Skip to main content

Metamorfase

 
Flat shoes di pantai aneh? Ah, enggak juga

Sejak menjadi jurnalis, saya merasa banyak berubah. Salah satu hal yang paling kentara adalah: fast moving. Menjadi jurnalis membuat saya harus cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain seusai apa yang diinginkan sudah didapat. Jika tidak, saya pasti bosan. Bosan terlalu lama di tempat yang sama. Target minimal dua berita sehari juga membuat saya mau tak mau harus cepat berpindah sebelum hari habis. Setiap hari merasa demikian, saya akhirnya menerapkan konsep yang sama ketika bepergian, dulu.

Kala bepergian, saya kerap bosan jika saya sudah berada di satu tempat dalam waktu lama. Itulah sebab, saya selalu menarget sehari di kota wisata harus mampir ke beberapa tempat. Ya, hasilnya memang capek tapi rasanya senang dan puas. Sama halnya jika saya sudah mendapat dua berita sehari.

Tetapi, seperti ada yang berbeda. Semakin lama dan semakin sering berjalan--apalagi jika sendiri--saya justru merasa semakin menikmati perjalanan, bukan lagi menunggu tujuan akhir. Tujuan akhir memang masih menjadi kesenangan tersendiri. Namun, menikmati perjalanan tanpa menarget berapa tempat yang harus dituju dan tempat mana saja yang akan disambangi, ternyata jauh lebih menyenangkan. Lambat namun puas. Ada proses menyenangkan yang lebih nyaman mengendap di hati.

Tidak hanya sekali, bahkan kini mulai berkali-kali. Saya menikmati perjalanan, menikmati kejutan yang ada di dalamnya, dan menikmati rencana mendadak yang melenceng dari target semula. Ya memang, menyusun rencana itu perlu. Tetapi, sesekali coba untuk membuat rencana sedikit berbeda, pasti akan ada banyak cerita.

Semisal, saat saya ke Magelang. Saya berencana untuk keliling ke desa wisata Wanurejo menggunakan sepeda sewaan. Namun, saya memilih untuk menonton bioskop Doraemon: Stand By Me di kota orang. Aneh? Ah, enggak juga. Kalau dengan menonton bioskop dengan teman lebih banyak untung, kenapa saya harus bersepeda sendiri, dan merepotkan orang lain?

Saya enggak ngerti apakah ini termasuk fase perubahan dalam diri saya. Tetapi yang jelas, semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya lakukan, semakin spontan rencana melenceng dilakukan, semakin banyak cerita mengejutkan yang saya dapatkan. Saya pikir, selama itu menguntungkan, kenapa enggak? *ceritanya nggak mau rugi :p*. Karena saya tahu, hidup memang punya banyak rasa *pret! :))*.

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…