Skip to main content

Asyiknya Terbang Paralayang di Gunung Banyak Batu



Di udara

Sertifikat uji nyali :))
 
Kota Batu pagi itu cerah, secerah perasaan saya yang optimis bisa menuntaskan hasrat terpendam sejak lima tahun lalu *pret*. Berkali-kali saya melajukan motor sambil memastikan daerah Pandesari aman. Yes, hari itu saya akan paralayang. Tekad saya bulat, nggak bakal turun sebelum benar-benar bisa terbang. Selama ada waktu, kenapa enggak? Dan uang juga, sih.

Ini bukan kali pertama saya ke daerah Pegunungan Banyak. Sebelumnya sudah pernah saya ulas di sini. Jadi, wajar saja kalau saya hapal jalan menuju ke sana. Familier banget, sih, memang daerah Batu :p. 

Dikelilingi pinus 

Pukul setengah sebelas saya sampai di Wisata Paralayang (HTM: 5k, parkir: 3k) dan disambut dengan angin yang berhembus cukup menyejukkan. Wah, pasti bisa terbang, nih, pikir saya kala itu. Sayangnya, angin yang berhembus dan melenakan tersebut justru membahayakan siapapun yang akan terbang, sekalipun atlet. Kecepatan angin untuk terbang maksimal 20 kilometer perjam. Lebih dari itu, harap bersabar sampai Magrib kalau memang niat banget buat terbang. Saya, sih, nekaaat pokoknya. Oh ya, syarat lain sebelum yakin untuk terbang adalah berat badan di bawah 90 kilogram, nggak punya riwayat penyakit jantung dan penyakit-penyakit seram lain.

Flying without wings

Tempat pertama yang saya tuju selepas pasrkir adalah pos pangkalan ojek yang sedang ditunggui empat pengojek. Di situ, saya basa-basi, ngobrol-ngobrol, tanya-tanya seputar paralayang yang memang kala itu pos pendaftarannya belum dibuka. Dari awal basa-basi, saya nggak nyangka, ternyata bapak-bapak ini konyol dan hobi ngeludruk. Jadilah selama menunggu angin turun selama empat jam, saya cekikikan nggak jelas sama mereka. Ya gitu, kalau jalan sendirian suka nggak tahu malu, kan, ya memang? :p.

Wefie dulu sama bapak-bapak ojek :D 

Selain sama bapak-bapak ojek, saya berkenalan dengan master pilot paralayang. Namanya Pak Ridwan yang biasa disapa Abah Iwan. Beliau adalah orang pertama yang menemukan potensi Pegunungan Banyak untuk dijadikan wisata dirgantara. Mulanya, beliau adalah mahasiswa asli Malang yang kuliah di Jakarta dan hobi main paralayang. Niatnya selepas lulus adalah bekerja di Malang.

Pak Iwan ngecek peralatan

Akhir tahun 1994 sampai awal tahun 1995, bapak empat orang anak tersebut survey dan menemukan lokasi yang tepat untuk paralayang. Dulu bukan di tempat sekarang dan berdekatan dengan rumah penduduk—yang nama tempatnya saya lupa. Tapi pada tahun 1996, terjadi kebakaran lumayan hebat dan menghanguskan bagian dari Gunung Banyak. Asyiknya, lokasi bekas kebakaran justru bersih dari rerumputan dan hanya menyisakan beberapa pepohonan. Lokasi inilah yang kemudian dijadikan tempat paralayang hingga saat ini.

 Sumpah asyik!
 
Abah Iwan babat alas seorang diri. Lokasi baru dikomersilkan pada tahun 1997 dan mulai ramai di awal 2000an. Sebabnya, kala itu Gunung Banyak juga dijadikan lokasi kejuaraan paralayang. Sekarang, bisa dikatakan beliau tinggal menuai hasil. Ramai parah. Padahal wisata ini nggak murah, loh. Tapi nagih! Hahaha. Saya jadi kebelet ke sana lagi, deh, suweeer!

 
Mbak Angie dan Mas Tris siap-siap take off

Biaya untuk terbang paralayang sebesar 350.000 rupiah. Biaya segitu sudah termasuk harness, helm, dan paralayang yang insyaallah sudah terjamin keamanannya. Itu juga sudah include biaya ojek buat naik lagi setelah landing di persawahan, tongsis sewaan, dan sertifikat yang bikin merasa kece parah :)). Sayangnya, biaya segitu cuma bisa dinikmati selama 5-10 menit. Bentar banget ya? Iya. Tapi, lucky me, saya dapat jatah terbang hampir 18 menit. Nggak sekadar terbang landai, juga bermanuver yang bikin saya ketawa-ketawa bahagia. Sudah dadah-dadah sama tekanan batin selama berminggu-minggu menahan hasrat nggak bisa kemana-mana :)). 

Fly me to the air!

Landing

Gimana? Tertarik nggak buat nyobain terbang di atas perkotaan Batu? Jangan lupa siapkan duit yang cukup, apalagi stamina. Kalau bisa, ke sini pas lagi stres parah, pasti nanti setelah turun langsung agak-beres :)). Kalau nggak pakai sepatu kets, nanti di sana akan disediakan sepatu khusus, jadi santai saja. Deg-degan pasti, tapi itu di detik-detik awal saja, setelahnya pasti nggak mau turun. Kalau saya, sih, haha. Jadi, 350k itu nggak mahal kalau buat pengalaman yang worth it banget begini. Seriusan.

Bahagia sejahtera mau lagi pake banget!  

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…