Sunday, August 30, 2015

Pulau Kanawa: Pulau Cantik di Flores Barat



Selamat datang di Kanawa!

Bersandar

Katakanlah, jika semakin ke timur Indonesia, maka pemandangan lautnya semakin cantik. Begitu pulalah yang ada di perairan Flores. Tepatnya di Pulau Kanawa. Pulau ini sangat populer dengan kecantikan alamnya. Jernihnya air laut dan yang bertebaran dimana-mana. Asyiknya, di Pulau Kanawa bisa digunakan sebagai tempat belajar renang atau pun snorkling karena pantainya landai. Mirip dengan Pulau Sebayur. Bedanya, Kanawa sangat amat landai. Hampir tidak bisa ditemukan ikan di tepian. Hanya beberapa ikan berwarna putih dan bintang laut yang tampak.


Jernih

Purple tree

Sila leyeh-leyeh

Fyi, Kanawa berbeda dengan Kenawa ya. Kalau Kanawa ada di Flores, sementara Kenawa ada di Sumbawa. 

Kanawa sendiri merupakan pulau kecil yang terletak tak jauh dari Labuan Bajo. Hanya sekira satu jam perjalanan laut, bergantung pada jenis kapal yang digunakan. Semakin besar kapal, semakin lama waktu perjalanan. Ombak di sekitar perairan Kanawa lebih bersahabat dibandingkan di dekat Pulau Padar. Sehingga perjalanan laut lebih santai dan menyenangkan.

Pulau Kanawa ini merupakan pulau komersil alias sudah disewa. Pengelolanya tentu saja warga negara asing. Beberapa penginapan berbentuk rumah kecil berbahan kekayuan disewakan lengkap dengan hammock. Di sekitar penginapan cukup teduh, banyak pepohonan.

Kala itu, kami datang ke Kanawa saat hari sudah mulai panas. Matahari sedang terik. Tapi di situlah seninya. Air laut tampak cantik tanpa bersolek. Hijau kebiruan hingga biru. Pasir putih lembut melenakan kaki. Awan dan kepungan pulau di sekitar menambah eksotis Kanawa. Pepohonan di tepian pantai memberikan nuansa teduh bagi kami, para pengunjung. Wajar saja Kanawa ramai, karena memang kawaii!

For rent 
Masih kurang keren? 

Amboi nian! 

Meski siang amat terik, Kanawa kala itu amat ramai. Banyak kelompok trip turis lokal maupun asing bercampur. Ada juga yang family trip bareng keluarga kecilnya. Nah, ini yang bikin mupeng:)).

Tak banyak yang kami lakukan di sana selain snorkling dan main potret. Tapi tentu, mata adalah kamera tercanggih dengan megapiksel terbesar di dunia. Ada banyak hal yang tidak bisa diabadikan dengan kamera biasa saking kerennya pemandangan. Di sini perlu disadari kalau pesona Indonesia tiada dua.

Family trip

Bintang laut

Ikan putih
 
Kanawa menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Ini juga bisa dinikmati dengan treking sekira 15-20 menit saja. Pemandangan apik Kanawa akan tersaji di depan mata. Gersangnya rerumputan bercampur satu-dua pepohonan ditemani angin semilir membikin teduh suasana. Perlu dicoba menghabiskan banyak waktu di sini. Bersantai di pantai yang meski ramai tetapi masih terhitung sepi.


Dari atas bukit

Kering gersang

Bajo View: Penginapan dengan View Labuan Bajo

Welcome

Hari kedua di Flores Barat, saya memutuskan untuk pindah dari Cool Corner. Bukan apa-apa, ini sebab travelmate saya sudah memesan slot kamar di Bajo View. Saya dapat referensi penginapan dari booking.com as always. Harga yang ditawarkan perorang 85.000 rupiah perhari dengan view biasa dan 95.000 rupiah dengan view mengadap laut. Harga ini mahal ya, karena tidak mendapat fasilitas apapun selain view cantik Labuan Bajo. Ya, penginapan ini memang hanya menjual view dan tempat tidur yang asyik serta menarik.

Letak Bajo View tentu saja lebih tinggi dibandingkan penginapan lain di Sukarno Hatta (jalan utama Labuan Bajo). Untuk mencapainya harus terengah-engah mendaki. Cukup menyita tenaga bagi saya yang di hari pertama sampai Labuan Bajo sempat kecelakaan motor :)). Tapi sesampainya di atas, semua terbayar lunas. View pelabuhan Labuan Bajo cantik! Apalagi kala sunset tiba.

Teras untuk bersantai view pelabuhan
 
Sebenarnya, penginapan Bajo View tidak luas. Hanya pengelola memasang tenda warna-warni dengan bed di lantai dilengkapi kipas angin *kipas angin hanya berguna hanya sampai sore hari, karena Flores saat malam hingga subuh paginya amit-amit*. Jadi berasa kemping. Tempatnya unik dan bersih, ini yang menjadi poin utama buat saya. Apalagi kamar mandinya. Meski sharing room, tapi tetap bersih sepanjang waktu.

Bajo View

Kamar
 
Sama halnya dengan penginapan bahkan rumah penduduk di sana, air di Bajo View irit. Ini karena air sangat susah dan ditampung dalam bentuk tandon-tandon. Tandon baru diisi setiap 2-3 hari sekali. Ya, maklum saja kalau debit airnya sedikit di jam-jam tertentu. Di sini, pengunjung dilarang mencuci baju. Tapi, karena saya darurat tidak punya baju bersih lagi, saya putuskan untuk cuci baju. Saya baru tahu jika dilarang mencuci saat baju sudah bersih dan saya pakai *plak!:))*.

Ada tempat nongkrong asyik di Bajo View dan ini digunakan sebagai tempat menunggu sunset ramai-ramai.


Sebenarnya, saya hanya menginap sehari semalam di Bajo View, tapi karena satu dan lain hal, kami menambah sehari lagi. Dan di sinilah anehnya Bajo View. Jika extend sehari biaya inap lebih mahal. Bukan lagi 85.000 rupiah perhari, tapi jadi 105.000 rupiah perhari. Saya sudah tanya alasannya, karena dimana-mana tulisan menginap di Bajo View 85.000 rupiah perhari perorang. Lah ini extend malah lebih mahal. Gondok juga! -______-"

Part of sunset time

Sunset

Sunday, August 23, 2015

Mengibarkan Merah Putih di Puncak Pulau Padar


 Masih gelap

Azan Subuh baru saja berkumandang. Langit perairan Flores belum sepenuhnya benderang. Bisa juga dikatakan gelap. Tapi kami sudah bergegas. Bukan tanpa alasan, tentu. Sebab, Pak Ibrahim berpesan kami harus berangkat pukul lima. 

Tujuan kami pagi itu adalah Pulau Padar, wilayah perairan Flores yang bisa ditempuh selama 3-4 jam perjalanan laut. Tapi bagi kapal Bapak bermesin dua dan tidak besar, waktu dua jam sudah mampu sampai Padar. Membelah arus lautan Flores yang tidak tenang.
 

Sunrise di perairan Flores

 
Perlindungan superekstra :))

Membelah lautan

Secara teritorial, Padar merupakan bagian dari TN Komodo yang jaraknya berdekatan. Karena masuk dalam TN Komodo, masuk Padar ada tiketnya. Padahal sebenarnya, Padar menjual view saja—sama halnya pulau lain. Tetapi karena Padar sedang naik daun, ya kini jadi ada tiketnya. 

Seorang polisi hutan mendatangi kami dan meminta biaya masuk (7.500 rupiah sebagai tiket masuk dan 5.000 rupiah biaya treking), biaya ranger (100.000 rupiah), dan materai (6.000 rupiah) jika ingin mendaki Padar.

Tepian Padar
   
Ini muahal gila!  

Seketika saya langsung kaget dan nego gila. Saya katakan pada polhut, jika memang mendaki Padar harus ada ranger, saat itu juga saya ingin ada ranger di depan mata.

“Kenapa bisa biaya ranger semahal itu? Rangernya mana, Pak?” tanya saya bingung.

Polhut kebingungan dan beralasan ranger sedang upacara bendera karena kebetulan saat kami datang memang ada peringatan upacara Hari Kemerdekaan. 

“Eh, ranger sedang upacara di sana,” katanya sambil menunjuk tempat upacara yang sudah sepi. Peserta upacara sudah mendaki Padar.

Saya bersikeras meminta ranger saat itu juga. Iya dong, masa saya harus bayar 100.000 rupiah tapi fiktif? Fyi saja, biaya ranger di Padar lebih mahal 20.000 rupiah dibandingkan di Pulau Komodo yang jelas-jelas ada komodonya dan berbahaya.
 
 Pulau Padar
 
Polhut kelabakan dan ini digunakan Pak Ibrahim untuk bernego dengan bahasa Bajo. Intinya, Pak Ibrahim meminta agar kami tidak usah bayar, hehe. Soalnya beliau yang bakal mengawal kami. Sedikit kata saya paham apa yang dimaksud polhut. Sebab, tangannya mengisyaratkan mengembalikan uang yang saya bayar minus biaya ranger. Bukan berniat nakal, karena faktanya tidak ada ranger sama sekali di Pulau Padar. 

Jangan terkecoh dan langsung mengiyakan semua yang diminta pengelola wisata jika tidak ingin buntung. Dua kapal setelah kami terpaksa kembali dari Padar tanpa bisa mendaki. Entah karena enggan membayar biaya ranger yang mahal atau harus melapor ke pos penjagaan di dekat Pulau Komodo. Perhitungkan waktu kalian.

Kuning kering

Mendaki Padar membutuhkan waktu sekira 30-45 menit dengan pemandangan rerumputan yang menguning. Sekali-dua terdapat pepohonan hijau mewarnai padang savana kering. Namun menjadi apik ketika warna kuning beradu hijau dan birunya laut dari puncak.
 
 Lajur treking yang aduhai

Mendaki
Perlahan demi perlahan pemandangan Padar dari puncak mulai menyembul. Empat pantai tercipta dari cekungan pulau yang ada. Karakteristiknya berbeda. Di satu sisi pasir pantai berwarna hitam, sisi lain putih, sementara yang akhir memerah muda dan kecokelatan. Sama elok jika dinikmati dari puncak batu. 

Sebagian dari Padar

View Padar dari puncak
 
Padar bisa juga dinikmati sambil merentangkan sangsaka merah putih. Entah apakah membentangkannya seketika menunjukkan kecintaan terhadap tanah kelahiran atau tidak. Tapi yang jelas, tidak salah juga membawa bendera sebagai properti foto di puncak Pulau Padar. Nikmati juga anging mamiri yang membawa kalian rindu pada tempat pulang. Adalah rumah.

Dirgahayu Indonesia!

Friday, August 21, 2015

Bermain dengan Anemon di Pulau Sebayur

Pulau Sebayur Kecil

Pulau Flores adalah salah satu destinasi impian yang sudah saya rencanakan sejak jauh hari. Enam bulan lalu, tepatnya di pertengahan Februari, saya mendapatkan tiket promo pesawat Bali-Labuan Bajo. Tidak peduli nantinya akan bersama siapa, yang penting saya membelinya terlebih dahulu.
Wilayah perairan Flores memiliki ratusan pulau yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pulau Sebayur.

Pulau Sebayur sendiri terdiri dari dua; Sebayur Besar dan Sebayur Kecil. Letaknya persis berdekatan dengan Pulau Messa dan Pulau Tatawa. Harman, anak buah kapal berusia 17 tahun berkisah, jika kedua pulau yang berdekatan dengan Sebayur adalah pulau yang unik.

Pulau Sebayur 
  
Pulau Messa adalah pulau berpenghuni dengan padat penduduk sekira 200 kepala keluarga. Dari kejauhan hanya tampak masjid yang menjulang di sisi rumah penduduk. Tidak ada sekolah di sana. Anak usia sekolah di Pulau Messa bersekolah di Labuan Bajo yang jaraknya satu jam perjalanan laut, dengan ongkos 10.000 rupiah untuk anak-anak dan 20.000 rupiah untuk orang dewasa sekali jalan. Logat warga Pulau Messa lebih lambat dibandingkan dengan penduduk Labuan Bajo, atau berkebalikan dengan masyarakat Pulau Longas yang berdialek lebih cepat.

  
Pulau Messa

Pulau Tatawa, terletak di sisi Pulau Messa. Merupakan pulau yang dianggap angker oleh penduduk setempat. ini cukup beralasan. Sebab, Pulau Tatawa merupakan pulau yang sengaja difungsikan sebagai kuburan massal warga kepulauan selain Labuan Bajo. Banyak nelayan yang diganggu jika malam melintasi Pulau Tatawa. Tentu, tidak ada penduduk yang hidup di sini.

Pulau Tatawa

Saling bersisian, Pulau Sebayur Kecil adalah pulau yang sudah dikontrak turis asing. Bentuknya resor yang banyak disewa turis asing lain. Kata Pak Ibrahim, kapten kapal, Pulau Sebayur dulunya milik salah satu juragan di Labuan Bajo. Namun karena membutuhkan uang, akhirnya dijual.  Saat ke sana, saya bertemu langsung dengan pemiliknya yang bersiap untuk menyelam. Dengan dialek wisman, dia menyapa saya lancar berbahasa Indonesia. 

 
Resor Pulau Sebayur Kecil
 
Di depan Pulau Sebayur Kecil terdapat pulau—yang saya lupa namanya—namun pemiliknya sama dengan Pulau Sebayur Kecil. Pulau tersebut digunakan sebagai peternakan ayam untuk memasok makanan di restoran dan resor Pulau Sebayur Kecil. 


Pulau Sebayur Besar 

Pulau Sebayur Kecil
 
Peternakan ayam


Kapal ditambatkan. Kami menjadi satu-satunya pengunjung pagi itu. Pulau Sebayur Kecil luar biasa sepi dan indah, tentu saja. Sejauh mata memandang, hanya ada gradasi warna air laut yang berwarna hijau hingga biru. Pasirnya putih bersih dan penuh anemon. Sekali menginjak air, maka saat itu juga nudibranch atau siput laut ditemukan. Warnanya aneka rupa dan menyenangkan. Karakteristik perairan dangkal lain paling mencolok adalah adanya bintang laut yang berserak. Biru, putih, hingga oranye tua.

  


 
Bintang laut 


 Nudibranch

Karang-karangan

Pulau Sebayur Kecil cocok digunakan sebagai tempat belajar berenang karena konturnya datar dan airnya tenang. Tidak ada yang bisa dilakukan di sini selain berenang, snorkling, bersantai di tepian, dan mengambil foto. Sebabnya, ada pengawas resor yang sewaktu-waktu bisa menegur kalau tindakan pengunjung dirasa mencurigakan. Tapi di luar itu semua, Pulau Sebayur Kecil masuk dalam kategori rekomen dan layak untuk dikunjungi.



Jadi, tidak ada salahnya jika ke Labuan Bajo menuliskan Pulau Sebayur Kecil ke dalam list island hopping. Pemandangannya tidak ada duanya.