Saturday, June 20, 2015

Menyapa Bromo dari Puncak B-29


Minggu lalu, saya menepati janji untuk main ke rumah Haryani di Lumajang. Haryani ini teman SMA yang sudah klop dari awal kenal. Sama nakal :)).

Jumat pagi, selepas salat Subuh, saya langsung tancap gas ke Bungurasih dengan bis kota seharga 5.000 rupiah. Motor saya titipkan parkiran kantor karena gratis *asli, kere maksimal :))*. Sampai Bungurasih, saya oper ke bis AKDP menuju Ambulu, Jember turun di perempatan Klojen, Lumajang dengan biaya 30.000 rupiah yang ditempuh selama 5 jam perjalanan. Di perempatan inilah saya akan dijemput oleh Haryani.

Tujuan saya ke Lumajang tak lain adalah ingin ke puncak songolikur atau banyak dikenal dengan sebutan B-29. Tempat yang lagi booming semena-mena. Jarak Klojen sampai Argosari bisa ditempuh sekira 1,5 jam mengendarai motor. Sebelum sampai Argosari saya mampir isi perut dengan harga 17.000 rupiah di pasar yang saya lupa nama daerahnya.

Perjalanan panjang nggak akan berasa di sini karena kanan-kiri pemandangan hijau. Aroma pegunungan kental terasa. Sayup-sayup semilir angin mulai merasuki tulang. Padahal hari sudah siang.



Hari itu adalah hari Jumat. Kawasan wisata B-29 sepi sekali. Wisatawan tak sampai dua puluh orang. Di tengah perjalanan menuju gerbang selamat datang, tukang ojek biasa menawarkan jasanya. Tawar saja semaksimal mungkin. Kalau perlu kasih alasan kenapa kalian menawar dengan harga rendah.

Alasan saya kala itu enggan mau melepas 80.000 rupiah untuk perjalanan ke puncak hanya satu: perjalanan masih panjang, sementara saya harus super duper hemat agar bisa pulang ke Surabaya dengan memutar ke Bali terlebih dulu.

Saya dapat harga 60.000 rupiah perorang untuk ojek yang mengantarkan sampai puncak. Harga segitu PP. Kenapa saya mau ngojek? Karena jarak dari tempat parkir ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki sekira 2-3 jam. Sementara kalau naik ojek bisa 20-25 menit. Itu sudah sangat lama mengingat jalanan yang ditempuh nggak manusiawi.

Tiket masuk kawasan wisata B-29 sebesar 5.000 rupiah perorang, begitu juga biaya parkirnya. Tetapi, saat saya ke sana semuanya gratis. Motor dititipkan di rumah tukang ojek, tiket masuk gratis karena nggak ada penjaganya.

Kontak ojek yang bisa ditawar semena-mena: Agus (0856-4528-2879). Biasanya tukang ojek menawarkan harga selangit saat liburan sebesar 100.000-120.000 rupiah PP.



Di puncak, saya disuguhi dengan pemandangan apik. Perkebunan Suku Tengger membentang luas. Warna-warni. Pemandangan ini mengingatkan saya kala kali pertama ke puncak Bromo dua tahun lalu menggunakan motor. Satu perjalanan yang insyaallah nggak mau saya ulang lagi. Badan remuk! :)).

Nggak hanya Bromo, dari tempat saya berdiri, saya juga bisa melihat bukit sabana serta bukit teletubbies. Eh, apakah keduanya adalah sinonim?

Tapi yang jelas, B-29 bukan tempat tertinggi yang bisa digunakan untuk melihat Bromo. Masih ada B-30. B-29 sendiri baru populer kira-kira lima tahun lalu. Sebelumnya, Suku Tengger di sini banyak bertani. Namun, ketika wisatawan menemukan tempat ini, pelan-pelan mata pencaharian mereka berubah. Kadang bertani kala sepi, tapi juga ngojek dan menyewakan kamar seharga 40.000 rupiah permalamnya tanpa makan.




Yang paling saya suka di sini adalah kedamaian. Bukan bermaksud lebay. Tapi memang saat saya ke sana rasanya damai sekali. Mungkin karena sepi jadi syahdu banget rasanya. Bebas juga mau foto-foto model apa saja. Nggak pernah kebayang kalau ke sini saat long weekend, pasti banyak sampah. Mau motret pun juga bakalan antre. Ckck.



Ada satu sisi yang membuat saya betah. Yaitu sisi semak-semak. Di sini pemandangannya ciamik juga. Beberapa bekas ban sepeda terukir, menandakan jika kawasan pasir ini masih bisa dilewati motor. 


Tak jauh dari semak belukar, pemandangan lain yang disuguhkan adalah puncak Semeru. Cantik juga dilihat dari tempat saya berada. Puncak yang kini makin digandrungi sejak ada film 5 cm. As we know, masyarakat kita banyak latah. Ada film tentang gunung, jadi ikut ramai-ramai ke gunung.

Termasuk saya juga, sih.


Dulu saya pikir, Lumajang bukanlah tempat asyik untuk dijelajah. Tapi ternyata saya salah. Keunikan Suku Tengger yang hampir selalu pakai sarung tenun mahal membuat saya meralat, ternyata Lumajang oke juga dikunjungi. Apalagi, jika ditempuh dari Surabaya, Lumajang tidak begitu jauh. Seolah hanya sepelemparan uang logam saja. Biaya yang dihabiskan juga nggak mahal kalau ingin ke B-29. Total untuk ke B-29 dari Surabaya hanya 112.000 rupiah saja.

Jadi, tertarik juga nggak ke puncak B-29 untuk menyapa Bromo dari kejauhan? Selamat berlibur hemat ya!

Friday, June 19, 2015

Review: Mama Hostel Legian, Bali

 
Saat ke Bali seminggu lalu, niat awal saya sebenarnya adalah nebeng di kosan temen kuliah. Tapi, dua hari sebelum saya berangkat ke Lumajang (perjalanan saya berawal dari sini), saya mendapat kabar kalau kosan teman sedang mampet. Jadilah saya surfing cepat mencari penginapan super-duper murah untuk dua hari dua malam. Via booking.com saya akhirnya menemukan penginapan yang cocok untuk kantong backpacker on budget (baca: kere maksimal) seperti saya ini. Fyi saja, saya harus menyesuaikan budget selama di Bali 3H3M di angka 600.000 rupiah--exclude tiket pesawat pulang dan oleh-oleh.


Namanya Mama Hostel, room for rent. Letaknya di Jalan Mataram Gang Bima no. 2, masih di sekitar kawasan Legian, Bali. Harga permalamnya hanya 50.000 rupiah dan itu sharing room sekamar berempat bareng bule cewek. Saat tahu harganya hanya 100.000 untuk dua malam, saya beneran nggak pakai mikir buat ambil dan booking.

 
Via booking.com saya tahu gambaran tempat menginap saya seperti apa. Jelasnya tentu nggak ada musala, but it's not the big deal. Hajar saja. Bisa salat di masjid. Dengan harga kurang dari 4 USD, kok rasanya kurang etis sekali kalau minta fasilitas oke. Tapi, berhubung saya orangnya gampangan alias gampang teler kalau udah kena bantal dan tempat tidur bersih, yaa nggak masalah meski harus berbagi kamar dengan bule. Toh, kepentingan kami beda-beda. Nambah temanlah pastinya, meski saya lupa sama sekali dengan nama mereka. 

Untuk harga segitu, Mas Louis (yang menyambut kedatangan saya malam-malam) memberikan saya seprai dan handuk baru. Dengan harga miring, kamar mandi berada di luar. Satu lantai satu kamar mandi, kayaknya. Saya nggak tahu persis karena selama menginap memang hanya numpang tidur dan mandi. Selebihnya sudah menghilang dari subuh sampai malam.

 
Di Mama hostel, saya dapat fasilitas dua kipas angin, loker masing-masing satu buah, dan colokan listrik sekamar ada enam. Ada tempat nyangkruk juga di lantai atas, begitu pula lantai bawah, ada bale-bale. Tempat parkirnya juga cukup luas. Secara umum, Mama hostel murah dan bersih, juga ramah pelayanannya. Yang lebih asyik, Jalan Mataram ini jarang ada anjing liar dan banyak warung Muslim berjualan. Jadi nggak usah ragu buat cari makan selama di Bali. Apalagi harganya bersahabat antara 10.000-12.000 rupiah saja.


 Jadi, kalau mau menginap di Bali dengan harga murah, nggak perlu ke Poppies Lane II yang rame parah itu, bisa juga di Mama hostel yang masih masuk kawasan Legian. Kalau lihat dari situs booking.com, ada fasilitas wifi juga. Tapi saya nggak nyoba sama sekali. Oh, iya, kalau mau ke Legian area, bisa juga jalan kaki sekira satu kilometer lewat gang-gang sempit. Ini kontaknya yaa kalau mau ikutan menginap di sini: Louis 08174722728. Selamat liburan hemat!

Thursday, June 18, 2015

Amed: Surga Bawah Laut di Timur Bali

klik gambar untuk memperjelas

 
Seorang bule asal Perancis bertanya perihal kondisi bawah laut Gili Amatra setahun lalu, saat kami sedang ngobrol hore di depan kamar hotel di Mataram.
Lalu dia balas bertanya, "Have you ever gone to Amed in North Bali?"

Amed. Tempat asing yang kala itu hanya saya jawab dengan kernyitan di kening. Tempat apa itu? Tiga kali ke Bali, sekalipun saya belum pernah mendengar kata Amed. Saya penasaran setengah mati. Sebagus apa, sih, Amed? Bahkan, si bule ini mengaku hampir selalu ke Amed setiap singgah ke Indonesia. Meh!

 Lalu, ketika jatah cuti semester satu tersisa tiga hari, saya memaksakan diri untuk menghilang dari Surabaya. Meninggalkan semua pekerjaan yang semakin lama semakin banyak. Saya bosan di Surabaya dan harus pergi cepat-cepat untuk liburan.

Amed menjadi pilihan pertama yang saya tuju begitu akhirnya cuti di-acc dan ada teman yang akan menemani. Teman TK, teman kuliah, dan teman reporter. Saya yang mulanya solo backpacking jadi nggak berasa. Total kami bertujuh berangkat dari Legian dan Canggu.

 
Amed terletak di Jemeluk, Amlapura, Karangasem, Bali Timur (bukan North Bali) atau sekira tiga jam perjalanan dari Denpasar dengan mengendarai motor. Jauh tapi tidak terasa jauh. Sebabnya, perjalanan tidak macet dan banyak pepohonan hijau di kanan kiri menghiasi. Jalanan berkelok tajam cukup membuat adrenalin naik turun.

Meski jaraknya jauh, semua akan terbayar dengan pemandangan final yang ditemui. Saya berani menjamin. Apalagi jika sudah di bukit Jemeluk. Sadis!



Masuk di pertigaan Amed, mulai banyak resort dan penginapan yang menawarkan jasa meninap, diving class, hingga paket-paket snorkling kilat seperti yang kami inginkan. Harganya bervariasi. Saya dapat harga 25.000 rupiah untuk sewa snorkel gear dan life vest. Hanya turun 5.000 rupiah dari harga yang semula ditawarkan. Lumayan murah untuk ukuran di Pulau Dewata.

Amed
 
Amed merupakan wilayah pesisir di Timur Bali dengan pasir berwarna hitam legam dan banyak kerikil di tepinya. Jangan salah, meski berpasir hitam, pemandangan bawah lautnya memesona! Tak kalah dengan pemandangan lain yang disuguhkan oleh pantai-pantai cantik berpasir putih.


Semula, saya agak kecewa begitu mendapati terumbu karang yang jarang ditemukan dari bibir pantai. Kalaupun ada, jaraknya jauh, terumbunya biasa saja, serta jarak pandang bagi orang berminus dan bersilinder seperti saya tidak cukup bersahabat. Buram.


 
Amed memang tidak seterkenal Tanah Lot, Pantai Kuta, dan teman-temannya. Tapi pesona Amed benar-benar jauh dibandingkan yang biasa ditemukan di laman-laman media sosial. Nggak heran juga, banyak turis asing yang memilih menyepi di sini.
Tapi semuanya berubah ketika saya memilih di sisi lain pantai. Terumbu karang dengan ikan warna-warni kaya banget! Dapat ditemukan dengan mudah di tepi pantai. Di sini foto-foto underwater oke sekali.



  
Salah satu ikon terkenal Amed adalah adanya pura dan kapal karam yang letaknya jauh dari bibir pantai. Sekira sepuluh kilometer dan harus ditempuh menggunakan kapal dengan harga sewa 200.000 rupiah belum ditawar. Kami tidak ke sana. Hanya snorkling sampai di wilayah pura dasar laut. Jarak pura dengan tepian tak kurang dari sepuluh meter. Tapi bedanya, di pura ini tidak ditemukan sesajian layaknya pura pada umumnya.

Siapapun yang berkunjung ke Amed, pasti ingin balik lagi dan lagi. Selain bisa dijadikan tempat wisata one day trip dari Surabaya (asli ini bisa banget kalau memang niat dan punya budget tebal buat bayar pesawat PP hanya dalam sehari :p), Amed masih sangat sepi dan sejuk. Bagaimana dengan makanan? Ada nasi ikan yang dijual dan bebas babi hanya 5.000 rupiah saja. Nggak usah khawatirlah kalau urusan perut di tempat setenar Bali. 

Sudah jauh tapi enggak snorkling? Salah besar! Pastikan kalian mencicipi dasar laut Amed kalau memang mampir ke sini. Selain pemandangannya cantik juga bisa bikin eksis. EAAA! =))).



Jadi, tertarik nggak buat ke Amed? Murah aja kok. Cuma habis 50.000 rupiah saja kalau dari Denpasar all in bensin, makan, parkir, dan snorkling. Ke Amed, Yuk!

Saturday, June 13, 2015

Cerita Lain dari Jalan-jalan

Sejak saya tahu dunia bukan soal hidup di kantor dan rumah PP, jujur saja saya makin penasaran dengan kehidupan di luar sana. Ada banyak cerita yang saya dapat dari jalanan begitu memutuskan untuk jalan kemana pun arah dan kesempatan yang ada.

Dibandingkan dengan pergi keroyokan, small groupie, dan berdua, saya lebih suka jalan seorang diri. Bukan apa-apa, dengan jalan sendiri, saya bisa lebih banyak bertemu dengan orang baru dan tahu cerita mereka. Maklum saja, saya sengaja menjadikan mereka sebagai objek pembelajaran bagi kehidupan ke depan.

Di dunia nyata, mungkin saya kurang gaul dan tidak punya banyak teman. Prinsip saya, untuk belajar tidak hanya bisa didapat dari teman yang sudah dikenal, tapi juga orang-orang baru. Nggak jarang, saya belajar dan semakin bersemangat setiap pulang sambil membawa cerita baru.

Seperti saat ini. Di perjalanan dari Lumajang menuju Pulau Dewata, saya bertemu dengan seorang janda beranak satu. Kami bicara banyak hal. Banyaaak sekali. Sampai saya tahu kehidupan masa lalu dia. Padahal saya tidak banyak tanya seperti seorang wartawan. Dia saja yang cerita mengalir begitu saja. Dari ceritanya, saya mensyukuri kehidupan sampai detik ini. Saya tahu, saya bukan orang yang mudah bersyukur. Tapi jika melihat orang lain berada di posisi yang jauh di bawah kehidupan saya dan keluarga, kok kufur nikmat sekali saya ini.

Dia seorang janda beranak satu yang belum pernah bekerja sama sekali. Cerai sejak dua tahun lalu. Bekerja di Denpasar sejak empat bulan lalu dengan gaji 1,5 juta rupiah perbulan. Tidak ada uang bonus, apalagi hari libur. Sebulan hanya dua hari libur. Gaji pas-pasan dibagi untuk keluarga di Jember sejuta, sisanya untuk menghidupi dirinya sendiri. Hanya lima ratus ribu rupiah.

"Mbak nggak capek kerja begitu?" tanya saya.

Dia tersenyum kecut. "Apalah daya, Mbak? Daripada anak dan ibu saya nggak bisa makan? Saya harus mengubah kehidupan keluarga saya. Kalau nggak kabur begini bisa miskin terus, Mbak."

DEG!

Saya kaget. Lalu di keluarga saya, apa yang perlu diubah jika semuanya tampak jauh dari kehidupan Si Mbak ini? Astaghfirullah. Sedih...

Di Selat Bali, saya mendapatkan kabar dari rumah. Tentang satu kehidupan lain yang tampak normal dan bahagia. Tetapi di sisi lain, satu kondisi berbalikan dengan kebahagiaan. 180 derajat.

Nggak ada yang sempurna di dunia ini :'(

Begitu tulis sms Ibu yang mengabarkan keadaan saudara yang sedang menikah tetapi ayahnya opname di rumah sakit.

Saya berkaca, apa sih yang kurang dari keluarga saya? Kok saya jadi sering menghilang begini? Ibu paham, saya jalan begini untuk belajar. Untuk tahu banyak hal baru sebelum menikah. Tapi entahlah kenapa cerita dari orang-orang lain hampir selalu mengharukan.

Mungkin dengan begitu saya menjadi lebih banyak bersyukur.

Alhamdulillah...

*ditulis di Selat Bali

Monday, June 8, 2015

Tips Menabung untuk Backpacking

Tidak sedikit teman mengira saya adalah pekerja bergaji besar. Hal ini dilihat dari kebiasaan saya jalan-jalan hampir setiap bulan.

Biasanya, saya menjawab dengan jawaban, "Ini juga nabung, kok."

Memang begitu. Pada dasarnya, saya bukan pekerja bergaji besar, kok. Gaji standar dan pas buat mencukupi kebutuhan bulanan wanita single seperti saya. Lalu kok bisa saya jalan-jalan hampir setiap bulan?

Tipsnya cuma satu: menabung.

Saya punya tiga jenis tabungan berbeda. Saya membaginya berdasarkan kebutuhan; untuk jajan sehari-hari, tabungan masa depan, dan jalan-jalan. Pembagian tabungan 30:40:30.

Setiap gajian, dengan senang hati, hal pertama yang saya lakukan adalah menyisihkan berdasarkan pembagian di atas. Misal, gaji bulanan saya 2.000.000. Berarti masing-masing 600.000 untuk jajan dan tabungan jalan, serta 800.000 untuk tabungan masa depan.

Nah, karena hampir setiap bulan saya jalan, maka saya harus mengatur seirit mungkin agar 600.000 tidak habis sekali jalan. Lalu sisanya bisa diakumulasikan untuk membeli tiket pesawat perjalanan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, bulan April saya pergi ke Gili Labak, Madura, menghabiskan uang 239.000 artinya masih ada sisa 361.000 yang bisa saya tabung lagi. Nah, sisa ini saya gunakan mengisi tabungan untuk pergi ke Pulau Komodo. Begitu pula sisa dari uang jalan di bulan-bulan berikutnya.

As simple as that. Sebenarnya, mudah saja kok membagi tabungan ini. Yang nggak mudah cuma satu: sebisa mungkin menahan hasrat belanja yang sewaktu-waktu kumat biar tabungan nggak jebol:))).

Jadi, buat yang mengira gaji saya segambreng gegara suka jalan, bisa dilihat dari rincian di atas yaa. Makanya, yuk nabung!

Sunday, June 7, 2015

Melirik Alam Bawah Laut Pulau Menjangan




Dermaga Pulau Menjangan 


"Mau ikut ke Pulau Menjangan, nggak?"

Kira-kira begitu kalimat penawaran saya pada beberapa teman--yang tak terhitung berapa jumlahnya. Ditolak, sudah pasti. Tapi saya nggak patah arang. Namanya juga kepingin jalan tapi nggak punya duit buat sewa kapal sendirian. Ya, harus lebih agresif buat ajak-ajak.

Ini selalu jadi kendala saya kalau lagi pingin ngilang dari Surabaya, one day trip. Gimana nggak? Hari libur saya nyeleneh. Mana ada yang mau nemenin liburan tiap Jumat. Emangnya pengajian.

Total ada 16 orang akhirnya ikut one day trip di Pulau Menjangan. Kebetulan, kala itu hari Jumat, tanggal merah. Pas hari buruh. Yang lain demo, saya liburan hore.

Pulau Menjangan dipilih karena eksotisme bawah laut nan keren dan cukup dinikmati dalam satu hari libur. Singkat.

Syahdu

Bening

Pulau Menjangan adalah bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Banyak catatan perjalanan maupun berita mengatakan keindahan bawah laut Menjangan tidak ada duanya. Selalu membuat decak kagum. Setidaknya begitulah kali pertama yang saya lihat begitu sampai di permukaan laut. Hamparan bebatuan karang aneka bentuk dan warna berpadu. Barisan ikan warna-warni ikut menari. Amboy! Kece nian.


Hamparan karang
 
 
Bunga karang
 

Karang-karang
 
Semakin kece ketika saya menyadari bahwa untuk mencapai Pulau Menjangan tidak lagi perlu menyebrang lewat Ketapang-Gilimanuk lalu berkendara menuju Labuan Lalang, Bali. Tetapi bisa juga ditempuh lewat Desa Bengkak, Banyuwangi, Jawa Timur. Artinya, tidak akan butuh waktu lama untuk menikmati Pulau Menjangan. Sebab, selama ini yang membuat lama adalah menyebrang di Ketapang-Gilimanuk yang ditera antara 40 menit sampai 1 jam. Itu jika tidak long weekend.

Tak butuh waktu lama untuk menyebrang dari Desa Bengkak, Banyuwangi ke Pulau Menjangan. Sekira 30 menit saja. Sayang, jadwal yang ditaksir pagi sudah sampai Menjangan harus molor. Wajarlah, kami terjebak banjir di Kraton, Pasuruan dan harus berhenti sambil hopeless selama tiga jam.

 
Karang otak

Karang otak merah

Semua terbayar ketika kecantikan bawah laut Menjangan yang memesona. Kerapatan karang membuat sejauh mata memandang hanya karang terbentang. Sungguh lupa dengan apa saja yang terjadi di atas sana.

 
Mudah hancur

 
Bentuk lain karang

Semakin sering saya berenang, semakin paham Tuhan menciptakan keindahan bawah laut juga untuk manusia. Maka menjadi ironi jika populasi terumbu karang harus hancur dan habis untuk memenuhi sebagian perut manusia. Ragam biota laut semakin menyadarkan saya jika alam sangat indah. Indonesia sangat kaya.

Finding nemo!

Patrick!
 
Barisan ikan hias

Nudibranch

 
Ikan layar

 
Anemon
 
Saya pikir, Menjangan memang sangat cantik. Sama cantik dengan Belitung dan Karimun Jawa. Biotanya kaya. Karangnya beragam. Tapi Pulau Menjangan bukan hanya soal keindahan bawah laut. Di Pulau Menjangan, juga ada patung Ganesha dan pura yang biasa menjadi jujukan para umat Hindu. Saat saya ke sana, ada jejeran kapal umat sembahyang di pura.

 
Kapal

 
Ganesha

Sebagai pemungkas, jika singgah ke Pulau Menjangan jangan lupa foto underwater dengan pose kekinian. Melek di dalam laut!

 
Kekinian :)))

Kalau saya, sih, cukup pakai snorkle gear kalau mau eksis. Nggak kuat nahan perih. Hidup sudah perih, masa iya ditambah harus merasakan perihnya air laut di mata :)).

 
Hup!

Buat saya, alam bawah laut Menjangan indah sekali. Semakin indah karena saya tahu, sewaktu-waktu bisa menghabiskan libur sehari untuk menikmati pemandangan alamnya yang cantik. Apalagi, saya tahu, tarif yang dihabiskan  nggak sebanding dengan pengalaman yang didapat. MURAH! 

Jadi, kalau mau one day trip ke Pulau Menjangan, bolehlah ajak saya. Bisa diaturkan jadwal dengan harga bersahabat, ntar *malah jualan :))*.

 Ingat! Jadilah pejalan yang bertanggungjawab. However, we don't leave anything for others, except scenery.