Tuesday, September 13, 2016

Nongkrong Cantik di Gunung Nona Enrekang


Gunung Nona di Enrekang

Nggak, nggak, saya nggak mendaki. Nyali saya belum begitu besar buat menaklukkan gunung. Tentu saja, saya juga masih mikir berkali-kali menariknya gunung—yang bagi teman-teman saya jauh lebih menantang daripada pantai—ini dimana. Bayangpun setelah didaki penuh peluh lalu turun. Kan, capek...

Jadi, sebagai alternatif biar nggak capek tapi seolah-olah ngerasain pernah naik gunung, saya dan sembilan teman memilih menghabiskan waktu sore di Gunung Nona, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. ini atas usul Pak Aksan, sopier elf kami.


Di sana-sini pohon

Selepas pulang dari Tana Toraja, Pak Aksan memilih jalur Enrekang untuk menuju Bulukumba—yang waktu tempuhnya selama 14 jam! HAHAHA, saya masih nggak habis pikir dengan hal ini. Saya yang bikin itinerary tentu harus terima keadaan terombang-ambing di jalan selama empat hari empat malam. Apa kabar pantat? Mati rasa! :)))

Sebenarnya, nongkrong cantik di Gunung Nona ini sama banget dengan di Payung, Batu; Tretes; Cemoro Sewu, Karanganyar; dan tempat-tempat dingin lain di Jawa. Bedanya, ini di Sulawesi Selatan, haha #digiles.

Berkabut

Banyak banget warung-warung di tepian jalan sepanjang pemandangan Gunung Nona ini. Yang dijual juga standarlah. Minuman hangat, cemilan hangat, dan snack kering yang dibanderol mulai 20 ribu rupiah (btw, stik kejunya enak!). Harganya juga nggak jauh beda dengan harga di Jawa. Katakanlah minuman hangat seharga 5 ribu rupiah. Yaaa, 11-12-lah ya...

Di sepanjang Gunung Nona, wisatawan bisa banget foto-foto nggak jelas berlatar Gunung Nona. Oh ya, mengenai nama, kenapa namanya Gunung Nona? Kata Pak Aksan, karena bentuknya mirip dengan gunung nona (payudara wanita)—well, penjelasan ini masuk dalam kategori saru dan nggak sopan, menurut saya.

Nggak ngerti jalur pendakiannya dari mana ini...

Tapi terlepas dari joke garing dari Pak Aksan, siapa pun bisa mampir ke warung untuk bersantai menikmati pemandangan Gunung Nona. Udara dingin yang menusuk pori dan suasana sepi (nggak seramai di Jawa) paling bisa dipakai buat ngobrol asyik menghabiskan waktu sore. Di warung-warung ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang bisa dipakai buat numpang mandi—kalau betah sama air dingin. Sekira satu jam kami istirahat ngelurusin pinggang di sini sebelum menempuh jalur—setan—panjang menuju Bulukumba.

Jadi, jangan lupa buat mampir di mari yaa kalau dari Toraja! 

Leha-leha tjantik

Friday, September 9, 2016

Wisata Murah Bareng Keluarga di Tlogo Ngebel Ponorogo


Nyiur melambai

Selamat berakhir pekaaan! Ada agenda kemana weekend ini? Kalau belum ada, bisa banget dicoba untuk piknik bareng keluarga ke Tlogo Ngebel, Ponorogo, seperti yang saya dan keluarga lakukan.

Awalnya, kami sekeluarga hanya berniat untuk menghabiskan waktu ke Pacitan. Tapi, karena Pacitan penuh sesak, akhirnya kami putuskan untuk pindah kota ke Ponorogo setelah meningap sehari di tengah kota Pacitan.

Sawah 

Perjalanan dari Pacitan ke Ponorogo didominasi oleh hijaunya pepohonan dan jalanan mulus berkelok-kelok. Masih banyak persawahan di tepi jalan—yang jelas nggak ada di Surabaya. Oh ya, jalanan dari dua kabupaten ini juga didominasi oleh tebing-tebing berbatu besar. Pasti tahu, kan, kalau Pacitan-Ponorogo ini salah satu sentra penghasil batu (katakanlah akik) di Jawa Timur? Pasti tahu juga, kan, kalau di kedua wilayah ini juga beberapa kali jadi bahan pemberitaan karena adanya longsor? Tapi, semua ragu dan ketakutan itu sirnah ketika tahu kalau Ponorogo ternyata sejuk, dingin, dan sepi.

Hai, Biru!

Mendekati Tlogo Ngebel, akan dijumpai warga yang berjualan durian di sepanjang jalan. Apa kabar kami? Mampir dong! Kami, kan, keluarga pecinta, maniak, super hyper-durian. Harga yang ditawarkan macam-macam. Tapi yang jelas rasanya suka nendang, gitu.

Tlogo Ngebel

Sebenarnya, tujuan Tlogo Ngebel diekskusi atas usulan Ibu yang katanya, telaganya bagus. Kalau perkiraan saya, sih, namanya telaga yaaa palingan nggak jauh beda sama Telaga Sarangan, Magetan. Dan ternyata memang mirip.

Main air

Main pakai life jacket

Hanya bedanya, Tlogo Ngebel di Ponorogo ini lebih guedeee dan pas weekend alhamdulillah... rame. Cuaca sekitar telaga saat pagi yang sejuk pun semakin dingin saat rintik gerimis perlahan membasahi. Kabut pun sesekali turun menyelimuti pemandangan. Tapi, bukan kami kalau nggak nekat.

Kami tetap bermain, duduk-duduk di tepi telaga, sightseeing. Kami pun mencoba wahana air seharga 50 ribu rupiah sekali putaran telaga. Atau kalau mau murah, bisa naik bebek-bebekan atau bus air yang bisa dipakai buat rombongan. Harganya nggak lebih dari 20 ribu rupiah kok.

Wisata keroyokan 

Di sekitar telaga buanyak banget warung yang jualan, yaaa... seperti layaknya daerah dingin lain, pasti yang dijual adalah sate kelinci. Selain itu, ada pula ayam goreng khas (nggak ngerti, nih, khasnya bagaimana), bakso, dan sate ayam Ponorogo yang tenar itu. Tapi, bisa banget gelar tikar buat piknik di sekitar telaga. Asal nggak lupa untuk buang sampah di tempatnya. Sayang banget, kawasan wisata ini kotor gegara banyak sampah berserakan.

Speed boat

Nggak sampai lama, akhirnya kami memilih balik kanan karena hujan semakin deras. Yaa, nggak jadi menarik lah ya kalau liburan alam bareng keluarga harus hujan-hujanan.

Rindang

Untuk masuk Telaga Ngebel murah banget. Perorang hanya ditarik tarif 15 ribu rupiah. Buat kami, harga segitu cukup worth it-lah, lumayan bisa dipakai buat menghilangkan penat dari rutinitas sehari-hari.

Jadi, tertarik buat ke Telaga Ngebel? Selamat berlibur!

Mendung di Tlogo Ngebel

Tuesday, September 6, 2016

Coban Sewu: Keindahan di Batas Malang dan Lumajang

Air Terjun Tumpak Sewu (taken by: Har)

Jumat menjelang subuh saya langsung berkemas seusai berkirim pesan dengan Har beberapa menit sebelumnya. Pagi itu, saya memutuskan untuk pergi ke Lumajang, bermain ke Air Terjun Coban Sewu (artinya: banyak air terjun) atau banyak orang juga menyebutnya sebagai Air Terjun Tumpak Sewu. Tanpa banyak wacana dan rencana. Begitulah biasanya jika saya akan jalan dengan Har—maupun Navis. Saya lebih menyukai pergerakan yang spontan, impulsif begitu. Beda sekali dengan teman-teman kebanyakan—yang banyak wacana tapi nol ekskusi. But wait, meski begitu kalian masih teman-temanku kok :))).

Seger, Gan...

Saya pergi ke Lumajang dengan bus seusai mengantarkan Tita sekolah. Namanya juga one day trip dengan orang yang sudah tahu kebiasaan masing-masing. Jadi, saya nggak perlu pusing memikirkan itinerary. Toh, selama ini saya juga jarang banget bikin itinerary kalau cuma jalan sehari. Yang penting sampai tujuan. No matter what happened inside, just make it happen,  gitu aja.

Perjalanan Surabaya-Lumajang membutuhkan waktu sekira 4-5 jam tergantung kondisi jalanan. Kala itu, perjalanan saya lancar jaya. Makanya, sebelum jumatan saya sudah tiba dan dijemput Har di perempatan pendopo. Dari pendopo, perjalanan kami berlanjut menggunakan motor menuju Sidomulyo, Pronojiwo atau sekira dua jam jika ditempuh santai melewati wilayah tambang pasir ilegal yang tenar itu.

Tambang pasir

Udara dingin akan menyelusup pori kulit begitu pemandangan sudah berganti dengan pepohonan di jalan yang serbaberkelok. Tapi bukan Har namanya jika tidak tetap ngebut di jalan seperti itu. Saya yang dibonceng antara menikmati dan sedikit was-was. Ya gimana enggak, kami pernah jatuh dari motor dua-tiga kali gegara gaya nyetir Har—yang begitu. Saat perjalanan ke Bromo dan ke pantai perawan Jonggring Saloko, Malang Selatan.

Dari jauh...

Sebenarnya, Air Terjun Tumpak Sewu ini berada di perbatasan Malang dan Lumajang. Kalau dari Lumajang, untuk mencapai air terjun, pengunjung harus melewati bebatuan di balik Goa Tetes—yang Masyaallah butuh tenaga dan napas ekstra buat mencapainya. Berbeda jika dari Ampel Gading, Malang, pengunjung hanya perlu menuruni anak tangga darurat yang dibuat penduduk sekitar dan langsung menemukan air terjun.

Goa Tetes

Air Terjun Tumpak Sewu ini dibuka setiap hari dan tutup setiap pukul 16 sore. Untuk masuk ke tempat wisata yang makin ramai sejak didatangi oleh tim My Trip My Adventure ini pengunjung hanya perlu membayar lima ribu rupiah perorang. Murah meriah alias hemat di kantong, kaaan?

Nggosip bisa juga 

Kami datang agak sore, sekira pukul 14.30. Kami pikir, kami adalah rombongan terakhir yang berkunjung hari itu. Ternyata nggak juga. Tepat di depan kami ada rombongan beranggotakan lima orang yang juga baru sampai. Mereka juga dari Surabaya dan selanjutnya kami bergabung menjadi satu rombongan besar. Nggak salah kami bergabung dengan mereka. Sebab, suasana capek karena naik turun bebatuan langsung cair gegara mereka yang geblek abis :))).

Rombongan dadakan (taken by: Andre)

Sebenarnya ya, kalau nggak ingat air di air terjun dan sekitar Goa Tetes itu dingin, saya pingin banget buat nyemplung dan main air. Yaa, walaupun akhirnya nyemplung juga, sih, meskipun nggak full body.

Dari Goa Tetes, kalau mau turun ke Air Terjun Tumpak Sewu bisa berjalan naik turun di tebing curam sekira 30 menit saja. Jangan lupa atur napas dan banyak doa yaa. Jalanan di bebatuan selain terjal dan curam juga licin. Belum lama sebelum saya ke sana seorang mahasiswi asal Malang dikabarkan tewas karena terpeleset saat selfie. Naudzubillah...

Ciyeee, traveling pake dresscode...

Tapi, percaya sama saya kalau perjalanan lelah, serbabasah, dan berkeringat yang menyisakan napas satu-dua ini akan terbayar lunas dengan keindahan air terjun yang debit airnya kencang abis. Dan, apa yang saya pikirkan benar adanya. Sesampai di air terjun, cukup banyak pengunjung (mereka datang dari jalur Malang) yang mengenakan kaos bertitel acara tv, berfoto, dan meneriakkan jargon acara traveling di televisi swasta itu. EAAA abis, kan...

Air Terjun Tumpak Sewu

Well, kalau mau berkunjung ke Air Terjun Tumpak Sewu, ada baiknya bawa pakaian ganti. Jangan lupa juga bawa air yang cukup biar nggak kecapekan. Perhatikan alas kaki yang digunakan, pilih sol yang anti-selip biar nggak licin.

Bagus tapi pegel. Diajak lagi? Ogah! :)))

Jadi, tertarik nggak buat main-main ke Air Terjun Tumpak Sewu?

Kalau saya, diajakin buat ke sana sekali lagi sudah nggak sanggup, deh, meskipun pemandangannya bagus banget. Sudah cukup sekali dan nggak mau lagi. Tulang paha dan punggung rasanya mau patah sehari setelah liburan ke sini *balungane tuwo :)))*.

Selamat berlibur, anw!

Saya dan Har (taken by: Endro)

Saturday, September 3, 2016

[VIDEO] Backpacking to Batu Caves Malaysia

Pergi ke Malaysia rasanya kurang lengkap jika tidak mampir ke Batu Caves yang ada di distrik Gombak, Selangor, Malaysia. Sebab di sana ada sebuah kuil pemujaan umat Hindu dengan patung Dewa Murugan tertinggi di dunia. Untuk masuk ke Batu Caves harus berpakaian sopan atau menyewa kain seharga RM 5 sebagai jaminan. Uang ini nantinya dikembalikan hanya RM 3. Ya, sama kayak bayar RM 2, kan, yaaa :))!

Oh yaa, kalau mau ke Batu Caves, bisa banget naik LRT dari Pasar Seni turun ke Stasiun Putra Gombak lalu dilanjutkan dengan naik bus gratis dengan tulisan Go Genting! Atau kalau nggak mau kelamaan nunggu bus, bisa banget naik Uber dengan biaya RM 10. Masuk sini gratis, loh!

Videographer: Atiqoh Hasan
Editor: Robert

Friday, September 2, 2016

Backpacking 4 Hari di Malaysia Cuma Sejuta!


Petronas di atas pukul 00:00 lampu dipadamkan

Judulnya lebay? Yaa enggak. Itu masuk akal banget. Soalnya, apa-apa di Malaysia itu murah. Coba cek, deh, apakah saya yang jadi satu-satunya orang nggembel di Malaysia dengan bujet sejuta selama empat hari. Enggak bangeeet! Malah banyak yang habis di bawah sejuta, kayaknya.

Jadi, di trip kali ini saya sengaja memilih Malaysia untuk merayakan bulan kelahiran. Alasannya, biar pernah ke luar negeri dan ngetes ngomong bahasa linggis. Nggak semua orang Malaysia berbahasa melayu, btw.

Tujuan saya selama empat hari ke Johor Bahru, Malaka, dan Kuala Lumpur. Penginapan sudah dipesan sebulan sebelumnya via Booking.com dan Traveloka bayar belakangan.

Selama di Johor, saya berpencar dengan Mbak Pupung karena tujuannya sudah jelas beda jauh. Dia mau ke Legoland (yang sumpah mahal banget buat kantong saat ini) sedangkan saya mau city tour aja di sekitar JB Sentral. Modal kaki doang, hahaha. Window shopping mal to mal :)).

DAY I (JOHOR BAHRU)
-       1. Sampai di Bandara Senai Johor Bahru menuju JB Sentral naik bus Causeway Link CWA RM 8 (perjalanan 40 menit, busnya nyaman). JB Sentral itu terminal gede yang langsung terhubung dengan mal—yang sayangnya saya lupa menghitung di situ ada berapa mal yang saling terhubung. JB Sentral dipakai buat tujuan ke arah Timur misal Singapura. Di terminal ini juga dipakai buat pergi ke tempat wisata serbamahal yang tak mampu Hayati capai; Legoland, Hello Kitty Town, Thomas Town, Johor Premium Outlet (mal dengan barang serbabranded), dan banyak lagi. Sedangkan kalau mau ke arah Selatan atau Barat, Malaka, misalnya, naiknya nggak dari sini. Tapi dari Terminal Larkin.

Boarding pass bus CWA

CWA inside

-       2. Begitu sampai JB Sentral, saya langsung membeli simcard merk Digicard sebesar RM 15—yang bikin bete mampus gegara sampai pulang kartunya nggak bisa dipakai. Mana sudah diisi pulsa RM 10 pula. Jadi, saran saya, nggak perlu beli kartu karena di mana-mana banyak wifi. Asli, daripada makan hati karena buang-buang duit percuma. Atau kalau beli sim card di Sevel saja.

JB Sentral

-         3. City tour murah meriah. Dari JB Sentral bisa ke mal Komtar JBCC yang dihubungkan dengan jembatan di dalam mal. Di sini manusianya padat banget dan serbaburu-buru. Ada beberapa spot menarik di dekat Komtar JBCC yang bisa dicapai dengan jalan kaki. Misalnya, Kuil Arulmigu Raja Mariaman yang ada di Little India (Jl Ungku Puan). Masuk gratis. Jangan lupa nyicipin Es Lemon Asam seharga RM 2 yang enaaak banget. Rasanya asam campur manis, cocok diminum siang-siang.

Jembatan dari JB Sentral ke Komtar JBCC

Arulmigu Sri Mariaman Temple

Lalu ke daerah pecinan di Jl Tan Hiok Nee yang bersebelahan dengan Little India. Di sini bakal dipenuhi pertokoan serbacina. Ada juga Museum China Heritage tiket masuk harga pelajar RM 3. Saat saya ke sana, niat banget mau pakai student ID, tapi batal gegara kartunya tertinggal. Tapi tetap aja dikasih masuk RM 3 :)). Ada juga Masjid Sultan Abu Bakar dan Sultan Abu Bakar Museum yang bangunannya eksotis, tapi kudu ditempuh dengan taksi RM 10 atau bus RM 1 (yang kata mereka susah ditebak jadwalnya?). Tapi saya nggak ke sana. Hayati lelah, Bang...

Pecinan di Johor Bahru

Oh ya, di Komtar JBCC juga ada Angry Bird Activity Park. Tempat main anak-anak yang ada di dalam mal gitu. Tiket masuknya seharga RM 75. Mahal? Buat saya yang kurang suka wahana beginian, yaaa... iyalah mahal banget.

Chinese Heritage Museum

Angry Bird Activity Park

         4.  Makan siang yang aman dan murah bisa pakai Nasi Lemak paru-kerang RM 5 dan dua botol air mineral RM 2,5. Saya makan di kantin UTC (pelayanan satu atap kantor pemerintahan) dan numpang wifi yang lumayan kenceng.

Es Lemon yang endeuuus!

-       5. Sekira jam 17.00 waktu Johor, saya mulai geser dari JB Sentral ke Terminal Larkin karena penginapan terletak di Dataran Larkin. Untuk ke Larkin bisa menggunakan bus seharga RM 1,7 (bayar pakai RM 2 nggak dikasih kembalian). Busnya ber-AC tapi penuh sesak dan harus rela berdiri.

-         6. Sampai di Terminal Larkin, saya mampir membeli cemilan seharga RM 2 dapat lima biji (ini dipakai buat makan malam secara tidak langsung, karena begitu sampai hostel saya teler dan mager berat) dan sebotol air mineral RM 1,3. TIPS: sebaiknya langsung membeli tiket bus ke Malaka sehari sebelumnya ya, karena Malaka adalah tujuan populer dikhawatirkan tiket bus ludes di jam yang kita inginkan. Harga tiket bus Larkin-Malaka RM 18. Dilanjutkan check in di Alvis Hostel (RM 44 buat berdua) yang berada di belakang terminal persis. Jalan kaki nggak sampai 5 menit.

Alvis Hotel

TOTAL DAY 1 di Johor Bahru: RM 90,8

DAY 2 (MALAKA)

Malaka! 

-          1. Perjalanan Larkin-Malaka membutuhkan waktu sekira 2 jam lebih. Sebelum check out, kami mampir ke Sevel untuk membeli Nasi Lemak RM 4,9 dan Cokelat RM 4,4. Bus dari Terminal Larkin, Johor Bahru akan berhenti di Malaka Sentral (mirip dengan JB sentral gitu). Dari Malaka Sentral bisa naik bus ke Red Square di line 17 seharga RM 1,5.

Christ Church di Malaka

-          2. Semua turis tujuan old building Malaka akan berhenti di depan Muzium Belia Malaka. Di sini, bisa jalan kaki mencari Sayang-Sayang Heritage Hostel di Jonker Street seharga 40 RM buat berdua. Sambil jalan, sambil motret, jangan lupa icip-icip Air Mata Kucing seharga RM 2 untuk meredakan dahaga.

Air mata kucing

Mainan bareng burung merpati

-       3. Dari hostel, kami langsung cari makan siang di Mamee Resto sertifikat Halal MU Malaysia. Sebenarnya, bisa banget kami ke Kedai Chung Hwa, Famossa, dan Hoe Kee Chicken Rice yang direkomenin sama para blogger. Tapi, kami sama-sama khawatir karena yang makan masyarakat sipit semua dan nggak ada tulisan Halalnya gitu. Meski judulnya Chicken Rice Ball, mana tau ayamnya digoreng pakai minyak babi, kan? Saya pesan Hot Curry Laksa Mee RM 8,8 dan Cool Tea RM 2,8.

Curry Lhaksa Mee yang mirip Indomie rasa soto, haha

-        4.  Habis makan kenyang, kami pusing-pusing di kota tua (Christ Church, Benteng A Famosa, St. Paul Hill, Masjid Kampung Kling, dan Dataran Pahlawan) sampai malam berakhir di Jonker Street. Di sini saya beli air mineral RM 3, es krim di benteng A Famossa RM 2, cemilan buah mangga RM 2. Dilanjutkan makan malam di Kopitiam pesan Ayam Asam Manis RM 10 dan Cendol Malaka RM 4.

St. Paul's hill

Ayam asam manis

TOTAL DAY 2 di Malaka: RM 65,4


DAY 3 (MALAKA)
-         1. Hari ketiga saya mulai dengan menyantap Es Cendol (RM 4,25) di Kedai 88 yang cendolnya amat juara! Kalau makan di sini selalu antre dan teteup, kami sama-sama nggak berani untuk makan masakan yang nggak ada tulisan sertifikat halalnya. Minuman di sini banyak ragamnya dibanderol mulai RM 4.
Cendol kedai 88 yang nendang abis

-         2. Habis makan cendol, kami mampir ke museum yang ada di sekitar Red Square. Mulai dari Muzium Umno (perpolitikan), Setem (perangko), Muzium Rakyat (free), Muzium Dunia Melayu, Muzium Islam Malaka, Memorial Kemerdekaan (free), Muzium Budaya, Muzium Senibina Malaysia (free). Nggak semua museum kami masuk. Pilih yang gratis saja, hehe. Tarif masuk museum berkisar dari RM 1-15.

Muzium Kemerdekaan

Masjid Kampung Hulu

    3. Kelaparan, kami masuk ke mal Dataran Pahlawan. Di sini kami mencari Chicken Rice Ball bersertifikat halal *teteup dong! :))* dan menemukan di Kedai Kopitiam Classic. Chicken Rice Ball RM 7,5; Orange Juice Classic RM 4,8 RM; Pajak resto RM 1,9; gula-gula RM 10 dapat 3 biji.

Chicken rice ball

-         4. Bawa bekal air mineral RM 1, kami menunggu bus di Muzium Belia menuju Malaka Sentral RM 2. Bus Malaka Sentral menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur RM 10. Perjalanan selama 3 jam. TIPS: sebaiknya tiket bus dibeli sehari sebelumnya yaa.

Nunggu bus kayak di camp pengungsian :))

-          5. Nah, dari TBS bisa dilanjutkan untuk naik LRT (monorail) RM 3,5 turun Plaza Rakyat (kalau mau ke Petaling Street) lalu jalan kaki 5 menit. Sebelum check in di Ranting Guest House (RM 44 buat berdua), saya makan steam boat kaki lima yang endeuuus parah! Empat tusuk cuma RM 6!

Steam boat

TOTAL DAY 3 di Malaka: RM 72,95

DAY 4 (KUALA LUMPUR)
        1.  Di Kuala Lumpur, beli air mineral RM 2 dan jajanan buat sarapan RM 1 dapat 3 biji.
-          Karena tujuan kami ke Batu Caves, maka kami naik LRT dari Pasar Seni menuju Gombak RM 3,8 dilanjutkan taksi via Uber RM 10 PP Gombak-Batu Caves (sangat bisa naik bus gratis bertulisakan Go Genting ke Batu Caves tapi waktunya tidak bisa diprediksi).

Batu caves

-     2. Dari Gombak menuju Genting dengan naik bus RM 3,4 dan langsung membeli tiket skyway RM 12,8 PP. Cerita serunya di sini yaaa... 

-      3. Sambil menunggu jadwal bus berangkat menuju Genting, kami membeli... Nasi Lemak (iya, ini memang makanan sejuta umat) seharga RM 4 dan kue RM 2 dapat empat biji.

-      4. Nah, dari Genting menuju KL Sentral (terminal besar melayani rute bus ke KLIA/ KLIA2) kami naik bus RM 4,3.

Genting skyway

-       5. Sayangnya, saya nggak naik bus KL Sentral-KLIA2 (RM 11) dengan alasan mengejar pesawat. Karena kalau naik bus estimasi waktu perjalanan bisa sampai 2 jam lebih sudah termasuk macet saat jam pulang kantor. Akhirnya, saya naik MRT seharga RM 55 (lima kali lipatnya harga bus!) yang hanya butuh waktu 33 menit langsung di KLIA2.

MRT

TOTAL DAY 4 di Kuala Lumpur: RM 98,3

Total keseluruhan 98,3 + 72,95 + 65,4 + 90,8 = RM 327,45 x IDR 3300 = 1.080.585

Lumayan murah ya? Makin murah lagi kalau nggak naik MRT dan nggak pakai acara beli sim card, haha.