Thursday, January 29, 2015

600 Ribu Bisa Keliling Belitung 4 Hari 3 Malam!

Hei, hei, apa yang kalian pikirkan soal Belitung? Mahal? Jauh?

Eits, ternyata, Belitung itu enggak mahal sama sekali! Nggak percaya? Buktinya, nih, saya ke Belitung empat hari tiga malam 'cuma' menghabiskan 600 ribuan aja, lo!

Ongkos segitu saya keluarkan selama di Belitung, sudah termasuk makan, penginapan, transportasi, dan biaya tiket masuk tempat wisata. Semuanya dibagi berempat. Tentunya, nggak termasuk tiket pesawat dan airport tax PP SUB-CGK, PP CGK-TJQ, serta oleh-oleh.

Barangkali kalian tertarik, berikut tujuan dan tetek bengek kami selama di Belitung.

Day 1
Travel dari Bandara Hanandjoeddin-Hotel Surya 25.000
Hotel Surya @ 50.000 x 3 hari =150.000
Tiket wisata Kawasan Hutan Konservasi Batu Mentas 10.000
Makan siang di Mi Atep Belitung dan 2 gelas es teh 23.000
Sewa motor perhari 60.000 (x2 dibagi berdua) = 60.000
Bensin 1 liter 8.000/ 2 = 4.000
Tiket masuk Tanjung Pendam 2.000
Ngopi malam gang enam puluh 3.000
Air mineral 1,5 liter dan biskuit 13.000
Total Day 1==290.000

Day 2
Sewa kapal keliling pulau + snorkel + life jacket 610.000/ 4 = 152.500 (kena harga mahal, nih. Ada yang cuma 500.000 udah komplet snorkel + life jacket)
Bensin 1 liter 7.000/ 2 = 3.500
Tiket mercusuar Pulau Lengkuas 5.000
Tiket Bukit Berahu 2.000
Makan malam di resto Timpo Duluk (sayur asam, tahu tempe sambal lumpang, berego, es jeruk kunci) 40.000
Keripik singkong Belitung 7.500
Total Day 2==210.500

Day 3
Sewa mobil 250.000 dan bensin 100.000 (350.000/ 4 = 87.500)
Tiket masuk Bukit Batu 5.000
Ngopi-O di Warung Kopi Atet, Manggar 7.000
Ngopi kuli di Museum Andrea Hirata 5.000
Tiket Museum Andrea Hirata 2.000
Gorengan hore penunda lapar 6.000
Rujak Tahu dan Es Jeruk Kunci 17.000
Ngopi susu malam di gang enam puluh 5.000
Total Day 3==134.500

Day 4
Travel dari Hotel Surya ke Bandara Hanandjoeddin 25.000
Total Day 4==25.000

TOTAL 4 HARI 3 MALAM DI BELITUNG====660.000 perorang!
Jadi, gimana? Tertarik nggak buat ke Belitung? Kalau biaya akomodasi bisa murah, kenapa enggak? Apalagi, kalau rombongannya rame-rame. Meeeh! Pasti lebih irit!

Oh iya! Kalau tiket CGK-TJQ dimasukkan, jatuhnya harga juga nggak mahal kok. Kami dapat promo early bird Garuda Indonesia PP 760.000. Airport tax Cengkareng 40.000. Sementara airport tax Tanjung Pandan 15.000. Lihat nah, 660.000 + 815.000 = 1.475.000. Nggak sampai sejuta lima ratus! Murah yaa.

Harga segitu nggak mahal kalau dibandingkan dengan keindahan alam Belitung. Seriously, liburan ke Belitung worth it banget!

Yuk, ke Belitung!

Wednesday, January 28, 2015

Primata Langka Dunia Ada di Belitung

Coba tebak, apa yang unik dari Belitung, selain budaya ngopi?

Kata Iwan, teman saya asli Belitung, yang unik dari Belitung adalah Tarsius di Batu Mentas. Apa coba Tarsius?

Adalah Tarsius bancanus saltator primata langka di dunia yang hanya ada di Belitung. Keberadaan genus Tarsius di Indonesia sebenarnya ada dua--yang lazim ditemui--yakni di Sulawesi dan Belitung. Bedanya, Tarsius di Sulawesi ukurannya lebih kecil, sementara di Belitung sebesar kepalan tangan orang dewasa. Setidaknya, itu yang dijelaskan Mas Tarmidzi, guide dadakan kami saat datang ke Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas, Badau, Belitung Barat, kemarin.

Tarsius memiliki fisik yang hampir sama dengan primata lain. Bedanya, dia adalah hewan nocturnal yang aktif di malam hari. Tetapi, saat kami ke sana, Tarsius jantan tidak sedang tidur. Malah matanya terbuka lebar-lebar. Ini yang membuatnya tampak lucu. Badannya kecil, matanya selebar piring. Serangga menjadi makanan pokoknya.

Di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas ini, Tarsius hanya ada dua. Satu jantan dan satu betina. Keduanya diletakkan di kandang yang berbeda. Kata Mas Tirmidzi, mereka adalah hewan setia yang nggak bisa sembarangan kawin. Itulah sebab, keberadaannya kini semakin menipis di Bumi Timah. Kesetiannya pada pasangan persis merpati.

Menurut cerita, Tarsius di Belitung dulunya adalah sebagai simbol kesialan warga setempat, pemburu babi hutan. Barangsiapa yang berburu bertemu dengan Tarsius maka dia tidak akan bertemu dengan hewan buruan. Tarsius pun dibunuh dengan alasan agar tidak mengganggu perburuan. Tak jarang setelah dibunuh, Tarsius dimasak untuk dimakan ramai-ramai.

Keberadaan Tarsius yang kian menipis, membuat Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dibangun pada 2011. Letaknya persis di perbukitan, yang jamak disebut Gunung Tajam.

Dua kandang Tarsius sebagai tempat konservasi, edukasi, dan penelitian. Tetapi di perbukitan sekeliling, Tarsius masih beberapa ditemukan. Pembangunan Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemda akan keberadaan primata langka dunia. Tentulah ini sebagai sarana edukasi masyarakat lokal dan wisatawan. Bahwa Tarsius bukanlah hewan pembawa sial. Tetapi justru hewan yang perlu dilindungi karena populasinya yang terbatas.
Tarsius di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas memang langka dan dilindungi. Namun, siapa bisa menjamin keberadaannya, jika masyarakat dan wisatawan enggan untuk peduli pada satwa asli Indonesia dan satu-satunya di dunia? Apalagi dengan harga tiket masuk yang hanya 10.000 rupiah.

Tarsius Belitung

Tuesday, January 27, 2015

Mencicip Budaya Ngopi Warga Belitung

Bicara Belitung, tentu kita ingat cerita novel dan film laris Laskar Pelangi. Tapi, apa yang tenar dari pulau yang dikenal memiliki latar pantai ciamik soro itu? Ngopi! Ya, Belitung bukan hanya soal pantai. Ngopi juga.

Belum sehari di Belitung, saya sudah mencicip budaya asik warga lokal. Saya dan tiga teman mencoba gaul dengan ngopi. Setelah cuti ngopi lima bulan, akhirnya... saya ngopi juga. Asik banget!

Budaya ngopi di Belitung ternyata sudah mengakar. Apa-apa hampir selalu ada di warung kopi. Maksudnya, semua pembicaraan baik kecil maupun berita heboh pasti diramu di warung kopi.

Malam ini, kami ngopi asik di warung kopi legendaris di pusat kota Belitung, Tanjung Pandan. Tepatnya di Jalan Sriwijaya gang 60. Tempatnya nyempil sekali, tapi warga lokal yang nongkrong asik banget. Umumnya bapak-bapak berumur yang kerap menghabiskan malam sambil nongkrong. Salah satu pengunjung yang saya temui adalah Pak Muhammad.

Di warung Koh A Tiam, kami berbincang cukup panjang. Mulai dari riwayat penamaan gang 60 sampai kenapa harus ngopi?

Gang 60 dulunya merupakan wilayah perumahan warga Tionghoa. Cina semua. Menghuni enam puluh rumah di gang di tengah kota. Sekarang, keberadaan warga Tionghoa di gang 60 sudah bercampur dengan warga Melayu. Mereka tetap bersatu padu menempati bangunan lama yang tak banyak berubah.

Sementara budaya ngopi sudah kental meski Babel bukan daerah penghasil kopi.

Di gang 60, ada beberapa warung yang menjual kopi seduh. Semuanya lama sejak 1945. Namun Koh A Tiam adalah pedagang baru. Dia baru membuka warung kopi pada 2004. Namun dia satu-satunya warung kopi yang buka di gang 60 kala malam tiba.

Bertandang ke tempat legendaris dengan arsitektur superoldiest memberikan rasa tersendiri. Teman ngobrol bapak-bapak asik, tempatnya nyaman, suasana bersahabat. Apalagi yang dicari selain ketenangan? Malam pertama di Belitung menyenangkan. Menghabiskan malam hanya dengan segelas kopi hitam seharga tiga ribu rupiah. Bercanda sampai puas dengan warga lokal. Membicarakan sejarah warga dan kebiasaan lokal.

Ngopi di Belitung ternyata asik. Besok pagi, setelah berenang, rencananya kami mau balik ngopi lagi. Lalu sehari ke Manggar, mau ngopi lagi. Aihhh... ngopi yang membudaya!

Wednesday, January 21, 2015

Sabtu Pagi di Candi Gedong Songo

Hijaunya Kompleks Percandian
Langit masih gelap saat bus antar kota antar provinsi melaju pelan. Terminal Solo pagi itu tidak sunyi. Belasan tukang ojek menawarkan jasa. Tidak tampak layu di wajahnya. Hanya harapan jasanya laris di pagi buta. Bahkan, pagi sebelum ayam berkokok.

Saya bukan satu-satunya penumpang yang turun dari bus dan mendapatkan tawaran mereka. Namun, saya menolak. Saya butuh toilet dan bus menuju Bawen, Semarang. Tidak ada bus pagi buta pukul 3.15. Menunggu subuh di musalla adalah rencana awal saya.

Bis menuju Bawen, Semarang megah sekali. Bagaimana tidak? Hanya 15.000 rupiah, saya bisa naik bis kelas ekskutif, ber-AC, dan empuk plus nyaman. Mirip sedang berdarmawisata. Bis pertama sekitar pukul 4.30. Jalanan Solo-Semarang Sabtu pagi lengang luar biasa. Mungkin masih terlalu pagi atau mungkin memang sepi. Yang jelas, saya menyukainya.

The twin brother, Sindoro-Sumbing
 
Sekitar 90 menit perjalanan, saya tiba di Terminal Bawen, Semarang. Tujuan perjalanan kali ini adalah Candi Gedung Songo. Mungkin sudah terlalu mainstream, tapi tidak mengapa. Kapan lagi?

Untuk menuju Candi Gedung Songo, dari Terminal Bawen, Semarang, bisa oper angkot dan ojek.

- Angkot dari Terminal Bawen-Ambarawa (Pertigaan Pauline) biayanya 3.000 rupiah (10 menit).
- Ambarawa (Pertigaan Pauline)-Sumowono (SPBU Sumowono) biayanya 6.000 rupiah (20-25 menit).
- Sumowono-Candi Gedong Songo naik ojek 10.000 (10 menit).

Candi Gedong Songo Sabtu pagi luar biasa sepi. Saya pengunjung ketiga yang masuk tempat wisata tersebut. Loket belum buka dan saya masuk dengan gratis. Tiket normalnya 7.500 rupiah.

Merapi-Telomoyo di antara kabut

Candi Gedong Songo merupakan komplek percandian yang dibangun berderet dari bawah hingga puncak perbukitan. Candi ini dibangun di antara Gunung Telomoyo, Ungaran, Merapi, Sumbing, dan Sindoro. Karakter ini menunjukkan perpaduan antardua kepercayaan; animisme atau memuja roh nenek moyang dan Hindu yang menganggap gunung adalah tempat tinggal para dewa. Kedua kepercayaan tersebut mampu hidup berdampingan seiring dengan perubahan arti baru. Yakni tempat atau persembahan roh nenek moyang yang telah menjadi dewa dan ritus dilakukan di dalam candi.

Dari namanya, dulunya komplek percandian ini terdapat sembilan bangunan. Namun saat ini hanya tersisa lima bangunan candi. Yakni Gedong I-V yang bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda berbiaya 70.000 rupiah. Saya memilih berjalan kaki di Sabtu pagi supersejuk di kompleks percandian. Hemat kantong dan sehat.

Berkuda di perbukitan

Gedong I adalah bangunan candi pertama yang paling mudah dicapai. Letaknya tepat di depan setelah pintu masuk. Candi ini terdiri dari satu bangunan kokoh persis dengan Gedong II. Yang membedakan hanya dari bagian ujung candi. Dari Gedong I ke Gedong II jalan setapak mulai menanjak. Lokasi yang sepi dan berjalan sendiri membuat saya mengira salah jalan. Beruntung saya bertemu ibu pemilik warung kopi yang tengah bersiap menjajakan dagangan. Wisatawan yang datang sendiri seperti saya tidak perlu risau. Sebab, jalanan menuju percandian ternyata hanya satu dan sudah cukup jelas.

Candi Gedong I

Candi Gedong II 

Dibandingkan dengan Gedong I dan II, Gedong III adalah candi yang paling bagus. Bahkan, saya menghabiskan waktu lebih lama di sini hanya untuk berpose nggak jelas :)). Ada tiga bangunan candi di sini dan tampak nyata di kejauhan Gunung Merapi dan Telomoyo berbalut kabut. Aih, cantik! Apalagi saya menikmati saat pagi nan sepi. Wah, syahdunya dapet banget.

Candi Gedong III dengan sekumpulan awan

Ada pemandian air hangat bersumber belerang 

Perjalanan ke Gedong IV dan Gedong V saya lewati dengan senyum cengengesan saking senangnya di tempat ini. Dingin, sejuk, dan sepi. Mirip saat saya ke Dieng tahun 2013 lalu.

Bangunan Gedong IV dan V sebenarnya ada banyak. Namun yang tersisa masing-masing hanya satu. Sisanya adalah reruntuhan yang berpetak-petak. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya bertemu dengan penduduk lokal membawa dagangan cemilan ringan. Mereka ramah. Ramah sekali. Bahkan takjub ketika tahu saya datang sendiri dari Surabaya.

Gedong IV

Gedong V 
 
Semula, teman saya bilang, butuh waktu dua jam untuk berkeliling kompleks Candi Gedong Songo. Memang betul. Tapi, seandainya saya nggak banyak berfoto dan berdiam sambil senyum-senyum menikmati pemandangan, perjalanan berkeliling candi hanya butuh waktu satu jam dengan berjalan kaki.

Sabtu pagi pertengahan Desember lalu bagi saya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Mungkin, bagi sebagian orang buat apa mengunjungi candi? Buat apa city tour ke sana? Tapi buat saya yang sedang jenuh, berkeliling candi di perbukitan itu menyenangkan. Hijaunya pemandangan dipadu angin semilir menyejukkan. Penduduk ramah, tempat wisata yang sepi, menambah kesan nyaman menenangkan pikiran. Sangat menyenangkan.

Teteup eksis dimana-mana :))

Saturday, January 17, 2015

Me Time: Pijat Refleksi yang Menenangkan

Kurang tahu sejak kapan pastinya, hampir setiap minggu saya punya kebiasaan menyendiri. Bahasa gaulnya, me time. Nggak melulu harus backpacking ke luar kota, me time saya di sekitar rumah. Misalnya, berenang, jogging, nyalon, dan belanja. Standar banget. Tapi, beberapa kali saya mencoba me time lain. Yaitu, refleksi.

Refleksi dan sakit. Dua hal yang membuat saya sering nyengir nggak jelas. Dulu, beberapa kali saya refleksi di sekitar East Coast Pakuwon City. Tempatnya oke banget. Cahaya temaram, wewangian aromaterapi menenangkan, terapis ramah, dan bisa memilih jenis minyak yang dibalur. Sebelum refleksi, pengunjung diberi pilihan minuman jamu segar. Lalu saat refleksi, pilihan minuman bersifat lebih menghangatkan tubuh seperti cokelat, jahe, dan sebagainya. Tempatnya cozy parah.
Sayang, saya lupa nama tempatnya.

Yang jelas, tempat refleksinya selalu ramai dan bangunannya menyatu dengan apotek sekaligus praktek dokter.

Lama nggak refleksi, kemarin saya mencoba tempat refleksi baru di sekitar Merr II. Iseng-iseng, saya menjajal tempat tersebut setelah berselancar di Groupon. Harganya murah sekali. Hanya 89.000 rupiah untuk body massage, refleksi, ear candle, dan totok wajah selama 180 menit. Kurang puas apa coba?

Usut punya usut, tempat refleksi bernama Groovy Reflexology tersebut baru ada sekitar empat bulan. Beberapa kali saya searching di internet, beberapa kali pula saya menemukan promo dipasang. Saat ke sana pun, ada promo lain yang dipasang. Wah, marketingnya jago. Eksisnya kemana-mana, triknya kece. Yang datang? Jangan ditanya, sampai ada antrean.

Tempatnya sih nggak sehomey tempat refleksi di East Coast Pakuwon City. Tapi harganya oke banget. Pelayanannya juga nggak mengecewakan. Saya bahkan sepulang refleksi langsung mantengin Groupon dan Lakupon lagi. Yakeleus ada promo buat surfer macam saya begini :p. Hati senang, badan bugar, pikiran tenang, dompet aman:)).

Friday, January 16, 2015

Menjemput Mentari di Punthuk Setumbu

  
Menjemput mentari di Punthuk Setumbu 

Minggu pagi itu menjadi hari berbeda bagi saya. Beberapa jam saya terlelap tidak sadar diri di rumah Mbak Endah. Pagi sekitar pukul 3.30 saya bangun bersiap menjemput matahari di Bukit Punthuk Setumbu. Perlu waktu 30 menit dari rumah Mbak Endah untuk sampai ke Punthuk Setumbu yang berada di Kabupaten Magelang. Udara subuh, jalanan lengang, kecepatan motor tinggi, membuat saya cukup menggigil. Magelang subuh sepi.

Bukit Punthuk Setumbu merupakan  lokasi perbukitan yang jaraknya berkisar lima kilometer dari Candi Borobudur. Tempat ini menjadi alternatif wisatawan yang ingin menyaksikan matahari terbit dengan latar magis Candi Borobudur. Lokasinya dekat, biaya murah, dan pemandangannya bagus—meski kata sebagian besar weblog, pemandangan matahari terbit dari Candi Borobudur tetap paling memukau. Tapi bagi saya, di Punthuk Setumbu sudah cukup. Sebab hanya berbiaya 15.000 rupiah, pemandangan apik sudah bisa memanjakan mata.

Seolah menjejak
 
Berbeda jauh jika ingin menyaksikan matahari terbit dari Candi Borobudur. Biayanya mahal karena harus masuk lewat Manohara Hotel, satu-satunya hotel yang berada di kompleks candi. Perlu 250.000 rupiah (wisatawan domestik) dan 380.000 rupiah (wisatawan asing—harga pertengahan Desember 2014) untuk bisa menikmati sunrise dari Candi Borobudur—including tea/ coffee morning, souvenir, dan light snack.

Bagi saya, itu mahal sekali.

Memasuki wilayah Borobudur, rambu menuju Punthuk Setumbu sudah cukup membantu perjalanan petang saya dan Mbak Endah. Sayang, jalanan begitu gelap. Tidak ada penerangan di sepanjang perjalanan. Ada, hanya beberapa. Itu pun lampu jalan milik rumah warga.

Selepas memarkir motor dan membeli tiket, wisatawan diharuskan treking sekitar 10-15 menit. Lumayan ngos-ngosan buat saya yang mulai jarang jalan, apalagi menanjak. Di sepanjang jalan treking, sudah terpasang beberapa penerangan juga masyarakat lokal yang berjaga di sekitar. Namun tetap saja bagi saya masih gelap. Untung saya membawa senter, meski pijarnya tidak sebenderang lampu jalan.

 
Berkas cahaya matahari 
 
Jika di Penanjakan Bromo kala weekend akan terasa sesak, maka ini berbeda. Sebab, di Punthuk Setumbu Minggu pagi tak begitu ramai. Beberapa turis lokal dan mancanegara mulai berjaga di tepian. Tripod dipasang menghadap perbukitan. Pelan-pelan berkas cahaya tampak menyingsing. Oranye. Jingga. Ada harapan di sana. Itu yang selalu saya suka setiap pagi datang.

Sentuhan kabut memenuhi lensa. Langit memang tampak kotor. Semalam hujan deras di Magelang. Namun, itu tidak mematikan daya magis kolaborasi Candi Borobudur dari kejauhan, rimbunan pohon tertutupi tebalnya kabut, serta serakan cahaya metari, membuat pagi itu terasa kian syahdu. Seolah saya menjejakkan kaki di atas awan.

Borobudur dan daya magis 

Ini baru menjemput mentari di Punthuk Setumbu. Entah dimana lagi saya akan menjemputnya.

Lalu, manakala keindahan ada di depan mata, maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Saya menyukainya. Suka sekali. 

Thursday, January 15, 2015

29 Years a Go...

 
29 tahun
 
15 Januari. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. Tidak lagi muda, 29 tahun. Tidak ada perayaan khusus selain tiup lilin dan pengajian peringatan maulid nabi. Ya, memang 29 tahun lalu ayah sama ibu menikah bertepatan dengan perayaan maulid, sih.

Saya enggak ngerti harus bilang apa. Yang jelas, saya merasa senang dengan perayaan hari jadi ayah dan ibu kali ini. Senang sekali. Terharu karena beliau sudah lebih dari seperempat abad bersama. Saya tahu itu sama sekali nggak mudah. Apalagi punya anak seperti saya. Wah, jangan dikira!

Sering, kalau saya sedang sendiri, suka kepikiran masa lalu beliau berdua. Sedih tapi juga senang. Sedih begitu tahu masa kecil mereka. Senang begitu keduanya bersama-sama memulai kehidupan berkeluarga dengan sederhana dan nggak pernah muluk-muluk. Yang penting bersyukur. Pahit, susah, sedih, jatuh bangun mereka sering membuat saya banyak bersyukur.

Ayah seorang karyawan BUMN bidang kontraktor yang sampai sekarang masih bekerja. Di era reformasi, rupiah anjlok seanjlok-anjloknya, harga pangan naik tidak terkira, ayah kena PHK. Tepat empat hari setelah nenek, ibu ayah, meninggal dunia. Tepat sehari ketika rumah kami baru dibobol maling. Bulan September 1998.

Bulan itu, saya masih duduk di kelas 4 SD. Sekecil itu, saya merasakan kalau keluarga kami sedang tidak dalam kondisi yang baik. Ayah yang biasa pergi pagi, pulang sore, kini hanya di rumah beberes apa saja. Ayah seorang pekerja keras, nggak pernah sekalipun saya melihat beliau menganggur. Kalau memang sudah tidak ada yang dikerjakan, beliau pasti beberes apa saja di rumah. Entah mencuci motor, memperbaiki kran, lampu, pintu rusak, apa saja. Workaholic parah.

Saya masih ingat, waktu libur sekolah di hari aktif--entah ada momen apa--saya menegur ayah yang sedang mencuci motor. "Kok ayah nggak kerja? Kan, ini hari Senin?" Waktu itu ayah cuma bilang, kantornya tutup, ayah libur. Saya enggak ngerti sama PHK.

Ibu seorang guru swasta yang gajinya pas-pasan. Ibu diperbolehkan bekerja sama ayah, asalkan bisa mengatur waktu dengan keluarga. Ibu bilang, ibu bekerja bukan hanya membantu ekonomi keluarga, tapi juga visualisasi diri. Ibu bilang, jika ibu punya uang sendiri, tidak dari pemberian ayah, ibu akan lebih leluasa memberi kepada siapa saja. Ini yang selalu ditekankan ibu pada saya. Wanita perlu bekerja. Selain mengajar di sekolah, ibu juga mengajar mengaji. Entah mengaji di rumah, di rumah orang, atau mengajar mengaji di pengajian ibu-ibu kantor ayah. Kata ibu, hidup harus diimbangi dengan beribadah yang banyak. Apalagi hidup pas-pasan. Harus banyak meminta pada-Nya.

Sejak ayah di-PHK, sekitar 2-3 bulan ayah menganggur. Setelahnya, ayah dihubungi rekan ayah yang bekerja di kantor kontraktor lain untuk membantunya. Ayah mulai bekerja. Di bulan-bulan sulit itu, ayah dan ibu menjajal peruntungan dengan menjual baju batik, sprei, jilbab, dan busana muslim yang diambil dari Pasar Klewer Solo. Uang pesangon ayah digunakan untuk memutar pendapatan. Saya ingat sekali, rumah kami hampir setiap saat didatangi dengan teman ayah dan ibu untuk mengambil dagangan. Alhamdulillah dagangan lancar.

Tahun-tahun sulit bagi kami tidak masalah. Karena prinsip hidup sederhana ayah dan ibu selalu dipegang. Selepas bekerja di kantor kontraktor lain, ayah kembali dipanggil di perusahaan BUMN sebelumnya. Waktu itu, ada proyek besar. Yakni, Proyek Jembatan Suramadu. Alhamdulillah, kehidupan kami kian membaik di awal tahun 2000. Ayah dan ibu tidak lagi sempat menjual dagangan.

Awal 2007, ibu membuka sekolah PAUD untuk kalangan menengah ke bawah. Mayoritas, mereka yang bersekolah di sekolah kami adalah anak dari PKL, penghuni petak kos, dan anak-anak dari orang tua yang nggak bertanggung jawab. Bangunannya berdekatan dengan rumah kami. Setahun sebelumnya, ibu diterima sebagai guru PNS. Saya pikir, ini sudah jalan-Nya. Saya menjadi bagian dari PAUD, entah seperti apa cara mengajar saya waktu itu. Yang penting bantu-bantu, nggak peduli gaji. Sekarang, PAUD kami cukup berkembang dan terus berbenah.

Semakin tahun, semakin ke sini. Ayah mulai merasa letih. Apalagi sejak saya pelan-pelan belajar mandiri dan lepas dari mereka. Ayah pernah bilang, ayah ingin pensiun, sudah capek bekerja. Saya bilang, pensiun saja, toh saya sudah cukup bisa mengatur keuangan, insyaallah.

Ini prestasi. Selama ini saya jarang dekat dengan ayah, tetapi sejak bekerja, ayah sudah berani curhat pada saya. Apalagi ketika ayah curhat ingin punya cucu. Saya makin terharu...

29 tahun ayah dan ibu bersama. Tahu betapa susahnya menyatukan dua isi kepala dengan empat kepala kecil-kecil berisi ego masing-masing. Saya nggak banyak berharap di hari ini. Saya cuma berdoa, semoga ayah dan ibu selalu sehat dan dilindungi oleh Allah sampai kapan pun. Selamat ulang tahun pernikahan ayah dan ibu, semoga sehat, semakin sabar, dan bahagia selalu. Amin.

Hup!

Monday, January 12, 2015

Metamorfase

 
Flat shoes di pantai aneh? Ah, enggak juga

Sejak menjadi jurnalis, saya merasa banyak berubah. Salah satu hal yang paling kentara adalah: fast moving. Menjadi jurnalis membuat saya harus cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain seusai apa yang diinginkan sudah didapat. Jika tidak, saya pasti bosan. Bosan terlalu lama di tempat yang sama. Target minimal dua berita sehari juga membuat saya mau tak mau harus cepat berpindah sebelum hari habis. Setiap hari merasa demikian, saya akhirnya menerapkan konsep yang sama ketika bepergian, dulu.

Kala bepergian, saya kerap bosan jika saya sudah berada di satu tempat dalam waktu lama. Itulah sebab, saya selalu menarget sehari di kota wisata harus mampir ke beberapa tempat. Ya, hasilnya memang capek tapi rasanya senang dan puas. Sama halnya jika saya sudah mendapat dua berita sehari.

Tetapi, seperti ada yang berbeda. Semakin lama dan semakin sering berjalan--apalagi jika sendiri--saya justru merasa semakin menikmati perjalanan, bukan lagi menunggu tujuan akhir. Tujuan akhir memang masih menjadi kesenangan tersendiri. Namun, menikmati perjalanan tanpa menarget berapa tempat yang harus dituju dan tempat mana saja yang akan disambangi, ternyata jauh lebih menyenangkan. Lambat namun puas. Ada proses menyenangkan yang lebih nyaman mengendap di hati.

Tidak hanya sekali, bahkan kini mulai berkali-kali. Saya menikmati perjalanan, menikmati kejutan yang ada di dalamnya, dan menikmati rencana mendadak yang melenceng dari target semula. Ya memang, menyusun rencana itu perlu. Tetapi, sesekali coba untuk membuat rencana sedikit berbeda, pasti akan ada banyak cerita.

Semisal, saat saya ke Magelang. Saya berencana untuk keliling ke desa wisata Wanurejo menggunakan sepeda sewaan. Namun, saya memilih untuk menonton bioskop Doraemon: Stand By Me di kota orang. Aneh? Ah, enggak juga. Kalau dengan menonton bioskop dengan teman lebih banyak untung, kenapa saya harus bersepeda sendiri, dan merepotkan orang lain?

Saya enggak ngerti apakah ini termasuk fase perubahan dalam diri saya. Tetapi yang jelas, semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya lakukan, semakin spontan rencana melenceng dilakukan, semakin banyak cerita mengejutkan yang saya dapatkan. Saya pikir, selama itu menguntungkan, kenapa enggak? *ceritanya nggak mau rugi :p*. Karena saya tahu, hidup memang punya banyak rasa *pret! :))*.

Friday, January 2, 2015

One Day Trip di Sumenep

Awal November lalu, saya pergi ke Sumenep bersama teman baru. Rencana ini super mendadak dipicu oleh teman yang mau pulang kampung ke Pamekasan. Tanpa rencana, saya pun nyeletuk, "Gimana kalau aku main ke rumahmu? Atau yang lain mau ikutan juga?" tak disangka, tak dinyana, lima teman lain langsung setuju. Inisiator yang baik yaa :)).

Kami berangkat Sabtu sore selepas saya dan Mas Yudi kerja, sementara Silvi tes CPNS. Saya dijemput di kantor dan langsung menuju Pulau Garam melewati Jembatan Suramadu. Rencananya, kami akan menginap di rumah Silvi, sedangkan keluarga Mas Yudi di hotel *yaa iyalah, tahu diri :p*.

Minggu pagi, kami bersiap menuju Sumenep. Sebenarnya, kami mau ke Gili Labak, namun batal dengan pertimbangan Mas Yudi membawa bocah berusia dua tahun. Kasihan kalau harus terombang-ambing di lautan. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke seputar Sumenep.

Jarak rumah Silvi dan Sumenep sekira satu jam. Sebelum benar-benar ke Sumenep, kami menjemput pemandu, dua teman Silvi lain asal Pamekasan. Guide yang merangkap jadi *ehemnya Silvi* salah satunya.

Tujuan pertama kami adalah Museum dan Kraton Sumenep. Pas hari itu sebetulnya Sumenep dan Pamekasan tengah berulang tahun. Persiapan pawai pun dan bazaar makanan pun dimana-mana. Anak-anak, mas-mas, dan mbak-mbak bermake up di jalan-jalan, belajar menari. Wah, riuh.

Museum dan Kraton Sumenep laiknya museum kebanyakan. Menyimpan benda peninggalan sejarah. Di museum--yang hanya bertiket 2.000 rupiah perkepala--kami diajak guide museum untuk berkeliling merangkap ke Keraton. Peninggalan kerajaan Sumenep dipajang di sana. Mulai kereta kencana, al-quran raksasa, almari setinggi tiga meter, dan sejumlah barang peninggalan lain.

Guide bercerita, barang peninggalan kerajaan Sumenep ada yang bersifat magis. Salah satunya kereta kencana yang kini tidak lagi dibuat untuk pawai hari jadi Kabupaten Sumenep. Sebabnya, kereta kencana sempat membuat kuda dan pak kusir sakit saat diajak berkeliling. Konon, itu terjadi karena kereta kencana tidak didoakan terlebih dahulu.
 
Selain kereta kencana, bangunan Kraton Sumenep juga memiliki cerita magis tersendiri. Masih kata guide museum, barangsiapa yang melihat ke dalam Kraton mendapati seseorang ada di dalamnya, maka tidak lama lagi akan dirundung duka. Entah sakit atau bahkan meninggal. Hehe, saya yang parno sama hal semacam itu pun hanya senyum mendengarnya.

Tak lain dan tak bukan, di tempat Potrehkoneng (putri Sumenep), juga ada cerita mistisnya. Hanya saja, saya lupa. Yang jelas, setahu saya, Pulau Garam kalau urusan mistis itu juara, hehe.

Kereta kencana kerajaan Sumenep
 
Usia boleh berumur, selfie jalan terus :))

Rumah Potrehkoneng

Penari pawai berpose di depan Kraton Sumenep

Dari Museum dan Kraton Sumenep, kami berjalan menuju Pantai Lombang. Pantai Lombang terkenal dengan gugusan pohon cemara udang yang konon hanya satu-satunya di Indonesia. Tanaman ini endemik dan meneduhkan karena tajuk tumbuh berhimpitan. Awal saya ke sana, kesan pertama yang saya dapat adalah, pantai berpasir putih dan air laut berwarna biru. Mirip Lombok! Tapi beda. Saya berpikir kira-kira apa yang berbeda. Ternyata berbeda dari jarak pandang. Jika pantai di Lombok umumnya memiliki fore atau background bebatuan, maka di sini tidak. Justru lepas, seperti pantai sepanjang atau pantai dengan garis pantai tidak terbatas. Di pantai ini, pengunjung hanya diwajibkan membayar tiket sebesar 4.000 rupiah. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati sensasi berkuda di tepi pantai--yang saya nggak tahu ongkosnya berapa.

Melompat di Pantai Lombang
 
Berkuda di tepi pantai 

Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Slopeng. Kata Ari--teman baru, anunya Silvi--Pantai Lombang dan Slopeng berdekatan. Saya, sih, enggak tahu, manut saja. Ternyata benar lho! Nggak jauh sama sekali. Tapi jauuuh banget. Satu jam perjalanan sendiri. Tahu apa sebab? Ternyata, kami nyasar:)). Untungnya, sepanjang nyasar, pemandangan di sisi kanan kami disuguhi dengan deburan ombak kecil, tanah gersang, dan pepohonan yang tak lebat. Perpaduan yang ciamik di tengah panasnya Sumenep siang itu. Kami juga mampir ke Batu Putih, tempat yang sebenarnya bukan kawasan wisata. Jadi, Batu Putih merupakan kawasan penambangan gunung kapur yang digunakan sebagai bahan bangunan. Saat kami ke sana, tampak truk dan beberapa pekerja tengah menambang batu putih berbentuk persegi.

Kawasan Batu Putih

Pantai Slopeng siang itu panaaas luar biasa. Kami tidak bermain pasir atau pun air. Kami hanya memesan air kelapa muda, duduk di tepi pantai, lalu salat, dan segera beranjak. Nggak kuat dengan panasnya, cyiiin.

Sendiri di Slopeng

Full team

Perjalanan kami ditutup dengan makan Rujak Selingkuh. Total perjalanan selama satu hari penuh tak sampai seratus ribu rupiah exclude oleh-oleh. Murah yaa? Bangeeet. Ya gitu kalau share cost, biaya lebih murah. Beda dengan solo backpacking. Tapi, saya suka apapun jenisnya selama sama-sama menyenangkan :D. Selamat berlibur!