Sunday, October 23, 2016

Apa Kabar, Jakarta?



Apa kabar, Jakarta?
Aku berharap kamu masih selalu baik
Sama seperti sepuluh tahun lalu
Saat aku kali pertama mengenalmu
Tentang perkenalan yang tiba-tiba

Pagi itu, ayahku menontonmu dari sekotak benda magis
Yang orang menyebutnya televisi
Pagi itu, ibuku memotong berita yang tersiar
Tentang kamu, Jakarta

Ibuku bilang, "Jakarta seperti apa, sih, Yah?"
Ayahku menjawab, "Mau diajak pergi ke Jakarta?"
Aku yang sedang menyapu lantai tertawa mendengarnya
Mau apa memangnya ke Jakarta?

"Ayah serius. Kalau mau, nanti malam kita naik kereta biar besok pagi dijemput Mas,"

Begitulah awalnya aku mengenalmu
Begitu tiba-tiba, bukan?
Begitulah ayahku yang memang kalau kurang kerjaan suka mencari cara agar tampak sibuk

Sepuluh tahun lalu aku mengenalmu, Jakarta
Kota yang disebut sebagai Ibu Kota negaraku
Yang disebut sebagai kota sumpek dan ruwet dengan tata kota berantakan
Ayolah, siapa yang tidak mengenalmu?
Kota yang dianggap sebagai kota penghidupan bagi sebagian penduduk di negeriku
Kota yang belum mampu menjadi pelabuhan hatiku

Setelah itu, setelah sepuluh tahun, aku kembali
Melihatmu dari jauh
Seputar bandara saja
Tempat bertemu dan melepas rasa rindu para perantau
Kala itu, tak kutemukan binar bahagia di matamu, Jakarta
Kamu sudah cukup lelah dengan hidupmu sendiri tampaknya
Begitu memusingkan dengan beragam jenis manusia
Tapi tunggu dulu, bukankah memang begitu esensi hidup bersosial?
Ya, kecuali jika kamu makhluk asosial yang hanya sibuk dengan gadgetmu

Jakarta, kupikir setelah pertemuan itu aku tidak akan menemuimu lagi
Kuharap, sih, begitu
Tapi apa mau dikata?
Tuhan berkehendak lain

Aku masih saja berjumpa denganmu
Yang membawa deru mesin kendaraan bermotor dimana-mana
Di hampir sepanjang hari
24 jam sehari 7 hari seminggu
Tentu saja, sesekali disertai umpatan bajingan dan brengsek di jalanan
Yang keluar dari mulut siapa saja yang berpacu dengan waktu

Tapi kau tahu, Jakarta?
Dengan hiruk pikuk sedemikian rupa kamu masih saja bergeming
Tidak pernah kamu peduli dengan huru-hara golongan berpeci
Golongan yang dianggap menistakan agama
Golongan anak muda high class yang rela makan di tempat mahal demi sebuah kata prestis
Atau golongan rendahan yang hidup di kolong jembatan

Hei, Jakarta, kau tahu?
Usiamu tak lagi muda
Sudah 489 tahun
Ya, meskipun jauh lebih muda dari kotaku yang sudah 723 tahun, sih
Tapi, ayolah Jakarta, kenapa harus diam, sih, jika bersuara bisa lebih bijak dalam menyelesaikan masalah
Kau tahu? Jutaan orang bergantung padamu
Jutaan orang pula masih mengira hidup di tempatmu masih menguntungkan

Lalu kenapa kamu masih diam?
Seperti seorang bujangan yang menunggu mantannya kembali dalam diam?
Kamu lucu!

Ah, sudahlah, Jakarta
Aku mendadak pusing
Tapi lucunya, meski aku pusing memikirkan kamu
Aku masih suka kamu
Suka sama sunrisemu yang merah merona
Sunrise yang bisa kunikmati dari kamarku di lantai sebelas

Jadi, bagaimanapun kamu, Jakarta
Ketahuilah kalau kamu tidak selalu menyebalkan
Masih ada juga sedikit yang membuatku jatuh cinta
Sedikit saja
Selebihnya tidak.

Saturday, October 22, 2016

Mencoba Merasakan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta



Tanggal 9 Agustus lalu Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta resmi dibuka untuk umum. Saya, sebagai warga asli Surabaya, nggak begitu tertarik dengan info tersebut. Alasannya simpel, karena saya nggak tertarik sama Jakarta, hehe. Apalagi, sebulan berikutnya hujan lebat yang mengguyur Jakarta mengakibatkan bandara itu banjir. Sounds weird, how come?



Tapi, awal bulan ini, ternyata saya ditugaskan untuk pergi ke Jakarta selama empat hari. Ternyata juga, pesawat yang saya gunakan adalah pesawat domestik satu-satunya (sementara ini) yang bisa parkir di sana, Garuda Indonesia.



Maka, tertegunlah saya ketika landing dan mendapati bandara ini superbesar dibandingkan bandara lain yang ada di Indonesia--yang pernah saya singgahi.



Meski tulisan under construction masih ada dimana-mana, saya yakin banget, Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta ini bakalan bagus banget kalau udah jadi nanti. Saya jadi ingat apa kabar Terminal 3 (nggak pakai Ultimate) Soekarno Hatta yangmenurut sayajuga cukup megah itu? Saya jadi ingat saat transit 7 jam di Jakarta memilih menghabiskan waktu untuk naik turun shuttle bus keliling terminal 1, 2, dan 3 sambil nenteng backpack kayak orang bego. Untungnya nggak sendirian, jadi begonya bisa tersamarkan :)))).



Saat itu, Terminal 3 (nggak pakai Ultimate) Soekarno Hatta disebut-sebut paling lengkap fasilitasnya (ini banyak disebut bloher-bloher ibu kota yang biasa ngetem dan numpang tidur di sini). Bener juga, nyaman abis dibandingkan dengan terminal 1 dan 2.



But wait, ternyata Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta juga nggak kalah asyik. Lebih gedeee, megah, rapi, komplit, dan enak banget buat dipakai nginep.





Pas baru loading, akan ada mobil lawas nan antik yang akan menyambut penumpang. Masuk sedikit, tiang-tiang (aduh, maafkan, saya nggak ngerti nyebutnya gimana) penyangga gedung didesain miring. Kalau nggak salah baca, tiang miring memberikan kesan megah pada satu bangunan.



Sayangnya, karena bangunan belum selesai, kursi di ruang tunggu check in counter nggak segambreng. Untuk ukuran bandara gede, kursinya kurang jeh. Padahal waktu itu rombongan saya nggak begitu banyak, malah nggak dapet tempat duduk. Tapi nggak masalah, sih, kalau kalian memutuskan untuk check in duluan baru leha-leha di ruang tunggu boarding. Soalnya check in counternya banyaaakkk! Jadi mending langsung check in ajalah, nggak bakal antre lama-lama juga. Di luar sini juga nggak banyak yang jualan makanan.





Oh ya, T3 Ultimate ini juga dipakai maskapai asing tapi nggak semua. Pas itu, saya cuma menemukan Thai Airlines dan SQ.

Masuk ruang boarding, akan ada banyak gate. Lupa gatenya nyampe berapa. Waktu iu saya gate 16, sih. Di sini fasilitasnya lebih lengkap. Ada tempat main buat anak-anak. Kursi tunggu juga banyak. Kursi buat tidur dengan pemandangan apron bandara? Ada juga. Musala juga ada di beberapa tempat. Toilet? Jangan kuatir, dimana-mana banyak. Mau jajan? Banyak banget yang jualan di sini. Tapi karena masih underconstruction, jadi yaa tempatnya beberapa kafe masih seadanya.



So far, senang sih, sama T3 Ultimate ini. Selama nggak mepet dengan jadwal flight, leha-leha di sini asyik juga.



Friday, October 21, 2016

Rainy Season: Love Letter



It's a rainy season. When I smelt petrichor deeper. Like I used to. When I only knew these raindrop, petrichor, and I were playing around in a wet land. I flew away just like an angel brought a fairy's stick. Made a circle by myself freely. Sang a song.

Yes, it's a rainy season. When I felt like butterflies flew and tickled around this tummy. It was like when I wrote and sent you a love letter, to be honest, it came from the deepest of my heart, out of logic. And sometimes, I couldn't stop wondering, what if I can stop the earth circling? What if I can stop my heart beating? Only when I miss you badly.

But the thing is, deep down inside, I remembered you, a boy who knocked my door and kept his smiling on at this season, more than decade a go.

And sure, it's a rainy season and I wrote a love letter sent you through the air.

Wednesday, October 19, 2016

Mengintip Serunya Pameran Buku Big Bad Wolf 2016



"Bin..."

Saya menarik napas dalam-dalam begitu memasuki hall JX International Expo siang tadi. Betapa tidak? Ribuan (atau mungkin ratusan ribu?) judul buku tersusun rapi di hadapan saya. Anjir... saya mengutuk diri sendiri saking terpesonanya dengan tumpukan buku di depan mata.

Gila, ini buku beneran semua. Lutut lemas memastikan kalau saya tidak berada di alam mimpi.



Yep, ini adalah pengalaman pertama saya masuk ke pameran buku Big Bad Wolf yang memang baru kali pertama diadakan di Surabaya. Biasanya, saya ke pameran buku tahunan yang biasa-biasa saja. Nggak seekstrem begini buku-bukunya. Respon saya juga nggak seheboh siang tadi pas curi-curi waktu buat mampir ke pameran.

Saya terpesona, Ya Tuhan... Alay banget, kan?

Jadi, di pameran BBW2016 ini buanyaaak banget buku internasional dan lokal yang dijual dengan harga supermiring. Saya aja nyaris kalap buat belanja. Tapi, karena saya diburu waktu buat kerjaan berikutnya, jadinya yaa cuma sekilas lalu lihat sana-sini.



Di BBW2016 ini buku-bukunya asli semua. Hahaha, ya iyalah, menurut lo? Harga untuk buku internasional juga miring syalala-lala. Mulai dari 30 ribu rupiah sampai 100 ribu rupiah saja. Itu pun yang ratusan ribu jarang banget. Kebanyakan di range 45-70 ribu rupiah saja. Bandingkan kalau belanja di Periplus, mana ada harga buku Eng Sub seharga segitu.

Nggak biasa baca buku Eng Sub? Ada buku lokal dari Mizan yang nggak kalah murah harganya. Mulai dari 5 ribu rupiah sampai 25 ribu rupiah saja. Murah? Biasa aja, sih, buat saya.



Yang saya herankan, kenapa Gram nggak pernah ikut pameran buku kayak gini, sih? Hahaha, ya menurut lo? Perusahaan kapitalis mana yang mau banting harga gila-gilaan walaupun masih dapat margin tipis kecuali kalau cuci gudang? :p

TIPS: karena BBW2016 dibuka dari jam 9 pagi, sebaiknya kalau ke sini pas jam-jam sepi saja. Sekira jam 9-12 gitu. Dijamin sepi! Oh ya, sebaiknya pembayaran dilakukan dengan debet atau kredit ya, karena kasir untuk cash cuma dua biji dan antrenya naudzubillah. Pembayaran cash cuma diterima kalau belanja di bawah 150 ribu rupiah, sih. Sisanya pakai e-money. Benar-benar Gerakan Nasional Non Tunai digalakkan ini.



Meski cuma datang selama 30 menit, saya senang sekali merasakan atmosfer para pecinta buku di sini. Apalagi pas bagian ngeliat eksmud-eksmud pakai baju kerja rapi pilih-pilih buku banyak-banyak. Rasanya pingin gondol satu atau bagian ngeliatin ayah muda rapi jali yang gandeng anaknya buat pilih buku *mimisan*.

Saking serunya pameran ini, saya sampai ternganga melihat pengunjung yang bawa koper buat ngeborong buku. Totalitas tanpa batas beneran.





Well, pameran BBW2016 ini dibuka untuk umum mulai 20-31 Oktober di JX International. Pameran dibuka 24 jam penuh!! Gila, kan? (Kalau hari ini (preview sale) cuma dibuka dari jam 9-15 saja). Untuk masuk sini GRATIS!

Last but not least, kalau capek buat belanja buku, bisa banget jajan makan dan minum di tribun. Soalnya bakal ada CHOCOREETO yang bakal meredakan dahaga kaliaan! CHOCOREETO juga dijual bundling dengan SWIWI GEMOL dengan harga lebih murah. Menarik, kaaan? Buruan ke BBW2016 yaaa biar nggak penasaran! :)))