Monday, August 15, 2016

Mencoba Kereta Gantung Tercepat di Genting Highland

Genting Skyway

Ini adalah perjalanan kali pertama saya ke luar negeri. Kasihan banget ya? Baru di usia twenty somethingnyicipin nginjak tanah orang :)). Malaysia menjadi jujukan karena masih satu rumpun dengan Indonesia dan saya pikir nggak akan sulit meminta bantuan jika tersesat. Maksudnya, dengan bahasa Inggris saya yang super ngepas, bisalah minta tolong buat kasih unjuk kalau butuh apa-apa :D.

Itinerary dibuat empat hari sebelum berangkat karena memang tugas saya lagi banyak-banyaknya. Tapi, secara garis besar, saya tahu mau ke mana saja: Johor Bahru, Malaka, dan Kuala Lumpur. Sebenarnya mau ke Penang juga, tapi dijungkir balik macam gimanapun tetap nggak nemu jalan keluar. Bayangpun, empat hari pakai acara ke Penang, capek di kantong, Jeh!

Di antara itineraryyang saya buat, Genting Highland tidak masuk dalam catatan. Rencana ini dibuat saat pagi buta nongkrong di KLCC sekitar Petronas. Jam satu dini hari. Jelas, bukan saya yang buat. Genting Highland adalah rekomendasi dari kenalan asal Afghanistan yang merupakan temannya (katakanlah cem-ceman) Mbak Pupung. Katanya, Genting Highland bagus, dingin, dan asik buat senang-senang. Siapa yang menolak coba?


 
Skyway

Jadi, Genting Highland atau dataran tinggi Genting ini merupakan daerah dingin di Malaysia tepatnya di perbatasan Selangor dan Pahang. Jaraknya sekira 60 kilometer dari Kuala Lumpur dengan jalanan mulus dan pemandangan hijau di kanan kiri.

Genting Highland ini tenar dengan tempat wisata mewah dan tempat perjudian legal. Di sini juga ada hotel dengan kamar terbanyak di dunia, First World Hotel. Tapi, yang paling bikin saya mupeng adalah Genting Skyway alias kereta gantung. Kereta gantung di Genting Highland ini menjadi kereta gantung tercepat di dunia. Jarak antardaratan 3,37 kilometer dan bisa ditempuh hanya dalam waktu 15 menit!

Untuk menuju ke Genting Highland, saya dan Mbak Pupung naik LRT (komuter) jurusan Pasar Seni-Gombak sekira 30 menit dengan harga 3,8 RM. Kenapa dari Pasar Seni? Karena itu adalah stasiun terdekat dari tempat kami menginap, yaitu di Petaling Street atau tenar disebut China Town.

Dari Gombak bisa dilanjutkan dengan naik bus jurusan Genting 3,4 RM selama 1 jam. Bus Gombak-Genting hanya tersedia di jam-jam tertentu. TIPS:Di Stasiun Gombak, sebaiknya sekalian beli tiket Genting Skyway biar nggak antre. Kalau enggak gitu, bakalan antre panjang buat beli tiket plus antre masuk pas di Genting. Tiket Genting Skyway hanya 6,4 RM one way.


1 RM = IDR 3300

Keretanya ajib!

Tapi, meskipun sudah beli tiket skyway di Gombak, antrean untuk masuk tetap panjang. Kira-kira untuk masuk harus antre 30 menit. Lama? Enggak juga. Karena sambil antre bisa disambi ngelihatin rombongan tur yang lucu-lucu.

Satu kereta gantung bisa diisi maksimal delapan orang, tapi ada juga yang seorang saja. Biasanya, mereka yang seorang -dua itu beli tiket yang agak mahal dikit, sekira 12 RM one way.

Kereta gantung Genting Skyway ini berada di pegunungan Genting yang dihubungkan oleh tebing. Di bawah lintasan tampak jelas hutan tropis amat rimbun sementara di perlintasan sesekali ada burung melintas dengan santainya. Udara siang itu dingin dengan kabut yang cukup tebal. Tapi toh, tidak menyurutkan rasa senang saya yang menguapkan jenuh.

Kereta gantung Genting Highland

Saya pikir, nggak dosa juga jalan-jalan semalam kalau dapat ganti naik kereta gantung yang menyenangkan begini. Lupa kalau cuma tidur tiga jam demi kereta gantung :))).

Lepas dari kereta gantung, SANGAT disarankan buat langsung beli tiket balik. Iya, nggak ada bus apalagi LRT buat balik ke KL Sentral atau pun Gombak dari tempat menurunkan penumpang. Hanya ada taksi yang muahaaal banget ratenya. Yaaa, kecuali kalau kalian mau jalan-jalan di sekitar Genting ya. Kalau saya, karena mau langsung pulang ke Surabaya, jadinya beli tiket skyway lagi dengan harga sama. Antrean untuk balik nggak seramai sebelumnya. Di sini hanya antre lima menit bisa langsung naik.

Jadwal bus

Dari Genting menuju KL Sentral bisa beli tiket seharga 4,3 RM dengan lama perjalanan satu jam. Ketersediaan tiket tergantung kuota. Jadi, berdoa saja semoga jadwal bus yang kalian tumpangi bisa mengejar jadwal flight. Nah, karena punggung dan mata saya sudah nggak bisa diajak kompromi, perjalanan naik turun meliuk-liuk gunung pun akhirnya saya lewatkan. Tentu sambil berdoa semoga perjalanan ke KL Sentral nggak pakai acara macet mengingat saya harus melanjutkan KL Sentral-KLIA2 yang lagi-lagi busnya tergantung jadwal :D.

Jadi, nggak rugi juga main-main ke Genting Highland buat nyicipin naik kereta gantung tercepat di dunia. Seru? Banget. Murah? iya! Mau lagi? Bolehlaaah :)).

Tuesday, August 2, 2016

Perpus Amin: Wisata Edukasi di Kota Batu



Batu lagi, Batu lagi. Ya begitulah. Batu memang sedang giat-giatnya tumbuh. Banyak sudut kota kecil di atas perbukitan ini yang tengah dibenahi. Salah satu jujukan yang bisa banget dikunjungi saat ke Batu adalah adanya tempat nongkrong unik dan gratis.



Tempat Baca Amin, namanya. Nggak ada yang aneh, sih, sebenarnya dengan tempat ini. Sama kayak perpus-perpus yang pernah ada. Yang bikin menonjol cuma satu; bangunannya.



Bangunan perpus Amin berasal dari kontainer yang didesain warna-warni dan berpendingin ruangan. Tongkat-tongkat diletakkan sebagai penyangga. Perpus ini juga jadi satu dengan klinik dokter. Letaknya persis di deretan jalan masuk ke Jatim Park. Atau gampangnya, satu lokasi dengan Pasar Parkiran.



Pertama kali masuk perpus gratis, hal yang bisa kalian lakukan adalah foto-foto. Maksudnya, motret interior ruang yang lumayan. Ada total sekira tujuh kontainer yang dibangun khusus untuk tempat baca-baca. Untuk koleksi anak-anak ada di lantai 1, sedangkan koleksi umum ada di lantai 2.



Yang bikin saya kaget, koleksi buku di perpus ini superlavvas! Jarang saya menemukan buku terbitan 5 tahun terakhir. Semuanya lavvas. Saya bahkan mendapatkan buku masa TK yang masih disampul rapi dengan warna mulai pudar.



Masuk ke zona umum pun begitu. Koleksinya lama-lama. Wondering, ini perpus kenapa dibiarin isinya lavvas? Apakah karena statusnya gratis? Atau karena nggak ada yang kasih sumbangan?



Nggak ngerti juga. Tapi yang jelas, beberapa yang datang ke sini sepengamatan saya, banyak dipakai buat foto-foto saja. Yang baca yaa jarang, hehe.



Perpus Amin buka setiap hari mulai pukul 14.00-21.00. Berkunjung ke Batu, lumayanlah buat eksis di sini. Belum lagi kalau lapar, bisa banget buat jajan di sekitar lokasi sini. Banyak pilihan. Jadi, nggak ada salahnya memasukkan Perpus Amin buat destinasi yang berbeda.

Monday, August 1, 2016

Kafe Baperz: Tempat buat Menyepi di Surabaya



Lagi suntuk? Sibuk? Bete? Atau butuh tempat menyepi yang sepi, murah, dan enak? Saya ada rekomendasi tempat yang bisa banget kalian coba. Ceritanya begini.

Beberapa waktu lalu saya tidak sengaja menemukan tempat asik yang sepi ini. Tempat itu saya temukan ketika saya sedang menyusuri jalanan Surabaya pelan-pelan sambil tengok kanan kiri di tengah jam kerja. Saya sengaja melewati jalan Bratang-Ngagel karena memang sedang ingin berputar-putar di daerah yang dikenal dengan Kampung Bebek itu.



Di perlintasan kereta api setelah SPBU Ngagel, saya melihat sebuah kafe yang super sepi dengan dekorasi menarik. Kala itu saya hanya membatin sewaktu-waktu pasti mau mampir ke situ dengan pertimbangan; tempat sepi kemungkinan besar jajanannya murah, nggak berisik, dan wifinya kenceng semena-mena.

Percaya atau enggak, semua tebakan saya benar!

Saat benar-benar butuh tempat menyepi untuk mengerjakan tugas akhir, saya langsung terpikir untuk mampir ke tempat ini. Bayangkan, saat saya mampir, di malam minggu yang jalanannya nggak manusiawi itu, kafe ini sepi! I'm the only one of being theirs.



Saya langsung ngakak girang dalam hati. Ngerasa nggak salah pilih.

Lantas makin bahagia begitu lihat menu dan harganya bersahabat di kantong saya. Juga koneksi wifi yang superkenceng.

Allah memang Mahabaik. Tahu keinginan hamba-Nya yang sedang berduka penuh nestapa, hahaha.



Oh ya, namanya Kafe Baperz (iya, namanya enggak banget yaa :ppp) di Jl Ngagel Rejo Kidul depan Masjid Roudhotul Falah. Menu yang ditawarkan dari 4ribu rupiah sampai di bawah 20ribu. Tempatnya homey, cozy, dan sepi abis.



Saat saya ke sana, saya memesan Spaghetti, French Fries, Es (yang saya lupa namanya. Pokoknya isinya jelly, agar, dan es krim), dan sebotol air mineral. Kenyang? Alhamdulillah. Total saya habis 39ribu rupiah saja.

Dengan harga segitu, bisa bangetlah buat traktiran di sini. Hemat, Beb! :))