sehari bertujuh orang. Hati senang dan riang.

Di Pantai Banyutibo

Juli
Saya enggak kemana-mana. Gegaranya, saya mendapat peluit dari ayah akibat terlalu banyak jalan-jalan *mestinya maklum yaa, kan baru punya duit :))*. Saya hanya menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Batu saat lebaran. Tapi teteup, menyenangkan karena saya betul-betul liburan khusus untuk keluarga.  
 
Bianglala Kota Wisata Batu

Agustus 
Masih dalam peluit ayah, saya enggak kemana-mana di bulan spesial ini. Uang jalan-jalan saya, saya alihkan untuk daftar studi magister. Sebelum yakin, saya berkali-kali diyakinkan ayah dan ibu tentang konsekuensinya. Yang jelas, tujuan saya kuliah lagi hanya satu: belajar. Saya tidak tahu tujuan perjalanan saya berikutnya seperti apa, saya menjadi apa, bekerja di bidang apa. Yang saya tahu, saya hanya perlu mempersiapkannya. Hitung-hitung mengisi waktu luang di tengah pekerjaan. Meskipun, tidak dimungkiri, ada beberapa teman saya yang sangsi pada keputusan saya ini. Saya sih cuek saja. Biar Allah yang membukakan jalan hidup saya. Doakan saya bisa kuliah sambil kerja sampai selesai ya:).

September
Ternyata kuliah sambil kerja itu susah. Hahaha. Setidaknya itu yang saya rasakan di bulan pertama saya kuliah. Akibatnya, saya langsung mengambil cuti dan lari dari kenyataan dengan penjelasan panjang lebar ke ayah, ehehe. Di bulan September, saya melarikan diri untuk mengikuti kegiatan yang cukup prestise. Menjadi bagian dari Indonesia.Travel dan menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Magetan. Bayangkan, kurang prestise apa, sih, saya? Hahaha. Selama di dua kota tersebut, tentu saya jalan-jalan. Ke Museum Angkut, menengok budidaya jamur, dan Pura Giri Arjuna. Lalu di Magetan, saya mencicipi tempat nongkrong anak gaul Magetan, ke Telaga Sarangan, dan ke perkebunan stroberri. Mungkin, karena tujuan jalan-jalannya oke, jadi ayah mengizinkan saya keluar setiap minggu di bulan ini :D.

Bareng seluruh peserta workshop Indonesia.Travel

Bareng relawan dan fasilitator Kelas Inspirasi Magetan

Oktober
Karena bulan September saya mendapatkan lampu hijau untuk jalan-jalan, akibatnya saya merasa cukup tahu diri. Antisipasi kalau sewaktu-waktu saya nggak dapat izin jalan-jalan, saya mengerem keinginan saya untuk ke luar kota. Waktu senggang saya manfaatkan untuk ke Surabaya Carnival Night Market bareng Laila. Lumayan menyenangkan, secara itu kali pertama saya masuk sana setelah dibuka Juli sebelumnya.

Selamat datang di Surabaya Carnival Night Market

November
Awal bulan November, saya pergi bersama teman kuliah ke Pulau Madura. Tepatnya di Sumenep, kabupaten paling ujung dari Pulau Madura. Ngapain? Wisata pantai menghilangkan stres kebanyakan tugas, hahaha. Serius, ternyata sekolah magister itu banyak tugas! *ngakak sambil nangis* Kami pergi ke kraton Sumenep, museum, Pantai Lombang, dan Pantai Slopeng.

Kami di Pantai Lombang

Desember
It was great! Saya stres luar biasa. Tugasnya makin banyak, belum belajar UAS, dan saya pindah pos baru. Komplit. Saya akhirnya kabur ke Semarang dan Magelang sendirian. Waaah, serius! Saya benar-benar menikmati liburan di pertengahan bulan Desember. Banyak pelajaran, banyak bertemu orang baru, banyak melihat gunung yang menenangkan, banyak hal lain lagi yang membuat saya lupa dengan capek, apalagi tugas di Surabaya. Semuanya hilang. Alhamdulillaaah. Meskipun pada akhirnya pulang ke Surabaya kembali menatap layar laptop, setidaknya stres sudah hilang :D.

Bulan ini saya juga jalan-jalan nggak jelas bareng keluarga. Ini momen paling jarang di luar lebaran. Sebab, kami sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Di rumah hanya say hi, ngobrol sebentar, lalu menghilang pagi, pulang malam. Hampir begitu setiap hari. Jadi, meski jalan-jalan bareng keluarga pada akhirnya nggak jelas tujuannya, yang penting sudah bercanda dan berbincang banyak hal di luar rumah. It was a great moment! 

Saya senang! :D

Akhirnya komplit :)

Sepanjang 2014 ini saya merasakan perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saya bersyukur bisa melalui apa saja yang menjadi penghalang meski harus pelan-pelan. Meski tahun ini sudah menyenangkan, melegakan, dan banyak hal asyik yang saya dapat, saya yakin di tahun 2015 akan ada yang lebih baik dan menyenangkan yang bisa saya dapatkan. Alhamdulillah, saya siap bersenang-senang di tahun depan. Semoga tidak banyak masalah baru yaa :)). 

Monday, December 1, 2014

Gara-gara Prewedding

Kami sama-sama penyuka traveling. Suka sekali. Kemanapun, jika sedang sama longgar, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Entah dengan teman-temannya, atau temanku, atau berdua saja. Tidak di Surabaya, tentunya. Di luar kota.

Saking sukanya kami dengan jalan-jalan, hampir setiap bertemu, setiap berkomunikasi, materi yang dibahas adalah; kemana liburan kita selanjutnya? Selalu.

Hanya saja, kesukaan kami berbeda. Aku suka sekali dengan pantai. Deburan ombaknya yang menenangkan, pasir putih halus menggelitik telapak kaki, angin semilir menentramkan, semua lepas. Melepaskan hampir seluruh penat di tiap-tiap persendian.

Sementara dia, penyuka gunung tingkat dewa. Jangan tanya berapa kali kami berdebat memutuskan tempat tujuan liburan. Berkali-kali dan selalu. Alhasil, jalan keluarnya kami sama-sama mengalah.

Seperti bulan lalu, saat kami memutuskan untuk ke Gunungkidul, Jogjakarta. Sehari kami ke belasan pantai selatan, sehari berikutnya kami naik Merapi, sehari sisanya kami ke Gua Pindul. Perpaduan antara pantai dan gunung. Ada air dan bebatuan. Klise.

Sebagai anak gunung sejati, persiapannya komplit luar biasa meski hanya sehari dan tanpa mendirikan tenda. No besar. Awal perjanjian begitu. Kalau memang mau adil, kami tidur di hotel, bukan membuka tenda hanya karena urusan selera tempat liburan. Aku tahu persis, kalau sudah membuka tenda, dia nggak bakal mau cepat pulang. Kebiasaan.
***

Hari ini kami ribut, lagi. Alasannya lagi-lagi masalah selera. Menentukan tempat prewed yang cantik dan eksotis. Kami ribut. Mau gunung atau pantai?

Seperti biasa, aku ngotot ke pantai. Alasannya, sunset atau sunrise di pantai itu romantis. Cewek banget, kan, ya? Sementara dia juga ngotot berat mau ke gunung. Tujuannya ke Bromo. Lengkap dengan motor vespa bututnya.

Plislah, masa iya ke gunung naik vespa? Lagipula, ini Bromo, gunung pasir. Masa iya, sih? Berkali-kali aku tanya ke dia, "Are you crazy or what?"

Coba dipikir, Bromo memang eksotis. Sunrise di sana dikenal cantik. Tapi menuju ke sana nggak harus penuh perjuangan juga, kan? Apalagi buatku yang nggak begitu suka gunung, nggak suka capek, apalagi ribet. Kalau ada yang mudah, kenapa harus ribet?

Belum lagi dia ingin foto dengan latar penuh Bromo. Yang artinya, vespa butut-warna-oranye-ngejreng-yang-katanya-sesuai-selera-warna-kesukaanku-padahal-nggak-juga-itu dibawa sampai ke lautan pasir. Yang artinya lagi, kami harus menuruni kelokan 45 derajat untuk sampai ke sana. Kelokan tajam dan bikin sesak napas. Lalu, lautan pasir harus ditempuh untuk benar-benar berada di puncaknya. Nggak kebayang. Aku pernah sekali ke Bromo menggunakan motor, itu capek sekali. Perlu tenaga ekstra mengingat roda motor nggak secanggih mobil off road. Lah, ini malah pakai vespa. Dia masih waras, kan?

Sebenarnya, aku nggak masalah dia menggunakan vespa sebagai properti wajib untuk prewed. Tapi, mbok ya dia lihat situasi dan kondisi. Iya, aku tahu kalau vespa ngejreng itu cinta sejatinya. Tapi... ah, sudahlah.

Kupikir, pantai memang satu-satunya tempat paling aman untuk liburan. Tenang, nyaman, dan damai. Ya ampun, apalagi yang diragukan dari pantai, sih? Kalau ada orang tenggelam di pantai, masa iya salah pantai? Kalau ada pantai jorok dan kotor, masa iya aku pilih pantai itu? Di pantai, semua bisa dilogika. Nggak susah dijangkau dan membebaskan pikiran.

"Jadi, sampai hari ini kalian masih ribut?" Gista, temanku yang juga temannya, bertanya padaku. Wajahnya tampak nggak habis pikir dengan kelakuan kami. Aku maklum saja. Gista, kan, nggak merasakan sebagai aku. Sebagai partner in crime pemuda yang nggak mau ngalah. Wajar.

Aku mendengus saja.

"Sudah, seminggu nggak komunikasi, kan? Itu lama banget, loh, buat ukuran wanita yang mau menikah. Apalagi tinggal satu kota." Gista masih nyerocos. Biarin sajalah, terserah dia menganggap hubungan kami semacam apa. Toh, dia nggak ikut menjalankan peran.

"Eh, tapi, memangnya prewed itu perlu banget ya? Wajib gitu?" Tiba-tiba nada kalimat Gista berubah nggak yakin. Aku apalagi.

Tanganku mencubit pipi kanannya. "Kamu pikir, kalau prewed nggak penting, bisa bikin kami gondok-gondokan selama seminggu gitu?"
***

Rasanya aneh, tanggal pernikahan sudah ditentukan tapi kami malah berantem. Ada gitu lebih dari dua minggu. Meeen, dua minggu! Bayangpun, dua minggu berantem hanya karena menentukan latar prewed. Demi masa. Apa kabar gedung, catering, dan riasan manten ya?

Aku mematut diri di cermin. Memanyunkan mulut sesekali melihat hape. Nihil. Dia masih keukeuh nggak menghubungi aku. Kok dia bisa kuat, sih? Aku gemas sendiri. Laki-laki payah.

"Mau sampai kapan kalian berantem begini, heh?" Tara, sepupuku yang merangkap menjadi fotografer pesananku muncul tiba-tiba. Di pundaknya menggantung kamera mahal properti wajib yang harus dibawa.

Fiuuuh. Aku menghela. Bergeming. Hanya melihatnya sekilas lalu abai.

"Oh iya, dia punya usul baru. Mau ke Pantai Merah atau ke Ijen Crater?" Tara melempar tanya. "Nggak harus pakai vespa, sih."

Heh? Serius, kalimat tambahan Tara langsung membuatku kaget. Prewed? Tanpa vespa bututnya? Kok bisa gitu? Aku memainkan bola mata, berpikir. Sejenak-dua, hapeku sudah menempel di telinga.

"Kenapa, sih, menikah harus ribet dengan prewed?" Aku bertanya pada suara di seberang. Rasanya tenang begitu mendengar kabarnya baik saja. Aku kangen.

Dia tertawa.

"Memangnya, menikah dengan prewed itu perlu?"

Di sana, lelakiku masih tertawa.

"Kenapa kita nggak melupakan semua tentang prewed lalu berbaikan? Aku kangen tau." Aku gemas sendiri. Sial. Harga diriku bisa tiba-tiba jatuh begini di depannya.

Dua detik, ada senyap di antara kami. "Ya sudah, kutunggu di Stasiun Semut sekarang. Ajak Tara juga." Dia menutup kalimatnya dengan tersenyum. Aku tahu itu.

Seketika aku teringat, bahwa kami juga memiliki kesukaan lain. Bangunan tua dan kereta api. Semuanya ada di Stasiun Semut. Ah, kenapa aku bisa lupa. Seandainya menikah nggak perlu ribet.

Aku berkemas kegirangan. "Kita berangkat ke Semut. Pemotretan di sana." Sahutku senang pada Tara.

Sarangan: Telaga di Kaki Gunung Lawu

 
Gunung Lawu dari Telaga Sarangan
 
Pernah ke Magetan? Jujur saja, saya baru kali pertama ke Magetan September lalu. Sebelumnya, hanya numpang lewat. Kali pertama ke Magetan lantaran saya ikut dalam Kelas Inspirasi sebagai relawan pengajar. Dua kali saya ke Magetan, dua kali pula saya mendapat sambutan hangat dari teman-teman baru *sungkem*.

Minggu pertama ke Magetan, saya ngotot sekali ingin ke Telaga Sarangan. Iya, maskot wisata yang dipunya kabupaten yang dikenal dengan budidaya jeruk pamelo. Saya kenal Telaga Sarangan sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Saat itu, di buku Bahasa Inggris ada materi bacaan tentang Telaga Sarangan, penginapan, speed boat, dan sewa kuda. Sejak saat itulah saya penasaran dengan Telaga Sarangan. Norak? Biarin aja.

Pagi itu, setelah sarapan Tepo Pecel, saya dan 4 teman (Mbak Sasa, Mas Andian, Mbak Eka, dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--) berangkat menggunakan motor. Jalanan Magetan pagi super sepi, sejuk, dan menenangkan. Yakin, saya betah berlama-lama di sana--asalkan ada mal, kafe, bioskop, bolehlah sebulan-dua:p. Inilah bedanya Magetan dan Surabaya. Sekitar pukul 8 pagi, jalanan masih adem ayem. Beda banget sama Surabaya yang padat dan penuh polusi.

Berkendara sekitar 30 menit, kami sampai di Telaga Sarangan, Plaosan. Tidak ada tiket masuk di sini. Layaknya daerah wisata lain yang saya jumpai, Telaga Sarangan menerapkan asas warga asli Magetan monggo masuk gratis. Kira-kira begitu. Sebabnya, Mas Andian dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--asli Magetan. Jadi, langsung menerobos pintu masuk, hehe.

Awal parkir di telaga yang berada di kaki Gunung Lawu hal yang saya takjubkan adalah; ini tempat wisata apa? Kok susunan daerah wisatanya berantakan? Maklum saja, sekilas saya melihat, mobil dan sepeda motor ada dimana-mana, nggak ada aturan. Tata wisatanya jelek. Serius. Bukan saya menghina atau apa, tapi saya sebagai wisatawan domestik kaget begitu melihat pertokoan ada di tengah jalan dengan ketumpah-ruahannya.  How come?


Semrawutnya tatanan wisata Telaga Sarangan

Lupakan kesemrawutan di depan. Kami menjejakkan kaki tepat di bibir telaga. Melihat-lihat pengunjung lain tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Menawar dagangan, naik kuda, menawar speed boat, makan Tepo Sate Kelinci. Ramai. Mbak Eka mengajak kami naik speed boat seharga 50 ribu rupiah sekali putaran telaga perkapal. Saya menolak karena enggak minat. Tapi akhirnya luluh dengan wajah iba Mbak Eka yang serius sekali menawarkan naik speed boat gratis *muka gratisan*



Bisa naik boat atau pun kereta kayuh

Awalnya, saya ingin sekali ke Air Terjun Tirtosari. Tapi, melihat saya dikejar waktu dan kondisi teman-teman kelelahan, maka ditunda. Agenda berikutnya hanya duduk manis di tepi telaga. Ada buanyak sekali penjaja minuman hangat mengitari telaga seluas 30 hektar lengkap dengan gelaran tikar dan angin semilir. Minuman dan jajanan hangat siap disantap dengan harga standar. Bagi yang tidak ingin lelah, sampai di Sarangan bisa banget hanya duduk di tepi telaga sambil memakan bekal dan sharing. Suasananya tenang dan tentram membuat saya lupa akan penatnya Surabaya. Saya senang di sini. Di sepanjang mata memandang, hamparan pepohonan hijau mengelilingi. Tenaaang. Tertarik buat ke Telaga Sarangan?

Bisa naik kuda juga, 40.000 rupiah sekali putaran 

Tatanan penginapan di lekuk pegunungan 

Telaga Sarangan bisa ditempuh dari Surabaya menggunakan bis ekonomi jurusan Jogja turun di Terminal Maospati. Dari Maospati bisa naik ojek atau sewa motor ke Sarangan. Karena sepanjang pengamatan saya, nggak ada angkot menuju Sarangan. Nggak usah bawa uang saku banyak-banyak, di sana harga apa-apa murah. Jadi, kapan dong kalian ke Magetan?