Thursday, July 23, 2015

Piknik Hemat di Selecta Batu


Kota Batu. Saya mengenalnya sejak masih balita, atau bisa saja sejak bayi. Betapa tidak, hampir setiap tahun saya pasti mampir ke Batu untuk berkunjung ke rumah saudara. Kalau pun enggak, saya pasti iseng hore-hore main ke kota kecil yang mirip dengan puncak Bogor. 

Udaranya sejuk dan dingin. Dulu, nggak pernah ada kata macet di sini. Tapi sekarang jangan ditanya. Kami hampir selalu cemas setiap berliburan ke Batu. Bukan apa-apa, macetnya nggak kira-kira. Makanya, kami memilih untuk pulang malam. Paling nggak, macetnya sedikit terurai. Pernah, kami pulang pukul 7 malam dari rumah saudara dan baru sampai Surabaya tepat pukul 3 dini hari saking nggak geraknya mobil di jalanan. Ngok.

Lebaran kemarin, kami berlibur ke Batu seperti biasa. Seperti biasa juga, kami mampir ke tempat wisata. Kali ini kami memilih untuk bermain ke Selecta. Alasannya, rerata dari anggota keluarga sudah belasan tahun nggak mampir. Apalagi Tita juga belum pernah tahu wajah Selecta, tempat wisata masa kecil kami. Wajar kami rindu. Penasaran seperti apa metamorfosanya.


Jalanan menuju Selecta ada dua jalur. Bisa melalui Kota Batu, bisa juga melalui Karangploso lanjut ke Bumiaji, Batu. Saya sarankan, pilih jalur kedua. Satu, pemandangannya kece karena naik turun gunung dan berliku. Dua, relatif sepi. Sebabnya, banyak sekali wisatawan yang memilih jalur Kota Batu untuk ke tempat wisata. Pasti macet.

Selecta merupakan tempat menghabiskan waktu yang dulu sering sekali kami pilih selain Songgoriti, Sengkaling, Tlogo Mas, dan beberapa tempat wisata jadul yang saya sudah lupa bentuknya seperti apa. Jauh sebelum ada Jatim Park Group yang kini menggurita. Dulu, di sini hanya ada kolam renang satu dan taman untuk menggelar tikar, piknik murah meriah. Terakhir saya ke Selecta saat kelas lima SD usia 10 tahun di momen darma wisata.
  



Sekarang, masih sama. Nggak banyak berubah. Hanya bertambah kolam renang, kebun bunga, dan aneka permainan murah meriah. Tiket masuknya hanya 25 ribu rupiah (dewasa) dan 15 ribu rupiah (anak-anak) bisa gegoleran sepuasnya. Untuk aneka permainan seperti ayunan raksasa, sepeda angin, kuda, dan bebek air dibanderol mulai 10 ribu rupiah saja. Yang paling asyik, di Selecta bisa banget bawa makanan. Beda dengan Jatim Park Group yang mau masuk harus diperiksa macam-macam. Di Selecta juga ada taman bunga aneka rupa yang bisa digunakan untuk foto-foto.


Overall, Selecta ini tempat wisata kece dan murah banget. Saat Jatim Park Group membanderol harga mihil dan penuh sesak,  Selecta masih adem ayem dengan keasriannya. Bisa banget buat wisata keluarga karena fasilitasnya bersih dan nyaman.

Monday, July 6, 2015

Mengenal Pantai Bingin dari Dekat

 

Tersebutlah satu pantai bernama Pantai Bingin. Letaknya tak jauh dari Pura Uluwatu, daerah Pecatu, Bali Selatan.

Awalnya, niat saya adalah ke Pantai Padang-padang dan Pandawa selepas dari Pura. Tapi semua berubah ketika saya melihat papan petunjuk yang mengarah ke Pantai Bingin. Dari namanya, sangat asing. 

Tapi saya salah.




Letak Pantai Bingin ini sejajar dengan Pantai Padang-padang, Pantai Pandawa, dan satu pantai lagi yang saya lupa namanya. Ini bisa dilihat dari garis pantai dan tipikal tebing yang sama. Sama-sama di balik bukit.

Saya tertarik dengan Pantai Bingin karena namanya asing. Dan lagi, ternyata pantai ini tidak banyak diminati oleh warga lokal. Alasannya, bukan pantai beralas pasir dan hanya penuh batu karang terjal.


Letak Pantai Bingin bisa dikatakan tersembunyi dan sulit dijangkau. Butuh perjuangan ekstra untuk benar-benar bisa mencapainya. 

Jalanan yang dilalui menjadi tidak biasa karena hanya jalanan batu dan setapak.

Nggak cuma setapak, jalanan menuju pantai harus melewati bagian dalam rumah penduduk dan perkebunan. Nggak ada papan penunjuk. Kalau memang niat, harus sering-sering bertanya.

Dua orang turis yang datang di waktu yang sama dengan saya bolak-balik bertanya, "Sorry, where's the beach?"

Sementara saya, "Bu, jalanan pantai kemana ya?"

Sama saja. Ribet dan cukup melelahkan. Naik turun tangga bebatuan cukup terjal.

Tapi, kabarnya itu seni. Gitu ya.



Selepas capek berjalan, saya disuguhi pemandangan yang nggak biasa. Cuaca siang yang terik semakin menambah daya tarik Pantai Bingin. 

Langitnya biru, awannya menggumpal empuk. Santai sekali. 

Pantai Bingin ramai dengan bule bermain surfing. Tapi nggak seramai Pantai Padang-padang. Di sini lebih tenang.

Saya menjadi satu-satunya pribumi berjilbab yang datang siang itu. Dan melakukan hal nggak penting.

Cuma motret. Gitu aja.



Bisa dipastikan, Pantai Bingin merupakan pantai favorit bagi bule untuk surfing. Sejauh mata memandang, selain bersantai, semua bule cuma surfing. 

Nggak ada yang kayak saya, datang dengan tujuan nggak jelas :)).

Memang ombaknya bagus. Pantai Selatan tapi nggak segalak di deretan pantai di Gunung Kidul atau Malang Selatan. Malah mirip Pantai Seger di Lombok. Ombaknya bersahabat. 

Wajar, bule suka.



Dan, nggak cuma satu-dua keluarga yang mengajak anak-anak untuk belajar surfing. Tapi banyak! Mereka rela mengajak anak kecilnya untuk belajar surfing. 

Kecelah. 

Sementara anak kecil warga lokal bermain pasir di tepi pantai, yang ini bermain ombak.


 Sayang, lensa kamera nggak memadai. Manalah bisa lensa kit motret surfer jauh di tengah pantai. Yang ada malah semacam keroyokan semut :)).

Tapi yang jelas, Pantai Bingin ini rekomen sekali buat menyepi. Asal mau capek jalan kaki, bisa kok jadi tempat tujuan liburan gratis di Bali.

Thursday, July 2, 2015

Fresh Milk: Tempat Gaul ala Muda Lumajang



Bulan lalu, saat saya main-main ke Lumajang, sempat terbesit pertanyaan, "kalau malam di Lumajang, apa yang menarik?"

Karena saya mendapat jawaban dari Har, "nggak ada yang menarik," maka tujuan saya satu-satunya hanya mencicip warung gaul ala anak Lumajang.

Luamajang, kabupaten di Jawa Timur yang cukup ramai. Tak seperti Magetan yang asli sepi, jalanan Lumajang kala malam ramai. Mungkin karena banyak dilalui transportasi menuju Bali. Jadi wajar saja.

Warung gaul ala anak muda Lumajang adalah Fresh Milk. Tempatnya cozy banyak kekayuan. Suka dari pandangan pertama.

Letaknya pas di perempatan jalan dekat SMAN 2 Lumajang, pusat kota.



Kekayuan dimana-mana tapi interiornya masih minim. Wajar saja. Karena ternyata, Fresh Milk ini baru dibuka Februari lalu. Kedai ini milik salah seorang pengusaha asal Semarang yang dulunya bernama Its's Milk.



Kenapa ganti nama? Kata mbak kasir, karena semula dua pengusaha pecah jadi masing-masing. Makanya, nama dan konsepnya dibuat agak beda dibanding sebelumnya.

Saat masih berlabel It's Milk, tempat ini cukup dikenal. Buktinya ada foto Raditya Dika yang talkshow di sini. Mayan...



Lucu, sih. Saya ototmatis langsung pilih lantai dua untuk nongkrong. Tapi sebenarnya, selain penasaran sama tempat nongkrong anak gaul Majang (sebutan pendek Lumajang), harga menu yang ditawarkan di sini bersahabat. Sangat bersahabat banget malah, buat saya. Mirip di Surabaya.


Mungkin karena letaknya di kabupaten, bukan kota, yang membuat harga makanan di tempat ini hemat di kantong saya. 

 Di sana, saya memesan makanan yang menurut saya murah. Ayam rica-rica bonus es teh cuma 10.000 rupiah saja! Tapi rasanya nggak jelas! =))

Untung saya suka ngemil, jadilah saya juga pesan es coklat dan kentang goreng.

Dan, di antara semua pesanan saya, yang PUWALIIING recomended cuma satu:
ES COKLAT!

Es coklatnya luar biasa lumeeer di lidah dan bikin menggelinjang. Asli. Setiap saya ngafe di kafe yang harganya mihil, kalah sama cokelat di sini. Kental dan nendang banget cokelatnya. Sampai kebayang-bayang. Dan yang bikin ngeces, harganya cuma 8.000 rupiah, Sodara! Mureeeh.


Jadi, kalau nanti ke Lumajang, kayaknya mau mampir ke sini lagi, deh! :D

Si Cantik Danau Kaolin

klik untuk memperjelas gambar

Danau Kaolin

Berkunjung ke Belitung, jangan lupa untuk melihat aktivitas penambangan di Danau Kaolin. Letaknya tak jauh dari Tugu Batu Satam, pusat kota Tanjungpandan. Tepatnya di Jalan Murai.


Tidak ada tiket masuk di sana. Gratis. Karena memang Danau Kaolin bukanlah tempat wisata. Tapi tempat penambangan kaolin yang masih aktif hingga kini dan dikelola swasta.

Dari namanya terdengar cantik. Begitu pula rupanya.


Sesaat setelah memarkir motor di tepi jalan, menjejakkan kaki, alarm keindahan pada mata akan mendeteksi. Hamparan 'pasir' putih terbentang luas. Luas banget. Gundukan kaolin menghiasi tepian danau cantik di tengahnya.


Ya, Danau Kaolin adalah sebuah danau yang terjadi akibat penambangan kaolin, sebuah zat kimia yang banyak ditemukan sebagai bahan pembuat kosmetik dan cat. Untuk membuat rupa wanita cantik, wajah Danau Kaolin juga setara. Sama cantik. Tapi tetap saja, itu merupakan bentuk dari kerusakan lingkungan.Sebabnya, danau terjadi ketika kaolin dieksplorasi massal dan membentuk cekungan berisi air hujan. Pantas saja, wajah Belitung dari pesawat tampak penuh cekung.

Ada gradasi warna biru kehijauan yang terbentuk bertabrakan dengan hamparan 'pasir' putih dan langit membiru. Biru jernih. Satu dua pepohonan menghiasi, memadu warna kontras.


Di siang terik, aktivitas penambangan tidak berhenti. Bahkan semakin giat. Panas sudah barang tentu. Tapi tidak berasa. Sebabnya, angin semilir akan menemani menghabiskan waktu siang menjelang sore.

 
Berwarna putih, berwarna tosca, Danau Kaolin tidak mengeluarkan aroma--seperti yang biasa tercium kala di kawah. Konon, di sini merupakan tempat yang ciamik untuk menunggu waktu sunrise tiba. Mau coba?