Skip to main content

Primata Langka Dunia Ada di Belitung

Coba tebak, apa yang unik dari Belitung, selain budaya ngopi?

Kata Iwan, teman saya asli Belitung, yang unik dari Belitung adalah Tarsius di Batu Mentas. Apa coba Tarsius?

Adalah Tarsius bancanus saltator primata langka di dunia yang hanya ada di Belitung. Keberadaan genus Tarsius di Indonesia sebenarnya ada dua--yang lazim ditemui--yakni di Sulawesi dan Belitung. Bedanya, Tarsius di Sulawesi ukurannya lebih kecil, sementara di Belitung sebesar kepalan tangan orang dewasa. Setidaknya, itu yang dijelaskan Mas Tarmidzi, guide dadakan kami saat datang ke Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas, Badau, Belitung Barat, kemarin.

Tarsius memiliki fisik yang hampir sama dengan primata lain. Bedanya, dia adalah hewan nocturnal yang aktif di malam hari. Tetapi, saat kami ke sana, Tarsius jantan tidak sedang tidur. Malah matanya terbuka lebar-lebar. Ini yang membuatnya tampak lucu. Badannya kecil, matanya selebar piring. Serangga menjadi makanan pokoknya.

Di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas ini, Tarsius hanya ada dua. Satu jantan dan satu betina. Keduanya diletakkan di kandang yang berbeda. Kata Mas Tirmidzi, mereka adalah hewan setia yang nggak bisa sembarangan kawin. Itulah sebab, keberadaannya kini semakin menipis di Bumi Timah. Kesetiannya pada pasangan persis merpati.

Menurut cerita, Tarsius di Belitung dulunya adalah sebagai simbol kesialan warga setempat, pemburu babi hutan. Barangsiapa yang berburu bertemu dengan Tarsius maka dia tidak akan bertemu dengan hewan buruan. Tarsius pun dibunuh dengan alasan agar tidak mengganggu perburuan. Tak jarang setelah dibunuh, Tarsius dimasak untuk dimakan ramai-ramai.

Keberadaan Tarsius yang kian menipis, membuat Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dibangun pada 2011. Letaknya persis di perbukitan, yang jamak disebut Gunung Tajam.

Dua kandang Tarsius sebagai tempat konservasi, edukasi, dan penelitian. Tetapi di perbukitan sekeliling, Tarsius masih beberapa ditemukan. Pembangunan Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemda akan keberadaan primata langka dunia. Tentulah ini sebagai sarana edukasi masyarakat lokal dan wisatawan. Bahwa Tarsius bukanlah hewan pembawa sial. Tetapi justru hewan yang perlu dilindungi karena populasinya yang terbatas.
Tarsius di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas memang langka dan dilindungi. Namun, siapa bisa menjamin keberadaannya, jika masyarakat dan wisatawan enggan untuk peduli pada satwa asli Indonesia dan satu-satunya di dunia? Apalagi dengan harga tiket masuk yang hanya 10.000 rupiah.

Tarsius Belitung

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…