Saturday, April 29, 2017

Bukit Daun: Hotel Murah di Kaki Gunung Kelud



Berniat berlibur ke Kediri? Bisa banget buat menginap di Bukit Daun Hotel. Jaraknya tak jauh dari Terminal Kediri.

Dua minggu lalu saya menginap semalam di sini. Mencoba bagaimana rasanya menginap di hotel semiresor yang cukup nyaman.



Dari awal saya sudah jatuh cinta sama bangunan hotel ini. Unik, sih. Memasuki lobby hotel, kekayuan akan menyapa pengunjung. Dekorasi yang unik membuat saya langsung jatuh hati.





Nggak ada tempat parkir khusus jika ingin menginap di sini. Karena mobil bisa diparkir persis di depan kamar yang disewa. Nuansa alam begitu kental terasa saat pertama kali masuk ke tempat ini. Banyak dedaunan di sekitar kamar membuat sejauh mata memandang serbahijau.



Bangunan hotel bisa dikatakan cukup luas. Karena luas dan nggak hapal jenis kamar, makanya cukup membingungkan. Bingung naik-turun-jalan-lari nyari kamar yang cukup berjauhan.



Begitu dapat kunci kamar, saya langsung cek kira-kira sebagus apa isinya. Tapi ternyata kamarnya cukup kuno dilihat dari perabot yang ada. Nggak ada wifi, nggak ada tempat tisu, kasurnya berjauhan buat tipe single bed, dan AC nya nggak dingin. Jeng jeng jeng.





Tapi nggak apa. Yang penting kolam renangnya bagus dan lucu. Pagi hari, selepas bangun tidur, kalian bisa jalan-jalan keliling hotel yang asik banget. Lalu dilanjut dengan renang.





Habis renang bisa langsung sarapan. Naaah, di tempat makan ini saya juga jatuh cinta. Selain masakannya enak, dekorasi serbakayu membuat perasaan nyaman. Yang paling asik, aliran sungai tepat di sebelah restoran menambah nuansa alami hotel ini.







Puas jalan pagi, renang, sarapan, kalian bisa lanjut check out buat jalan-jalan ke Gunung Kelud. Jarak dari Bukit Daun ke Gunung Kelud cukup dekat. Bisa ditempuh selama 45-60 menit perjalanan menggunakan mobil.





Di Gunung Kelud, kalian bisa makan-makan, foto-foto, atau cuma duduk-duduk hore seperti yang saya lakukan. Di sana jangan lupa buat jajan Nanas asli Kelud yang enak banget. Manis dan segar, murah pula. Gimana? Tertarik buat main-main ke Kediri?



Friday, April 28, 2017

Tips dan Trik Jalan Seharian dari Surabaya ke Semarang



Mainstream. Coba kalian gugling dengan keyword one day trip ke Semarang, jalan-jalan sehari di Semarang, and so on pasti banyak banget artikel yang kasih ide buat ngapain dan bisa ke mana saja. Tapi, secara khusus di sini saya tuliskan cara ke Semarang dari Surabaya menggunakan kereta api. Seperti yang saya lakukan minggu lalu.

Untuk pemberangkatan, kalian bisa pakai kereta api ekonomi Surabaya-Semarang Maharani seharga 49 ribu rupiah. Waktu tempuh kereta sekira 4,5 jam saja dengan jadwal keberangkatan jam 6 pagi dari Stasiun Pasar Turi. Pilih stasiun pemberhentian di Stasiun Tawang.

1. Old City



Sampai di Stasiun Tawang pukul 10.25 kamu bisa jalan kaki ke Old City atau Kota Lama. Jaraknya cuma satu kilometer saja. Jalan kaki jadi pilihan paling reasonable buat saya karena naik angkot atau naik becak dengan jarak cuma sekilo itu sayang banget. Masa baru duduk udah nyampe. Tapi, kalau kalian capek, ya bolehlah naik becak dari Tawang terus minta diantar keliling Old City. Tarifnya seikhlas dan sepantasnya. Nah, karena saya jalan kaki, bisa bebas mau ke mana saja jika sewaktu-waktu berhenti. Saya mampir makan dulu sebelum eksplor Kota Lama.





Gedung Marba adalah gedung pertama paling menonjol begitu tiba di kawasan Kota Lama. Letaknya tepat di depan Taman Srigunting dan GPIB Immanuel atau populer disebut Gereja Blenduk karena kubahnya mblenduk atau menggelembung. Hampir seluruh bangunan di tempat Kawasan ini sekilas mirip Melaka, Malaysia.



Pasar Padang Rani yang beseberangan dengan Taman Srigunting bisa menjadi jujukan buat kalian pecinta barang kuno. Sambil jalan kaki, bisa sekalian jepret-jepret. Ada banyak banget spot foto menarik yang bisa kalian abadikan. Terlebih kalau kalian adalah pecinta vintage pasti bakal berlama-lama di sini.





2. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)



Karena sudah masuk waktu zuhur maka tujuan dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah yang hits. Jarak Kota Lama ke MAJT cuma 3,6 kilometer saja. Saya dan suami sempat berniat lanjut jalan kaki, tapi karena saya mendadak kurang enak badan, maka dialihkan dengan naik UberX. Mumpung masih promo cuy *mental gratisan*



Bangunan MAJT ini konon mirip dengan Masjid Nabawi (doakan saya segera ke sana) karena punya payung yang bisa terbuka dan tertutup. Sayangnya payung hanya bisa terbuka di hari Jumat. Sejatinya bangunan inti masjid bagi saya kurang luas, bersih, dan rapi. Air kran suka tiba-tiba mati dan yang bikin saya krik-krik adalah kesucian di toilet tidak dijaga. Ini masalah buat orang yang gampang mamang seperti saya.



Di dalam masjid sedang ada renovasi yang membuat masjid tampak lebih sempit. Di sini juga ada al-quran raksasa yang dibuat selama 2 tahun 3 bulan.



Jarang ada angkot dari dan ke MAJT. Makanya begitu selesai salat, kami tidak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan angkot. Tapi, UberX yang kami banggakan karena ngasih promo, ditunggu hampir sejam nggak nongol juga padahal udah dipickup. Maka, jadilah saya pakai penyelamat umat masa kini: Go-Jek yang memang keliaran dimana-mana.



3. Sam Poo Kong



Sehabis salat di MAJT, kalian bisa makan siang di warung sekitar masjid sambil melepas lelah dan dahaga saking teriknya cuaca Semarang. Setelah itu baru dilanjut ke Sam Poo Kong dengan Go-Jek. Tarif Go-Jek dari MAJT ke Sam Poo Kong 15 ribu rupiah dengan waktu tempuh 30 menit.



Ada dua pilihan tiket kalau mau ke Sam Poo Kong. Tiket terusan dengan klenteng di dalam seharga 28 ribu atau tiket sekali masuk hanya 8 ribu rupiah. Begitu memasuki klenteng, aroma pecinan kental terasa (menurutmu?). Pertunjukan barongsai di tengah hujan menyambut kedatangan saya sore itu. Hujan begitu Sam Poo Kong tetap ramai.



Patung laksamana Cheng Hoo tampak menonjol di bagian tepi klenteng. Itulah kenapa di bagian sini lebih dipadati pengunjung. Nggak cuma patung Cheng Hoo yang dipajang, ada juga patung dewa dan laksamana perang lain dipajang di tepian sebuah hall klenteng. Sam Poo Kong tutup jam 17 sore.



4. Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong



Jaraknya cukup jauh dari pusat kota Semarang. Sekira 45 menit perjalanan ke arah Ungaran. Kami memutuskan untuk naik UberX untuk pergi ke sana. Ingat promo untung ada yang pick up.

Suasana di sekitar pagoda segar dan dingin. Wajar karena Watugong merupakan daerah Semarang atas. Nama Watugong diambil karena ada watu (batu) yang menyerupai gong. Sejak saat itu daerah di sekitar pagoda dinamakan Watugong. Batu ini dipajang di pintu masuk pagoda.



Tidak ada biaya masuk ke pagoda setinggi 45 meter ini. Tapi berilah seikhlasnya untuk petugas sekuriti setempat.

Memasuki wilayah pagoda yang disebut sebagai pagoda tertinggi di Indonesia ini, kalian bisa menemukan patung Dewi Kwan Im yang cukup besar. Umat Budha yang berwisata ke sini pasti menyempatkan untuk sembayang. Di sisi lain juga ada patung Budha tidur yang ukurannya tak cukup besar. Nah, di dekat patung Budha tidur itulah rencananya akan dibangun Patung Dewi Kwan Im raksasa. Pagoda Buddhagaya tutup jam 17 sore.



5. Lawang Sewu



Puas menjelajah di pagoda, kalian bisa melanjutkan petualangan ke Lawang Sewu. Jalanan dari Pagoda Buddhagaya ke Lawang Sewu macet karena ada pembangunan underpass. Tapi tak sampai 1 jam perjalanan kami tiba di Lawang Sewu. Lawang Sewu buka mulai pukul 7.00-21.00 dengan biaya 10 ribu rupiah.



Hari sudah setengah gelap begitu kami tiba di sana. Menjelang Maghrib Lawang Sewu tetap dipadati pengunjung. Padahal nuansa mistisnya kian terasa. Lampu kuning di sepanjang ruangan memberikan efek drmatis gedung peninggalan Belanda. Bangunan kokoh dengan cerita yang ditinggalkan cukuplah membuat bulu kuduk meremang. Apalagi ketika ada salah satu ruang setengah terbuka yang dibuka suami dan berisi sesajen. Makinlah membuat saya misuh-misuh kaget.



Berdasarkan sejarah, dulunya, Lawang Sewu adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang dibangun dalam kurun waktu 1904-1907. Bangunan ini juga pernah didiami Jepang pada masa kependudukannya yang digunakan sebagai penjara jongkok di lantai dasarnya. Nah, pada masa kependudukan Jepang inilah bangunan yang dijuluki seribu pintu ini menorehkan kisah perih karena banyaknya tawanan mati di sini.



6. Simpang Lima
Puas menjelajah Lawang Sewu, kalian bisa makan malam di Simpang Lima, tempat paling ngehits di Kota Semarang. Jarak dari Lawang Sewu berkisar 1,3 kilometer saja, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sambil jalan kaki, kalian bisa mampir ke Jalan Padanaran buat hunting oleh-oleh Lumpia dan jajanan khas Semarang lainnya.

Puas-puasin buat jajan murah di sini sebelum bertolak ke Stasiun Tawang buat balik ke Surabaya. Sebab, kereta ekonomi jurusan Surabaya berangkat pukul 21.07 WIB. Seharian jalan-jalan hore ke Semarang bisa banget, kan? Kalau kalian mau lebih hemat, bisa kok pakai bus BRT atau Go-Jek.



Btw, rute wisata di atas bisa ditiru bisa tidak. Alternatif lain bisa seperti ini:
1. Stasiun Tawang
2. Old City
3. Lawang Sewu
4. Sam Poo Kong
5. MAJT
6. Pagoda Buddhagaya
7. Simpang Lima
8. Stasiun Tawang
Rute di atas disusun berdasarkan jarak antarlokasi terdekat. Tapi the choice is yours. Selamat berakhir pekan!

Tuesday, April 25, 2017

Berburu Jajanan Murah di Bugis Street



Singapura nggak melulu identik dengan jajanan atau oleh-oleh mahal. Soalnya, ada beberapa pusat perdagangan yang merupakan tempat jual beli jajanan dan oleh-oleh dengan harga murah meriah. Ada Bugis Street, Mustafa Centre di Little India, atau di China Town. Yang dijual ya 11-12, cuma tempatnya nggak berdekatan. Harganya pun 11-12 nggak persis sama.

Nah, karena saya cuma efektif jalan-jalan di Singapura selama enam jam, maka pilihan saya jatuh pada Bugis Street dengan pertimbangan lebih dekat dari Gardens by the Bay yang kalau naik MRT nggak memakan waktu lama. Pertimbangan kedua, karena dari ketiga pusat belanja tersebut, Bugis Street yang paling ramah di kantong backpacker gembel macam saya. The more saving, the more things you got *licik*



Dari MRT station Bayfront di dekat Gardens by the Bay kamu perlu naik MRT jalur biru turun ke Bugis. Nah, dari MRT Bugis kamu tinggal jalan kaki melewati Bugis Junction dan temukan Bugis Street. Akan ada plakat besar yang menunjukkan kamu sudah tiba di pusat perbelanjaan murah meriah.

Begitu tiba di ujung Bugis Street, aroma jajanan murah meriah akan tercium. Saya yang pemurah (penyuka barang murah) ini pun langsung jelalatan beli jus aneka warna. Dibanderol $1 pergelas (rate: $1 = IDR 9600).



Masuk sedikit, akan ada banyak barang murah yang dijual. Mulai cokelat (I do looove this!), pernik-pernik, kaos, baju, buah-buahan, sampai barang-barang remeh yang-saya-pikir-ngapain-dijual.

Kalau kalian jalan luruuuus terus, lalu belok kiri, ada toko ABC yang jual cokelat cuma $1 aja! Yaa Allaaah, ini surga banget. Banyak cokelat ukuran besar, tanggung, kecil aneka merek yang dijual cuma $1. Dijamin kalap! Tapi, karena saya bawa polisi, maka dibatasin belanja cuma $10 means 10 biji cokelat yang kalau dibawa udah berat banget.





Kalau mau beli oleh-oleh kaus atau gantungan kunci cukup murah di sini. Kaus bahan saringan tahu dijual $10 dapat empat buah. Kaus yang bagusan dikit sebiji dihargai $10. Kalau gantungan kunci $10 bisa dapat 24 buah. Sedangkan kalau magnet $10 dapat lima buah.

Nah, karena lapar, habis belanja, kami memutuskan untuk menuju bagian belakang pertokoan Bugis Street. Di situ jual makanan halal aja. Mulai Mee, Rujak, jajanan India, Arab, Indonesia, yang lumayan di lidah. Harganya mulai $3 saja.



Saya pesan Mee dan Rujak yang dimakan bareng-bareng. Rujaknya beda dengan di Indonesia, karena isinya ada tofu, sotong, udang, dan makanan olahan yang diiris pakai mentimun lalu dikasih bumbu kari buat dicelup-celup. Lebih enak rasanya dibandingkan Mee yang saya pesan.





Oh yaa, di pertokoan Muslim ini, semua penjual lelakinya akan menutup lapak begitu mendekati waktu salat Jumat. Suami dan saya yang sedang mengantre pun kena pernyataan, "Anda Muslim? Ini Jumat, saya harus ke Masjid."

Keren, kan?



Kalau menurut saya, Bugis Street rekomen buat jujukan belanja meski Mustafa dan Little India belum pernah saya datangi. Nanti, kalau ada kesempatan lagi, bolehlah dibandingkan hasilnya.