Sunday, May 29, 2016

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali


Peta Pulau Bali

Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground Zero

Kereta melaju dan saya mengantuk. Sambil main-main sosial media, saya cek aplikasi travel agent yang ternyata... harga hostel di menit-menit terakhir makin mahal. Hahaha, saya salah strategi.

Kalau biasanya saya suka iseng ngecek harga tiket pesawat murah, maka harga hostel, hotel, atau tempat menginap apapun ternyata makin mahal ketika mendekati last minutes.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada CX Hostel Ground Zero yang bersebelahan persis dengan Monumen Bom Bali. Alasannya, bersih, strategis, paling murah dibandingkan mix hostel lain, dan sudah termasuk sarapan. Jadi, kenyamanan perut terjaminlah.


Kamar CX Hostel Ground Zero

Kala itu saya berpikir, masa iya, sih, nggak ada online travel agent yang menawarkan fasilitas diskon murah untuk menginap di hotel di menit-menit terakhir? Kan, lumayan kalau ada fasilitas begitu. Menyelamatkan nasib backpacker kere yang nggak jelas juntrungnya semacam saya begini, hehe.

Tapi ternyata Tuhan menjawab doa backpacker amatir nan kere ini.

Terhitung sejak sebulan lalu, online travel agent Tiket.com punya fasilitas menyelamatkan nasib orang-orang seperti saya. Namanya Last Minutes Hotels Deal! Wooh, bagaikan dapat guyuran air di tengah padang pasir. Lega banget rasanya pas tahu tiket.com melaunching program baru itu. Artinya, saya nggak perlu susah nyari penginapan jauh-jauh hari demi dapat harga murah.


Sunset cantik Pantai Batu Belig

Mending mepet. Apalagi semakin mepet diskon yang digelontorkan semakin besar. Antara 25-70%! Duh, Gusti... ini bukan lagi menyelamatkan, tapi menyegarkan kantong jua.

Saya pikir, aplikasi semacam ini bakal banyak diminati oleh orang-orang yang suka menghilang tiba-tiba tanpa rencana. Habis kece, sih. Oh ya, jangan lupa download aplikasi Tiket.com di *200*266# yaa buat memudahkan pemesanan hotel yang murah meriah hore. Selamat berlibur!

Saturday, May 14, 2016

8 Tempat Wisata di Banyuwangi yang Harus Dikunjungi

Sunrise di Pelabuhan Ketapang

Banyuwangi, sebagai kabupaten paling timur di Pulau Jawa punya banyak sekali tempat wisata yang memesona. Akses ke sana pun semakin mudah. Nggak heran lagi, Banyuwangi, yang menjadi gerbang utama jalur darat menuju Pulau Bali, ini kian digandrungi. Nggak hanya oleh wisatawan lokal, juga mancanegara. Itu karena tata kelola wisata Banyuwangi saat ini mulai terlihat. Terus diperbarui. Nah, buat kalian yang ingin mampir ke Banyuwangi, nggak ada salahnya pergi ke tempat-tempat yang bisa masuk ke dalam wish list travel kamu. Berikut adalah tempat wisata paling rekomen jika kamu pergi ke Banyuwangi.


Sunrisenya tjiamik!

Sebagai kabupaten paling timur di Pulau Jawa, otomatis, Banyuwangi merupakan tempat pertama yang terkena sinar matahari. Nggak heran juga kalau Banyuwangi punya sebutan keren, Sunrise of Java. Nah, karena sudah menjadi simbol alias tetenger, nggak ada salahnya kalian nyicipin sunrise di Banyuwangi. Tepatnya di Pantai Boom, pantai berpasir hitam yang berada di tengah kota. Tidak ada tiket masuk untuk pergi ke Pantai Boom. Ini menjadi salah satu spot fotografi yang paling saya suka. Warna sunrisenya patut diabadikan. Tjiamik!

2. Gunung Ijen

Kawah Ijen

Sebetulnya, Gunung Ijen secara keseluruhan tidak berada di Banyuwangi. Melainkan gabungan dari dua kabupaten berbeda. Yakni Bondowos dan Banyuwangi. Tetapi, akses yang lebih mudah dicapai dari Banyuwangi. Kalian mau ke Banyuwangi tapi nggak mampir ke Gunung Ijen? Coba pikir ulang. Sebab, Gunung Ijen memiliki banyak sekali spot menarik yang bisa kalian rangkum dalam bingkai kamera. Ada blue fire, fenomena api biru yang hanya ada dua di dunia; satu di Iceland dan dua di Indonesia, tepatnya di Banyuwangi Jawa Timur. Blue fire terjadi ketika bertemunya sulfatara dan karbon monoksida di suhu 200°C, hanya bisa dinikmati sebelum sunrise dan ketika tidak mendung. Fenomena ini dulunya ditemukan oleh turis asal Perancis, sekira 6-7 tahun lalu, yang membuat Ijen kini banyak didatangi oleh warga asing. Butuh waktu normal dua jam tracking untuk melihat fenomena tersebut. Di Ijen, kalian juga bisa bertemu dengan penambang belerang yang hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah ancaman gas belerang kurang bersahabat.


Tari Barong Prejeng

Di Banyuwangi, ada satu desa yang bisa dikatakan masih sangat alami. Namanya Desa Adat Kemiren. Penduduknya sebagian besar adalah Suku Osing, pecahan dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri ketika Belanda menyerang Pulau Jawa. Mereka menyebar ke seluruh wilayah Banyuwangi, namun mayoritas ada di wilayah barat. Di Desa Adat Kemiren, kalian akan mendapatkan suguhan layaknya tamu agung. Mulai dari penyambutan oleh Tari Barong Prejeng untuk mengusir aura negatif tamu, hiburan selamat datang dengan Tari Gandrung, sajian khas Banyuwangi Pecel Pitik, dan pengetahuan umum tentang Suku Osing yang masih lestari hingga kini. Dijamin nggak nyesel kalau sudah bertandang ke tempat ini.

4. Pulau Tabuhan

Pulau Tabuhan

Pulau Tabuhan adalah pulau yang tidak berpenghuni. Letaknya berada di tengah Selat Bali tapi masih berada di wilayah Banyuwangi. Nama Tabuhan diambil karena konon, dulunya nelayan kerap mendengarkan musik-musik yang ditabuh di pulau ini setiap malam, dalam jangka waktu cukup lama. Siapa yang memainkan? Tidak ada yang berani berekpektasi. Terlepas dari asal muasal nama, Pulau Tabuhan punya eksotisme tersendiri. Pasirnya putih di sisi timur dan penuh karang di sisi barat. Kalian bisa snorkling di tempat ini dan dijamin nggak bakal nyesel dengan pemandangan bawah lautnya. Biaya sewa kapal dari Bangsring berkisar 400-450 ribu untuk sepuluh orang dan peralatan snorkling persetnya dipatok 30 ribu rupiah.

5. Air Tejun Mbah Ijah

Air terjun Mbah Ijah

Air tejun yang berada di Kampung Anyar, Glagah, Banyuwangi ini belum tenar. Makanya, saya merekomendasikan air terjun ini ke wish list travel kalian. Karena tempatnya sepi, pemandangannya cantik, kalian bisa lebih puas buat nikmatin air terjun yang juga dikenal dengan sebutan Jagir ini. Nama Mbah Ijah diambil dari seorang nenek yang membabat alas di Kampung Anyar. Mbah Ijah dulunya kerap menjaga air terjun juga. Untuk itulah, temurun dan warga sekitar mengabadikan namanya sebagai nama air terjun sebagai tanda hormat. Tidak ada tiket masuk di tempat ini.

6. Pantai Pulau Merah

Surfing di Pulau Merah

Senja bagus di Pantai Pulau Merah. Itulah sebab namanya merah. Karena, di tengah pantai terdapat pulau yang menjulang dan akan terlihat kemerahan ketika terkena sinar matahari. Pulau Merah sangat padat dikunjungi wisatawan, khususnya wisatawan asing yang ingin belajar surfing karena ombaknya tak cukup galak. Pantai ini berpasir putih dan menawarkan ketenangan tersendiri. Tidak ada angkutan umum jika ingin berkunjung ke sini. Sebaiknya menggunakan mobil sewaan ya.

7. Pantai Watu Dodol

Pantai Watu Dodol

Pantai Watu Dodol memiliki satu garis lurus dengan Pelabuhan Ketapang, Pantai Bangsring, Pantai Boom, dan Pantai Kempo. Di Pantai Watu Dodol, kalian bisa banget menyaksikan sunrise yang ada di Selat Bali. Tapi, kalau nggak kebagian sunrise, tempat ini juga menyuguhkan pemandangan yang nggak kalah menarik. Dipenuhi dengan bebatuan kali, tepian pantai juga ditumbuhi pohon rindang yang bikin mengantuk. Nggak heran juga kalau saya memilih untuk membaca di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin yang berhembus melenakan.

8. Taman Nasional Alas Purwo

Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo

Sebenarnya saya tidak merekomendasikan Taman Nasional Alas Purwo sebagai tepat wisata. Kenapa? Karena Alas Purwo bukan tempat wisata, melainkan tempat penelitian. Karena berstatus taman nasional, sebetulnya sangat disarankan kalau tidak ada pengunjung yang datang kemari hanya untuk foto-foto demi keberlangsungan hidup flora fauna yang ada. Kesannya sotoy banget ya? Nggak juga. Karena saya pikir, di taman nasional ini tempat pelestarian hewan-hewan dilindungi berada. Nggak sedikit wisatawan yang memberi makan hewan (khususnya primata Makaka sp.) dengan cemilan manusia. Masih ingat bagaimana populasi hewan menyerang perkampungan ketika habitat mereka diusik? Ya, sebaiknya tidak ke sini ya.

Tetapi, kalian masih bisa menikmati bagian lain dari Taman Nasional Alas Purwo. Yaitu Pantai Plengkung (G-land), Pantai Pancur, dan Pantai Triangulasi. Ketiga pantai ini memiliki karakteristik omak yang lumayan galak, apalagi di G-land. Nggak heran kalau di tempat tersebut menjadi favorit surfer profesional. Selain pantai, ada juga pura tertua di Pulau Jawa, namanya Pura Luhur Giri Saloka. Konon, beribadah di sini jauh lebih menentramkan hati bagi umat Hindu.


Biruuu

Itu hanya sebagian kecil tempat wisata di Banyuwangi yang harus kalian masukkan dalam wish list travel. Buat kalian yang belum pernah ke Banyuwangi, nggak usah bingung harus naik apa dan tidur dimana. Karena di Traveloka sudah tersedia tiket pesawat dengan rute penerbangan Surabaya-Banyuwangi PP. Urusan penginapan juga bakal kelar urusannya kalau kalian klik di sini. Sebab, banyak banget hotel yang rekomen dan nyaman buat ditempati. Yang bikin asyik, di Traveloka sering bertabur promo menarik yang pasti sukses bikin acara traveling ke Banyuwangi lebih hemat dan aman di kantong. Jadi, ayo ke Banyuwangi! Dijamin nggak nyesel!

Friday, May 13, 2016

Menyapa Kecantikan Sunrise Pantai Boom Banyuwangi



Banyuwangi dikenal dengan sebutan Sunrise of Java karena merupakan daerah pertama yang terkena matahari terbit di Pulau Jawa. Makanya, nggak afdol rasanya kalau ke sana nggak bertemu langsung dengan sunrise. Kurang greget.



Ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk melihat sunrise di Banyuwangi. Seperti di pelabuhan, Pantai Watudodol, Pantai Bangsring, dan Pantai Boom.



Pantai Boom adalah pantai di tengah kota berpasir hitam. Ombaknya lumayan bersahabat. Tapi saya pikir, saat paling tepat untuk berkunjung ke Pantai Boom adalah ketika fajar menyingsing. Alasannya, saat matahari tinggi, Pantai Boom kurang memesona.



Sunrise di Pantai Boom bisa dikatakan tjiamik soro karena pesonanya memikat. Matahari menyiratkan rona keemasan berpadu semburat awan-awan. Deburan ombak tenang, menyisakan bagian surut. Angin berhembus tipis, tak sampai hati menerbangkan helai rambut.

Damai.



Bercengkramalah dengan penduduk lokal, para pemancing, dan pengunjung kepagian. Karena tujuan kami sama.

Menunggu pagi dengan harapan. Mendapatkan ikan untuk makan. Menemukan keindahan.

Thursday, May 12, 2016

Merayakan Kelulusan di Pantai Triangulasi Banyuwangi



Agak aneh begitu melihat segerombolan remaja datang dan bersantai di bawah pohon tepi pantai. Seragamnya putih bercampur pewarna. Wajahnya semringah tanpa beban. Jauh dari sembab.

Oh, ternyata mereka sedang merayakan kelulusan. Lulus dari sekolah menengah atas. Entah apakah perayaan itu juga menunjukkan kelulusan dari sekolah kehidupan.





Di bawah pohon teduh di Pantai Triangulasi, Banyuwangi, mereka berteriak girang. Padahal jarak yang ditempuh menuju pantai itu tak cukup dekat. Perlu waktu untuk menyusuri deretan pepohonan jati, maupun evergreen dengan jalan tak semulus jalan tol. Persis di Taman Nasional Alas Purwo, wilayah konservasi bagi beragam jenis tumbuhan dan hewan. Hutan tertua di Pulau Jawa yang masih menyimpan jutaan misteri. Sungguh mereka adalah pejuang masakini yang niat abis.



Namanya saja taman nasional, saya pikir mereka yang datang ke sana adalah para peneliti. Ada juga yang hanya hore-hore, ternyata. Maafkan, pikiran kolot saya ini.



Di Pantai Triangulasi, pasir bertinta putih. Halus dan melenakan. Tapi, ombaknya sadis. Sesuai dengan karakteristik pantai selatan. Ganas. Meski begitu, toh, mereka tetap menikmati.

Teduhnya pohon. Suara deburan ombak. Birunya laut bercampur langit. Gumpalan awan serupa gula-gula. Bahagia dalam hening.

Mereka mencari itu. Saya pun begitu.

Tuesday, May 10, 2016

Seru-seruan di Air Terjun Mbah Ijah Banyuwangi



Banyuwangi punya buanyak banget tempat wisata. Tapi ada satu tempat wisata yang belum banyak dieksplor. Namanya Air Terjun Mbah Ijah atau biasa disebut Air Terjun Jagir.

Bertempat di Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, obyek wisata tersebut belum se-happening wana wisata lain yang ada. Tapi tak banyak informasi bisa dikorek di air terjun yang sepi dari pengunjung itu.



Salah seorang warga sekitar bertutur, nama Air Terjun Mbah Ijah diperoleh dari seorang nenek yang membabat alas di daerah Kampung Anyar. Salah satu yang beliau lakukan adalah menjaga dua aliran air terjun yang saling berdekatan. Lalu ketika beliau meninggal, air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Mbah Ijah sebagai bentuk penghormatan terakhir baginya. Makamnya tepat berada di sisi rumah warga yang saya tanya tadi--yang ternyata adalah keturunan kesekian Mbah Ijah. Jangan tanya nama Jagir darimana karena mas-mas ini juga nggak tahu muasalnya.



Dari Karanganyar, untuk turun ke air terjun cukup berjalan kaki sepuluh menit. Pendek banget tracknya. Di situ, pengunjung bisa main air dan foto-foto karena aliran airnya dangkal.



Tidak ada tiket masuk di Air Terjun Mbah Ijah kecuali beaya parkir. Paling cocok berkunjung saat nggak hari libur karena kayak kolam pemandian pribadi. Selamat berlibur!

Lezatnya Oling Kuah Pedas Khas Banyuwangi



Kurang lengkap rasanya kalau jalan-jalan nggak mampir buat wisata kuliner. Nah, di Banyuwangi ada satu kuliner unik yang tempatnya rekomen banget. Namanya, Pondok Indah Resto yang ada di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tempatnya ada di tengah hutan di jalan menuju Kawah Ijen.



Kali pertama masuk tempat ini langsung semringah. Beneran hutan dengan dekorasi interior kekayuan yang homey. Banyak menu yang disajikan dengan harga ramah di kantong.

Sebelum seperti sekarang, dulunya, resto ini identik dengan tempat mesum pasangan-pasangan. Tapi, ketika dibuka kembali dengan konsep berbeda pada 2013, resto ini justru menyuguhkan keunikan lain.



Berkonsep family resto, untuk mencicipi menu yang ada, harus banget reservasi sebelumnya. Ini dilakukan agar pelanggan nggak ngerasa terlalu lama menunggu makanan dimasak. Lalu, dilarang datang berdua, agar kesan mesum tidak kembali timbul.



Salah satu menu andalan yang saya coba adalah Oling Kuah Pedas, Nasi Bakar Pedo, dan Green Diamond Lime.

Oling adalah sejenis belut, karnivora, dengan ukuran tubuh yang lebih besar dan banyak ditemukan di perairan tawar. Oling banyak ditemukan di Banyuwangi. Kuah pedas yang disajikan merupakan kuah santan yang (nggak terlalu) pedas. Lalu Nasi Bakar Pedo adalah nasi bakar diisi dengan ikan asin (yang sumprit asin banget buat saya). Sedangkan Green Diamond Lime adalah campuran mentimun, jeruk, sirup jeruk, dan es yang seger geela~~.





Dari makanan yang disajikan, saya paling cocok dengan Oling Kuah Pedas. Rasanya pas antara manis, gurih, dan pedas meski nggak begitu pedas. Cita rasa pedas menonjolkan kuliner khas Jawa Timur.

Jadi, sempetin yaa kalau ke Banyuwangi mampir ke Pondok Indah Resto. Harganya murah, rasanya mayan kok.

Kisah Penambang Belerang Modern di Kawah Ijen



"Asli, kalau ada yang ngajakin ke Kawah Ijen lagi, pasti bakal aku tolak. Jalan jelek, menanjak, capek."

Seperempat dasawarsa lalu saya berjanji pada diri sendiri kalau nggak bakal mau pergi ke Kawah Ijen lagi. Tapi hari ini saya justru kembali naik mengikuti jadwal #PesonaBanyuwangi #PesonaIndonesia. Ya, nggak mungkin dong saya nolak. Itung-itung uji panjang pendeknya napas yang Alhamdulillah masih lantjar.





Ijen yang dulu belum banyak berubah. Hanya jalan yang makin bagus, nggak gopel, nggak banyak kerikil, dan aman. Yang paling mencolok, perubahan ada pada penambang belerang.





Dulu, penambang belerang menggunakan keranjang dan memikul belerang untuk ditimbang di pos timbang. Tapi kini, modernitas hadir di tengah mereka. Mereka tak lagi menggunakan keranjang untuk memikul belerang. Sebab, ada investor asal Perancis, pengusaha resto di Bali, memberikan troli untuk para penambang. Secara cuma-cuma? Tentu enggak. Penambang yang mau menggunakan troli dikenakan biaya 220 ribu rupiah. Troli datang 20 buah setiap tiga bulan sekali rutin sejak pertengahan tahun 2015.





Troli dilengkapi dengan hand rem dan bisa digunakan untuk mengambil belerang hingga 200 kilogram sekaligus Karena beban lebih ringan. Sepanjang pengamatan saya, banyak penambang memilih menggunakan troli sekalipun harus merogoh kocek sampai 1.5 juta rupiah, kelamaan menunggu pesanan yang tiga bulan sekali. Kenapa?

Ya, karena troli bersifat multifungsi. Jika hari ramai, bisa digunakan sebagai pengangkut wisatawan yang lelah mendaki. Biayanya 400-500 ribu rupiah untuk naik dan 150-200 ribu rupiah untuk turun. Biasanya mereka bergotong royong antarpenambang. Karena troli ini jugalah mereka kini perlahan mulai meninggalkan kegiatan menambang belerang. Mereka menganggap jika menjajakan troli lebih menguntungkan dibandingkan dengan menambang belerang. Keamanan pun lebih terjaga.





Tapi tak semua mau mengganti keranjang dengan troli. Soalnya, harga troli dianggap mahal dan menggunakan keranjang lebih enak.



Belerang di Ijen akan tetap sama. Namun, secara tidak langsung, para pekerjanya mulai beralih fungsi. Mereka mulai menyadari, himpitan ekonomi akan semakin sesak sementara kesehatan terus menurun. Pilihannya hanya dua; menggunakan troli sebagai penjaja jasa ojek atau menambang belerang dengan resiko keselamatan terancam lebih tinggi.

Monday, May 9, 2016

Terapung-apung di Rumah Apung Bangsring Banyuwangi



Ada satu tempat wisata baru di Banyuwangi. Nggak baru amat, sih. Sekira Desember 2014 lalu baru didirikan. Tepatnya di Dusun Bengkak, Desa Bangsring, Wongsorejo, Banyuwangi yaitu Rumah Apung Bangsring.



Namanya juga rumah apung, jelas sudah letaknya tidak di daratan. Ada di tengah Selat Bali yang bisa ditempuh dengan menggunakan kapal nelayan atau jukung nggak sampai sepuluh menit Biasanya pengelola wisata membandrolnya satu paket dengan Pulau Tabuhan sebesar 450 ribu rupiah perkapal isi 10 orang.



Dulunya, rumah apung merupakan keramba jaring apung (KJA) berisi penangkaran lobster milik nelayan setempat. Tetapi, sejak adanya aturan Kementrian Kelautan tahun 2015 tentang batasan penangkapan lobster dan rajungan otomatis menurunkan omset nelayan secara besar-besaran. Mereka pun memilih untuk menangkarkan hiu sirip hitam, penyu, dan ikan hias. Agak sebelah selatan, ada penangkaran terumbu karang atas inisiatif warga setempat yang tahu pentingnya wisata dapat memutar perekonomian. Itu juga yang menjadi alasan nelayan Bangsring menjadi salah satu pelopor tour travel perahu wisata.



Di Rumah Apung Bangsring, kalian bisa banget ikut berenang di KJA. Kabarnya hiunya sudah jinak. Lapar pun mereka cukup tahu diri dengan makan ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil darinya.

Menurut saya, Rumah Apung Bangsring lumayan banget jadi tempat wisata air. Kalau mau hemat, nggak usah sewa perahu. Cukup sewa 1 set snorkle senilai 30 ribu rupiah dan berenang menuju Rumah Apung Bangsring.



Kenapa saya sarankan begitu? Satu jaraknya amat dekat. Dua hemat biaya. Tiga iseng-iseng sekalian main air. Sepakat?

Kalau bisa murah dan bis hura-hura kenapa nggak? Ya, nggak? *ditendang:)))*