Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2015

Liburan Kilat di Omah Kayu

Gunung Banyak
Ini bukan trip yang direncanakan matang. Tapi serbamendadak. Itulah sebab, judulnya fast trip. Karena, serbamendadak, serbacepat, dan serbapasrah.
Pilihan trip kali ini adalah Omah Kayu, sebuah penginapan di atas pohon dengan bangunan serbakayu. Saya dan teman tentu saja tidak menginap. Hanya mampir, numpang eksis di tempat yang lagi happening.
Terletak di Pegunungan Banyak Kota Wisata Batu, Omah Kayu berada. Letaknya jadi satu dengan wisata dirgantara paragliding--yang sampai sekarang saya hanya bisa gigit jari karena belum sempat. Cuaca Batu hari itu cukup bersahabat. Maksudnya, nggak panas dan nggak mendung. Tapi, saat di puncak, ternyata langit mendung. Setetes-dua air mulai turun, tapi tertahan.
Untuk mencapai Omah Kayu tidaklah sulit. Hari itu, kami memutuskan untuk ngeteng. Naik turun angkot dari Malang. Rutenya begini:
Naik angkot AL (Arjosari-Landungsari): 5.000 rupiah (angkot tersedia sampai maghrib saja PP) Landungsari-Bis Puspa Indah jurusan Jombang, Kediri, …

Memintalah yang Sopan

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah"Ungkapan dalam hadits tersebut sudah sepatutnya tertanam dalam masing-masing kepala umat Muslim. Mengajarkan betapa sedekah bukan kewajiban, tetapi sebaiknya dilakukan. Balasannya tidak pernah main-main. Bahkan, Allah berjanji akan mencukupkan dan melipatkagandakan rezeki orang-orang yang bersedekah--tentu tanpa pamrih.Sabtu malam, di pangkalan pedagang kaki lima depan Stasiun Malang Kota Baru, banyak peminta-minta. Mulai dari pengemis, pengamen, dan anak-anak. Semuanya mengiba keikhlasan setiap pengunjung yang tengah menikmati masakan. Pengamen berusia aktif, peminta-minta berusia anak-anak, dan pengemis berusia lanjut.Suara sumbang dari lagu top fourty dinyanyikan, lengkap dengan suara petikan gitar usang. Dua anak kecil berusia tak lebih dari delapan tahun, menyorongkan gelas akua, meminta uang. Sesekali satu di antara mereka menutup mata sambil berjalan, pura-pura menjadi penyandang tuna netra. Sementara mereka yang lan…

Menunggu Waktu Pulang

Setiap yang terlahir, sejatinya hanya menunggu waktu untuk pulang Dengan atau tanpa suatu apapun, sesungguhnya mereka, akan berpulang Menunggu di barisan terdepan, tengah, atau bahkan akhir, tak berbeda Ada waktu pergi Juga pulang Di antaranya ada rekaan tragedi Pilu, susah, senang, bahagia, dramatis, miris
Di antara mereka, ada sebaris kata lelah Atau mungkin saja lebih Ada juga yang mengisi dengan penuh tawa serta canda Tak sedikit yang penuh luka bergores darah Sejuta pertanyaan melebur di antara pergi Juga pulang Ada apa?
Sejatinya mereka memang terlahir hanya mampir Sejenak di antara yang lain Menjawab tanya dengan gusar Padahal waktu hanya sebentar Sulit melontar jawab Justru ego terlempar Bahagia itu hanya sebentar Waktu pulang semakin menderap, mengejar
Kini Atau nanti, seluruh tanya tidak akan selalu terjawab Hanya satu yang pasti Semua mati

Gili Labak: Pulau Kecil di Utara Madura

Gili Labak
Sudah lama saya ingin pergi ke Gili Labak. November lalu, saat saya ke Sumenep, mulanya ingin ke sana. Namun, karena teman membawa anak berusia dua tahun, jadi ditunda. Maka, ketika kesempatan itu datang, saya merencanakan untuk pergi ke Gili Labak awal April.

Kamis malam, kami berangkat dengan Travello pukul 23.00 dan sampai di Masjid Raya Sumenep tepat saat azan Subuh--setelah beberapa insiden, akhirnya!:))). Setelah salat, tanpa mandi, kami langsung berangkat menuju rumah Pak Riri untuk parkir mobil. Kapal diparkir tak jauh dari rumah beliau.
Masjid Raya Sumenep
Gili Labak merupakan bagian dari Pulau terluar Madura, masuk dalam Kabupaten Sumenep, Kecamatan Talango. Butuh waktu 2,5-3 jam perjalanan kapal dari Pelabuhan Kalianget bergantung cuaca di lautan. Pulaunya cukup kecil dan hanya dihuni oleh 35 kepala keluarga migrasi dari Talango. Saking kecilnya, berdasarkan googling cepat di peta Kabupaten Sumenep, hampir tak ada yang menyebutkan keberadaan Gili Labak.
Pel…