Tuesday, November 29, 2016

Crystal Bay: Pantai Asyik Buat Nunggu Sunset di Nusa Penida


Gambar diambil dari anomharya.com

Jauh sebelum Nusa Penida booming di Instagram, kali pertama mendengar namanya, hal pertama yang saya bayangkan adalah keelokan tempatnya. Juga bagaimana cara menempuhnya. Lalu, semakin tertarik ketika tiga teman saya bergantian berkunjung ke Nusa Penida dalam waktu yang berdekatan dan mengabarkan keindahan panorama yang ada. Beberapa situs juga menyebutkan kalau Nusa Penida adalah Bali tempo dulu alias masih ndeso banget.

Nusa Penida yang sepi

Owell, sepertinya saya memang harus menyempatkan datang dan melihat keelokan alamnya. Bukan sekadar melihat melalui potret foto. Toh Bali sangat mudah dijangkau dari Surabaya, tempat saya tinggal. Biaya jalan juga masih sangat terjangkau--kecuali kalau bujet jebol gegara belanja ya, itu beda lagi. Maka, saya bersama ketiga teman pun akhirnya pergi juga ke Bali, tepatnya ke Nusa Penida.

Bening...

Nusa Penida memang pulau tersendiri. Lepas dari pulau utama Bali. Otomatis jauh dari ingar bingar pub, resto, dan hotel-hotel mahaagung. Makanya, di sini juga buanyaaaak banget tempat wisata pantai. Salah satu pantai yang paling banyak difavoritkan dan dikunjungi wisatawan adalah Crystal Bay.


Santai emang di pantai

Akses ke Crystal Bay juga paling guampang banget dibandingkan pantai lain yang kami kunjungi. Nggak pakai usaha pasti bakal nyampe, istilahnya gitu. Jarak dari Pelabuhan Nusa Penida (pelabuhan untuk kapal ferry) ke Crystal Bay sekira 12 kilometer. Atau kalau berangkat melalui Pelabuhan Banjar Nyuh II di Ped (pelabuhan untuk fast boat) hanya 9-10 kilometer yang bisa ditempuh 20 menit saja.


Crystal Bay, bhay!

Berdasarkan hasil surfing dan bertanya sana-sini, Crystal Bay enak banget buat nunggu sunset. Suasananya teduh, ombaknya tenang, dan fasilitas di sekitar pantai benar-benar sudah lengkap. Ada banyak pohon kelapa meneduhkan, hammock bertebaran, kursi santai yang disewakan, dan bisa banget mendirikan tenda buat menginap. Bisa dibilang pantai di sini sudah paling siap menerima kunjungan wisatawan.


Menara pandang

Di tempat ini juga memiliki fasilitas pengelolaan snorkling dan diving karena air lautnya jernih banget. Harga yang ditawarkan juga nggak mahal. Untuk sewa snorkle persetnya dibanderol 40 ribu rupiah sedangkan untuk sewa kapal dengan tiga spot snorkling dipasang mulai harga 500 ribu rupiah, tergantung kelihaian kalian dalam menawar. Sementara untuk diving, beda lagi. Minimal perpax kabarnya mulai satu juta rupiah untuk beberapa spot.


Selow

Kami datang ke Crystal Bay Sabtu sore pukul empat berniat mengabadikan sunset lebih awal. Selain juga untuk leha-leha di pasir putih. Selain di Pantai Atuh, kami baru menemukan pantai yang berpasir hanya di Crystal Bay. Sebab selebihnya wisata pantai yang ada hanya bisa dinikmati dari ketinggian dengan perasaan ngeri-ngeri sedap.


Masih diminati

Dengan niat begitu menggebu, kami memasuki Crystal Bay dengan seribu tanya. Kok pantainya begini? Kok pantainya nggak kayak yang difoto temen? Kok banyak sampah dan beberapa bagian pantai gosong? Kok pantai nggak meneduhkan sama sekali? Kok pantainya sepi?


Ngeri

Seribu tanya itu terjawab setelah kami nongkrong di salah satu bangunan warung ala kadarnya. Bu Gusti, pemilik warung, menceritakan kalau kawasan Crystal Bay baru saja dibakar. Sengaja dibakar oleh pemerintah untuk dikomersilkan, dibangun dengan resto dan villa. Kejadian juga akhirnya, kan... uang dan kekuasaan berbicara. Pohon dan bangunan-bangunan teduh di Crystal Bay sudah tak ada lagi. Menyisakan rongsokan bangunan kotor tak sedap dipandang. Tidak ada lagi toilet umum, tidak ada lagi warung teduh, tidak ada lagi penjaja sewa snorkle dengan tempat layak, dan tak ada lagi yang menginap di tenda. Semuanya tampak kumuh. Kasihan, kan...


Gusuran

Tapi, di balik semua itu, sunset di Crystal Bay tetap memukau. Dua jam kami duduk di pasir pantai sambil memandang bocah-bocah bermain air. Yang beginian nggak bakal saya temukan di Surabaya dan yang selalu dirindukan setiap mau berlibur. Tenang menentramkan.


Tapi sunsetnya tetap syahdu

No matter, fakta menyedihkan di depan mata para pedagang, Crystal Bay nyatanya masih dikunjungi beberapa orang. Pengunjung masih tetap antusias menunggu sunset. Bisa dengan leyeh-leyeh di pasir. Bisa juga menaiki ratusan anak tangga di sebelah barat untuk mengabadikan sunset lengkap dengan lengkungan pantai. Kalau saya, sudah mager di pasir kriyep-kriyep kena angin. Bawaannya pingin bobo cantik saja.


Masih ramai, kan?

Crystal Bay, mungkin akan lebih cantik setahun-dua mendatang. Biaya parkir juga mungkin nggak cuma dua sampai lima ribu, karena semakin komersil. Tetapi cantiknya Crystal Bay, nggak ada salahnya juga diabadikan. Ya nggak?


Mau ke sini?

Monday, November 28, 2016

Apa Kabar Pasar Seni Sukawati Bali?



 Pasar Seni Sukawati 
Siapapun, yang pernah sekolah, barangkali pernah merasakan liburan perpisahan ke Pulau Dewata, Bali. Saya adalah salah satunya.

Hingga perpisahan bangku SMA, saya sudah ke Bali sekira tiga kali. Ketiganya saya mencicip bagaimana rasanya masuk ke Pasar Seni Sukawati. Pasar seni yang menjual buanyak banget barang kesenian Bali. Lukisan, ukiran, gantungan, wewangian, baju, kain, aksesoris, pensil kayu dengan bentuk unik, gantungan kunci bentuk papan selancar, sampai cemilan.

 

Belanja di mari

Saya selalu suka setiap mampir ke sana. Karena saya menikmati proses jual beli dan tawar menawar, yang bagi saya, kalau dapat harga rendah bangeeet adalah suatu kebanggan. Kasian? Sedikit dan kadang-kadang. Toh, mereka jual bertahun-tahun juga masih survive, berarti mereka tetap untung walaupun marginnya tipis. Lagian, bukankah menawar adalah termasuk seni? *pembeli tega dan nggak tau diri :))*

Sepi 

Nah, kemarin saya baru saja mampir ke Sukawati setelah balik dari Nusa Penida. Iseng-iseng, sih, sebenarnya, karena nggak ada niat sama sekali buat belanja. Tapi, kan, saya cewek, naluri cewek kebanyakan mesti belanja tiap masuk pasar. Apalagi pasar yang nggak tiap tahun bisa dikunjungi. Ya, kan?

Iya.


Warna-warni baju
Sepintas lalu saya mencermati Pasar Sukawati ini. Masih tetap sama dengan tahun 2007 lalu, saat saya baru lulus SMA. Bangunannya masih tradisional dengan pedagang banyak berjajar dan bergerombol di parkiran menawarkan dagangan. Ya ampun, nggak ada yang berbeda sama sekali.

Barangkali yang berbeda hanya satu; kok Sukawati sekarang sepi? Padahal hari itu weekend. Bahkan untuk memilih dagangan pun nggak ada ceritanya penuh sesak dan bau keringat. Sepi parah.

Saya bahkan beberapa kali melihat pedagang menawarkan dagangan dengan harga sangat miring. Misalnya lukisan yang dijual seharga 50ribu saja. Padahal lukisannya baguuus banget. Kasihan...


Lukisan murah meriah
Meski begitu, bertahun-tahun nggak pernah mampir, Sukawati ternyata masih tetap mau menerima pembeli rewel dan tukang nawar yang nggak kira-kira macam saya ini. Masih sangat menarik. Dan masih berpotensi bikin kantong saya jebol. HIH!

Jadi, prinsip dasar menawar, sebenarnya mudah banget. Dibagi aja separuhnya. Kalau enggak, yaa tinggalin. Yang jual, kan, nggak cuma satu orang, hehe.




Tenun Endek muraaah
Tapi, melihat Sukawati, kadang saya jadi skeptis, apakah pasar kece yang tiap saat dipenuhi wewangian dupa yang menguar ini juga akan diobrak-abrik lalu direnov menjadi lebih modern? Selayaknya pasar-pasar kuno yang pernah ada. Pasar Klewer Solo, Pasar Turi Surabaya, Pasar Wonokromo, dan pasar lain.

Waaah, semoga enggaklaaah. Karena bagaimanapun, Pasar Seni Sukawati di Bali ini begitu iconic, terkenal dengan barang-barang murah dan kualitas yang lumayan bagus. Meskipun juga ada pasar lain yang menjual produk serupa, seperti Pasar Guwang.

Di pikiran banyak orang, Bali identik dengan Sukawati. kalau ke Bali pingin belanja, yaaa ke Sukawati. Kalau mau dapet barang murah, yaaa main-main ke Pasar Sukawati. Ya, kaaan?

Penuuuh

Friday, November 25, 2016

Pengalaman Menginap di Bandara Ngurah Rai Bali



"Kita nginap bandara ya? Dua malam. Malam kedatangan dan malam sebelum keberangkatan,"

Sebenarnya, sudah lama sekali saya pengen tidur bandara. Sekadar ingin menikmati sensasinya. Cuma baru kali ini kesampaian. Ternyata, seru juga tidur bandara :))

Ceritanya, saya dan ketiga teman akan pergi ke Nusa Penida. Nah, biar hemat waktu, kami memutuskan untuk menginap di Bandara Ngurah Rai Bali agar bisa sampai tujuan pagi-pagi dan eksplor lebih lama.



Pesawat keberangkatan SUB-DPS pukul 19.45 WIB tapi landing sekira 21.30 WITA. Molor 30 menitan gitu. Tapi bagi saya, semakin lama molor berarti waktu menunggu pagi semakin sempit. Baguslah.

Makin bagus lagi setelah landing kami nggak langsung keluar. Tapi masih foto-foto konyol berlatar tulisan selamat datang di Bali.

YAELAH! Padahal cuma Bali yang sudah dikunjungi berkuali-kuali, ini masih mejeng dan foto-foto di depannya. Biarinlah, kapan lagi foto sambil nenteng helm pascaturun bandara #lmao



Sambil menunggu Mbak Uphe yang berangkat dari Jogja, tujuan selepas landing adalah makan malam. Apa kabar perut bergelambir?

Masih tetap baik-baik saja~~~



Bandara Ngurah Rai semakin malam ternyata makin ramai. Paling tidak, saat kami nongkrong cantik sampai jam 01.00 WITA di Burger King, masih ada rombongan yang baru landing--plus bawa bendera negara kayak di luar negeri gitu #haha

Makin lama bandara memang makin sepi. Tenant-tenant banyak yang sudah tutup. Mata kami pun perlahan mengeluarkan air mata. Ngantuk, Beb.





Kami bergegas menuju musala--yang sebelumnya sudah disurvey bahwa layak untuk dijadikan tempat menginap. Tapi sebenarnya, kalau pun tidak boleh tidur musala, masih bisa banget tidur di kursi luar bandara. Toh, hanya tidur beberapa jam, jadi jangan manja #lol



Atau, kalau kalian nggak mau tidur di kursi luar bandara, bisa banget tidur di kursinya Alfamart/ Indomart. Yaa, yang penting beli sikik-sikiklah. Mereka buka 24 jam penuh. Bisa juga numpang ngecharge di sini.





Tapi ternyata, yang tidur di musala lumayan banyak juga loh. Jadi, nggak perlu khawatir kalau takut diusir diminta pindah. Yang penting jaga barang bawaan kalian. Sambil tidur sambil peluk tas berisi barang berharga.





Oh ya, nggak perlu khawatir juga kalau mau ke toilet, karena toilet buka 24 jam. Di beberapa bandara yang saya tahu, toilet kadang dikunci kalau sudah masuk penerbangan paling akhir. Kalau di Ngurah Rai enggak. Sayangnya, di sini nggak ada shower room kayak di Juanda, Hasanuddin, atau Soekarno Hatta. Jadi kalau bangun tidur cuma bisa wudu, cuci muka, gosok gigi, dan buang air.





Tapi kata petugas kebersihan, kalau mau mandi, bisa di belakang Circle-K asal datang pagi-pagi. Jadi masih bisa mandi tanpa kucing-kucingan karena sepi.

Kenyataannya, kami tetap pada pendirian. Nggak mandi #lol.

Pada akhirnya, Bandara Ngurah Rai enak juga dipakai buat menginap. Wifinya juga kencang semena-mena. Nggak kayak wifi bandara di kota saya--yang bilangnya gratis tapi luwemotnya Subhanallah.

Jadi, mau menginap di Bandara Ngurah Rai? :))))

Tuesday, November 22, 2016

Menengok Alas Purwo, Taman Nasional Tertua di Pulau Jawa

Selamat datang di TN Alas Purwo

“Kalau kamu ke Alas Purwo, siap-siap aja dibikin nyasar. Jalannya mbingungi. Katanya, makhluk halus yang bikin jalan kedatangan kita tertutup,”

Banyak yang bilang Taman Nasional Alas Purwo begitu memikat. Tapi nggak sedikit juga yang bilang, taman nasional paling ujung dan paling awal di tanah Jawa ini begitu mematikan. Alasannya, di sini, di zaman yang sudah modern ini, Alas Purwo masih menyimpan kerajaan yang hanya orang-orang tertentu tahu keberadaannya. Tentunya, ini bukan sembarang kerajaan. Tapi kerajaan makhluk halus.

Tengkorak banteng dan rusa

Mendengar ceritanya saja sudah bikin merinding. Saya nggak pernah suka sama tempat yang bernuansa mistis begini, haha. Itulah kenapa, saya nggak mau ikut pelatihan penelitian ke sini pas zaman kuliah dulu. Cukup di Taman Nasional Baluran saja *then call me biolog cupu:D*

Tapi pada akhirnya, saya ke sini juga. Dalam rangka jalan-jalan. Hahaha, saya nggak pernah setuju dengan istilah masuk taman nasional untuk jalan-jalan. Apa faedahnya coba? Nggak ada, selain foto-foto :))).

Tegakan pohon di TN Alas Purwo

TN Alas Purwo memiliki luas 43 ribu hektar, atau hampir dua kali lipatnya TN Baluran. Luasan yang berbeda menjadikan TN Alas Purwo memiliki keragaman tanaman dan satwa yang lebih banyak. Saat ke sana, saya sempat bertemu dengan kawanan merak, banteng, rusa, dan primata jenis Macaca. Panas yang menyengat membuat saya lebih nyaman untuk leha-leha di feeding ground yang banyak dihuni oleh kawanan banteng dan rusa. Pemandangannya juga lebih enak dinikmati karena kesan angker seketika menguap.

Feeding ground 

Merak malu-malu

Saat ini, TN Alas Purwo dibuka untuk umum dengan tiket masuk sekira 12.500 rupiah perorang, if I’m not in mistaken, ya. Pengunjung yang datang ke mari nggak hanya bertujuan untuk meneliti, tapi benar-benar untuk berlibur. Apa sebab? Karena kawasan ini juga dikelilingi pantai yang juga menarik untuk dikunjungi.

Katakan saja G-Land atau Pantai Plengkung, surganya surfing bagi para surfer. Di bulan tertentu, pantai G-land dijadikan untuk perlombaan surfing internasional. Nggak Cuma G-land, ada juga Pantai Triangulasi dan Pantai Pancur yang letaknya lebih dekat dengan TN Alas Purwo.

Pantai Triangulasi

Memasuki TN Alas Purwo, di pertigaan jalan, kalian akan bertemu dengan pura tertua di tanah Jawa. Namanya, Pura Giri Saloka. Berdasarkan cerita Pak Djarot dan Pak Eka, pemandu sekaligus sopir yang menemani kami berkeliling Banyuwangi, bertapa dan beribadah di sini, menghadirkan ketenangan tersendiri. Nggak heran, pura ini masih banyak didatangi oleh umat Hindu dari penjuru wilayah. Pura tertua ini dikeramatkan dan dianggap sakral di antara pura lain yang ada di tanah Jawa.

Pura Giri Saloka

Namanya juga hutan tertua di tanah Jawa, nggak heran kalau nuansa mistis masih sangat kental terasa. Ternyata, sampai saat ini, Alas Purwo juga masih digunakan bagi sebagian besar orang untuk bertapa, bersemedi, dan menenangkan diri mencari pesugihan atau pun ilmu hitam. Jika kalian mampir makan di warung yang ada di tengah hutan, coba berbincanglah dengan satu-dua orang yang ditemui. Tanyakan, sudah berapa lama menetap di dalam hutan dan ngapain aja.

Salah satu orang yang berbincang dengan saya adalah warga Surabaya yang rumahnya tak jauh dengan tempat saya tinggal. Perawakannya kurus, ceking, tinggi, dengan rambut gondrong, dan gigi tak lagi utuh. Dia tinggal di Alas Purwo selama 13 tahun. Ketika saya tanya kabar keluarga dan bagaimana dia menghidupi diri sendiri, jawabnya: semua urusan Tuhan.

Wenaaaak! Woles sekali jawabnya~~~

Giri Saloka bagian dalam

Percaya atau enggak, beberapa orang yang saya ajak ngobrol juga kebanyakan menjawab begitu, mencari ketenangan karena di rumah sumpek, sesak, dan banyak pikiran. Yaa, apapun kepercayaan mereka, mari dihormati. Hanya saja, yang bikin saya terpukau, 13 tahun tanpa hiburan gitu kok bisa-bisanya betah? Nggak ada mal, karaoke, dan bioskop! :))) *plak*

Aku syuka di sini, birunya aduhai~

Jadi gimana, kalian tertarik nggak dengan TN Alas Purwo? Lumayan menarik, kan, meskipun sekarang sedikit beralih fungsi. Yang penting, jangan buang sembarangan, jangan bicara ngawur, dan jaga sikap. Karena siapa tahu, yang punya wilayah merasa terganggu........ *kok jadi mistis :)))*

Ditunggu di Alas Purwo, Kak!

Friday, November 18, 2016

Pulau Ora Maluku yang Memesona Semua Mata

Indonesia kaya akan sumber daya alam yang sangat indah. Kealamian dan keunikan yang hanya dimiliki Indonesia merupakan nilai jual wisata terbaik. Terutama di bagian timur Indonesia, di mana kemajuan teknologi dan pesatnya pembangunan belum sepenuhnya menyentuh daerah ini. Keindahan yang hanya dinikmati oleh penduduk setempat dan wisatawan yang sebagian besar berasal dari mancanegara.

Salah satu rekomendasi wisata yang patut disambangi adalah Pantai Ora yang berada di Pulau Seram bagian utara, Maluku Tengah. Pantai yang kini semakin hits merupakan pantai yang masih alami dengan resor-resor unik dan tentu saja jauh dari perkembangan teknologi. Di tempat ini kamu akan merasakan istirahat yang sebenarnya dari hiruk pikuk kota besar.


Photoright: mediatamabinarekreasi.com


Sebagai daerah yang terletak di bagian timur Indonesia, perjalanan menuju pulau eksotik ini harus ditempuh dengan pesawat terbang. Sriwijaya Air merupakan salah satu maskapai yang memiliki rute penerbangan ke Maluku Tengah. Kamu bisa melakukan pemesanan tiket Sriwijaya Air online dengan menggunakan aplikasi online travel agent di smartphonemu.

Penerbangan hanya sampai Bandara Pattimura Ambon yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan laut selama 1,5 jam dari Pelabuhan Ambon ke Pelabuhan Waipirit Pulau Seram. Pantai Ora sendiri terletak di Desa Saleman Kecamatan Seram Utara. Kecantikan Pantai Ora telah setingkat pantai-pantai yang menjadi pariwisata kelas dunia seperti Maldives.

Aktivitas yang bisa kamu lakukan selama berada di Pulau Ora.

Island Hoping adalah kegiatan yang biasa dilakukan di tempat wisata yang bersifat kepulauan. Seperti halnya Pulau Seram yang juga mempunyai beberapa pulau kecil di sekitarnya. Dengan menyewa kapal, kamu akan diajak untuk berkeliling Pulau Seram sembari mengamati pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni.

Salah satu pulau yang bisa kamu singgahi adalah Pulau Tujuh yang berpasir putih dan cocok untuk arena snorkeling karena memiliki alam bawah laut yang masih alami dengan ikan-ikan hias berwarna-warni.

Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan snorkeling di Pantai Ora, karena dengan mata telanjang  kamu bisa menyaksikan keindahan terumbu karang dari atas sampan. Jernihnya air dan bebas sampah membuat siapapun senang berenang di sini. Kamu seperti melihat lukisan air dengan ikan-ikan hidup yang berenang di antara terumbu karang.

Hal ini bisa kamu lakukan bahkan di depan pintu resormu sendiri, karena resor di Pantai Ora didesain mengapung di atas laut. Menarik bukan? Berenang di laut yang berada di depan pintu kamarmu. Hanya dengan menyelam tidak lebih dari 3 meter kamu bisa menikmati keindahan ini.


Photoright: marischkaprudenc.blogspot.com

 Mengelilingi Taman Nasional Manusela
Pulau Seram adalah habitat bagi burung dan tanaman langka. Bahkan satu spesies burung bernama Lusiala yang biasa bergerombol di dalam gua, akan terbang dalam jumlah ribuan menjelang malam yang membentuk gugusan naga. Belum ada penelitian tujuan burung-burung tersebut karena menjelang pagi, mereka kembali lagi ke dalam gua tempat mereka bersarang.

Untuk mengelilingi taman ini kamu bisa menggunakan kapal motor maupun kapal nelayan. Taman ini menjadi latar beberapa resor sehingga kontras antara hutan dan laut di depannya. Biasanya kegiatan dilakukan di pagi hari di mana kita bisa mendengar kicau burung di kejauhan.

Forest Tracking
Kegiatan ini menjadi variasi yang menyenangkan selama berada di Pantai Ora. Hutan ini berada di Dusun Masihulan di mana di dalamnya terdapat penangkaran burung Kakatua dan burung Nuri yang merupakan spesies asli Maluku.

Selain menikmati keindahan hutan yang masih alami, kamu juga akan disuguhi keindahan air terjun dan gua yang berada di tengah hutan. Oleh penduduk setempat, dibuatkan sebuah pondok yang biasa dijadikan tempat beristirahat wisatawan yang melakukan tracking. Sebuah harmonisasi antara wisata dan penduduk setempat sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan alam dan penduduk tidak kehilangan kealamian desa mereka.


Photoright: jiontravel.com


Photoright: blog.hi-indonesia.com

Melihat anak-anak berenang tanpa ban pengaman, menikmati suasana pagi dan senja di tempat terpencil, mencicipi hidangan ikan laut yang langsung diambil dari laut menjadi hal yang tidak bisa digambarkan selama berada di sini. Semua ini merupakan gambaran lengkap yang ditampilkan oleh tempat wisata Pantai Ora di Maluku Tengah yang tetap menjaga kealamiannya. 


Friday, November 4, 2016

Melihat Lebih Dekat Rumah Tongkonan di Tana Toraja

Tongkonan di Kete Kesu

Pergi ke Makassar rasanya kurang afdhol kalau nggak mampir ke Tana Toraja. Jaraknya memang terhitung jauh dari pusat kota Makassar, tapi provinsinya masih sama, Sulawesi Selatan. Hanya saja, Tana Toraja berada di ujung utara Sulsel sementara Makassar ada di tengah-tengah.

How to get there?

Untuk mencapai Tana Toraja bisa ditempuh dengan dua jenis kendaraan. Satu, dengan menggunakan bus ekskutif seharga 200-250 ribu rupiah sekali perjalanan. Yang kedua, bisa menggunakan mobil carteran dengan biaya yang tentu saja lebih murah. Lama waktu perjalanan dari Makassar ke Tana Toraja sekitar delapan jam. Makanya, saya sarankan untuk mengambil perjalanan pada malam hari biar bisa tidur nyenyak. Sebab, sesampainya di Tana Toraja atau sebaliknya tubuh dalam keadaan segar bugar.

What to do in Tana Toraja?

Tongkonan di Desa Sa'dan Malimbong, Toraja Utara

Apa yang membuat kalian tertarik ketika mendengar Tana Toraja disebut? Kalau saya, jelas rumah tongkonannya. Berdasarkan buku dan artikel yang pernah saya baca, ada banyak sekali ragam unik hadir dari sebuah rumah tongkonan. Mulai dari sejarah hingga bagaimana konflik adat yang bisa bermula dari sebuah rumah.

Maka wajibkanlah mampir ke Desa Sa’dan Malimbong di Toraja Utara (HTM: IDR 6K/ orang) untuk melihat lebih dekat bagaimana rupa rumah tongkonan. Coba hitung ada berapa tanduk kerbau yang terpajang di depan tiap rumah. Semakin banyak tanduk kerbau terpasang berarti keluarga tersebut sering menggelar ritual adat dan cukup terpandang. Karena jumlah tanduk kerbau menggambarkan kekayaan satu keluarga.

Tongkonan adalah rumah adat Suku Toraja

Ukiran kayu pada rumah tongkonan

Kerbau sangat dihormati oleh masyarakat Tana Toraja. Itulah mengapa saat kelahiran, pernikahan, dan kematian, masing-masing keluarga seperti mewajibkan diri untuk menyembelih kerbau dan babi. Bahkan, adat membuat masyarakat setempat memilih untuk menunda suatu perayaan jika belum memiliki cukup uang untuk membeli kerbau. Kenapa kerbau? Karena kerbau dianggap sebagai hewan suci yang bisa mengantarkan arwah ke puya—alam arwah. Semakin banyak kerbau yang disembelih, semakin cepat arwah sampai.

Tanduk kerbau lambang kehormatan keluarga

Di antara perayaan itu, yang paling menarik tentu saja saat ritual pemakaman jenazah. Nggak heran jika ritual pemakaman Suku Toraja seringkali dijadikan ajang promosi wisata budaya pemerintah setempat. Suku Toraja masih memertahankan adat memakamkan jenazah dengan hanya diletakkan pada goa, tebing, pepohonan, atau makam berukir. Semakin tinggi jenazah diletakkan—misalnya pada percabangan pohon—semakin tinggi pula derajat dari jenazah itu. Misalnya, dari kaum bangsawan. Perkuburan yang tinggi konon membantu arwah untuk sampai lebih cepat ke puya.

Menuju puya

Perkuburan di atas tebing

Dari Desa Sa’dan di Toraja Utara, kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Kete Kesu (HTM: IDR 10K/ orang) yang letaknya tidak begitu jauh. Kete Kesu adalah sebuah perkuburan bagi suku Toraja. Perkuburan yang dimaksud adalah sebuah goa dengan sejumlah tulang belulang di dinding atau lubang-lubang goa. Tulang belulang itu sudah tidak bisa dikenali—atau mungkin hanya keluarga saja yang tahu. Tapi, penduduk setempat bilang, kalau tulang belulang menunjukkan jenazah yang meninggal sudah berumur ratusan tahun.

Peti-peti jenazah kaum 'biasa'

Tengkorak berusia ratusan tahun

Bagi keluarga berada atau yang sangat kaya raya, jenazah bukan hanya diletakkan pada tempat yang tinggi, bisa jadi diletakkan pada makam berukir. Di luar makam disertai dengan tau-tau atau patung kayu yang dibuat mirip dengan almarhum semasa hidup.

Tau-tau

Selain Kete Kesu, perkuburan serupa juga ada di Londa. Silakan mampir ke salah satu di antaranya. Oh ya, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh berupa kain tenun khas Toraja yang dijual oleh para perajin. Jika dibandingkan dengan harga di pasar, harga di pasar memang lebih murah, sih, hehe. Ada juga batik dengan ukiran khas Tana Toraja. Tapi tahukah kalian, kalau ternyata batik tersebut diambil dari Surabaya karena di Toraja tidak ada industri batik printing.

Tenun khas Toraja

Nenek Panggau, penenun iconic di Desa Sa'dan

Halal Food

Sepanjang perjalanan di Toraja, saya jarang menemukan makanan halal. Wajar, karena di sana mayoritas penduduknya beragam Kristen. Tapi bukan berarti tidak ada makanan halal sama sekali. Karena ada beberapa katering muslim rumahan yang jelas menyediakan menu halal. Semalam di Toraja, saya mencicip makanan Dangkot, daging bebek yang dikukus lalu digoreng dengan bumbu pedas sampai kering. Rasanya? ENAK GILA!

Dangkot yang nggak representatif, haha

Tempat wisata di Toraja nggak cuma itu aja. Ada beberapa destinasi lain seperti Gunung Singki’, Patung Yesus yang mirip di Brazil, Air Terjun Sarambu Assing, Bori Parinding, Batutumonga, dan rangaian festival adat yang rutin digelar setiap tahunnya.


Nah, gimana? Tertarik buat ke Tana Toraja? Selamat berakhir pekan!

We're happy yet crazy :))