Monday, July 31, 2017

Serunya Jelajah Malaka di Akhir Pekan


Malaka menjelang petang

Siapa yang nggak kenal Malaka? Sebuah kota di Malaysia yang sarat akan peninggalan sejarah. Tahun 2008 lalu Malaka dinobatkan UNESCO sebagai kota warisan dunia. Penyematan tersebut memmbuat Malaka semakin dikenal luas oleh wisatawan mancanegara. Bangunan-bangunan di masa kerajaan Malaka dan penjajahan masih berdiri kokoh bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin mengenalnya. Red Building (atau Old Building) adalah tujuan utama turis yang ingin tahu lebih dalam bagaimana bentuk eksotika Malaka.

  
Bapak Binaraga Malaka

Pun saya yang tertarik dengan Malaka. Maka, dari Larkin Terminal Johor Bahru, perjalanan saya selanjutnya adalah menuju Malaka Sentral. Perjalanan antarkota ini bisa ditempuh dengan bus selama dua jam dengan harga RM 18 saja. Berpijak di Malaka Sentral, kalian bisa mencari Line 17 untuk bus tujuan Red Building (tapi busnya berhenti di Muzium Belia) seharga RM 1,5. 

 Muzium Belia

Red Building atau The Stadhuys (dalam bahasa Belanda berarti kantor pemerintahan atau gubernur) adalah komplek bangunan merah yang bersebelahan persis dengan Christ Church Malaka. Bangunan ini ada sejak tahun 1600-an. Saat ini menjadi kawasan paling ikonik karena warna merah bata dipadu arsitektur bangunan yang klasik membuat siapa pun yang berkunjung pasti betah berlama-lama.

The Stadhuys

Christ Church
 
Jalanan Malaka itu penuh sesak antara manusia, mobil, dan becak musik. Tapi anehnya, jalanannya dibuat sangat nyaman bagi pejalan kaki. Di mana-mana orang jalan kaki. Sangat jarang ada pejalan kaki terkena klakson mobil gara-gara ngelindur agak ke tengah jalan. Tapi sangat sering pejalan kaki kena klakson becak musik—yang kebanyakan menyetel lagu Melayu dan Dangdut—kalau jalannya dianggap ngawur, wkwk. 

 
Becak musik
 
Sabtu siang di Jonker Street sudah banyak sekali penjual yang membuka lapak di depan toko-toko utama. Semacam bazaar gitu. Tapi hanya ada di saat weekend. Yang dijual rata-rata hampir sama dengan yang ada di Indonesia; street food, minuman, aksesoris, baju, sampai pernak-pernik yang nggak begitu penting kayak alat pemijat kepala.

 
Nyamannya berjalan kaki di Malaka

Kalau kalian ingin membeli oleh-oleh, misalnya magnet atau key chain, harga di Jonker Street agak sedikit lebih mahal. Jadi, saran saya, belilah di lapak permanen yang ada di belakang pelapak mingguan tersebut. Atau, beli di lapak permanen dekat Taman Merdeka (bisa juga di mal Dataran Pahlawan yang mirip Tanah Abang), di situ lebih murah dan bisa ditawar.


 
Bisa main-main sama merpati

Menyusuri jalanan Malaka, yang perlu disiapkan hanyalah fisik kalau kalian memutuskan untuk berkeliling sambil berjalan kaki. Melewati Jonker Street, ada sebuah kedai rice ball Chung Wah yang amat tenar—yang kalau mau makan mesti antre sampai ke jalan. Kedai itu bisa jadi patokan sebagai gerbang Jonker Street. Baru setelah itu, kalian akan menemukan Malaka 0 mile yang merupakan titik nol Malaka berada persis di depan The Stadhuys. 

 
Malaka 0 Mile

 
Jonker Walk
 
Habiskan waktu di sini. Puas berfoto dengan bangunan merah yang ikonik, kalian bisa melanjutkan perjalan di belakang Stadhuys. Di sana, ada reruntuhan gereja Saint Paul di St Paul’s Hill yang terkenal dengan sosok pendeta Francis Xavier, pendeta yang amat disegani oleh kaum Kristiani Malaka. Ceritanya, saat meninggal, pendeta Xavier dimakamkan di gereja Saint Paul selama sembilan bulan. Namun, jasadnya masih utuh ketika hendak dipindah-makamkan di Goa, India.

 
St. Paul's Hill dengan patung Pendeta Xavier

Oleh karena itu, pimpinan Katolik Roma sepakat untuk memotong lengan kanan Xavier sebagai bentuk balas budi Xavier yang telah menyebarkan agama di wilayah Asia. Makanya, di situ ada patung Xavier yang tegak berdiri dengan lengan kanan yang terpotong (namun alasan patung yang terpotong lengannya hingga saat ini masih menjadi misteri). Nama Francis Xavier pun kini diabadikan menjadi nama salah satu gereja di Malaka.   

 
Gereja Francis Xavier

Selain reruntuhan gereja, di belakang Stadhuys, kalian akan menemukan banyak sekali jenis museum, seperti:

         Muzium Umno museum perpolitikan yang mengisahkan tentang politik yang ada di Malaka,

 
Muzium Umno

     Muzium Setem museum perangko yang di dalamnya berisi koleksi perangko dari Malaka dan Malaysia, 

 
Muzium Setem Malaka

    Muzium Kemerdekaan berisi tentang sejarah kemerdekaan Malaysia dan bagaimana Malaka bermula. Seperti lazimnya museum kemerdekaan lain, di sini juga dilengkapi dengan diorama, foto, benda-benda bersejarah, dan tekstual, 

 
Muzium Kemerdekaan
 
          Muzium Rakyat berisi tentang berbagai penghargaan dan cagar budaya Malaka dari berbagai sektor pembangunan, 

Muzium Rakyat

        Muzium Seni Bina Malaysia museum yang banyak memajang bangunan arsitektur di seluruh negara bagian Malaysia, 

 
Muzium Senibina Malaysia

        Muzium Islam Malaka berisi tentang asal-usul Islam masuk ke Malaka. Di sini juga ada berbagai macam arsitektur masjid yang tersebar di beberapa wilayah di Malaysia.

 
 Muzium Islam Malaka

      Muzium Dunia Melayu Dunia Islam museum ini berisi tentang persebaran Islam di seluruh dunia,   sosok penting dan berpengaruh bagi perkembangan agama Islam, sejarah, gedung-gedung yang berkaitan dengan persebaran Islam di masa lampau.
 
Muzium Dunia Melayu Dunia Islam Malaka
 
           Dan masih banyak lagi museum yang letaknya saling berdekatan.

Tak cukup di situ, di dekat komplek museum, kalian juga bisa mampir ke Benteng A Famosa yang menjadi saksi sejarah perang kemerdekaan di Malaka. Kalau sudah puas berkeliling, kalian bisa beristirahat sejenak sambil menikmati es krim potong seharga RM 2 yang ada di sekitar Taman Merdeka. Kalau lapar menyerang, mampirlah ke Dataran Pahlawan untuk membeli Chicken Rice Ball halal. 

 
Benteng A Famosa
  
Sudah berkeliling museum, sudah kenyang, jangan terburu-buru balik ke penginapan. Sebab, malaka saat sore sampai malam amat sayang jika dilewatkan begitu saja. Letak Malaka yang dikelilingi oleh sungai dan coffee shops yang berjajar rapi membuat pejalan kaki bisa bersantai ria sambil sesekali melihat Malaka River Cruise yang melintasi sungai. Kalau mau naik, bisa beli tiket di dekat Taman Merdeka seharga RM 15. 

 
Malaka River Cruise

 
Enak buat jalan santai
 
Jika petang menjelang, kalian bisa banget berbalik arah menuju Jonker Street untuk menikmati ingar binger suasana pasar malam sambil minum Es Cendol khas Malaka. 

 
Es Cendol Malaka
 
Mampir salat di Masjid Kampung Hulu atau Kampung Kling juga bisa. Kedua masjid ini berpengaruh pada penyebaran Islam di zaman Kerajaan Malaka.

Gimana? Tertarik untuk berwisata akhir pekan di Malaka?

Masjid Kampung Hulu

Thursday, July 27, 2017

Backpacking Sehari di Johor Bahru



Menuju Komtar JBCC


Perjalanan sehari saya ke Johor Bahru ini sebenarnya nggak penting banget karena saya nggak punya banyak uang. Ya, kalian pasti tau, kan, kalau Johor Bahru ini sengaja dibuat mirip Singapura biar banyak turis menghamburkan uang di sini. Alias, sengaja dibentuk jadi kota dagang. Karena kota dagang, maka pantaslah kalau ke Johor Bahru mesti bawa uang yang nggak sedikit. Kecuali kalau kamu mau mencari wisata gratis yang nggak penting seperti yang saya lakukan:)). 

Jadi, rute pertama saya begitu sampai di Bandara Senai adalah mencari bus Causeway Link CWA seharga 8 RM ke arah JB Sentral. JB Sentral adalah terminal besar yang menghubungkan Johor Bahru dengan wilayah timur seperti Singapura. Nah, dari JB Sentral ini juga, kalian bisa menentukan tujuan mau ke mana? Legoland? Hello Kitty Town? Thomas Town? Atau mau belanja di Johor Premium Outlet yang barangnya serbabranded itu? Busnya dari sini.

  
JB Sentral

Karena saya bertujuan ke pusat kota, maka saya cukup turun di JB Sentral untuk selanjutnya dilanjutkan dengan jalan kaki.

Cocok buat penyuka Angry Bird 


Ngapain ke pusat kota? Ya, Cuma jalan-jalan keliling aja. Masuk ke Mal Komtar JBCC yang dihubungkan dengan jembatan di dalam mal. Dari situ, kalian bisa mampir ke CK buat beli kartu internet—kalau emang niat beli. Di Komtar JBCC ini kalian bisa banget jalan-jalan muter-muter sampai jelek kayak saya. Atau kalau nggak mau capek, main-main aja ke lantai paling atas. Di situ ada Angry Bird Activity Park, tempat main buat anak-anak gitu. Harga tiketnya mulai RM 75. Dengan harga segitu, saya, sih, cukup tanya harga dan numpang duduk selonjoran di depan konter, hehe. Selain Komtar JBCC banyak mal yang saling berjajar dan berhubungan di sini. Kalau mau belanja, monggo.

Mural di Little India 

Capek ngemal? Keluar bentar, jalan di sekitar JB Sentral ada Kuil Arulmigu Raja Mariaman di Jalan Ungku Puan—tepatnya di Little India. Pas saya ke sana sedang berlangsung peribadatan, tapi mereka memperbolehkan wistawan untuk masuk dan mengambil gambar asal sopan. Masuknya gratis.

 
 
 Kuil Arulmigu Sri Mariaman
 
Ada Little India, biasanya nggak jauh dari situ ada wilayah Pecinan. Di dekat Ungku Puan, kalian bisa jalan dikit aja ke Jalan Tan Hiok Nee. Nggak usah dihapalin nama jalannya kalau susah. Tanya aja, daerah pecinan atau China Town dimana, pasti banyak yang tahu.
Gerbang kawasan China Town

Di China Town itu ada Johor Baru Chinese Herritage alias museum yang banyak menceritakan bagaimana orang Cina banyak masuk ke daerah Johor Bahru. Awal mulanya dari hubungan dagang antara Pulau Pinang dan Singapura sampai orang Cina yang dipekerjakan sebagai buruh lalu beranak pinak membentuk suku-suku; Kanton, Hokiian, Teochew, Hakka, dan Hallam. Di museum itu juga dihadirkan barang-barang kuno yang banyak ditinggalkan masyarakat Cina di zamannya. Masuk museum kena RM 5.

JB Chinese Museum 

  
Perabotan di zamannya

Kapal dagang 

Di sekitar China Town ada The Red House yang mencolok banget. Tempat itu banyak dipakai buat acara-acara kultural karena dulunya adalah toko di masa sebelum masa penjajahan di JB.

Red House Building

Capek jalan kaki? Kalian bisa makan siang di mana saja yang kalian mau. Kalau pilihan saya ada di kantin UTC (letaknya persis di depan Gurdwara Sahib Sikh Temple Johor Bahru), kantor satu atap pelayanan pemerintahan Johor Bahru yang dibuat menyerupai mal. Di kantin itu,  makanannya bebas babi dan banyak juga warga muslim selepas Jumatan langsung makan di situ.
Masjid India khusus lelaki India
 
Oh ya, nggak jauh dari daerah Pecinan, ada Majid India yang ternyata dikhususkan hanya bagi lelaki India. Waktu saya mau nebeng buat salat, katanya, Melayu kalau salat sebaiknya tidak di situ. Di dekat masjid ini juga ada bangunan bersejarah yang amat megah, Sultan Ibrahim Building Johor Bahru yang sempat dijadikan kantor pemerintahan.


Sultan Ibrahim Building yang dipotret dari jauh dan sambil duduk gegara gempor  

Sebenarnya untuk menjelajahi Johor Bahru, kalian bisa banget naik taksi atau bus. Tapi, Karena uang pas-pasan dan sendirian, saya enggan kemana-mana naik kendaraan umum. Alasannya, naik taksi mahal, sedangkan kalau naik bus, jadwalnya kurang menentu. 

Akhirnya, setelah puas berkeliling dan capek-capek jalan kaki sambil bawa ransel, saya memutuskan untuk ke hostel yang sudah saya pesan di Dataran Larkin (belakang Terminal Larkin). Caranya? Naik bus dari JB Sentral dan cari tujuan Larkin Terminal. Tiketnya RM 1,7. Lepas masuk hotel, sampai malam saya nggak keluar lagi sama sekali karena ketiduran capek jalan kaki, hehe.

Penginapan di belakang Larkin Terminal

Johor Bahru itu banyak banget tempat historis yang murah bahkan gratis buat dikunjungi. Misalnya, JB High Court, JB Prison, JB Old Railway Station, dan macam-macam lagi. Tapi ya gitu, buat ke sananya kudu naik taksi atau bus.