Skip to main content

Menginap Nyaman di Hotel Santika Banyuwangi



Sebagai kabupaten paling timur di Pulau Jawa, mengelilingi daerah dengan sebutan Sunrise of Java ini nggak cukup sehari. Butuh waktu berhari-hari buat eksplor Banyuwangi karena banyak banget tempat wisata yang layak dikunjungi. Di postingan saya ini, baru delapan tempat wisata yang ditulis. Padahal buanyaaaak banget tempat yang bikin kalian menggelinjang hore di Banyuwangi. Nggak percaya? Cobain aja.



Nah, kalau kalian memang berencana eksplor Banyuwangi, pastikan dapat penginapan yang enak, nyaman, dan seru biar nggak pegel di jalan. Beberapa hari lalu, saya menginap di Hotel Santika Banyuwangi yang ada di pusat kota. Jadi, kalau kalian datang ke Banyuwangi naik kereta, turunnya di Stasiun Karangasem, bukan di Stasiun Banyuwangi Baru yang merupakan stasiun paling akhir.



Hotel bintang tiga milik Kompas Grup ini nyaman banget. Bangunannya memang seperti hotel Santika lainnya, tak cukup luas, tapi menyenangkan. Memasuki lobi hotel, pengunjung disambut oleh pemandangan kolam renang outdoor sedalam 600-1400 meter berhadapan dengan restoran. Ukuran kolam renang terbilang kecil, tapi mayanlah buat main-main air.



Ada 124 kamar yang bisa dinikmati dengan rate harga yang reasonable. Fasilitas yang cukup lengkap dengan pemandangan apik membuat saya nyaman banget tinggal dua malam di sini. Pemandangan percampuran birunya langit, rimbunnya pepohonan, dan awan yang berarak membuat saya speechless. Padahal cuma dilihat dari balkon. Di sisi balkon lain, pemandangan Gunung Raung dan Gunung Ijen juga membuai mata.





Untuk ukuran kamar, Santika Banyuwangi menghadirkan kamar yang menyenangkan. Ada pigora berhiaskan batik tulis khas Banyuwangi menunjukkan kalau hotel ini menjaga kearifan lokal dengan lebih modern. Selebihnya, desain kamar 11-12 dengan kamar hotel bintang tiga lainnya.





Pagi hari, saat sarapan, Santika Banyuwangi juga menyediakan menu makanan khas Banyuwangi seperti Nasi Tempong dan Pecel Pithik meskipun bentuknya jauh dari penampakan aslinya. Tapi, usaha menghadirkan menu-menu lokal ini patut diapresiasi. Mengenalkan menu makanan lokal dengan kemasan modern dan berbeda.





Desain interior restoran yang menyenangkan jujur saja membuat saya bolak-balik ambil makan. Yaaa, didukung dengan rasa masakan yang enak di lidah jelas bikin penasaran. Ya, kan? :))

Yang jelas, dua malam menginap di Santika Banyuwangi bikin badan nggak pegel meski kegiatan seabrek. Lokasi di pusat kota, tak jauh dari bandara dan stasiun membuat Hotel Santika Banyuwangi layak jadi pilihan menginap saat pergi ke tempat asli Suku Osing.

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…