Saturday, September 26, 2015

Mencermati Polah Buaya Darat di Pulau Komodo

Dermaga Pulau Komodo

Perairan Flores sedang kacau. Berkali-kali terpal harus diturunkan menutupi bagian kapal. Menghindari percikan air laut tumpah ke geladak. Rupanya, ini juga didukung dengan angin laut yang kencang. Cuaca panas, memang. Tapi sepertinya dua hal di atas sudah terbiasa berlalu lalang di perairan lepas Suku Bajo. Berkali-kali pula penumpangnya harus rela melantai berlindung di balik bangku. Ombak tinggi. Dua-tiga meter.

"Ini belum seberapa, Mbak." Anak buah kapal bertutur kencang. Deru mesin kapal membuat komunikasi kami harus saling teriak.

Penumpangnya terkekeh, mempererat jaket masing-masing. Anginnya buruk.

"Mbak, kita nanti ambil jalur pendek saja ya. Ombak jelek." Kali ini Sang Kapten berteriak. Lalu diamini oleh dua pelanggannya.

Terserah Bapak sajalah. Batin mereka.

Ombak semakin menjadi, tak peduli kapal tengah mencoba melepas jangkar. Menggoncang kapal tak tahu diri. Sementara penumpangnya terhuyung-huyung getir. Satu di antaranya tertawa.

"Ini kenapa begini, Pak? Kita bisa loncat langsung nggak?" Tanyanya sambil tertawa.

"Woooh, hati-hati, Mbak." Si ABK ikut tertawa. Namanya Harman, masih muda, humoris, penurut, dan hormat pada orang tua.

Biru...
Inilah Pulau Komodo. Bagian paling inti dari Taman Nasional Pulau Komodo. Tujuan penting wisatawan dari segala penjuru dunia. Melihat langsung naga raksasa dari dekat. Mengilhami kehidupan saling bersisian antara manusia dan Sang Naga. Bagian pembuktian dari kitab suci para pencari pelajaran hidup; Lonely Planet. Betapa pulau ini begitu diagungkan.

"Buat apa ke Komodo dan Rinca? Itu buaya darat, hewan tiduran saja, kan? Tidak bagus itu."

Dua orang. Saya bertemu dua orang yang berkata demikian. Betul juga. Tapi rasa penasaran makhluk bertitel manusia memang kadang aneh. Aneh yang masuk akal. Nggak melulu salah juga. Buaya darat adalah sebutan mereka menyebut Si Naga, sebuah konotasi bagi kami, di Pulau Jawa, berarti negatif.

"Mbak, beneran ya, kita short trek saja. Ombak tidak bagus." Sang Kapten kapal kembali mengingatkan yang langsung dijawab anggukan oleh kami.

Briefing singkat bareng Richardo

Loh Liang dan Loh Buaya adalah dua tempat berbeda di pulau yang sama sekali tidak sama. Jika memulai perjalanan di Pulau Komodo, maka berangkat dari Loh Liang. Sementara jika dari Pulau Rinca, maka berangkat dari Loh Buaya.

Sebelum memulai treking, ranger akan melakukan briefing sejenak. Menjelaskan tata cara atau antisipasi jika kondisi darurat mengintai (misal: dikejar komodo), tujuan atau rute (short, medium, dan long trek), dan larangan yang tidak boleh dilakukan selama treking. Ranger kami bernama Richardo, Suku Bajo, asli Kampung Komodo. 

Kami tidak punya pilihan lain selain memilih short trek. Hanya satu pertimbangannya; mengikuti perintah Sang Kapten atau tidak kembali hingga esok hari. Sesimpel itu jika hidup bersisian dengan alam, memang. 

Richard menuturkan, buaya darat tidak hanya ada di Pulau Komodo dan Rinca. Tapi juga di Pulau Padar, Gili Motang, dan Nusa Kode. Tapi saat kami ke Pulau Padar, bisa dikatakan tidak ada komodo. Pak Ibrahim, Sang Kapitein nan baik hati juga bilang begitu. Tapi, tergantung siapa yang kalian percaya. 

Treking tipis-tipis

Ada beda nyata antara Pulau Komodo dan Rinca. Kabar dari Richard, habitat komodo di Pulau Rinca berupa padang savannah. Sementara Pulau Komodo lebih banyak pepohonan. Kalau kabar dari kawan saya, Rinca lebih asyik. Padanan warna hijau pohon dan birunya langit terlihat eksotis. 

Tongkat bercabang di ujung menjadi pegangan sehari-hari bagi para ranger. Berguna untuk mengecoh komodo saat mengejar mangsa. Kenapa tongkatnya bercabang di ujung?

"Karena pasti komodonya mikir, ini kok ada lidah raksasa, makhluknya sebesar apa?" Begitu jawaban Richard, menyamakan lidah komodo yang bercabang dengan tongkat--yang juga bercabang:)).

Richard bilang, kalau dikejar komodo, sebaiknya lari zig-zag. Sebab, komodo nggak bisa belok. Nggak punya lampu sein:)).

Di sekitar Pulau Komodo, banyak ditemukan rusa. Itu untuk makan komodo sebulan sekali. Gimana kalau populasi rusa atau hewan lain habis?

"Ya kami tinggal kasih wisatawan sebagai mangsa." Richard menjawab sambil ketawa bahagia. Sialan:))).

Jalur treking

Sepanjang perjalanan, kami banyak bicara tentang cerita turis yang hilang ditelan komodo. Kata sang ranger, rasa penasaran turis asing jauh melebihi warga lokal. Itu bisa dilihat dari peringatan yang banyak tidak diacuhkan. Kalau sudah diserang, baru mereka lari pontang-panting. Gimana nggak pontang-panting, kecepatan gerakan komodo bisa sampai 20 kilometer perjam. Komodo juga bisa memanjat pohon, perenang yang baik, dan petarung hebat. Komodo juga memiliki air liur yang beracun mengandung 60 jenis bakteri, gigi dan cakarnya tajam, indra penciumannya hingga lima kilometer, ditambah tubuhnya raksasa.

Manusia bisa apa? Cukup berdoa saja dalam hati.

Fregata Hill

Pilihan short trek, bagi saya yang biasa jalan kaki, adalah pilihan buruk. Di dalam jadwal yang diberikan, short trek bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Namun nyatanya, 15 menit saja juga bisa kembali ke start point. Nggak seru. Sekilo juga nggak sampai.

Jalur yang dipilih nggak menantang. Hanya jalan kaki biasa, melewati Fregata Hill, lalu ke bagian dapur umum atau tempat mangkalnya komodo mencari makanan. Yang saya tahu, short trek 45 menit itu jika dihitung dengan antre pose foto di belakang komodo di dapur. Antrenya lumayan lama. Banyak wisatawan asing mampir. 

Jadi, saran saya, mending ambil long trek sekalian. Bisa puas jalan kaki 1,5 jam dan potret-potret. Kan, sayang, sudah bayar mahal tapi cuma sebentar.

 

Buaya daratnya rebahan cantik

Mangsa empuk

Di daerah dapur, siang itu, sekira ada tiga buaya yang sedang rebahan. Pepagian mereka berjemur di Fregata Hill. Komodo termasuk hewan berdarah panas. Berjemur memungkinkan pencernaan mereka bekerja lebih baik. Sebab, mangsa yang telah dimakan, harus segera dihancurkan dengan bantuan sinar matahari. Jika tidak, mangsa tersebut akan membusuk lalu meracuni si kadal raksasa.

Kapan lagi foto bareng buaya darat?:))

Populasi komodo kabarnya terus menyusut. Padahal, di Kebun Binatang Surabaya, koleksi komodo amat sering bertelur. Amat sering mati juga. Itulah sebab, komodo di Taman Nasional Komodo menjadi satu-satunya warisan dunia yang berisi makhluk zaman purba dan harus dijaga kelestariannya. Kasihan juga kalau anak cucu kita nggak bisa menikmati keindahan negeri sendiri. Yuk, jadi wisatawan bertanggungjawab.

Komodo bukan komedi, apalagi komedo

Wednesday, September 23, 2015

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.

Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.

1. Mie Belitung Atep

Mie Atep

Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pesan Nasi Sum-Sum harus merelakan porsinya berkurang untuk dicicip. Sudah hukum alam begitu, kan ya, kalau makan bareng?:)).

Rasa Mie Atep ini sebenarnya nendang semena-mena. Mienya lentur, ada potongan tahu, taoge, kentang, mentimun, udang, dan melinjo. Ditambah kuah yang segar, sedikit asam dan sangat manis. Mirip kuah pempek. Sayang, bagi saya yang suka pedas, sedikit kecewa karena sambalnya pun rasa manis. Mau dikasih berapa sendok pun tetap aja manis. Sedangkan Nasi Sum-Sum rasanya biasa saja, masih lebih asyik Nasi Kaldu di Alun-Alun Magelang.

Kalau ke Belitung nggak lengkap kalau nggak mencicipi Es Jeruk Kunci. Rasanya segeeer! Serius. Rasanya mau lagi, mau lagi. Apalagi diminum siang hari. Alamak!

Harga perporsi Mie Atep dan Nasi Sum-Sum Rp 13.000 sedangkan Es Jeruk Kunci Rp 5.000. Kuliner enak yang beneran harus dicoba.

Nasi Sum-sum 

2. Rujak Tahu
Makanan khas Belitung lainnya adalah Rujak Tahu. Saya kira, nama rujak adalah menu makanan yang dicampur beragam buah ditambah tahu banyak-banyak. Ternyata, Rujak Tahu ini beda. Isinya, potongan tahu cukup banyak, taoge, mentimun, dan melinjo plus kuah mirip pempek. Nggak pedas juga. Kenyang? Yaa enggaklaaah! Emang enak makan tahu doang? Bisa ajaib kenyang gitu? Nooo.

Meski lumayan enak, Rujak Tahu kurang nendang. Porsinya terlalu sedikit. Harga perporsinya Rp 12.000. Masih lebih nendang Es Jeruk Kunci, Sodaraaa!:))

Rujak Tahu 

3. Berego
"Iwan, makanan khas Belitung apa, sih? Cari dimana?" begitu Whastapp saya kirim ke Iwan, teman asli Belitung yang kerja di Jakarta. 

"Kalau mau lengkap, coba cari di Restoran Timpo Duluk. Lengkap banget makanannya."

Saya nelan ludah. Restoran.

"Guys, yakin mau makan malam pakai baju bau apek sedikit basah dan banyak pasir di restoran?" Saya bertanya ke teman.

"Hajaaar."

Pesanan kami
 
Well, Restoran Timpo Duluk adalah restoran dengan dekorasi yang asyik gila. Saya suka. Kami senang. Interiornya catchy abis. Didesain dengan segala macam perabotan tempo dulu yang memang keren. Misal saja, tempat isi air berbahan aluminuim yang digunakan sebagai tempat tisu. Asyiklah!

Timpo Duluk

Tempat tisu 
 
Kami mampir ke resto dengan masih berbaju apek, mata separuh teler, perut lapar parah. Begitu membuka menu, yang terpapar benar-benar adalah makanan khas Belitung. Berego salah satunya. Makanan ini terbuat dari tepung beras putih berbentuk seperti mie pipih agak besar yang dililitkan. Adonan Berego ditambahkan dengan ikan yang dihaluskan. Berego biasa disajikan dengan kuah santan. Perporsinya dipatok Rp 12.000.

Rasanya? Nah, karena saya kurang suka makanan bersantan, jadi bagi saya, rasanya biasa aja. Kenyal-kenyal kayak Cimol!:)))

Berego
 
4. Nasi Gemok
Masih di Timpo Duluk, Nasi Gemok bisa menjadi pilihan untuk mencicip kuliner khas Belitung. Nasi Gemok adalah nasi empuk yang disantap dengan ikan bulus kecil yang digoreng renyah dengan kuah santan gurih bercampur belimbing. Biasanya, nasi ini dimakan saat sarapan. Bagi saya, rasanya biasa juga. Ya, gara-garanya cuma satu, pakai santan. Perporsinya dipatok Rp 13.000.

Nasi Gemok 

5. Tahu Bungkus Simpor
Kalau di Jawa, makanan ini disebut Brengkesan Tahu atau Pepes Tahu. Makanan olahan tahu yang dicampur dengan bumbu lalu dikukus. Ya, mirip begitulah. Sejenis tahu Belitung dibumbu rempah dibungkus daun simpor (tanaman endemik Belitung yang dominan digunakan sebagai pembungkus makanan tapi juga berkhasiat dalam menyembuhkan luka. Beda lagi kalau luka di hati ya) lalu dibakar. Rasanya... jauh lebih enak dibandingkan makanan berkuah santan. Harganya Rp 5.000 saja. Isinya hanya sebiji tahu:)).

Tahu bungkus simpor
 
6. Gangan Ikan
Percaya saya deh, hampir semua makanan di Belitung berkuah santan. Apalagi makanan paling populer sealam raya seperti Gangan Ikan. Gangan Ikan ini biasanya disajikan dengan kuah santan bercampur irisan nanas dan bumbu rempah. Untuk penyajiannya, Gangan disuguhkan rapi di buah kelapa muda. Harga perporsinya Rp 38.000 untuk dua orang. Kalau kata teman saya, rasanya gurih. Kalau saya, sih, lupa rasanya:D.

Gangan ikan 
 
7. Sayur Asam Belitung
Antimainstream. Makanan sejuta umat ternyata ada di Belitung juga. Sayur Asam Belitung adalah menu makanan yang saya pesan. Rasanya segeeeer banget. Serius, pecah! Asam dan manisnya pas, ditambah agak pedas gitu. Isinya kacang panjang, kubis, dan beberapa sayuran yang saya lupa namanya. Sayur Asam ditambah gorengan tahu tempe sudah nikmat dunia beneran. Harganya sekitar Rp 15.000 kayaknya, lupa.

Sayur Asam Belitong 

8. Suto Mak Jannah
"Iwaaaan, Suto Mak Jannah dimana, sih? Katanya enak gitu. Aku cari di dekat Gedung Nasional kok enggak ada?" saya sudah stres putar-putar Gedung Nasional dekat lapangan tenis lebih dari tiga kali cuma buat makan Suto Mak Jannah yang katanya tenar, lezat, dan nagih. 

"Ini warungnya dimana, Tik? Emang wajib makan di situ?" teman yang nyopir mulai kesel.

Errr. Saya juga enggak ngerti. Naik turun buat nanya juga enggak ada yang tahu. Yasyudlah, kami lewati Suto Mak Jannah yang katanya endes ini. 

Jadi, Suto Mak Jannah itu warung kecil yang jualan Suto khas Belitung. Rasanya katanya enak banget. Kuahnya nendang kemana-mana. Bahannya dari air rebusan iga sapi, ditambah santan, irisan lontong, bihun, kentang, dan melinjo. Nggak tahu juga harganya berapa. Nggak mampir, sih.

Tapi, menurut pedagang gorengan setempat, Suto Belitong biasa dijual pagi sampai siang hari saja. Lepas jam dua siang sudah bubaran. Pantesan... saya nyari jam lima sore.

9. Klepon dan gorengan
Jadi, di pasar Tanjung Pandan itu ada banyak sekali pedagang (iyalah namanya juga pasar). Salah satunya pedagang gorengan. Pedagang gorengan ini laris banget. Makanan yang paling menarik minat saya adalah Klepon yang gedenya nggak wajar. Harganya Rp 1000 saja. Tapi muncratnya kemana-mana. Ternyata enak! Lebih enak lagi ternyata Kleponnya bisa dimakan sampai besok pagi di pesawat. Hemaaat, Beeeb.

Klepon jumbo banyak muncrat
 
10. Kopi-O
Tahu, kan, kalau Belitung adalah kota penghasil timah? Tahu juga kan, pekerja timah biasanya minum apa? KOPI! 

Serius, nggak lengkao rasanya ke Belitung tanpa nyicipin kopinya. Meski kopi mereka diimpor dari Lampung, tapi racikannya enak. Beneran. Saya yang tobat ngopi saja bisa sampai habis lima gelas kopi selama di sana. Tiap hari saja ngopi. Saking enggak tahannya sama enaknya. Apalagi, suasana ngopi di Belitung syahdu sekali. Lirik, deh, Gang 60 di Tanjung Pandan. Yang nongkrong Bapak-bapak bermata sipit nan ramaaah banget. Mereka setiap hari nongkrong di sini. Katanya, warung kopi adalah tempat pertama berita datang sebelum menyebar ke masyarakat luas.

Gang 60

Atau tengok kota 1001 Warung Kopi di Manggar, Belitung Timur. Tiap jengkalnya pasti ada saja warung kopi. Tiap warung pula buanyak pengunjungnya. Saya sampai heran, mereka kerjanya apa ya, kira-kira? Tapi, semua kopi di Belitung itu enak! Mereka biasa menggiling dan meraciknya sendiri lalu ditambahkan krimer. 

Warung Kopi Atet, Manggar, Belitung Timur 

Kalau mau beda rasa, kopi cita rasa pekerja timah ada di Museum Kata Andrea Hirata. Karena dimasak menggunakan tungku, rasanya agak sepat. Tapi tetap enak. Harga perporsi kopi sama, Rp 5.000.

Kopi enak
 
Sebenarnya masih banyak makanan khas Belitung, tapi kami kurang waktu untuk mencicipinya.
Jadi, tertarik nggak buat icip-icip masakan Belitung?

Sunday, September 20, 2015

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari
  
Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.

Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.

Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama tinggal di kapal, wisatawan akan mendapatkan makan tiga kali sehari plus air minum sepuasnya. Mau tidur nyaman? Tinggal pilih kapal kabin. Kapal kabin menyediakan matras, bantal, dan selimut. Nyaman gitu. Atau mau irit? Pilih kapal deck ada yang dengan matras, ada pula yang tidak. Biasanya ada beda sampai 500 ribu rupiah antara kapal kabin dan deck. Nah, kapal-kapal yang saya kontak ini semuanya menawarkan paket LOB. Semakin banyak yang ikut, semakin murah. Rangenya Rp 1.650.000-4.400.000 tergantung kelihaian menawar. Harga segitu ada juga yang bisa ditawar kok. Meski ada juga yang saklek.

Kapal Pak Ibrahim
Tapi saya tidak menggunakan LOB. Berdasarkan kalkulasi kasar saya, harga yang dihabiskan Rp 1.650.000 selama 3H2M itu bikin sesak napas. Apalagi selama 3H2M hanya tinggal di kapal dan melihat lautan. Sementara saya tipikal orang yang gampang bosan jika berada dalam kondisi statis. Makanya, saya pilih ngeteng dengan anggaran yang lebih masuk akal. Apalagi kalau perginya rame-rame. 

Ngeteng di sini maksudnya adalah pergi pagi pulang sore. Wisatawan bisa pilih tujuan semaunya. Iya, semaunya. Asyiknya ngeteng, saya masih bisa keliaran malam-malam nyari makan di Kampung Ujung, belanja di pasar sambil jalan kaki, dan jalan-jalan pakai motor--meskipun pada akhirnya motor jarang dipakai setelah saya kecelakaan.

Tujuan island hopping saya pertama adalah: Pulau Kelor, Pulau Sebayur Kecil, Pulau Kanawa, dan Pulau Bidadari. Persis dengan tujuan kalau ambil paket LOB. Malah ada juga jasa LOB yang hanya ke Pulau Kanawa, Pulau Kelor dilanjutkan bermalam di Pulau Kalong untuk melihat ribuan kelelawar keluar masuk goa. Lebih sedikit tujuannya. 

Mestinya, Pulau Sebayur Kecil nggak masuk dalam list saya. Tapi, melihat kondisi saya dan teman habis kecelakaan dan masih berdarah-darah, nggak memungkinkan untuk treking ke Pulau Rinca. Nggak lucu juga kalau ada anak komodo tiba-tiba minta main bareng. Mi ayam masih enak.

Kapal deck
 
Sementara di hari kedua, perjalanan island hopping lebih jauh. Yakni di sekitar Taman Nasional Pulau Komodo. Kalau mau ke sini, biasanya kapten kapal menyarankan untuk berangkat subuh alias pagi buta. Jam lima teng! Jarak dan ombaknya yang lumayan jadi alasan kenapa harus pergi pagi buta. Tujuannya ke Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pantai Pink.  

Well, berikut adalah itinerary, rincian biaya, tips, dan trik saya selama di Labuan Bajo, tempat kece yang pingin saya datangi lagi. Kapan-kapan. Kalau tiket pesawat sudah murah *mimpi*.

Day 1, sampai di Labuan Bajo pukul 9.30

  
Kampung Ujung 
 
1. Ojek dari bandara ke pelabuhan (Rp 5.000). Pilih ojek di luar bandara ya. Jalan sedikit ke arah parkiran. Kebanyakan tukang ojek yang menawarkan diri selepas wisatawan keluar dari bandara, harganya paling murah Rp 20.000. Kalau mau murah lagi, jalan kaki. Nggak jauh kok. Tapi saya pilih naik ojek.

2. Sampai di Jl. Soekarno-Hatta (main street), saya menyewa motor di Pippos Rental (0812-3740-3304) harganya Rp 75.000 perhari dan nggak bisa ditawar. Ini dibagi berdua, jadi perorang Rp 37.500.

3. Menginap di Cool Corner bunk bed campuran perharinya Rp 60.000.

4. Untuk isi bensin, hanya ada dua SPBU di Labuan Bajo. Kalau mau antre, antrenya lumayan lama, 20-25 menit. Sebab, warga lokal banyak membeli dalam bentuk jerigen untuk dijual kembali atau untuk mengisi kapal. Makanya, di tepian jalan Labuan Bajo buanyaaak banget penjual bensin eceran yang perbotolnya (1 liter) dibanderol Rp 15.000. Kalau saya, pilih antre untuk mengisi tanki penuh Rp 22.000. Sekalian SKSD sama warga lokal.

5. Saya mampir ke Goa Batu Cermin, tempat wisata asyik tapi nggak banyak dikunjungi. Sepi. Tapi ceritanya keren sekali. Nanti kapan-kapan saya tulis. Tiket masuknya Rp 10.000, tiket senter dan helm Rp 10.000, dan tiket guide (ini tentatif) Rp 10.000.

6. Mencicipi makan malam di Kampung Ujung. Dominan yang dijual adalah hasil tangkapan nelayan. Aneka jenis ikan berbumbu dan rasanya enaaak! Jarang-jarang saya suka Ikan Bakar. Harganya Rp 45.000 untuk ikan dan satu porsi nasi. Kami memesan dua porsi nasi, satu ikan, dan tiga gelas es teh. Totalnya Rp 60.000 dibagi dua. Jadi Rp 30.000 perorang.

7. Ada banyak toko kelontong di sana. Jajan untuk bekal selama di kapal esok hari, Rp 32.000.

8. Sewa snorkle 2 hari Rp 40.000 (@ Rp 20.000). Tempat sewanya di sebelah Cool Corner, namanya Christian's Adventure Tour (0813-3799-3651).

9. Di sana, hanya operator Simpati yang bisa nyala. Sisanya seketika tewas selepas landing. Saya beli kartu Simpati isi Rp 10.000 seharga Rp 20.000.
Total pengeluaran Day 1 Rp 233.500
 
Day 2, Island Hopping

Pulau Kelor 

1. Saya ngeteng memakai jasa Pak Ibrahim yang memang satu bulan sebelumnya sudah saya kontak. Harganya paling masuk akal dibanding kapal lain, hanya Rp 650.000 untuk empat pulau tujuan kami. Sementara kapal lain kebanyakan memasang tarif Rp 500.000 untuk satu pulau saja. Kontak Pak Ibrahim yang super duper ramah meskipun banyak sumpah 0853-3709-9662. Bilang saja dari Tika dari Surabaya yang diantar barengan Harman. Insyaallah beliau ingat *kepedean!:))*. Oh ya, ini dibagi dua yaa, jadi Rp 325.000 perorang. BTW, harga dari Pak Ibrahim ini memang murah banget, tapi bergantung pada harga minyak. Jadi fluktuatif. Kalau pas telepon harganya berbeda dengan saya, harap maklum yaa :).

2. Penginapan Bajo View menjadi persinggahan kami hari berikutnya. Harganya Rp 85.000 perorang dibooking via Booking.com.

3. Makan malam Soto Ayam dekat dengan Bajo View (dasar lidah Jawa, jauh-jauh ke NTT pesennya Soto Ayam :p) Rp 20.000 sudah termasuk es teh, kerupuk, dan depalaya (makanan sejenis roti bertabur wijen khas Bajo yang legitnya amit-amit).

4. Beli bekal untuk island hopping berikutnya Rp 16.000
Total pengeluaran Day 2 Rp 446.000

Day 3, Island Hopping

Pulau Komodo 

1. Sewa kapal hari kedua masih sama Pak Ibrahim nan tersumpah tapi baik hati serta humoris dan tidak sombong. Karena jarak tempuhnya jauh, harga kapalnya berbeda. Yakni Rp 1.000.000 dibagi berdua jadi Rp 500.000.

2. Tiket masuk ke Pulau Padar. Ini ada tiketnya, guys. Tapi tawarlah semampu kalian. Karena polhutnya galak. Lucky me, Pak Ibrahim membantu kami agar masuk tanpa bayar. Tanpa sobek karcis. Dari yang seharusnya saya bayar Rp 131.000 berdua menjadi hanya Rp 31.000 (masing-masing Rp 15.500), itu pun semestinya gratis. Tapi saya tetap beri ke polhut tanpa tiket masuk. Dulunya, Pulau Padar hanya menjual view eksotis. Tapi sekarang jadi komersil. Katanya, komodo mulai bermigrasi ke pulau ini. Makanya, diperlukan biaya ranger Rp 100.000 untuk menemani wisatawan. Padahal, sejauh mata memandang, nggak ada ranger sama sekali di sini.

3. Tiket masuk Pulau Komodo lumayan juga. Kami bayar Rp 140.000 untuk berdua atau Rp 70.000 perorang dengan banyak tiket. Begini rincian biaya perorang. Rp 20.000 untuk masuk Pulau Komodo dan Rinca, sepaket. Rp 5.000 karcis wisata alam hiking-climbing. Rp 5.000 karcis masuk pengunjung. Rp 80.000 perkelompok untuk biaya ranger. Kalau mau ke Rinca, hanya bayar ranger saja jadinya.

4. Makan malam terakhir kami kembali ke Kampung Ujung. Menunya, Nasi Goreng (dasar ilat Jowo!:))) plus telur dan kerupuk. Harganya standar mirip di Surabaya, hanya Rp 12.500 perorang. Total makan malam Rp 17.000

5. Bayar Bajo View lagi buat extend Rp 105.000. Iya, extend malah lebih mahal! *masih gondok*.
Total pengeluaran Day 3 Rp 707.500

Day 4, Pulang 
Hanya ojek ke bandara Rp 5.000

Total keseluruhan selama di Labuan Bajo Rp 1.392.000 perorang.

Lumayan murah ya. Harga tersebut tidak termasuk biaya mengganti kerusakan motor saat kecelakaan (Rp 400.000 hasil nawar yang nggak peduli dengan tampang bapak yang memelas. Tongpes), biaya perawatan di puskesmas, mereka menyebutnya rumah sakit (Rp 50.000, BPJS nggak berlaku), beli oleh-oleh kaus dan kain tenun yang harganya rahasia. 

Saat ngos-ngosan ngejar pesawat di Bali (pesawat dari Labuan Bajo-Bali, Bali-Surabaya hanya berjarak kurang dari 25 menit, untung udah e-boarding di Bajo View), saya mikir, gimana caranya balik modal setelah gila-gilaan belanja di Labuan Bajo? Gimana caranya?

Caranya, saya berhenti jalan-jalan tepat setelah jatah cuti tahunan dinyatakan habis. Artinya, saya harus betah di Surabaya sampai Desember. Terima kasih Tuhan. Caramu mengembalikan modal saya begitu indah:)). 

Jadi, tertarik nggak ke Labuan Bajo? Saya, sih, masih sangat tertarik.

Roti penunda lapar murah meriah tapi enak cuma Rp 2000

Depalaya perbiji Rp 1000


*Kontak kapal-kapal yang menawarkan LOB:
-  Traveloista (0856-9271-1988) perorang 3H2M Rp 3.650.000 all in.
- Heri Anu (0812-3682-6044) perorang perhari Rp 2.000.000 (open deck) Rp 3.200.000 (kabin) all in.
- Supardi *paling murah nawarin LOB! dan bisa dinego* (0813-3826-2307) all in.
- *Lupa siapa namanya* (0812-3753-1045) 3H2M kena Rp 4.250.000 perorang all in.
- Tamasyeah berangkat dari Lombok (0821-1202-5400) 4H4M kena Rp 1.700.000 perorang all in.
- Pak Mat (0821-4570-4054) ini juga lumayan murah.

Saturday, September 12, 2015

Nge-Gojek Asyik ke Batu Belig

Selat Bali penceng di pagi hari :))

Ini adalah perjalanan kali kesekian saya ke Bali. Kali kesekian pula seorang diri alias nggembel. Tapi Bali bukan tujuan utama. Sebab, saya hanya membutuhkan Bali untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, NTT, keesokan harinya. Tidak ada flight langsung dari Surabaya maupun Jakarta. Semua penerbangan menuju Labuan Bajo hanya melalui Bali.

Balik lagi ke Bali. Trip menuju Bali sengaja saya pilih melalui jalur darat. Ngirit. Yakni menggunakan kereta api Mutiara Malam tujuan Surabaya-Denpasar seharga 190.000 rupiah. Tiket itu sudah termasuk biaya bis dari Stasiun Banyuwangi Baru sampai Ubung, Denpasar. Plus tiket kapal penyebrangan Ketapang-Gilimanuk.

Dari Gilimanuk, saya diangkut menggunakan elf Damri yang nyaman tiada tara dan diturunkan di Ubung. Nah, dari sini perjalanan dimulai. Karena penginapan yang saya pesan ada di pusat Legian, tepatnya di sebelah Monumen Bom Bali, maka rute angkotnya begini:
  
 1. Cari angkot menuju Terminal Tegal: Rp 7.000 (ini harga didapat setelah sopir gondok berat gegara saya tawar. Padahal ini harga normal sesuai petunjuk petgas Dishub setempat).

2. Dari Terminal Tegal, ganti angkot menuju Legian: Rp 6.000 (sopirnya baik hati banget. Pakai acara curhat tentang keluarganya di Banyuwangi juga. Teteuplah Bali rasa Jawa :D).

Hanya saja, karena jalanan Legian satu arah dan angkot nggak bisa masuk, jadilah saya diturunkan di Jalan Kuta lalu jalan kaki. Nggak jauh kok. Sepanjang jalan banyak pertokoan. Jadi nggak berasa capek. Apalagi hostel yang saya pesan nggak begitu jauh. 

Saya sampai hostel (CX Hostel Ground Zero Rp 99.000 permalam bunk bed isi empat orang) tepat pukul 13.00 WITA. Setelah mendapatkan kamar dan beberes, saya memilih untuk mencari rental motor. Niatnya mau rental setengah hari saja atau paling nggak seharilah. Meskipun fungsinya nggak sampai setengah hari juga.
  
CX Hostel. Hostel mewah bagi saya:))

Tapi saya apes. Nggak ada rental motor yang mau melepas motor untuk disewa barang sehari. Apalagi setengah hari. Jalan sampai pantai, lobi sana-sini, nggak nemu juga. Tetiba saya punya ide cemerlang gegara selama jalan kaki bertemu Gojek seliweran. Yasyudlah. Saya download aplikasinya dan mulai menggunakan kredit vouchernya. WUAH!

Tujuan pertama saya ngeGojek adalah ke Perum Damri. Remeh sekaliii. Hanya untuk mengambil botol minuman yang tertinggal di mobil. Mumpung transportasi gratis, kan, yaa?:)). Mas Putu aka Sopir Gojek ini ramaaah sekali (atau karena saya banyak nanya ya? jadinya ditanggapin:p).
  
Nyengir geje pakai Gojek:p

Dari Perum Damri, saya ngeGojek lagi dong buat ke Pantai (bukan sama Mas Putu lagi gegara sinyal dia angot-angotan kurang cepat approved pesanan saya). Saya tanya ke Mas—yang saya lupa namanya tapi tetap Bali rasa Jawa:))— pantai apa yang ada di Canggu, yang sunsetnya cantik? Dijawablah sama Mamang Gojek, “Mbak, Canggu itu panjang. Mbak mau pantai yang mana? Lagian kalau, Mbak mau jalan kaki dari Kuta juga pasti sampai Canggu.”

Hahaha. Makasih banyak!

Batu Belig saya pilih atas saran Mas Gojek. Katanya ramai dan menyenangkan. Saya, sih, oke-oke saja. Daripada bengong saja, kan, ya?
  
Batu Belig

Eeeh, beneran loh, Batu Belig ini ramai syekali. Meski nggak seramai Kuta, Legian, dan Jimbaranlah ya. Nggak cuma ramai sama manusia. Tapi juga anjingnya keliaran semena-mena. Saya nggak suka tempat ini. Mau main air takut anjing. Mau duduk-duduk jauh dari air anjingnya keliaran -______-”.

Sebenarnya, suasana sunsetnya ini ngena banget. Tapi lagi-lagi gegara anjing menggonggong di sekeliling saya, jadi ilfeel parah. Bingung mau bawa diri. Mau balik ke hostel nggak mungkin juga. Kepalang tanggung.

Anjingnya bobo-bobo cantik 

Sambil berdiri mematung, sesekali jalan merepet-merepet, saya menunggu sunset. Saya sempat bertanya pada satpam yang berjaga di Hotel mewah view pantai. Katanya, “Mbak, kalau ke arah Kuta sana, anjingnya malah lebih banyak lagi. Anjing liar semua. Di sini anjingnya nggak seberapa banyak kok.”

Ngok! ya syudahlah ya. Toh, matahari juga sebentar lagi tenggelam.
  
Suka sama birunya... 

Sunset Batu Belig cantik. Ditambah suasana persiapan La Plancha atau pesta tepi pantai di sepanjang Kuta Selatan menambah riuh malam itu. Pingin nyobain masuk sambil dengerin penampilan Jazz yang biasa disajikan. Sepertinya asyik. Sayang, saya kepalang ilfeel gegara anjing. Kapan-kapan, deh, insyaallah mau coba masuk. Penasaran :D.

Tapi entahlah ya, semakin sering ngeluyur, saya semakin suka sama sunset dan pantai. Cantik!


Sedikit lagi senja

Sunset time
  
La Plancha

Saya pulang diantar Mas Putu (lagi). Asyiknya, sama Mas Putu—yang menjadikan Gojek sebagai pemasukan tambahan ini—saya diajak mblusuk lewat jalan-jalan yang nggak biasa. Jalanan tepian pantai yang suara musiknya terdengar kemana-mana. Iiih! Kan, makin mupeng. Bukan apa-apa, ini juga gegara jam-jamnya macet kalau lewat jalan utama.

Mas Putu ini juga semacam guide. Dia bilang, “Saya orang lokal Bali, Mbak. Mau apa juga masuk-masuk tempat wisata? Paling ya begitu saja. Tapi saya hapal daerah Bali.”

Baiklah.

Sesampai di depan hostel, Mas Putu berpesan, “Selamat berlibur di Bali, ya, Mbak. Terima kasih sudah pakai Gojek untuk menambah penghasilan saya.”

Saya tersenyum girang. “Besok pagi, Gojek bisa antar ke bandara juga, Mas?”

“Gojek bisa kapan saja, Mbak.”

Huah! Saya bahagia.

Tapi besok pagi buta, saya pesan gojek dua kali nggak ada yang datang. Entah karena terlalu pagi atau memang enggak mau masuk ke bandara. Tapi yang jelas, Gojek menyelamatkan saya selama beberapa jam di Bali. Karena sewa motor sudah terlalu mainstream:)).

Seragamnya Gojek!