29 Years a Go...

 
29 tahun
 
15 Januari. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. Tidak lagi muda, 29 tahun. Tidak ada perayaan khusus selain tiup lilin dan pengajian peringatan maulid nabi. Ya, memang 29 tahun lalu ayah sama ibu menikah bertepatan dengan perayaan maulid, sih.

Saya enggak ngerti harus bilang apa. Yang jelas, saya merasa senang dengan perayaan hari jadi ayah dan ibu kali ini. Senang sekali. Terharu karena beliau sudah lebih dari seperempat abad bersama. Saya tahu itu sama sekali nggak mudah. Apalagi punya anak seperti saya. Wah, jangan dikira!

Sering, kalau saya sedang sendiri, suka kepikiran masa lalu beliau berdua. Sedih tapi juga senang. Sedih begitu tahu masa kecil mereka. Senang begitu keduanya bersama-sama memulai kehidupan berkeluarga dengan sederhana dan nggak pernah muluk-muluk. Yang penting bersyukur. Pahit, susah, sedih, jatuh bangun mereka sering membuat saya banyak bersyukur.

Ayah seorang karyawan BUMN bidang kontraktor yang sampai sekarang masih bekerja. Di era reformasi, rupiah anjlok seanjlok-anjloknya, harga pangan naik tidak terkira, ayah kena PHK. Tepat empat hari setelah nenek, ibu ayah, meninggal dunia. Tepat sehari ketika rumah kami baru dibobol maling. Bulan September 1998.

Bulan itu, saya masih duduk di kelas 4 SD. Sekecil itu, saya merasakan kalau keluarga kami sedang tidak dalam kondisi yang baik. Ayah yang biasa pergi pagi, pulang sore, kini hanya di rumah beberes apa saja. Ayah seorang pekerja keras, nggak pernah sekalipun saya melihat beliau menganggur. Kalau memang sudah tidak ada yang dikerjakan, beliau pasti beberes apa saja di rumah. Entah mencuci motor, memperbaiki kran, lampu, pintu rusak, apa saja. Workaholic parah.

Saya masih ingat, waktu libur sekolah di hari aktif--entah ada momen apa--saya menegur ayah yang sedang mencuci motor. "Kok ayah nggak kerja? Kan, ini hari Senin?" Waktu itu ayah cuma bilang, kantornya tutup, ayah libur. Saya enggak ngerti sama PHK.

Ibu seorang guru swasta yang gajinya pas-pasan. Ibu diperbolehkan bekerja sama ayah, asalkan bisa mengatur waktu dengan keluarga. Ibu bilang, ibu bekerja bukan hanya membantu ekonomi keluarga, tapi juga visualisasi diri. Ibu bilang, jika ibu punya uang sendiri, tidak dari pemberian ayah, ibu akan lebih leluasa memberi kepada siapa saja. Ini yang selalu ditekankan ibu pada saya. Wanita perlu bekerja. Selain mengajar di sekolah, ibu juga mengajar mengaji. Entah mengaji di rumah, di rumah orang, atau mengajar mengaji di pengajian ibu-ibu kantor ayah. Kata ibu, hidup harus diimbangi dengan beribadah yang banyak. Apalagi hidup pas-pasan. Harus banyak meminta pada-Nya.

Sejak ayah di-PHK, sekitar 2-3 bulan ayah menganggur. Setelahnya, ayah dihubungi rekan ayah yang bekerja di kantor kontraktor lain untuk membantunya. Ayah mulai bekerja. Di bulan-bulan sulit itu, ayah dan ibu menjajal peruntungan dengan menjual baju batik, sprei, jilbab, dan busana muslim yang diambil dari Pasar Klewer Solo. Uang pesangon ayah digunakan untuk memutar pendapatan. Saya ingat sekali, rumah kami hampir setiap saat didatangi dengan teman ayah dan ibu untuk mengambil dagangan. Alhamdulillah dagangan lancar.

Tahun-tahun sulit bagi kami tidak masalah. Karena prinsip hidup sederhana ayah dan ibu selalu dipegang. Selepas bekerja di kantor kontraktor lain, ayah kembali dipanggil di perusahaan BUMN sebelumnya. Waktu itu, ada proyek besar. Yakni, Proyek Jembatan Suramadu. Alhamdulillah, kehidupan kami kian membaik di awal tahun 2000. Ayah dan ibu tidak lagi sempat menjual dagangan.

Awal 2007, ibu membuka sekolah PAUD untuk kalangan menengah ke bawah. Mayoritas, mereka yang bersekolah di sekolah kami adalah anak dari PKL, penghuni petak kos, dan anak-anak dari orang tua yang nggak bertanggung jawab. Bangunannya berdekatan dengan rumah kami. Setahun sebelumnya, ibu diterima sebagai guru PNS. Saya pikir, ini sudah jalan-Nya. Saya menjadi bagian dari PAUD, entah seperti apa cara mengajar saya waktu itu. Yang penting bantu-bantu, nggak peduli gaji. Sekarang, PAUD kami cukup berkembang dan terus berbenah.

Semakin tahun, semakin ke sini. Ayah mulai merasa letih. Apalagi sejak saya pelan-pelan belajar mandiri dan lepas dari mereka. Ayah pernah bilang, ayah ingin pensiun, sudah capek bekerja. Saya bilang, pensiun saja, toh saya sudah cukup bisa mengatur keuangan, insyaallah.

Ini prestasi. Selama ini saya jarang dekat dengan ayah, tetapi sejak bekerja, ayah sudah berani curhat pada saya. Apalagi ketika ayah curhat ingin punya cucu. Saya makin terharu...

29 tahun ayah dan ibu bersama. Tahu betapa susahnya menyatukan dua isi kepala dengan empat kepala kecil-kecil berisi ego masing-masing. Saya nggak banyak berharap di hari ini. Saya cuma berdoa, semoga ayah dan ibu selalu sehat dan dilindungi oleh Allah sampai kapan pun. Selamat ulang tahun pernikahan ayah dan ibu, semoga sehat, semakin sabar, dan bahagia selalu. Amin.

Hup!

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba