Saturday, December 31, 2016

Menikmati Pemandian Air Panas Cangar Batu saat Hujan



Udah masuk liburan akhir tahun, udah punya rencana buat pergi ke suatu tempat belum? Kalau belum, Pemandian Air Panas Cangar, Batu, bisa jadi salah satu pilihan buat menghabiskan waktu bersama keluarga.



Sebenarnya, Cangar, yang masuk ke dalam Tahura R. Soerjo, mainstream abis. Soalnya udah dari jaman dulu banget pemandian ini terkenal. Tapi buat yang belum pernah mampir kayak saya dan keluarga ini, bolehlah dicoba.



Jadi, Cangar ini masuk ke dalam wilayah Batu yang juga sebagai daerah perbatasan dengan Pacet, Mojokerto. Nggak heran nuansanya 11-12 sama Pacet. Berupa pemandian dari sumber belerang yang enak banget dinikmati. Meski hujan deras mengguyur sekaligus.



Sebenarnya, kalau nggak hujan kencang yang gila-gilaan kayak kemarin, Cangar bisa enak banget dinikmati. Soalnya, habis berendam, badan pasti hangat terus. Beda kayak kami kemarin. Habis berendam lama, naik bentar kedinginan, berendam lagi, naik lagi, berendam, naik, mandi hangat, dingin, gitu aja terus sampe jelek. Ujung-ujungnya kedinginan, wong kehujanan:)).



Tapi gak masalah, meski begitu esensi liburan keluarganya dapat. Ya gimana enggak, wong kami sekeluarga menikmati berendam di kolam rame-rame. Ya mulai balapan renang, main kereta-keretaan, balapan gendong-gendongan, sampai balapan paling lama napas. Hujan deras, cuekin aja:)).



Secara kasat mata, Cangar ini serupa pemandian atau kolam yang jadul abis. Soalnya memang bangunannya termasuk lama dan minim perbaikan. Beberapa sudut lantai kolam juga ada yang berlumut antara menunjukkan usinya sudah uzur dan karena daerah lembab.

Ada empat kolam di sini. Satu khusus anak-anak balita, satu kolam sedalam 100 meter, satu kolam lagi sedalam 160 meter, dan satu lagi kolam khusus wanita. Kami memilih berendam di kolam umum sedalam 100 meter.



Untuk masuk ke Cangar murah buanget. Perorang wajib membayar biaya retribusi sebesar 10.500 rupiah sudah termasuk asuransi. Kalau mau ke kolam buat berendam, tiket masuknya 5.000 rupiah saja. Jadi, yang mau berendam monggo, yang mau piknik duduk-duduk santai ya silakan.

Di daerah Cangar, kalian pasti akan menemukan penjual tape ketan lupis--yang bagi keluarga saya selalu endeus. Seporsi tape ketan hitam diberi irisan lupis (jajanan pasar dari ketan yang dibentuk menyerupai lontong) hanya dibanderol 5.000 rupiah saja. Di sini bisa juga dipakai buat berteduh kala hujan.



Selepas renang air hangat, bisa banget dilanjutkan buat makan bakso di depan Cangar. Bakso Malang yang rasanya enak dan murah. Salah satu keuntungan main di tempat-tempat jadul ya begini. Apa-apa serbamurah. Tapi kudu menerima kalau fasumnya di luar ekspektasi. Gitu aja.



At least, liburan akhir tahun kami menyenangkan. Paling nggak, setelah pegel dan kehujanan bisa langsung bobo cantik dan ngerasain jalanan macet kota Malang. Selamat berlibur, Qaqa!

Thursday, December 29, 2016

Merci Beaucoup 2016!

Sudah hampir di penghujung tahun 2016, nih. Ternyata saya beneran belum nikah di tahun ini, hahaha. Crap! Seperti yang sudah-sudah, saya akan menuliskan catatan pendek sepanjang 2016 ini udah ngapain aja, ke mana aja, bareng siapa aja, dan berbuat apa. Pret.

Overall, saya cukup senang dengan tahun ini, gara-garanya cuma satu: berhasil mengakhiri perjuangan berat selama dua tahun terakhir:))). Nggak cuma itu, kayaknya saya juga masih rutin keluyuran nggak jelas setiap bulannya, seperti janji saya pada diri sendiri duluuu. Jadi, kemana aja saya sepanjang 2016 ini?

Januari
Liburan akhir semester saya gunakan untuk pergi ke Sulawesi Selatan. Mulai dari Makassar, Maros, Tana Toraja, Enrekang, sampai Bulukumba. Seru! Karena saya melakukan perjalanan bersama sembilan orang wanita dan satu lelaki. Iseng-iseng sebenarnya dapat rombongan segitu banyak. Karena saya memang pasang iklan di webnya BPI dan responnya Alhamdulillah banyak :)).

Tana Toraja

Februari
Motret bareng Adam ke Jalan Gula. Iseng, sih, sebenarnya. Gara-garanya pas wasapan sama dia ngobrolin kamera, tiba-tiba aja gitu kepikiran buat main ke Jalan Gula yang happening buat prewed dan take foto album wisuda. Nggak cuma ke Jalan Gula, kami juga main ke Tugu Pahlawan. Iseng juga soalnya sama-sama sering banget mampir ke sini, haha.

Jalan Gula

Bulan ini saya sama Ima nyoba buka warung es cokelat. Yaa, cuma karena saya bosan dengan rutinitas, sih. Bosan sama kuliah, kerjaan yang begitu-begitu aja, dan perlu sesuatu yang baru (nikah nggak masuk ke dalam list ini ya, hehe). Maka jadilah saya buka warung Chocoreeto yang dijual di depan Alfamart dekat kantor. Sekarang warungnya vakum sementara dan cuma buka saat pameran :D.

Maret
Saya diajak Pelindo III buat main ke Banjarmasin sehari aja. Ceritanya saya masuk finalis lomba menulis gitu. Jadilah diajak buat jalan-jalan sehari ke Banjarmasin dan akhirnya pecah telor nginjak kaki di tanah Borneo :)). Ngapain aja di sana? Bayangpun, cuma sehari, yaa cuma bisa ke Pasar Apung Lok Baintan, belanja batu-batu di Martapura, trus mampir ke Portnya Pelindo :)).

Liburan ekspres ke Banjarmasin

Bulan Maret ini saya juga iseng banget ngeteng ke Wonosalam bareng Plurker keceh badai asal Balikpapan coret, Mbaqqq. Tujuannya cuma pengen ngerasain durennya Wonosalam mampir ke Kampoeng Djawi :D.

Serba-Jawa di Kampoeng Djawi

April 
Bulan April saya main-main ke Pulau Menjangan, Bali via Pantai Watudodol, Banyuwangi. Judulnya... iseng juga. Nggak ada kerjaan, pusing sama kuliah dan tesis, yaa jelas ngabur solusinya XD.

Biru di Watudodol

Mei  
Sebenarnya saya mau ke Kupang di tanggal cuti bersama di bulan ini. Tiket berangkat sudah didapat. Tapi entah kenapa kok beraaat banget mau berangkat. Nggak tahunya, sepuluh hari sebelum hari-H cuti, saya diajak Kementrian Pariwisata buat ikutan jalan-jalan gratis ke Banyuwangi selama lima hari. Yaa nggak nolaklah. Tiket ke Kupang saya refund, ganti deal dengan ajakan ke Banyuwangi yang memang belum sepenuhnya saya eksplor.

Hey-Ho!

Sebelumnya, saya juga jalan ke Batu dan Malang berdua aja sama si bungsu, Tita, naik turun angkot. Eh, seru juga ternyata main sama bocah yang nggak rewel dan nurut kalau diajak keluyuran, haha. Dekat tapi esensinya dapet. Main ke alun-alun kota Malang, jajan es krim Toko Oen, dan main ke kebun anggrek.

Titut!

Juni
Nggak ada niatan buat pergi kemana-mana sebenarnya. Tapi, ada yang ngajakin buat jalan ke... Batu lagi. Jalan ke Eco Green Park yang emang belum pernah saya datengin. Mayanlah, tipis-tipis.

Ciyeee...

Juli
Lebaran nggak kemana-mana nah, cuma ke... Batu lagi.  Ke rumah Pakde as usual buat sungkeman juga mampir ke Selecta.

Akhir bulan persis, saya sidang tesis yang disusul dengan ngabur ke... Batu lagi. Ngaburnya cuma ke Air Terjun Cuban Rondo, Taman Labirin, BNS, dan Perpus Amin. Saya main bertiga dengan Shabrina dan Binti sewa mobil. Gileee beneran kurang kerjaan, kan? Namanya juga iseng :))).

Sok-sokan manah hati kamuh!

Agustus
Selama bisa memenuhi kebutuhan sendiri, ngapain minta? Buat ngerayaain ulang tahun sendiri, saya menghilang lima hari ke Malaysia berdua bareng Mbak Pupung, teman wawancara WHV. Biar pernah ke luar negeri gitu. Walaupun saya banyak merutuki kebodohan diri sendiri pas sendirian keliling di Johor Bahru XD.

Saya juga main ke Solo dan Jogja. Ke Solo main ke Air Tejun Tawangmangu sedangkan pas di Jogja main ke Museum Ullen Sentalu.

Kawasan Pecinan di Johor Bahru

September
Tiba-tiba ada telpon dari kenalan yang nggak dekat-dekat banget buat ngisi workshop kepenulisan di Palu, Sulawesi Tengah selama empat hari. Nolak? Enggaklah! :)))

Pantai Talise

Bulan ini juga saya wisuda esdua barengan sama adek yang wisuda esatu. Pas wisuda gini saya bingung, saya mau jadi apa habis ini? Semoga segera jadi manten ajalaaah, HAHAHA.

Oktober
Ke Jakarta nyicipin Terminal 3 Ultimate buat ikutan pelatihan khusus jurnalis kece selama empat hari. Ih, saya suka, deh, main ke Jakarta, banyak temennya! Tapi kalau ditawarin buat kerja dan tinggal di sana? No way!:))

Jekardah!

November
Apa kabar, Bali? Buat ngabisin jatah cuti, saya main ke Nusa Penida bareng tiga teman lain. Seruuu dan tolol, hahaha. Saya mengkomando ketiga teman biar bawa helm buat jaga-jaga naik motor selama di Nusa Penida. Means, kami bawa helm digotong-gotong gitu dong! Bayangkan muka kami yang seolah-olah nggak percaya dengan keamanan selama di pesawat. Untung kami nggak bego maksimal, duduk pesawat sambil pakai helm. Tapi, pas landing, helm yang dibawa langsung dipakai dong. HAHAHA

Serunya jalan bareng teman yang emang sama-sama dodol, apa-apa jadi lucu. Mulai turun Grab dikejar tiga anjing sekaligus, dicegat anjing berantem di tengah jalan, sampai ngomen-ngomen nggak penting dan jadi keliatan bego :)). Nggak ketinggalan selama empat hari curhat-curhatan yang bikin hati dan pikiran plong.

Crystal Bay Nusa Penida

Desember
Ke Malang menghabiskan akhir tahun. Quality time bareng keluarga. Tipis-tipis yang penting berfaedah. Tujuannya? Nggak tahu, karena baru besok pagi berangkat :)).

Tapi paling nggak, selain jalan-jalan tipis-tipis, tahun 2016 ini menguras tenaga, pikiran, dan hati banget. Banyak drama yang dilewati, yang nggak cuma bikin stres, tapi juga nyaris edan. But, Alhamdulillaaah, saya masih waras, sehat, sentosa, dan menggemaskan *ditoyor*.

Tuesday, November 29, 2016

Crystal Bay: Pantai Asyik Buat Nunggu Sunset di Nusa Penida


Gambar diambil dari anomharya.com

Jauh sebelum Nusa Penida booming di Instagram, kali pertama mendengar namanya, hal pertama yang saya bayangkan adalah keelokan tempatnya. Juga bagaimana cara menempuhnya. Lalu, semakin tertarik ketika tiga teman saya bergantian berkunjung ke Nusa Penida dalam waktu yang berdekatan dan mengabarkan keindahan panorama yang ada. Beberapa situs juga menyebutkan kalau Nusa Penida adalah Bali tempo dulu alias masih ndeso banget.

Nusa Penida yang sepi

Owell, sepertinya saya memang harus menyempatkan datang dan melihat keelokan alamnya. Bukan sekadar melihat melalui potret foto. Toh Bali sangat mudah dijangkau dari Surabaya, tempat saya tinggal. Biaya jalan juga masih sangat terjangkau--kecuali kalau bujet jebol gegara belanja ya, itu beda lagi. Maka, saya bersama ketiga teman pun akhirnya pergi juga ke Bali, tepatnya ke Nusa Penida.

Bening...

Nusa Penida memang pulau tersendiri. Lepas dari pulau utama Bali. Otomatis jauh dari ingar bingar pub, resto, dan hotel-hotel mahaagung. Makanya, di sini juga buanyaaaak banget tempat wisata pantai. Salah satu pantai yang paling banyak difavoritkan dan dikunjungi wisatawan adalah Crystal Bay.


Santai emang di pantai

Akses ke Crystal Bay juga paling guampang banget dibandingkan pantai lain yang kami kunjungi. Nggak pakai usaha pasti bakal nyampe, istilahnya gitu. Jarak dari Pelabuhan Nusa Penida (pelabuhan untuk kapal ferry) ke Crystal Bay sekira 12 kilometer. Atau kalau berangkat melalui Pelabuhan Banjar Nyuh II di Ped (pelabuhan untuk fast boat) hanya 9-10 kilometer yang bisa ditempuh 20 menit saja.


Crystal Bay, bhay!

Berdasarkan hasil surfing dan bertanya sana-sini, Crystal Bay enak banget buat nunggu sunset. Suasananya teduh, ombaknya tenang, dan fasilitas di sekitar pantai benar-benar sudah lengkap. Ada banyak pohon kelapa meneduhkan, hammock bertebaran, kursi santai yang disewakan, dan bisa banget mendirikan tenda buat menginap. Bisa dibilang pantai di sini sudah paling siap menerima kunjungan wisatawan.


Menara pandang

Di tempat ini juga memiliki fasilitas pengelolaan snorkling dan diving karena air lautnya jernih banget. Harga yang ditawarkan juga nggak mahal. Untuk sewa snorkle persetnya dibanderol 40 ribu rupiah sedangkan untuk sewa kapal dengan tiga spot snorkling dipasang mulai harga 500 ribu rupiah, tergantung kelihaian kalian dalam menawar. Sementara untuk diving, beda lagi. Minimal perpax kabarnya mulai satu juta rupiah untuk beberapa spot.


Selow

Kami datang ke Crystal Bay Sabtu sore pukul empat berniat mengabadikan sunset lebih awal. Selain juga untuk leha-leha di pasir putih. Selain di Pantai Atuh, kami baru menemukan pantai yang berpasir hanya di Crystal Bay. Sebab selebihnya wisata pantai yang ada hanya bisa dinikmati dari ketinggian dengan perasaan ngeri-ngeri sedap.


Masih diminati

Dengan niat begitu menggebu, kami memasuki Crystal Bay dengan seribu tanya. Kok pantainya begini? Kok pantainya nggak kayak yang difoto temen? Kok banyak sampah dan beberapa bagian pantai gosong? Kok pantai nggak meneduhkan sama sekali? Kok pantainya sepi?


Ngeri

Seribu tanya itu terjawab setelah kami nongkrong di salah satu bangunan warung ala kadarnya. Bu Gusti, pemilik warung, menceritakan kalau kawasan Crystal Bay baru saja dibakar. Sengaja dibakar oleh pemerintah untuk dikomersilkan, dibangun dengan resto dan villa. Kejadian juga akhirnya, kan... uang dan kekuasaan berbicara. Pohon dan bangunan-bangunan teduh di Crystal Bay sudah tak ada lagi. Menyisakan rongsokan bangunan kotor tak sedap dipandang. Tidak ada lagi toilet umum, tidak ada lagi warung teduh, tidak ada lagi penjaja sewa snorkle dengan tempat layak, dan tak ada lagi yang menginap di tenda. Semuanya tampak kumuh. Kasihan, kan...


Gusuran

Tapi, di balik semua itu, sunset di Crystal Bay tetap memukau. Dua jam kami duduk di pasir pantai sambil memandang bocah-bocah bermain air. Yang beginian nggak bakal saya temukan di Surabaya dan yang selalu dirindukan setiap mau berlibur. Tenang menentramkan.


Tapi sunsetnya tetap syahdu

No matter, fakta menyedihkan di depan mata para pedagang, Crystal Bay nyatanya masih dikunjungi beberapa orang. Pengunjung masih tetap antusias menunggu sunset. Bisa dengan leyeh-leyeh di pasir. Bisa juga menaiki ratusan anak tangga di sebelah barat untuk mengabadikan sunset lengkap dengan lengkungan pantai. Kalau saya, sudah mager di pasir kriyep-kriyep kena angin. Bawaannya pingin bobo cantik saja.


Masih ramai, kan?

Crystal Bay, mungkin akan lebih cantik setahun-dua mendatang. Biaya parkir juga mungkin nggak cuma dua sampai lima ribu, karena semakin komersil. Tetapi cantiknya Crystal Bay, nggak ada salahnya juga diabadikan. Ya nggak?


Mau ke sini?

Monday, November 28, 2016

Apa Kabar Pasar Seni Sukawati Bali?



 Pasar Seni Sukawati 
Siapapun, yang pernah sekolah, barangkali pernah merasakan liburan perpisahan ke Pulau Dewata, Bali. Saya adalah salah satunya.

Hingga perpisahan bangku SMA, saya sudah ke Bali sekira tiga kali. Ketiganya saya mencicip bagaimana rasanya masuk ke Pasar Seni Sukawati. Pasar seni yang menjual buanyak banget barang kesenian Bali. Lukisan, ukiran, gantungan, wewangian, baju, kain, aksesoris, pensil kayu dengan bentuk unik, gantungan kunci bentuk papan selancar, sampai cemilan.

 

Belanja di mari

Saya selalu suka setiap mampir ke sana. Karena saya menikmati proses jual beli dan tawar menawar, yang bagi saya, kalau dapat harga rendah bangeeet adalah suatu kebanggan. Kasian? Sedikit dan kadang-kadang. Toh, mereka jual bertahun-tahun juga masih survive, berarti mereka tetap untung walaupun marginnya tipis. Lagian, bukankah menawar adalah termasuk seni? *pembeli tega dan nggak tau diri :))*

Sepi 

Nah, kemarin saya baru saja mampir ke Sukawati setelah balik dari Nusa Penida. Iseng-iseng, sih, sebenarnya, karena nggak ada niat sama sekali buat belanja. Tapi, kan, saya cewek, naluri cewek kebanyakan mesti belanja tiap masuk pasar. Apalagi pasar yang nggak tiap tahun bisa dikunjungi. Ya, kan?

Iya.


Warna-warni baju
Sepintas lalu saya mencermati Pasar Sukawati ini. Masih tetap sama dengan tahun 2007 lalu, saat saya baru lulus SMA. Bangunannya masih tradisional dengan pedagang banyak berjajar dan bergerombol di parkiran menawarkan dagangan. Ya ampun, nggak ada yang berbeda sama sekali.

Barangkali yang berbeda hanya satu; kok Sukawati sekarang sepi? Padahal hari itu weekend. Bahkan untuk memilih dagangan pun nggak ada ceritanya penuh sesak dan bau keringat. Sepi parah.

Saya bahkan beberapa kali melihat pedagang menawarkan dagangan dengan harga sangat miring. Misalnya lukisan yang dijual seharga 50ribu saja. Padahal lukisannya baguuus banget. Kasihan...


Lukisan murah meriah
Meski begitu, bertahun-tahun nggak pernah mampir, Sukawati ternyata masih tetap mau menerima pembeli rewel dan tukang nawar yang nggak kira-kira macam saya ini. Masih sangat menarik. Dan masih berpotensi bikin kantong saya jebol. HIH!

Jadi, prinsip dasar menawar, sebenarnya mudah banget. Dibagi aja separuhnya. Kalau enggak, yaa tinggalin. Yang jual, kan, nggak cuma satu orang, hehe.




Tenun Endek muraaah
Tapi, melihat Sukawati, kadang saya jadi skeptis, apakah pasar kece yang tiap saat dipenuhi wewangian dupa yang menguar ini juga akan diobrak-abrik lalu direnov menjadi lebih modern? Selayaknya pasar-pasar kuno yang pernah ada. Pasar Klewer Solo, Pasar Turi Surabaya, Pasar Wonokromo, dan pasar lain.

Waaah, semoga enggaklaaah. Karena bagaimanapun, Pasar Seni Sukawati di Bali ini begitu iconic, terkenal dengan barang-barang murah dan kualitas yang lumayan bagus. Meskipun juga ada pasar lain yang menjual produk serupa, seperti Pasar Guwang.

Di pikiran banyak orang, Bali identik dengan Sukawati. kalau ke Bali pingin belanja, yaaa ke Sukawati. Kalau mau dapet barang murah, yaaa main-main ke Pasar Sukawati. Ya, kaaan?

Penuuuh

Friday, November 25, 2016

Pengalaman Menginap di Bandara Ngurah Rai Bali



"Kita nginap bandara ya? Dua malam. Malam kedatangan dan malam sebelum keberangkatan,"

Sebenarnya, sudah lama sekali saya pengen tidur bandara. Sekadar ingin menikmati sensasinya. Cuma baru kali ini kesampaian. Ternyata, seru juga tidur bandara :))

Ceritanya, saya dan ketiga teman akan pergi ke Nusa Penida. Nah, biar hemat waktu, kami memutuskan untuk menginap di Bandara Ngurah Rai Bali agar bisa sampai tujuan pagi-pagi dan eksplor lebih lama.



Pesawat keberangkatan SUB-DPS pukul 19.45 WIB tapi landing sekira 21.30 WITA. Molor 30 menitan gitu. Tapi bagi saya, semakin lama molor berarti waktu menunggu pagi semakin sempit. Baguslah.

Makin bagus lagi setelah landing kami nggak langsung keluar. Tapi masih foto-foto konyol berlatar tulisan selamat datang di Bali.

YAELAH! Padahal cuma Bali yang sudah dikunjungi berkuali-kuali, ini masih mejeng dan foto-foto di depannya. Biarinlah, kapan lagi foto sambil nenteng helm pascaturun bandara #lmao



Sambil menunggu Mbak Uphe yang berangkat dari Jogja, tujuan selepas landing adalah makan malam. Apa kabar perut bergelambir?

Masih tetap baik-baik saja~~~



Bandara Ngurah Rai semakin malam ternyata makin ramai. Paling tidak, saat kami nongkrong cantik sampai jam 01.00 WITA di Burger King, masih ada rombongan yang baru landing--plus bawa bendera negara kayak di luar negeri gitu #haha

Makin lama bandara memang makin sepi. Tenant-tenant banyak yang sudah tutup. Mata kami pun perlahan mengeluarkan air mata. Ngantuk, Beb.





Kami bergegas menuju musala--yang sebelumnya sudah disurvey bahwa layak untuk dijadikan tempat menginap. Tapi sebenarnya, kalau pun tidak boleh tidur musala, masih bisa banget tidur di kursi luar bandara. Toh, hanya tidur beberapa jam, jadi jangan manja #lol



Atau, kalau kalian nggak mau tidur di kursi luar bandara, bisa banget tidur di kursinya Alfamart/ Indomart. Yaa, yang penting beli sikik-sikiklah. Mereka buka 24 jam penuh. Bisa juga numpang ngecharge di sini.





Tapi ternyata, yang tidur di musala lumayan banyak juga loh. Jadi, nggak perlu khawatir kalau takut diusir diminta pindah. Yang penting jaga barang bawaan kalian. Sambil tidur sambil peluk tas berisi barang berharga.





Oh ya, nggak perlu khawatir juga kalau mau ke toilet, karena toilet buka 24 jam. Di beberapa bandara yang saya tahu, toilet kadang dikunci kalau sudah masuk penerbangan paling akhir. Kalau di Ngurah Rai enggak. Sayangnya, di sini nggak ada shower room kayak di Juanda, Hasanuddin, atau Soekarno Hatta. Jadi kalau bangun tidur cuma bisa wudu, cuci muka, gosok gigi, dan buang air.





Tapi kata petugas kebersihan, kalau mau mandi, bisa di belakang Circle-K asal datang pagi-pagi. Jadi masih bisa mandi tanpa kucing-kucingan karena sepi.

Kenyataannya, kami tetap pada pendirian. Nggak mandi #lol.

Pada akhirnya, Bandara Ngurah Rai enak juga dipakai buat menginap. Wifinya juga kencang semena-mena. Nggak kayak wifi bandara di kota saya--yang bilangnya gratis tapi luwemotnya Subhanallah.

Jadi, mau menginap di Bandara Ngurah Rai? :))))