Friday, February 20, 2015

Wisata Murah Pantai Dalegan


Rame 
Gresik punya apa, sih?

Setidaknya itu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya ketika ingin bermain ke Gresik. Sama sekali tidak tahu di sana ada apa selain Makam Sunan Giri, salah satu Walisongo. 

Gresik panas. Kota industri. Sama seperti Surabaya.


Ternyata, Gresik punya pantai selain di Pulau Bawean. Namanya Pantai Dalegan. Saya pernah ke sana tiga tahun lalu. Lalu kembali ke sana saat libur Imlek, kemarin. Sebenarnya, tujuan awal dari keisengan kali ini adalah Bukit Jamur alias lokasi penambangan kapur yang menyisakan bangunan seperti jamur raksasa. Tapi tutup. 

Berani kotor itu baik

Sewa ban asal selamat
 
Nggak mau sia-sia karena nyasar nyaris ke Lamongan, saya dan Laila memilih untuk pergi ke Pantai Dalegan. 

Pantai Dalegan berada di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Letaknya dekat dengan Paciran, Lamongan. Satu arah dengan Wisata Bahari Lamongan. Untuk masuk ke Pantai Dalegan, pengunjung dikenakan biaya 6.000 rupiah dan 2.500 rupiah untuk parkir.

Main layang-layang di tepi pantai

Tak jauh dari Surabaya, pantai utara ini seharusnya menarik. Pasirnya putih, anginnya semilir. Beruntung siang itu tidak hujan. Hanya mendung sepanjang waktu. Sayang, polusi harus mampir ke wilayah pesisir. Akibatnya, air laut tak lagi jernih alias berwarna cokelat.
 
Pada dasarnya, saya hanya butuh tempat menyepi sambil—rasan-rasan:p—bercerita. Jadi, pemandangan air laut yang kecokelatan pun tak masalah. 


Bisa main pasir

Pantai Dalegan kala libur ramai sekali. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan keluarga jika tengah berlibur di sana. Mulai bermain air, pasir, layang-layang, hingga menggelar tikar sekadar menyaksikan hiruk pikuk pengunjung dari tepian. 

Persewaan ban (10.000 rupiah) dan layang-layang (5.000 rupiah) banyak dijajakan di tepi pantai. Banyak warung makan juga laiknya pantai pada umumnya. 

Dekat Surabaya bukan berarti nggak boleh eksis :p
 
Wisata singkat ke Pantai Dalegan rasanya bisa menjadi alternatif pilihan. Apalagi jaraknya tak jauh dari kota Surabaya. Jika singgah ke Pantai Dalegan, jangan lupa mencoba Es Dawet Siwalan. Rasanya segar di tengah cuaca pantai yang biasanya terik. Harganya hanya 5.000 rupiah pergelas. Lalu, saat akan berkemas, sempatkan mencicipi kuliner khas Gresik. Nasi Krawu, namanya. Harganya berkisar antara 9.000-15.000 rupiah perporsi. 

Gresik bisa menjadi alternatif pilihan liburan. Sudah dekat, hemat pula.

Nasi Krawu berisi babat, daging suwir, serundeng kelapa

Berkawan Senja Tanjung Pendam



 
Mangrove Tanjung Pendam
 
Entah sejak kapan pastinya, saya menyukai senja dan fajar. Bagi saya, keduanya memiliki arti yang menyenangkan. Fajar selalu berarti cita-cita kembali ada. Sementara senja adalah saat perenungan.

Senja itu, saya menghabiskan waktu di satu pantai di tengah kota Tanjungpandan,Belitung. Pantai Tanjung Pendam, namanya. Letaknya persis di tengah kota. Dekat sekali dengan hotel kami. Bahkan kami bisa mencapainya dengan jalan kaki, jika mau.Butuh 2.000 rupiah perorang jika ingin masuk kawasan Pantai Tanjung Pendam.
 
Menunggu senja

Sekilas, Tanjung Pendam mirip dengan Pantai Kenjeran di Surabaya. Tapi tidak kotor. Suasananya ramai. Banyak warga lokal yang menghabiskan waktu di sini sekadar bersantai. Laut sedang surut. Tumben saja, tentu.
 
Lanskap Tanjung Pendam meski ramai, amat syahdu. Ada beberapa pohon mangrove di sisi tengah. Seperti favorit para fotografer yang berlalu lalang di Instagram. Tepian plengsengan dibuat jauh dari bibir pantai. Mungkin, saat pasang tiba, air bisa sampai sana. Tapi bagi saya, terlalu jauh menunggu senja tidak nikmat.

Liburan warga lokal 
 
Di sekitar bibir pantai, riuh semakin kentara. Anak, bapak, dan ibu-ibu satu persatu menyunggingkan senyum. Ada pula yang berjongkok sambil membawa keranjang dan plastik.

“Cari kerang,” salah satu ibu yang berjongkok menjawab pertanyaan saya.

Kerang dari kelas bivalvia adalah salah satu kekayaan yang dipunya Belitung. Siapa saja yang ingin memasak kerang sebagai lauk, bisa mengambilnya gratis di bibir pantai. Berjongkok, melangkah maju, mengerahkan tangan berisi kayu atau gelas plastik kecil, dan mengorek pasir. Akan ada banyak sekali kerang. Sulit bagi saya mencontohkan apa yang mereka lakukan.

“Sulit ya, Bu? Kok saya nggak dapat-dapat,”  ujar saya sambil terkekeh.

Mencari kerang untuk lauk

Para pencari kerang

Warga sekitar Tanjung Pendam punya cara unik untuk menghabiskan hari. Salah satunya memang mencari kerang. Kerang yang didapat amat banyak. Sekitar satu kilogram. Menariknya, para pencari kerang bukan hanya ibu-ibu. Tapi juga bapak, anak, dan remaja. Di sini, tidak ada gengsi bagi remaja untuk membaur mencari kerang. Beda dengan remaja perkotaan.

Yang lebih menyenangkan, remaja bermata sipit ada di dalamnya. Di sini, lekat sekali dengan toleransi antarsuku. Tidak ada perbedaan. Apapun warna kulitnya dan seberapa lebar matanya. Mereka rukun.

Ibu pencari kerang menuturkan, cara memasak kerang amatlah sederhana. “Hanya pakai garam direbus dengan air. Lalu dimakan dengan nasi hangat. Gurih, kok.”

Saya tersenyum. Seandainya posisi sedang bekerja atau solo backpacking, tentu saya bisa meminta izin untuk tahu cara memasak kerang.
Remaja mencari kerang

Kerang

Senja selalu punya cerita. Senja yang saya lewatkan di Tanjung Pendam ini amat menarik. Melihat lebih dekat kebiasaan warga lokal. Menilik kerukunan antarsuku persis seperti saat bertandang ke warung kopi gang 60.

Senja menyuguhkan beragam cerita. Selalu. Itulah alasan saya selalu menyukainya. Menyukai senja di kota lain.

Senja kali ini, saya belajar untuk lebih menghargai orang. Belajar menghargai etnis lain yang berbeda. Sebab, Indonesia amatlah kaya ragam budaya.

Senja cantik Tanjung Pendam

Thursday, February 19, 2015

Kisah dari Kampung Nelayan Tanjung Binga


Perkampungan nelayan Tanjung Binga 
 
Sore itu, banyak kapal bersandar di Tanjung Binga. Ombak sedang tinggi. Tak banyak nelayan melaut. Hanya satu-dua kapal yang berani berangkat. Apalagi kalau bukan soal perut. Sisanya memilih untuk melihat dari tepian. Bercengkrama dengan anak muda. Atau hanya sekadar duduk. Maklum, musim penghujan. Ombak tinggi, angin kencang, risiko terlalu besar.

Tapi sore itu menjadi berbeda bagi Degi, bocah sepuluh tahun. Bersama sepeda kecilnya, dia menunggu di dermaga. Sambil menatap lurus ke arah laut.

"Saya sedang menunggu Bapak," ungkapnya.

Bagi Degi, sore bukan waktu untuk mengaji. Tapi untuk bermain sambil menunggu bapak pulang melaut. Mengaji dan belajar dilakukan saat petang tiba. Setiap hari siklusnya begitu. Bapak berangkat melaut sebelum pagi, pulang bersama angin laut kala sore. Tidak ada hari libur. Ibu Degi seorang ibu rumah tangga. Kesibukannya di rumah laiknya ibu-ibu yang lain. Mengurusi keperluan rumah sambil menjaga kedua anaknya. Degi anak pertama, sekolah di SDN 02 Sijuk.

Kapal bersandar 
 
Degi kecil tidak pernah ikut melaut. Kata bapak, Degi harus sekolah. Belum boleh bekerja.

Saat musim ombak tinggi, Degi selalu khawatir. Khawatir ayahnya tidak pulang. Terombang-ambing di kapal. Itulah sebab, dia selalu menunggu di dermaga. Merelakan waktu bermain untuk bapak. Ternyata semua anak dimanapun berada, sama. Menunggu bapak saat sore tiba.

Di ujung, beberapa orang mulai bersorai. Tak terkecuali Degi. Dia bersiap mengayuh sepedanya bersemangat. Kapal bapak akan menepi.

"Saya tahu itu bapak. Warna kapalnya biru." Degi berlalu sambil tersenyum. Bapaknya tiba. Hasil tangkapan berlimpah.
***

"Warga Belitung biasa berkuliah di Bandung dan Jogja, Mbak." Pagi di hari berikutnya, sopir travel berujar tentang adat warganya. Katanya, masyarakat Belitung kini berlangkah-langkah lebih maju. Mereka ingin pintar seperti masyarakat tanah Jawa. Bahkan, demi itu semua, mereka rela merogoh kocek lebih dalam.

Mobil dikemudikan santai. Jalanan Tanjungpandan sepi. "Anak saya nanti mau saya kuliahkan di sekolah perhotelan paling bagus di Jogja. Kalau enggak, ya di Bandung. Biar bisa ikut mengelola pariwisata di sini. Mbak, dulu kuliah dimana?" Sopir bertanya antusias. Wajahnya makin semringah mendapati penumpangnya masih berkuliah.

"Di sini sudah ada PTN, Universitas Bangka Belitung, gabungan dari tiga kampus swasta. Tapi, apa ada jaminan anak saya pintar di sini? Lagipula, daripada ke Bangka dengan kualitas biasa saja, mending merantau. Pengalamannya banyak. Bisa makin pintar."

Potesi pariwisata Bangka Belitung memang sangat besar. Saya salut dengan kedua orang yang saya temui di Belitung. Sosok ayah Degi yang tidak mengizinkan anaknya ikut melaut demi sekolah. Sosok sopir travel yang menginginkan anaknya pandai dirawat di tanah orang. Apalagi kalau tidak ingin memajukan diri sendiri dan tanah kelahirannya?

"Saya yakin, nanti anak saya bisa bekerja dengan baik meningkatkan pariwisata Belitung. Potensinya besar. Warga lokal harus lebih pintar, Mbak, kalau nggak mau diambil warga asing." Bapak sopir optimis gila-gilaan. Saya berhasil dibuat merinding dengan harapan masuk akalnya.

Semoga, apa yang diharapkan ayah Degi dan sopir travel pada anaknya tercapai. Demi kemajuan generasi bangsa...

Saya dan Degi

Wednesday, February 18, 2015

Meneropong Kecantikan Pulau Lengkuas

 
Selamat datang di Belitong
 
Manggar, kota 1001 warung kopi di Belitung Timur punya semboyan Mun Lum Ngupi Lum Sampai Manggar. Sedangkan Pulau Lengkuas di Belitung juga punya kekataan serupa. Belum ke Belitung Jika Belum ke Pulau Lengkuas. Betulkah demikian?

Berkunjung ke Belitung, hal yang seharusnya tidak dilewatkan adalah wisata air. Sebab, Belitung memiliki wilayah perairan yang memanjakan mata. Jernihnya air laut, halusnya pasir pantai, rimbunnya pepohonan, disadari mampu menghilangkan penat.

Bagi saya, hal yang membuat tergiur untuk mengunjungi Belitung adalah Pulau Lengkuas dan gugusan kepulauan yang ada di sekitarnya. Saya penasaran dengan keindahan pulau, pantai, dan alam bawah lautnya.

Maka, ketika saya mendapatkan tiket promo pesawat Jakarta-Tanjung Pandan bulan Oktober lalu, saya langsung berhemat. Waktu tiga bulan saya lakukan untuk berhemat keras demi Belitung. Uang jatah jalan-jalan bulan Oktober, November, dan Desember saya target seluruhnya. Demi Belitung.

Tanjung Kalayang

Untuk menuju Pulau Lengkuas, ada berbagai cara. Bisa melalui Tanjung Kalayang. Bisa juga melalui perkampungan nelayan di Tanjung Binga. Atau di Pantai Laskar Pelangi, Tanjung Tinggi. Kami memilih memulai perjalanan ke Pulau Lengkuas melalui Tanjung Kalayang.

Yang harus diperhatikan, waktu terbaik mengunjungi Pulau Lengkuas dan kepulauan lain di sekitarnya adalah bulan April-September. Sebab, sudah memasuki musim kemarau. Kata warga Belitung, saat musim kemarau, bagusnya bermain air di utara Belitung. Sementara di wilayah Selatan bagus dikunjungi saat musim penghujan.

Beda dengan saya yang berkunjung pada Januari. Musim hujan dan bertandang di utara Belitung. Meski angin cukup kencang, itu tidak menyurutkan niat kami untuk snorkling dan bermain di tepi pantai. Masih tetap cantik.

Rabu pagi itu, setelah sarapan dari hotel kami bergegas menuju utara menggunakan motor. Jalanan pagi itu sepi sekali. Sangat sepi. Maklum saja, saya sengaja memilih cuti tidak saat weekend. Tapi saat libur kuliah saat weekday.

Letak Tanjung Kalayang berdekatan dengan Tanjung Tinggi dan Tanjung Binga. Karena bukan musim liburan, Tanjung Kalayang pagi itu sepi. Hanya kami satu-satunya pengunjung yang datang di sana. Warung di tepian pantai pun tidak ada yang buka. Banyak kapal nelayan bersandar. Langit pagi sedikit suram, meski tidak hujan. 

Kapal bersandar di Tanjung Kalayang

Untuk berkeliling pulau, siapkan uang untuk menyewa kapal, jika kalian tidak menggunakan jasa travel. Harga kapal yang ditawarkan bervariasi. Saya mendapatkan harga 500.000 rupiah include snorkel, google glass, dan life jacket untuk berempat. Tapi, berhubung saya sudah kontak-kontakan dengan kenalan teman, jadinya mahal. Nggak bisa ditawar pula. Kena 610.000 rupiah lengkap sama peralatan snorkling.   

Cuaca pagi itu memang mendung. Tapi di tengah laut cerah. Ombak tentu masih tetap tinggi. Satu meter, begitu kata dua pemandu kapal kami--yang saya lupa namanya siapa.

Di kapal

Pulau Lengkuas menjadi andalan wisata bahari Belitung karena kecantikannya yang memesona. Di sana, bersandar mercusuar setinggi 65 meter, dengan 313 anak tangga, dari total 18 lantai yang ada. Mercusuar inilah yang menjadi daya tarik Pulau Lengkuas. Sebab, wisatawan bisa melihat kemolekan alam Belitung dari puncak.
 

Pulau Lengkuas

Sebelum sampai di Pulau Lengkuas, kami berhenti di sekitar perairannya untuk snorkling. Tentu saja, kami langsung menceburkan diri karena tidak tahan dengan keindahan bawah lautnya. Apalagi Mei tahun lalu, saat saya ke Gili Amatra sedang kecewa berat. Gara-garanya, terumbu karang dan ikan-ikan di sana banyak yang mati. Saya kecewa. 

Tapi Belitung beda. Bahkan saya nggak mau naik kapal hanya karena enggan berpisah dengan sekerumun ikan. Terumbu karangnya memang sudah tua. Tapi masih hidup. Asli, indah banget, Subhanallah. Berbekal underwater camera seadanya, saya dibuat takjub dengan apa yang ada di dalamnya. Nggak percaya?  

Di bawah Pulau Lengkuas

Terumbu karang aktif

Berserak di tengah terumbu

Menyenangkan

Bahkan, saya sangat amazing sekali begitu nyemplung langsung dikerumun oleh ikan-ikan. Banyaaak sekali. Yes, I'm dancing on the water with them! Ini nggak mungkin saya dapatkan di Surabaya. Dulu, saat snorkling di Karimun Jawa pemandangannya juga sama bagus. Tapi ikannya nggak sebanyak ini. Padahal, saya tidak membawa biskuit. Ini betul-betul kebangetan! 

Menurut cerita pemandu kapal, sejak film Laskar Pelangi booming, wisata air di Belitung digiatkan. Bahkan mereka mengaku perekonomian keluarga sedikit terangkat. Dampak film yang mendunia betul-betul memberikan penghasilan tambahan bagi mereka. Sayang, isu jatuhnya Air Asia QZ8501 di Tanjungpandan, Belitung, ternyata menurunkan wisata mereka. Hingga lebih dari 30%. Padahal, jarak Belitung dengan lokasi jatuhnya pesawat nahas sekitar 300 kilometer.

Dancing like a fish

Ikan-ikan berserak

Puas snorkling, kapal kami menuju Pulau Lengkuas untuk mendarat. Pulau ini sepi. Hanya dihuni oleh penjaga mercusuar. Hanya, saat siang ada beberapa warga lokal menjaga museum House History of Lengkuas dan warung kecil. Di dekatnya, ada juga penangkaran penyu. Mereka tidak khawatir penyu itu hilang meski saat malam tidak jaga. Katanya, Belitung aman.

Untuk masuk mercusuar Pulau Lengkuas, pengunjung hanya diwajibkan membayar 5.000 rupiah perorang. Sampai puas foto-foto di sana, silakan. Ada banyak sisi menarik dari Pulau Lengkuas. Selain banyaknya bebatuan granit khas Belitung, di sini airnya sangat amat jernih. Mau motret dari angle manapun, semuanya menarik! 

Rock island

Pemandangan dari mercusuar, angle sejuta umat

Paduan jernihnya air bikin kangen buat balik

 Bagi saya, apa kata Bupati Belitung, benar adanya. Sayang banget kalau kita ke Belitung nggak mampir ke Pulau Lengkuas. Keelokan alamnya memang patut dijaga dan dilestarikan. Agar generasi penerus kita nantinya bisa ikut bangga punya kepulauan ciamik seperti Pulau Lengkuas.

Sunday, February 15, 2015

Review Hotel Surya Belitung


 
Hotel Surya
 
Berlibur ke Belitung, hal pertama saya pikirkan adalah, berapa harga hotel permalamnya? Jauh-jauh hari, saya bahkan surfing di situs yang secara khusus menawarkan penginapan. Empat-lima situs saya buka bersamaan, harganya masih sama: di atas seratus ribu! Saya pikir, harga segitu mahal. Sebab, saya akan bermalam selama tiga hari tiga malam di sana.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi Iwan, bertanya penginapan ala backpacker kere seperti saya. Tentunya, penginapan di bawah seratus ribu rupiah permalam.

 
Lobby Hotel Surya

Kata Iwan, ada sebuah hotel di tengah kota, Tanjungpandan, yang harganya miring. Namanya, Hotel Surya di Jalan Depati Endek (0719) 21550. Saya tergiur dan langsung booking untuk tiga malam. Harga permalamnya 100.000 rupiah bisa untuk dua orang. Harga segitu sudah naik dari harga yang dikatakan Iwan. Kalau ingin ekstra bed, tinggal nambah 50.000 rupiah permalam. See? Selama tiga hari tiga malam otomatis saya hanya mengeluarkan uang untuk penginapan 150.000 rupiah!

Sementara untuk single bed, harganya 90.000 rupiah permalamnya. Kalau mau yang kamar mandi dalam, harganya 200.000 rupiah permalam. Itu sudah termasuk sarapan telur rebus, roti atau lemper, dan teh hangat. Lumayan.

 
Bagian dalam Hotel Surya 

Kondisi Hotel Surya memang berada di tengah kota. Lebih tepatnya di jantung kota Tanjungpandan. Yakni di lantai dua bangunan yang menyatu dengan toko emas. Kebayang nggak gimana ramainya hotel kami? Jelas ramai, dong!  Karena ternyata, Hotel Surya bukan hanya untuk menginap wisatawan kere seperti kami. Tapi juga untuk ngekos para pekerja di sekitar Tanjungpandan. Isinya lelaki semua. Hanya kami bertiga yang cewek :))).

Di tengah pasar tua Tanjungpandan, dekat pelabuhan, dekat tempat pelelangan ikan, dekat alun-alun, dan dekat pusat oleh-oleh. Heaven.

Double bed
Untuk ukuran penginapan murah, Hotel Surya bersih sekali. Kamarnya banyak. Ada lebih dari 15 kamar. Ada ruang tengah untuk menonton tivi bersama. Untuk kamar mandi, ada di dalam dan tiga kamar mandi luar. Kamar mandi luarnya bersih kok. Yang lebih endes, resepsionisnya ramaaah! Kali pertama bertemu, saya bahkan serasa sudah akrab dan kenal sedari lama. Menyenangkan!

Oh, iya! Nada bicara orang Belitung memang agak keras. Tapi mereka ramah pada wisatawan. Seperti sudah tahu bahwa kami datang untuk berkunjung melihat kota kelahiran mereka. Saking ramahnya, Hotel Surya juga akan membantu wisatawan meminjamkan mobil atau motor. Tentu, meminjam motor di sini tanpa jaminan apapun. Asal pinjam saja, mereka sudah percaya :D. Harganya juga murah kok. Kalau saya membawa harga lebih murah dari yang mereka tawarkan, malah mereka mau mengalah mengikuti harga kami. Asyiiik!

Pemandangan dari lantai dua
Sebegitu asyiknya kami menginap di Hotel Surya, tentu masih ada kelemahannya.

Sayang seribu sayang, kamar kami terletak di paling ujung dekat balkon. Artinya dekat jalan raya. Setiap pukul satu-dua saya terbangun. Rutin. Karena sering kaget dengan hentakan motor kencang. Saya menduga, mereka adalah nelayan dan pedagang ikan yang baru pulang melaut dan mengambil hasil tangkapan. Jalan satu arah Depati Endek pun jelas ramai. Banget. Ini juga yang membuat saya tidur tidak nyenyak meski selalu tidur lebih cepat :)).

Balkon di depan kamar

Tetapi, setiap pagi, akan ada alunan suara merdu dari bangunan di depan hotel. Yang saya duga adalah tempat penangkaran walet. Ramaaai sekali. Merdu nian. Seolah ada musik Kitaro mengiringi :D.

Jadi, gimana? Menurut kalian, Hotel Surya rekomended nggak? Buat saya, sih, rekomen selama nggak tidur di kamar dekat balkon:)).

Menu sarapan

Friday, February 6, 2015

Berani Nggak Nyoba Marine Bridge?

 
Marine bridge

"Apa, sih, yang ada di Semarang?" Tanya saya suatu waktu pada Navis, teman asal Semarang.

Kala itu, saya hendak memutuskan untuk berlibur singkat di Semarang. Yang saya tahu, Semarang adalah kota budaya. Ada beberapa spot menarik nan kece di kota Semarang yang wajib dikunjungi. Tapi setelah saya browsing, saya hampir tidak menemukan rental motor di Semarang. Apalagi Navis mendadak tidak bisa mengantarkan saya berkeliling. Saya putar otak.

"Jadi menurutmu, lebih baik ke kota atau ke kabupaten?" Saya masih bertanya. Memastikan saya bisa berlibur ke kota lumpia.

Jawaban Navis selalu singkat. Tapi banyak. He's not simply at all, haha.

Katanya, kalau saya suntuk, Kabupaten Semarang cocok untuk berwisata karena konturnya pegunungan. Saya pun akhirnya memutuskan untuk ke Kabupaten Semarang sesuai saran Navis.

Ada apa saja memangnya? Selain Candi Gedong Songo ternyata di Kabupaten Semarang ada juga wahana wisata yang baru dibangun pada 2007. Namanya Wisata Umbul Sidomukti, Bandungan.

Sabtu pagi itu, selepas turun dari Candi Gedong Songo, saya diantar ojek terusan yang biayanya sangat terjangkau. Ini bekal dari pengalaman solo backpacking sebelum-sebelumnya, bisa menawar seenak jidat, hehe. Biayanya hanya 25.000 rupiah dari candi ke Umbul Sidomukti. Padahal jaraknya jauh, naik turun plus ngepot-ngepot.

Biasanya, kalau nggak pakai jasa ojek terusan dan nggak nawar seenak jidat, jatuhnya mahal sekali. Sebelumnya, tukang ojek yang mengantar saya naik candi menawari saya 50.000 untuk terusan. Waaah, saya sih mikir-mikir.

Kalau tidak naik ojek terusan, pengunjung bisa naik ojek dari candi turun ke Sumowono dilanjut angkot ke Pasar Jimbaran lalu naik ojek lagi ke Umbul Sidomukti. Di sepanjang perjalanan akan ada banyak sekali anak kecil yang mengarahkan jalan dan meminta sumbangan. Kalau tukang ojek yang mengantar saya, tahu medan banget. Jadi, nggak lewat wilayah anak-anak. Tapi lewat perkampungan.

Pagi itu hujan rintik membasahai pegunungan Ungaran. Saya sudah memakai jaket parasut. Bapak ojek santai tanpa jas hujan. Sementara jalanan pegunungan makin basah. Ban motor gembos. Jalan masih panjang. Saya jadi mikir, segininya yaa saya nyari hiburan? Hahaha.

Untuk masuk wisata Umbul Sidomukti, pengunjung diharuskan membeli tiket seharga 10.000 rupiah. Tiket itu bisa digunakan untuk berenang. Tetapi, kalau mau main outbound, beda lagi harganya.

Umbul Sidomukti adalah wisata alam dengan outbound dan pemandian air sumber mata air yang dingin. Pemandangan dari kolam bagus sekali. Lepas ke arah lereng gunung. Namun, hari itu hujan, saya yang ingin berenang pun batal. Nggak kebayang dinginnya.

Kolam renang dengan pemandangan pegunungan berkabut
 
Saya pun memilih menaklukkan nyali dengan mencoba wisata outbound.

Sebenarnya, saya tidak tertarik dengan wisata outbound, tapi saya tergiur dengan satu wahana yang mulai banyak digandrungi teevisi swasta untuk diliput. Namanya, wahana wisata marine bridge.

Wahana tersebut mengharuskan pengunjung untuk melintasi jembatan jaring di atas ketinggian 30 meter dengan panjang lintasan 50 meter, dan lebar 4 meter. Kanan-kiri jangan ditanya, tebing dong. Biayanya sangat amat murah, hanya 15.000 rupiah sekali jalan. Bayangkan, nyawa dihargai seremeh itu. Saya membeli tiket flying fox (18.000) dan marine bridge.


Wisata outbound penguji nyali
 
Banyak wanita bahkan ibu-ibu yang mencoba marine bridge. Saya pikir, masa saya kalah? 

Berbekal nyali, saya menitipkan kamera dan tas ke mas-mas penjaga. Kamera saya titipkan biar saya bisa difotoin, gitu. Mayan, kan, solo backpacking masih bisa narsis :)).

Sensasi yang saya rasakan begitu mencoba marine bridge adalah takut. Jelas dong, saya takut jatuh. Mana cuma pakai harness. Memangnya bisa ada jaminan selamat gitu? Tapi, show must go on. Nggak mungkinlah arek Suroboyo takut sama beginian, malu sama Bung Tomo! Hahaha.

Selangkah-dua, nyaman. Langkah berikutnya mulai keder. Kaus saya mulai basah. Ini namanya liburan beneran. Boro-boro mikir kerjaan, apalagi tugas kuliah, yang kepikiran cuma dua; Allah dan nyawa. Jatuh memang takdir, selamat Alhamdulillah. Ini nggak berlebihan, loh:p.

Arek Suroboyo yoo kudu wani nyoba, Rek! :))
 
Bukan hanya untuk outbound, Umbul Sidomukti ternyata juga menerima pesanan bumi perkemahan di tepi lereng. Juga ada berkuda, naik ATV, dan kedai makanan. Saya yang langsung lapar setelah uji adrenalin pun bergegas mengisi perut. Harga makanan standar, 10.000-30.000 rupiah saja.

Selepas berwisata di Umbul Sidomukti, Kalau mau pulang, bisa banget naik ojek ke Pasar Jimbaran, harganya 15.000. Ini sih, mahal banget. Tapi daripada saya nggak bisa pulang, siapa yang mau tanggung jawab? Lalu dilanjut naik angkot hijau ke Bandungan seharga 3.000 rupiah saja.

Berwisata di Umbul Sidomukti dan Candi Gedong Songo cocok untuk one day trip di kala weekend. Jadi, tertarik juga mencicip sensasi uji adrenalin marine bridge?

Kemping di tepi lereng

Thursday, February 5, 2015

Berkata-kata di Museum Kata Andrea Hirata

Mari bermimpi!
  
Do I inspire you?  
 
Beberapa orang yang saya jumpai sesaat sampai di Belitung berucap, "Belitung sekarang ramai karena Laskar Pelangi."

Ternyata sebegitu dahsyatnya efek novel dan film Laskar Pelangi di tanah Belitung. Ya, wajar, perekonomian mereka juga semakin mengeliat pascafilm diputar 2008 silam.

Beberapa orang yang saya jumpai juga berkata, "Dulu, Belitung sepi. Ada, sih, wisatawan, tapi nggak seramai sekarang. Dulu penerbangan hanya 1-2 kali sering juga batal. Sekarang bisa 10-11 kali dalam sehari. Maskapai juga banyaklah."

Ternyata banyak orang penasaran dengan Pulau Laskar Pelangi, termasuk saya. Kecantikan alam yang memesona membius alam sadar.

Salah satu hal yang dimanfaatkan untuk menggaet wisatawan adalah replika sekolah untuk syuting Laskar Pelangi. Selain itu, penulis Andrea Hirata juga turut andil menambah tempat wisata di Gantung, Belitung Timur. Yakni dengan membangun Museum Kata atau Indonesia First Literary Museum sejak 2010.


Museum Kata Andrea Hirata 
 
Memasuki Museum Kata Andrea Hirata, pengunjung akan disambut dengan foto-foto dan kata-kata yang inspiratif. Ada sensasi menyenangkan dan terinspirasi ketika saya masuk ke dalam museum.

Museum Kata Andrea Hirata ini cukup luas. Terdiri dari ruang-ruang inspiratif penuh dengan coretan kata-kata. Tidak lupa dekorasi cantik ditempelkan bersama barisan kata. Foto-foto pemeran Laskar Pelangi saat syuting dipajang apik, membuat pengunjung seolah merasakan keaslian cerita tersebut. Belum lagi pajangan epik yang ada menambah kesan roman klasik masa lalu. Ada pula panggung ekspresi. Ada juga ruangan yang menggambarkan rumah tua milik keluarga Ikal. Belum lagi ruangan warna-warni penuh jendela, mengisyaratkan bahwa buku adalah jendela dunia. Aduhai! 

Ruang inspiratif 
Bagian rumah keluarga Ikal
Pernik pendukung syuting Laskar Pelangi
 
Yang paling menyayat hati adalah adanya foto Lintang dan Ikal saat Lintang memutuskan untuk kembali ke rumah, mengakhiri sekolah, lantaran ayahnya tidak lagi pulang dari melaut. Sedih. Kebayang kalau cerita tersebut benar adanya. Jalan untuk pintar memang sulit. Perlu perjuangan.

Ikal berteriak memanggil Lintang di hari terakhir
 Lintang dan sepeda usai ayahnya tak kembali
 
Banyak sekali pajangan apik dan kreatif yang ada di Museum Kata ini. Ada sampul dan beberapa lembar buku Laskar pelangi yang diterjemahkan di berbagai bahasa. Lengkap dengan foto sang editor.
Laskar Pelangi International Editions

Bangunan museum juga diperkaya dengan pojok kantor pos yang didesain minimalis semi-vintage. Pengunjung bisa menulis kartu pos untuk dikirim ke handai taulan. Cukup membayar 15.000 untuk jurusan di seluruh Indonesia dengan waktu sampai sekira tiga minggu. Atau 40.000 untuk jurusan luar negeri dengan durasi sampai sedikitnya tiga bulan.

Sudut kantor pos
Menulis kartu pos untuk handai taulan
 
Yang membuat museum lebih keliatan asik adalah adanya pojok Kopi Kuli. Iya! Kopi lagi. Pantaslah kenapa Andrea Hirata kerap menuliskan tentang kopi di buku-bukunya. Memang tradisi di Belitung, tepatnya Bangka Belitung, adalah ngopi. Tak ketinggalan juga di Museum Kata.

Kupi Kuli

Lalu, apa beda Kopi Kuli dan Kopi-O yang ada di Belitung?

Dari percakapan saya dengan Mbak Desi--penjaga museum--Kopi Kuli merupakan kopi khas pekerja timah. Kopi Kuli berbeda dengan Kopi-O. Baik dari segi rasa dan cara pembuatan. Saya yang dulunya kerap mencicip aneka macam kopi, jadi tergiur untuk mencicipinya.

Jika pembuatan Kopi-O hampir sama dengan kopi-kopi lain di tanah Jawa--dituang air mendidih pada gelas--maka Kopi Kuli berbeda. Cara pembuatannya, bubuk kopi ikut diseduh di kuali sampai mendidih baru disajikan. Rasanya lebih epik. Buat saya, rasa Kopi Kuli lebih nendang. Ada perpaduan asam, sepat, dan pahit yang bercampur. Kalau mau tambah gula silakan, kalau tidak itu lebih baik. Harganya nggak mahal, hanya 5.000 rupiah.

Dapur tradisional
Saya dan Mbak Desi 
Kupi Kuli 

Rasanya, saya hampir sepenuhnya setuju dengan isi dari Museum Kata ini. Ya, apalagi kalau bukan tentang mimpi, membaca, menulis, lalu keliling dunia. Saya ingin semuanya.

Untuk masuk Museum Kata Andrea Hirata pengunjung hanya dikenai biaya 2.000 rupiah saja. Itu pun kalau ikhlas. Kalau enggak, ya nggak usah. Di museum ini, saya terinspirasi untuk tetap bermimpi. Tetap berjalan, belajar, dan membuka wawasan.

Belajar, belajar, dan belajar!